BAB 4. HASIL PENELITIAN
4.3 Penyajian dan Analisis Data
4.3.3 Manajemen Rujukan Pelayanan Kesehatan JKN dari
Hasil wawancara tentang manajemen rujukan pelayanan kesehatan JKN dari puskesmas ke RSUD Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie dikelompokkan atas empat proses yaitu proses pendataan, proses pencatatan, proses pemeriksaan, dan proses hasil. Proses pendataan yaitu kegiatan mendata rujukan pelayanan kesehatan JKN, proses pencatatan adalah kegiatan mencatat kondisi dan keluhan rujukan pelayanan kesehatan JKN, proses pemeriksaan adalah proses memeriksa kondisi pasien untuk diambil tindakan, dan proses hasil adalah keluaran dari proses pemeriksaan apakah rujukan pelayanan kesehatan setelah diperiksa dan diambil tindakan dirujuk balik ke puskesmas atau di rawat inap di RSUD Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie ataukah dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat lanjut (tersier).
1. Proses Pendataan Rujukan Pelayanan Kesehatan JKN di RSUD Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie
Berdasarkan hasil wawancara tentang proses pendataan rujukan pelayanan kesehatan di RSUD Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie kepada informan 7 sampai
dengan 10 (direktur, kasi yanmed, & keperawatan, kasi penunjang medik dan kasi verifikasi data), diperoleh informasi sebagaimana dirangkum pada matrik berikut ini.
Tabel 4.9. Matrik Jawaban Informan tentang Proses Pendataan Rujukan Pelayanan Kesehatan JKN di RSUD Tgk Abdullah Syafii
Kabupaten Pidie Aceh
Informan Jawaban
7: Direktur “Proses pendataan rujukan pelayanan kesehatan JKN dari puskesmas di rumah sakit ini lancar dan tidak ada kendala.”
“Sarana dan prasarana untuk proses pendataan sangat mendukung.”
“Dalam proses pendataan tidak ada kendala, namun ada sedikitlah kadang-kasang masalah komputer kalau rusak.”
8: Kasi Yanmed&
Keperawatan
“Proses pendataan rujukan pelayanan kesehatan JKN dari puskesmas di rumah sakit ini guna proses pengobatan lancar tanpa kendala.”
“Fasilitas pendataan mendukung seperti computer dan wifi/jaringan internet.”
“Keluhan dalam proses pendataan ada yaitu hal-hal yang kecil saja seperti kurangnya tenaga bila pasien banyak pada saat-saat tertentu.”
9: Kasi Penunjang Medik
“Mengenai proses pendataan rujukan pelayanan kesehatan JKN dari puskesmas di rumah sakit ini selama ini tidak ada kendala atau lancar.”
“Fasilitas selama ini sangat mendukung dan lancar.”
“Dalam proses pendataan selama ini tidak ada keluhan.”
10: Kasi Verifikasi Data
“Pasien datang ke rumah sakit dengan membawa
KTP/KK/Kartu BPJS dan surat rujukan dari puskesmas.”
“Fasilitas atau sarana proses pendataan masih terbatas.”
“Keluhan berkaitan dengan proses pendataan adalah sarana dan prasarana belum memadai”
Berdasarkan data hasil wawancara di atas, dapat diketahui secara umum proses pendataan surat rujukan pelayanan kesehatan JKN dari berbagai puskesmas di Kabupaten Pidie ke RSUD Tgk Abdullah Syafii berjalan lancar tanpa ada kendala, sudah didukung sarana dan prasarana yang memadai, hanya ada keluhan berkaitan dengan komputer yang kadang-kadang rusak. Menyikapi keadaan ini, pihak manajemen rumah sakit segera memanggil teknisi. Ditambahkan oleh informan 10 menyatakan bahwa pendataan akan berjalan lancar bila rujukan pelayanan kesehatan JKN disertai KTP/KK/Kartu BPJS dan surat rujukan, walaupun ada keterbatasan sarana prasarana seperti kondisi komputer yang mengalami gangguan.
