• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keterkaitan Antar Variabel

Dalam dokumen Oleh: Bella Septiyana NIM: (Halaman 72-0)

1. Keterkaitan Pelatihan dengan Employee Engagement

Kurangnya penghargaan dan pengakuan yang diterima oleh karyawan akan menyebabkan mereka tidak betah untuk tetap bertahan di perusahaan. Oleh karena itu, penghargaan dan pengakuan merupakan faktor penting bagi employee engagement. Menurut Saks (Nurwulandari & Suwatno, 2017) karyawan yang mendapatkan kesempatan untuk mengikuti pelatihan akan merasa keberadaan dirinya diakui oleh perusahaan. Untuk itu perusahaan perlu memperhatikan program-program pelatihan apa yang akan diberikan kepada karyawan.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Putri, dkk (2021) dan Dayona (2016) menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara pelatihan kerja dan tingkat employee engagement.

e2

Gambar 2. 2 Diagram Jalur

Pzx2 Pyx1

Pyx2

Pyz Pelatihan (X1) e1

Pengembangan Karir (X2)

Employee Engagement (Y)

Kinerja Karyawan (Z) Pzx1

56

2. Keterkaitan Pengembangan Karir dengan Employee Engagement Kesempatan melakukan pengembangan karir merupakan suatu bentuk apresiasi yang diberikan perusahaan kepada karyawan sehingga dapat meningkatkan employee engagement yang lebih tinggi.

Pengembangan karir sebagai sebuah aktivitas yang membantu karyawan mencapai perencanaan karir nya dan mengembangkan diri secara maksimal (Syitah & Nasir, 2019).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sumadhinata dan Murtisari (2017) dan Montori, dkk (2019) menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan antara pengembangan karir dan employee engagement.

3. Keterkaitan Pelatihan dengan Kinerja Karyawan

Efektivitas pelatihan menjadi penting karena pelatihan dapat dikatakan sebagai fasilitator yang dapat meningkatkan keterampilan dan keahlian yang berkaitan dengan pekerjaannya sehingga kinerja mereka dapat lebih optimal. Elnaga (Edy Kumara & Utama, 2016) menyatakan bahwa tanpa pelatihan yang tepat karyawan akan kesulitan dalam menerima informasi dan keterampilan baru guna memaksimalkan potensinya dalam bekerja.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dusauw (2016) dan Edy Kumara dan Utama (2016) menunjukkan bahwa pelatihan berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan.

57

4. Keterkaitan Pengembangan Karir dengan Kinerja Karyawan

Optimalisasi kinerja karyawan dalam suatu perusahaan dapat dicapai dengan memperhatikan faktor pengembangan karir sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan (Dewi & Utama, 2016). Perusahaan akan mendapatkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan di masa depan dengan melakukan proses pengembangan karir yang baik.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sari (2016) dan Suryadani (2016) menunjukkan bahwa pengembangan karir berpengaruh terhadap kinerja karyawan.

5. Keterkaitan Employee Engagement dengan Kinerja Karyawan

Untuk menghasilkan kinerja karyawan yang baik maka perusahaan tidak hanya harus mendukung karyawan dalam bentuk material saja melainkan perlu adanya bentuk nonmaterial. Faktor-faktor tersebut mengacu pada kebutuhan psikologis karyawan yang harus dipenuhi seperti terjalinnya hubungan kerja yang baik, lingkungan kerja yang kondusif, tingginya dukungan organisasi, dan lain sebagainya. Saat kebutuhan material dan nonmaterial telah terpenuhi maka akan dapat membantu karyawan engaged dengan perusahaan.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Handoyo dan Setiawan (2017) dan Siswono, dkk (2016) menunjukkan bahwa employee engagement berpengaruh dan signifikan terhadap kinerja karyawan.

58 F. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka pemikiran dan diagram jalur sebelumnya, maka hipotesis dua arah (two tailed) dirumuskan untuk menjadi dugaan sementara atas hasil pengujian yang belum diketahui arahanya dalam penelitian ini, yakni sebagai berikut:

1. Persamaan Struktur 1 a. Hipotesis 1

Ho1: Tidak terdapat pengaruh antara pelatihan terhadap employee engagement

Ha1: Terdapat pengaruh antara pelatihan terhadap employee engagement

b. Hipotesis 2

Ho2: Tidak terdapat pengaruh antara pengembangan karir terhadap employee engagement

Ha2: Terdapat pengaruh antara pengembangan karir terhadap employee engagement

c. Hipotesis 3

Ho3: Tidak terdapat pengaruh antara pelatihan dan pengembangan karir terhadap employee engagement secara simultan.

