BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.6 Rumah Sakit
2.6.2 Klasifikasi Rumah Sakit
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 40/MENKES/PER/III/2010 tentang Klasifikasi Rumah Sakit Berdasarkan Fasilitas dan Kemampuan Pelayanan, Rumah Sakit Umum diklasifikasikan menjadi :
1. Rumah Sakit Umum Kelas A
Rumah Sakit Umum Kelas A harus mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4 (empat) pelayanan medik spesialis dasar, 5 (lima) pelayanan spesialis penunjang medik, 12 (dua belas) pelayanan medik spesialis lain dan 13 (tiga belas) pelayanan medik sub spesialis.
2. Rumah Sakit Umum Kelas B
Rumah Sakit Umum Kelas B harus mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4 (empat) pelayanan medik spesialis dasar, 4 (empat) pelayanan spesialis penunjang medik, 8 (delapan) pelayanan medik spesialis lainnya dan 2 (dua) pelayanan medik subspesialis dasar.
3. Rumah Sakit Umum Kelas C
Rumah Sakit Umum Kelas C harus mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4 (empat) pelayanan medik spesialis dasar dan 4 (empat) pelayanan spesialis penunjang medik. Kriteria, fasilitas dan kemampuan Rumah Sakit Umum Kelas C meliputi pelayanan medik umum, pelayanan gawat darurat, pelayanan medik spesialis dasar, pelayanan spesialis penunjang medik, pelayanan medik spesialis gigi mulut, pelayanan keperawatan dan kebidanan, pelayanan penunjang klinik dan pelayanan penunjang non klinik.
4. Rumah Sakit Umum Kelas D
Rumah Sakit Umum Kelas D harus mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 2 (dua) pelayanan medik spesialis dasar.
2.7 Kerangka Berpikir
Terry (2005) memberi pengertian manajemen yaitu suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang-orang kearah tujuan-tujuan organisasional atau maksud-maksud yang nyata. Hal tersebut meliputi pengetahuan tentang apa yang harus dilakukan, menetapkan cara bagaimana melakukannya, memahami bagaimana mereka harus melakukannya dan mengukur efektivitas dari usaha-usaha yang telah dilakukan. Sedangkan fungsi manajemen terdiri dari fungsi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), dan pengawasan (controlling). Manajemen
merupakan sebuah kegiatan; pelaksanaannya disebut manajing dan orang yang melakukannya disebut manajer.
Manajemen sistem rujukan adalah suatu sistem penyelenggaraan pelayanan yang melaksanakan pelimpahan wewenang atau tanggung jawab timbal balik, terhadap suatu kasus penyakit atau masalah kesehatan, secara vertikal dalam arti dari unit yang terkecil atau berkemampuan kurang kepada unit yang lebih mampu atau secara horisontal atau secara horizontal dalam arti antar unit-unit yang setingkat kemampuannya.
Rujukan kesehatan adalah rujukan pelayanan yang umumnya berkaitan dengan upaya peningkatan promosi kesehatan (promotif) dan pencegahan (preventif).
Contohnya, merujuk pasien dengan masalah gizi ke klinik konsultasi gizi (pojok gizi puskesmas), atau pasien dengan masalah kesehatan kerja ke klinik sanitasi puskesmas (Trihono, 2005).
Program Jaminan Kesehatan Nasional disingkat Program JKN adalah suatu program Pemerintah dan Masyarakat/Rakyat dengan tujuan memberikan kepastian jaminan kesehatan yang menyeluruh bagi setiap rakyat Indonesia agar penduduk Indonesia dapat hidup sehat, produktif, dan sejahtera (Naskah Akademik SJSN).
