BAB V PENUTUP
6.1 Kesimpulan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
10 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Indeks Pembangunan Manusia
2.2.1 Pengertian Indeks Pembangunan Manusia
Indikator pembangunan merupakan tolok ukur yang digunakan dalam mengukur performa suatu negara dalam pencapaian pembangunannya, serta perbandingan terhadap negara-negara lain. Evolusi yang terjadi pada makna economic development mengakibatkan terjadinya evolusi pada alat ukurnya.
Pada paradigma tradisional, pembangunan ekonomi disama artikan dengan pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian digunakanlah pertumbuhan Produk Nasional Bruto (PNB) sebagai indikator pembangunan. Jumlah populasi negara yang bersangkutan belum masuk ke dalam indikator tersebut. Maka indikator alternatif yang ternyata lazim digunakan hingga kini adalah GNP per kapita.
Pada paradigma baru, pembangunan ditekankan sebagai proses yang multidimensional dalam rangka pertumbuhan ekonomi, pemerataan distribusi pendapatan, dan pengentasan kemiskinan. Hal tersebut menunjukkan bahwa indikator pembangunan yang harus digunakan tidak hanya indikator ekonomi, melainkan indikator-indikator sosial, seperti Human Development Index (HDI) / IPM dan Physical Quality of Life Index (PQLI) juga mempengaruhi indikator pembangunan suatu negara terhadap negara lain. Baik indikator ekonomi maupun indikator sosial tidak dapat berdiri sendiri sebagai indikator pembangunan artinya tingkat kemiskinan tidak
dapat hanya terukur menggunakan variabel pendapatan ataupun kepuasan saja. Untuk itu Sen merumuskan indikator pembangunan dengan membandingkan HDI rank terhadap real GNP per kapita rank.
Konsep IPM pertama kali dipublikasikan oleh UNDP (United Nation Development) melalui Human Development Report tahun 1996 yang kemudian berlanjut setiap tahun. Dalam publikasi ini pembangunan manusia didefenisikan sebagai “a process of enlarging people’s choices” atau proses yang meningkatkan aspek kehidupan masyarakat. Aspek terpenting kehidupan ini dilihat dari usia yang panjang dan hidup sehat, tingkat pendidikan yang memadai dan standar hidup yang layak. Pembangunan manusia sejatinya memiliki makna luas.
Indeks Pembangunan Manusia merupakan indikator yang digunakan untuk melihat perkembangan pembangunan dalam jangka panjang. Untuk melihat kemajuan pembangunan manusia, terdapat dua aspek yang harus diperhatikan yaitu kecepatan dan status pencapaian (BPS, 2018). Seperti diketahui, beberapa faktor penting dalam pembangunan manusia adalah pendidikan dan kesehatan. Dua faktor penting ini merupakan kebutuhan dasar manusia yang perlu dimiliki agar mampu meningkatkan potensi. Umumnya semakin tinggi kapabilitas dasar yang dimiliki suatu daerah, semakin tinggi
12
dimensi kesehatan, digunakan angka umur harapan hidup. Selanjutnya untuk mngukur dimensi pengetahuan digunakan gabungan indikator angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah. Adapun untuk mengukur dimensi hidup layak digunakan indikator kemampuan daya beli.
