BAB VI KINERJA DALAM BIDANG PENGAWASAN ATAS PENGELOLAAN
B. Tindak Lanjut oleh Badan Akuntabilitas Publik
Nomor 19/DPD RI/I/2015-2016 tentang Hasil Pengawasan Atas Penindaklanjutan Laporan Hasil Pemeriksaan BPK RI Masa (Masa Sidang I Tahun Sidang 2015-2016) disahkan tanggal 29 Oktober 2015
DPD RI sebagai lembaga yang diharapkan mampu menjalankan peran dan kontribusi dalam menyuarakan kepentingan daerah dengan berbagai langkah kreatifitas dari anggota dan lembaga dalam merespon
tantangan dan harapan masyarakat. Dalam fungsi pengawasan yang dimiliki terutama pengawasan berkaitan dengan akuntabilitas publik, DPD RI memiliki alat kelengkapan Badan Akuntabilitas Publik (BAP) yang diberi tugas menjalankan fungsi pengawasan khususnya menindaklanjuti Laporan Hasil Pemeriksaan BPK RIyang disampaikan kepada DPD RIdanyang berindikasi kerugian negara, secara kritis BAP melakukan pengawasan dengan melakukan tindakan korektif terhadap kasus-kasus yang merugikan keuangan negara, untuk menjamin akuntabilitas pengelolaan keuangan negara serta turut mendorong penerapan tata kelola pemerintah yang bertanggungjawab dan ikut mewujudkan pemerintahan yang bersih dan kepemerintahan yang baik. Untuk tujuan tersebut BAP. Dalam melaksanakan tugasnya,BAP menyelenggarakan serangkaian rapat kerja bersama Gubernur dan/atau yang mewakili serta dihadiri oleh bupati dan walikota dan atau yang mewakili, inspektorat provinsi/kabupaten/kota serta SKPD-SKPD terkait untuk membahas tindak lanjut rekomendasi BPK atas ketidakpatuhan terhadap peraturan perundangan yang telah mengakibatkan/berindikasi adanya kerugian negara, potensi kerugian negara, dan kekurangan penerimaan negara di daerah; juga menyerap aspirasi pemerintah daerah, terkait kendala tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan BPK dan permasalahan daerah yang perlu ditindaklanjuti oleh BAP DPD dalam rapat konsultasi bersama BPK guna mencari solusi penyelesaian.
Selama masa Tahun Sidang 2015-2016, Tim Kerja BAP DPD RI telah melakukan rapat kerja di 11 provinsi, yang meliputi 63 entitas pemerintah daerah provinsi/kabupaten/kota, masing-masing sebagai berikut:
1. Provinsi Jawa Timur, meliputi tujuh entitas Pemerintah Daerah, yaitu
Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten Lamongan, Kabupaten Mojokerto; Kabupaten Sampang, Kabupaten Sidoarjo dan Kota Mojokerto pada tanggal 10-12 September 2015.
2. Provinsi Sulawesi Selatan, meliputi 10 entitas, yaitu Provinsi Sulawesi Selatan, Kabupaten Barru, Kabupaten Bulukumba, Kabupaten Janeponto, Kabupaten Kepulauan Selayar, Kabupaten Sidenreng Rappang, Kabupaten Takalar, Kota Makassar, Kota Palopo, dan Kota Pare Pare, pada tanggal 10-12 September 2015.
3. Provinsi Sumatera Utara, meliputi enam entitas, yaitu Provinsi
Sumatera Utara, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Batubara, Kota Binjai, dan Kota Medan pada tanggal 10-12 September 2015.
4. Provinsi Sulawesi Utara, meliputi empat entitas, yaitu Provinsi Sulawesi Utara, Kabupaten Minahasa Selatan, Kabupaten Tenggara, Kota Manado, serta Bank BTN Kantor Cabang Manado pada pada tanggal 15-17 Oktober 2015.
5. Provinsi Kalimantan Timur, meliputi empat entitas, yaitu Provinsi
Kalimantan Timur, Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Kutai Kertanegara, dan Kota Balikpapan. Selain itu, BAP DPD RI juga melakukan pemantauan penindaklanjutan LHP BPK pada PT. Pupuk Kalimantan Timur, pada tanggal 15-17 Oktober 2015.
6. Provinsi Jawa Barat, meliputi tujuh entitas, yaitu Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bogor, Kabupaten Karawang, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Sukabumi, dan Kota Tasikmalaya pada tanggal 11-13 Februari 2016.
7. Provinsi Aceh, meliputi lima entitas, yaitu Provinsi Aceh, Kabupaten Aceh Tenggara, Kabupaten Aceh Timur, Kabupaten Bener Meriah, dan Kota Sabangpada tanggal 11-13 Februari 2016.