Berdasarkan uraian di atas, dapat digambarkan kerangka berpikir dalam penelitian sebagai berikut:
Input Proses Output
Gambar 2.3 Kerangka Berpikir
Analisis Manajemen Rujukan Pelayanan Kesehatan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Rumah Sakit Umum Daerah Tgk Abdullah Syafii
Kabupaten Pidie Aceh
BAB 3
METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Cresswell (1994) mendefinisikan pendekatan kualitatif yaitu“Qualitative research focuses on the process that is occurring as well as the product or outcome. Researchers are particulars interested in understanding how things occurs.” Definisi ini menerangkan bahwa penelitian kualitatif difokuskan pada proses yang terjadi dalam penelitian. Hal ini menunjukkan bahwa penelitian kualitatif tidak dapat dibatasi. Disamping itu, peneliti merupakan bagian yang penting dalam penelitian untuk memahami gejala sosial terjadi dalam proses penelitian.
Dalam penelitian ini, penulis memilih pendekatan ini karena ingin mendalami secara detail, intensif dan komprehensif bagaimana manajemen rujukan pelayanan kesehatan JKN di RSUD Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie. Aktivitas penelitian yang dilakukan melalui serangkaian kegiatan mengumpulkan, menggambarkan dan menafsirkan data tentang situasi yang dialami yang tampak dalam proses yang sedang berlangsung dan pada awalnya tidak diketahui peneliti. Melalui desain ini dapat diperoleh gambaran fenomena, fakta, dan pelaksanaan manajemen rujukan pelayanan kesehatan JKN di RSUD Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian akan dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie Aceh. Alasan pemilihan lokasi penelitian, karena cukup banyak rujukan pelayanan kesehatan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama ke rumah sakit ini. Data terakhir pada bulan Januari 2015 terdapat 173 pelayanan kesehatan yang dirujuk. Alasan lain pemilihan lokasi penelitian adalah kemudahan dalam hal aspek akses untuk melakukan wawancara mendalam (in depht interview) dan melakukan telaah dokumen karena peneliti bertugas di rumah sakit ini.
3.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan April-Juli 2015, diawali pengumpulan data di lapangan, analisis data, membuat hasil penelitian.
3.3 Pemilihan Informan
Informan adalah orang yang diwawancarai dan dimintai informasi oleh pewawancara yang diperkirakan menguasai masalah penelitian dan memahami data informasi ataupun fakta dari suatu objek penelitian. Informasi adalah data yang telah disusun sedemikian rupa sehingga bermakna dan bermanfaat karena dapat dikomunikasikan kepada seseorang yang akan menggunakannya untuk membuat keputusan (Kumorotomo dan Margono, 1998).
Sesuai dengan pendekatan penelitian yang dilakukan yaitu pendekatan kualitatif, maka penentuan informan didasarkan pada kriteria sesuai dengan tujuan penelitian. Informan ditetapkan secara purposive berdasarkan pertimbangan bahwa mereka dianggap dapat memberikan data dan informasi mengenai manajemen rujukan pelayanan kesehatan JKN di Rumah Sakit Umum Daerah Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie Aceh.
Melalui pertimbangan faktor kebutuhan akan data dan informasi, faktor dukungan sumber daya yang dimiliki peneliti dan informan, maka informan yang diwawancarai adalah representasi sebagaimana tabel berikut:
Tabel 3.1 Kriteria Informan
Kriteria Lokasi Wawancara Jumlah
1. Kepala Puskesmas 3 Puskesmas di Kabupaten Pidie 3
2. Direktur RSUD Tgk Abdullah Syafii 1
3. Kasi Yanmed & Keperawatan RSUD Tgk Abdullah Syafii 1 4. Kasi Penunjang Medik RSUD Tgk Abdullah Syafii 1 5. Kasi Verifikasi Data RSUD Tgk Abdullah Syafii 1 6. Pasien JKN yang Dirujuk Ruang Rawat Inap RSUD Tgk
Abdullah Syafii
3
Jumlah 10
3.4 Metode Pengumpulan Data
Standar khusus pengumpulan data yang perlu dipenuhi sesuai dengan karakteristik penelitian kualitatif sesuai menurut Moleong (2006), yakni melakukan setidak-tidaknya triangulasi metode dan triangulasi sumber data. Triangulasi metode dilakukan dengan cara wawancara mendalam yang terstruktur dan telaah dokumen sehingga kebenaran data yang diperoleh melalui suatu metode dapat dicek dengan
data yang diperoleh melalui metode lain. Selain itu, peneliti juga bisa menggunakan informan yang berbeda untuk mengecek kebenaran informasi tersebut. Sedangkan triangulasi sumber data dilakukan dengan cara wawancara beberapa informan sehingga didapat data yang relevan.
Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah untuk mendapatkan data primer dan data sekunder melalui teknik teknik pengumpulan data sebagai berikut:
1. Dokumentasi
Dapat dianggap sebagai materi yang tertulis atau sesuatu yang menjadikan tentang sesuatu subjek dokumentasi dapat berisi deskripsi-deskripsi, penjelasan-penjelasan, bagan alir, daftar-daftar, catatan hasil komputer, contoh-contoh objek dari sistem informasi. Dokumentasi yang diambil dalam hubungan dengan manajemen rujukan pelayanan kesehatan JKN di Rumah Sakit Umum Daerah Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie Aceh atau sesuai dengan judul penelitian agar bermanfaat untuk mengetahui, menganalisis, menafsirkan bahkan untuk meramalkan seperti laporan manajemen rujukan pelayanan kesehatan pasien JKN, buku-buku dan bahan referensi lainnya.
2. Wawancara
Wawancara mendalam (indepth-interview) merupakan cara untuk mendalami hasil observasi. Wawancara mendalam awalnya dilakukan secara umum kemudian secara khusus adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara
pedoman (guide) wawancara, pewawancara dan informan yang terlibat dalam kehidupan sosial. Melalui wawancara mendalam akan keterlibatannya dalam kehidupan informan. Wawancara mendalam peneliti bertatap muka langsung dengan informan.
3.5 Instrumen Penelitian
Instrumen untuk penelitian ini adalah peneliti sendiri yang menggunakan pedoman dokumentasi dan wawancara mendalam. Mengenai instrumen pokok yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah peneliti sendiri. Untuk melibatkan peneliti sebagai instrumen bukan berarti menghilangkan esensi manusianya, tetapi kepastian jiwa dan raganya dalam mengamati, melacak, memahami, bertanya dan mengabstrasikan merupakan suatu alat yang penting pada penelitian kualitatif ini. Hal ini disebabkan karena penelitian kualitatif bermaksud ingin memahami, mengungkapkan perasaan, pengertian, persepsi dan perilaku manusia. Selain itu ingin menemukan makna dan interaksi manusia sebagai subjek dari kehidupan sehari-hari dalam situasi tertentu. Maka, tidak salah apabila peneliti merupakan satu-satunya instrumen utama dalam penelitian ini.
3.6 Metode Analisis Data
Bogdan dan Biklen seperti yang dikutip oleh Moleong (2006) mengatakan bahwa analisis data adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola,
mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.
Metode analisis data dalam penelitian kualitatif ini adalah metode deskriptif yaitu suatu metode penelitian secara teoritis, kemudian teori tersebut dianalisis sesuai dengan temuan di lapangan dan data yang diperoleh melalui studi dokumentasi dan wawancara. Dengan teknik analisa kualitatif, peneliti akan menjabarkan hasil penelitian dan melakukan pembahasan hanya dengan menguraikannya dalam kalimat-kalimat.
BAB 4
HASIL PENELITIAN
4.1 Gambaran Umum RSUD Tgk Abdullah Syafii
Gambaran umum tentang wilayah penelitian diperlukan untuk memberikan pemahaman mengenai lokasi dan permasalahan yang akan diteliti. Berikut akan diberikan gambaran mengenai RSUD Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie Aceh.
1. Sejarah Perkembangan RSUD Tgk Abdullah Syafii
RSUD Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie Aceh pada awalnya bernama Rumah Sakit Beureunuen, dan pada tahun 2000 Pemerintah Kabupaten Pidie mulai menganggarkan dana untuk pembangunan Rumah Sakit Beureunuen. Rumah Sakit Beureunuen yang beralamat di Jalan Banda Aceh-Medan Km.125,5 Kota Mini Beureunuen, pertama sekali memulai operasionalnya pada tanggal 4 April 2005 dengan bantuan sebuah NGO internasional yang berbasis di Perancis yaitu MSF (Medicins Sans Frontier) tepatnya 100 hari setelah musibah gempa & tsunami terjadi dan pada tanggal 30 April 2005 Rumah Sakit Beureunuen diresmikan oleh Bapak Bupati Ir.Abdullah Yahya,MS.
