• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tahapan Analisis

Dalam dokumen BUDAYA ORGANISASI KOMITMEN ORGANISASI DA (Halaman 95-103)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.7. Analisis Data

3.7.2. Tahapan Analisis

Dalam pengujian model PLS-SEM terdapat beberapa langkah yang harus ditempuh, yaitu:

Langkah 1: Merancang inner model.

Yaitu membangun model atau hubungan antar konstruk (variabel laten atau

unobserved variable) berdasarkan pada teori substantif. Inner model

merupakan model struktural yang merepresentasikan hubungan di antara variabel laten (Imam Ghozali, 2008). Dalam penelitian ini, inner model

dirumuskan dengan relasi antara budaya organisasi, komitmen organisasi, modal intelektual dan kinerja SKPD.

Langkah 2: Merancang outer model.

Yaitu mendefinisikan dan membuat spesifikasi hubungan antara konstruk dengan indikator (variabel manifest atau observed variable atau measured variable). Outer model merupakan model pengukuran yang merepresentasikan hubungan antara indikator-indikator dengan variabel latennya (Imam Ghozali, 2008).

Dalam penelitian ini, model pengukuran yang digunakan adalah “reflektif” (disebut juga sebagai mode A). Indikator dalam model ini mewakili efek (atau manifestasi) suatu konstruk yang mendasarinya. Sementara arah hubungan yang terbentuk adalah dari konstruk ke indikator. Artinya, jika evaluasi terhadap sifat latennya berubah (misalnya, karena perubahan dalam hal standar perbandingan) maka semua indikator akan ikut berubah secara bersamaan. Selain itu, kesemua indikator terkait dengan konstruk tertentu harus sangat berkorelasi dengan satu sama lain.

Dalam hal ini, untuk melengkapi keseluruhan konstruksi model diagram jalur maka keseluruhan indikator yang terdapat dalam masing-masing dimensi dari obyek penelitian ini ditetapkan sebagai bagian dari outer model.

Langkah 3: Evaluasi model pengukuran.

Tujuannya untuk menganalisis validitas konstruk dan reliabilitas instrumen dari kontruksi model. Oleh karena dalam penelitian ini menggunakan model pengukuran “reflektif”, maka penilaiannya berdasarkan pada rule of thumb di bawah ini:

Internal consistency reliability

Menurut Hair et al. (2014), composite reliability (CR) harus lebih tinggi dari 0,708 (dalam penelitian eksplorasi diantara 0,60-0,70 dianggap diterima atau akseptabel). Selain itu, Cronbach's alpha (CA) dapat pula dipertimbangkan sebagai ukuran konservatif. Nilai 0,6 CA 0,8 dianggap diterima (dapat diterima) sementara 0,8 CA 1 diterima dengan baik (Imam Ghozali, 2008).

Indicator reliability

Menurut Hair et al. (2014), outer loadings (OL) indikator harus lebih tinggi dari 0,708. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa indikator dengan

outer loadings antara 0,40 dan 0,70 dapat dipertimbangkan untuk dihapus. Akan tetapi penghapusan indikator (variabel manifes) dari konstruk (variabel laten) dimaksud harus mengarah pada meningkatnya CR dan

AVE. Sementara menurut Chin (1998) bahwa untuk penelitian tahap awal dari pengembangan dimana skala pengukuran nilai OL antara 0,50-0,60

dianggap cukup (Imam Ghozali, 2008). Penghapusan indikator dapat dilakukan secara bertahap misalnya mulai dari satu atau beberapa indikator sekaligus dari suatu konstruk yang memilik nilai OL 0,5. Kemudian dilanjutkan dengan OL 0,6 sampai tidak lagi ditemukan CR

dan AVE di bawah nilai yang dipersyaratkan pada konstruk tersebut. Hal yang sama dapat dilakukan untuk konstruk lainnya.

Convergent validity

Menurut Hair et al. (2014), average variance extracted (AVE) harus sama dengan atau lebih tinggi dari 0,50.

Discriminant validity

Caranya adalah dengan membandingkan nilai square root of AVE setiap konstruk dengan korelasi antara konstruk lainnya dalam model. Dikatakan memiliki nilai discriminant validity yang baik, jika nilai square root of AVE masing-masing konstruk lebih besar daripada nilai korelasi antar-konstruk dengan antar-konstruk lainnya dalam model (kriteria Fornell-Larcker). Langkah 4: Evaluasi model struktural.

Tujuannya untuk memastikan bahwa model struktural yang dibangun kuat (robust) dan akurat. Penilaiannya berdasarkan pada rule of thumb di bawah ini:

 PLS bertujuan memaksimalkan nilai R2 dari konstruk laten dependen (endogen) dalam model path. Dalam hal ini, tujuannya adalah memperoleh nilai-nilai R2 yang tinggi. Namun, interpretasi yang tepat dari tingkat nilai

2

umum nilai R2 meliputi 0,75; 0,50 atau 0,25 untuk konstruk laten dependen dimana menggambarkan masing-masing sebagai substansial, moderat dan lemah (Hair et al., 2014). Sementara Chin (1998) menyatakan bahwa hasil R2 sebesar 0,67; 0,33 dan 0,19 mengindikasikan model baik, moderat dan lemah (Imam Ghozali, 2008).

