Gambar : Khlorin Diffuser Pasir
DAFTAR PUSTAKA
F. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 1) Kesimpulan
Dari penelitian tentang tingkat kinerja dan kepentingan pengunjung di Puskesmas Mergangsan dan Pakualaman dapat ditarik kesimpulan, yaitu ;
1. Pengunjung Puskemas Mergangsan dan Pakualaman menilai bahwa kepuasan yang mereka peroleh belum sepenuhnya sesuai dengan kepentingan atau harapan mereka.
2. Aspek perbaikan pelayanan Puskesmas Mergangsan dan Pakualam berdasarkan padaImportant Performance Matrixsebagai berikut ;
a) Prioritas Utama, yaitu Fasilitas kamar mandi (bersih dan nyaman), Papan Informasi (sumber informasi), Ketepatan waktu pelayanan (jam buka/tutup), Cepat Tanggap dalam menyelesaikan keluhan, Keramahan terhadap pengunjung dan Keterbukaan dalam menerima kritik dan saran. b) Aspek yang harus dipertahankan, yaitu kelengkapan dan kecanggihan
peralatan medis, biaya administrasi, pemberian informasi yang jelas oleh petugas, keamanan obat, pengetahuan dan penguasaan dari pegawai, pelayanan kartu jamkesmas yang tepat sasaran dan kesabaran dalam menghadapi keluhan pengunjung.
c) Aspek yang menjadi prioritas rendah diantaranya Sarana parkir, Pelayanan dimulai cepat ketika pengunjung datang, Kecepatan sistem antrian dan Kecepatan dan ketepatan pelayanan petugas.
d) Sedangkan aspek yang berlebihan, yaitu Lokasi Puskesmas strategis, Penampilan Petugas (rapi, sopan dan seragam) dan Fasilitas ruang tunggu. 3. Prioritas perbaikan pelayanan Puskesmas Mergangsan dan Pakualaman
berdasarkan pada MetodePotential Gain in Customer Value (PGCV)) berturut – turut sebagai berikut :
a) Ketepatan waktu pelayanan (jam buka/tutup) b) Papan Informasi (sumber informasi)
c) Pelayanan dimulai cepat ketika pengunjung datang d) Kecepatan sistem antrian
e) Keramahan terhadap pengunjung
f) Kecepatan dan ketepatan pelayanan petugas g) Fasilitas kamar mandi (bersih dan nyaman) h) Keterbukaan dalam menerima kritik dan saran i) Pelayanan kartu JAMKESMAS yang tepat sasaran j) Cepat Tanggap dalam menyelesaikan keluhan k) Kelengkapan dan kecanggihan peralatan medis l) Pengetahuan dan penguasaan tugas dari pegawai m) Pemberian informasi yang jelas oleh petugas n) Kesabaran dalam menghadapi keluhan pengunjung o) Prosedur pelayanan kesehatan yang mudah p) Sarana parkir
q) Fasilitas ruang tunggu (TV, tempat duduk, Koran) r) Keamanan obat (standar pengobatan)
s) Penampilan Petugas (rapi, sopan dan seragam) t) Lokasi Puskesmas strategis
u) Biaya administrasi 2) Saran
Dari penelitian yang telah dilakukan terdapat beberapa rekomondasi atau saran yang bisa dijadikan langkah perbaikan kedepannya diantaranya ;
1) Hendaknya Puskesmas lebih memperhatikan hal–hal yang dianggap penting oleh pengunjung dengan terus melakukan perbaikan layanan atau mempertahankan serta meningkatkan prestasinya
2) Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dan evaluasi bagi puskesmas untuk membantu menentukan strategi–strategi yang lebih berorientasi pada peningkatan kualitas pelayanan dan kepuasan pengunjung. 3) Untuk penelitian yang bertujuan menentukan urutan prioritas perbaikan, dapat
menggunakan konsep Tingkat kesesuaian pada Importance Performance Analysis (IPA), karena selain menghemat waktu dengan perhitungannya yang sederhana, tindakan perbaikan atau mempertahankan suatu kinerja juga dapat diputuskan.