Pada awal operasionalnya sejak bulan April 2005 sampai dengan bulan Desember 2005 Rumah Sakit Beureunuen masih memfungsikan satu buah gedung utama yang terdiri dari : UGD (2 bed), Ruang ICU (3 bed) Kamar Ruang Rawat Inap (9 bed), Ruang Dressing, Ruang Observasi (3 bed), Ruang Sterilisasi yang berada di
lantai bawah, sedangkan untuk lantai atas dipergunakan untuk ruang kantor dan ruang farmasi.
RSU Beureunuen membuka pelayanan 24 jam dokter jaga, dan semua pasien tidak dilakukan pemungutan biaya apapun. Masyarakat yang berobat terutama dari kalangan miskin, korban tsunami, dan korban konflik. RSU Beureunuen juga melayani masalah psikososial oleh tenaga psikolog dan psikiater. Pasien psikososial mengalami masalah psikologi terutama berupa gangguan psikis setelah trauma (post traumatic stress disorder), depresi dan gangguan cemas. Dari bulan Januari sampai dengan bulan Desember 2005 kunjungan pasien cukup tinggi, yaitu jumlah pasien rawat inap 808 pasien, jumlah pasien dressing 567 pasien, jumlah pasien rawat jalan 1375 pasien, jumlah pasien psikososial 51 pasien. Adapun jumlah staf yang bertugas selama awal beroperasinya RSU Beureunuen adalah dokter umum 4 orang, perawat 26 Orang, cleaning service 5 orang, driver 3 orang dan security 4 orang.
Pada bulan Januari 2006 NGO MSF menarik diri dari RSU Beureunuen dengan alasan masa tanggap darurat pasca tsunami sudah selesai. Dalam perkembangannya, tahun 2006 RSU Beureuneun berganti nama dan disahkan operasionalnya dengan keluarnya SK Bupati Pidie No.73, tanggal 5 Februari 2006 tentang Operasional RSU Mutiara Beureunuen Kabupaten Pidie. Pada tahun 2006 total jumlah pasien adalah 4.396 pasien. Kapasitas bed ruang rawat inap meningkat menjadi 18 bed, dan untuk pelayanan rawat jalan sudah dibuka poli umum dan pasien dilayani oleh dokter umum tetapi pada jadwal tertentu dilayani oleh dokter
Pada Tahun 2006 RSU Mutiara Beureunuen terus membenahi diri dengan dibangunnya empat gedung baru yang didanai oleh BRR dan APBD yaitu Ruang Rontgen, Ruang Dapur/Gizi, Ruang Laboratorium, dan Ruang Rawat Bedah sehingga kedepan diharapkan RSU Mutiara Beureunuen dapat bersaing dengan Rumah Sakit lain yang ada di Nanggroe Aceh Darussalam dalam hal kualitas pelayanan.
Pada tahun 2007 pelayanan pada RSU Mutiara Beureunuen sudah mulai ada penambahan, yaitu pelayanan pemeriksaan laboratorium, pelayanan poli gigi, dan pelayanan KIA (Persalinan, Rawat Anak, Imunisasi, dan termasuk Antenatal Care).
Jumlah staf pun mengalami penambahan berjumlah 81 orang. Pada tanggal 30 November 2007 keluar Registrasi dari Dinkes Provinsi Aceh No.
P2TSP.445/4173/2007, tentang Registrasi RSU Mutiara menjadi Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Beureunuen
Pada tahun 2008, Bupati Pidie mengajukan Usulan Penetapan Kelas RSIA Beureuneun kepada Menteri Kesehatan RI dengan surat usulan No. 065/7045, tanggal 1 Juli 2008, namun sampai saat ini RSUD Tgk.Abdullah Syafi′i Beureunuen belum ada Kelas. Selanjutnya pada tahun 2009 diusulkan untuk Registrasi RSIA Beureunuen ke Kementerian Kesehatan RI, maka keluarlah Registrasi RSIA Beureunuen berdasarkan surat No. IR.01.01/I.1/3362/2009, dengan nama Rumah Sakit Ibu dan Anak Beureuneun, dengan kode Registrasi: 11.09.0.27. Sejak tahun 2010 RSIA Beureuneun disetujui oleh Kemenkes RI sebagai PPK Jamkesmas.
