STRUKTUR DASAR KLAUSA BAHASA DAWAN
4.4 Ketransitifan Verba Bahasa Dawan
Ketransitifan verba ditentukan oleh jumlah argumen yang ditetapkan. Van Valin dan La Polla (1997:148) menyatakan bahwa jumlah argumen yang ditetapkan oleh sebuah verba tidak bisa hanya ditelusuri dari valensi sintaksisnya, tetapi harus dilihat pula dari sisi semantik. Misalnya, verba “makan” tampak memiliki variasi ketransitifan, yaitu verba ini bisa menetapkan satu argumen dalam hal ini intransitif dan dapat menetapkan dua argumen, yaitu transitif.
20) a. Saya makan b. Saya makan nasi
Berdasarkan kenyataan ini maka Van Valin & La Polla (1997:150) menyatakan bahwa transitivitas tidak bisa dicirikan melalui jumlah argumen sintaksis yang ditetapkan oleh sebuah verba (valensi sintaksis), tetapi harus
didefinisikan berdasarkan jumlah peran makro (macroroles) yang ditetapkan oleh sebuah verba. Oleh karena itu, dalam penjelasannya tentang valensi dalam teori TPA dibedakan antara S-transitivity untuk jumlah argumen sintaksis dan M-transitivity untuk jumlah peran makro.
Jumlah peran makro dari sebuah verba ini memiliki keterkaitan erat dengan struktur logis verba tersebut, yakni sistem dekompossi leksikal verba. Jika sebuah verba memiliki dua argumen atau lebih dalam struktur logisnya, maka ia akan menetapkan dua peran makro. Sebaliknya, jika hanya satu argumen maka ia menetapkan satu peran makro. Peran makro yang dimaksud adalah ACTOR dan UNDERGOER, di mana salah satu dari keduanya bisa berfungsi sebagai satu-satunya argumen pada verba intransitif.
Representasi leksikal dalam TPA didasarkan pada dekomposisi leksikal yang didasarkan pada klasifikasi verba, yakni seperti dalam tabel berikut.
Tabel 4.2
Dekomposisi Leksikal Berdasarkan Kelas Verba
Kelas Verba Struktur logis
STATE predicate´ (x) atau (x, y)
ACTIVITY do´ (x, [predicate´ (x) atau(x, y)]) ACHIEVEMENT INGR predicate´ (x) or (x, y), atau
INGR do´ (x, [predicate´ (x) or (x, y)]) ACCOMPLISHMENT BECOME predicate´ (x) or (x, y), atau
BECOME do´ (x, [predicate´ (x) or (x, y)]) ACTIVE ACCOMPLISHMENT do´ (x, [predicate1 ´ (x, (y))]) &
BECOME predicate2 ´ (z, x) or (y) CAUSATIVE CAUSE , where , are LSs of any type
Dilihat dari sifat verba yang menetapkan satu peran makro, maka jika verba tersebut memiliki satu predikat activity dalam struktur logisnya maka peran makronya adalah actor dan jika sebaliknya, maka peran makronya adalah undergoer. Dixon dan Aikhenvald (2000:12), mngatakan bahwa beberapa verba merupakan verba intransitif murni yang hanya bisa berada pada klausa intransitif dengan S sebagai argumen inti, misalnya arrive dan chat dalam bahasa Inggris. Demikian juga beberapa verba merupakan verba intransitif murni yang menetapkan dua argumen dalam klausa transitif dengan A dan O sebagai argumen inti, misalnya recognize dan like.
4.4.1 Verba Transitif dengan Dua Argumen
Verba transitif dengan dua argumen dapat dicermati pada klausa berikut. 21) Au Ɂ-seu noah (DL)
1T 1T-petik kelapa “Saya memetik kelapa”
Klausa di atas merupakan klausa transitif, yaitu dapat dicermati dari struktur logis verba seu “petik”, yaitu SL: seu’ (au, noah). Dengan demikian, verba seu ini menetapkan dua argumen (X,Y).
Selain ketransitifan verba seperti dikemukakan di atas, peranan proses fonologis ikut menentukan makna ketransitifan verba BD, yaitu apakah verba tersebut intransitif atau transitif, seperti contoh berikut.
22) a. Au Ɂ-mouf (DL)
1T 1T-jatuh “Saya jatuh” b. Au u-mofu
1T 1T-jatuh
c. Au u-mouf bol 1T 1T-jatuh bola
“Saya menjatuhkan bola”
Data (22a) di atas berpredikat verba intransitif mouf “jatuh” yang menetapkan satu-satunya argumen, yaitu au “saya” dengan predikat verba intransitif mouf “jatuh”. Pemarkah Ɂ- mouf mengacu pada argumen S yaitu au “saya”. Pada (22b), verba mouf bermetatesis menjadi mofu dan mendapat pemarkah proklitik -u. Perubahan ini juga mengubah nilai ketransitifannya verba, yaitu menjadi verba transitif sekaligus peran dan fungsi argumen au dari pasien menjadi pelaku dan S menjadi A.
