BAB V KINERJA DALAM BIDANG PENGAWASAN ATAS PELAKSANAAN
C. Kinerja Pengawasan Terkait dengan Persoalan Pendidikan, Agama,
Kesehatan, Kebudayaan serta Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
1. Keputusan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Nomor
6/DPD RI/I/2015-2016 tentang Pengawasan DPD RI Atas Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial disahkan tanggal 29 September 2015.
Penyelenggaraan sistem jaminan sosial nasional sebagai bagian dari program negara merupakan hal yang mendesak pemenuhannya. Negara memiliki tugas atau kewajiban konstitusional
mendasar untuk memberikan kepastian perlindungan dan
kesejahteraan sosial bagi seluruh masyarakat melalui program sistem jaminan sosial nasional. Mandat konstitusional di atas tertuang di dalam Pasal 34 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD NRI) Tahun 1945 dan menjadi dasar bagi terbitnya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).
Sehubungan dengan hal-hal tersebut, Komite III sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh undang-undang, melakukan pengawasan atas pelaksanaan Undang-Undang Nomor 24Tahun
2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
(BPJS).Pengawasan yang dilakukan terfokus pada efektivitas dan
temuan permasalahan di lapangan.Kegiatan pengawasan
dilaksanakan dengan melakukan peninjauan langsung ke daerah dan rapat kerja serta rapat dengar pendapat dengan instansi terkait.
Dari hasil pengawasan yang telah dilakukan di temukan beberapa
permasalahan.Pertama, terkait sosialisasi BPJS ditemukan
ketidakseragaman dan kesimpangsiuran informasi yang disosialisasikan, seperti menyangkut sistem rujukan klinik. Kemudian permasalahan kualitas sosialisasi yang masih jauh dari memadai. Hal ini diindikasikan dengan adanya keluhan ketidakpahaman
mekanisme yang diselenggarakan oleh BPJS baik di kalangan dokter, rumah sakit maupun pasien. Kedua, terkait Kepesertaan BPJS. Ketentuan Pasal 14 UU BPJS menegaskan bahwa “setiap orang, termasuk orang asing yang bekerja paling singkat 6 (enam) bulan di Indonesia, wajib menjadi peserta program Jaminan Sosial”. Berdasarkan ketentuan di atas maka program Jaminan Kesehatan Nasional merupakan program yang harus diikuti oleh setiap anggota masyarakat dan didukung pula oleh pemerintah daerah. Di dalam implementasinya, ditemukan keengganan beberapa pemerintah daerah untuk mengikuti program JKN BPJS Kesehatan yang disebabkan oleh ketidakyakinan pada kualitas layanan program JKN BPJS Kesehatan menyangkut kemudahan klaim bagi peserta JKN maupun fasilitas kesehatan mitra BPJS. Hal lain yang seringkali menjadi permasalahan di daerah adalah menyangkut keterbatasan alokasi APBD untuk mengikuti program JKN BPJS Kesehatan serta di beberapa daerah telah menerapkan sistem jaminan kesehatan daerah yang dinilai lebih baik dari program JKN BPJS Kesehatan. Hal lain yang menjadi persoalan adalah tidak adanya pengaturan sanksi di dalam UU BPJS bagi perorangan maupun pemerintah daerah yang tidak mengikuti program JKN BPJS Kesehatan. Pasal 55 UU BPJS hanya memberikan sanksi kepada pemberi kerja yang tidak memungut dan membayar iuran kepesertaan BPJS dari pekerjanya. Dengan demikian, penegakan kepesertan BPJS sulit dilakukan. Ketiga, terkait validasi data Peserta JKN BPJS Kesehatan. Fakta menunjukkan, di daerah masih terdapat persoalan menyangkut akurasi data penerima bantuan iuran jaminan kesehatan. Akibat ketidakakuratan data tersebut maka dimungkinkan terjadi manipulasi data peserta BPJS bahkan di beberapa tempat, kartu BPJS digunakan oleh bukan pemiliknya. Hal di atas menimbulkan karut marut dalam layanan JKN oleh BPJS Kesehatan. Dengan demikian, BPJS belum optimal melakukan koordinasi khususnya dengan Kementerian Sosial melalui Kementerian Kesehatan mengingat Kementerian Sosial merupakan lembaga yang