• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRUKTUR DASAR KLAUSA BAHASA DAWAN

4.5 Pemarkahan Verba Bahasa Dawan

4.5.1 Konstruksi Kausatif

Struktur kausatif adalah struktur yang memperlihatkan relasi makna sebab (-akibat), yang melibatkan aksi penyebab (dengan argumen penyebabnya

(

causer

)) dan efek (kejadian/keadaan) yang melibatkan argumen yang mengalami perubahan karena aksi tadi. Salah satu proses pengkausatifan yang umum adalah dengan menggunakan konstruksi kalimat kompleks, yaitu satu klausa yang menyatakan sebab dan klausa yang lain menyatakan akibat (Artawa, 2004:48).

Dalam konstruksi kalimat kompleks, dua buah klausa pembentuk kalimat kompleks dihubungkan oleh konjungsi yang bermakna kausatif. Dalam BD, kedua klausa tersebut dihubungkan oleh konjungsi fun dan natuin “sebab / karena”. Penggunaan kedua konjungsi fun dan natuin ini tidak menunjukan perbedaan secara signifikan karena keduanya dapat dipakai dalam konstruksi yang sama. Pemakaiannya dapat dicermati dalam data berikut ini.

27) In n-tup na-tuin in n-sesaɁ (DI) 3T 3T-tidur sebab 3T 3T-kantuk

“Ia tidur sebab ia mengantuk”

Klausa yang menyatakan sebab pada data di atas adalah in sesaɁ “dia mengantuk” dan klausa yang menyatakan akibat adalah in tup “dia tidur”. Kedua klausa di atas dihubungkan oleh konjungsi yang menyatakan sebab, yaitu natuin “sebab/karena”. Kedua klausa yang membentuk kalimat kompleks yang menyatakan penyebab in sesa “dia mengantuk” ini dapat dipindahkan posisinya dengan klausa sebabnya mendahului klausa akibat in ntup “dia tidur”. Konstruksi klausa seperti ini menunjukkan konstruksi kalimat yang meyatakan akibat yang dapat dicermati pada konstruksi (28) berikut.

28) In n-sesaɁ talantia in n-tup (DI) 3T 3T-kantuk sehingga 3T 3T-tidur

Konstruksi kalimat kompleks di atas menunjukan bahwa kedua klausa pembentuk konstruksi tersebut, yaitu in n-sesaɁ “dia mengantuk” dan in n-tup “dia tidur” dihubungkan oleh konjungsi talantia “sehingga”.

Selain proses pengkausatifan melalui konstruksi kalimat kompleks, Comrie (1989:167) mengemukakan tiga buah proses pengkausatifan, yaitu kausatif leksikal, kausatif analitik, dan kausatif morfologis. Kausatif leksikal adalah kausatif yang dinyatakan oleh sebuah leksikon tanpa melalui proses produksi apa pun. Leksikon tersebut secara mandiri dapat mengekspresikan hubungan sebab akibat sekaligus. Kausatif analitik adalah kausatif yang dibentuk dengan verba kausatif seperti cause dan make dalam bahasa Inggris. Sebaliknya, kausatif morfologis adalah proses pengkausatifan yang dibentuk melalui proses afiksasi.

Ketiga tipe kausatif ini dapat dicermati dalam ketiga konstruksi bahasa Indonesia di bawah ini.

29) a. Kamu membuat adikmu menangis (analitis)

b.

Kamu matikan mesinnya dulu!

(morfologis)

c.

Kamu jangan bunuh ayam itu!

(leksikal)

Kausatif analitis dinyatakan dengan kata buat (contoh X(Xa), kausatif morfologi dengan sufiks –kan (contoh X(b), dan kausatif leksikal, misalnya dalam kata bunuh (contoh X(c).. Pada kausatif analitis dan morfologis PRED2 (menangis) dan PRED1 (buat, -kan) adalah morfem yang berbeda, tetapi pada kausatif leksikal hanya ada satu verba yang secara semantis mengandung makna kausatif.

