• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II II. LAPORAN EVALUASI DIRI

B. Profil Institusi

C.4 Sumber Daya Manusia 1. Latar Belakang

9. Kesimpulan Hasil Evaluasi Ketercapaian Standar SDM serta Tindak Lanjut

Pemosisian masalah yang didapatkan dari temuan audit mutu internal terhadap ketercapaian standar mutu sumber daya manusia yaitu:

a) Masih ada beberapa dosen Institusi Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe yang tidak memilik kompetensi pendidik yang dinyatakan dengan sertifikat pendidik, dan/atau sertifikat profesi.

b) Masih ada dosen Institusi Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe yang belum menghasilkan karya ilmiah pada jurnal nasional terakreditasi atau jurnal internasional yang bereputasi.

c) Dosen tetap pada program studi di Institusi Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe yang ditugaskan menjalankan proses pembelajaran pada setiap program studi secara penuh waktu masih kurang dari 6 (enam) orang;

d) Masih kurangnya tenaga kependidikan yang melayani kegiatan pendidikan yang memerlukan keahlian khusus harus yang memiliki sertifikat kompetensi sesuai dengan bidang tugas dan keahliannya di Institusi Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe

Identifikasi akar masalah yang didapatkan dari hasil temuan audit mutu internal yaitu:

a) Kurangnya informasi dan sosialisasi mengenai seminar karya ilmiah dan publikasi karya ilmiah (jurnal dan proceeding) bereputasi dan terakreditasi

di tingkat Nasional maupun Internasional Institusi Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe

b) Masih minimnya tenaga kependidikan Institusi Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe yang mengikuti pendidikan dan pelatihan.

c) Minimnya kegiatan magang/pelatihan mewujudkan kinerja pelayanan prima.

d) Masih kurangnya kerja sama secara nasional dan internasional Institusi Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe dengan perguruan tinggi lainnya baik itu nasional dan internasional yang menyebabkan dosen dan tenaga kependidikan Institusi Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe susah mendapatkan akses untuk mengikuti program short course, postdoktoral , magang, pertemuan ilmiah, secara nasional maupun internasional serta program magang, Pendidikan dan Pelatihan (Diklat), secara nasional maupun internasional

e) kurangna sosialisasi mengenai perkembangan pengajuan jabatan fungsional akademik dan sertifikikasi dosen berdasarkan ketentuan yang berlaku

Rencana perbaikan dan pengembangan yang perlu menjadi perhatian dan perlu dipertimbangkan untuk dapat dijadikan bahan program strategis yang dapat dilakukan Institusi Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe dalam meningkatkan sistem pelayanan SDM adalah:

a) Memberikan pendidikan tambahan kepada dosen Institusi Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe dibidang ilmu Al Qur’an dan keislaman.

b) Memaksimalkan informasi mengenai seminar karya ilmiah dan publikasi karya ilmiah (jurnal dan proceeding) bereputasi dan terakreditasi di tingkat Nasional maupun Internasional, serta memberikan support serta apresiasi kepada dosen Institusi Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe agar setiap dosen Institusi Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe dapat mengikuti seminar karya ilmiah dan publikasi karya ilmiah (jurnal dan proceeding) bereputasi dan terakreditasi di tingkat Nasional maupun Internasional

c) Memberian sosialisai mengenai HAKI kedosen dalam bentuk workshop di lingkungan Institusi Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe.

d) Meningkatkan Kuota dosen dalam program desa binaan, safari ramadhan di daerah terpencil dan perbatasan, sehingga semua dosen Institusi Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe bisa terlibat pada program tersebut. e) Mengadakan pendidikan dan pelatihan tenaga kependidikan didalam

lingkungan Institusi Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe dengan mengundang tenaga ahli yang kompeten dibidangnya.

f) Bekerja sama dengan bidang yang dapat memberikan kegiatan magang/pelatihan mewujudkan kinerja pelayanan prima kepada tenaga kependidikan.

Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe.

h) Menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi lainnya baik secara local, nasional dan internasional sehingga dosen dan tenaga kependidikan Institusi Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe mendapatkan akses untuk mengikuti program short course, postdoctoral, magang, pertemuan ilmiah, secara nasional maupun internasional

i) Membangun kerjasama tingkat lokal, nasional, dan internasional antara Institusi Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe dan perguruan tinggi atau lembaga lainnya di tingkat local, nasional, dan internasional untuk pengembangan dan peningkatan kualitas tenaga kependidikan sehingga tenaga kependidikan dapat ikut serta program magang, Pendidikan dan Pelatihan (Diklat), secara nasional maupun internasional

j) Memotivasi dan memberikan dukungan penuh kepada dosen yang sedang menempuh pendidikan S3 untuk segera menyelesaikan studinya, dan mendorong dosen yang berpredikat master untuk melanjutkan pendidikan ke tahap yang lebih tinggi (S3).

k) Memberikan kesempatan, fasilitas dan dukungan pada dosen dan tenaga kependidikan secara merata untuk mendapatkan pelatihan dan pendidikan dalam rangka meningkatkan kualitas ilmu pengetahuan yang sesuai dengan keahlian dan profesinya serta kepangkatan akademik. l) Mengajukan dosen dan tenaga kependidikan yang berprestasi kepada

rektor IAIN Lhokseumawe untuk dipertimbangkan untuk mendapatkan penghargaan setiap tahun.

m) Meningkatkan kualitas layanan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

n) Meningkatkan layanan dan informasi pengembangan SDM melalui bantuan studi lanjut, bimbingan studi lanjut, layanan diklat di luar, magang, seminardan workshop.

o) Memberikan sosialisasi mengenai perkembangan pengajuan jabatan fungsional akademik dan sertifikikasi dosen berdasarkan ketentuan yang berlaku

C.5 Keuangan, Sarana, dan Prasarana 1. Latar Belakang

Dalam penyelenggaraan pendidikan, kebutuhan keuangan dan pembiayaan serta sarana dan prasarana merupakan faktor yang sangat menentukan dalam upaya mencapai tujuan pendidikan.

Pembiayaan atau keuangan merupakan salah satu dari standar nasional pendidikan dan menjadi faktor yang menentukan dalam tercapainya suatu tujuan pendidikan. Standar Pembiayaan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) BAB IX pasal 63 menyebutkan bahwa:

“Pembiayaan pendidikan terdiri atas biaya investasi, dan biaya operasi. Biaya investasi satuan pendidikan meliputi biaya penyediaan sarana dan

prasarana, pengembangan sumber daya manusia, dan modal kerja tetap. Biaya operasi satuan pendidikan meliputi: gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta segala tunjangan yang melekat pada gaji, bahan atau peralatan pendidikanhabis pakai, dan biaya operasi pendidikan tak langsung berupa daya,air, jasa telekomunikasi, pemeliharaan sarana dan prasarana, uang lembur, transportasi, konsumsi, pajak, asuransi, dan lain sebagainya”.1

Keuangan merupakan salah satu substansi dan komponen yang sangat menentukan bagi berjalannya kegiatan pendidikan di setiap jenjang pendidikan. Ketersediaan keuangan yang dimiliki oleh suatu lembaga pendidikan tinggi menjadi salah satu faktor terpenting dalam mempengaruhi perkembangan kualitas dan kuantitasnya. Sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi negeri, Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe juga telah memiliki keuangan dan pembiayaan yang memadai demi terlaksananya kegiatan tri dharma perguruan tinggi.

Disamping itu juga, sarana dan prasarana juga menjadi aspek yang tidak kalah penting bagi suatu lembaga pendidikan tinggi. Sarana pendidikan adalah segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai media atau alat dalam mencapai tujuan pendidikan, dan prasarana pendidikan adalah perangkat penunjang utama suatu proses agar tujuan pendidikan tercapai.

Oleh karena itu, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe sebagai suatu lembaga pendidikan tinggi juga dituntut untuk dapat melakukan pengelolaan keuangan, sarana dan prasarana yang memadai demi mengoptimalkan penyelenggaraan tri dharma perguruan tinggi.

Tujuan

Dalam upaya menjalankan amanat undang-undang SISDIKNAS Nomor 20 Tahun 2003 pasal 3 yang berbunyi:

“Pendidikan Nasional bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab”.2

Setiap lembaga pendidikan wajib menyediakan sarana dan prasarana serta standar pembiayaan dan keuangan yang memadai dalam rangka mewujudkan pendidikan yang berkualitas sehingga mampu mencerdasakan kehidupan bangsa. Oleh karena itu, IAIN Lhokseumawe sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan yang layak dan bermutu dengan memenuhi setiap standar pendidikan yang telah di atur oleh pemerintah, diantaranya adalah standar keuangan/pembiayaan dan standar sarana dan prasarana. Hal ini sesuai dengan PP No. 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan pada Bab VII Pasal 42 dengan tegas

1 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan

disebutkan bahwa; “setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan”.