8. Provinsi Sulawesi Tenggara, meliputi lima entitas, yaitu Kabupaten
Konawe Utara, Kabupaten Kolaka Timur, Kabupaten Konawe Selatan, Kabupaten Konawe, dan Kabupaten Bombana pada tanggal 11-13 Februari 2016.
9. Provinsi Bengkulu, meliputi lima entitas, yaitu Provinsi Bengkulu,
Kabupaten Bengkulu Tengah, Kabupaten Seluma, Kabupaten Mukomuko, dan Kota Bengkulu pada tanggal 9-11 Juni 2016.
10. Provinsi Kalimantan Selatan, meliputi lima entitas, yaitu Provinsi
Kalimantan Selatan, Kabupaten Tabalong, Kabupaten Banjar, Kabupaten Kotabaru, dan Kota Banjarmasin pada tanggal 9-11 Juni 2016.
11. Provinsi Nusa Tenggara Timur, meliputi lima entitas, yaitu Provinsi
Nusa Tenggara Timur, Kabupaten Alor, Kabupaten Ende, Kabupaten Manggarai, dan Kota Kupang pada tanggal 9-11 Juni 2016
Berdasarklan hasil tindak lanjut atas hasil pemeriksaan BPK oleh BAP pada Tahun Sidang 2014-2015 ini, DPD telah menetapkan Keputusan DPD RI Nomor 19/DPD RI/I/2015-2016 tentang Hasil Pengawasan DPD RI Atas Penindakan Lanjutan Rekomendasi BPK, dengan merekomendasikan sebagai berikut:
1. Umum
a) Entitas pemerintah daerah diharapkan dapatmeningkatkan kualitas pengelolaan keuangan daerah, setidaknya setingkat lebih baik dari opini LKPD sekarang.
b) Entitas pemerintah daerah yang tingkat penyelesaian tindak lanjut rekomendasi hasil pemeriksaan BPK masih rendah dan menyisakan tunggakan kasus sebelum tahun 2008 agar berupaya meningkatkan penyelesaiannya dengan membuat rencana aksi secara khusus selama enam bulan, sehingga dapat terhindar dari penyelesaian secara hukum.
c) Terkait penyelesaian penyampaian pertanggungjawaban dan
pengembalian nilai kerugian negara ke kas negara/daerah yang mempunyai nilai signifikan, terutama tunggakan kasus-kasus pemeriksaan periode lampau yang telah diberikan tenggang waktu enam bulan kepada entitas pemerintah daerah (Inspektur Daerah dan SKPD), maka apabila lewat waktu enam bulan belum dapat menindaklanjutinya dipertimbangkan untuk diproses lebih lanjut sesuai peraturan yang berlaku.
2. Pemantauan Rekomendasi BPK Yang Belum Diselesaikan
a) Perlunya memberikan apresiasi dan penghargaan terhadap entitas pemerintah provinsi/kabupaten/kota yang telah berhasil memperoleh opini WTP atas LKPD dan berharap dapat
mempertahankannya serta menjadi motivasi bagi entitas pemerintah kabupaten/kota lainnya di Indonesia.
b) Meminta kepada Pemerintahan Daerah (DPRD dan Pemerintah Daerah) agar:
1) Tim Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan BPK yang dibentuk oleh Pemerintah Daerah sebagai dimaksud dalam Pasal 8 Permendagri Nomor 13 Tahun 2010 tanggal 27 Januari 2010 tentang Pedoman Pelaksanaan Fungsi Pengawasan DPRD Terhadap Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan dan Majelis Pertimbangan TP/TGR (TPKN) melaksanakan tugasnya secara efektif.
2) Menindaklanjuti laporan hasil pemeriksaan BPK selambat- lambatnya 60 (enam puluh) hari setelah laporan hasil pemeriksaan diterima sesuai dengan ketentuan Pasal 20 ayat (3) UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan Dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, sehingga terhindar dari sanksi administratif dan/atau pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 20 ayat (5) dan Pasal 26 ayat (2).
3) Rencana aksi tindaklanjut hasil pemeriksaan BPK yang dibuat oleh pemerintah daerah harus bersifat mengikat, dilaksanakan secara efektif, dan bukan hanya sekedar formalitas, terutama tindak lanjut rekomendasi temuan pemeriksaan ketidakpatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang mengakibatkan kerugian negara, berpotensi kerugian negara, dan kekurangan penerimaan.