Pada konstruksi kausatif, OBJ biasanya secara semantis adalah pasien. Apabila pasien dipromosikan ke subjek kalimat, maka subjek konstruksi dasar,

yang secara semantis adalah agen, didemosi keluar dari struktur. Palmer (1994:218) mengatakan bahwa konstruksi kausatif terbentuk dari (1) pemarkahan pada verba (baik secara morfologis maupun perifrastik), (2) penambahan causer pada posisi subjek, (3) demosi terhadap argumen lain, dan (4) makna penyebaban.

Konsep lain dikemukakan oleh Haspelmath (2002) yang memandang kausatif sebagai konstruksi penambahan agen. Dalam hal ini, kausatif dipandang sebagai suatu proses perubahan valensi. Perubahan valensi pada konstruksi kausatif ini tidak terbatas pada penambahan jumlah argumen agen saja, tetapi juga mengakibatkan perubahan relasi-relasi gramatikal dari argumen-argumen yang telah ada sebelumnya (pada konstruksi nonkausatif). Perubahan argumen agen ini misalnya pada konstruksi nonkausatif dengan verba intransitif sebagai dasarnya, mengakibatkan turunnya hierarki relasional argumen yang sebelumnya menempati posisi SUBJ menjadi argumen dengan posisi OBJ pada konstruksi kausatif.

Konsep kausatif yang dikemukakan Haspelmath (2002) ini sejalan dengan Dixon (2000) yang memandang kausatif sebagai proses pentransitifan. Pandangan ini cukup beralasan karena pemarkah kausatif dapat mengubah verba intransitf menjadi transitif. Selanjutnya, pentransitifan ini berdampak pada perubahan jumlah dan fungsi sintaksis argumen-argumen suatu kalimat.

Pengkausatifan BD tidak hanya berasal dari kategori verba, tetapi juga dapat diderivasi dari kategori lain, yaitu adjektiva seperti ‘naek “besar” dan me’ “merah”, di samping nomina, seperti hau tuka “pentungan” dan masi “garam”. Berikut ini adalah contoh dan penjelasan tentang proses pengkausatifan dalam BD.

30) Verba (DI) a. Au Ɂ-mouf b. Ho mu-mouf kau

1T 1T-jatuh 2T 2T-jatuh 1T

“Saya jatuh” “Engkau menjatuhkan saya” 31) Adjektifa

a. In lulu-n me b. In na-me lulu-n

3T bibir-3T-POSS merah 3T 3T-merah bibir-3T-POSS “Bibirnya merah” “Dia memerahkan bibirnya” 32) Nomina

a. Suni na hau-n

Parang itu kayu-3T-POSS “Gagang dari parang itu” b. Bapa na-hau suni na Ayah 3T-kayu parang itu

“Ayah membuatkan gagang untuk parang itu”

Proses pengkausatifan pada ketiga data di atas ditunjukkan pada data (b) yaitu mumouf “engkau menjatuhkan”, name “dia memerahkan”, dan nahau “dia membuatkan gagang” yang dibentuk dari bentuk dasar mouf “jatuh”, me “merah”, dan haun “gagang”. Pada proses pengkausatifan terlihat bahwa tidak terdapat pemarkah morfologis yang bermakna kausatif. Pemarkah mu- pada mu-mouf, na- pada na-me, dan na- pada na-hau bukan afiks pemarkah kausatif dalam BD, tetapi klitik yang mengacu pada argumen ho, in dan bapa sebagai causer. Demikian juga pada nomina hau “gagang” pada data (30b), tidak ada pemarkah morfologis derivatif, tetapi hanya dimarkahi oleh na- yang mengacu pada argumen penyebab, yaitu bapa “ayah”.

Ketiga data di atas menunjukkan bahwa proses pengkausatifan dalam BD dilakukan melalui penciptaan argumen causer apabila klausa dasarnya adalah klausa inransitif sehingga penciptaan argumen causer ini sekaligus meningkatkan

valensi menjadi transitif. Selain penciptaan argumen, proses lain adalah melalui konstruksi verba serial yang dijelaskan pada bab berikut untuk tidak terjadi pengulangan.