Pengelolaan sarana dan prasarana pendidikan yang berkualitas bertujuan untuk dapat memberikan kontribusi yang optimal terhadap pelaksanaan proses pendidikan dalam upaya mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. IAIN Lhokseumawe sebagai lembaga penyelenggara pendidikan tinggi negeri memiliki visi “menjadi perguruan tinggi Islam yang unggul dan berwawasan global dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat”. Sehingga dalam upaya mewujudkan visi tersebut, IAIN Lhokseumawe harus memiliki standar penyelenggaraan pendidikan yang memadai sesuai dengan tuntutan standar nasional pendidikan tinggi termasuk ketersedian keuangan, sarana dan prasarana yang memenuhi standar. Dengan demikian, tujuan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dapat diwujudkan oleh IAIN Lhokseumawe.

2. Kebijakan

a) Kebijakan pengelolaan keuangan IAIN Lhokseumawe

Kebijakan pengelolaan keuangan dilaksanakan berdasarkan pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 190/PMK.05/2012 tentang Tata Cara Pembayaran dalam Rangka Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara serta merujuk pada standar pembiayaan dan standar biaya operasional pendidikan tinggi sebagaimana yang terdapat dalam Permenristekdikti nomor 44 tahun 2015 tentang SN DIkti pasal 39-42.

Kebijakan pengelolaan keuangan, IAIN Lhokseumawe mencakup: 1) Perencanaan

sistem perencanaan keuangan dilakukan berdasarkan usulan dan kebutuhan dari setiap unit kerja dan unit pelaksana tugas. Sistim perencanaan juga menganut konsep bottom up, yakni sistim perencanaan yang dilakukan dengan mengakomodir usulan dari bawah berupa usulan dan kebutuhan dari setiap unit kerja. Usulan tersebut dari tiap unit tersebut dituangkan dalam bentuk TOR dan RAB serta RAPB masing-masing. Usulan tersebut akan di bahas bersama untuk kemudian disetujui dalam Rapat Kerja (Raker) lembaga bersama pembahasan RAPB dan RKKL. Kemudian dihimpun untuk disusulkan sebagai DIPA IAIN Lhokseumawe, ke Kementrian Agama Republik Indonesia melalui anggaran direktorat jenderal pendidikan islam.

2) Sumber-sumber Keuangan

Secara umum sumber keuangan pada perguruan tinggi keagamaan islam negeri (PTKIN) bersumber dari 4 (empat) sumber pembiayaan yaitu dari rupiah murni (RM), penerimaan negera bukan pajak (PNBP), biaya operasional perguruan tinggi negeri (BOPTN) dan terakhir berasal dari surat berharga syariah negara (SBSN). Bantuan

operasional perguruan tinggi negeri yang selanjutnya disingkat BOPTN adalah bantuan biaya dari Pemerintah yang diberikan kepada perguruan tinggi untuk membiayai kekurangan biaya operasional sebagai akibat adanya batasan pada sumbangan pendidikan di perguruan tinggi. SBSN merupakan salah satu bentuk sumber keuangan dari APBN yang digunakan untuk pengembangan sarana dan prasarana IAIN Lhokseumawe, mencakup: pengadaan gedung, laboratorium dan perkantoran. PNBP merupakan sumber keuangan yang berasal dari sumbangan pembiayaan pendidikan (SPP) dan setoran lainnya yang sebagi sumber keuangan. Sumber-sumber keuangan tersebut di atas yang di gunakan untuk keterlaksanaan tri dharma perguruan tinggi yakni pembiayaan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Selin itu juga terdapat beberapa sumber keuangan lainnya berupa investasi dan sumbangan dari lembaga mitra sebagai tindak lanjut dari kerja sama.

3) Pengalokasian

Setelah DIPA APBN Tahun Anggaran ditetapkan oleh Kementerian Agama RI, selanjutnya dilakukan pengalokasian keuangan dengan berpedoman kepada RAKL yang telah disusun dalam tahap perencanaan. Selain itu, pengalokasian juga alokasikan kepada setiap unit kerja, fakultas, pascasarjana, lembaga serta setiap unit pelaksana tugas lainnya selaku pengguna anggaran/keuangan. Disamping itu juga dalam pengalokasian kuangan mengacu pada kebijakan pengalokasian dan pendustribusian dana dari peraturan menteri keuangan.