 Relevansi prediktif adalah aspek lain yang dapat dieksplorasi untuk inner model. Besaran Q2 mengukur seberapa baik nilai observasi dihasilkan oleh model dan juga estimasi parameternya. Interpretasinya sama dengan koefisien determinasi total pada analisis jalur (path analysis) dan mirip dengan R2 pada regresi. Chin (1998) menyatakan bahwa Q2 memiliki nilai dengan rentang 0 2 1

Q dimana semakin mendekati 1 berarti model semakin baik (Imam Ghozali, 2008). Diperoleh melalui prosedur

blindfolding yaitu ukuran cross-validated redundancy. Jarak kelalaian (OD) yang disarankan untuk sebagian besar penelitian antara 5-10 (Hair et al., 2014). Apabila nilai yang didapatkan 0,02 (kecil); 0,15 (sedang) dan 0,35 (besar). Hanya dapat dilakukan untuk konstruk laten endogen dengan indikator reflektif.

 Mengukur arah pengaruh serta tingkat signifikansinya melalui path coefficient

sehingga dapat mengetahui pengaruh antar konstruk laten. Diperoleh melalui prosedur bootstrapping (penggandaan secara acak) dimana pendekatan ini merepresentasi non-parametrik untuk presisi dari estimasi PLS. Prosedurnya adalah menggunakan seluruh sampel asli untuk melakukan proses resampling. Metode resampling memungkinkan

berlakunya data terdistribusi bebas, tidak memerlukan asumsi distribusi normal dan tidak memerlukan sampel yang besar. Jumlah sampel saat melakukan bootstrapping sebesar 5.000 dengan catatan jumlah tersebut harus lebih besar dari original sampelnya (Hair et al., 2014). Namun, beberapa literatur lain menyarankan jumlah sampel sebesar 200-1.000 sudah cukup untuk mengoreksi standard error estimate PLS. Sementara nilai kritis untuk uji dua sisi (two-tailed) adalah 1,65 (taraf signifikansi = 10%); 1,96 (taraf signifikansi = 5%) dan 2,57 (tingkat signifikansi = 1%).

 Ukuran efek f 2 digunakan untuk mengukur apakah predictor konstruk laten mempunyai pengaruh yang lemah, sedang atau kuat pada tingkat struktural. Nilai f 2 terdiri dari 0,02; 0,15 dan 0,35 yang mengindikasikan efek konstruk laten independen kecil, menengah atau besar masing-masing pada konstruk laten dependen (Hair et al., 2014).

Keseluruhan proses evaluasi ini dapat dilakukan hanya jika tidak lagi ditemukan CR dan AVE di bawah nilai yang dipersyaratkan pada semua konstruk laten yang ada.

Langkah 5: Pengujian hipotesis

Statistik uji yang dipakai adalah dengan cara melihat pada nilai t-statistics

(disebut juga dengan t-test atau uji-t) dan nilai p-values. Rumusan hipotesa untuk uji-t:

0 : 1,2,3

0 i

H Masing-masing variabel budaya organisasi,

komitmen organisasi dan modal intelektual secara parsial tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja SKPD yang diproksikan oleh VfM 0

: i 1,2,3

a

H Masing-masing variabel budaya organisasi,

komitmen organisasi dan modal intelektual secara parsial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja SKPD yang diproksikan oleh VfM

Rumusan hipotesis tambahan untuk korelasi antara budaya organisasi dan komitmen organisasi adalah:

0 : 4

0

H Budaya organisasi tidak memiliki korelasi dengan komitmen organisasi

0 : 4

a

H Budaya organisasi memiliki korelasi dengan

komitmen organisasi

Rumusan hipotesis tambahan untuk korelasi antara modal intelektual dan budaya organisasi adalah:

0 : 5

0

H Modal intelektual tidak memiliki korelasi dengan budaya organisasi

0 : 5

a

H Modal intelektual memiliki korelasi dengan budaya

organisasi

Rumusan hipotesis tambahan untuk korelasi antara modal intelektual dan komitmen organisasi adalah:

0 : 6

0

H Modal intelektual tidak memiliki korelasi dengan komitmen organisasi

0 : 6

a

H Modal intelektual memiliki korelasi dengan

komitmen organisasi Dasar pengambilan keputusan untuk uji-t:

Jika p value 0,05 ( 5%) atau nilai t statistics 1,96 maka dapat disimpulkan bahwa “ada pengaruh yang signifikan (nyata)” atau “ada korelasi” antar variabel (dengan kata lain H0 ditolak). Begitupula sebaliknya dapat disimpulkan “tidak signifikan” atau “tidak berkorelasi” (dengan kata lain H0 diterima). Dalam hal ini, tingkat/taraf signifikansi

%

5 mengandung makna bahwa resiko salah dalam pengambilan keputusan untuk menolak hipotesis H0 yang benar adalah sebanyak-banyaknya 5% dan benar dalam mengambil keputusan sedikit-dikitnya 95% (tingkat kepercayaan). Dengan kata lain, peneliti percaya bahwa 95% dari keputusan untuk menolak hipotesis H0 yang salah adalah benar.

88 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam dokumen BUDAYA ORGANISASI KOMITMEN ORGANISASI DA (Halaman 95-103)

Dokumen terkait