• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kinerja Pengawasan Berkaitan dengan Otonomi Daerah;

Dalam dokumen laporan lembaga pusjakum (Halaman 118-143)

BAB V KINERJA DALAM BIDANG PENGAWASAN ATAS PELAKSANAAN

A. Kinerja Pengawasan Berkaitan dengan Otonomi Daerah;

Daerah

Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia selama Tahun Sidang Kedua, Agustus 2015 s.d Juli 2016 telah menghasilkan 25 (dua puluh lima) Hasil Pengawasan Atas Pelaksanaan Undang-Undang mengenai: (i) Otonomi Daerah, Hubungan Pusat dan Daerah, Pembentukan, Pemekaran dan Penggabungan Daerah; (ii) Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Ekonomi Lainnya; (iii) Pendidikan, Agama, Kesehatan, Kebudayaan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak; dan (iv) APBN, Pajak, serta Usaha Mikro Kecil dan Menengah.

Dari 25 (dua puluh lima) Hasil Pengawasan Atas Pelaksanaan Undang-Undang yang menjadi bidang kewenangan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, terbagi atas: (i) 8 (delapan) Hasil Pengawasan Atas Pelaksanaan Undang-Undang yang berkaitan dengan Otonomi Daerah, Hubungan Pusat dan Daerah, Pembentukan, Pemekaran dan Penggabungan Daerah; (ii) 9 (sembilan) Hasil Pengawasan Atas Pelaksanaan Undang-Undang yang berkaitan dengan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Ekonomi Lainnya; (iii) 4 (empat) Hasil Pengawasan Atas Pelaksanaan Undang-Undang yang berkaitan dengan Pendidikan, Agama, Kesehatan, Kebudayaan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak; dan (iv) 4 (empat) Hasil Pengawasan Atas Pelaksanaan Undang-Undang yang berkaitan dengan APBN, Pajak, serta Usaha Mikro Kecil dan Menengah.

1. Keputusan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Nomor

17/DPD RI/I/2015-2016 tentang Hasil Pengawasan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia atas Pelaksanaan Undang- Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang disahkan tanggal 29 Oktober 2015.

Penataan Ruang adalah salah satu kebijakan pembangunan nasional yang menjadikan ruang sebagai matra pembangunan untuk semua program atau kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat. Sebagai matra pembangunan, kedudukan penataan ruang harus dapat memberi kepastian hukum bagi semua stakeholder. Saat ini penyelenggaraan penataan ruang yang mengacu kepada UU No.26 tahun 2007 telah memasuki masa 9 (sembilan) tahun dalam praktek implementasinya.

Berdasarkan data dan laporan yang berkembang di masyarakat, mekanisme penyelenggaraan penataan ruang baik di pusat dan di daerah masih memiliki berbagai kendala, salah satunya adalah pada aspek percepatan penyusunan dan penetapan rencana ruang wilayah baik untuk tingkat provinsi, kabupaten dan kota. Untuk dapat menyelenggaraan kegiatan penataan ruang yang terdiri dari aspek perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian dibutuhkan adanya kepastian hukum berupa penetapan Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (Perda RTRWP dan RTRW Kab/Kota). Peraturan Daerah (Perda) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)

merupakan salah satu perangkat dokumen teknis dan peraturan daerah yang diharapkan mampu untuk memberikan kepastian hukum dan menjadi acuan sinkronisasi serta koordinasi pelaksanaan program pembangunan yang telah disusun melalui RPJM. Saat ini perkembangan penyusunan rencana tata ruang (RTRW) Provinsi dan Kabupaten/Kota belum sepenuhnya memenuhi target pencapaian yang ditetapkan oleh UU No.26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Seharusnya pada tahun 2010 seluruh RTRW Kabupaten/kota sudah diperdakan. Hingga saat ini, dari total 34 Provinsi yang telah selesai Perda RTRWnya sebanyak 25 Provinsi, dan dari 399 Kabupaten yang telah selesai sebanyak 329 Kabupaten, sedangkan untuk Kota dari 93 Kota yang sudah menyelesaikan Perda RTRW sebanyak 84 Kota.Untuk memahami kendala dan permasalahan tersebut diperlukan penanganan yang tepat dan efektif serta dibutuhkan masukan-masukan dari daerah untuk memperbaiki sistem kerja penyelenggaraan penataan ruang yang berjalan saat ini. Hasil pengawasan Komite I DPD RI menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