Proses pengkausatifan BD dengan penciptaan argumen ini berbeda dengan penelitian-penelitian terdahulu, antara lain Tarno dkk, (1992), Mekarini (2000), dan Reteg (2002) menyebutkan keproduktifan afiks pembentuk predikat kausatif dalam BD. Pemarkah morfologis yang bermakna kausatif seperti yang dikemukakan oleh ketiga peneliti di atas di antaranya –o, -b, -pa-, -ha, dan -haka. Akan tetapi, hasil penelitian menunjukan ketidakjelasan penggunaan afiks pemarkah kausatif dalam BD yang disebabkan oleh tidak semua verba dapat dilekati dengan pemarkah kausatif seperti yang dimaksudkan.

Mekarini (2000) mengatakan bahwa perbedaan-perbedaan ini disebabkaan oleh kendala semantik sehingga tiap-tiap pemarkah kausatif ini tidak dapat saling dipertukarkan. Meskipun begitu, Mekarini tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai kendala semantik seperti apa yang dimaksudkan. Berikut ini penjelasan penulis tentang afiks-afiks pemarkah kausatif dimaksud.

4.5.1.1 Sufiks –o

Penggunaan sufiks -o ini dapat dicermati dalam contoh kalimat berikut ini yang diambil dari Mekarini (2000).

33) Au oli na-mouf-o klas (Mekarini, 2000) 1T adik 3T-jatuh-KAUS gelas

“Adik menjatuhkan gelas”

Seperti terlihat pada data (33) bahwa pemarkah kausatif dalam klausa tersebut adalah sufiks –o. Sufiks ini, pada sebagian dialek seperti Amanuban dan

dan Molo melafalkannya dengan /u/ menjadi namofu. Prefiks na- pada verba namofu tersebut bukan prefiks melainkan klitik yang mengacu pada argumen au oli “adik saya”.

Penulis meyakini bahwa sufiks -o ini bukan pemarkah kausatif oleh karena alasan fonologis, yaitu bunyi awal dari kata yang mengikuti verba tersebut. Jadi, penambahan bunyi vokal /o/ atau /u/ karena adanya bunyi velar hambat bersuara /k/. Sufiks kausatif itu sendiri akan hilang apabila bunyi awal dari kata yang mengikutinya tidak diawali dengan bunyi /k/. Cermati contoh berikut.

34) Au oli na-mouf bol (DI)

1T adik 3T-jatuh bola

“Adik saya menjatuhkan bola”

Data di atas memperlihatkan bahwa kehadiran vokal /o/ di akhir verba namouf “menjatuhkan” tidak dibutuhkan karena bunyi awal dari kata yang mengikutinya bukan bunyi velar hambat bersuara. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sebuah bunyi vokal wajib ditambahkan pada akhir kata kerja seperti ditunjukkan dalam data di atas apabila bunyi awal dari kata yang mengikuti adalah velar hambat bersuara. Oleh karena itu, penulis menyimpulkan bahwa bunyi vokal pada kata namouf seperti yang ditunjukkan pada data (34) bukan afiks pemarkah kausatif, melainkan hanya merupakan penambahan bunyi akibat kebutuhan fonologis. Contoh berikut menunjukkan fenomena berbeda.

35) a. Oli n-tup b. Au u-tup-a oli (DI) Adik 3T-tidur 1T 1T-tidur-ø adik

“Adik tidur” “Saya menidurkan adik”

Penambahan vokal /a/ pada verba utupa “saya menidurkan” seperti yang terlihat pada data (35b) hanya berfungsi untuk memenuhi kaidah silabel. Dengan

demikian, verba utupa menjadi tiga suku kata untuk membedakannya dengan OBJ oli. Verba ntup “tidur” pada (35a) tidak diucapkan terpisah dari SUBJ oli, tetapi diucapkan sebagai satu rangkaian bunyi yakni ol-in-tup (dibaca seperti verba bahasa Indonesia: di-u-cap bukan diu-cap). Contoh lain seperti ho mtup “engkau tidur”, diucapkan hom-tup. Jadi, apabila verba tup tidak mendapatkan tambahan bunyi vokal /a/ maka klausa (35b) akan diucapkan: au-u-tu-po-li sehingga tidak gramatikal. Dengan menambahkan vokal /a/ di akhir verba tup menjadi tupa maka menjadikan pengucapannya lebih berterima yaitu au-u-tu-pa-o-li.