bertanggungjawab terhadap akurasi penerima bantuan iuran jaminan kesehatan. Keempat, terkait layanan Mitra BPJS. Temuan di daerah menunjukkan bahwa masih terdapat mitra BPJS yang belum memberikan layanan kesehatan yang seharusnya. Terdapat kasus penolakan pasien peserta JKN BPJS Kesehatan dengan berbagai alasan seperti ketidaktersediaan kamar untuk perawatan maupun alasan penyakit pasien tidak ditanggung oleh JKN BPJS Kesehatan. Selain itu, terdapat persoalan di daerah menyangkut keterbatasan dan distribusi yang tidak merata terhadap tenaga kesehatan serta dukungan sarana prasarana khususnya di daerah terpencil yang berdampak pada pelayanan kesehatan bagi peserta JKN BPJS Kesehatan. Kelima, terkait sistem rujukan berjenjang. Terdapat keluhan dari rumah sakit selaku fasilitas kesehatan tingkat lanjutan yang menangani pasien yang setelah diobati sesungguhnya dapat dirujuk balik ke fasilitas kesehatan tingkat pertama, namun pasien dimaksud menolak dengan alasan ketidaknyamanan pelayanan dan ketidaklengkapan sarana prasarana di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Selain itu, terdapat pula pasien
yang tidak mematuhi sistem rujukan berjenjang sebagaimana diatur Peraturan BPJS. Keenam, sistem teknologi informasi JKN BPJS Kesehatan. Salah satu permasalahan di dalam penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Nasional yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan adalah menyangkut verifikasi klaim fasilitas kesehatan kepada BPJS. Terdapat masalah sinkronisasi data dan validasinya sehingga membutuhkan waktu cukup lama.
Berdasarkan temuan tersebut, maka Komite III merekomendasikan beberapa hal sebagai berikut:
a) Mendorong Pemerintah dan BPJS Kesehatan untuk melakukan
optimalisasi sosialisasi sistem jaminan kesehatan nasional yang diselenggarakan oleh BPJS, khususnya dari aspek keseragaman informasi dan kualitas penyampaian informasi sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai.
b) Mendesak agar Pemerintah dan BPJS Kesehatan memperbaiki
sistem dan layanan penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Nasional dan melakukan koordinasi dan sinkronisasi kebijakan dengan instansi terkait.
c) Pemerintah dan BPJS Kesehatan harus pro aktif untuk melakukan
percepatan program integrasi Jamkesda pada jaminan kesehatan nasional yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan.
d) Menyarankan kepada Pemerintah untuk memastikan validasi data
yang akurat dan aktual bagi peserta penerima bantuan iuran jaminan kesehatan sehingga layanan Jaminan Kesehatan Nasional BPJS Kesehatan dapat dilaksanakan secara menyeluruh dan terpadu.
e) Mendorong agar Pemerintah dan BPJS Kesehatan melakukan
pengawasan dan evaluasi terhadap fasilitas kesehatan sebagai mitra BPJS untuk memastikan layanan mutu berkualitas serta profesional diberikan pada peserta Jaminan Kesehatan Nasional BPJS Kesehatan.
f) Mendorong agar Pemerintah dan BPJS Kesehatan harus
mengupayakan agar sistem rujukan berjenjang dapat berjalan efektif dengan memperhatikan kelengkapan sarana prasarana serta kualitas layanan pada fasilitas kesehatan tingkat pertama.
g) Mendorong agar Pemerintah dan BPJS Kesehatan melakukan
percepatan membangun bridging IT dengan fasilitas kesehatan sebagai mitra BPJS Kesehatan. Diharapkan terdapat integrasi sistem sehingga validasi data dapat dijamin dan terhubungkan secara online antara fasilitas kesehatan dengan BPJS Kesehatan.
h) Mendesak Pemerintah agar menata mekanisme alokasi anggaran
secara transparan dan akuntabel dalam manajemen yang tepat, serta mengevaluasi dan melakukan audit anggaran untuk mengoptimalkan layanan BPJS Kesehatan.
i) Untuk memperlancar pelayanan kesehatan pada masyarakat,
maka DPD RI mengusulkan diterbitkannya regulasi yang mengatur mengenai alokasi dana awal bagi fasilitas kesehatan yang merupakan mitra BPJS.
