• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambar : Khlorin Diffuser Pasir

DAFTAR PUSTAKA

E. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI I Kesimpulan

Dari hasil penelitian di lapangan, beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait dengan pola hidup bersih dan sehat yang dijalankan oleh masyarakat di Yogyakarta diantaranya adalah:

1. Pengetahuan tentang pola hidup bersih dan sehat

Secara umum masyarakat di Yogyakarta telah mengetahui apa yang dimaksud dengan pola hidup bersih dan sehat, tetapi yang perlu diperhatikan adalah belum semua masyarakat di Yogyakarta mengetahui dengan baik yang termasuk dalam semua indikator pola hidup bersih dan sehat yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Masyarakat di 3 Kecamatan yang menjadi sampel penelitian banyak yang berpendapat bahwa perilaku hidup bersih dan sehat masih seputar menjaga kebersihan diri sendiri dan rumah. Bersih dan higienis adalah kata kunci yang menunjukkan pendapat masyarakat tentang pengertian pola hidup bersih dan sehat ( PHBS ). Apsek–aspek lain ataupun indikator lain dari PHBS ( misalnya merokok, kondisi rumah, lingkungan, dan lain–lain ) belum dilaksanakan atau belum dijalankan dengan baik oleh sebagian masyarakat di 3 Kecamatan.

Dari kondisi ini, maka pemberdayaan yang dilakukan adalah mengoptimalkan sosialisasi pada indikator–indikator yang belum dipahami

ataupun belum dilakukan oleh masyarakat Yogyakarta terkait dengan PHBS yang berujung pada kemandirian kesehatan masyarakat Yogyakarta. Jika hanya beberapa indikator PHBS saja yang dilakukan oleh masyarakat, maka optimalisasi kemandirian kesehatan masyarakat akan sulit untuk tercapai. Untuk itulah proses pemberdayaan selanjutnya lebih diarahkan kepada indikator di luar unsur kebersihan diri dan higienitas sesuatu.

2. Sumber informasi mengenai PHBS dan intensitasnya

Masyarakat yang menjadi sampel dari penelitian mengatakan bahwa mereka mendapatkan informasi tentang kesehatan dari berbagai sumber. Namun yang paling sering mereka dapatkan adalah informasi dari petugas puskesmas atau pengurus PKK. Dengan demikian dapat dianalisa bahwa informasi mengenai kesehatan masih perlu diperluas lagi untuk menjangkau sasaran yang lebih luas lagi. Mayoritas responden perempuan mengatakan bahwa mereka mendapatkan innformasi ini dari pengurus PKK dan Puskesmas, sedangkan untuk responden laki-laki mayoritas mengatakan informasi dari pengurus kampung.

Dari data tersebut tampaknya informasi tentang PHBS lebih intensif diterima oleh responden perempuan daripada laki–laki. Ini juga tercermin dari mayoritas jawaban responden ketika ditanyakan mengenai intensitas pemberian informasi mengenai PHBS. Mayoritas responden perempuan banyak yang mengatakan sering mendapatkan informasi, sedangkan proposionalitas responden laki–laki yang mengatakan sering mendapatkan informasi jauh lebih sedikit. Dengan demikian sasaran utama atau fokus pemberdayaan masyarakat ke depan lebih difokuskan untuk mengejar ketertinggalan informasi yang diterima laki–laki agar PHBS bisa dijalankan dengan lebih optimal lagi. Kemandirian kesehatan tidak bisa dicapai jika hanya mengandalkan satu pihak saja, sinergisitas semua pihak harus dijalankan. Untuk itulah kesediaaan dari pihak laki–laki untuk mau dan mampu menjalankan semua indikator dari PHBS sangat diperlukan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Kepatuhan menjalankan PHBS dan Hambatannya.

Hampir seluruh responden mengatakan bahwa mereka menjalankan pola hidup bersih dan sehat. Namun yang harus digarisbawahi dalam data tersebut adalah mereka menjalankan PHBS sesuai dengan pemahaman mereka. Artinya, mereka menjalankan PHBS pada konteks menjaga kebersihan diri dan higienitas sesuatu. Setelah dilakukan wawancara mendalam, banyak warga yang belum secara teratur menjalankan indikator yang lainnya, terutama yang berhubungan dengan lingkungan sekitar mereka ataupun yang membutuhkan koordinasi dan kerjasama dengan tetangga ( kesehatan lingkungan ).