4.5.1.2 Sufiks –b

Reteg (2002:122) menyimpulkan bahwa sufiks [b] adalah kausatif yaitu tindakan membuat jadi seperti bentuk asalnya. Pendapat Reteg ini senada dengan Tarno (1991:53). Reteg dan Tarno mengatakan bahwa sufiks -b dalam BD dapat dibubuhkan pada bentuk asal yang memiliki kategori sintaksis numeralia, verba tindakan, dan bentuk asal verba keadaan.

Berikut dikemukakan contoh penggunaan sufiks pemarkah kausatif. 36) Ho mu-suse-b kau (Reteg, 2002)

2T 2T-sedih-KAUS 1T

“Engkau menyusahkan saya / Engkau membuat saya sedih”

Data (36) di atas memperlihatkan bahwa pemarkah kausatif –b berposisi sebagai sufiks pada predikat na-suse-b “menyusahkan” yang berasal dari bentuk dasar adjektiva sues “susah/sedih”. Prefiks na- pada na-suse-b bukan afiks melainkan klitik yang mengacu pada argumen penyebab, yaitu ho “engkau”.

Seperti halnya sufiks –o seperti yang sudah dijelaskan pada data sebelumnya, sufiks –b ini menurut penulis juga bukan merupakan afiks pemarkah

kausatif, melainkan proses fonologis, yakni penambahan fonem yang sering berfariasi menjadi –ab dan –ba. Alasan utamanya adalah tidak semua bentuk dasar bisa dilekati dengan afiks –b dan variasinya ini sebagai pemarkah kausatif. Cermati kedua contoh berikut.

37) Au u-sae-b pena neu pana (DI) 1T 1T-naik-KAUS jagung PREP loteng

“Saya menaikkan jagung ke loteng”

38) Au u-sanu-ø pena nako pana (DL) 1T 1T-turun-KAUS jagung PREP loteng

“Saya menurunkan jagung dari loteng”

Kedua data di atas sama-sama berpredikat verba yaitu usaeb yang berasal dari bentuk dasar sae “naik”, dan usanu yang berasal dari bentuk dasar sanu “turun”. Verba sanu ini biasanya bermetatesis menjadi saun pada klausa intransitif. Penambahan fonem /b/ ini pada verba dasar sae seperti terlihat pada data (37) tidak dipengaruhi oleh bunyi awal pada kata yang mengikutinya, tetapi diakibatkan oleh kendala fonologis pada verba itu sendiri yaitu suku kata. Hal ini juga berlaku untuk bentuk dasar dengan kategori nonverbal.

Penambahan bunyi bilabial-hambat bersuara /b/ hanya untuk memenuhi kaidah pelafalan (silabik) sehingga verba sae akan menjadi u-sa-eb. Apabila tanpa penambahan /b/, maka kata ini akan menjadi aneh pada pola fonologisnya. Berbeda dengan verba usanu “menurunkan” pada data (38) yang tanpa penambahan /b/ karena secara silabik sudah terpenuhi, yaitu dilafalkan u-sa-nu.

Penambahan bunyi bilabial-hambat bersuara /b/ hanya untuk memenuhi kaidah pelafalan (silabik) juga seperti contoh berikut.

39) a. Oe n-saiɁ b. Au usai-baɁ oe (DL) Air 3T-alir 1T 1T-alir-ø air

Klausa (39a) diucapkan oe-nsa-iɁ, sedangkan (39b) diucapkan au-u-sai-baɁ. Bunyi glottal (Ɂ) dalam BD tidak pernah berada di awal suku kata sehingga tidak memungkinkan untuk menambah bunyi vokal pada verba dasar saiɁ. Contoh lain lagi, yaitu uleɁu “saya merusak”, diucapkan u-leɁ-u atau harus diucapkan u-leuɁ (bukan u-le-Ɂu). Perbedaan kedua verba ini adalah verba uleɁu dengan vokal di akhir secara otomatis menunjukan bahwa verba tersebut adalah verba transitif yang dalam realisasinya dalam klausa, argumen P tidak wajib hadir. Sebaliknya, verba uleuɁ dengan bunyi /Ɂ/ di akhir mewajibkan kehadiran argumen P dalam klausa. Contoh berikut menunjukkan fenomena berbeda.