Ha3: Terdapat pengaruh antara pelatihan dan pengembangan karir terhadap employee engagement secara simultan.

59 2. Persamaan Struktur 2

a. Hipotesis 4

Ho4: Tidak terdapat pengaruh antara pelatihan terhadap kinerja karyawan

Ha4: Terdapat pengaruh antara pelatihan terhadap kinerja karyawan b. Hipotesis 5

Ho5: Tidak terdapat pengaruh antara pengembangan karir terhadap kinerja karyawan

Ha5: Terdapat pengaruh antara pengembangan karir terhadap kinerja karyawan

c. Hipotesis 6

Ho6: Tidak terdapat pengaruh antara employee engagement terhadap kinerja karyawan

Ha6: Terdapat pengaruh antara employee engagement terhadap kinerja karyawan

d. Hipotesis 7

Ho7: Tidak terdapat pengaruh antara pelatihan dan pengembangan karir terhadap kinerja karyawan melalui employee engagement Ha7: Terdapat pengaruh antara pelatihan dan pengembangan karir

terhadap kinerja karyawan melalui employee engagement

60 BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi adalah seluruh kumpulan elemen yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai ciri-ciri dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulan nya (Sugiyono, 2017: 80). Populasi pada penelitian ini adalah seluruh karyawan kantor pusat Lembaga XYZ yang berada di level staf dengan masa kerja karyawan minimal dua tahun sebanyak 40 orang karyawan.

Alasan penulis membatasi populasi pada level staf dengan masa kerja karyawan minimal dua tahun saja agar hasil penelitian dapat merepresentatifkan kondisi di lapangan sebab setiap level dalam lembaga memiliki frekuensi pelatihan, kesempatan melakukan pengembangan karir, dan tingkat employee engagement yang berbeda serta karyawan yang memiliki masa kerja minimal dua tahun dianggap telah mengenal lembaga dengan baik dan dapat mengidentifikasi permasalahan terkait pelatihan, pengembangan karir, dan employee engagement.

2. Sampel

Sampel merupakan bagian dari elemen-elemen populasi yang terpilih (Sanusi, 2011: 87). Bila populasi besar dan peneliti tidak

61

mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga, dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu (Sugiyono, 2017:

81).

Pada penelitian ini teknik pengambilan sampel yang peneliti gunakan yaitu Nonprobability Sampling. Menurut (Suliyanto, 2018:

225) Nonprobability Sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberikan peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk menjadi sampel. Teknik Nonprobability Samping yang dipilih yaitu sampel jenuh atau sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan sampel (Suliyanto, 2018: 227). Hal ini Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 40 orang karyawan kantor pusat Lembaga XYZ yang berada pada level staf dengan masa kerja karyawan minimal dua tahun.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada kantor pusat Lembaga XYZ di Depok, Jawa Barat. Waktu peneltian dimulai pada tanggal 02 Januari 2021 hingga tanggal 15 Agustus 2021. Namun penulis telah melakukan observasi sejak bulan September 2020.

C. Sumber Data 1. Data Primer

Data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data (Sugiyono, 2017: 137). Menurut Supomo dalam

62

(Purhantara, 2010: 79) data primer lebih akurat dan mewakili informasi yang dialami oleh responden sebab data ini disajikan secara detail atau terperinci. Pada penelitian ini data primer diperoleh dari hasil wawancara, observasi, dan kuesioner/angket.

2. Data Sekunder

Menurut (Sugiyono, 2017: 137) data sekunder adalah sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data. Sedangkan menurut Ulber Silalahi (Herviani, 2016) data sekunder berarti data yang dikumpulkan dari tangan kedua atau dari sumber-sumber lain yang telah tersedia sebelum penelitian dilakukan. Data yang diperoleh berasal dari buku-buku, jurnal-jurnal ilmiah baik nasional maupun internasional, internet, artikel, dan perangkat lainnya yang berkaitan dengan topik yang diteliti.

D. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan yang digunakan dalam penelitian ini melalui empat metode yakni observasi, wawancara, kuesinoer/angket, dan dokumentasi.