2. Proses Pencatatan Rujukan Pelayanan Kesehatan JKN di RSUD Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie
Berdasarkan hasil wawancara tentang proses pencatatan rujukan pelayanan kesehatan di RSUD Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie kepada informan 7 sampai dengan 10 (direktur, kasi yanmed, & keperawatan, kasi penunjang medik dan kasi verifikasi data), diperoleh informasi sebagaimana dirangkum pada matrik berikut ini.
Tabel 4.10. Matrik Jawaban Informan tentang Proses Pencatatan Rujukan Pelayanan Kesehatan JKN di RSUD Tgk Abdullah Syafii
Kabupaten Pidie Aceh
Informan Jawaban
7: Direktur “Proses pencatatan rujukan pelayanan kesehatan JKN dari puskesmas di rumah sakit ini lancar.”
“Sarana dan fasilitas sangat mendukung.”
“Keluhan menyangkut proses pencatatan rujukan pelayanan kesehatan dari puskesmas di rumah sakit ini tidak ada.”
Tabel 4.10. (Lanjutan)
Informan Jawaban
8: Kasi Yanmed&
Keperawatan
“Proses pencatatan rujukan pelayanan kesehatan JKN dari puskesmas di rumah sakit ini lancar .”
“Sarana dan fasilitas mendukung.”
“Keluhan menyangkut proses pencatatan rujukan pelayanan kesehatan dari puskesmas di rumah sakit ini ada yaitu ada pasien yang belum punya kartu BPJS.”
9: Kasi Penunjang Medik
“Mengenai proses pendataan rujukan pelayanan kesehatan JKN dari puskesmas di rumah sakit ini selama ini lancar.”
“Sarana dan fasilitas sangat mendukung.”
“tidak ada keluhan menyangkut proses pencatatan rujukan pelayanan kesehatan dari puskesmas di rumah sakit ini.”
10: Kasi Verifikasi Data
“Proses pencatatan kadang ada kendalanya bila identitas pasien dari Puskesmas tidak lengkap.”
“Sarana dan fasilitas masih terbatas.”
Berdasarkan data hasil wawancara di atas, dapat diketahui secara umum proses pencatatan rujukan pelayanan kesehatan JKN dari berbagai puskesmas di Kabupaten Pidie ke RSUD Tgk Abdullah Syafii lancar. Kecuali informan 10 menyatakan bahwa pencatatan masih didukung sarana dan fasilitas yang terbatas dan kartu identitas pasien sering tidak lengkap.
3. Proses Pemeriksaan Rujukan Pelayanan Kesehatan JKN di RSUD Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie
Berdasarkan hasil wawancara tentang proses pemeriksaan rujukan pelayanan kesehatan di RSUD Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie kepada informan 7 sampai dengan 10 (direktur, kasi yanmed, & keperawatan, kasi penunjang medik dan kasi verifikasi data), diperoleh informasi sebagaimana dirangkum pada matrik berikut ini.
Tabel 4.11. Matrik Jawaban Informan tentang Proses Pemeriksaan Rujukan Pelayanan Kesehatan JKN di RSUD Tgk Abdullah Syafii
Kabupaten Pidie Aceh
Informan Jawaban
7: Direktur “Proses pemeriksaan rujukan pelayanan kesehatan JKN dari puskesmas di rumah sakit ini baik.”
“Sarana dan fasilitas sangat mendukung dan sangat lancar.”
“Tdak ada keluhan menyangkut proses pencatatan rujukan pelayanan kesehatan dari puskesmas di rumah sakit ini.”
8: Kasi Yanmed&
Keperawatan
“Proses pemeriksaan rujukan pelayanan kesehatan JKN dari puskesmas di rumah sakit ini diverifikasi oleh tim verifikasi BPJS.”
“Sarana dan fasilitas mendukung.”
“Keluhan menyangkut proses pemeriksaan yaitu masalah kartu BPJS ada pasien yang belum memiliki.”
9: Kasi Penunjang Medik
“Mengenai proses pemeriksaan sangat baik dan lancar.”