DAFTAR PUSTAKA
Gasperz, Vincent, Manajemen Bisnis Total : Statistical Process Control, Penerapan Teknik-Teknik Statistikal Dalam Manajemen Bisnis Total, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1998
Peter, J.P., & Olson J.C., 1999. Consumer Behavior, Perilaku Konsumen Dan Strategi Pemasaran, Erlangga, Jakarta
Sarwono, J., 2006. Analisis Data Penelitian Menggunakan SPSS 13, CV Andi Offset, Yogyakarta
Lewis,Barbara R., and Sotiris Spyrakopoulos. “ Service failures and recovery in retail banking : the customer’s perspective”,International Journal of Bank Marketing, Vol. 19/2001 p.34-47.
Wulandari, Lusy Astri. 2007. Analisa Perbaikan Kualitas Layanan Berdasarkan Tingkat Kepentingan dan Kinerja Jasa Keuangan. Tesis Program Teknik Industri UII, Yogyakarta.
Strategi Pengembangan Kolaborasi Bisnis untuk Meningkatkan Efisiensi dan Cakupan Usaha dalam Pemberdayaan UMKM di Kota Yogyakarta
(Oleh : Dra. Sri Utami, M.Si) ABSTRACT
Problem faced by UMKM specially UKM in Town Yogyakarta enough complex. Internal factor and eksternal require to be studied continuously. From internal side, complex problem from micro effort minimize in the begining is capital, product development, yield up the ghost marketing, do not ready to and inflexible its yielded effort. At the same time with the market emulation which is progressively opened by the inclusive of micro effort minimize is claimed a lot of but yielded a few/little, so that micro effort minimize to tend to inefficient in its effort.
This research aim to to know the strategic steps basis for improve the efficiency and coverage is effort through economic enableness of perpetrator UKM, and to know how to join the business (alliance or join) what more beneficial a period of/to coming, so that can be made by as one way of society enableness.
This research is conducted in six subdistrict of exist in Town Yogyakarta (Umbulharjo, Kotagede, Kraton, Ngampilan, Mantrijeron and Wirobrajan), with the method used by descriptive qualitative. Data collecting by documentation, observation and interview. Data analysis use the descriptive method of eksploratif assisted by using model analyse SWOT.
Result of research indicate that, to increase the effort at micro effort minimize the (UKM) require to be internal potency reinforcement, so that micro effort minimize able to exploit the existing opportunity. This matter is development of merger of strategic alliance or business usher the micro effort perpetrator humanity minimize which of a kind to fill the requirement one another, and also to reach the economic effort scale and improve the coverage is effort larger ones again.
Keyword: Micro Effort Minimize, Empowerment, Business Collaboration A. PENDAHULUAN
Argumentasi utama dan mendasar yang melandasi pentingnya berbagai usaha pengembangan ekonomi rakyat (dalam hal ini adalah UMKM khususnya UKM usaha mikro kecil) hingga akhir–akhir ini adalah karena potensi alamiahnya yang besar dalam memberi andil bagi penyediaan masalah kesempatan kerja, kesempatan berusaha serta ikut mengatasi urbanisasi dan kemiskinan.
Karena itu, strategi pengembangan ekonomi perlu ditata kembali ke arah pembangunan ekonomi kerakyatan. Pemberdayaan ekonomi rakyat menuntut kesiapan semua pihak yang terkait, untuk terus menerus berusaha meningkatkan kemampuannya baik teknis maupun non teknis. Pendeknya, selama daerah–daerah pedesaan dan kota–kota kecil setingkat kecamatan tidak berkembang secepat di kota–kota besar, maka proses urbanisasi tak dapat dihindari dan pemerataan pun akan sulit tercapai (Todaro, 2003). Pada saat ini dan mendatang, pemberdayaan ekonomi rakyat melalui kolaborasi bisnis dengan sistem aliansi strategis yang sehat dan kompetitor merupakan kebutuhan mutlak yang mendasar bagi bangsa Indonesia. Dengan demikian, kegiatan ekonomi dalam masa reformasi ini harus banyak digerakkan oleh ekonomi rakyat yang mencakup UMKM usaha mikro kecil termasuk koperasi dan kewirausahaan.
