• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN YURIDIS ATAS KEPEMILIKAN DAN

D. Kesimpulan Putusan Pengadilan Sebagai Dasar Pemberian Hak

Kepemilikan

Menurut keterangan dari para saksi yang dihadirkan dari pihak tergugat/terbanding/termohon kasasi menyatakan bahwa memang benar sebenarnya tanah tersebut adalah milik Haji Basyarudin. Tanah tersebut selama ini dikuasai oleh Haji Basyarudin yang diterimanya secara turun temurun dari ayahnya an. Marak kemudian setelah Marak meninggal, Haji Basyarudin meneruskan kepemilikan tanah tersebut dengan membayar Pajak Bumi dan Bangunan atas tanah tersebut.

Pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan atas tanah yang dilakukan oleh Haji Basyarudin selama ini hanya merupakan Girik yaitu bukti pembayaran pajak-pajak atas tanah dan Girik bukan merupakan tanda bukti kepemilikan hak atas tanah, dengan demikian, apabila di atas bidang tanah yang sama, terdapat klaim dari pemegang girik dengan klaim dari pemegang surat tanda bukti hak atas tanah (sertipikat), maka pemegang sertipikat atas tanah menurut hukum akan memiliki klaim hak kebendaan yang lebih kuat. Hal ini yang sering menimbulkan

permasalahan dimana diatas tanah yang berstatus girik dapat dikuasai atau dimiliki oleh orang lain, sehingga seharusnya dilakukan peningkatan dari status kepemilikan tanah tersebut.

Pada saat itu yang ada di tanah tersebut hanya pohon kelapa, namun setelah lama Haji Basyarudin kembali dari kota Jakarta, dimana Haji Basyarudin tersebut menurut keterangannya memiliki isteri dua, dimana satu berada di Jakarta. Pada bulan Mei 2013 Haji Basyarudin pulang dari Jakarta untuk melakukan pengukuran tanah namun menemui adanya bangunan 3 (tiga) unit rumah yang ditempati oleh ibu Sutrijon dan adik-adik Sutrijon. Sutrijon Cs tersebut merupakan kemenakan dari penggugat objek perkara Ibrahim. Tanah dimana tempat didirikannya rumah tersebut adalah milik dari Haji Basyarudin.

Dalam kasus putusan Mahkamah Agung Nomor 2511K/PDT/1995 tanggal 9 September 1997 tersebut jelas dimana adanya bangunan 3 (tiga) unit rumah yang ditempati oleh ibu Sutrijon dan adik-adik Sutrijon. Sutrijon Cs tersebut merupakan kemenakan dari penggugat objek perkara Ibrahim. Tanah dimana tempat didirikannya rumah tersebut adalah milik dari Haji Basyarudin.

Dalam menentukan prioritas tentang rumah, seseorang atau sebuah keluarga cenderung meletakkan prioritas utama pada lokasi rumah yang berdekatan dengan tempat yang dapat memberikan kesempatan kerja, tanpa kesempatan kerja yang dapat menopang kebutuhan sehari-harinya, sulit bagi mereka untuk mempertahankan hidupnya. Status kepemilikan rumah dan lahan menempati prioritas kedua, sedangkan bentuk maupun kualitas rumah prioritas yang terakhir. Yang terpenting yaitu

tersedianya rumah untuk berlindung dan istirahat dalam upaya mempertahankan hidupnya.84

Timbulnya sengketa hukum mengenai tanah tersebut berawal dari pengaduan suatu pihak (orang atau badan hukum) yang berisi keberatan-keberatan dan tuntutan hak atas tanah baik terhadap status tanah, prioritas maupun kepemilikannya dengan harapan dapat memperoleh penyelesaian secara administrasi sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku.85

Pada dasarnya setiap orang maupun badan hukum membutuhkan tanah. Karena tidak ada aktivitas orang ataupun badan hukum apalagi dalam kegiatan pembangunan yang tidak membutuhkan tanah. Oleh karena itu hak seseorang atas tanah semestinya harus dihormati, dalam pengertian tidak boleh oleh orang lain melakukan tindakan melawan hukum untuk memiliki/menguasai lahan tersebut.86

Setiap orang membutuhkan penguasaan meskipun hanya sementara dan tak menentu atas sebagian dari permukaan bumi yaitu tanah beserta hasil produksinya, secara langsung ataupun tidak langsung.87 Dimana faktanya membuktikan bahwa pada hakekatnya karya manusia tidak dapat dilaksanakan tanpa adanya tanah.