“Sarana dan fasilitas yang ada baik namun kadang-kadang ada juga kendala.”
Tabel 4.11. (Lanjutan)
Informan Jawaban
“Tidak ada keluhan menyangkut proses pemeriksaan rujukan pelayanan kesehatan dari puskesmas di rumah sakit ini.”
10: Kasi Verifikasi Data
“Proses pemeriksaan berdasarkan kartu identitas pasien dan surat rujukan dari puskesmas.”
“Sarana dan fasilitas belum mampu mendukung tugas pemeriksaan.”
Berdasarkan data hasil wawancara di atas, dapat diketahui secara umum proses pemeriksaan rujukan pelayanan kesehatan JKN dari berbagai puskesmas di Kabupaten Pidie ke RSUD Tgk Abdullah Syafii sudah baik dan lancar. Kecuali informan 10 menyatakan bahwa pencatatan masih dipersulit oleh ketidaklengkapan identitas pasien dan sebagian sarana dan fasilitas belum mendukung.
4. Hasil Proses Pelayanan Kesehatan Lanjutan di RSUD Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie
Berdasarkan hasil wawancara tentang hasil proses pelayanan kesehatan lanjutan kepada pasien yang dirujuk dari puskesmas di RSUD Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie kepada informan 7 sampai dengan 10 (direktur, kasi yanmed, &
keperawatan, kasi penunjang medik dan kasi verifikasi data), diperoleh informasi sebagaimana dirangkum pada matrik berikut ini.
Tabel 4.12. Matrik Jawaban Informan tentang Hasil Proses Pelayanan
Kesehatan Lanjutan di RSUD Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie Aceh
Informan Jawaban
7: Direktur “Hasil manajemen rujukan pelayanan kesehatan JKN di rumah sakit selama ini yah diklaim untuk amprahan jasa medis dan biaya lain.”
“Persentase keberhasilan pelayanan kesehatan lanjutan kepada pasien JKN yang dirujuk pelayanan kesehatannya sebesar 90%”.
“Persentase rujukan balik 21,84%.”
“Persentase rujukan lanjut ke faskes tersier (kelas B) sebesar 10,00%.”
8: Kasi Yanmed&
Keperawatan
“Hasil manajemen rujukan pelayanan kesehatan JKN di rumah sakit selama ini yah diklaim untuk amprahan jasa medis dan biaya lain.”
“Persentase keberhasilan pelayanan kesehatan lanjutan kepada pasien JKN yang dirujuk pelayanan kesehatannya sebesar 90%”.
“Persentase rujukan balik 21,84%.”
“Persentase rujukan lanjut ke faskes tersier (kelas B) sebesar 10,00%.”
9: Kasi Penunjang Medik
“Hasil manajemen rujukan pelayanan kesehatan JKN di rumah sakit selama ini yah diklaim untuk amprahan jasa medis dan biaya lain.”
“Persentase keberhasilan pelayanan kesehatan lanjutan kepada pasien JKN yang dirujuk pelayanan kesehatannya sebesar 90%”.
“Persentase rujukan balik 21,84%.”
“Persentase rujukan lanjut ke faskes tersier (kelas B) sebesar 10,00%.”
Tabel 4.12. (Lanjutan)
Informan Jawaban
10: Kasi Verifikasi Data
“Hasil manajemen rujukan pelayanan kesehatan JKN di rumah sakit selama ini yah diklaim untuk amprahan jasa medis dan biaya lain.”
“Persentase keberhasilan pelayanan kesehatan lanjutan kepada pasien JKN yang dirujuk pelayanan kesehatannya sebesar 90%”.
“Persentase rujukan balik 21,84%.”
“Persentase rujukan lanjut ke faskes tersier (kelas B) sebesar 10,00%.”
