BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.5. Ketulian Akibat Bising
Tuli akibat bising (noise induced hearing loss) ialah kurang pendengaran yang timbul akibat terpajan bising yang cukup keras 85 dB(A) atau lebih dalam jangka waktu yang cukup lama, biasanya disebabkan oleh bising lingkungan kerja. Sifat ketuliannya adalah tuli saraf koklea dan umumnya terjadi pada kedua telinga (Soetirto, 2003).
Bising yang berintensitas 85 dB(A) atau lebih dapat mengakibatkan kerusakan pada reseptor pendengaran Corti di telinga dalam. Yang sering mengalamikerusakan adalah alat Corti untuk reseptor bunyi yang berfrekuensi antara 3000 Hz sampai dengan 6000 Hz dan yang terberat kerusakan alat corti untuk reseptor bunyi yang berfrekuensi 4000 Hz. Beberapa teori menjelaskan terjadinya takik pada frekuensi 4000 Hz sebagai berikut : 1) membran basilaris di daerah belokan pertama, yaitu kira–kira 10mm dari oval window vaskularisasinya sangat kurang sehingga sangat rentan; 2) membran basilaris pada tempat tersebut kaku dan tegang sehingga mudah rusak; 3) perubahan amplitudo dan kecepatan gelombang suara mulai terbentuk pada daerah 4000 Hz (Susilawati dkk, 2010).
2.5.1. Gejala
Kurang pendengaran disertai tinitus (berdengung di telinga) atau tidak. Bila sudah cukup berat disertai keluhan sukar menangkap percakapan dengan kekerasan biasa dan bila sudah lebih berat percakapan yang keraspun sukar dimengerti. Secara klinis pajanan bising pada organ pendengaran dapat menimbulkan reaksi adaptasi, peningkatan ambang dengar sementara (temporary threshold shift) menetap (permanent threshold shift) (Bashiruddin dan Soetirto, 2010).
Stadium dini dari tuli akibat paparan bising ditandai dengan kurva ambang pendengaran yang curam pada frekuensi di antara 3000 dan 6000 Hz, biasanya pertama kali timbul pada nada 4000 Hz. Pada fase dini pekerja mungkin hanya mengeluh tinitus, suara yang teredam, rasa tidak nyaman ditelinga, atau penurunan pendengaran yang temporer, yang terasa pada waktu bekerja atau pada waktu akan
meningggalkan tempat kerja, tetapi kemudian pendengaran terang lagi setelah beberapa jam jauh dari lingkugan bising. Nyeri dan vertigo jarang ditemukan. Selama paparan bising berlangsung, ketulian menyebar kedua arah tetapi hanya ada sedikit efek pada pendengaran. Gangguan pendengaran biasanya tidak disadari sampai ambang pendengaran bunyi nada percakapan 500, 1000, 2000, dan 3000 Hz rata–rata lebih dari 25 dB(A). Ketulian berat dapat timbul pada frekuensi 3000-8000 Hz, mungkin menyebabkan keluhan subjektif sedikit saja mengenai perubahan pendengaran. Awal dan perkembangan tuli saraf akibat NIHL lambat dan tidak jelas, dan pekerja mungkin tidak sadar akan gangguan pendengarannya atau tidak peduli.
Ketulian selalu tipe sensorineural dan serupa kualitas dan kuantitasnya pada kedua telinga. Secara otoskopik gendang telinga tampak normal (Fox, 1997).
2.5.2. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, riwayat pekerjaan, pemeriksaan fisik dan otoskopi serta pemeriksaan penunjang pendengaran seperti audiometri.
Anamnesis pernah bekerja atau sedang bekerja di lingkungan bising dalam jangka waktu yang cukup lama biasanya lima tahun atau lebih. Pada pemeriksaan otoskopik tidak ditemukan kelainan. Pada pemeriksaan audiologi, tes penala didapatkan hasil Rinne positif, Weber lateralisasi ke telinga yang pendengarannya lebih baik dan Schwabach memendek. Kesan jenis ketuliannya tuli sensorineural. Pemeriksaan audiometri nada murni didapatkan tuli sensorineural pada frekuensi antara 3000–6000 Hz dan pada frekuensi 4000 Hz sering terdapat takik (notch) yang patognomonik untuk jenis ketulian ini. Pemeriksaan audiologi khusus seperti SISI (short increment
sensitivity index), ABLB (alternate binaural loudness balance), MLB (monoaural loudness balance), audiometri Bekesy, audiometri tutur (speech audiometry), hasil menunjukkan adanya fenomena rekrutmen (recrutiment) yang patognomonik untuk tuli sensorineural koklea.
Rekrutmen adalah suatu fenomena pada tuli sensorineural koklea, dimana telinga yang tuli menjadi lebih sensitif terhadap kenaikan intensitas bunyi yang kecil pada frekuensi tertentu setelah terlampaui ambang dengarnya (Bashiruddin dan Soetirto, 2010).