4) Menindaklanjuti kasus-kasus kerugian negara sebagai akibat hubungan keperdataan atau perikatan/perjanjian dengan pihak ketiga. Kepala satuan kerja perangkat daerah wajib segera melakukan tuntutan ganti rugi kepada pihak ketiga setelah mengetahui bahwa dalam satuan kerja perangkat daerah yang bersangkutan terjadi kerugian. Penyelesaian kerugian dengan pihak ketiga dapat dilakukan dengan berpedoman pada ketentuan penyelesaian sengketa yang diatur dalam dokumen kontrak.
c) DPD RI akan melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1) Memantau hasil tindak lanjut rekomendasi BPK terkait penyelesaian kerugian negara setelah rapat kerja bersama entitas pemerintah provinsi/kabupaten/kota.
2) Meminta kesiapan BPK dalam memenuhi ketentuan Pasal 14 UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan Dan Tanggung Jawab Keuangan Negara terkait kewajiban BPK melaporkan setiap temuan hasil pemeriksaan yang mengandung unsur pidana kepada instansi yang berwenang, termasuk kemungkinan sanksi bagi auditor dan pimpinan BPK tidak melaporkan temuan hasil pemeriksaan yang mengandung unsur pidana kepada instansi yang berwenang.
3) Memantau penyelesaian tindak lanjut rekomendasi temuan pemeriksaan BPK terkait pengembalian dana APBD yang disita
sebagai barang bukti, pengembalian nilai kerugian daerah ke kas daerah perkara yang sudah inkracht, pengembalian nilai kerugian daerah ke kas daerah bagi perkara yang diputus bebas oleh pengadilan atau Mahkamah Agung, dan penyelesaian kerugian daerah bagi pejabat dan/atau yang sudah meninggal. 4) Memantau temuan dan rekomendasi BPK yang menimbulkan
perbedaan persepsi terkait kriteria dan penafsiran dalam menghitung besar nilai kerugian keuangan negara di daerah yang dibebankan kepada para pelaku
3. Terkait Peningkatan Efektivitas Pengawasan Keuangan Negara
a. Kepada BPK agar:
1) Meninjau kembali standar/kriteria yang digunakan untuk pemeriksaan dan perumusan pernyataan rekomendasi sehingga menjamin implementasi yang lebih efektif dalam rangka meminimalisasi perbedaan persepsi dan kendala dalam menindaklanjuti rekomendasi.
2) Mengembangkan pendekatan pemeriksaan yang lebih strategis sehingga dapat memberi pengaruh yang lebih signifikan dalam menemukan penyimpangan, seperti melakukan verifikasi lapangan (cross check) terutama terkait penerimaan dari sektor swasta.
3) Melakukan evaluasi efektivitas pemberian opini terhadap obyek terperiksa atau setidak-tidaknya meminimalisasi dampak politis akibat pemahaman yang keliru, termasuk dampaknya terkait suksesi kepala daerah.
b. Merekomendasikan kepada BPK dan Pemerintah Daerah untuk
mendorong pengembangan dan penerapan E-audit bersama seganap jajaran pemerintah.
c. Merekomendasikan kepada Pemerintah untuk menuntaskan
pembuatan peraturan-peraturan pelaksanaan yang diamanatkan oleh setiap undang-undang, seperti PP tentang TGR (Tuntutan Ganti Rugi), dengan memastikan bahwa ketentuan-ketentuan yang diatur tidak menimbulkan permasalahan implementasinya.
d. Merekomendasikan kepada Mahkamah Agung pengkajian dan
pemecahan permasalahan-permasalahan yuridis terutama terkait pembuktian guna menjamin proses peradilan yang cepat, murah dan sederhana, tanpa mengabaikan kepentingan menjunjung rasa keadilan; dan peninjauan kembali sanksi/kriteria penjatuhan hukuman sehingga terjamin penjatuhan hukuman yang “fair” terhadap terdakwa.
e. Merekomendasikan kepada Aparat Penegak Hukum terkait perlunya
pemantapan implementasi naskah kesepahaman dan keputusan bersama pimpinan aparat penegak hukum sampai pada tataran operasional di seluruh Indonesia.
f. Merekomendasikan kepada Pemerintah, Aparat Penegak Hukum, dan
BPK perlunya pengkajian dan pemecahan permasalahan dan kendala yang dihadapi terkait kelancaran proses pembuktian kerugian keuangan negara.
g. Merekomendasikan kepada Pemerintah dan DPR/DPD perlunya peninjauan kembali alokasi anggaran penyidikan/penyelidikan (Polri/ Kejaksaan).
h. Merekomendasikan kepada Pemerintah dan Aparat Penegak Hukum penyederhanaan prosedur permohonan izin pemeriksaan saksi/ tersangka sehingga lebih pasti dan segera.
i. Merekomendasikan kepada BPK dan Aparat Penegak Hukum
pembuatan juklak/juknis sebagai pedoman operasional penegakan aturan pidana, sehingga lebih mengefektifkan pengawasan dan penindakan terhadap perkara korupsi dan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh orang yang tidak menindaklanjuti rekomendasi BPK.