2.2.2 Perhitungan Indeks Pembangunan Manusia
Pembangunan manusia merupakan isu strategis yang capaiannya perlu dipantau. Untuk memonitor pencapaian pembangunan manusia antar wilayah di Indonesia, Badan Pusat Statistik menghitung IPM pada tingkat regional yaitu, provinsi dan kabupaten/kota. Selain itu, untuk memantau keterbandingannya dengan capaian nasional. Metode penghitungan IPM yang digunakan oleh BPS mengacu pada metodologi yang digunakan oleh UNDP (BPS, 2018). BPS telah menggunakan penghitungan IPM yang terbaru dengan melakukan penyesuaian pada beberapa indikator. Kini Badan Pusat Statistika menggunakan metode penghitungan yang baru dikarenakan beberapa indikator sudah tidak tepat untuk digunakan dalam penghitungan IPM. Angka melek huruf sudah tidak relevan dalam mengukur pendidikan secara utuh karena tidak dapat menggambarkan kualitas pendidikan. Begitu halnya dengan Produk Domestik Bruto per kapita tidak dapat menggambarkan pendapatan masyarakat pada suatu wilayah. Dalam metode penghitungan yang baru indikator yang digunakan adalah: (1) Angka Harapan Lama Sekolah yang menggantikan angka melek huruf; (2) Produk Nasional Bruto per kapita yang menggantikan PDB per kapita. Tidak hanya indikator yang berubah, namun metode penghitungan juga berubah yang awalnya metode agregasi
diubah dari rata-rata aritmatik menjadi rata-rata geometrik. Berikut ini adalah penghitungannya:
1. Menghitung indeks komponen dimana setiap komponen IPM distandardisasi dengan nilai minimum dan maksimum sebelum digunakan untuk menghitung IPM. Rumus yang digunakan sebagai berikut:
a. Dimensi kesehatan
min
b. Dimensi pendidikan
2
c. Dimensi pengeluaran
( )
( )
2. Menghitung IPM, dihitung sebagai rata-rata geometri dari indeks kesehatan, pendidikan dan pengeluaran.
3 IKesehatan IPendidikan IPengeluaran
IPM= x 100
3. Mengklasifikasi Nilai Indeks Pembangunan Manusia
14
2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi IPM
2.2.1 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Per Kapita
Gambaran secara menyeluruh tentang kondisi perekonomian suatu daerah dapat diperoleh dari PDRB. Sebagai salah satu indikator makro ekonomi, PDRB adalah jumlah nilai tambah bruto yang dihasilkan seluruh unit usaha dalam wilayah tertentu atau merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi. Produk Domestik Regional Bruto didefinisikan sebagai jumlah barang-barang dan jasa-jasa akhir yang dihasilkan oleh suatu daerah pada periode tertentu, biasanya satu tahun. Nilai pendapatan nasional yang dihasilkan merupakan nilai pasar dari barang dan jasa. Nilai pasar tersebut dalam arti nilai kotor atau bruto karena tidak seluruh produk yang dihasilkan pada periode tertentu merupakan penambahan pada produk yang ada khususnya untuk barang modal.
Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator untuk melihat kinerja perekonomian regional (daerah). Pada dasarnya, pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan output agregat (keseluruhan barang dan jasa yang dihasilkan oleh kegiatan perekonomian) atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). PDRB sendiri merupakan nilai total seluruh output akhir yang dihasilkan oleh suatu perekonomian daerah, baik yang dilakukan oleh warga lokal maupun warga asing yang bermukim di negara bersangkutan. Sehingga, ukuran umum yang sering digunakan untuk melihat laju pertumbuhan ekonomi adalah persentase perubahan PDB untuk skala nasional atau persentase perubahan PDRB untuk skala propinsi atau kabupaten/kota.
Nilai PDRBmerupakan ukuran rata-rata nilai tambah bruto yang diciptakan oleh penduduk melalui aktivitas ekonomi. Angka tersebut diperoleh dengan cara membagi PDRB dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Dalam kebanyakan literatur awal mengenai pembangunan ekonomi yang diterbitkan tahun 1950-an dan 1960-an, pada umumnya pembangunan ekonomi didefinisikan sebagai: suatu proses yang menyebabkan pendapatan per kapita penduduk suatu negara meningkat secara berketerusan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, tidak terdapat alat pengukur lain yang lebih sesuai, hingga saat ini ahli-ahli ekonomi masih menggunakan data pendapatan per kapita untuk dua tujuan yakni: (1) menunjukkan secara kasar tingkat kelajuan atau kecepatan pembangunan ekonomi yang dicapai pada suatu tahun; (2) membandingkan tingkat kemakmuran yang dicapai berbagai negara.