1. Undang-Undang Penataan Ruang harus menjadi acuan dalam

pelaksanaan Undang-Undang sektoral lain, karena implementasi Undang-Undang Penataan Ruang ditentukan juga oleh Undang- Undang sektoral, terutama sektor lingkungan hidup dan kehutanan, pertanian, pertambangan dan pemukiman;

2. Pelaksanaan Undang-Undang Penataan Ruang harus mampu

mengharmoniskan kebijakan di bidang tata ruang antara pusat dan daerah dengan mengedepankan prinsip-prinsip keadilan, kepastian hukum, dan kesejahteraan masyarakat sebagaimana termaktub dalam asas dan tujuan pembentukan Undang- Undang Penataan Ruang;

3. Undang-Undang Penataan Ruang dalam realitanya belum

mampu menjawab tantangan dan perkembangan dinamika pembangunan, menjamin keadilan dan kesejahteraan (kelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan), serta belum mampu menyelesaikan persoalan-persoalan penataan ruang yang terjadi di berbagai daerah seperti: masalah Areal Peruntukan Lain (APL), lahan cadangan pangan, lahan untuk kajian lingkungan hidup strategis, pertambangan, dan pencadangan lahan untuk perumahan serta penyediaan kawasan hijau di perkotaan.

4. Koordinasi penyelenggaraan penataan ruang yang masih lemah

menyebabkan belum optimalnya pencapaian suatu kesatuan visi, kebijakan, program dan langkah antar masing-masing pemangku kepentingan (stakeholders) dalam penyelenggaraan penataan ruang.

2. Keputusan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Nomor

18/DPD RI/I/2015-2016 tentang Hasil Pengawasan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia atas Pelaksanaan Undang- Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 tentang

Pemerintahan Daerah Khususnya Mengenai Urusan Pemerintahan dan Penataan Daerah disahkan tanggal 29 Oktober 2015.

Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 sebagaimana telah diubah keduakalinya dengan Undang-Undang Nomor 9 tahun 2015 tentang Pemerintahan Daerah telah efektif berlaku sejak diundangkan. Undang-Undang ini secara subtansial mengatur pokok-pokok penyelenggaraan pemerintahan daerah. Undang- Undang Pemda ini merupakan perubahan dari Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, yang secara substansial mengeluarkan pokok-pokok pengaturan mengenai desa dan pemilihan kepala daerah menjadi undang-undang tersendiri.

Undang-Undang Nomor 23 tahun 2015 ini memberikan arah baru praktik penyelenggaraan pemerintahan daerah. Beberapa kewenangan yang ‘bergeser’ dari ranah kewenangan Kabupaten/Kota menjadi kewenangan Provinsi. Hal ini menimbulkan tafsir bahwa pemerintah pusat ingin lebih dapat mengendalikan daerah melalui tangan provinsi sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat di daerah. Adapun beberapa kewenangan yang bergeser tersebut diantaranya adalah pengelolaan sumberdaya mineral, kelautan dan kehutanan. Selain itu, kewenangan pengelolaan pendidikan dasar dan menengah juga mengalami perpindahan kewenangan dari Kabupaten/Kota menjadi kewenangan Provinsi.

Dalam pengawasan UU Pemda ini, DPD RI hanya memfokuskan untuk menelaah hubungan pemerintah pusat dan daerah, pengelolaan keuangan daerah dan penataan daerah.

