• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Multivariat

Dalam dokumen TESIS. Oleh : PATAR L.H. LUMBANRAJA /IKM (Halaman 78-0)

BAB 4. HASIL PENELITIAN

4.5. Analisis Multivariat

Berdasarkan hasil uji chi-squre diketahui 4 variabel (empat variabel) yaitu intensitas kebisingan, frekuensi kebisingan, periode pemaparan perhari, dan

penggunaan APD, maka dapat dimasukkan dalam analisis multivariat karena nilai pada bivariat dengan binary logistik hasil output, pada tabel block 1 didapatkan hasil omnibus test pada bagian bloc dengan p value nya <0,25 sehingga 4 (empat) variabel dapat dilanjutkan ke analisis multivariat. Analisis multivariat merupakan analisis untuk mengetahui pengaruh variabel independen (intensitas kebisingan, frekuensi kebisingan, periode pemaparan perhari dan penggunaan APD) terhadap variabel dependen (ketulian akibat bising) dengan serta mengetahui variabel dominan yang memengaruhi dengan menggunakan uji regresi logistik ganda. Berdasarkan hasil uji regresi logistik ganda diperoleh bahwa variabel periode pemaparan perhari dan penggunaan APD diperoleh bahwa nilai p < 0,05 maka variabel tersebut berpengaruh terhadap kejadian ketulian akibat bising, variabel intensitas kebisingan dan frekuensi kebisingan terdapat nilai p>0,05 artinya variabel tersebut tidak berpengaruh terhadap kejadian ketulian akibat bising.

Untuk melihat pengaruh periode pemaparan perhari dan penggunaan APD terhadap kejadian ketulian akibat bising pada pekerja bengkel (Workshop) di Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia dapat dilihat pada Tabel 4.13 :

Tabel 4.13. Hasil Uji Regresi Variabel Pengaruh Kebisingan terhadap Ketulian Akibat Bising

Dari hasil analisis regresi logistik ganda dihasilkan probabilitas ketulian akibat bising, sehingga sebagai persamaan akhir untuk probabilitas ketulian akibat kerja adalah :

p(x)= (-2,633periodepemaparan perhari 2,386penggunaanAPD)

1

1

+ e

Dari hasil analisis dapat dilihat bahwa variabel periode pemarapan perhari dan penggunaan APD memiliki nilai p-value < 0,05 sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa periode pemaparan perhari dan penggunaan APD memiliki pengaruh yang signifikan terhadap ketulian akibat bising pada pekerja bengkel Balai Yasa Pulubrayan.

Berdasarkan nilai coefisient β, diperoleh nilai coefisient β dari variabel periode pemaparan perhari sebesar -2,633 dan nilai coefisient β dari penggunaan APD sebesar -2,386, ini menunjukkan bahwa periode pemaparan perhari dan penggunaan APD memiliki arah pengaruh negatif terhadap ketulian akibat bising. Variabel penggunaan APD memiliki nilai koefisien (OR/Exp β) sebesar 0,92 menunjukkan bahwa variabel tersebut merupakan variabel yang paling dominan memengaruhi ketulian akibat bising. Artinya peluang pekerja dengan penggunaan APD 0,92 kali lebih besar tidak memiliki ketulian akibat bising dibanding dengan pekerja yang tidak menggunakan APD.

BAB 5 PEMBAHASAN

5.1. Pengaruh Intensitas Kebisingan (Sound Pressure Level) terhadap Ketulian Akibat Bising (Noise Induced Hearing Loss) pada Pekerja Bengkel (Workshop) di Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia

Hasil penelitian tentang variabel intensitas kebisingan (sound pressure level) ditemukan intensitas kategori tidak sesuai NAB dengan persentase kejadian tuli sebesar 30,4%. Uji statistik menunjukkan variabel intensitas kebisingan tidak berpengaruh terhadap ketulian akibat bising. Mengacu pada hasil uji tersebut dapat dijelaskan semakin tinggi intensitas kebisingan tidak sesuai NAB tidak meningkatkan kejadian ketulian pada pekerja di unit produksi pekerja bengkel Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia.

