• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRUKTUR DASAR KLAUSA BAHASA DAWAN

4.5 Pemarkahan Verba Bahasa Dawan

4.5.2 Konstruksi Aplikatif

Konstruksi aplikatif dalam bahasa itu mempunyai dua fitur penting, yaitu (a) peran tematis yang baru dimasukkan ke struktur argumen dan (b) verba mengalami modifikasi morfologis, yaitu sufiksasi dengan morfem aplikatif (Artawa, 2004:66). Istilah aplikatif sering digunakan untuk merujuk ke proses derivasional yang meliputi penaikan valensi. Konstruksi aplikatif yang dikenal secara umum menurut Artawa (2004:69) adalah benefaktif, lokatif, instrumental, dan resipien.

4.5.2.1 Benefaktif

Konstruksi benefaktif BD hanya dilakukan dengan cara menambahkan peran tematis baru pada struktur inti. Cermati data (45) berikut.

45) a. Bapa n-eik kokis (DI) Ayah 3T-bawa kue

“Ayah membawa kue” b. Bapa n-eik kau kokis

Ayah 3T-bawa 1T kue

“Ayah membawakan saya kue” c. Bapa n-eki-n kokis

Ayah 3T-bawa-3T kue “Ayah membawakan dia kue”

Verba n-eik “3T-bawa” pada data di atas merupakan verba transitif yang menetapkan dua argumen seperti dalam data (a). Proses pengaplikatifan BD ditunjukkan oleh data (b dan c), yakni dengan menciptakan peran tematis baru, yaitu kau “saya” dan –n “dia”.

Pemarkah –n pada verba berfungsi sebagai pemarkah pronomina ketiga. Fungsinya sama dengan kau “saya”, kai “kami”, kit “kita”, ko “engkau” , ki “kalian”, dan sin “mereka”. Bedanya adalah pemarkah objek 3T melekat pada verba seperti sufiks, sedangkan yang lain tidak. Untuk lebih jelas, cermati pada klausa di bawah ini:

46) a. Ho m-tui sulat (DI)

2T 2T-tulis surat “Engkau menulis surat” b. Ho m-tui kau sulat

2T 2T-tulis 1T surat

“Engkau menuliskan saya surat” c. Ho m-tui kai sulat

2T 2T-tulis 1J.e surat

“Engkau menuliskan kami surat” d. Ho m-tui-n/na sulat

2T 2T-tulis-3T surat

e. Au Ɂ-tui ko sulat 1T 1T-tulis 2T surat

“Saya menuliskan engkau surat” f. In ntui kit sulat

3T 3T-tulis 1J.i surat “Dia menuliskan kita surat”

Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa sufiks –n/na merupakan klitik yang mengacu pada pronomina ketiga. Keberadaan klitik ini hanya berlaku untuk 3Pro untuk mengakomodasi pronomina bukan persona (inanimate). Apabila menambah argumen benefaktif bukan (pro)nomina ketiga, maka sufiks pronomina itu harus dihilangkan.

4.5.2.2 Lokatif

Penambahan argumen seperti yang sudah dijelaskan hanya berlaku untuk konstruksi benefaktif, sedangkan yang lain, seperti lokatif, instrumental, resipien, dan source berbeda. Cermati data berikut.

47) a. Bapa n-toko n-bi Ɂtoko (DL) Ayah 3T-duduk 3T-PREP kursi

“Ayah duduk di kursi”

b. Ho m-tup am-bi au hala 2T 2T-tidur 2T-PREP 1T tempat tidur “Engkau tidur di tempat tidur saya”

Kedua data di atas menunjukkan bahwa lokatif Ɂtoko “kursi” dan au hala “tempat tidur saya” berstatus noninti (perifer). Tidak ada pemarkah morfologis yang memungkinkan untuk mempromosikan kedua lokatif ini menjadi inti. Hasil analisis terhadap data dalam penelitian ini menunjukkan bahwa konstruksi lokatif dapat dipromosikan ke inti melalui dua cara, yaitu melalui pengedepanan argumen

lokatif dan proses serialisasi verba. Cara pertama seperti terlihat pada data (48) berikut.

48) Au hala ho es am-tup am-bi-ne (DL) 1T tempat tidur 2T FOK 2T-tidur 2T-PREP-3T

“Tempat tidur saya yang engkau tiduri”

Pada konstruksi di atas terlihat bahwa lokatif au hala “tempat tidur saya” ditempatkan mendahului agen ho “engkau”. Sementara preposisi m-bi “2T di” mendapat tambahan pemarkah klitik –ne yang mengacu pada argumen lokatif au hala. Promosi argumen lokatif ke inti melalui pengedepanan seperti yang diperlihatkan dapat dikatakan kurang produktif. Dikatakan demikian karena konstruksi klausa seperti ini tidak pernah ditemukan selama proses pengambilan data melalui metode simak ataupun dari literatur-literatur berbahasa Dawan. Hal ini penting untuk ditelusuri secara lebih mendetail dalam penelitian berikutnya terutama untuk mengetahui apakah semua konstruksi klausa dapat dilakukan dengan hal seperti itu.