Dalam catatan dan temuan DPD RI di lapangan, hal tersebut cukup menimbulkan gejolak terutama, baik di level pemerintahan Kabupaten/Kota maupun Provinsi yang mendapatkan pelimpahan kewenangan baru. Beberapa hal yang menjadi catatan DPD RI terkait dengan perubahan kewenangan tersebut yang mengganggu jalannya pemerintahan dan rendahnya penyerapan anggaran adalah terkait dengan belum adanya peraturan pelaksana UU Pemda yang diterbitkan oleh pemerintah.

Selain itu, penataan daerah juga menjadi concern DPD RI terutama adanya mekanisme baru dalam hal penataan daerah yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 tahun 2015. Hal tersebut berkonsekuensi terhadap perubahan peraturan pelaksana Undang- Undang Pemda yang mengatur mengenai penataan daerah. DPD RI mendorong pemerintah untuk segera menerbitkan Peraturan Pemerintah mengenai Desain Besar Penataan Daerah untuk memberikan arah kebijakan penataan daerah, dan juga segera melakukan revisi Peraturan Pemerintah pengganti Peraturan Pemerintah Nomor 78 tahun 2007 tentang Tata Cara Pembentukan, Penghapusan dan Penggabungan Daerah. Pada prinsipnya, terkait dengan kebijakan penataan daerah, DPD RI mendorong agar pembentukan daerah persiapan DOB harus mengutamakan sebesar- besarnya kepentingan strategis nasional dan daerah dengan

memprioritaskan daerah-daerah perbatasan, daerah tertinggal, daerah terluar, daerah termiskin dan daerah terbelakang.

Komite I DPD RI mendesak pemerintah untuk melakukan terobosan hukum untuk menyelesaikan beberapa persoalan yang berkaitan dengan peralihan urusan pemerintahan dan perubahannya yang berpotensi menimbulkan permasalahan di daerah khususnya di Kabupaten/Kota terutama urusan kehutanan, kelautan dan pertambangan, memberikan kewenangan bidang Perkebunan kepada Kabupaten/Kota sebagai salah satu sumber pembanguan di Kabupetan/Kota, Mempertimbangkan kembali pembagian urusan yang berimplikasi pada pembagian kewenangan antara Pemerintah Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/Kota khususnya di bidang Pelayanan Dasar yang berimplikasi pada tata kelola aset dan manajemen, Mempercepat penyelesaian sejumlah peraturan pelaksana Undang-Undang No. 23 tahun 2014, baik dalam bentuk Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden maupun Peraturan Menteri, Menerbitkan petunjuk teknis pelaksanan belanja hibah dan bantuan sosial dengan mengedepankan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan tepat sasaran, mendesak pemerintah untuk segera melakukan perubahan terhadap Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah sebagai konsekuensi dari perubahan kewenangan dan urusan yang diatur dalam UU 23 Tahun 2014 dengan memberikan porsi yang berkeadilan bagi daerah dan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah, mendesak pemerintah segera menyelesaikan Peraturan Pemerintah yang mengatur Penataan Daerah dan Peraturan Pemerintah tentang Desain Besar Penataan Daerah (Desertada) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 9 tahun 2015 Tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah dengan memberikan ruang yang luas bagi keterlibatan daerah dalam penyusunannya. Atas pertimbangan berbagai praktik penyelenggaraan pemerintahan daerah yang mengarah pada pengurangan kewenangan Kabupaten/Kota yang dikhawatirkan dapat mencederai prinsip dan asas Otonomi Daerah dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia dan sebagai upaya mencegah kanalisasi desentralisasi yang mengarah pada konflik maka perlu untuk dilakukan kajian (implementasi) revisi terbatas UU No. 23 tahun 2014.

Hasil Pengawasan Komite I Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Atas Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah Sebagaimana Telah Diubah Keduakalinya Dengan Undang-Undang Nomor 09 Tahun 2015 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah (Khususnya Mengenai Urusan Pemerintahan Dan Penataan Daerah) disahkan pada Masa Sidang III Tahun Sidang 2015-2016 pada Sidang Paripurna ke-4 DPD RI tanggal 17 Maret 2016.