Membangun ekonomi rakyat perlu pemihakan dan upaya membuat rakyat lebih partisipatif berarti memberdayakan masyarakat. Secara teori, pemberdayaan masyarakat
dapat dilihat dari tiga sisi. Pertama, upaya menciptakan suasana dan iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang (enabling), kata kuncinya adalah pemihakan. Kedua, upaya memperkuat potensi atau daya yang dimiliki masyarakat (empowering), kata kuncinya adalah penyiapan. Ketiga, upaya memberdayakan mengandung arti melindungi(protecting), kata kuncinya adalah perlindungan. Karena yang bersifat pemihakan (enabling) dan perlindungan (protecting)menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah, maka dalam penelitian ini lebih dikhususkan bahwa yang dimaksud dengan pemberdayaan adalah penyiapan atau upaya memperkuat potensi atau daya yang dimiliki masyarakat (empowering). Dipilihnya model pemberdayaan empowering karena lebih cocok dengan situasi dan khalayak sasaran.
Keberadaan UMKM di Kota Yogyakarta tidak perlu diragukan lagi mengingat jumlahnya yang cukup banyak serta tersebar di berbagai sektor khususnya sektor industri, perdagangan dan jasa. Posisi Yogyakarta sebagai kota tujuan wisata tentunya sangat menunjang bagi tumbuh suburnya pelaku–pelaku UMKM di daerah ini.
Data Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian Kota Yogyakarta menyebutkan, bahwa jumlah pelaku UMKM di Kota Yogyakarta pada tahun 2009 mencapai 17.679 dari berbagai bidang antara lain : industri, perdagangan, pertanian dan jasa lainnya. Beberapa sektor industri kecil menengah yang menjadi andalan Kota Yogyakarta diantaranya kerajinan perak di Kecamatan Kotagede, industri cor logam/aluminium di Kecamatan Umbulharjo, batik di Kecamatan Mantrijeron, Kraton, Wirobrajan, bakpia di Kecamatan Ngampilan dan kerajinan kulit di Kecamatan Wirobrajan (Suyuti, dalam Kajian Potensi UMKM Kota Yogyakarta, 2010).
Hasil pengamatan Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian di Kota Yogyakarta, bahwa pelaku UMKM di Kota Yogyakarta memiliki potensi yang cukup besar. Produk–produk yang mereka miliki sangat bervariasi dan potensi untuk dikembangkan, didukung dengan tingginya motivasi dan semangat pelaku UMKM untuk berkembang. Namun, mereka masih menghadapi banyak permasalahan dalam pengembangan usaha. Permasalahannya tidak sekedar permasalahan klasik seperti keterbatasan modal, teknologi (SDM), pemasaran, pengadaan bahan baku, tetapi dampak dari diberlakukannya Asean China Free Trade Agreement (ACFTA) dan pertambahan minimarket maupun supermarket yang banyak berdiri di sekitar usaha mereka. Pemberlakuan ACFTA membuat pelaku UKM khawatir dengan membanjirnya produk- produk China yang akan menjadi pesaing bagi usaha mereka. Demikian juga pelaku UMKM khususnya usaha mikro kecil menjadi resah karena masyarakat akhirnya telah memilih berbelanja ke minimarket atau supermarket daripada ke warung–warung kelontong yang mereka miliki.
Berbagai kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah/kota belum mampu mengentaskan persoalan–persoalan tersebut. Karena itu, upaya pemberdayaan ekonomi rakyat melalui strategi kolaborasi bisnis dengan sistem aliansi strategis yang memiliki produk homogin mutlak diperlukan, agar keberadaannya ke depan lebih kuat dan cepat berkembang maju secara mandiri serta mampu menjadi usaha ekonomi yang handal. Karena selama ini linkage progam pemerintah antara pengusaha kecil dan besar sering membuat yang kecil menjadi tergantung kepada yang besar atau sebaliknya yang besar sering memakan yang kecil. Untuk itulah, strategi kolaborasi bisnis diharapkan ke depan dapat meningkatkan efisiensi dan memperbesar cakupan usaha bagi pelaku UKM di Kota Yogyakarta.
B. TUJUAN DAN MANFAAT