4) Realisasi

Realisasi Penggunaan keuangan disesuaikan dengan kebutuhan dan perencanaan serta berpedoman pada skala prioritas setiap kegiatan. Selain itu, realisasi anggaran juga berpedoman pada kebijakan penegelolaan pusat tentang penggunaan rupiah murni (RM), BOPTN, PNBP, dan SBSN. Untuk dana RM direalisasikan untuk kebutuhan yang bersifat pengeluaran rutin seperti pembayaran gaji, honor serta tunjangan. Dana SBSN direalisasikan untuk pemenuhan sarana dan prasarana. Dana BOPTN direalisasikan untuk pembiayaan pelaksanaan penelitian, publikasi ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat, hal ini sebagaimana tertuang dalam keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 702 Tahun 2019 tentang Petunjuk Teknis Pengelolaan Dana BOPTN Pada Perguruan Tinggi Keagamaan Islam. Untuk realisasi Penggunaan PNBP digunakan untuk pembiayaan berbagai kegiatan yang tidak terakomodir dalam keuangan DIPA APBN serta menyesuaikan dengan aturan penggunaan PNBP oleh kemeterian keuangan.

5) Pertanggung Jawaban

pertanggungjawaban atas pelaksanaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara, dengan menyusun laporan keuangan yang merujuk pada peraturan perundang-undangan terkait dengan bentuk, jenis, dan sistimatika pelaporan penggunaan dana Negara. Selain itu, pertanggungjawaban keuangan di IAIN Lhokseumawe disusun setiap; triwulan, laporan tengah tahunan (semester), dan tahunan.

Bentuk pertanggungjawaban terkait penerimaan dana Rupiah Murni dan BOPTN, diatur tersendiri dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor 73/PMK-05/2008 tentang Penatausahaan dan Penyampaian Laporan Pertanggungjawaban Bendahara Kementerian Negara/Lembaga/Kantor/Satuan Kerja. Pelaporan pengelolaan dana juga dilakukan oleh setiap unit kerja atau pelaksana kegiatan.

b) Dokumen formal Kebijakan pengelolaan sarana dan prasarana

mengacu pada kebijakan pemerintah pusat dalam hal ini kementerian agama serta mengikuti standar sarana dan prasarana dari permenristekdikti nomor 44 tahun 2015 pasal 32-35 tentang standar sarana dan prasarana pada perguruan tinggi. Kebijakan pengelolaan sarana dan prasarana pada IAIN Lhokseumawe mencakup:

1) Perencanaan

Sistem perencanaan terhadap aspek sarana dan prasarana berpedoman pada rencana induk pengembangan, rencana strategis serta rencana operasional yang telah disusun sebelumnya sehingga setiap pengadaan sarana dan prasarana yang akan dikerjakan terintegrasi dan komprehensif sesuai dengan Visi, Misi serta menyesuaikan dengan sasaran dan tujuan yang hendak di capai dalam rangka mencapai penyelenggaraan pendidikan yang bermutu dan berdaya saing. Disamping itu juga, sistim perencanaan sarana dan prasarana memiliki tata urut yang teratur dan di susun berdasarkan skala prioritas. Setelah itu kebutuhan dan prioritas terhadap kebutuhan sarana dan prasarana diusulkan kepada Kementerian Agama direktorat jenderal pendidikan islam untuk mendapatkan pembiayaan.

2) Pengadaan

Proses pengadaan sarana dan prasarana yang dilakukan oleh perguruan tinggi keagamaan negeri (PTKIN) pada umumnya yakni dengan mengacu pada aturan yang berlaku pada kementerian agama pada dirertorat pendidikan islam. Saat ini, proses pengadaan sarana dan prasarana pada PTKIN dengan menggunakan anggaran DIPA yang bersumber dari SBSN. Setelah melalui proses pengajuan ke kementerian agama, usulan pengadaan sarana dan prasarana dari setiap PTKIN akan dimasukkan kedalam daftar prioritas proyek oleh Bappenas. Setelah itu, baru dituangkan ke dalam DIPA APBN masing-masing PTKIN sehingga selanjutnya dilakukan pelelangan pengadaan secara terbuka melalui Layanan Pengadaan secara

elektronik kementerian Agama pada website: www.lpse.kemenag.go.id.

3) Pemanfaatan

Pemanfaatan sarana dan prasarana yang telah ada dimanfaatkan dengan baik sesuai dengan kebutuhan. Misalnya ruang kuliah yang telah dibangun digunakan sebagai sarana terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien, laboratorium center juga di manfaatkan sebagai tempat belajar dan pelatihan sesuai dengan bidang keahlian masing-masing.