3. Keputusan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Nomor 27/DPD RI/II/2015-2016 tentang Hasil Pengawasan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia atas Pelaksanaan Undang- Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa disahkan tanggal 18 Desember 2015.

Pengakuan terhadap eksistensi Desa atau yang disebut dengan nama lain secara konstitusional diatur dalam Pasal 18B UUD 1945 yang menyebutkan: “Negara mengakui dan menghormati kesatuan- kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang.” Hal ini mensiratnya bahwa Desa atau yang disebut dengan nama lain telah ada jauh sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia terbentuk.

Desa pada zaman Kuno ditandai dengan gelombang masuknya nenek moyang Bangsa Indonesia ke wilayah Indonesia. Desa pada zaman Kerajaan yang ditandai dengan adanya berbagai komunitas atau kelompok masyarakat sebagai sub-kerajaan yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara. Selain itu, Desa pada zaman penjajahan yang ditandai dengan adanya berbagai macam pengaturan desa yang dilakukan oleh penjajah Belanda dan Jepang.

Pada masa Reformasi pengaturan mengenai Desa ditandai dengan hadirnya UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Undang-Undang ini didasarkan pada Pasal 18 UUD 1945 sebelum perubahan, Ketetapan MPR-RI No. X/MPR/1998 tentang Pokok-Pokok Reformasi Pembangunan Dalam Rangka Penyelamatan dan Normalisasi Kehidupan Nasional sebagai Hukum Negara, Ketetapan MPR-RI No. XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaran Negara yang Bersih dan Bebas KKN, serta Ketetapan MPR-RI Nomor XV.MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah. Undang- Undang ini hanya membatasi Pengertian Desa berdasarkan Penjelasan Pasal 18 sebelum perubahan UUD 1945.

Kehadiran Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah merupakan bentuk penyempurnaan dari undang-undang sebelumnya. Pengaturannya berdasarkan Perubahan UUD 1945 sehingga dasar hukum yang digunakan adalah Pasal 18, Pasal 18A, dan Pasal 18B. Secara substansial UU No. 32 tahun 2004 mengatur mengenai 3 hal yaitu: pemerintahan daerah, pemilihan Kepala Daerah dan Desa. Ketentuan mengenai Desa diatur dalam Bab XI Pasal 200 hingga Pasal 216 dalam UU tersebut.

Hasil pengawasan merupakan temuan-temuan yang didapatkan baik dari hasil analisis terhadap peraturan perundang-undangan maupun dari kondisi faktual berdasarkan hasil rapat kerja dan kunjungan kerja yang dilakukan. Permasalahan implementasi UU Desa diklasifikasikan kedalam beberapa bagian yang kemudian menjadi temuan penting dalam pengawasan yang dilakukan. Hasil pengawasan terbagi atas: (1) Belum terbitnya sejumlah regulasi Teknis Pelaksanaan UU Desa; (2) Sosialiasi yang masih kurang baik

terhadap UU Desa maupun peraturan pelaksanaannya; (3) aparatur Desa yang belum memadai; (4) Polemik Kelembagaan; (5) Pendamping Desa; dan (6) Pengaturan Desa Adat.

Berdasarkan hasil pengawasan DPD RI terhadap UU No.6 Tahun 2016 tentang Desa dapat disimpukan sebagai berikut:

a. Implementasi UU Desa masih dirasakan belum optimal

disebabkan karena beberapa hal antara lain:

1) Belum terbitnya sejumlah aturan pelaksana sebagai petunjuk

pelaksana UU Desa seperti Peraturan Pemerintah tentang tata cara Pemilihan Kepala Desa; Pemberhentian Kepala Desa; Musyawarah Desa; perangkat Desa; Pemberhentian Perangkat Desa; Penghasilan Kepala Desa dan Perangkat Desa; tata cara pengelolaan kekayaan milik Desa; dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa dan Rencana Kerja Pembangunan Desa. Sedangkan PP yang sudah terbit adalah PP Nomor 60 Tahun 2014 yang diubah dengan PP Nomor 22 Tahun 2015 dan PP Nomor 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.