Perubahan proklitik Ɂ- menjadi u- untuk memenuhi kaidah fonologis yaitu dapat menjadi suku kata tersendiri. Perubahan ini juga terjadi karena ada konstituen lain setelah predikat seperti ditunjukkan pada (22c). Pelesapan argumen objek seperti pada (22b) dimungkinkan dalam BD apabila objek tersebut tidak penting atau sudah diketahui sebelumnya. Verba mouf tidak mengalami perubahan karena dipengaruhi oleh bunyi awal dari argumen bol “bola”, yaitu /b/. Berdasarkan kenyataan pada pada data (22c), yaitu ketiadaan pemarkah morfologis pada proses pengtransitifan verba mouf, maka pemulis menyimpulkan bahwa proses pentransitifan verba BD dapat dilakukan melalui proses penciptaan argumen, baik subjek maupun objek. Contoh lain dari proses ini sebagai berikut.
23) a. Umeke na n-maet (DI)
Ular itu 3T-mati “Ular itu mati”
b. Umeke na na’-mate ‘nafo na Ular 3T-mati tikus itu “Ular membunuh tikus itu”
c. Ho mu’-maet umeke na 2T 2T-mati ular itu
“Engkau membunuh ular itu”
Proses pentransitifan melalui proses penciptaan objek dapat dicermati pada data (b), sedangkan penciptaan subjek ditunjukkan pada data (c). Pemarkah –na dan mu- pada predikat mengacu pada subjek klausa. Proses seperti ini tidak hanya terjadi pada jenis verba statif, tetapi juga pada verba aksi.
4.4.2 Verba Transitif dengan Tiga Argumen
Data penelitian yang terkumpul menunjukkan bahwa hanya ada tiga verba BD yang murni berargumen tiga, yakni fe “beri”, ton “tunjukkan”, dan tao ‘taruh’. Perlu diketahui pula bahwa verba fe bersinonim dengan verba nona’ dan tao bersinonim dengan bela’/ plakab, okal. Verba berargumen tiga murni ini juga ditemukan dalam banyak bahasa seperti give (bahasa Inggris), beri (bahasa Indonesia), dan behhang (bahasa Bali). Cermati ketiga verba BD berargumen tiga seperti data berikut.
24) a. Bapa n-fe-n oli kokis (DI) Ayah 3T-beri-3T adik kue
“Ayah memberikan adik kue”
b. Au u-ton-an fafi le au Ɂ-bu’i-en (DL) 1T 1T-lihat-3T babi FOK 1T 1T-kebiri-PERF
“Saya memperlihatkan babi yang saya sudah kebiri kepadanya” c. Mama n-tao mnaht-enu es at mei tunan (DL)
Ibu 3T-taruh makanan-J PREP LOK meja atas “Ibu menaruh/meletakkan makanan di atas meja”
Verba nfen, utonan, dan ntao dikatakan murni berargumen tiga karena dapat diamati dari argumen yang terdapat pada struktur logis verba-verba tersebut. Verba nfe ‘3T-beri’ menetapkan tiga argumen yakni pemberi – penerima –
pemberian, verba utonan ‘1T-tunjukkan’ menetapkan argumen penunjuk – yang menyaksikan – (benda) yang ditunjukkan, dan verba ntao ‘3T-taruh’ menetapkan argumen (orang) yang menaruh – (benda) yang ditaruh – tempat (di mana benda tersebut diletakan).
Berdasarkan kenyataan pada contoh yang dikemukakan maka dapat dicermati bahwa proses perubahan valensi hanya dilakukan dengan penambahan atau pengurangan argumen. Verba nfaes “cuci” dan naes “perah” pada klausa ekatransitif yang dikemukakan di atas dapat diubah menjadi klausa berargumen tiga (dwitransitif) seperti berikut.
25) a. Ena n-faes kau au sobalu (DL) Ibu 3T-cuci 1T 1T.POSS baju
“Ibu mencucikan saya baju saya”
b. In n-aes kai susu (DL) 3T 3T-peras 2Ji susu
“Dia memeraskan kami susu”
Demikian pula, verba nsos dan nanoina pada klausa berargumen tiga yang dikemukakan di atas dapat diubah menjadi klausa berargumen dua seperti berikut.
26) a. Ama n-sos uki (DI)
Ayah 3J-beli pisang “Mereka membeli pisang”
b. In na-noina uab labit (DI) 3T 3T-belajar bahasa asing
“Dia belajar bahasa asing”
Verba nsos, dan nanoina pada contoh klausa di atas seperti umumnya verba lain selalu memiliki persesuaian dengan SUBJ yang diindikasikan dengan kehadiran klitik pada tiap-tiap verbanya. Keberadaan –an pada verba seperti dalam verba n-sos-an bukanlah afiks yang bermakna mofrologis, melainkan murni
sintaksis yang mengindikasikan pronomina ketiga. Jadi, verba nsosan dapat diinterpretasi sebagai sebuah klausa utuh yang dapat diterjemakhan dengan “3 Pro membelikan sesuatu untuk 3 Pro”. Apabila klitik -n dihilangkan menjadi nsos, maka terjemahannya menjadi “3Pro beli (sesuatu)”.