4) Pemeliharaan

Pemeliharaan merupakan kegiatan penjagaan atau pencegahan dari kerusakan suatu barang, sehingga barang tersebut selalu dalam kondisi baik dan siap pakai. Pemeliharaan terhadap semua inventaris sarana dan prasarana yang ada di IAIN Lhokseumawe dilakukan secara berkala dan berkelanjutan. Pemeliharaan dimulai dari pemakaian barang dengan berhati-hati dalam menggunakannya sampai dengan petugas khusus yang secara professional mempunyai keahlian sesuai dengan jenis barang yang dimaksud.

5) Penghapusan

Penghapusan sarana dan prasarana juga dilakukan oleh IAIN Lhokseumawe terhadap barang-barang yang sudah tidak dapat dimanfaatkan dan dipergunakan lagi untuk kepentingan pendidikan, hal ini dikarenakan juga dikarenakan oleh beberapa faktor, diantaranya: rusak berat, barang tersebut sudah tidak sesuai dengan kebutuhan dan keadaan, biaya pemeliharaan yang tinggi, jumlah barang tersebut berlebihan sehingga tidak bisa dimanfaatkan, dan nilai guna barang tersebut tidak perlu dimanfaatkan.

Oleh karena itu, dengan keadaan seperti diatas maka barang-barang tersebut harus segera dihapus, artinya, menghapus barang-barang inventaris (milik Negara) dari daftar inventaris sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Sehingga dengan adanya penghapusan ini maka barang tersebut dibebaskan dari biaya perbaikan dan pemeliharaan.

3. Standar IAIN Lhokseumawe dan Strategi Pencapaian Standar

a) Standar pengelolaan keuangan IAIN Lhokseumawe mengacu pada surat keputusan Rektor nomor 241 tahun 2017 tentang standar pengelolaan keuangan Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe. Standar pengelolaan keuangan IAIN Lhokseumawe mencakup:

1) Perencanaan

Sistem perencanaan kebutuhan yang diterapkan IAIN Lhokseumawe yakni mengacu pada rencana strategis dan rencana operasional serta berdasarkan usulan dan kebutuhan dari setiap fakultas, pascasarjana, lembaga dan setiap unit pelaksana tugas. Kegiatan perencanaan ini dilakukan dalam bentuk rapat kerja (RAKER) tahunan yang dihadiri

oleh seluruh pimpinan unit kerja IAIN Lhokseumawe. Berdasarkan usulan dan pembahasan dari Raker tersebut dihimpunlah seluruh usulan pembiayaan kegiatan dan dianalisis sesuai kemampuan, kebutuhan dan renstra maupun Renop institute. Setelah mendapatkan hasil akhir dari perencanaan penggunaan keuangan dibuat dalam satu dokumen RKA-KL (Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Lembaga) untuk diusulkan ke kementerian agama sehingga ditetapkan sebagai dana DIPA APBN IAIN Lhokseumawe setiap tahun.

2) Sumber-sumber keuangan

Sebagai Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTKIN) yang berada di lingkungan Kementerian Agama, IAIN Lhokseumawe memiliki sumber-sumber keuangan/pembiayaan yang didanai dari pemerintah setiap tahunnya dalam bentuk DIPA APBN yang biasa disebut Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Anggaran pendapatan Belanja Negara (APBN). Dana DIPA yang diperoleh IAIN Lhokseumawe setiap tahunnya dari pemerintah pusat terdiri dari beberapa jenis anggaran yaitu: rupiah murni (RM) yang merupakan sumber keuangan untuk pembiayaan rutin, BOPTN yang merupakan sumber keuangan dari Bantuan operasional perguruan tinggi, selanjutnya sumber keuangan dari SBSN yang merupakan keuangan yang diperuntukkan untuk pembangunan/pengadaan sarana dan prasarana pendidikan. Selain itu, IAIN Lhokseumawe juga memiliki sumber-sumber keuangan yang berasal Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), hal ini seperti dari sumbangan pembiayaan pendidikan (SPP) dan biaya setoran dari mahasantri Ma’had Al Jami’ah, serta sumber keuangan dari hasil kerjasama dengan berbagai pemerintah daerah Aceh, Pemerintah kota Lhokseumawe, pemerintah kabupaten Aceh Utara, dana aspirasi DPR, Pertamina Arun Gas, PT PIM, Bank Indonesia, kementerian PUPR, dan juga dari lembaga mitra lainnya yang telah melakukan kerjasama dengan IAIN Lhokseumawe.