Strategi untuk mempromosikan argumen lokatif ke inti yang ditemukan lebih produktif dibandingkan dengan sebelumnya adalah melalui konstruksi verba serial yang dibahas pada bab berikut. Alasan utama adanya serialisasi verba ini adalah ketiadaan afiks yang bermakna aplikatif untuk memodifikasi konstruksi lokatif.

4.4.2.3 Instrumental

Konstruksi instrumental BD dapat dicermati dalam contoh (49) berikut. 49) Kulu n-bios kau n-eik ue (DL)

Guru 3T-pukul 1T 3T-pakai rotan “Guru memukul saya dengan rotan”

Data (49) di atas memiliki tiga argumen, yaitu kulu’ “guru”, kau “saya”, dan ue “rotan”. Argumen ue “rotan” adalah instrumen yang dipakai oleh kulu untuk melakukan tindakan bios “pukul”. Dalam BD, -eik bukan merupakan preposisi, melainkan sebuah verba yang bermakna “menggunakan/memakai”.

Dalam contoh konstruksi instrumental seperti data (49) di atas, argumen kau “saya” dapat dilesapkan, tetapi tidak memengaruhi makna keseluruhan dari klausa tersebut. Umumnya pelesapan ini disebabkan oleh objek yang dibicarakan sudah diketahui atau sudah dinyatakan sebelumnya, misalnya dalam data (50) berikut yang merupakan bagian ayat Alkitab dari Injil Matius 13:15. Instrumen pada konstruksi ini adalah mata “mata mereka”.

50) henati' kais sin n-it n-eki sin mata-n Matius 13:15 supaya jangan 3J 3J-lihat 3T-pakai 3J mata-POSS

“…supaya jangan mereka melihat dengan matanya…”

Konstruksi instrumental BD berbentuk serialisasi seperti contoh data (49—50) yang dikemukakan merupakan konstruksi verba serial. Verba -eik “pakai” yang menempati posisi V2 bukan merupakan preposisi seperti yang dikemukakan oleh Mekarini (2000:66) yang mengklaim adanya promosi instrumen dari noninti ke inti dengan syarat mendemosi objek dari struktur inti ke noninti. Jika demikian, maka isntrumen menjadi objek dari klausa, misalnya dalam data (50), instrumen mata “mata” berganti fungsi, yaitu objek.

4.5.2.4 Resipien

Sama seperti konstruksi-konstruksi aplikatif lain yang sudah dijelaskan, BD tidak memiliki pemarkah morfologis dalam konstruksi resipien. Cermati contoh (51) berikut.

51) a. Tata n-fe kokis neu oli (DL) Kakak 3T-beri kue PREP adik

“Kakak memberikan kue kepada adik” b. Tata n-fe-n oli kokis

Kakak 3T-beri-3T adik kue “Kakak memberikan adik kue”

Argumen resipien oli “adik” pada data (a) berada di luar struktur inti (perifer) yang ditandai dengan adanya preposisi neu “kepada”. Argumen resipien ini dapat dipromosikan ke struktur inti seperti terlihat pada data (b). Perubahan yang terjadi, yaitu verba n-fe menjadi n-fe-n. Pemarkah n- di awal verba merupakan proklitik yang mengacu pada argumen tata “kakak’ sedangkan –n pada akhir merupakan enklitik yang mengacu pada argumen resipien pronomina 3T, yaitu oli “adik”. Enklitik ini akan hilang apabila argumen resipien bukan 3T, misalnya dalam contoh data berikut.

52) a. Atoni na n-fe in an feto neo kau (DL) Orang itu 3T-beri 3T anak gadis PREP 1T

“Orang itu memberikan anaknya kepada saya” b. Atoni na n-fe kau in an feto

Orang itu 3T-beri 1T 3T anak gadis

“Orang itu memberikan saya anak gadisnya”

Pada konstruksi (52) di atas ini sama dengan contoh (51) sebelumnya dengan mengganti argumen resipien adalah pronomina 3T menjadi 1T yaitu kau “saya” seperti terlihat pada (52a) untuk memperlihatkan bahwa tidak ada pemarkah aplikatif pada konstruksi resipien BD. Pada (52b), verba n-fe “beri” tidak dimarkahi seperti yang terjadi pada (49b) ketika mempromosikan argumen resipien kau “saya” ke inti. Dengan demikian, jelas bahwa BD tidak memiliki pemarkah aplikatif pada konstruksi resipien.

BAB V