40) a. Oli n-tup b. Au u-tup-a oli Adik 3T-tidur 1T 1T-tidur-ø adik “Adik tidur” “Saya menidurkan adik”

Penambahan vokal /a/ pada verba utupa “saya menidurkan” hanya berfungsi untuk memenuhi kaidah silabel sehingga verba utupa menjadi tiga suku kata untuk membedakannya dengan OBJ oli. Verba ntup pada (40a) tidak diucapkan terpisah dari SUBJ oli, tetapi diucapkan sebagai satu rangkaian bunyi yakni ol-in-tup (dibaca seperti verba bahasa Indonesia di-u-cap bukan diu-cap). Contoh lain seperti ho mtup “engkau tidur” diucapkan hom-tup. Jadi, apabila verba tup “tidur” tidak mendapatkan tambahan bunyi vokal /a/ maka klausa (40b) akan diucapkan au-u-tu-po-li sehingga tidak gramatikal.

Berdasarkan penjelasan singkat di atas, dapat disimpulkan bahwa bunyi vokal pada akhir verba tersebut tidak merupakan pemarkah kausatif, sama seperti penambahan bunyi /b/, yaitu hanya untuk memenuhi kaidah suku kata.

Verba-verba yang mendapatkan pemarkahan ini hanya terjadi pada verba-verba intransitif, tetapi tidak terjadi pada verba-verba-verba-verba transitif. Fenomena ketransitifan verba BD ini sejalan dengan pernyataan Dixon (2010:115) bahwa (1) setiap klausa memiliki nilai ketransitifan yang menentukan jumlah argumen inti yang dibutuhkan, (2) ada pemahaman umum (konvensi) untuk pemarkahan argumen inti sehingga pendengar dapat megenalinya, dan (3) verba terdiri atas kelas-kelas transitivitas, tergantung pada tipe transitivitas dari klausa di mana suatu verba ada.

Fenomena yang disampaikan Dixon ini tampaknya jelas untuk menjelaskan contoh klausa yang dikemukakan oleh Mekarini (2000:50).

41) Atoni nae n-em-ab polisi nae (Mekarini 2000:50) Laki DEF 3T- datang-KAUS polisi DEF

“Laki-laki itu mendatangkan polisi”

Tampaknya Mekarini menggeneralisasi penggunaan afiks –b/ab ini sebagai pemarkah kausatif dan dapat diaplikasikan dalam verba apa pun, padahal seperti sudah dijelaskan bahwa sufiks ini tidak berlaku untuk semua kategori. Data yang dikemukakan di atas ini tidak berterima dalam BD karena tidak gramatikal. Pengujian terhadap konstruksi kausatif BD dilakukan dengan teknik elisitasi, yakni menanyakan keberterimaaan sebuah konstruksi yang dibentuk oleh peneliti, yaitu peneliti menanyai informan apakah kalimat yang dibuat oleh peneliti tersebut benar atau tidak. Selain itu, pengujian dilakukan melalui proses terjemahan, yakni informan diminta menerjemahkan konstruksi yang peneliti buat yaitu konstruksi klausa BD dan informan di minta menterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Asumsi penulis, bila informan tidak bisa menterjemahkan

klausa atau kalimat tersebut, maka tentu saja ada sesuatu yang salah dengan konstruksi tersebut.

Alasan bahwa verba n-em-ab pada klausa (41) tidak gramatikal dapat dianalisis berdasarkan struktur verbanya. Verba datang dalam BD merupakan verba dasar yang terikat dengan proklitik (bound root) sehingga tidak bisa dipisahkan antara verba dasar dan proklitik, kecuali kita mau mengatakan bahwa bentuk dasarnya adalah –m.

