BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS
2.1.1. Kinerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
Secara etimologis/kebahasaan kinerja merupakan terjemahan dari
performance (Inggris). Selain bermakna kinerja, performance juga diterjemahkan secara beragam. Menurut Sedarmayanti (2001), performance dapat juga berarti prestasi kerja, pelaksanaan kerja, pencapaian kerja atau hasil kerja/unjuk kerja/penampilan kerja. Hal senada dikemukakan oleh Yeremias T. Keban (2004), istilah kinerja merupakan terjemahan dari performance yang sering diartikan oleh para cendekiawan sebagai “penampilan”, “unjuk kerja”, atau “prestasi”. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa istilah kinerja digunakan apabila seseorang menjalankan suatu proses dengan terampil sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang ada.
Secara konseptual Gibson et al. (1996) mendefenisikan kinerja sebagai tingkat keberhasilan dalam melaksanakan tugas dan kemampuan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Selain itu, Bernardin & Russel (1998) memberikan definisi tentang kinerja sebagai catatan dari hasil-hasil yang diperoleh melalui fungsi-fungsi pekerjaan tertentu atau kegiatan selama tempo waktu tertentu. Dari
kedua definisi dapat dipahami bahwa kinerja lebih menekankan pada perspektif “hasil/outcome” dari suatu proses pekerjaan atau yang diperoleh dari suatu pekerjaan sebagai kontribusi pada organisasi.
Menurut Indra Bastian (2006), pemerintah daerah adalah kepala daerah beserta perangkat daerah otonom yang lain sebagai badan eksekutif daerah. Hal senada dikemukakan oleh Abdul Halim (2007), pemerintahan daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah, sedangkan pemerintah daerah adalah gubernur, bupati, atau walikota dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. Dari kedua definisi tersebut dapat dipahami bahwa pemerintah daerah memiliki kedudukan sebagai administrator penuh pada masing-masing daerah. Mereka memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengelola daerahnya masing-masing. Namun, setiap kebijakan atau tindakannya harus efisien dan efektif agar pengelolaan daerahnya lebih terfokus dan mencapai sasaran dan tujuan yang telah ditentukan.
Sementara perangkat daerah kabupaten/kota merupakan unsur pembantu dari seorang kepala daerah dalam menyelenggarakan pemerintahan didaerahnya. Terdiri dari sekretariat daerah, sekretariat DPRD, dinas daerah, lembaga teknis daerah, kecamatan dan kelurahan. Kedudukan perangkat daerah (satuan kerja perangkat daerah atau SKPD)—termasuk didalamnya Unit Kerja Pelaksana Teknis Daerah (UPTD)—selain melaksanakan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) pemerintahan di daerah seperti: merumuskan kebijakan, mengadakan bimtek, dan memonitor dan mengevaluasi penerapan kebijakan tersebut. Mereka pun berfungsi pula sebagai unit pelayanan publik seperti memberikan pelayanan dalam bidang
kesehatan, pendidikan, dan perijinan. Sebagai entitas akuntansi dimana hal ini merupakan ekses dari adanya proses akuntansi mulai dari melakukan pencatatan atas transaksi-transaksi pendapatan, belanja, aset dan selain kas yang terjadi sampai pada penyusunan laporan keuangan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa: “kinerja satuan kerja perangkat daerah (SKPD) adalah ukuran tingkat keberhasilan program/kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan kebijakan publik untuk mencapai sasaran dan tujuan dengan menciptakan suatu organisasi yang lebih efisien dan efektif”. Hal ini senada dengan yang dikemukakan oleh Recardo & Wade (2001), kinerja organisasi sebagai kemampuan organisasi untuk mencapai sasaran dan tujuan. Selain itu, kinerja organisasi merupakan kemampuan organisasi untuk mencapai tujuannya dengan menggunakan sumberdaya secara efisien dan efektif (Daft, 2013).