2. Keputusan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Nomor 12/DPD RI/I/2015-2016 tentang Hasil Pengawasan DPD RI Atas Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji Berkenaan Dengan Pelaksanaan Ibadah Haji Tahun 1436 H/2015 M disahkan tanggal 29 Oktober 2015.
Dalam rangka melaksanakan amanat konstitusional, Komite III secara rutin melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan UU Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji.Pengawasan itu dilakukan, baik sebelum pelaksanaan ibadah haji maupun pada saat pelaksanaan ibadah haji.Beberapa permasalahan yang ditemukan dalam pelaksanaan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji pada Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1436 H / 2015 M, antara lain sebagai berikut:
a. Pra Haji, persoalan yang muncul dimasa pra haji antara lain; daftar
tunggu kuota haji yang mencapai 25-30 tahun, keterlambatan
penetapan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun
1436H/2015M, pemberlakuan e-hajj dalam administrasi haji, dukungan sarana dan prasarana, dan manasik haji.
b. Pelaksanaan ibadah haji masih terdapat kendala dalam hal pemondokan, layanan konsumsi, layanan kesehatan, dan layanan transportasi.Secara umum pelaksanaan ibadah haji sudah berjalan dengan baik, keterlambatan penetapan BPIH, berdampak pada layanan transportasi selama di tanah suci, dan kualitas pemondokan. Dalam hal pelayanan kesehatan perlu lebih diantisipasi penanganan jamaah haji yang memiliki riwayat penyakit kritis, dan kesigapan petugas dalam menangani kemungkinan terjadinya musibah selama pelaksanaan ibadah haji.
c. Komite III turut berbelasungkawa terhadap jamaah haji yang
menjadi korban dalam musibah jatuhnya crane di Masjidil Haram, dan insiden di Mina yang mengakibatkan sebanyak 129 orang jamaah haji asal Indonesia meninggal dunia.
Berdasarkan temuan tersebut, Komite III merekomendasikan beberapa hal. Pertama, mendorong pemerintah agar di dalam menetapkan kuota haji (i) melakukan diplomasi dengan pemerintah Arab Saudi agar menambah kuota haji Indonesia dan (ii) melakukan perubahan kebijakan untuk penetapan kuota haji provinsi dan kabupaten/kota dengan mempertimbangkan proporsi jumlah daftar tunggu calon jemaah haji, baik provinsi maupun kabupaten/kota. Kedua, mendorong pemerintah bersama DPR agar melakukan perubahan Pasal 21 UU Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dengan menambahkan ketentuan batas waktu minimal 12 bulan dalam penetapan BPIH. Ketiga, mendesak pemerintah melakukan penyempurnaan prosedur atau membenahi aparatur yang berkaitan dengan penerbitan visa haji
sehingga tidak terjadi keterlambatan.Keempat, mendorong
pemerintah berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menyempurnakan kebijakan pembangunan asrama haji serta kelengkapan sarana prasarananya. Kelima, mendorong pemerintah
menyempurnakan kebijakan manasik haji yang meliputi (i) kualitas manasik haji; (ii) penambahan alokasi waktu untuk manasik ibadah; (iii) pembekalan teknis nonibadah; (iv) pelibatan pembimbing KBIH dalam manasik haji; dan (v) penambahan anggaran honorarium pembimbing manasik haji. Keenam, mendesak pemerintah dan DPR melakukan perubahan Pasal 11 ayat (3) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji, khususnya menghapus Tim Pemandu Haji Daerah (TPHD) dan mengakomodasi pembimbing KBIH sebagai petugas yang menyertai jemaah haji. Ketujuh, mendorong pemerintah menyempurnakan pelayanan pemondokan haji di Arab Saudi yang meliputi (i) pemenuhan standardisasi pemondokan haji dan (ii) diplomasi dengan pemerintah Arab Saudi berkenaan dengan fasilitas pendingin udara, tenda, dan pembangkit listrik permanen di Arafah.Kedelapan, mendorong pemerintah untuk meningkatkan pelayanan dalam pemberian konsumsi di Makkah, yaitu meningkatkan frekuensi pemberian konsumsi dua sampai tiga kali sehari.Kesembilan, mendorong pemerintah untuk melakukan distribusi petugas haji secara merata, meningkatkan kompetensi petugas haji, dan transparan dalam pemberian honorarium kepada petugas haji di Arab Saudi.Kesepuluh, mendorong Kementerian Agama dan Kementerian Keuangan membuat peraturan bersama mengenai Standar Biaya Khusus bagi Petugas Ibadah Haji di Arab Saudi.
