Gambar : Khlorin Diffuser Pasir
DAFTAR PUSTAKA
C. TINJAUAN PUSTAKA Pariwisata dan Wisata Budaya
Menurut Suyitno (2001: 8) pariwisata seringkali didefinisikan kegiatan melakukan perjalanan untuk sementara waktu, perjalanan tersebut dilakukan dari satu tempat ke tempat lain, Perjalanan itu bagaimanapun bentuknya harus selalu dikaitkan dengan bertamasya atau rekreasi, orang yang melakukan perjalanan tidak mencari nafkah di tempat yang dikunjungi dan semata-mata sebagai konsumen di tempat itu.
Menurut Undang–Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1990, yang dimaksud pariwisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela bersifat sementara untuk menikmati objek dan daya tarik wisata. Menurut definisi yang lebih luas pariwisata adalah perjalanan dari suatu tempat ke tempat lain bersifat sementara, dilakukan perorangan maupun kelompok sebagai usaha mencari keseimbangan atau keserasian dan kebahagiaan dengan lingkungan hidup dalam dimensi sosial, budaya, alam dan ilmu (Spillane dalam Rahmathadi, 2005: 35).
Indonesia sesungguhnya merupakan salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yang paling banyak memiliki pusaka budaya (heritage) dari masa lalu baik yang bersifat tangibleteraga maupun yang tidak teraga (intangible). Berbagai pusaka budaya dari masa prasejarah, Hindu-Budha, Islam dan masa kolonial tersebar di seluruh Nusantara. Sumber daya tersebut sudah tentu akan sangat bermanfaat untuk pengembangan pariwisata budaya di Indonesia.
Sementara itu muncul juga kecenderungan di kalangan masyarakat Eropa dalam dua dekade terakhir ini adalah keinginan untuk memahami jati dirinya melalui pusaka budaya (heritage) yang berasal dari masa lalu (Richards 1996). Upaya untuk memahami jati diri ini telah mendorong masyarakat Eropa untuk berwisata ke berbagai tempat atau situs bersejarah di berbagai negara guna mencari kebudayaan yang original atau otentik yang tidak mereka jumpai di negaranya sendiri.
Namun demikian tidak semua obyek atau atraksi budaya tersebut dapat benar– benar dikembangkan secara mendalam sebagai daya tarik wisata budaya, mengingat bahwa keterbatasan kemampuan yang dimiliki oleh para pengembang baik materi maupun non materi, maka dari itu diperlukan suatu kriteria penilaian dalam menentukan obyek wisata tersebut benar–benar menarik dan layak untuk dikembangkan menjadi suatu obyek atraksi wisata budaya.
Pariwisata budaya dapat didefinisikan secara sempit maupun luas. Dalam pengertian sempit, pariwisata budaya menyangkut perpindahan orang semata–mata karena motivasi budaya seperti: bepergian untuk tujuan studi, melihat seni pertunjukkan dan budaya, mengunjungi festival, mengunjungi monumen dan peninggalan purbakala, mengunjungi kesenian rakyat dan perjalanan (berziarah) ke tempat suci. Di sisi lain dalam pengertian luas, pariwisata budaya menyangkut semua perpindahan orang yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan akan sesuatu yang berbeda, mempertinggi budaya seseorang, memberi pengetahuan dan pengalaman (Lim 1996:161).
Laster Borley (1996:181) menyatakan bahwa pariwisata budaya merupakan aktifitas yang memungkinkan wisatawan untuk mengetahui dan memperoleh pengalaman tentang perbedaan cara hidup orang lain, merefleksikan adat–istiadatnya, tradisi religiusnya dan ide–ide intelektualnya yang terkandung dalam warisan budaya yang belum dikenalnya. Dalam konteks ini Boniface (1995:115) menyatakan bahwa pariwisata budaya adalah jenis kepariwisataan yang berhubungan dengan kehidupan manusia dan cara–cara hidupnya serta hasil karyanya, teristimewa hasil karya pada zaman dahulu.
Dari definisi di atas tampak kemudian bahwa upaya pemasaran produk pariwisata bukanlah upaya yang mudah. Pemasaran produk pariwisata menurut Rochayat Harun jauh lebih kompleks sifatnya dibandingkan dengan memasarkan produk perusahaan manufaktur yang umumnya berbentuk atau berwujud. Lebih lanjut Harun mengemukakan untuk memasarkan produk industri pariwisata perlu dipahami sifat dan karakter produk pariwisata yang akan ditawarkan.