Metode-metode tersebut diaplikasikan oleh penulis sebagai berikut:

1. Observasi

Observasi adalah suatu proses dimana peneliti melakukan pengamatan dan mencatat atas informasi apa saja yang mereka saksikan selama melakukan penelitian. Penyaksian terhadap fenomena-fenomena itu dapat dengan melihat, mendengarkan dan merasakan serta dicatat seobjektif mungkin.

63

Pada penelitian ini penulis telah melakukan observasi kurang lebih selama empat bulan sejak bulan September 2020 hingga Desember 2020 melalui program pemagangan pada posisi staf divisi Research and Development (R&D) di kantor pusat Lembaga XYZ.

Dengan ini, penulis mengetahui situasi, kondisi, atau permasalahan yang terjadi secara aktual mengenai variabel yang sedang diteliti yakni pelatihan, pengembangan karir, employee engagement, dan kinerja karyawan.

2. Wawancara

Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah responden nya sedikit/kecil (Sugiyono, 2017: 137). Penelitian ini menggunakan teknik wawancara tidak terstruktur dimana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya garis besar permasalahan yang akan ditanyakan (Sugiyono, 2017: 140).

Data yang diperoleh dalam penelitian ini melakukan wawancara tidak terstruktur dengan lima orang karyawan kantor pusat Lembaga XYZ diantaranya yaitu staff Human Resources, General Manager

64

Human Capital, staff Human Capital dan dua orang karyawan kantor pusat Lembaga XYZ.

3. Angket/Kuesioner

Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang tidak memerlukan kehadiran peneliti, namun cukup diwakili oleh daftar pertanyaan yang sudah disusun secara cermat dengan jenis pertanyaan tertutup (Sanusi, 2011: 109). Menurut (Suliyanto, 2018) kuesioner dapat berupa pertanyaan/pernyataan terbuka atau tertutup, dapat diberikan kepada responden secara langsung atau dikirim melalui pos atau internet.

Pada penelitian ini menggunakan Skala Likert dimana skala ini digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomenal sosial. Dengan skala likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel yang kemudian dari indikator tersebut diturunkan lagi menjadi item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan (Sugiyono, 2017: 134). Menurut (Ghozali, 2018: 45) skala yang sering digunakan dalam penyusunan kuesioner adalah skala likert yaitu skala yang berisi lima tingkat referensi jawaban pernyataan, yaitu sebagai berikut:

Tabel 3. 1 Skala Likert

Keterangan Skor

Sangat Setuju (SS) 5

Setuju (S) 4

Netral/Ragu-Ragu (N) 3

65

Tidak Setuju (TS) 2

Sangat Tidak Setuju (STS) 1

Penulis menjabarkan item-item pernyataan berdasarkan indikator variabel pelatihan, pengembangan karir, employee engagement, dan kinerja karyawan secara sistematis dan terstruktur, kemudian didistribusikan kepada karyawan kantor pusat Lembaga XYZ yang menjadi sampel penelitian.

4. Dokumentasi

Dokumentasi adalah cara yang digunakan untuk memperoleh data dan informasi dalam bentuk fisik atau cetak seperti buku, arsip, dokumen, tulisang angka dan gambar yang diperoleh dari laporan atau keterangan yang dapat mendukung penelitian (Sugiyono, 2018: 476).

Dokumentasi digunakan untuk menguatkan data atau informasi yang diperoleh dari metode observasi atau wawancara yang akan lebih dapat dipercaya atau mempunyai kredibilitas yang tinggi. Pada penelitian ini dokumen yang digunakan adalah hasil evalusi kinerja karyawan dan laporan kepuasan pekerja.

E. Metode Analisis Data 1. Uji Kualitas Data

a. Uji Validitas

Menurut (Ghozali, 2018: 51) uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner

66

dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut.

Pengujian dilakukan dengan menggunakan Pearson Correlation yaitu dengan cara menghitung korelasi antar skor masing-masing butir pertanyaan dengan total skor (Ghozali, 2018). Menurut (Sugiyono, 2017: 125) standar dari validitas ialah sebesar 0,3.

Sehingga jika nilai koefisien korelasi lebih besar dari 0,3 maka dapat dinyatakan valid tetapi jika nilai koefisien korelasi lebih kecil dari 0,3 maka dapat dinyatakan tidak valid.

b. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas adalah alat untuk mengukur keakuratan kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk (Ghozali, 2018: 45). Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Untuk mengukur reliabilitas digunakan uji statistik Cronbach’s Alpha. Dalam penelitian ini variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai > 0.70. Sedangkan, jika sebaliknya data tersebut tidak reliabel atau handal (Ghozali, 2018:

45-46).