Hal ini bukan berarti bahwa intensitas kebisingan pada unit produksi pekerja bengkel (workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia tidak perlu diperhatikan, namun intensitas kebisingan membutuhkan waktu yang cukup lama terpajan (10-15 tahun) akan menyebabkan robeknya sel-sel rambut organ corti sampai terjadi destruksi total organ corti. Proses ini belum jelas terjadinya, tetapi mungkin karena rangsangan bunyi yang berlebihan dalam waktu lama dapat mengakibatkan perubahan metabolisme dan vaskuler sehingga terjadi kerusakan degeneratif pada struktur sel-sel rambut organ corti. Akibatnya terjadi kehilangan pendengaran yang permanen. Hal ini dapat dilihat bahwa masa kerja tenga kerja ada sebesar 28,6% yang bekerja ≤ 10 tahun. Selain itu jam kerja setiap hari para pekerja

lebih banyak < 8 jam/hari yaitu sebesar 59,5%. Menurut peneliti keadaa ini yang mengakibatkan intensitas kebisingan tidak berpengaruh terhadap ketulian akibat bising pada pekerja bengkel (workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT.

Kereta Api Indonesia.

Hal ini tidak sejalan dengan Roestam (2004) bahwa efek kebisingan pada pendengaran adalah gangguan paling serius dapat menyebabkan ketulian. Ketulian bersifat progresif, pada awalnya bersifat sementara dan akan segera pulih kembali bila menghindar dari sumber bising, namun bila terus menerus bekerja di tempat bising, daya dengar akan hilang secara permanen dan tidak akan pulih kembali.

Menurut Soetirto (1990) bahwa secara umum bising adalah bunyi yang tidak diinginkan. Bising yang intensitasnya 85 dB(A) atau lebih dapat menyebabkan kerusakan reseptor pendengaran corti pada telinga dalam. Sifat ketuliannya adalah tuli saraf koklea dan biasanya terjadi pada kedua telinga. Banyak hal yang mempermudah seseorang menjadi tuli akibat terpapar bising antara lain intensitas bising yang lebih tinggi, berfrekuensi tinggi, lebih lama terpapar bising, kepekaan individu dan faktor lain yang dapat menimbulkan ketulian. Hal ini sesuai penelitian Umeda (2011) pada penelitiannya di PT Atmindo Medan menemukan ada 7 lokasi pada bagian proses yang memiliki nilai ambang batas kebisingan di atas 85dB(A), berkisar di antara 86-90 dB(A). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa intensitas bising, frekuensi bising, masa kerja, alat pelindung diri dan umur memengaruhi penurunan daya dengar telinga kanan dan kiri pekerja secara signifikan.

Pada penelitian ini juga menunjukkan bahwa tempat intensitas kebisingan kerja bengkel Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia diperoleh dengan intensitas kebisingan dengan kategori tidak sesuai NAB sebesar 54,8%, yang berarti intensitas kebisingan tempat kerja bengkel Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia tergolong tinggi, untuk itu perlu perhatian pada pengelola PT. Kereta Api Indonesia untuk memperhatikan intensitas kebisingan tempat kerja mekanik. Sesungguhnya bahwa bahaya bising yang timbul di tempat kerja dapat dikenali dengan cara sederhana dengan menggunakan rekasi fisiologis atau keluhan subjektif dari tenaga kerja.

Hal ini sesuai menurut Soeripto (2008), bahwa tempat kerja yang memiliki pajanan bising ≥ 85 dB(A), diwajibkan melaksanakan program perlindungan terhadap bahaya tuli akibat bising bagi para pekerjanya dengan mengindentifikasi sumber bising ditempat kerja, upaya mengurangi intensitas bising, melindungi penerima bising dengan alat pelindung diri, bila pajanan bising tidak dapat dihindarkan dan melaksanakan tes pendengaran awal kerja (baseline hearing test) dan dilanjutkan tes pendengaran periodik, untuk mengevaluasi efektivitas hearing conservation program.