3. Keputusan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Nomor
35/DPD RI/II/2015-2016 tentang Hasil Pengawasan Atas Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2010 tentang Kepariwisataan disahkan tanggal 17 Desember 2015.
Dalam mengembangkan kepariwisataan, diperlukan sebuah konsep yang modern, yakni pembangunan pariwisata berwawasan lingkungan (sustainable tourism development). Secara yuridis UU Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan meletakkan politik hukum (legal policy) yang kuat terhadap kebijakan kepariwisataan. Di dalam undang-undang tersebut ditegaskan bahwa kepariwisataan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang dilakukan secara sistematis, terencana, terpadu, berkelanjutan, dan bertanggung jawab dengan tetap memberikan pelindungan terhadap nilai agama, budaya, kelestarian, dan mutu lingkungan hidup serta kepentingan nasional. Rumusan tersebut mengandung makna bahwa harmoni setiap sektor terkait kepariwisataan sangat penting karena berdampak pada kesejahteraan masyarakat.
Namun realisasi kebijakan pembangunan kepariwisataan
senantiasa menghadapi tantangan dan kendala yang kompleks. Terbukanya pasar Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada akhir tahun 2015 menuntut sumber daya manusia di bidang kepariwisataan harus memiliki kompetensi, profesionalisme, dan kapasitas sehingga dapat bersaing secara sehat. Dengan anggaran infrastruktur yang rendah (tahun 2013 hanya Rp188,4 triliun), sulit diharapkan pembangunan infrastruktur berkualitas dapat terwujud
sehingga akses percepatan pembangunan kepariwisataan di daerah menjadi terhambat. Demikian pula koordinasi antarkelembagaan kepariwisataan yang lemah, baik di pusat maupun di daerah merupakan permasalahan yang mendesak dibenahi.
Dalam menjalankan fungsi pengawasan dibidang kepariwisataan
khususnya terhadap pelaksanaan Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 10 Tahun 2010 tentang Kepariwisataan, Komite III merekomendasikan beberapa hal sebagai berikut:
a. Di bidang Industri Pariwisata:
1) meningkatkan investasi, ekspansi, dan diversifikasi
berkelanjutan di bidang pariwisata;
2) bekerja sama dengan pemerintah daerah membangun
berbagai fasilitas pendukung industri pariwisata yang meliputi akomodasi, biro perjalanan, termasuk memprioritaskan pembangunan bandar udara berstandar internasional secara bertahap, dan pembangunan akses jalan menuju destinasi wisata;
3) mendorong pemerintah daerah yang belum memiliki
RIPPARDA untuk segera membuat RIPPARDA sebagai pedoman pengembangan industri pariwisata di daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
b. Di bidang destinasi pariwisata:
1) bekerja sama dengan pemerintah daerah serta swasta untuk
(a) melakukan identifikasi dan perbaikan terhadap destinasi wisata yang rusak dan (b) pengoptimalan pemanfaatan destinasi wisata religi untuk melakukan kegiatan peribadatan;
2) bekerja sama dengan pemerintah daerah membuat destinasi
wisata unggulan baru; dan
3) memberdayakan masyarakat dalam pengembangan wisata di
daerah destinasi wisata yang meliputi pemeliharaan, pengembangan, dan pemasarannya.
c. Di bidang pemasaran pariwisata:
1) bekerja sama dengan pemerintah daerah serta swasta
melakukan pengoptimalan promosi dan pemasaran destinasi wisata secara nasional ataupun internasional dengan memanfaatkan teknologi informasi yang disertai dukungan alokasi dana pemasaran dan promosi secara memadai;
2) mengemas paket wisata dengan berbagai tujuan destinasi
yang beragam secara menarik bagi wisatawan; dan
3) melakukan kerja sama dengan pemerintah daerah untuk
melakukan percepatan sertifikasi kompetensi dan sertifikasi usaha di bidang pariwisata sesuai dengan standarisasi KKNI, standar internasional, dan/atau standar khusus dengan memperhatikan perkembangan pasar MEA, dan global.
4. Keputusan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia Nomor 34/DPD RI/IV/2015-2016 tentang Hasil Pengawasan DPD RI Atas Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri disahkan tanggal 9 Juli 2015 dan disampaikan ke DPR RI tanggal 26 Agustus 2015.