Apabila tingkat pertumbuhan ekonomi selalu rendah dan tidak melebihi tingkat pertambahan penduduk, pendapatan rata-rata masyarakat (pendapatan per kapita) akan mengalami penurunan. Dengan demikian, salah satu syarat penting yang akan mewujudkan pembangunan ekonomi adalah tingkat (persentase) pertumbuhan ekonomi harus melebihi jumlah penduduk.
Semakin besar perbedaannya, semakin besar pula tingkat perkembangan atau
16
pendapatan tersebut, semakin tinggi daya beli penduduk, dan daya beli yang bertambah ini meningkatkan kesejahteraan penduduk.
2.2.2 Pengeluaran Pemerintah di Bidang Pendidikan
Pendidikan merupakan hak asasi setiap warga negara Indonesia. Oleh sebab itu, setiap warga negara Indonesia berhak memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya. Hak memperoleh pendidikan bagi setiap warga negara tidak memandang status sosial, status ekonomi, suku, etnis, agama, dan gender. Hal tersebut sudah tertuang dalam UUD 1945. Berdasarkan UUD 1945 Pasal 28C (ayat 1) dinyatakan bahwa setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan, memperoleh manfaat dari IPTEK, seni dan budaya demi meningkatkan kualitas hidup dan demi kesejahteraan umat manusia. Selanjutnya, dalam Pasal 31 (ayat 2) dinyatakan bahwa setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.
Pemerataan akses dan peningkatan mutu pendidikan diharapkan akan mampu menjadikan warga negara Indonesia memiliki kecakapan hidup sehingga mendorong tegaknya pembangunan manusia seutuhnya serta masyarakat madani dan modern yang dijiwai nilai-nilai Pancasila, sebagaimana yang telah diamanatkan dalam UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Sebagai upaya untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, maka pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus memfasilitasi hak pendidikan bagi tiap warganya. Melalui sekolah yang terjangkau dari sisi pembiayaan, bermutu dari segi layanan, dan berkualitas
dari sisi pembelajaran. Selain pembiayaan pendidikan yang harus ditanggung pemerintah, sarana dan prasarana, kurikulum, dan sumber belajar serta daya dukung lainnya perlu diupayakan pemerintah.
Untuk mendapatkan pendidikan yang memadai harus ditunjang suatu kemampuan baik itu dari pemerintah untuk dapat menyediakan sarana yang memadai dan juga ditunjang dengan kemampuan masyarakat, karena sampai saat ini kemampuan pemerintah untuk menyediakan pendidikan gratis bagi warganya masih belum terlaksana secara optimal. Kemampuan baik dari pemerintah tersebut dapat dipenuhi dengan adanya pengeluaran pemerintah di bidang pendidikan, sehingga kebutuhan di bidang pendidikan dapat terpenuhi. Realita ini senantiasa banyak ditemui di sekeliling kita, yaitu banyak sarana pendidikan yang sangat tidak layak dan juga banyak anak-anak usia sekolah seharusnya belajar, namun sudah harus bekerja untuk menambah penghasilan keluarga. Ditengah keterbatasan inilah pemerintah mencanangkan Program Wajib Belajar Sekolah Dasar enam tahun pada tahun 1984 dan kemudian diikuti dengan Wajib Belajar Pendidikan Dasar sembilan tahun mulai tahun 1994. Kebijakan lain sebagai upaya untuk meningkatkan tingkat pendidikan masyarakat adalah melalui program di luar pendidikan formal.
18
investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis. Masyarakat yang sehat akan menciptakan kehidupan yang berkualitas, karena kesehatan merupakan modal berharga bagi seorang dalam melakukan akivitasnya. Bangsa yang memiliki tingkat derajat kesehatan yang tinggi akan lebih berhasil dalam melaksanakan pembangunan. Oleh sebab itu, kesehatan menjadi salah satu aspek kesejahteraan dan menjadi fokus utama pembangunan manusia. Setiap orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan secara mudah, murah, dan merata karena memang salah satu hak dasar rakyat adalah mendapat pelayanan Kesehatan.