2. Uji Asumsi Klasik a. Uji Multikolonieritas

Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel independen. Uji

67

multikolinieritas dilihat dari nilai Tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF) (Ghozali, 2009:95). Jika nilai VIF > 10 dan tolerance

< 0,1 maka menunjukkan adanya korelasi antara variabel independen dan sebaliknya jika nilai VIF < 10 dan tolerance > 0,1 maka hal ini menunjukkan tidak adanya korelasi antara variabel (Ghozali, 2018: 107).

b. Uji Heteroskedastisitas

Uji ini bertujuan untuk mengetahui apakah dalam suatu model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lainnya. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homokedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas.

Model regresi yang baik adalah yang homokedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Deteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas dapat dengan melihat grafik scatterplot antara SRESID dan ZPRED. Jika terdapat pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk gelombang, melebar atau menyempit, maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas. Sedangkan, jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2018: 137-138).

c. Uji Normalitas

68

Uji normalitas dilakukan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Terdapat dua cara untuk mendeteksi apakah residual ber distribusi normal atau tidak, yaitu dengan analisis grafik dan analisis statistik. Pada penelitian ini uji normalitas menggunakan analisis statistik dengan metode Kolmogorov-Smirnov. Ketentuan dalam uji normalitas dengan metode Kolmogorov-Smirnov (Ghozali, 2018:

165-167), yaitu:

1) Data terdistribusi secara normal jika nilai probabilitas signifikan

> 0,05

2) Data tidak terdistribusi secara normal jika nilai probabilitas signifikan < 0,05

3. Analisis Koefisien Korelasi

Siregar (Ratna, 2016) mendefinisikan koefisien korelasi adalah ukuran yang digunakan untuk mengetahui derajat hubungan antara variabel-variabel. Menurut (Ghozali, 2018: 95), analisis korelasi bertujuan untuk mengukur kekuatan asosiasi (hubungan) linier antara dua variabel. Koefisien korelasi hanya menggambarkan keeratan hubungan antara variabel tetapi tidak menggambarkan kekuatan kausalitas atau sebab-akibat, karena korelasi hanya digunakan untuk mengukur derajat hubungan maka dalam analisis korelasi tidak terdapat istilah variabel eksogen atau endogen (Pardede & Manurung, 2014: 29-31).

69

Terdapat dua teknik korelasi yang sangat familiar yaitu Korelasi Pearson Product Moment bagi data yang menggunakan skala interval atau rasio dan Korelasi Rank Spearman bagi data yang menggunakan skala ordinal (Sarwono, 2012: 56). Pada penelitian ini, penulis menggunakan teknik Korelasi Pearson Product Moment sebab telah banyak digunakan oleh berbagai peneliti atau mahasiswa. Korelasi Pearson Product Moment merupakan korelasi yang hanya menggunakan atau melibatkan dua variabel saja dalam pengujian yaitu satu variabel independen dan satu variabel dependen. Nilai korelasi berada di antara -1<0<1 yaitu apabila nilai koefisien korelasi memiliki nilai tidak sama nol (0), maka terdapat korelasi antara dua variabel tersebut. Jika nilai koefisien korelasi memiliki nilai +1 dan nilai signifikan < 0,05 maka terdapat korelasi positif sempurna yang artinya taraf signifikansi dari pengaruh variabel indepen terhadap variabel sangat kuat. Sebaliknya, jika nilai koefisien korelasi memiliki nilai -1 dan nilai signifikan <0,05 maka terdapat korelasi negatif sempurna yang artinya taraf signifikansi dari pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen sangat lemah (Ratna, 2016; Sarwono, 2012: 57).

Analisis ini dapat di lihat pada kolom Correlation dengan kriteria atau pengkategorian sebagai berikut.

Tabel 3. 2 Kriteria Korelasi

Nilai r Kriteria

0,00 s.d 0,29 Korelasi sangat lemah

70

0,30 s.d 0,49 Korelasi lemah

0,50 s.d 0,69 Korelasi cukup kuat

0,70 s.d 0,79 Korelasi kuat

0,80 s.d 1.00 Korelasi sangat kuat Sumber: Pardede dan Manurung (2014)

4. Analisis Jalur (Path Analysis)

Ghozali (2018: 245) menjelaskan bahwa untuk menguji pengaruh variabel intervening menggunakan metode analisis jalur (path analysis).