Berdasarkan data hasil wawancara di atas, dapat diketahui secara umum hasil proses pelayanan kesehatan kepada rujukan pelayanan JKN dari berbagai puskesmas ke Kabupaten Pidie ke RSUD Tgk Abdullah Syafii keberhasilannya 90% yang dirinci lagi atas 21,84% pasien dirujuk balik dan 68,16% pasien sembuh dan pulang sementara 10% dari pasien dirujuk lanjut ke fasilitas kesehatan tersier (rumah sakit kelas B).
Untuk mendukung hasil wawancara dengan informan dari internal RSUD Tgk Abdullah Syafii, juga dilakukan wawancara tentang keputusan dirujuk, pengurusan surat rujukan di puskesmas dan tentang pelayanan kesehatan lanjutan yang diterima pasien setelah dirujuk ke RSUD Tgk Abdullah Syafii. Dari ketiga pasien (Informan 2, 4, dan 6) diperoleh informasi sebagaimana dalam matrik jawaban berikut ini.
Tabel 4.13. Matrik Jawaban Informan tentang Pengurusan Surat Rujukan dari
“Saya minta dirujuk aja karena dah 3 hari berobat di sini tidak sembuh dan minta dirongent lagi di RSU”
“Pelayanan lanjutan di rumah sakit umum ini baik, tapi kadang-kadang satu ruangan sampai 5 tempat tidur makanya ruangan terasa panas, walaupun AC ada.”
4: Pasien dari Puskesmas Mutiara
“Saya minta dirujuk saja karena di rumah sakit fasilitas lengkap dan pelayanan baik.”
“Pelayanan lanjutan di rumah sakit umum ini sangat menyenangkan, baik dalam pemberian obat dan pelayanannya.”
6: Pasien dari Puskesmas Tiro
“Saya rasa kurang puas pelayanan di puskesmas asal saya, kadang-kadang dokter jarang masuk di poli umum, lagi pula saya rumahnya dekat dengan rumah sakit ini.”
“Pelayanan lanjutan di rumah sakit umum ini sangat baik, tapi ada sedikit kendala pada waktu pemeriksaan dokter (visit) tidak tepat waktu masuk.”
Berdasarkan data hasil wawancara di atas, dapat diketahui secara umum pasien sendiri yang meminta dirujuk ke rumah sakit dengan berbagai alasan antara ada pasien yang menyatakan minta dirujuk karena sudah 3 hari berobat jalan ke puskesmas tidak juga sembuh. Pasien lain menyatakan lebih mempercayai pelayanan kesehatan rumah sakit daripada pelayanan kesehatan puskesmas. Pasien berikutnya menyatakan ke puskesmas sekedar meminta surat rujukan karena domisilinya lebih
dekat ke RSUD Tgk Abdullah Syafii, sehingga memilih lebih baik berobat ke rumah sakit ini.
Berkaitan dengan pelayanan setelah dirujukan ke RSUD Tgk Abdullah Syafii, pasien menyatakan pelayanan kesehatan lanjutan yang mereka terima secara umum cukup memuaskan. Namun ada beberapa pasien yang mengeluhkan masalah kunjungan dokter yang sering terlambat, sehingga mereka merasa sedikit gelisah.
Pasien lain mengeluhkan ruang perawatan cenderung padat dan rame karena kadang-kadang diisi 5 tempat tidur.
BAB 5 PEMBAHASAN
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) adalah jaminan perlindungan kesehatan agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran/iurannya dibayar oleh pemerintah (Kemenkes RI, 2013)
Program Jaminan Kesehatan Nasional disingkat Program JKN adalah suatu program Pemerintah dan Masyarakat/Rakyat dengan tujuan memberikan kepastian jaminan kesehatan yang menyeluruh bagi setiap rakyat Indonesia agar penduduk Indonesia dapat hidup sehat, produktif, dan sejahtera.
Sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 128/Menkes/Sk/II/2004 tentang Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat dinyatakan bahwa rujukan adalah pelimpahan wewenang dan tanggungjawab atas kasus penyakit atau masalah kesehatan yang diselenggarakan secara timbal balik, baik secara vertikal dalam arti satu strata sarana pelayanan kesehatan ke strata sarana pelayanan kesehatan lainnya, maupun secara horisontal dalam arti antar sarana pelayanan kesehatan yang sama.