Setiap tahun, secara berkelanjutan, Komite III DPD-RI melakukan pengawasan atas pelaksanaan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri atau lazim disingkat UU PPTKILN. Pengawasan dilakukan baik di daerah pengirim Tenaga Kerja Indonesia (TKI) maupun di negara penempatan TKI. Selain itu, Komite III DPD-RI melakukan penelaahan dan pendalaman mengenai masalah penempatan TKI di luar negeri melalui serangkaian rapat dengar pendapat dengan narasumber yang kompeten dan rapat kerja dengan Menteri Ketenagakerjaan RI.
Ada beberapa temuan, khususnya di tahun 2016, menyangkut penempatan dan perlindungan TKI di Luar Negeri. Pertama, ditemukan TKI bekerja illegal di luar negeri. Penyebabnya beragam, seperti karena overstayer sebagaimana ditemukan di Korea Selatan. Terdapat pula kasus TKI yang memasuki negara penempatan secara illegal baik melalui jalur darat maupun laut seperti ditemukan di
Malaysia. Kedua, masalah kompetensi kerja. Keluhan pada negara
penempatan pengguna TKI diantaranya mengenai minimnya kompetensi TKI bekerja sesuai kebutuhan di negara penempatan. Demikian pula keterbatasan keterampilan TKI dalam penggunaan bahasa dan pemahaman budaya. Ketiga,validitas dokumen TKI. Pengawasan Komite III DPD-RI ke negara penempatan masih menemukan persoalan akurasi dan validitas dokumen TKI. Terdapat dokumen surat keterangan sehat yang dimiliki TKI namun setelah diperiksa di rumah sakit negara penempatan, TKI dimaksud memiliki
penyakit. Keempat, masalah purna penempatan TKI. Pemerintah
belum optimal mendesain kebijakan bagi TKI purna penempatan. Dengan demikian, masih ditemukan TKI yang tidak lagi bekerja di luar negeri namun penghidupannya belum layak. Diperlukan pembenahan secara sistemik.
Berdasarkan permasalahan di atas, Komite III DPD RI merekomendasikan hal berikut kepada Pemerintah dalam rangka membenahi kebijakan penempatan dan perlindungan TKI di luar negeri sebagai berikut:
a. Melakukan pembenahan dokumen bagi calon TKI yang akan
bekerja di luar negeri secara valid dan akurat, diantaranya melalui fasilitasi Pemerintah agar dokumen yang wajib dimiliki TKI sebagaimana ketentuan dalam Pasal 51 UU PPTKILN dapat diperoleh secara gratis dan cepat dengan prosedur sederhana untuk mengatasi pengiriman TKI ilegal.
b. Meningkatkan kompetensi TKI melalui: (a) pengoptimalan kualitas
penyelenggaraan pelatihan kerja sesuai dengan standar negara penerima; (b) penguatan pada pendidikan dan pelatihan
sebagaimana dimaksud Pasal 42 UU PPTKILN, khususnya materi kurikulum berkenaan dengan penguasaan bahasa, kondisi (termasuk makanan dan iklim), adat istiadat, budaya, agama, dan risiko bekerja di negara penempatan untuk mengantisipasi keguncangan budaya (cultural shock); dan (c) pemenuhan kewajiban bagi PPTKIS untuk membentuk pusat pendidikan dan pelatihan kerja di daerah rekrutmen TKI.
c. Memastikan konsistensi pemerintah agar tidak melakukan
kerjasama dengan negara penempatan di luar negeri yang tidak memiliki perjanjian tertulis dengan Pemerintah Indonesia sesuai dengan ketentuan Pasal 27 UU PPTKILN untuk pelindungan TKI di luar negeri.
d. Memastikan kelayakan tempat penampungan sementara di
daerah perbatasan yang diperuntukan TKI yang mengalami deportasi dari negara penempatan dengan didukung alokasi anggaran dari APBN dan melibatkan daerah pengirim TKI.
e. Meningkatkan pengamanan di jalur perbatasan yang berpotensi
digunakan oleh TKI ilegal untuk menuju negara penempatan.
f. Melakukan program pemberdayaan TKI purna-penempatan
sehingga dapat meningkatkan kapasitas dan kesejahteraan hidupnya sebagaimana yang diamanatkan oleh UU PPTKILN.