Seiring dengan perkembangan Kabupaten Pidie, RSUD Tgk.Abdullah Syafi′i juga mengalami penambahan dalam hal jumlah tenaga, alat kesehatan dan fasilitas lainnya.
2. Visi dan Misi
Adapun Visi dan Misi RSUD Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie Aceh adalah sebagai berikut:
a. Visi
“Menjadikan RSUD Tgk.Abdullah Syafi′i sebagai Rumah Sakit Umum Terbaik dan Menjadi Kebanggaan Masyarakat Kabupaten Pidie khususnya serta Masyarakat Provinsi Aceh pada umumnya”.
b. Misi
1) Menjadikan Rumah Sakit Umum Daerah terbaik di Kabupaten Pidie.
2) Menyelenggarakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat secara prima, terjangkau dan profesional.
3) Mengembangkan pembangunan gedung Rumah Sakit sesuai Master Plan secara bertahap, melengkapi peralatan medis dan non medis serta pengembangan fasilitas-fasilitas umum di Rumah Sakit agar mampu memberikan rasa aman dan nyaman, serta menyenangkan bagi pelanggan.
4) Meningkatkan kompetensi Sumber Daya Manusia pada semua lini pelayanan di Rumah Sakit dalam rangka pencapaian standar pelayanan minimal, memberikan pelayanan kesehatan perorangan dengan handal, santun dan meningkatkan daya saing minimal di wilayah Kabupaten Pidie.
5) Memberikan pelayanan yang berorientasi kepada kepentingan pelanggan yang bisa dipertanggung jawabkan secara medik maupun secara moral.
3. Tujuan
Tugas RSUD Tgk.Abdullah Syafi′i adalah melaksanakan upaya kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna dengan mengutamakan upaya penyembuhan, pemulihan yang dilaksanakan secara serasi, terpadu dengan upaya peningkatan serta pencegahan, dan melaksanakan upaya rujukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
4. Fungsi
Berdasarkan tugas di atas, maka fungsi RSUD Tgk.Abdullah Syafi′i Kabupaten Pidie adalah sebagai
1) Pelayanan medis
1) Pelayanan penunjang medis dan non medis 2) Pelayanan asuhan keperawatan
3) Pelayanan rujukan
4) Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan 5) Pelaksanaan penelitian
6) Pengelolaan administrasi dan keuangan.
5. Struktur Organisasi
Pembentukan, kedudukan, tugas pokok, fungsi dan susunan organisasi RSUD Tgk Abdullah Syafii telah dituangkan dalam Qanun Kabupaten Pidie Nomor 05 tahun 2008 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah kabupaten Pidie, namun sampai kini belum disahkan struktur organisasinya yang berdiri sendiri sebagai sebuah Satuan Kerja Perangkat Kabupaten (SKPK).