Mengenai masalah kesadaran tentang kesehatan, dapat dikatakan bahwa masyarakat di Yogyakarta mempunyai tingkat kesadaran yang cukup tinggi. Optimalisasi hanya diperlukan pada indikator–indikator yang memang belum bisa dilakukan dengan baik. Banyak kendala yang kemudian membuat masyarakat di Yogyakarta terkadang terhambat dalam menjalankan PHBS sesuai pemahaman mereka. Dari data penelitian didapatkan hasil bahwa kesibukan dan tidak adanya orang yang rajin mengontrol pelaksanaan PHBS menjadi dua hambatan utama yang menjadi penghalang bagi masyarakat Yogyakarta untuk bisa secara teratur menjalankan PHBS.

Kondisi inilah yang perlu diperhatikan dalam program pemberdayaan yang akan dilakukan. Pendamping kesehatan ataupun duta kesehatan dalam sebuah kampung tampaknya menjadi sebuah hal yang dibutuhkan untuk mengatasi persoalan tersebut. Masyarakat di Yogyakarta masih memerlukan perhatian

ataupun pendampingan untuk bisa melaksanakan PHBS dengan optimal terutama yang menyangkut kolektifitas kesehatan masyarakat.

3. Strategi peningkatan pelaksanaan PHBS

Strategi pemberdayaan yang telah dibahas dalam analisa sebelumnya harus bisa dijalankan sesuai dengan kondisi masing–masing kampung dan karakteristik masyarakat setempat. Dari hasil penelitian didapatkan data bahwa masyarakat memang membutuhkan sinergisitas antar stakeholder untuk meningkatkan pelaksanaan PHBS. Masyarakat meminta pendampingan dan penyuluhan kesehatan dari berbagai elemen, yakni Puskesmas, Pemerintah dan juga tokoh masyarakat agar optimalisasi pelaksanaan PHBS bisa dilakukan dengan baik.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, pendampingan tampaknya menjadi salah satu kegiatan yang mutlak dilakukan dalam pemberdayaan karena masyarakat merasa akan sangat sulit menjaga konsistensi jika tidak dilakukan pendampingan secara teratur oleh stakeholder terkait. Pendampingan juga akan berjalan optimal jika semua stakeholder mau melaksanakannya. Dengan kata lain kunci utama dalam strategi pemberdayaan ini adalah sinergisitas dalam pendampingan. Masyarakat juga meminta adanya duta kesehatan di kampung yang bisa mendampingi mereka.

4. PHBS untuk anak muda

Data dari penelitian menunjukkan bahwa sosialisasi PHBS untuk anak muda sangat jarang dilakukan oleh pihak terkait, baik itu puskesmas ataupun pihak lain yang mempunyai kewenangan untuk melakukan pendidikan terhadap anak muda. Masukan penting yang diperoleh dari masyarakat adalah mereka meminta pihak–pihak yang berwenang untuk melakukan sosialisasi ataupun pendampingan terhadap anak muda yang pola hidupnya tidak menunjukkan pola hidup yang sehat.

Gambaran penting yang diberikan oleh masyarakat mengenai pola hidup anak muda yang tidak sehat terkait dengan kebersihan, pola makan, tidur, atau tindakan yang menjurus ke tindak kriminal. Sebuah pendampingan dan juga sosialisasi yang intensif dan teratur kepada anak muda diharapkan akan memberikan efek positif terhadap pelaksanaan PHBS di kalangan generasi muda di Yogyakarta. Sebuah kompetisi kesehatan berbasis anak muda juga diharapkan muncul di Yogyakarta untuk menggugah kemauan dan kesadaran anak muda di Yogyakarta dalam menjalankan pola hidup sehat, ini sekaligus menjadi promosi kesehatan yang efektif.

Strategi lain yang bisa digunakan untuk menaikkan kesadaran anak muda dalam menjalankan PHBS adalah menggunakan strategi promosi kesehatan visual. Beberapa anak muda yang menjadi sampel dalam interview mengatakan bahwa mereka akan lebih mencerna makna dari promosi kesehatan jika menggunakan media visual, baik itu gambar ataupun video. Mereka mengatakan bahwa jika sosialisasi hanya bersifat oral saja, tidak akan banyak memberi pengaruh bagi mereka.

Dengan kondisi seperti ini, maka pola pemberdayaan anak muda ke depan adalah dengan menggabungkan berbagai strategi pemberdayaan dengan dukungan visualisasi yang baik dan tidak menggunakan pola yang konservatif. Bahkan beberapa di antara mereka meminta duta kesehatan berbasis anak muda juga dimunculkan untuk mendukung pola pemberdayaan yang telah disusun.