Pada penelitian ini, pekerja yang terpajan dengan intensitas kebisingan tidak sesuai NAB lebih banyak dengan pendengaran normal atau diluar NIHL. Hal ini disebabkan karena pekerja melaksanakan program perlindungan terhadap bahaya tuli akibat bising. Selain itu diasumsikan bengkel Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia bahwa para pekerja di tempat ini bekerja dalam kondisi kerja dengan derajat kebisingan yang aman.

Intensitas kebisingan merupakan salah satu faktor yang memengaruhi ketulian seseorang pekerja, mereka yang yang terpajan dengan intensitas kebisingan yang tidak sesuai NAB mempunyai peluang lebih besar kejadian NIHL dibandingkan dengan pekerja yang terpajan dengan intensitas kebisingan yang sesuai NAB.

Intensitas kebisingan yang tidak sesuai NAB yang semakin meningkat menjadi penyebab utama responden dengan kejadian NIHL.

Hal ini sesuai dengan penelitian Husdiani (2008) dalam penelitiannya di Manufacturing Workshop PT. X di Medan menyimpulkan daerah tersebut memiliki tingkat intensitas kebisingan 75% melebihi NAB, pekerja mendapatkan dosis bising berlebih adalah 85%, hasil audiometri mendapatkan bahwa 40% pekerja mengalami NIHL.

5.2. Pengaruh Frekuensi Kebisingan terhadap Ketulian Akibat Bising (Noise Induced Hearing Loss) pada Pekerja Bengkel (Workshop) di Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia

Hasil penelitian tentang variabel frekuensi kebisingan ditemukan frekuensi kategori ≥ 2000 -3000 Hz dengan persentase kejadian tuli akibat bising sebesar 30,4%. Uji statistik menunjukkan variabel frekuensi kebisingan tidak berpengaruh terhadap ketulian akibat bising. Mengacu pada hasil uji tersebut dapat dijelaskan semakin tinggi frekuensi kebisingan kategori ≥ 2000 -3000 Hz tidak meningkatkan kejadian ketulian pada pekerja di unit produksi pekerja bengkel (workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia. Hal ini bukan berarti bahwa frekuensi kebisingan kategori ≥ 2000 -3000 Hz pada unit produksi pekerja

bengkel Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia tidak perlu diperhatikan, namun kejadian NIHL terjadi setelah seseorang cukup lama terpapar kebisingan, terutama terjadi pada frekuensi 4000 Hz. Gangguan ini paling banyak ditemukan dan bersifat permanen, tidak dapat disembuhkan. Kenaikan ambang pendengaran yang menetap dapat terjadi setelah 3,5 sampai 20 tahun terjadi pemaparan, ada yang mengatakan baru setelah 10-15 tahun setelah terjadi pemaparan.

Pekerja yang terpajan di unit produksi pekerja bengkel Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia dengan frekuensi kebisingan kategori ≥ 2000-3000 Hz lebih banyak dengan pendengaran normal atau diluar NIHL. Hal ini disebabkan karena pekerja melaksanakan program perlindungan terhadap bahaya ketulian akibat bising. Selain itu diasumsikan bahwa proses ketulian bersifat lambat dan tersembunyi, sehingga pada tahap awal tidak disadari oleh pekerja, sesuai dengan penelitian yang peneliti lakukan bahwa sebagian besar pekerja tidak memiliki keluhan apapun pada telinga.

Hal ini sejalan menurut May Jhon (2000), bahwa pada audiometri diagnosis NIHL ditunjukkan adanya penurunan pendengaran pada frekuensi antara 2000-3000 Hz dan merupakan proses yang lambat dan tersembunyi, sehingga pada tahap awal tidak disadari oleh para pekerja. Apabila bising dengan intensitas tinggi tersebut terus berlangsung dalam waktu yang cukup lama, akhirnya pengaruh penurunan pendengaran, pada saat itu pekerja mulai merasakan ketulian karena tidak dapat mendengar pembicaraan sekitarnya.