Analisis jalur merupakan perluasan dari analisis regresi linier berganda atau analisis jalur merupakan penggunaan analisis regresi untuk menaksir hubungan kausalitas antar variabel (model causal) yang telah ditetapkan sebelumnya berdasarkan teori. Menurut Robert D.

Retherford (J. Sarwono, 2011), “analisis jalur ialah suatu teknik untuk menganalisis hubungan sebab akibat yang terjadi pada regresi berganda jika variabel bebasnya mempengaruhi variabel tergantung tidak hanya secara langsung tetapi juga secara tidak langsung.”

Istilah-istilah yang biasa digunakan dalam analisis jalur menurut Sarwono (J. Sarwono, 2011) adalah sebagai berikut:

a. Diagram jalur merupakan suatu diagram yang menghubungkan antara variabel independen, perantara/intervening, dan dependen yang ditunjukkan menggunakan anak panah.

b. Variabel eksogen merupakan variabel yang tidak ada anak panah yang menuju kearahnya.

71

c. Variabel endogen merupakan variabel yang mempunyai anak panah menuju kearahnya.

d. Koefisien jalur (ρ) merupakan koefisien regresi standar yang menunjukkan pengaruh langsung antara variabel independen terhadap variabel dependen dalam suatu model jalur tertentu.

e. Direct effect (DE) merupakan pengaruh langsung yang dapat di lihat dari koefisien jalur dari variabel eksogen ke variabel endogen.

f. Inderect effect (IE) merupakan urutan jalur melalui satu atau lebih variabel perantara dengan cara menambah nilai koefisien jalur variabel independen ke variabel perantara dengan nilai koefisien jalur variabel perantara ke variabel dependen.

g. Gangguan atau residu (e) menjelaskan adanya varian atau faktor yang tidak dapat diterangi dari selain dari variabel yang digunakan.

Menurut (Pardede & Manurung, 2014: 58-80), terdapat beberapa langkah secara berurutan yang harus di jalankan dalam menggunakan analisis jalur untuk memenuhi penelitian yang benar, yaitu:

a. Menentukan diagram jalurnya berdasarkan paradigma hubungan variabel

b. Menentukan persamaan struktural

c. Menganalisis dengan menggunakan SPSS, analisis terdiri dari dua langkah yaitu analisis substruktur 1 dan analisis substruktur 2.

d. Interpretasi hasil perhitungan SPSS berdasarkan diagram jalur yang ditentukan

72

e. Melalukan analisis jalur model trimming jika ada variabel eksogen yang koefisien jalurnya tidak signifikan.

f. Melakukan Uji Sobel untuk menghitung pengaruh tidak langsung.

Untuk langkah selanjutnya peneliti merumuskan persamaan struktural dan diagram jalur. Dimana diagram jalur ini menjelaskan tentang hubungan antara variabel eksogen atau independen (Pelatihan dan Pengembangan Karir) dengan variabel endogen atau dependen (Kinerja Karyawan) di mediasi oleh variabel intervening (Employee Engagement). Rumus model persamaan struktur 1 dan struktur 2 sebagai berikut:

a. Persamaan struktural I: Y = ρYX1 + ρYX2 + ϵ1

Dari gambar di atas diketahui bahwa variabel endogen (Y) dan variabel eksogen (X1 dan X2).

b. Persamaan struktur II: Z = ρZX1 + ρZX2 + ρZY + ϵ2 Employee Engagement (Y) Pengembangan

Karir (X2) Pelatihan (X1)

Gambar 3. 1 Diagram Jalur Sub Struktur 1

73

Dari gambar di atas diketahui bahwa variabel endogen (Z) dan variabel eksogen (X1, X2, dan Y).

5. Uji Hipotesis

a. Koefisien Determinasi (Goodness of Fit)

Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan dalam menerangkan variasi variabel dependen.

Pada output SPSS yang menunjukkan nilai koefisien determinasi adalah besaran nilai Adjusted R2. Nilai koefisien determinasi berada antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil menunjukkan bahwa kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Namun saat nilai mendekati satu berarti variabel-variabel independen dapat memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen. Sehingga dapat disimpulkan saat nilai Adjusted R2 semakin mendekati nilai satu maka semakin baik (Ghozali, 2018:

97).