Berdasarkan penjelasan terhadap ketidakgramatikalan konstruksi (41) yang dikemukakan di atas adalah melalui proses serialisasi verba. Dengan demikian, salah satu fungsi KVS BD adalah membentuk konstruksi kausatif. KVS yang bermakna kausatif ini tentu saja berlaku untuk verba-verba yang tidak memungkinkan untuk dikausatifkan, baik melalui penambahan argumen penyebab maupun proses morfologis. KVS yang berfungsi untuk menyatakan sebab dapat hadir, baik dalam bentuk serialisasi nukleus maupun serialisasi inti. Untuk lebih jelasnya dapat dicermati dalam contoh (42--43) berikut.

42) a. Polisi na n-em (DL)

Polisi itu 3T-datang “Polisi itu datang”

b. Atoni na n-eik polisi na n-em Laki itu 3T-bawa polisi itu 3T-datang “Laki-laki itu mendatangkan polisi itu”

KVS pada (42b) merupakan serialisasi inti (core serialization) yang dibentuk oleh verba -eik “bawa”pada posisi V1 dan nem “dia datang” menempati posisi V2. Tiap-tiap verba tersebut hanya dimarkahi oleh klitik tanpa pemarkah morfologis yang bermakna kausatif. Meskipun demikian, kehadiran verba neik

“3T-bawa” menyatakan aksi yang dilakukan oleh causer (atoni) terhadap causse (polisi), sedangkan verba nem merupakan verba perpindahan: [neik’ (atoni, polisi)] MENYEBABKAN [MENJADI ada di’ (polisi, ø)].

Peneliti meyakini adanya pengaruh fonologis terhadap sintaksis atau semantik BD, misalnya moen mese dan mone mese. Kedua frasa nomina ini memiliki makna berbeda, yaitu moen mese bermakna “anak laki-laki semata wayang” atau “anak tunggal”, sementara mone mese bermakna “seorang anak laki-laki”. mone dan moen adalah kata yang sama, tetapi hanya berbeda pada proses fonologisnya, yaitu metatesis. Jadi, pernyataan dalam penelitian-penelitian sebelumnya bahwa proses metatesis dalam BD tidak memengaruhi makna perlu ditelusuri ulang.

4.5.1.3 Prefiks Pemarkah Kausatif

Tarno dkk, (1991:74--75) yang mengatakan bahwa BD memiliki tiga prefiks yaitu hai, ha-kai, dan pai yang berfungsi membentuk verba turunan yang bermakna kausatif. Sayangnya Tarno tidak menjelaskan bentuk dasar yang mana saja yang dapat dilekati dengan prefiks-prefiks ini meskipun secara kategori, dijelaskan bahwa prefiks-prefiks ini berfungsi menderivasi adjektiva menjadi verba seperti data berikut.

43) a. Oe na ma-putu b. Mama n-haput oe na (DI) Air itu panas Ibu 3T-panas air itu

“Air itu panas” “Ibu memanaskan air itu”

Proses pengkausatifan terdapat pada klausa (b) di mana terlihat bahwa adjektiva maputu “panas” pada klausa (a) berubah bentuk menjadi n-haput “memanaskan”. Proses fonologis yang terjadi adalah pelesapan vokal u dan

perubahan bunyi bilabial nasal /m/ menjadi glottal frikatif /h/. Verba n-ha-putu tidak dapat dikatakan berasal dari bentuk dasar putu “panas” sebab klausa berikut tidak berterima.

44) ** Oe putu (DP)

Air panas “Air panas”

Adjektiva BD yang diawali dengan ma- yang menyatakan sifat ini seperti mafena “berat”, manikin ‘dingin”, manuan “lebar”, malin “senang”, manenu “sulit”, makafa “ringan” dan masing-masing tidak dapat dipisahkan dengan bentuk dasarnya. Tidak semua kata sifat ini dapat dikausatifkan denga mengganti bunyi /m/ menjadi /h/ seperti halnya haput “memanaskan”. Oleh karena itu, adanya kajian mendalam menyangkut aspek morfofonemik BD sangat membantu dalam memahami proses pengkausatifan ini.