Menurut Soetirto (2001), Kerusakan telinga dalam mula-mula terjadi pada frekwensi 3000, 4000 dan 6000 Hz, dimana kerusakan yang paling berat terjadi pada frekwensi 4000 Hz. Dengan paparan bising yang konstan, ketulian pada frekwensi 3000, 4000 dan 6000 Hz akan mencapai tingkat yang maksimal dalam 10-15 tahun.

Ketulian timbul secara bertahap dalam jangka waktu bertahun-tahun, yang biasanya terjadi dalam 8-10 tahun pertama paparan.

5.3. Pengaruh Periode Pemaparan Perhari terhadap Ketulian Akibat Bising (Noise Induced Hearing Loss) pada Pekerja Bengkel (Workshop) di Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia

Hasil penelitian tentang variabel periode pemaparan perhari ditemukan kategori ≥ 8 jam /hari dengan persentase kejadian tuli sebesar 30%. Uji statistik menunjukkan variabel periode pemaparan berpengaruh terhadap ketulian akibat bising. Mengacu pada hasil uji tersebut dapat dijelaskan semakin tinggi periode pemaparan kategori ≥ 8 jam/hari meningkatkan kejadian ketulian akibat bising pada pekerja di unit produksi pekerja bengkel (workshop) di Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia.

Hal ini sejalan dengan Laras Dyah (2001) bahwa intensitas bunyi di kawasan home industri knalpot di Kelurahan Purbalingga Lor di atas NAB yaitu 105 dB(A) dengan lama masa kerja > 8 jam. Waktu kerja lebih yaitu pukul 07.30 WIB sampai dengan pukul 15.30 WIB. Hasil pengukuran intensitas bunyi di kawasan home industry knalpot di Kelurahan Purbalingga Lor melebihi NAB yaitu melebihi 100 dB (A) dengan lama kerja 8 jam.

Pekerja di unit produksi bengkel (workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia masih banyak yang bekerja ≥ 8 jam/hari, keadaan ini perlu diperhatikan oleh pihak pengelola unit produksi bengkel (workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia untuk menghindari keadaan akibat periode pemaparan pada pekerja sebaiknya mempekerjakan tenaga kerja ≤ 8 jam/hari.

Hal ini sesuai menurut Keputusan Menteri Tenaga Kerja No.51 Tahun 1999 dan Keputusan Menteri Kesehatan No.1405 Tahun 2002, kebisingan yang dapat diterima oleh tenaga kerja tanpa mengakibatkan penyakit atau gangguan kesehatan dalam pekerjaan sehari-hari untuk waktu tidak melebihi 8 jam sehari atau 40 jam seminggu yaitu 85 dB(A) (Bashiruddin, 2007).

Selain itu, menurut Roestam (2004) bahwa intensitas bising di tempat kerja yang diperkenankan adalah 85 dB(A) untuk waktu kerja 8 jam perhari, seperti yang diatur dalam Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja no SE.01/Men/1978 tentang Nilai Ambang Batas (NAB) untuk kebisingan di tempat kerja.

5.4. Pengaruh Masa Kerja terhadap Ketulian Akibat Bising (Noise Induced Hearing Loss) pada Pekerja Bengkel (Workshop) di Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia

Hasil penelitian tentang variabel masa kerja ditemukan masa kerja kategori

< 10 tahun dengan persentase kejadian tuli sebesar 8,3%. Uji statistik menunjukkan variabel masa kerja tidak berpengaruh terhadap ketulian akibat bising. Mengacu pada hasil uji tersebut dapat dijelaskan semakin lama masa bekerja tidak meningkatkan

kejadian ketulian pada pekerja unit produksi pada bengkel (workshop) di Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia.