Upaya perbaikan kesehatan masyarakat dikembangkan melalui Sistem Kesehatan Nasional. Pelaksanaannya diusahakan dengan meningkatkan partisipasi aktif masyarakat yang diarahkan terutama kepada golongan masyarakat yang berpenghasilan rendah. Selain itu, upaya pencegahan, penyembuhan penyakit, dan peningkatan pembangunan pusat-pusat kesehatan masyarakat serta sarana penunjangnya terus dilakukan oleh pemerintah, seperti Puskesmas, Posyandu, pos obat desa, pondok bersalin desa serta penyediaan fasilitas air bersih. Dengan adanya upaya tersebut diharapkan akan tercapai derajat kesehatan masyarakat yang baik. Oleh karena itu, pembangunan yang sedang digiatkan pemerintah diharapkan dapat berakselerasi positif. Faktor-faktor yang memengaruhi derajat kesehatan masyarakat di antaranya adalah kurangnya sarana pelayanan kesehatan, keadaan sanitasi dan lingkungan yang tidak memadai, serta rendahnya konsumsi makanan bergizi. Tetapi faktor terpenting dalam upaya peningkatan kesehatan ada pada manusianya sebagai subyek dan sekaligus
obyek dari upaya tersebut. Besarnya pengeluaran pemerintah untuk sub sektor kesehatan menunjukkan seberapa jauh prioritas alokasi dana pemerintah untuk sub sektor ini (Susanti, et al., 2000).
20 BAB III
METODE PENELITIAN
BAB III
METODE PENELITIAN
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Kegiatan
Jenis kegiatan pada Analisis Variabel Determinan yang Mempengaruhi Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia adalah menggambarkan ketercapaian pembangunan manusia melalui perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan menyusun Analisis Variabel Determinan yang Mempengaruhi Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
3.2 Sumber Data
Data yang digunakan dalam penyusunan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) adalah data sekunder. Dimana data tersebut diperoleh dari masing-masing instansi yakni data Angka Harapan Hidup diperoleh dari Dinas Kesehatan, data Rata-Rata Lama Sekolah dan Angka Harapan Lama Sekolah diperoleh dari Dinas Pendidikan, data pengeluaran per kapita di peroleh dari Badan Pusat Statistik serta variabel-variabel pendukung IPM yang didapatkan dari organisasi perangkat daerah terkait. Data yang digunakan adalah data-data pada tahun 2016 – 2020.
22
Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel
Variabel Keterangan Satuan Definisi Operasional Y
Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
-
Indikator yang digunakan untuk melihat perkembangan pembangunan dalam jangka
panjang dihitung oleh BPS X1
Realisasi belanja daerah Kabupaten Mojokerto di bidang kesehatan
X2
Realisasi belanja daerah Kabupaten Mojokerto di bidang pendidikan
X3 PDRB Triliun
Rupiah
Pengeluaran Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan dihitung oleh BPS
3.4 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan pada penyusunan pada Analisis Variabel Determinan yang Mempengaruhi Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia adalah sebagai berikut.
A. Statistika Deskriptif
Statistika deskriptif berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data sampel atau populasi (Sugiyono, 2007). Statistik deskriptif hanya berhubungan dengan hal menguraikan atau memberikan keterangan-keterangan mengenai suatu data atau keadaan atau fenomena, dengan kata lain hanya melihat gambaran secara umum dari data yang didapatkan.
Biasanya statistik deskriptif dapat disajikan dalam bentuk diagram, grafik, tabel, maupun penyajian data lainnya. Kemudian hasil penyajian data tersebut dianalisis dan dikaji.
B. Regresi Linier Berganda
Regresi linier berganda merupakan model persamaan yang menjelaskan hubungan satu variabel tak bebas/ response (Y) dengan dua atau lebih variabel bebas/ predictor (X1, X2,…Xn). Tujuan dari uji regresi linier berganda adalah untuk memprediksi nilai variabel tak bebas/ response (Y) apabila nilai-nilai variabel bebasnya/ predictor (X1, X2,..., Xn) diketahui.