Hal tersebut yang menjadikan status kepemilikan rumah maupun lahan menjadi prioritas utama, karena orang atau keluarga tersebut ingin mendapatkan

84 Bambang Panudju, Pengadaan Perumahan Kota Dengan Peran Serta Masyarakat Berpenghasilan Rendah, (Bandung : Alumni, 2009), hal. 9.

85Rusmadi Murad,Loc.Cit.

86Tampil Anshari Siregar,Mempertahankan Hak Atas Tanah, (Medan : Multi Grafik Medan,

2005), hal. 2.

87 Iman Sudiyat, Beberapa Masalah Penguasaan di Berbagai Masyarakat Sedang Berkembang, (Yogyakarta: Liberty, cet. Pertama, 1982), hal. 7.

kejelasan tentang status kepemilikan rumahnya.88 Tanpa jaminan adanya kejelasan tentang status kepemilikan rumah dan lahannya, seseorang atau sebuah keluarga akan selalu tidak merasa aman sehingga mengurangi minat mereka untuk memperluas, memelihara, atau meningkatkan kualitas rumahnya dengan baik.89

Seyogianya jika ada hak seseorang atas tanah harus di dukung oleh bukti hak, dapat berupa sertipikat, bukti hak tertulis non sertipikat dan/atau pengakuan/keterangan yang dapat dipercayai kebenarannya.90 Jika penguasaan atas tanah dimaksud hanya didasarkan atas kekuasaan, arogansi atau kenekatan semata, pada hakekatnya penguasaan tersebut sudah melawan hukum.

Pengertian tentang “penguasaan” dan “menguasai” hal ini dapat dipakai dalam arti fisik, dan juga dalam arti yuridis. Pengertian penguasaan yuridis dilandasi hak yang dilindungi oleh hukum dan umumnya memberi kewenangan kepada pemegang hak untuk menguasai secara fisik tanah yang dihaki.91 Pengertian penguasaan dan menguasai tersebut dipakai dalam arti perdata Dalam UUD 1945 dan UUPA pengertian “dikuasai” dan “menguasai” dipakai dalam arti publik, seperti yang dirumuskan dalam Pasal 2 UUPA. Pengertian yuridis yang beraspek perdata, terdiri atas hak tanah seperti : hak milik (Pasal 20), hak guna usaha dan hak jaminan atas tanah yang disebut hak tanggungan (Pasal 23, 33, 39, dan 51). Sedangkan hak

88Bambang Panudju,Loc.Cit. 89Ibid, hal. 10.

90Tampil Anshari Siregar,Op. Cit, hal. 3.

91 Suhariningsih, Tanah Terlantar, Asas dan Pembaharuan Konsep Menuju Penertiban,

menguasai negara yang sifatnya hukum publik merupakan hak menguasai negara yang meliputi semua tanah tanpa ada terkecualinya.

Didalam konsep hukum sebutan “menguasai” atau dikuasai dengan dimiliki ataupun kepunyaan dalam konteks yuridis mempunyai arti/makna berbeda dan menimbulkan akibat hukum yang berbeda pula. Arti dikuasai tidak sama dengan pengertian dimiliki. Jika menyebutkan tanah tersebut dikuasai atau menguasai dalam arti “possession” makna yuridisnya adalah tanah tersebut dikuasai seseorang secara fisik dalam arti faktual digarap, dihuni, namun belum tentu bahwa secara yuridis dia adalah pemilik atau yang mempunyai tanah tersebut. Demikian juga bila menyebutkan bahwa tanah tersebut di miliki atau kepunyaan dalam arti “Ownership” dalam pengertian juridis, maka dapat diartikan bahwa tanah tersebut secara yuridis merupakan tanah milik atau kepunyaan, namun bukan berarti juga dia secara fisik menguasai tanah tersebut, karena mungkin adanya hubungan kerjasama atau kontraktual tertentu.92

Sungguhpun dimungkinkan juga pemilikan tanah oleh seseorang dan pemilikan rumah oleh orang lain, seperti dalam kasus yang diteliti ini, dimana pihak Sutrijoncsmelakukan penguasaan rumah di atas tanah yang bukan miliknya, namun masih harus dalam konteks Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai. Pasal 35 ayat 1 UUPA menyatakan bahwa hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunan- bangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri, dengan jangka waktu paling lama 30 tahun. Kemudian Pasal 32 Peraturan Pemerintah No 40 Tahun 1996 mengatur

92

bahwa pemegang Hak Guna Bangunan berhak menguasai dan mempergunakan tanah yang diberikan dengan Hak Guna Bangunan selama waktu tertentu untuk mendirikan dan mempunyai bangunan untuk keperluan pribadi atau usahanya serta untuk mengalihkan hak tersebut kepada pihak lain dan membebaninya.

Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1994 tentang Penghunian Rumah oleh Bukan Pemilik menyebutkan bahwa penghunian rumah oleh bukan pemilik hanya sah apabila ada persetujuan pemilik dan hal itu dapat dilakukan dengan cara sewa-menyewa atau cara bukan sewa-menyewa.93

Penghunian rumah dengan cara sewa menyewa didasarkan pada perjanjian tertulis yang antara lain mencantumkan ketentuan tentang hak dan kewajiban, jangka waktu sewa dan besarnya harga sewa.94 Penghunian rumah dengan cara bukan sewa mnyewa didasarkan pada persetujuan antara pemilik dengan penghuni dan disarankan dibuat dalam bentuk perjanjian tertulis yang sekurang-kurangnya memuat jangka waktu penghunian.95

Berbeda dengan kasus yang diteliti ini, dimana pihak Sutrijon cs menguasai rumah dan berniat untuk menguasai tanah yang bukan miliknya tersebut dengan jelas hal tersebut bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku sehingga dapat dinyatakan perbuatan melawan hukum.

93Maria S.W. Sumardjono,Pengaturan Hak Atas Tanah Beserta Bangunan (Bagi Negara Asing dan Badan Hukum Asing), (Jakarta: Kompas, 2008), hal. 42.

94

Pasal 4 s/d Pasal 13 PP No. 44 Tahun 1994tentang Penghunian Rumah oleh Bukan Pemilik.

95

UUPA telah membedakan hak penguasaan tanah menjadi 2 kelompok, yaitu hak atas tanah dan hak jaminan atas tanah. Hak atas tanah yang menentukan sistem land tenuredapat dibagi dalam 2 kategori yaitu :96

1. Semua hak yang diperoleh langsung dari negara (disebut dengan hak primer). 2. Semua yang berasal dari pemegang hak atas tanah lain berdasarkan pada

perjanjian bersama (disebut hak sekunder).

Kedua hak tersebut di atas pada umumnya mempunyai persamaan, dimana pemegangnya berhak untuk menggunakan tanah yang dikuasainya untuk dirinya sendiri atau untuk mendapatkan keuntungan dari orang lain melalui perjanjian dimana satu pihak memberikan hak sekunder pada pihak lain.

Hak atas tanah yang diperoleh dari negara (hak primer), terdiri dari : hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan, hak pakai, dan hak pengelolaan. Sedangkan hak yang sekunder terdiri dari hak sewa, hak usaha bagi hasil, hak gadai, dan hak menumpang.

Dalam UUPA, seperti yang dirumuskan pada Pasal 20, pengertian Hak milik adalah hak turun-temurun, terkuat dan terpenuh yang dapat dipunyai orang atas tanah, dan mempunyai fungsi sosial.97Dengan demikian, terkuat dan terpenuh tidak berarti hak milik adalah hak yang mutlak dan tidak dapat diganggu gugat seperti hak eigendom yang asli. Namun pengertian tersebut menunjukkan bila dibandingkan

96Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia, (Jakarta: Jilid I, Bagian I, Jambatan), hal. 7. 97Achmad Chuleemi, Hukum Agraria Perkembangan Macam-macam Hak Atas Tanah dan Pemindahannya, (Semarang: FH. Undip,1995), hal. 59.

dengan hak lain, hak milik adalah hak yang paling kuat dan paling penuh. Hak milik dapat beralih dan dialihkan pada pihak lain.

Hak milik adalah hak untuk menikmati kegunaan sesuatu kebendaan dengan leluasa, dan untuk berbuat bebas terhadap kebendaan itu, dengan kedaulatan sepenuhnya, asal tidak bertentangan dengan undang-undang atau peraturan umum yang ditetapkan oleh suatu kekuasaan yang berhak menetapkannya, dan tidak mengganggu hak-hak orang lain. Kesemuanya itu dengan tidak mengurangi kemungkinan akan pencabutan hak demi kepentingan umum berdasar atas ketentuan undang-undang dan pembayaran ganti rugi (Pasal 570 KUHPerdata).