Hal ini dapat kita lihat pada hasil penelitian, persentase kejadian ketulian diantara pekerja tidak memandang masa kerja dari pekerja. Mungkin faktor lain yang lebih dominan yang memengaruhi kejadian tuli bagi pekerja unit produksi di Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia.

Hal ini tidak sejalan dengan penelitian Sulistyanto (2004) prevalensi NIHL pada masinis meningkat sesuai masa kerja dan paling banyak setelah bekerja lebih dari 20 tahun. Kemudian penelitian Laras Dyah (2001), bahwa masa kerja pekerja home industry knalpot di Kelurahan Purbalingga Lor yaitu < 10 tahun sebanyak 31 responden sedangkan > 10 tahun sebanyak 19 responden. Kejadian NIHL pada pekerja home industry knalpot di Kelurahan Purbalingga Lor sebesar 20 responden dan yang tidak menderita NIHL sebanyak 30 responden. Lama masa kerja berhubungan dengan kejadian Noise Induced Hearing Loss (NIHL) pada pekerja home industry knalpot di Kelurahan Purbalingga Lor. Semakin lama masa kerja maka kejadian NIHL tinggi.

Menurut Harrianto (2010), bahwa gangguan pendengaran umumnya terjadi setelah pajanan bising lebih dari 5 tahun, progresivitas berkurang bila pajanan bising dihentikan, dan menjadi permanen bila terpajan terus menerus selama lebih dari 10 tahun. Hal ini juga sejalan dengan pendapat May Jhon (2000) bahwa bising dengan intensitas yang tinggi dan dalam waktu yang lama yaitu antara 10-15 tahun akan mengakibatkan robeknya organ corti hingga mengakibatkan destruksi total organ

corti. Intensitas bunyi yang sangat tinggi dan dalam waktu yang cukup lama mengakibatkan perubahan metabolisme dan vaskuler yang dapat menyebabkan kerusakan degeneratif pada struktur sel-sel rambut di dalam organ corti.

Menurut Fox (1997) bahwa banyak faktor yang memengaruhi tingkat dan beratnya ketulian yang didapatkan pada kasus-kasus ketulian akibat kerja salah satunya adalah lamanya masa kerja.

5.5. Pengaruh Penggunaan APD terhadap Ketulian Akibat Bising (Noise Induced Hearing Loss) pada Pekerja Bengkel (Workshop) di Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia

Hasil penelitian tentang variabel penggunaan APD ditemukan penggunaan APD kategori tidak memakai APD dengan persentase kejadian tuli sebesar 31,6%.

Uji statistik menunjukkan variabel penggunaan APD berpengaruh terhadap ketulian akibat bising. Mengacu pada hasil uji tersebut dapat dijelaskan semakin tinggi pemakaian APD akan mengurangi kejadian ketulian pada pekerja di unit produksi pekerja bengkel (workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia.

Pemakaian APD sangat diperlukan pada pekerja di unit produksi pekerja bengkel (workshop) di Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia, karena lingkungan pekerjaan yang masih tinggi dengan kebisingan, sehingga untuk menghindarkan kejadian NIHL diperlukan penggunaan APD.

Hal ini sesuai pendapat Olishifski (1998) bahwa salah satu komponen program pengendalian kebisingan adalah penggunaan alat pelindung pendengaran

bagi pekerja yang terpapar kebisingan. Penggunaan alat pelindung pendengaran ini merupakan tahap terakhir dari hirarki pengendalian apabila upaya pengendalian administratif tidak berhasil dijalankan.

Pada penelitian ini juga menunjukkan bahwa pekerja yang mempergunakan APD masih ada dengan kejadian NIHL, hal ini menunjukkan bahwa meskipun pekerja telah mempergunakan APD belum tertutup kemungkinan akan terjadi NIHL.

Hal ini terjadi karena pekerja masih kurang taat dalam penggunaan APD yang baik, pekerja kadang-kadang mempergunakan dan kadang-kadang tidak, jadi diperlukan kedisiplinan dan kesadaran pekerja akan pentingnya penggunakan APD untuk menghindari ketulian dan pihak manajemen agar menyediakan APD yang baik dan berkualitas sesuai jumlah pekerja serta mengawasi kepatuhan pekerja dalam menggunakan APD.