2) Tingkat pemahaman tentang penyelenggaraan

Pemerintahan Desa, Pelaksanaan Pembangunan Desa, Pembinaan Kemasyarakatan dan Pemberdayaan Masyarakat masih sangat minim bagi aparatur Desa.

3) Belum optimalnya fungsi Pemerintah Pusat dalam 1)

Menyiapkan peraturan pelaksanaan (PP, Permen-Desa dan Keuangan); 2) Melakukan realokasi belanja K/L program berbasis Desa ke dana Desa; 3) Melakukan pendampingan kepada Desa; dan 4) Melakukan pemantauan evaluasi. Sedangkan fungsi pemerintah daerah belum optimal dalam menyiapkan: 1) Perda-perda yang berkaitan dengan Desa; 2) Perbup/Perwali tentang yang berkaitan dengan Perda Desa; 3) Pelatihan/bimtek ke aparatur Desa; 4) pelaksanaan pemantauan; dan 5) Laporan pelaksanaan kegiatan penyelenggaraan Desa.

4) Pendampingan Desa telah telah diatur secara teknis melalui

Permendesa Nomor 3 Tahun 2015 tentang Pendampingan Desa, namun belum dilaksanakan secara optimal;

5) Perlu untuk dilaksanakan bimbingan teknis dan diklat bagi

aparatur Desa secara berkala yang terkait dengan tupoksi aparatur Desa;

6) Belum tersosialisasinya sejumlah peraturan yang sudah

diterbitkan mulai dari PP 22 Tahun 2015 tentang perubahan PP 66 Tahun 2014 dan Peraturan Menteri (lima Permendes DDTT, empat Permendagri, dan satu Permenkeu)

b. Masih terbatasnya kualitas Aparatur yang ada di Desa sehingga

memerlukan upaya ekstra dari Pemerintah dan Pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas aparatur Desa terutama dalam hal:

1) Peningkatan kualitas Pendidikan;

2) Peningkatan kemampuan Pengelolaan BUM Des dalam

rangka peningkatan ekonomi Desa; dan

3) Penyusunan Rencana Pembangunan Desa.

c. Tingkat kesejahteraan bagi perangkat desa masih belum ideal.

Masih terjadi adanya disparitas tingkat kesejahteraan antara Kepala Desa dengan Perangkat Desa khususnya dengan Sekretaris Desa. Sementara itu, Penghasilan tetap Pemerintah Desa (Jan-April 2015) yang bersumber dari APBN belum terrealisasi, Penetapan Dana Desa (ADD), bagian dari hasil Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PD – RD) dan bantuan-bantuan lain harus tertuang dalam RAPBDes 2015 juga belum jelas. Sementara pengelolaan aset desa belum optimal dan belum menjadi salah satu sumber pendapatan bagi desa.

d. Masih ada permasalahan yang belum terselesaikan terkait

dengan distribusi ADD yang bersumber dari APBN antara Kementerian DDTT, dan Kementerian Dalam Negeri dengan Kementerian Keuangan.

e. Belum tersedianya sejumlah regulasi baik di tingkat Pemerintah

maupun di tingkat Pemerintah Daerah yang mengatur mengenai Desa Adat. Sehingga pengaturan mengenai desa adat yang diatur dalam Bab XIII, Pasal 96 sampai dengan Pasal 111 UU Desa belum dapat diimplementasikan dengan baik.