6. Personalia
Saat ini RSUD Tgk Abdullah Syafii didukung oleh tenaga kesehatan dan non kesehatan baik PNS maupun non PNS seperti terlihat pada tabel berikut :
Tabel 4.1. Personalia PNS di RSUD Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie Tahun 2014
No. Pendidikan Jumlah Keterangan
1. Magister Administrasi Rumah Sakit
Tabel 4.2. Personalia Non PNS di RSUD Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie Tahun 2014
No. Pendidikan Jumlah Keterangan
Tenaga Bakti
6. Fasilitas Pelayanan a. Indikator Pelayanan
Status pelayanan kesehatan RSUD Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie Aceh sebagai indikator pelayanan Rumah Sakit yaitu dengan melihat pemanfaatan tempat tidur, interval penggunaan tempat tidur, rata-rata lama perawatan dan angka kematian pada pasien yang dirawatp, selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.3 Indikator Pelayanan Kesehatan RSUD Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie Tahun 2014
No. Indikator Tahun 2012 Tahun 2013 Tahun 2014
1. Jumlah Tempat Tidur 72 99 185
2. BOR 49,09% 43,99% 93,95%
3. LOS 2,7 hari 2,75 hari 2,50 hari
4. BTO 65,31kali 51,21 kali 65,11 kali
5. TOI 2,79 3,99 2,99
6. NDR 0,37‰ 0,70‰ 0,46‰
7. GDR 10,08‰ 6,03‰ 7,15‰
Status pelayanan kesehatan RSUD Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie Aceh sebagai indikator pelayanan Rumah Sakit yaitu salah satunya dengan melihat pemanfaatan tempat tidur (BOR) yaitu pada tahun 2012 nilai BOR sebesar 49.09%, tahun 2013 sebesar 43,99% dan 014 setelah diberlakukannya program JKN oleh BPJS sejak Januari 2014 meningkat tajam menjadi 93,95%.
4.2 Data Rujukan Pelayanan Kesehatan JKN dari Puskesmas Ujong Rimba, Puskesmas Mutiara, dan Puskesmas Tiro ke RSUD Tgk Abdullah Syafii
Dalam penelitian ini, ditetapkan tiga puskesmas mewakili ke-13 puskesmas yang merujuk pelayanan kesehatan JKN ke RSUD Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie Aceh yaitu Puskesmas Ujong Rimba, Puskesmas Mutiara dan Puskesmas Tiro.
Adapun data rujukan pelayanan kesehatan dari masing-masing puskesmas diuraikan berikut ini:
1. Puskesmas Ujong Rimba
Puskesmas Ujong Rimba adalah salah satu puskesmas yang merujuk pelayanan kesehatan JKN ke RSUD Tgk Abdullah Syafii yang terletak di Jln. Blang Malu–Didoh No. 3 Kecamatan Mutiara Timur. Tipe Puskesmas Ujong Rimba adalah non perawatan. Data sekunder dari Puskesmas Ujong Rimba diketahui jumlah rujukan pelayanan kesehatan ke RSUD Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie periode tahun 2014 sebanyak 121 rujukan.
Setelah mendapat perawatan sebanyak 19 pelayanan kesehatan (15,70%) dirujuk balik ke Puskesmas Ujong Rimba. Sedangkan dari 121 rujukan pelayanan kesehatan tersebut, sebanyak 5 rujukan (4,13%) dikategorikan masuk ke dalam 155 jenis penyakit yang menurut aturan BPJS mampu dan wajib ditangani puskesmas sebelum dirujuk ke rumah sakit dengan kualifikasi lebih tinggi.
2. Puskesmas Mutiara
Puskesmas Mutiara adalah salah satu puskesmas yang merujuk pelayanan kesehatan JKN ke RSUD Tgk Abdullah Syafii yang terletak di Jln. Banda
Aceh-Medan Km 125,5 Kecamatan Mutiara Timur. Tipe Puskesmas Mutiara adalah non perawatan. Data sekunder dari Puskesmas Mutiara diketahui jumlah rujukan pelayanan kesehatan ke RSUD Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie periode tahun 2014 sebanyak 218 rujukan.
Setelah mendapat perawatan sebanyak 11 pelayanan kesehatan (5,04%) dirujuk balik ke Puskesmas Mutiara. Sedangkan dari 218 rujukan pelayanan kesehatan tersebut, sebanyak 7 rujukan (3,21%) dikategorikan masuk ke dalam 155 jenis penyakit yang menurut aturan BPJS mampu dan wajib ditangani puskesmas sebelum dirujuk ke rumah sakit dengan kualifikasi lebih tinggi.
3. Puskesmas Tiro
Puskesmas Tiro adalah salah satu puskesmas yang merujuk pelayanan kesehatan JKN ke RSUD Tgk Abdullah Syafii yang terletak di Jln. Pintu Satu Kecamatan Tiro. Tipe Puskesmas Tiro adalah non perawatan. Data sekunder dari Puskesmas Tiro diketahui jumlah rujukan pelayanan kesehatan ke RSUD Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie periode tahun 2014 sebanyak 136 rujukan.