Salah satu upaya yang sangat menentukan keberhasilan, pemasaran produk pariwisata adalah penelitian pemasaran (Marketing Research). Pada umumnya research diartikan sebagai aktivitas mengumpulkan, mencatat dan menganalisa data dan fakta. Sedangkan yang dimaksudkan dengan marketing research adalah penyelidikan yang dilakukan terhadap aktivitas pembelian dan penjualan serta usaha–usaha penyampaian barang–barang dan jasa–jasa dari produsen kepada konsumen. Di tengah persaingan memperebutkan wisatawan yang sangat ketat seperti sekarang ini strategi branding dan rebrandingsangat dibutuhkan.
Branding
Merek atau brand tidak dapat dipisahkan dari suatu produk dan penerapannya dapat menambah nilai suatu produk. Merek adalah nama, lambang, tanda desain atau kombinasi dari semuanya untuk mengidentifikasi produk atau jasa yang ditawarkan. Merek adalah janji perusahaan yang menjual produk untuk secara konsisten memberikan manfaat dan jasa kepada konsumen. Merek yang baik memberikan garansi kualitas (Mahmud, 2010: 79).
Brand/merek merupakan nama, istilah, tanda, simbol, desain ataupun kombinasi yang mengidentifikasi suatu produk atau jasa dari seseorang atau sekelompok penjual untuk membedakannya dengan produk pesaing (Kotler, 2000). Merek menjadi sinyal bagi konsumen dalam mencari produk dan melindungi konsumen dan produsen dari pesaing yang juga menyediakan produk serupa (Aaker,1991).
Berbagai definisi mengenai merek menekankan adanya hubungan antara konsumen dengan merek (consumer to brand relationship) dimana pada kenyataannya merek lebih dari sekedar nama, istilah, rancangan, tanda atau kombinasi dari hal–hal
tersebut, karena merek mempunyai aspek emosional di dalamnya. Merek mengandung nilai–nilai intangible, emosional, keyakinan, harapan serta penuh dengan persepsi pelanggan. Merek yang kuat dapat dilihat dengan sejauh mana menciptakan persepsi di benak konsumen. Perusahaan yang memiliki merek yang kuat dapat lebih mudah merebut peluang bisnis yang ada dibandingkan dengan perusahaan yang tidak memiliki merek yang kuat (Rangkuti, 2004).
Pengetahuan merek atau brand knowledge adalah konsep yang berisi tentang hubungan sebuah merek dalam ingatan konsumen dimana terdapat keanekaragaman asosiasi yang terkait. Pengetahuan merek (brand knowledge) menurut Keller (1993) terdiri dari: kesadaran merek dan citra merek.
Kesadaran merek menurut Rossiter dan Percy (Keller,1993), berhubungan dengan kekuatan sebuah merek dalam ingatan konsumen yang dicerminkan dalam kemampuan konsumen untuk mengidentifikasi suatu merek pada kondisi yang berbeda. Kesadaran merek dibedakan menjadi dua, yaitu : Pengingatan kembali (brand recall) kemampuan untuk mengingat kembali suatu merek dalam ingatan konsumen. Pengenalan merek (brand recognition) kemampuan konsumen untuk membedakan merek yang pernah dilihat atau didengar sebelumnya.
Kesadaran merek mempunyai peranan penting dalam tahap pembuatan keputusan (consumer decision making). Peranan penting itu meliputi:
a. Hal yang terpenting bagi konsumen ketika memikirkan suatu merek adalah ketika mereka berfikir tentang kategori produk.
b. Kesadaran merek dapat mempengaruhi keputusan tentang merek pada tahap pertimbangan.
c. Kesadaran merek dapat mempengaruhi pembuatan keputusan oleh konsumen, dengan mempengaruhi formasi dan kekuatan dari asosiasi merek pada citra merek (brand image).
Penciptaan suatu merek mengimplikasikan penyampaian suatu brand image tertentu sebagai suatu cara dimana semua yang ditargetkan oleh perusahaan terhubung dengan suatu merek (kemudian produk dijual dengan nama tersebut) dengan sekumpulan asosiasi.