2.1.1.2. Pengukuran
Tercapainya baik itu visi dan misi maupun sasaran dan tujuan program/kegiatan yang terkandung dalam suatu kebijakan harus didasarkan pada tingkat ukuran kepuasan masyarakat. Sementara ketika membicarakan kinerja SKPD dalam kerangka good management paling tidak meliputi tiga komponen, yaitu: tujuan, ukuran dan penilaian. Penentuan tujuan dari masing-masing satuan/unit organisasi pemerintah merupakan strategi untuk meningkatkan kinerja. Tujuan ini akan memberi arah dan mempengaruhi bagaimana seharusnya perilaku kerja yang diharapkan organisasi pemerintah terhadap setiap personel. Walaupun demikian penentuan tujuan saja tidaklah cukup. Oleh kerena itu, dibutuhkan
ukuran yang dapat mendeskripsikan apakah seseorang/lembaga telah mencapai kinerja yang diharapkan atau tidak. Ukuran kuantitatif dan kualitatif standar kinerja untuk setiap tugas dan jabatan tersebut memegang peranan penting dalam penilaian kinerja.
Menurut Indra Bastian (2006), pengukuran kinerja merupakan “proses” mencatat dan mengukur pencapaian pelaksanaan kegiatan dalam arah pencapaian misi melalui hasil-hasil yang ditampilkan berupa produk, jasa ataupun proses. Pendapat berbeda dikemukakan oleh LAN & BPKP (2000) dimana pengukuran kinerja merupakan suatu “alat” untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan akuntabilitas. Begitu pula dengan Malayu S.P. Hasibuan (2001) yang mengatakan bahwa pengukuran kinerja merupakan “wahana” untuk mengevaluasi terhadap perilaku, prestasi kerja dan potensi pengembangan yang telah dilakukan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa: “pengukuran kinerja adalah suatu proses yang sistematis dan berkesinambungan untuk menilai tingkat keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan suatu program/kegiatan sesuai dengan sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan dalam mewujudkan visi, misi dan strategi”.
Fungsi dari pengukuran kinerja adalah sebagai alat bagi manajemen untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan akuntabilitas. Selain itu, merupakan jembatan antara perencanaan strategik dengan akuntabilitas. Sedangkan tujuannya adalah: (Mahmudi, 2009)
1) Mengetahui tingkat ketercapaian tujuan organisasi 2) Menyediakan sarana pembelajaran pegawai
3) Memperbaiki kinerja periode berikutnya
4) Memberikan pertimbangan yang sistematik dalam pembuatan keputusan pemberian reward dan punishment
5) Memotivasi pegawai
6) Menciptakan akuntabilitas publik
Beberapa penelitian internasional menunjukkan ada beberapa struktur dan teknik yang digunakan untuk tujuan pengukuran kinerja sektor publik. Pada umumnya dari beberapa framework yang ada memiliki fitur-fitur seperti menggambarkan bagaimana hubungan antara tujuan, sumberdaya, strategi dan hasil; menjelaskan maksud publik harus dilayani; dan menunjukkan bagaimana melakukan pengukuran dan pelaporan yang hanya berfokus pada aspek-aspek penting dari kinerja (Mackie, 2008). Selain itu, Boyne (2002) mencatat bahwa indikator dari sebagian kerangka pengukuran dapat berdasarkan pada model pengukuran kinerja economy-efficiency-effectiveness model (disebut model 3E's).
Penggunaan VfM sebagai alat ukur kinerja pun sudah lazim dilakukan oleh beberapa peneliti di Indonesia. Diantaranya Tri Siwi Nugrahani (2007) yang menganalisis penerapan konsep VfM pada pemerintah DI Yogyakarta. Demi Aulia Arfan (2014) yang mengukur kinerja dinas pertanian DI Yogyakarta periode 2011-2012 menggunakan VfM. Avib Subastian (2013) yang menilai laporan akuntabilitas kinerja dinas pendidikan kota Surabaya melalui pendekatan VfM. Sementara praktek terhadap keharusan menggunakan prinsip-prinsip dalam VfM sendiri sudah diterapkan oleh pemerintah sejak lama. Mulai dari pusat sampai pada tingkat pemerintahan desa. Misalnya, bagi pemerintah desa sudah diatur
melalui Peraturan Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah No. 13/2013 tentang Pedoman Tata Cara Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah di Desa. Sebagaimana dalam lampiran bab I huruf D nomor 1 yang mengatur bahwa pengadaan barang/jasa menerapkan prinsip-prinsip diantaranya efisiensi dan efektivitas.
2.1.2. Value for Money