Disamping itu juga, untuk dapat mengetahui bagaimanakah arah hubungan variabel tak bebas dengan variabel-variabel bebasnya.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data time series dengan bantuan program Eviews 9 menggunakan analisis regresi linier berganda. Persamaan regresi linier berganda pada penelitian ini secara matematik diekspresikan sebagai berikut:
𝑌 = 𝑎 + 𝑏1𝑋1+ 𝑏2𝑋2+ 𝑏3𝑋3+ 𝜀 Keterangan :
Y = Variabel Indeks Pembangunan Manusia
𝑋1 = Variabel Pengeluaran Pemerintah di Bidang Kesehatan 𝑋2 = Variabel Pengeluaran Pemerintah di Bidang Pendidikan 𝑋3 = Variabel PDRB
𝑎 = Konstanta / intersep
24
tidak semua uji asumsi klasik harus dilakukan pada setiap model regresi linier dengan pendekatan OLS.
1. Uji linieritas hampir tidak dilakukan pada setiap model regresi linier.
Karena sudah diasumsikan bahwa model bersifat linier. Kalaupun harus dilakukan semata-mata untuk melihat sejauh mana tingkat linieritasnya.
2. Uji normalitas pada dasarnya tidak merupakan syarat BLUE (Best Linier Unbias Estimator) dan beberapa pendapat tidak mengharuskan syarat ini
sebagai sesuatu yang wajib dipenuhi.
3. Autokorelasi hanya terjadi pada data time series. Pengujian autokorelasi pada data yang tidak bersifat time series (cross section atau panel) akan sia-sia semata atau tidaklah berarti.
4. Multikolinieritas perlu dilakukan pada saat regresi linier menggunakan lebih dari satu variabel bebas. Jika variabel bebas hanya satu, maka tidak mungkin terjadi multikolinieritas. Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen) model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen.
5. Heteroskedastisitas biasanya terjadi pada data cross section, dimana data panel lebih dekat ke ciri data cross section dibandingkan time series.
Pengujian masalah heteroskedasitas dilakukan dengan menggunakan uji Glejser.
Pengujian hipotesis dimaksudkan untuk melihat apakah suatu hipotesis yang diajukan ditolak atau dapat diterima. Hipotesis merupakan asumsi atau pernyataan yang mungkin benar atau salah mengenai suatu
populasi. Dengan mengamati seluruh populasi, maka suatu hipotesis akan dapat diketahui apakah suatu penelitian itu benar atau salah. Untuk keperluan praktis, pengambilan sampel secara acak dari populasi akan sangat membantu. Dalam pengujian hipotesis terdapat asumsi/pernyataan istilah hipotesis nol. Hipotesis nol merupakan hipotesis yang akan diuji, dinyatakan oleh H0 dan penolakan H0 dimaknai dengan penerimaan hipotesis lainnya/
hipotesis alternatif yang dinyatakan oleh H1. Jika telah ditentukan Koefisien Determinasi (r2), maka selanjutnya dilakukan uji signifikan hipotesis yang diajukan. Uji ini dapat menggunakan Uji-t ; Uji-F ; Uji-z atau Uji Chi Kuadrat.
Dengan uji signifikansi ini dapat diketahui apakah variabel bebas/predictor/independent (X) berpengaruh secara signifikan terhadap variable tak bebas/response/dependent (Y). Arti dari signifikan adalah bahwa pengaruh antar varible berlaku bagi seluruh populasi. Dalam modul ini hanya dibahas uji signifikansi menggunakan Uji-F.
Penggunaan Uji-F bertujuan mengetahui apakah variabel-variabel bebas secara signifikan bersama-sama berpengaruh terhadap variabel tak bebas Y. Tahapan yang dilakukan dalam Uji - F adalah:
1. Menentukan Hipotesis
H0 : b1 = b2 = b3 = 0; (variabel X1, X2, X3 tidak berpengaruh terhadap Y)
26 𝐹ℎ𝑖𝑡 = 𝑟2/𝑘
(1 − 𝑟2)(𝑛 − 𝑘 − 1)= 𝑟2(𝑛 − 𝑘 − 1) 𝑘(1 − 𝑟2) 4. Menentukan F tabel (mempergunakan tabel Uji-F)
Tabel Uji-F untuk = 5% dengan derajat kebebasan pembilang (Numerator, df) = k - 1; dan untuk penyebut (Denominator, df ) = n – k.
n= jumlah sampel/ pengukuran, k= jumlah variabel bebas dan terikat).