Kinerja Karyawan (Z) Pelatihan (X1)

Pengembangan Karir (X2)

Employee Engagement (Y)

Gambar 3. 2 Diagram Jalur Sub Struktur 2

74

Pengaplikasian koefisien determinasi dalam penelitian ini untuk mengetahui seberapa jauh variabel dependen (Employee Engagement) dapat dijelaskan oleh variabel independen (Pelatihan dan Pengembangan Karir) dalam persamaan substruktur 1 serta variabel dependen (Kinerja Karyawan) dapat dijelaskan oleh variabel independen (Pelatihan, Pengembangan Karir, dan Employee Engagement) dalam persamaan substruktur 2.

b. Uji Signifikan Simultan (Uji F)

Uji statistik F digunakan untuk mengetahui pengaruh semua variabel independen yang dimasukkan dalam model regresi secara bersama-sama terhadap variabel dependen yang diuji pada tingkat signifikan 0.05 (Ghozali, 2018: 98). Pengujian uji F dapat dilihat pada output ANOVA dengan kriteria penilaian sebagai berikut:

1) Apabila besarnya nilai probabilitas signifikansi < 0,05 maka Ha diterima dan Ho ditolak

2) Apabila besarnya nilai probabilitas signfikansi > 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak

c. Uji Signifikan Parsial (Uji t)

Uji statistik t digunakan untuk menguji antar variabel-variabel secara parsial. Uji statistik t menunjukkan seberapa jauh pengaruh variabel penjelas atau independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen dan digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh masing-masing variabel

75

independen secara individual terhadap variabel dependen yang diuji pada tingkat signifikansi 0.05 (Ghozali, 2018: 98). Pada penelitian ini pengaplikasian uji t digunakan untuk mengetahui pengaruh signifikansi pada variabel Pelatihan, Pengembangan Karir, Employee Engagement, dan Kinerja Karyawan berdasarkan persamaan substruktur.

Dasar pengambilan keputusan untuk uji t (parsial) berdasarkan nilai t hitung dan t tabel.

1) Jika t hitung > t tabel, maka variabel independen (X) berpengaruh terhadap variabel dependen (Y).

2) Jika t hitung < t tabel, maka variabel independen (X) tidak berpengaruh terhadap variabel dependen (Y).

Kemudian berdasarkan nilai signifikansi hasil output SPSS adalah:

1) Jika nilai Sig. < 0,05 maka variabel independen (X) berpengaruh signifikansi terhadap variabel dependen (Y)

2) Jika nilai Sig. > 0,05 maka variabel independen (X) tidak berpengaruh signifikansi terhadap variabel dependen (Y) 6. Uji Sobel

Ghozali (2018: 244-245) menjelaskan bahwa pengujian hipotesis mediasi atau intervening dapat dilakukan dengan prosedur yang dikembangkan oleh Sobel yang dikenal dengan istilah Uji Sobel (Sobel Test). Uji Sobel digunakan dengan menguji kekuatan pengaruh tidak langsung variabel independen (X) terhadap variabel kinerja dependen

76

(Z) melalui variabel intervening (Y). Pengaruh tidak langsung ini dihitung dengan cara mengalikan jalur X  Y (a) dengan jalur Y  Z (b) atau ab. Jadi koefisien ab = (c-c’), dimana c adalah pengaruh X terhadap Z tanpa mengontrol Y, sedangkan c’ adalah koefisien pengaruh X terhadap Z setelah mengontrol Y. Standard error koefisien a dan b ditulis dengan sa dan sb dan besarnya standard error pengaruh tidak langsung (indirect effect) adalah sab yang dihitung dengan rumus di bawah ini:

Sab = √(b²sa²+a²sb²+sa²sb²) Keterangan:

Sab: besarnya standar error pengaruh tidak langsung

a : Jalur variabel independen (X) dengan variabel intervening (Z) b : Jalur variabel intervening (Z) dengan variabel dependen (Y) sa : Standar error koefisien a

sb : Standar error koefisien b

Untuk menguji pengaruh tidak langsung, maka perlu menghitung nilai t dari koefisien ab dengan rumus sebagai berikut:

t = ab/sab

Nilai t hitung ini dibandingkan dengan nilai t tabel, jika nilai t hitung >

nilai t tabel maka dapat disimpulkan terjadi pengaruh mediasi.

F. Operasional Variabel Penelitian

Sugiyono (2013: 38) menjelaskan bawah variabel penelitian adalah suatu

Sugiyono (2013: 38) menjelaskan bawah variabel penelitian adalah suatu

Dalam dokumen Oleh: Bella Septiyana NIM: (Halaman 72-0)