Adapun sifat-sifat dari hak milik adalah :

a. Merupakan hak yang terkuat dan terpenuh diantara hak-hak yang lainnya. b. Bersifat turun-temurun (dapat diwariskan oleh si empunya tanah), dan secara

terus menerus dengan tidak harus memohon haknya kembali apabila terjadi perpindahan hak.

c. Dapat menjadi induk atas hak-hak atas tanah lain, artinya bahwa hak milik tersebut dapat dibebani oleh Hak Guna Bangunan, Hak Sewa, Hak Gadai. d. Dapat dijadikan jaminan hutang dengan dibebani hak tanggungan.

e. Dapat dijual atau ditukar dengan benda lain atau dihibahkan dan diberikan secara wasiat.

f. Dapat diwakafkan

g. Yang boleh memiliki hak milik atas tanah sesuai dengan Pasal 21 Undang- Undang Pokok Agraria adalah :

1) Hanya warga Negara lndonesia dapat mempunyai hak milik

2) Oleh pemerintah ditetapkan badan-badan yang dapat mempunyai hak milik dan syarat-syaratnya

3) Orang asing yang sesudah berlakunya undang-undang ini memperoleh hak milik karena pewarisan tanpa wasiat atau percampuran harta karena perkawinan, demikian pada warga negara Indonesia yang mempunyai hak milik setelah berlakunya undang-undang ini kehilangan kewarganegaraannya, wajib melaporkan hak itu dalam jangka waktu satu tahun sejak diperoleh hak milik itu tidak dilepaskan, maka hak tersebut hapus karena hukum dan tanahnya jatuh pada negara dan ketentuan bahwa hak-hak pihak lain yang membebani tetap berlangsung.

4) Selama seseorang yang memiliki kewarganegaraan lain selain sebagai warga negara Indonesia, maka ia tidak dapat mempunyai tanah dengan hak milik dan baginya berlaku ketentuan dalam ayat (13) pasal ini.

Dari uraian di atas mengenai pengertian “penguasaan”, disamping dipakai dalam arti fisik dan dalam arti yuridis, juga beraspek privat dan beraspek publik.98 Dalam hal ini, umumnya terhadap penguasaan secara yuridis adalah memberi kewenangan kepada pemegang hak untuk menguasai secara fisik tanah yang dihaki, namun disisi lain ada penguasaan secara yuridis yang tidak memberi kewenangan untuk menguasai tanah bersangkutan secara fisik, misalnya kreditor (bank),

98Urip Santoso, Hukum Agraria & Hak-Hak Atas Tanah, (Jakarta:Kencana Prenada Media

pemegang hak jaminan atas tanah mempunyai hak penguasaan yuridis atas tanah yang dijadikan agunan (jaminan) akan tetapi secara fisik penguasaannya tetap berada pada pemegang hak atas tanah. Penguasaan yuridis dan fisik atas tanah ini dipakai dalam aspek privat. Sedangkan penguasaan yuridis yang beraspek publik adalah sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 dan Pasal 2 UUPA.

Pengertian penguasaan tanah secara yuridis formal sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Undang-Undang Nomor 56 Prp Tahun 1960 adalah berbunyi sebagai berikut : “seseorang atau orang-orang yang dalam penghidupannya merupakan satu keluarga bersama-sama hanya diperbolehkan menguasai tanah pertanian baik miliknya sendiri atau kepunyaan orang lain, ataupun miliknya sendiri bersama kepunyaan orang lain yang jumlah luasnya tidak melebihi batas maksimum yang ditetapkan dalam ayat (2) pasal ini.”

Penguasaan menurut Satjipto Rahardjo, merupakan karakteristik suatu masyarakat pra hukum dan bersifat faktual (mementingkan kenyataan pada suatu saat). Hubungan yang nyata antara seseorang dengan barang yang ada dalam kekuasaannya. Dalam hal ini terkandung 2 unsur, yaitu:

1) kenyataan bahwa suatu barang itu berada dalam kekuasaan seseorang (corpus possessionis);

2) sikap batin orang yang bersangkutan untuk menguasai dan menggunakannya (animus posidendi).