Setelah mendapat perawatan sebanyak 11 pelayanan kesehatan (8,08%) dirujuk balik ke Puskesmas Tiro. Sedangkan dari 136 rujukan pelayanan kesehatan tersebut, sebanyak 4 rujukan (2,94%) dikategorikan masuk ke dalam 155 jenis penyakit yang menurut aturan BPJS mampu dan wajib ditangani puskesmas sebelum dirujuk ke rumah sakit dengan kualifikasi lebih tinggi.
4.3 Penyajian dan Analisis Data
Sesuai dengan tujuan penelitian pada Bab 1, maka pada sub bab ini akan disajikan hasil penelitian berupa karakteristik informan penelitian dan data hasil penelitian yang diperoleh baik melalui wawancara langsung (data primer) dan studi dokumentasi (data sekunder). Hasil penelitian melalui wawancara direkam lalu dicatat dalam bentuk transkrip dan kemudian disederhanakan dengan memilih dan memfokuskan pada hal-hal yang penting untuk mendapatkan gambaran yang lebih tajam.
Hasil penelitian dikelompokkan ke dalam 3 aspek yaitu: 1) karakteristik informan; 2) ketersediaan tenaga kesehatan, ketersediaan obat-obatan dan kelengkapan fasilitas kesehatan di Puskesmas terkait dengan rujukan pelayanan kesehatan JKN ke RSUD Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie Aceh; dan 3)manajemen rujukan pelayanan kesehatan JKN dari puskesmas di Rumah Sakit Umum Daerah Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie Aceh. Selengkapnya dapat dijelaskan sebagai berikut:
4.3.1 Karakteristik Informan
Hasil penelitian yang dilakukan di RSUD Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie Aceh diketahui karakteristik informan. Berdasarkan umur, informan berada pada rentang usia 35-50 tahun. Berdasarkan jenis kelamin, informan mayoritas laki-laki. Berdasarkan pendidikan, informan mayoritas berpendidikan sarjana (S-1).
Berdasarkan status, informan dari 6 puskesmas terdiri dari 3 kepala puskesmas dan 3 pasien yang dirujuk dari masing-masing puskesmas tersebut. Selebihnya, informan
berasal dari internal RSUD Tgk Abdullah Syafii. Lebih jelas sebagaimana tabel berikut ini.
Tabel 4.4. Distribusi Karakteristik Informan di RSUD Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie Aceh
No.
Informan Umur Jenis
Kelamin Pendidikan Jabatan/Status Lama Bertugas
4.3.2 Ketersediaan Tenaga Kesehatan, Ketersediaan Obat-obatan dan Kelengkapan Sarana dan Prasarana Kesehatan di Puskesmas Terkait dengan Rujukan Pelayanan Kesehatan JKN ke RSUD Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie Aceh
Hasil wawancara dikelompokkan berdasarkan ketersediaan sumber daya manusia (tenaga kesehatan dan non kesehatan), ketersediaan sarana dan prasarana fasilitas kesehatan, ketersediaan obat, dan akses jalan di fasilitas kesehatan tingkat I yaitu 3 puskesmas yang merujuk pelayanan kesehatan JKN ke RSUD Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie.
1. Ketersediaan tenaga kesehatan dan non kesehatan
Berdasarkan hasil wawancara tentang ketersediaan tenaga kesehatan dan non kesehatan dengan 3 kepala puskesmas (Puskesmas Ujong Rimba, Puskesmas Mutiara, dan Puskesmas Tiro) dan 3 pasien rujukan masing-masing puskesmas diperoleh informasi sebagaimana dirangkum pada matrik berikut ini.
Berdasarkan hasil wawancara tentang ketersediaan tenaga kesehatan dan non kesehatan dengan 3 kepala puskesmas (Puskesmas Ujong Rimba, Puskesmas Mutiara, dan Puskesmas Tiro) dan 3 pasien rujukan masing-masing puskesmas diperoleh informasi sebagaimana dirangkum pada matrik berikut ini.