Untuk itulah, kebijakan kesehatan yang berorientasi kepada kebijakan preventif dan promotif menjadi sangat penting mengingat output yang dihasilkan dari kebijakan tersebut jauh lebih baik daripada kebijakan kesehatan yang bersifat

kuratif dan rehabilitatif. Untuk itulah pemberdayaan masyarakat perlu dilakukan untuk mendukung kebijakan itu. Strategi pemberdayaan kesehatan masyarakat yang tepat akan menghasilkanoutcomeberupa mandirinya kesehatan masyarakat.

Namun untuk bisa mencapai hal itu, dibutuhkan sinergisitas banyak pihak mulai Dinas Kesehatan, Puskesmas, LSM, Tokoh Masyarakat, dan masyarakat sendiri. Fokus pemberdayaan lebih diarahkan kepada anak muda dan bapak–bapak yang memang belum banyak mendapatkan pendidikan kesehatan. Selain itu kolektifitas masyarakat untuk mau dan sadar diri menjalankan kesehatan lingkungan juga menjadi salah satu fokus yang harus dilakukan ketika menjalankan pemberdayaan kesehatan masyarakat.

Beberapa hal terkait isi dari Ottawa Charter sebaiknya perlu diperhatikan untuk mengoptimalkan pelaksanaan pemberdayaan kesehatan masyarakat di Yogyakarta. Kebijakan pemberdayaan masyarakat ini ( yang merupakan unsur pendukung kebijakan preventif dan promotif ) jika berhasil dilakukan akan membuat kemandirian kesehatan masyarakat Yogyakarta meningkat, dengan demikian kebijakan kuratif dan rehabilitatif hanya menjadi kebijakan pendamping saja.

II. Rekomendasi

1. Mengubah paradigma kebijakan kesehatan, dari paradigma kuratif menjadi kebijakan preventif dan promotif dengan memasukkan kebijakan ini dalam RPJMD Kota Yogyakarta tahun 2011-2015.

2. Puskesmas di Yogyakarta dijadikan motor penggerak kebijakan preventif dan promotif melalui dukungan dana Bantuan Operasional Kesehatan ( BOK ) dari Kementerian Kesehatan.

3. Melakukan pemberdayaan kepada masyarakat untuk lebih peduli dan mandiri terhadap kesehatan, terutama ditujukan kepada anak muda dan bapak–bapak. Untuk anak muda menggunakan sosialisasi visual dan Duta Kesehatan.

4. Fokus pemberdayaan juga terkait dengan kolektifitas masyarakat dalam peningkatan kepedulian kesehatan lingkungan.

5. Peningkatan kapasitas SDM Dinas Kesehatan dengan melakukan training dan workshop teratur.

6. Reformasi sistem kesehatan (mengacu pada kebijakan pusat dan kajian ilmiah/penelitian).

7. Jika memungkinkan menambah jumlah tenaga kesehatan (sebagai pendamping masyarakat).

8. Manajemen anggaran kesehatan berbasis pada kebijakan preventif dan promotif tanpa menghilangkan kebijakan kuratif dan rehabilitatif (sebagai pendukung). 9. Penyusunan rencana strategis berbasis data ilmiah/penelitian.

10. Mencipatakan model baru pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan masyarakat dengan melibatkan pihak lain semisal LSM yang peduli dengan kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA

Chambers, Robert. Poverty and Livelihoods: Whose Reality Counts? Uner Kirdar dan Leonard Silk (eds.), People: From Impoverishment to Empowerment. New York: New York University Press, 1995.

Friedman, John, Empowerment: The Politics of Alternative Development. Cambridge: Blackwell, 1992.

Kartasasmita, Ginanjar,Pembangunan Sosial dan Pemberdayaan : Teori, Kebijaksanaan, dan Penerapan, Makalah mata kuliah Pembangunan berbasis Masyarakat, Pasca Sarjana ITB, 1997

Rahayu Sedyaningsing, Endang,Mewujudkan kemandirian kesehatan masyarakat berbasis kebijakan preventif dan promotif, Makalah seminar nasional, Fakultas Ilmu kesehatan UNDIP, 2010

Randy R. Wrihatnolo dan Riant Nugroho D, Manajemen Pemberdayaan, Gramedia/Elex Media Komputindo: Jakarta, 2007

Sulistiyani,Kemitraan dan Model-Model Pemberdayaan.Yogyakarta : Gava Media, 2004 Suparjan & Suyatno, Pengembangan Masyarakat dari Pembangunan sampai Pemberdayaan.