2.5.3. Penatalaksanaan
Sesuai dengan penyebab ketulian, penderita sebaiknya dipindahkan kerjanya dari lingkungan bising. Bila tidak mungkin dipindahkan dapat dipergunakan alat pelindung telinga yaitu berupa sumbat telinga (ear plugs), tutup telinga (ear muffs) dan pelindung kepala (helmet). Oleh karena tuli akibat bising adalah tuli saraf koklea yang bersifat menetap (irreversible), bila gangguan pendengaran sudah mengakibatkan kesulitan berkomunikasi dengan volume percakapan biasa, dapat dicoba pemasangan alat bantu dengar (ABD). Apabila pendengarannya telah sedemikian buruk, sehingga dengan memakai ABD pun tidak dapat berkomuikasi dengan adekuat, perlu dilakukan psikoterapi supaya pasien dapat menerima keadaannya. Latihan pendengaran (audiotory training) juga dapat dilakukan agar pasien dapat menggunakan sisa pendengaran dengan ABD secara efisien dibantu dengan membaca ucapan bibir (lip reading), mimik dan gerakan anggota badan serta bahasa isyarat untuk dapat berkomunikasi (Rambe, 2003).
2.5.4. Prognosis
Oleh karena jenis ketulian akibat terpapar bising adalah tuli saraf koklea yang sifatnya menetap, dan tidak dapat diobati secara medikamentosa maupun pembedahan, maka prognosisnya kurang baik. Oleh karena itu yang terpenting adalah pencegahan terjadinya ketulian (Rambe, 2003).
2.6. Landasan Teori
Ketulian akibat bising didefenisikan secara umum sebagai gangguan pendengaran yang berkembang secara perlahan dalam periode waktu yang lama (beberapa tahun) akibat terpapar bising secara terputus–putus atau menetap berulang.
Ketulian akibat bising memberikan gambaran tuli sensorineural, bilateral yang disertai takik pathognomonic pada frekuensi 4000 Hz pada audiogram (Seidman dan Standaring, 2010).
Paparan bising yang menetap berulang lebih dari 85dB(A) selama 8 jam terbukti menyebabkan NIHL (Seidman dan Standring, 2010). Apabila telinga normal terpapar bising pada intensitas yang merusak selama periode waktu yang cukup lama, akan terjadi penurunan pendengaran yang temporer, yang akan menghilang setelah beristirahat beberapa menit atau beberapa jam. Kurang pendengaran temporer ini merupakan fenomena yang fisiologis dan disebut sebagai perubahan ambang temporer (temporary threshold shif/ TTS). Diduga terjadi di sel rambut organ corti dan mungkin berhubungan dengan perubahan metabolik disel rambut, perubahan kimia di dalam cairan telinga dalam atau perubahan vaskuler di telinga dalam. Bila
pemaparannya lebih lama dan atau intensitasnya lebih besar, akan tercapai suatu tingkat ketulian yang tidak dapat kembali lagi ketingkat pendengaran semula.
Keadaan tersebut disebut ketulian akibat bising (noise induced hearing loss) atau perubahan ambang permanen (permanent threshold shift/PTS).Bila dilakukan pemeriksaan audiogram, harus dipastikan bahwa tiap karyawan tertentu tidak terpapar oleh bising sekurang–kurangnya selama 12-14 jam (Fox, 1997).
Ada banyak faktor yang mempengaruhi tingkat dan beratnya ketulian yang didapatkan pada kasus-kasus ketulian akibat kerja yaitu (1) intensitas atau kerasnya bunyi (sound pressure level), (2) tipe bising (spektrum frekuensi), (3) periode pemaparan perhari (duty cycle perday), (4) lamanya masa kerja, (5) kerentanan individual, (6) umur pekerja, (7) penyakit telinga yang menyertai, (8) sifat lingkungan tempat bising dihasilkan, (9) jarak dari sumber bunyi, dan (10) posisi tiap telinga terhadap gelombang suara. Empat yang pertama merupakan faktor–faktor terpenting dalam pemaparan bising (Fox, 1997).
Gangguan pendengaran umumnya terjadi setelah pajanan bising lebih dari 5 tahun, progresivitas berkurang bila pajanan bising dihentikan, dan menjadi permanen bila terpajan terus menerus selama lebih dari 10 tahun. Hal ini bergantung pada lamanya pajanan pada tiap tahapan tugas per hari kerja dan umur pada masa masing–
masing aktivitas kerja. Walaupun tanpa pajanan bising, gangguan pendengaran bertambah sesuai dengan bertambahnya umur (presbikusis). Oleh karena itu, selain beratnya gangguan pendengaran akibat bertambahnya umur, juga yang diakibatkan pajanan bising di tempat kerja, harus dipertimbangkan (Harrianto, 2010). Presbikusis
adalah tuli sensorineural frekuensi tinggi mulai dari frekuensi 1000 Hz, umumnya terjadi mulai usia 65 tahun, simetris pada telinga kiri dan kanan (Suwento dan Hendarmin, 2010).