5. Kriteria Pengujian nilai Fhit dan ttab
Apabila nilai Fhit < Ftab, maka hipotesis H1 ditolak dan H0 diterima.
Apabila nilai Fhit < Ftab, maka hipotesis H1 ditolak dan H0 ditolak.
6. Kesimpulan : akan disimpulkan apakah ada/tidak pengaruh variabel-variabel bebas ( X1, X2, X3 ) terhadap variable tak bebas (Y).
Uji Koefisien Regresi Parsial (Uji-t) Pengujian koefisien regresi secara parsial bertujuan mengetahui apakah persamaan model regresi yang terbentuk secara parsial variabel-variabel bebasnya (X1, X2, X3) berpengaruh signifikan terhadap variable tak bebas (Y).
3.5 Langkah Penelitian
Langkah penelitian dalam penyusunan Analisis Variabel Determinan yang Mempengaruhi Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia adalah sebagai berikut.
1) Menyusun konsep kegiatan Analisis Variabel Determinan yang Mempengaruhi Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Mojokerto;
2) Melakukan FGD dengan OPD terkait untuk koordinasi berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan Perencenaan Analisis Variabel Determinan yang Mempengaruhi Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Mojokerto;
3) Mengumpulkan data variabel determinan yang mempengaruhi perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Mojokerto;
4) Mengolah data yang telah dikumpulkan dari OPD terkait;
5) Menganalisa ketercapaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Mojokerto;
6) Menganalisa variabel determinan yang mempengaruhi perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Mojokerto menggunakan program eviews;
7) Menyusun rekomendasi dari hasil analisis variabel determinan yang mempengaruhi perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
3.6 Diagram Alir
Diagram alir dalam penyusunan Analisis Variabel Determinan yang Mempengaruhi Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia adalah sebagai berikut.
28
Gambar 3.1 Diagram Alir
Analisis Variabel Determinan Analisis Ketercapaian
IPM
Analisis Pertumbuhan Ekonomi terhadap IPM
Kesimpulan dan Rekomendasi
Selesai Mulai
Identifikasi Masalah
Pengumpulan Data Sekunder
BAB IV
GAMBARAN UMUM WILAYAH
BAB IV
GAMBARAN UMUM WILAYAH
KABUPATEN MOJOKERTO
30 BAB IV
GAMBARAN UMUM WILAYAH KABUPATEN MOJOKERTO
4.1 Luas dan Batas Wilayah Administrasi
Kabupaten Mojokerto merupakan salah satu daerah yang memiliki sejarah penting di mana dahulu kerajaan terbesar di Indonesia yaitu Kerajaan Majapahit ditemukan peninggalan-peninggalannya di daerah Trowulan dan sekitarnya. Kabupaten Mojokerto sendiri saat ini merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang secara geografis terletak di antara 111o20’13” sampai 111o40’47” bujur timur dan antara 7o18’35 sampai dengan 7o47’30” lintang selatan. Letak Kabupaten Mojokerto tidak berbatasan dengan pantai ataupun laut, melainkan berbatasan dengan kabupaten lainnya yaitu.
Sebelah Utara : Kabupaten Lamongan dan Kabupaten Gresik Sebelah Timur : Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Pasuruan Sebelah Selatan : Kabupaten Malang dan Kota Batu
Sebelah Barat : Kabupaten Jombang
Secara topografi wilayah Kabupaten Mojokerto cenderung cekung di tengah-tengah dan tinggi di bagian selatan dan utara. Bagian selatan merupakan bagian pegunungan yang subur, meliputi Kecamatan Pacet, Trawas, Gondang dan Jatirejo. Bagian tengah merupakan bagian dataran, sedangkan bagian utara merupakan daerah perbukitan kapur yang cenderung kurang subur.