Yogyakarta : Aditya Media, 2003

Sumodiningrat, Gunawan,JPS dan Pemberdayaan, Gramedia, Jakarta, 1998

---,Konsepsi pemberdayaan masyarakat, Makalah kuliah pemberdayaan, ITB 2010. ---,Sistem Informasi dan Manajemen Puskesmas,Depkes RI, Jakarta, 1997

PengembanganSubject Specific Pedagogy(SSP) Berbasis

New Taxonomy of Science Educationuntuk Meningkatkan Karakter Siswa Sekolah Menengah Atas

(Oleh : Ary Kusmawati, S. Si, Hj. Sri Utari, M.Pd.Si, Alfi Suciati, S.Pd) Abstrak

Pembelajaran yang terintegrasi dengan pendidikan karakter menjadi kebutuhan mendesak dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu dibutuhkan perangkat pembelajaran yang mampu mengakomodasi pendidikan karakter. Penelitian ini bertujuan mengembangkan produk berupa perangkat pembelajaran yang disebut Subject Specific Pedagogy (SSP) Biologi berbasis New Taxonomy of Science Education (NTSE). Subject Specific Pedagogy (SPP) berisi 5 komponen, yaitu : Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Materi, Lembar Kerja Siswa (LKS) dan Lembar Penilaian. SSP yang dikembangkan pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan karakter siswa.

Penelitian ini menggunakan modelResearch and Development (R and D).Subjek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa SMA Negeri 8 Yogyakarta. Pengambilan sampel dilakukan secara random setelah terlebih dahulu dipilih kelas–kelas yang relatif homogen. Dalam model penelitian R and D, produk dikembangkan melalui tahap validasi, uji coba terbatas dan uji coba lapangan. Pada tiap tahap dilakukan revisi produk untuk memperoleh hasil produk akhir yang handal.

Berdasar hasil analisis data, SSP yang dikembangkan dalam penelitian ini mampu meningkatkan karakter siswa secara signifikan, baik pada uji coba terbatas maupun pada uji coba lapangan. Karakter kreatif siswa dapat ditingkatkan sebesar 28,13%, sedangkan karakter kreatif dapat ditingkatkan sebesar 15,88%.

Key words: SSP,New Taxonomy of Science Education,karakter. A. PENDAHULUAN

Pendidikan karakter telah menjadi isu yang sering didengar oleh para guru. Namun langkah konkret dari para guru sebagai ujung tombak pelaksanaan pembelajaran belumlah terlihat jelas. Hal ini menjadikan pendidikan karakter hanya sebatas wacana yang ramai dibicarakan namun nihil pelaksanaan, apalagi pencapaian. Untuk segera mewujudkan pembelajaran yang bermuatan karakter, maka langkah pertama yang harus dilakukan guru adalah dengan menyiapkan perangkat pembelajaran yang juga bermuatan karakter. Kondisi di lapangan saat ini, perangkat pembelajaran yang digunakan masih perangkat pembelajaran seperti biasanya yang belum secara eksplisit memuat pendidikan karakter. Sebagai konsekuensinya, kemajuan pendidikan karakter menjadi tak dapat dipetakan.

Kota Yogyakarta sebagai salah satu basis pendidikan di Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk mewujudkan keberhasilan pendidikan karakter. Bahkan dengan menyandang peran sebagai Kota Pendidikan, sudah sepatutnya Kota Yogyakarta menjadi rujukan kota lain dalam pelaksanaan pendidikan karakter. Untuk mewujudkan ‘Yogyakarta sebagai kota pendidikan berkarakter’, tentunya sekolah dan segala bentuk pembelajaran di dalamnya akan menjadi medan–medan pergerakan pendidikan karakter, dengan guru sebagai ujung tombaknya. Maka di samping perlu adanya kebijakan yang mendukung keterlaksanaan pendidikan karakter secara kondusif, juga diperlukan profesionalitas guru dalam menyusun dan melaksanakan pembelajaran yang bermuatan karakter. Profesionalitas guru tersebut salah satunya menyangkut bagaimana seorang guru dapat menyusun dan mengembangkan Subject Spesific Pedagogy (disingkat SSP, sama maknanya dengan istilah Perangkat Pembelajaran).

Meskipun penyusunan perangkat pembelajaran adalah kewenangan guru, namun untuk memberikan pedoman bagaimana seorang guru menyusun perangkat pembelajaran yang bermuatan karakter, diperlukan sebuah acuan berupa SSP bermuatan karakter yang telah diuji kesahihannya melalui serangkaian penelitian. Berdasar hal tersebut, maka diperlukan penelitian untuk mengembangkan SSP bermuatan karakter sesuai dengan bidang studi. Untuk itu maksud penyusunan proposal ini adalah untuk mewujudkan penelitian pendidikan yang mampu menghasilkan produk berupa Subject Spesific Pedagogy bermuatan karakter yang didasarkan pada taksonomi baru pendidikan sains (New Taxonomy of Science Education), khususnya untuk mata pelajaran biologi.

B. TUJUAN DAN MANFAAT