Secara ringkas, sistem rujukan memberikan kontribusi pada standar pelayanan medis yang tinggi, dengan membatasi upaya medis yang berlebihan dan adanya pembagian tugas yang efisien antara dokter umum dan dokter spesialis (Rochjati, 2004).
Prosedur pelayanan bagi pasien JKN yaitu peserta yang memerlukan pelayanan kesehatan pertama-tama harus memperoleh pelayanan kesehatan pada fasilitas kesehatan tingkat pertama. Bila peserta memerlukan pelayanan kesehatan tingkat lanjutan, maka hal itu harus dilakukan melalui rujukan oleh fasilitas kesehatan tingkat pertama, kecuali dalam keadaan kegawatdaruratan medis.
Penelitian ini mengambil topik penelitian tentang manajemen rujukan pelayanan kesehatan JKN dari fasilitas kesehatan tingkat I (primer) yaitu puskesmas yang berada di Kabupaten Pidie ke RSUD Tgk Abdullah Syafii. Pembahasan dilakukan terhadap hasil penelitian meliputi pembahasan tentang ketersediaan tenaga kesehatan, ketersediaan obat-obatan dan kelengkapan fasilitas kesehatan di Puskesmas yang merujuk dan pembahasan terhadap manajemen rujukan pelayanan kesehatan JKN dari puskesmas di Rumah Sakit Umum Daerah Tgk Abdullah Syafii.
5.1 Ketersediaan Tenaga Kesehatan, Ketersediaan Obat-obatan dan Kelengkapan Sarana dan Prasarana Kesehatan di Puskesmas Terkait dengan Rujukan Pelayanan Kesehatan JKN ke RSUD Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie Aceh
Pembahasan dilakukan terhadap data hasil wawancara tentang ketersediaan sumber daya manusia (tenaga kesehatan dan non kesehatan), ketersediaan sarana dan prasarana fasilitas kesehatan, ketersediaan obat, dan akses jalan di fasilitas kesehatan tingkat I yaitu 3 puskesmas yang merujuk pelayanan kesehatan JKN ke RSUD Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie.
4. Ketersediaan tenaga kesehatan dan non kesehatan di Puskesmas
Hasil penelitian bahwa secara umum di ketiga puskesmas (Puskesmas Ujong Rimba, Puskesmas Mutiara, da Puskesmas Tiro) ketersediaan tenaga kesehatan maupun non kesehatan masih kurang. Tenaga kesehatan yang kurang di ketiga puskesmas adalah dokter gigi, dokter umum dan analis. Masing-masing puskesmas sudah memiliki 1 orang dokter dan umumnya adalah kepala puskesmas. Sedangkan tenaga non kesehatan yang masih kurang rata-rata petugas administrasi umum maupun keuangan. Sehingga untuk menyikapi ini tenaga perawat berperan ganda sebagai tenaga administrasi/tata usaha. Sementara informasi dari para pasien, hanya satu pasien menyatakan kurang tenaga kesehatan di puskesmas, dua lainnya menyatakan kurang tahu.
5. Ketersediaan obat-obatan di Puskesmas
Hasil penelitian bahwa secara umum di ketiga puskesmas (Puskesmas Ujong Rimba, Puskesmas Mutiara, dan Puskesmas Tiro), ketersediaan obat-obatan masih kurang. Obat yang ada di ketiga puskesmas pada umumnya semakin menipis pada akhir bulan. Informasi dari pasien juga memberitahukan hal yang sama tentang kurangnya obat di ketiga puskesmas. Sehingga untuk menyikapi ini pihak puskesmas merujuk pasien ke rumah sakit dan sering terjadi pasien yang mengetahui obat yang diberikan kurang, mereka meminta rujukan langsung.
