• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kinerja Keuangan Financial Performance

Dalam dokumen Sampoerna Agro Tbk. (Halaman 86-88)

2009 2008 2007 HARGA JUAL RATA-RATA (Rp/kg)

Average Selling Price (Rp/kg)

PENDAPATAN (Rp miliar) Sales (Rp billion) Minyak Sawit CPO Inti Sawit PK Kecambah Germinated Seeds 151,5 253,7 158,1 1.932,7 1.610,6 1.384,2 95,5 39,5 48,1 Penjualan

Penjualan produk Perseroan mengalami penurunan sebesar 21% dari Rp2.288,1 miliar di tahun 2008 menjadi Rp1.815,6 miliar di tahun 2009. Penurunan ini terutama disebabkan oleh penurunan pada volume penjualan produk kelapa sawit dan kecambah, serta harga penjualan rata-rata produk kelapa sawit yang lebih rendah. Penjualan di pasar domestik berkisar 91% dan 89% dari jumlah penjualan masing-masing di tahun 2008 dan 2009.

Penjualan produk kelapa sawit menurun 19% menjadi Rp1.762 miliar di tahun 2009 dibandingkan Rp2.186 miliar pada tahun 2008 yang disebabkan oleh penurunan volume penjualan minyak sawit sebesar 8,3% menjadi 263.458 ton di tahun 2009 dibandingkan 287.152 ton pada tahun 2008. Harga jual rata-rata minyak sawit juga menurun 9,2% dibandingkan dengan tahun 2008.

Penjualan kecambah menurun 59% dari Rp95,5 miliar di tahun 2008 menjadi Rp39,5 miliar di tahun 2009, terutama disebabkan oleh penurunan volume penjualan kecambah dari 18,4 juta di tahun 2008 menjadi 5,9 juta di tahun 2008, namun sebagian dikompensasi dengan peningkatan harga jual kecambah sebesar 29%. Volume penjualan ini menurun seiring dengan menurunnya permintaan pasar atas kecambah.

Penjualan karet menurun 46% dari Rp6,2 miliar di tahun 2008 menjadi Rp3,4 miliar di tahun 2009, terutama disebabkan oleh

Sales

The Company’s sales decreased by 21% from Rp2,288.1 billion in 2008 to Rp1,815.6 billion in 2009. This decrease was mainly due to lower sales volume of palm products and germinated seeds, as well as lower average selling price of oil palm products.

Domestic sales made up approximately 91% and 89% of total sales in 2008 and 2009, respectively.

Sales from palm products decreased by 19% from Rp2,186 billion in 2008 to Rp1,762 billion in 2009 mainly caused by 8.3% lower CPO sales volume from 287,152 tons in 2008 to 263,458 tons in 2009. Average selling price of CPO was also 9.2% lower than the previous year’s igure.

Germinated seeds sales decreased by 59% from Rp95.5 billion in 2008 to Rp39.5 billion in 2009 mainly caused by lower sales volume from 18.4 million germinated seeds in 2008 to 5.9 million germinated seeds in 2009, but partly compensated by 29% higher selling price. The lower sales volume was due to reduced demand for germinated seeds in the industry.

Slab rubber sales decreased by 46% from Rp6.2 billion in 2008 to Rp3.4 billion in 2009, primarily due to 36% lower average

VOLUME PENJUALAN (ton, kecuali kecambah dalam juta butir)

Sales Volume (tonnes, except germinated seeds in million seeds)

Minyak Sawit CPO Inti Sawit PK Kecambah Germinated Seeds 287.153 219.928 263.458 18,4 5,9 13,7 57.956 71.195 49.843 6.730 6.113 2.614 3.564 3.171 5.182 6.705 3.511 6.294 Minyak Sawit CPO Inti Sawit PK Kecambah Germinated Seeds

penurunan harga jual rata-rata sebesar 36% dari Rp12.908/kg di tahun 2008 menjadi Rp8.308/kg di tahun 2009. Volume penjualan karet mengalami penurunan sebesar 16% dari 483 ton di tahun 2008 menjadi 408 ton di tahun 2009.

Beban Pokok Penjualan

Beban pokok penjualan Perseroan pada tahun 2009 terdiri dari beban pemeliharaan kebun, panen, pembelian buah plasma, alokasi beban tidak langsung, pengolahan, penyusutan dan amortisasi, dan pergerakan persediaan. Beban pokok penjualan menurun sebesar 20% dari Rp1.512 miliar di tahun 2008 menjadi Rp1,216 miliar di tahun 2009, sejalan dengan penurunan penjualan.

Laba Kotor

Laba kotor menurun sebesar 29% dari Rp776 miliar di tahun 2008 menjadi Rp599 miliar di tahun 2009. Marjin laba kotor menurun dari 33,8% di tahun 2008 menjadi 33,0% di tahun 2009, terutama disebabkan oleh penurunan volume penjualan dan harga jual rata- rata produk kelapa sawit.

Beban Usaha

Beban usaha menurun sebesar 15% dari Rp164 miliar ditahun 2008 menjadi Rp139 miliar di tahun 2009. Penurunan ini terutama disebabkan oleh penurunan beban pemasaran yaitu pajak ekspor. Persentase beban usaha terhadap total penjualan bersih mengalami sedikit kenaikan dari 7,1% di tahun 2008 menjadi 7,7% di tahun 2009.

Laba Usaha

Laba usaha menurun sebesar 25% dari Rp611 miliar di tahun 2008 menjadi Rp460 miliar di tahun 2009. Persentase laba usaha terhadap total penjualan bersih mengalami penurunan dari 26,7% di tahun 2008 menjadi 25,3% di tahun 2009.