Citra merek (brand image) itu sendiri merupakan persepsi mengenai sebuah merek sebagai cerminan dari asosiasi merek yang melekat pada ingatan konsumen. Membangun brand image harus sesuai dengan pasar sasaran, kebutuhan pelanggan, kondisi persaingan, keuntungan dan alasan mengapa produk atau jasa tersebut diciptakan. Semua ini dilandasi oleh kuatnya brand value yang melekat pada merek tersebut. Konsumen yang terbiasa menggunakan merek tertentu cenderung memiliki konsistensi terhadap brand image atau hal ini disebut dengan kepribadian merek (brand personality)(Rangkuti, 2004).
Fungsi merek adalah fungsi asosiasi yang berhubungan denganatribut intangible atau citraimageyang ditambahkan dan memberikan keuntungan yang hnaya bisa dicapai jika sebuah produk mempunyai sebuah merek. Manfaat dari merek dalam hal ini adalah memberi tambahan nilai bagi produk dibandingkan dengan produk tanpa merek. Fungsi merek digunakan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari suatu penjual atau kelompok penjual dan untuk membedakannya dengan produk pesaing. Karakteristik khusus dari fungsi merek adalah merek memiliki sifat atau pembawaan alami yang positif sehingga jika nilai suatu merek semakin besar maka derajat atau tingkat nilai merek tersebut semakin besar pula.
Destination Branding
Setiap tempat atau lokasi dapat juga dibuat brand-nya dengan menciptakan dan mengkomunikasikan identitas lokasi yang bersangkutan. Kota, Negara saat ini telah aktif dikampanyekan melalui periklanan, directmail dan perangkat komunikasi lainnya.
Keseluruhan strategi dan proses inilah yang dikenal dengandestination branding (Keller, 2003).
Destination brandingberarti merancang suatu tempat untuk memenuhi kebutuhan target market (Keller,2003). Lebih penting lagi destination branding adalah mengenai bagaimana konsumen merasakan suatu tempat di dalam benak mereka. Kekuatan brand terletak pada kemampuan membangun brand awareness terhadap suatu lokasi dan menghubungkan lokasi tersebut dengan asosiasi yang sesuai dengan yang diinginkannya.
Ketika suatu lokasi mengatur untuk menciptakan rangka dasar dan infrastruktur destination brand-nya, lokasi tersebut harus mengenali target marketnya secara tepat. Target market secara potensial daridestination brandingadalah kalangan produsen barang dan jasa, cabang perusahaan dan kantor regional, penanaman modal luar negeri dan pasar ekspor, turisme, penerimaan tamu (hospitality), warga negara dan penduduk baru. Destination branding dapat dikatakan sukses apabila warga negara dan puas dengan komunitas mereka, serta harapan–harapan para pengunjung dan para penanam modal dapat bertemu (Kotler, 2002).
RebrandingKota
Perubahan logo atau Rebranding berasal dari kata re- dan branding. Re berarti kembali, sedangkanbrandingadalah proses penciptaanbrand imageyang menghubungkan hati dan benak pelanggannya. Jadi rebranding adalah suatu upaya atau usaha yang dilakukan oleh perusahaan atau lembaga untuk merubah total atau memperbaharui sebuah brand yang telah ada agar menjadi lebih baik, dengan tidak mengabaikan tujuan awal perusahaan, yaitu berorientasi profit.
Rebrandingsebagai sebuah perubahan merek, seringkali identik dengan perubahan logo ataupun lambang sebuah merek. Dengan kata lain, ketika melakukanrebrandingmaka yang berubah ialah nilai–nilai dalam merek itu sendiri.
Dalam membuat sebuah city branding, terdapat beberapa kriteria yang harus dipenuhi, diantaranya: Attributes.menggambarkan sebuah karakter, daya tarik, gaya dan personalitas kota. Message. menggambarkan sebuah cerita, menyenangkan dan selalu mudah diingat. Differentiation, unik dan berbeda dari kota–kota yang lain. Ambassadorship, menginsipirasi orang untuk datang dan ingin tinggal di kota tersebut (Suharno,2010).
D. METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini mencoba menganalisis bagaimana para informan memahami dan memaknai mengenaibrandingdanrebrandingkota Yogyakarta. Peneliti juga menggali dari mana informan mendapatkan informasi tersebut. Penelitian ini objek wisatawan mancanegara dan domestik, stakeholder pariwisata di Yogyakarta dan pemerintah Kota Yogyakarta dalam hal ini Dinas Pariwisata. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan kuisioner. Analisis data dilakukan secara kualitatif.