Terkait dengan keberlakuan UU No. 6 Tahun 2014 dan berdasarkan hasil temuan pengawasan sebagaimana diuraikan di atas maka berkaitan dengan implementasi UU Desa perlu terus melakukan pengawasan terutama terkait dengan: 1) tahapan realisasi penyaluran Dana Desa sebagaiamana diatur dalam pasal 16 PP No. 22 Tahun 2015; 2) Pemantauan terhadap beberapa regulasi teknis sebagai pelaksanaan UU No. 6 Tahun 2014; 3) Pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa secara serentak sebagai amanat dari Pasal 31 UU No. 6 Tahun 2014; dan terakhir 4) memastikan rekomendasi DPD RI ini dijadikan bahan pertimbangan DPR RI dan sekaligus ditindaklanjuti oleh Pemerintah.

4. Keputusan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Nomor

26/DPD RI/II/2015-2016 tentang Hasil Pengawasan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Atas Pelaksanaan Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara disahkan tanggal 18 Desember 2015.

Kehadiran UU No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (UU ASN) membawa sejumlah hal yang perlu disikapi oleh aparatur pemerintah. Undang-undang ini mensyaratkan penerapan kinerja sebagai basis dan parameter utama beroperasinya birokrasi. Sedangkan dalam hal pengelolaan aparatur pemerintah, Undang- Undang ini menggeser orientasi pengelolaan SDM aparatur dari manajemen administrasi pegawai menjadi manajemen sumberdaya manusia (human capital).

Di Indonesia, walaupun reformasi sudah berjalan, namun masih ada kendala lain yang harus dihadapi, antara lain: 1) struktur organisasi yang kurang proporsional karena kelembagaan pemerintah belum sepenuhnya berprinsip pada organisasi yang efisien dan rasional, 2) rendahnya tingkat responsibilitas di lingkungan instansi pemerintahan dalam mengemban tugas dan amanahnya, 3) praktik KKN belum sepenuhnya teratasi, 4) pelayanan publik belum sesuai dengan harapan masyarakat, 5) terabaikannya nilai etika dan budaya kerja serta sistem dan prosedur kerja yang kurang efektif dan efisien di lingkungan instansi pemerintahan.

Secara normatif UU ASN telah melakukan terobosan hukum yang cukup progresif semisal: pembentukan Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) yang berwenang melakukan seleksi pejabat eselon I dan II; pengisian jabatan eselon I dan II dari non-PNS; pengalihan peran Pejabat Pembina Kepegawaian kepada pejabat karir tertinggi; penghapusan eselon III ke bawah; pemberhentian PNS (Pegawai Negeri Sipil) atas dasar kinerja yang buruk; hingga sanksi pidana bagi pihak-pihak yang melakukan kecurangan dalam pengadaan CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) serta promosi PNS.

Tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) merupakan isu yang paling mengemuka dalam pengelolaan administrasi publik dewasa ini. Tuntutan untuk melaksanakan penyelenggaraan pemerintahan yang baik sejalan dengan meningkatnya pengetahuan masyarakat, perkembangan teknologi dan semakin dewasanya kehidupan berdemokrasi. Prinsip-prinsip penerapan tata pemerintahan yang baik adalah terjadinya proses pengelolaan pemerintahan yang demokratis, profesional, menjunjung tinggi supremasi hukum dan hak asasi manusia, desentralistik, partisipatif, transparansi, keadilan, bersih dan akuntabel, efektif dan efisien. Salah satu bentuk tata pemerintahan yang baik tersebut adalah terlaksananya pelayanan publik dengan baik (pelayanan prima). Unsur pelayanan yang harus dipenuhi diantaranya adalah kesederhanaan, kepastian, keamanan, keterbukaan, efisiensi, ekonomis, keadilan dan ketepatan waktu. Penyelenggaraan tata pemerintahan yang baik adalah merupakan agenda utama pemerintahan Indonesia di era pasca reformasi. Agenda ini muncul akibat dorongan yang sangat kuat dari tuntutan reformasi dimana selama lebih kurang 32 tahun rezim orde baru para birokrasi merupakan alat dalam mempertahankan kekuasaan oleh penguasa.