Selain itu ketika pengamatan di lapangan di jumpai pekerja yang lalai bahkan tidak menggunakan APD ketika bekerja di lingkungan kebisingan diatas NAB dan periode pemaparan bising ≥ 8 jam/hari dimana sebagian besar pekerja mempunyai masa kerja lebih dari 10 tahun. Pihak perusahaan belum menjamin ketersediaan APD.

Pemakaian APD hendaklah di support dengan pengawasan dan sanksi yang tegas dari pihak perusahaan. Bila tidak, maka kemungkinan besar APD ini akan gagal dalam melindungi pekerja. Sebaiknya pemakaian APD bagi pekerja yang diharuskan merupakan syarat mutlak pekerjaan dan kepegawaian. Hal ini lebih dikenal dengan prinsip no ear plug no work - tidak memakai APD tidak boleh bekerja (Direktorat Bina Kesehatan Kerja DEPKES RI, 2006).

Hal ini sesuai bahwa APD merupakan suatu perlengkapan yang digunakan para pekerja untuk melindungi diri dari berbagai hal yang dapat membahayakan pekerja, sehingga pekerja tidak dirugikan dari bahaya yang ada di tempat kerja.

Selain dukungan dari perusahaan diharapkan juga dukungan dari pekerja karena pekerja adalah subjek dan objek dari kegiatan tersebut. Dukungan dari pekerja dapat dilihat dari ketaatan menggunakan APD yang tersedia sesuai dengan resiko penggunaannya. Selain pekerja harus menggunakan APD, mereka harus tahu resiko yang akan mereka hadapi di tempat kerja sehingga mereka benar-benar menggunakan APD yang ada dengan sebaik-baiknya sesuai dengan prosedur.

Penelitian Kesuma, 1998 terhadap 48 pekerja bagian produksi PT. Krakatau Steel Cilegon, menunjukkan 40,6% pekerja yang menggunakan alat pelindung telinga. Demikian juga penelitian Sumbung, 2000 terhadap 204 pekerja Dryer dan Gluing pabrik kayu lapis di Bandung menunjukkan hanya 27,9% yang menggunakan alat pelindung diri. Diperkirakan 19% melaporkan kehilangan pendengaran; proporsi dengan kehilangan pendengaran meningkat tajam, diantara mereka dengan hilang pendengaran, 29,9% melaporkan bahwa mereka terkait dengan hilang pendengaran akibat kebisingan di tempat kerja (Stanbury, et al, 2008).

5.6. Keterbatasan Penelitian

1. Tidak adanya data dasar pemeriksaan audiometric, survei kebisingan dan data awal kesehatan pekerja di bengkel / workshop.

2. Kurangnya tingkat kepatuhan dan kerjasama pekerja di bengkel / workshop dalam penelitian ini.

3. Keterbatasan dana dan waktu peneliti sehingga penelitian ini mempergunakan pendekatan explanatory research dengan metode cross sectional study, dimana penyebab (faktor risiko) dan akibat (efek) diperoleh sekaligus dan pada saat itu juga (bersamaan), artinya peneliti tidak mengikuti perjalanan terjadinya penurunan daya dengar pekerja karena keterbatasan waktu dan biaya.

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

1. Terdapat pengaruh periode pemaparan perhari terhadap ketulian akibat bising (noise induced hearing loss) pada pekerja bengkel (workshop) di Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia.

2. Terdapat pengaruh penggunaan APD terhadap ketulian akibat bising (noise induced hearing loss) pada pekerja bengkel (workshop) di Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia

3. Tidak terdapat pengaruh intensitas kebisingan terhadap ketulian akibat bising (noise induced hearing loss) pada pekerja bengkel (workshop) di Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia.