Cara untuk memperoleh penguasaan dapat dilakukan melalui 2 jalan, yaitu: 1) tanpa ada persetujuan penguasa atau yang menguasai sebelumnya;

2) berdasarkan penyerahan, merupakan cara penguasaan atas suatu barang dengan adanya persetujuan dari penguasa atau yang menguasai sebelumnya.99

99Sarjita, http://djitashhum.blogspot.com/2012/03/penguasaan-dan-pemilikan-tanah-

Pemilikan mempunyai sosok hukum yang lebih jelas dan pasti apabila dibandingkan dengan pengertian penguasaan. Dalam penguasaan tanpa perlu menunjuk pada hukum. Terkandung di dalamnya kompleks hak-hak, yang kesemuanya dalam digolongkan ke dalam ius is rem, karena berlaku terhadap setiap orang. Karakteristik dari kepemilikan (Fitzgeralddalam Satjipto Rahardjo) yaitu:100

1) Pemilik mempunyai hak untuk memiliki barangnya, meskipun empunya tidak memegang atau menguasai barang, oleh karena itu telah direbut daripadanya oleh orang lain. Maka hak atas barang itu tetap ada pada pemegang (empunya) hak semula.

2) Pemilik mempunyai hak untuk menggunakan dan memanfaatkan serta menikmati barang yang dimilikinya;

3) Pemilikan mempunyai ciri tidak mengenal jangka waktu;

4) Pemilikan mempunyai ciri yang bersifat sisa. Seorang yang memiliki tanah dapat menyewakan tanahnya kepada orang lain, dan dapat pula memberikan sesuatu hak di atas hak miliknya (Contoh dengan Hak Guna Bangunan atau Pakai) kepada pihak lain, serta memberikan hak untuk melintasinya kepada pihak lain, sedang ia tetap memiliki hak atas tanah itu yang terdiri dari sisanya sesudah hak-hak itu diberikan kepada pihak lain.

5) hak untuk mengalihkan kepada pihak lain. Hal tersebut tidak dipunyai oleh orang yang menguasai barang, karena adanya asasmemo dat quat nonhabet. 100Sarjita, http://djitashhum.blogspot.com/2012/03/penguasaan-dan-pemilikan-tanah-

Alas hak adalah merupakan alat bukti dasar seseorang dalam membuktikan hubungan hukum antara dirinya dengan hak yang melekat atas tanah. Oleh karenanya sebuah alas hak harus mampu menjabarkan kaitan hukum antara subjek hak (Individu maupun badan hukum) dengan suatu objek hak (satu atau beberapa bidang tanah) yang ia kuasai. Artinya, dalam sebuah alas hak sudah seharusnya dapat menceritakan secara lugas, jelas dan tegas tentang detail kronologis bagaimana seseorang dapat menguasai suatu bidang tanah sehingga jelas riwayat atas kepemilikan terhadap tanah tersebut.101

Jika telah terjadi konflik maka dapat terjadinya ketidakharmonisan/kerenggangan sosial diantara warga masyarakat, termasuk hambatan bagi terciptanya kerjasama diantara mereka. Dalam hal ini konflik dapat terjadi dengan instansi pemerintah dan warga masyarakat di sekitar lokasi tanah sengketa, sehingga menimbulkan penurunan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah berkenaan ketidakpastian hukum.

Tanah yang dulu dipandang dari sudut sosial, yang tercakup dalam lingkup hukum adat, hak ulayat dan fungsi sosial, kini mulai dilihat dari sudut ekonomi, sehingga tepat apabila Perserikatan Bangsa-bangsa mensinyalir bahwa saat ini

101Rahmat Ramadhani, http://kab-mukomuko.bpn.go.id/Propinsi/Bengkulu/Kabupaten-

Muko-Muko/Artikel/MEMAHAMI-ARTI-PENTING-RIWAYAT-KEPEMILIKAN-TANAH--D.aspx, tanggal 30 April 2014, pukul 22:28.

masalah pertanahan tidak lagi menyangkut isu kemasyarakatan tetapi telah berkembang menjadi isu ekonomi.102

Pemilik yang berhak atas adanya sengketa ini sebenarnya sudah secara jelas bahwa tanah tersebut adalah milik Haji Basyarudin, juga diperkuat dengan adanya hasil musyawarah dalam bentuk surat penyataan/perdamaian, dan hingga sampai pada putusan Pengadilan Negeri tingkat pertama hingga diperkuat lagi oleh Putusan Mahkamah Agung Nomor 2511K/PDT/1995 tanggal 09 September 1997.

102

Muhammad Yamin dan Rahim Lubis,Beberapa Masalah Aktual Hukum Agraria, (Medan : Pustaka Bangsa Press, 2004), hal. 26.