6. Kelengkapan Sarana dan Prasarana Kesehatan di Puskesmas
Berdasarkan hasil penelitian, diketahui secara umum di ketiga puskesmas (Puskesmas Ujong Rimba, Puskesmas Mutiara, dan Puskesmas Tiro) ketersediaan
fasilitas kesehatannya masih kurang. Fasilitas yang kurang adalah ruang perawatan seperti poli gigi, laboratorium dan ruang konsultasi untuk gizi dan kejiwaan.
Sedangkan peralatan kesehatan yang kurang adalah mikroskop. Satu puskesmas sudah memiliki mikroskop tapi tenaga ahli yang tidak ada. Sementara informasi dari pasien, satu orang menyatakan sudah lengkap karena suasana puskesmas sudah nyaman dan dua orang menyatakan kurang lengkap sehingga mereka minta dirujuk.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa banyak pasien yang dirujuk atau minta rujukan walaupun sebenarnya jenis penyakit termasuk ke dalam 155 penyakit yang seharusnya mampu ditangani fasilitas kesehatan tingkat I. Hal ini terjadi karena keterbatasan sarana prasarana kesehatan di puskesmas seperti keterbasan alat rongent, alat laboratorium dan obat. Dari data sekunder dapat dilihat dari 121 rujukan pelayanan kesehatan ke RSUD Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie, setelah diberikan perawatan lanjutan sebanyak 19 dirujuk balik setelah diberikan perawatan.
Sedangkan sebanyak 5 rujukan dikategorikan masuk ke dalam 155 jenis penyakit yang menurut aturan BPJS mampu dan wajib ditangani puskesmas sebelum dirujuk ke rumah sakit dengan kualifikasi lebih tinggi.
Pada Puskesmas Mutiara Dari data sekunder dapat dilihat dari 218 rujukan pelayanan kesehatan ke RSUD Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie, setelah diberikan perawatan lanjutan sebanyak 11 dirujuk balik setelah diberikan perawatan.
Sedangkan 7 rujukan dikategorikan masuk ke dalam 155 jenis penyakit yang menurut aturan BPJS mampu dan wajib ditangani puskesmas sebelum dirujuk ke rumah sakit
Pada Puskesmas Tiro dari 136 rujukan pelayanan kesehatan ke RSUD Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie, setelah diberikan perawatan lanjutan sebanyak 11 dirujuk balik setelah diberikan perawatan. Sedangkan 4 rujukan dikategorikan masuk ke dalam 155 jenis penyakit yang menurut aturan BPJS mampu dan wajib ditangani puskesmas sebelum dirujuk ke rumah sakit dengan kualifikasi lebih tinggi.
Menurut alur rujukan pelayanan kesehatan pasien JKN bahwa jika bukan kasus emergency, maka pasien yang merupakan peserta BPJS harus mengunjungi fasilitas kesehatan primer terlebih dahulu. Jika fasilitas kesehatan primer (Puskesmas, RS Kelas D) tidak mampu menangani, maka pasien dapat dirujuk ke RS yang lebih tinggi kelasnya. Dengan demikian, implementasi JKN mengatur bahwa rujukan berjenjang adalah hal mutlak yang harus dilaksanakan dan dipatuhi. Jika dilaksanakan dengan benar, maka ini akan membuat jumlah pasien di RS rujukan tertinggi menajdi berkurang secara kuantitas, namun tingkat kesulitannya meningkat (BPJS, 2014).
Menurut Kepmenkes Nomor 75 tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat bahwa Puskesmas sebagai salah satu jenis fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama memiliki peranan penting dalam sistem kesehatan nasional, khususnya subsistem upaya kesehatan. Bahwa Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.
Pada pasal 41 Kepmenkes ini dinyatakan bahwa Puskesmas dalam menyelenggarakan upaya kesehatan dapat melaksanakan rujukan dan dilaksanakan
sesuai sistem rujukan. Ketentuan mengenai sistem rujukan sebagaimana dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pada era berlakunya JKN, BPJS telah mengeluarkan pula buku Panduan Praktis Sistem Rujukan Berjenjang.