4. Tidak terdapat pengaruh frekuensi kebisingan terhadap ketulian akibat bising (noise induced hearing loss) pada pekerja bengkel (workshop) di Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia

5. Tidak terdapat pengaruh masa kerja terhadap ketulian akibat bising (noise induced hearing loss) pada pekerja bengkel (workshop) di Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia

6.2. Saran

1. Pihak manajemen bengkel (workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia mengatur jam kerja tidak lebih dari 8 jam per hari.

2. Pihak manajemen bengkel (workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT. Kereta Api Indonesia memberi sanksi kepada pekerja yang tidak memakai APD.

3. Pekerja di bengkel (workshop) Balai Yasa Pulubrayan Sumatera Utara PT.

Kereta Api Indonesia untuk lebih taat mempergunakan APD sewaktu bekerja.

DAFTAR PUSTAKA

Arifiani, N., 2004. Pengaruh Kebisingan terhadap Kesehatan Kerja, Cermin Dunia Kedokteran No. 144.24-28.

Azizi, M.H., 2010. Occupational Noise – Induced Hearing Loss, Review, Vol 1 Number 3, 116- 123.

Bashiruddin, J., Soetirto, I., 2010. Gangguan Pendengaran Akibat Bising (Noise Induce Hearing Loss). Buku AjarIlmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher, Ed VI, Cetakan ke 5 hlm: 49 – 52.

Bramantyo, B., dkk., 2008. Gangguan Fungsi Organ Pendengaran.Buku Masalah Pendengaran dan Keseimbangan, Ed I, terbit I, hlm 17 – 29.Jakarta, FK-UI.

Budiarto, E.,2002. Biostatistika Untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. Ed I, hlm 233-244. Jakarta, EGC.

Depatemen Kesehatan RI., 2006. Pedoman Program Konservasi Pendengaran Di Tempat Kerja. Jakarta: Direktorat Bina Kesehatan Kerja.

Djati, Ismoyo., 2006. Bagaimana Mencapai Zero Accident di Perusahaan, Buku Kumpulan Makalah Seminar K3 RS Persahabatan Tahun 2000 & 2001. Hlm 100- 118, Jakarta , UI Press.

Fox, M.S., 1997. Pemaparan Bising Industri dan Kurang Pendengaran, Buku Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok Kepala dan Leher, Ed 13, Jilid 2, hlm: 305 – 329, Jakarta Binarupa Aksara.

Gerostergiou, E., 2008. Sensorineural Hearing Loss Of Noise In Members Of Aviation Club Of Larissa (Greece), Hippokratia, 12 (suppl 1) : 59 – 63.

Gunawanta., 2002. Kebisingan Pada Industri, Dampak dan Strategi Penanggulangannya. Prosiding Seminar Nasional Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Dalam Menghadapi OTDA dan AFTA 2003.Program Magister IKM Program Pascasarjana USU.

Harrianto, R., 2009. Buku Ajar Kesehatan Kerja. Ed I, Cetakan I, hlm: 129 – 147, Jakarta, EGC.

Hetharia, R., Mulyani, S., 2011. Asuhan Keperawatan Gangguan THT, Jilid I, Terbitan I, hlm 43- 44, Jakarta, Transinfomedia.

Husdiani, I., 2005. Upaya Penanggulangan Dampak Kebisingan Terhadap Pendengaran Pekerja Dengan Basis Pemetaan Kebisingan (Noise Mapping) di Manufacturing Workshop PT.X. Di Medan, Tesis, Universitas Sumatera Utara.

Laras Dyah P., 2001. Hubungan Lama Masa Kerja dengan Kejadian Noise-Induced Hearning Loss Pada Pekerja Home Industry Knalpot di Kelurahan Purbalingga Lor.

Mahdi, Sedjawidada R. Prosedur penetuan persentase ketulian akibat bising industri.

Mahdi, Sedjawidada R. Prosedur penetuan persentase ketulian akibat bising industri.

Dalam dokumen TESIS. Oleh : PATAR L.H. LUMBANRAJA /IKM (Halaman 78-0)