Luas wilayah Kabupaten Mojokerto 692,15 km2 atau sekitar 2,09% dari luas Provinsi Jawa Timur, yang seluruhnya berupa dataran. Kabupaten Mojokerto sama sekali tidak memiliki wilayah berupa perairan atau laut.
Secara administratif Kabupaten Mojokerto terdiri dari 18 Kecamatan, 299 Desa dan 5 Kelurahan. Wilayah Kabupaten Mojokerto yang terluas adalah Kecamatan Dawarblandong yakni seluas 58,93 km2 dan Kecamatan Ngoro memiliki luas wilayah seluas 57,48 km2. Kecamatan di Kabupaten Mojokerto yang memiliki luas wilayah paling sempit adalah Kecamatan Gedeg yakni seluas 22,98 km2.
Gambar 4. 1Luas Kecamatan di Kabupaten Mojokerto Sumber: Kabupaten Mojokerto Dalam Angka, 2021
Disamping itu, wilayah Kabupaten Mojokerto juga mengitari wilayah
32,98 39,11 45,16 29,86 57,48 48,14 42,83 26,65 35,42 24,06 35,65 39,2 23,46 22,98 50,05 57,17 58,93 23,02
32
Gambar 4. 2Penggunaan Lahan di Kabupaten Mojokerto Sumber: Kabupaten Mojokerto Dalam Angka, 2021
Cakupan luas area tiap kebutuhan daerah dalam satu Kabupaten Mojokerto untuk area penggunaan lahan berupa permukiman, pertanian, hutan, rawa/waduk, perkebunan, lahan kritis, padang rumput, semak/alang-alang, dan permukiman. Area penggunaan yang mempunyai luas area terbesar yakni area penggunaan pertanian sebesar 371.010 km2 atau 38,47 persen dan area penggunaan terkecil terdapat pada area semak/alang-alang seluas 0,720 km2 atau mendekati 0,00 persen dan area lahan kritis yakni sebesar 0,2 km2 atau mendekati 0,00 persen.
4.2 Letak dan Kondisi Geografis
Kabupaten Mojokerto merupakan bagian dari Gerbang Kertasusila.
Posisi ini menjadikan Kabupaten Mojokerto sebagai salah satu wilayah prioritas dalam percepatan pembangunan ekonomi guna menunjang perekonomian nasional. Disamping itu, dalam lingkup Kabupaten Mojokerto termasuk dalam Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri (WPPI) yang berpotensi pengembangan industri besar.
Tujuan dengan dibentuknya kawasan Gerbang Kertosusila sebagai upaya membuat regionalisasi dengan menekan kemandirian terhadap wilayah kabupaten/kota. Kawasan tersebut merupakan salah satu kawasan aglomerasi di Provinsi Jawa Timur. Peran wilayah Gerbang Kertosusila yang semakin meningkat sebagai penggerak dan sekaligus kontribusi pembangunan ekonomi di Jawa Timur, tidak dapat dilepaskan dari kinerja pembangunan ekonomi Kabupaten Mojokerto. Kabupaten Mojokerto terdiri atas 18 kecamatan, 299 desa dan 5 kelurahan dengan perincian sebagai berikut.
Tabel 4. 1Jumlah Desa, Kelurahan, Dusun, Rukun Warga dan Rukun Tetangga
Kecamatan Desa kelurahan Dusun Rukun
Warga Rukun
34 4.3 Topografi
Topografi (bentuk permukaan bumi) wilayah Kabupaten Mojokerto terdiri dari dataran rendah dan pegunungan yang dilalui aliran sungai Brantas yang membelah dari selatan ke utara. Suhu udara berkisar antara 23°C sampai dengan 31°C, dengan ketinggian rata-rata 107 meter di atas permukaan laut.
Wilayah Kabupaten Mojokereto dengan luas 692,15 km2 (BPS, 2020).
Secara administrasi, Kabupaten Mojokerto terbagi menjadi 18
Secara administrasi, Kabupaten Mojokerto terbagi menjadi 18