3) Pengalokasian

Sistem pengalokasian keuangan yang diterapkan IAIN Lhokseumawe yakni dengan menyesuaikan dengan perencanaan yang telah disetujui sebelumnya dari setiap unit kerja dan unit pelaksana tugas. Selanjutnya keuangan yang ada tersebut dialokasikan ke setiap fakultas, pascasarjana, lembaga serta setiap unit pelaksana tugas masing-masing selaku pengguna anggaran. Disamping itu juga Pengalokasian dana mengacu pada kebijakan pengalokasian dan pendustribusian dana yang dikeluarkan Rektor IAIN Lhokseumawe setiap tahun anggaran.

4) Realisasi

Dalam melakukan realisasi anggaran/keuangan, IAIN Lhokseumawe melimpahkan kepada setiap unit kerja dan pelaksana tugas untuk

melakukan realisasi pembiayaan sesuai kebutuhan dan usulan sebelumnya dibawah pengawasan SPI. Dana yang bersumber dari rupiah murni digrealisasikan untuk pengeluaran rutin seperti pembayaran gaji, honor serta tunjangan seluruh civitas akademika IAIN Lhokseumawe, meliputi: gaji, tunjangan kinerja, tunjangan sertifikasi, tunjangan struktural dan pejabat, THR, pembiayaan tugas belajar dosen dan karyawan serta berbagai kebutuhan lain yang bersifat pengeluaran rutin sesuai dengan perencanaan sebelumnya. RM juga digunakan sebagai pembiayaan pengeluaran rutin, misalnya pembayaran gaji dan tinjangan kinerja dosen dan tenaga kependidikan, sertifikasi dosen, tunjangan hari raya, biaya tugas belajar dosen, tunjangan jabatan, dan biaya operasional lainnya yang bersifat pengeluaran rutin sesuai dengan perencanaan dan RAKL.

Dana SBSN direalisasikan sebagai dana pemenuhan sarana dan prasarana berupa pengadaan gedung perkuliahan dan laboratorium. Dana BOPTN direalisasikan untuk pembiayaan penelitian, publikasi ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat, hal ini sebagaimana tertuang dalam keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 702 Tahun 2019 tentang Petunjuk Teknis Pengelolaan Dana BOPTN Pada Perguruan Tinggi Keagamaan Islam. Dana PNBP direalisasikan untuk pembiayaan kegiatan-kegiatan kemahasiswaan, kegiatan kuliah umum di setiap jurusan/program studi, kegiatan seminar nasional, pembayaran biaya sertifikasi dosen non PNS, pembayaran honor pejabat yang tidak include dalam anggaran rutin rupiah murni, serta berbagai pembiayaan-pembiayaan berbagai kebutuhan lain yang tidak tersedia dalam DIPA APBN.

5) Pertanggung Jawaban

Pertanggungjawaban anggaran yang dilakukan IAIN Lhokseumawe dengan cara mempertanggungjawabkan melalui laporan keuangan pengelolaan sumber daya serta pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan; mewujudkan transparansi dalam pelaporan keuangan IAIN Lhokseumawe dengan menyediakan informasi keuangan yang terbuka bagi masyarakat. Setiap unit kerja selaku pengguna anggaran di IAIN Lhokseumawe harus melaporkan secara rinci setiap pengeluaran keuangan yang telah digunakan dalam bentuk laporan pertanggungjawaban atas setiap kegiatan penggunaan anggaran. Proses pertanggungjawaban anggaran juga selalu dipantau oleh sistem audit keuangan baik internal yaitu (SPI) maupun eksternal yaitu: Inspektorat dan BPK. Disamping itu juga, pelaporan pertanggungjawaban pengelolaan dana juga dilakukan oleh setiap unit kerja atau pelaksana kegiatan, dengan melampirkan dokumen penggunaan dana, seperti: SPTJM, tanda penerimaan uang, SPTJB, SSP dan juga SPTB.

6) Strategi Pencapaian Standar Keuangan di IAIN Lhokseumawe

IAIN Lhokseumawe melakukan berbagai strategi dan upaya dalam rangka pencapaian standar keuangan, diantaranya; menjalin kerjasama dengan berbagai pihak dan lembaga baik di dalam maupun luar negeri. Dari hasil kerja sama tersebut telah menunjukkan bahwa