Cakrawala baru birokrasi telah terbuka untuk lebih berperan dalam percepatan proses perubahan sosial masyarakat, dari masyarakat tradisional menjadi masyarakat yang semakin maju dan modern. Birokrasi yang selama ini dikenal dengan konotasi negatif karena lamban, prosedur yang berbelit, kolusif, korupsi, tambun dan sebagainya, sudah sangat mendesak untuk melakukan perubahan, penyempurnaan dan perubahan yang relatif mendasar dalam rangka meningkatkan vitalitas birokrasi dalam pelaksanaan tugas

pemerintahan dan pembangunan, pelayanan dan pengayoman kepada masyarakat.

UU ASN telah memberikan nuansa baru yang lebih baik dalam manajemen SDM aparatur di Indonesia, dengan beberapa perubahan signifikan sebagai berikut:

a. Memberikan koridor cukup baik dalam pengaturan PPPK, karena

selama ini manajemen pegawai honorer sering menimbulkan masalah dalam pengelolaan pegawai;

b. Secara filosofis UU ASN hanya mengenal eselonisasi hingga

tingkat ke-2 sebagai Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT), namun secara implisit eselonisasi tetap dipertahankan dengan nama Jabatan Administrasi;

c. Memberi pengakuan dan tanggung jawab kehormatan kepada

JPT yang ada dalam birokrasi;

d. Pengaturan kelembagaan dalam manajemen SDM aparatur, yang

berpeluang meminimalisir potensi tumpang tindih kewenangan antara Menpan-RB dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Badan Kepegawaian Negara (BKN), Lembaga Administrasi Negara (LAN), dan KASN;

e. Dasar pembentukan KASN sebagai manifestasi praktik

governance di bidang pendayagunaan aparatur Negara;

f. Bentuk pengembangan karier PNS disebutkan secara eksplisit

dengan pemberian kesempatan praktik kerja di instansi lain termasuk perusahaan swasta;

g. Membuka peluang diberhentikannya PNS atas alasan kinerja;

h. Memungkinkan pengisian JPT terbuka secara nasional;

i. Memperkenalkan sistem kontrak pada JPT yang berlaku lima

tahun, sehingga tidak ada pengkaplingan jabatan oleh seseorang atau sekelompok orang;

Beberapa catatan terhadap manajemen ASN di atas, telah menumbuhkan banyak harapan baru bagi penyelenggaraan sistem manajemen kepegawaian negara yang lebih baik. Terutama adalah harapan untuk memiliki ASN yang netral dan bersih dari muatan politis serta memiliki profesionalitas dan kompetensi di bidangnya sejak mulai dari rekrutmen sampai dengan pengangkatan dalam jabatan, karena harus didasarkan pada sistem merit.

Dalam Pasal 1 UU ASN disebutkan bahwa sistem merit adalah kebijakan dan manajemen ASN yang berdasarkan pada kualifikasi, kompetensi, dan kinerja secara adil dan wajar dengan tanpa membedakan latar belakang politik, ras, warna kulit, agama, asal usul, jenis kelamin, status pernikahan, umur, atau kondisi kecacatan. Dengan demikian harapan terhadap kinerja ASN juga akan lebih baik, sehingga mampu memberikan dukungan terhadap Reformasi Birokrasi. Bahkan dikemukakan Effendi (2014), bahwa setidaknya UU ASN akan cukup memberikan landasan hukum yang kuat untuk melaksanakan reformasi aparatur negara yang lebih luas dari

Reformasi Birokrasi yang dilaksanakan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2015-2019.

Selain itu tidak akan ada lagi dikotomi PNS Pusat dan Daerah dalam UU ASN yang ada hanya PNS dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Semuanya sama menjadi Aparatur Sipil Negara dan memiliki hak yang sama dalam pembinaan, pendidikan dan pelatihan serta kesempatan yang sama dalam

Dalam dokumen laporan lembaga pusjakum (Halaman 118-143)