Berdasarkan hasil penelitian di atas, menurut asumsi peneliti kondisi puskesmas yang merujuk pelayanan kesehatan JKN ke RSUD Tgk Abdullah Syafii yaitu di Kabupaten Pidie bila ditinjau dari tentang ketersediaan tenaga kesehatan, ketersediaan obat-obatan dan kelengkapan sarana dan prasarana belum mampu melaksanakan tugas dan fungsinya secara maksimal sebagai sebagai fasilitas kesehatan tingkat I. Penilaian ini dibuktikan lagi dengan ditemukannya rujukan pelayanan kesehatan JKN yang kasusnya termasuk ke dalam 155 jenis penyakit yang seharusnya bisa ditangani di fasilitas kesehatan tingkat I (puskesmas). Kondisi ini salah satunya disebabkan oleh kemampuan dokter puskesmas yang masih terbatas bahkan dalam menangani penyakit yang seharusnya bias diatasinya. Hal ini karena ada beberapa dokter yang masih baru lulus atau baru ditempatkan sehingga kurang pengalaman dalam praktiknya.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer, dinyatakan bahwa tingkat kemampuan dokter dalam pengelolaan penyakit dikelompokan menjadi 4 tingkatan, yakni : tingkat kemampuan 1, 2, 3A, 3B, 4A dan tingkat kemampuan 4B. Tingkat Kemampuan 4A yaitu tingkat kompetensi yang dicapai pada saat lulus dokter. Kondisi saat ini, kasus rujukan ke layanan sekunder
tinggi. Berbagai faktor mempengaruhi diantaranya kompetensi dokter, pembiayaan, dan sarana prasarana yang belum mendukung. Perlu diketahui pula bahwa sebagian besar penyakit dengan kasus terbanyak di Indonesia berdasarkan Riskesdas 2010 dan 2013 termasuk dalam kriteria 4a.
Hasil penelitian ini, sesuai dengan hasil penelitian Simba pada tahun 2008 tentang Sistem rujukan pasien di Rumah Sakit Nasional: Tantangan di Negara-negara Berpenghasilan Rendah, dengan hasil menunjukkan bahwa dari 11.412 pasien, 75%
melakukan rujuan sendiri. Lebih dari 70% pasien memiliki surat rujukan, namun tidak perlu dirujuk hingga ke fasilitas kesehatan tingkat tiga. Hanya 0,8% pasien yang berasal dari luar daerah Dar es Salaam, Tanzania. Pasien yang diberi pelayanan operasi 66,8% yang diterima, dengan kondisi yang paling menonjol adalah kasus obstetric (24,6% dari seluruh pasien). Bagi pasien yang resmi dirujuk dari pelayanan kesehatan lainnya, kurangnya keahlian dan peralatan umum yang dimiliki adalah alasan dilakukannya rujukan (96,3%).
Hasil penelitian juga sesuai dengan hasil penelitian Noparatayaporn pada tahun 2014 tentang rujukan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama ke tingkat ketiga di Rumah Sakit Umum. Dengan hasil menunjukkan bahwa sepuluh penyakit yang menjadi penyebab pentingnya dilakukan rujukan pasien dari fasilitas kesehatan primer ke ke fasilitas kesehatan sekunder dan lanjut ke fasilitas kesehatan tersier adalah katarak, diabetes, hipertensi, kanker, abnormal sendi, osteoarthritis, infeksi, alergi rhinitis, depresi, dan komplikasi luka. Ketersediaan obat penting yang tidak
memadai, beban kerja yang tidak mendukung, kurangnya peralatan dan kurangnya dokter spesialis di fasilitas kesehatan primer cenderung mengakibatkan dilakukannya rujukan pasien kronis atau pasien dengan komplikasi ke fasilitas kesehatan tersier.
5.2 Manajemen Rujukan Pelayanan Kesehatan JKN dari Puskesmas di Rumah Sakit Umum Daerah Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie Aceh
5.2 Manajemen Rujukan Pelayanan Kesehatan JKN dari Puskesmas di Rumah Sakit Umum Daerah Tgk Abdullah Syafii Kabupaten Pidie Aceh