Penghasilan/Beban Lain-lain

Penghasilan lain-lain menurun dari Rp20 miliar di tahun 2008 menjadi beban lain-lain sebesar Rp51 miliar di tahun 2009, terutama disebabkan oleh penurunan pendapatan bunga dan kenaikan rugi selisih kurs serta beban lain-lain.

Pendapatan bunga menurun dari Rp42 miliar di tahun 2008 menjadi Rp24 miliar di tahun 2009 disebabkan oleh penurunan pendapatan bunga deposito.

Rugi selisih kurs meningkat dari Rp8 miliar di tahun 2008 menjadi Rp20 miliar di tahun 2009 dikarenakan membaiknya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS atas piutang konsolidasi dalam Dollar AS.

selling prices from Rp12,908/kg in 2008 to Rp8,308/kg in 2009. Sales volume also decreased by 16% from 483 tons in 2008 to 408 tons in 2009.

Cost฀of฀Sales

Cost of sales in 2009 consists of estate upkeep and cultivation, harvesting, plasma FFB purchase, allocation of indirect costs, processing, depreciation and amortization, and inventory movement. Costs of sales decreased by 20% from Rp1,512 billion in 2008 to Rp1,216 billion in 2009, which was in line with decreased in sales.

Gross Profit

Gross proit decreased by 29% from Rp776 billion in 2008 to Rp599 billion in 2009. Gross margin slightly increased from 33.8% in 2008 to 33,0% in 2009, mainly due to lower sales volume and average selling price of CPO, PK and germinated seeds.

Operating Expenses

Operating expenses decreased by 15% from Rp164 billion in 2008 to Rp139 billion in 2009, mainly due to lower marketing expenses such as export tax. As a percentage of total net sales, operating expenses increased slightly from 7.1% in 2008 to 7.7% in 2009.

Operating Income

Operating income decreased by 25% from Rp611 billion in 2008 to Rp460 billion in 2009. As a percentage of total net sales, operating income decreased from 26.7% in 2008 to 25.3% in 2009.

Other Income/Expenses

In 2008, the Company recorded other income in the amount of Rp20 billion which became other expenses amounting to Rp51 billion in 2009. This was mainly due to lower interest income compounded with foreign exchange loss as well as other expenses.

Interest income decreased from Rp42 billion in 2008 to Rp24 billion in 2009 due to lower interest from time deposits.

Loss on foreign exchange increased from Rp8 billion in 2008 to Rp20 billion in 2009 due to strengthening of Rupiah against US Dollar on the Company’s consolidated receivables based in US Dollar.

Beban lain-lain di tahun 2009 sebagian besar berasal dari beban lain-lain sehubungan dengan pengembangan usaha biofuels dan sumbangan ke Yayasan Putera Sampoerna.

Pajak Penghasilan

Beban pajak penghasilan menurun sebagai akibat dari penurunan laba di tahun 2009 menjadi sebesar Rp123 miliar atau turun 34% dari Rp186 miliar di tahun 2008.

Laba Bersih

Laba bersih menurun 36% dari Rp440 miliar di tahun 2008 menjadi Rp282 miliar di tahun 2009.

Neraca

Piutang Usaha

Pada tanggal 31 Desember 2009, piutang usaha mengalami peningkatan sebesar 411% menjadi Rp16 miliar dari Rp3 miliar pada 31 Desember 2008 yang merupakan akibat dari peningkatan penjualan di akhir tahun 2009. Seluruh piutang usaha telah tertagih dalam waktu 30 hari.

Jumlah Aktiva

Jumlah aktiva Perseroan pada tanggal 31 Desember 2009 sebesar Rp2.262 milliar, meningkat sebesar 5% dibandingkan dengan jumlah aktiva pada tanggal 31 Desember 2008 sebesar Rp2.156 miliar. Kenaikan ini terutama disebabkan oleh peningkatan aktiva tidak lancar dari Rp1.353 miliar di tahun 2008 menjadi Rp1.646 miliar di tahun 2009, yang disebabkan oleh :

• peningkatan tanaman perkebunan dari Rp734 miliar di

tahun 2009 menjadi Rp807 miliar di tahun 2008 dikarenakan

penanaman baru di tahun 2009;

• peningkatan aset tetap dari Rp486 miliar di tahun 2008

menjadi Rp591 miliar di tahun 2009 dikarenakan konstruksi satu pabrik baru pengolahan inti sawit di PT Mutiara Bunda Jaya dan satu pabrik baru pengolahan kelapa sawit di PT Gunung Tua Abadi yang masing-masing beroperasi di bulan

Juli 2009 dan Februari 2010;

• peningkatan taksiran tagihan pajak restitusi dari Rp14 miliar

di tahun 2008 menjadi Rp64 miliar di tahun 2009 dikarenakan

kelebihan pembayaran pajak penghasilan; dan

• uang muka investasi sebesar Rp49 miliar di tahun 2009 untuk

pengambilalihan 75,5% saham PT National Sago Prima. Jumlah Kewajiban

Jumlah kewajiban pada tanggal 31 Desember 2009 mengalami penurunan menjadi Rp475 milliar atau sebesar 18% dibandingkan dengan jumlah kewajiban per tanggal 31 Desember 2008 sebesar Rp578 miliar. Penurunan ini terutama disebabkan oleh penurunan hutang usaha – pihak ketiga.

Other expenses in 2009 was mainly caused by expenses related with biofuel business development and donation to Putera Sampoerna Foundation.

Corporate฀income฀tax

Corporate income tax expense decreasedm which was effected by decreased in income in 2009 to become Rp123 billion or 34% lower than Rp186 billion in 2008.

Net Income

Net income decreased by 36% from Rp440 billion in 2008 to Rp282 billion in 2009.

Dalam dokumen Sampoerna Agro Tbk. (Halaman 86-88)