BAB II. LANDASAN TEOR
B. Pembahasan
3. Komoditas yang mempengaruhi inflasi di Solo Raya
Dalam rangka menguji perilaku inflasi dan berbagai faktor yang mempengaruhinya, tidak cukup dilakukan studi dengan menggunakan berbagai model ekonometrika melalui permintaan uang, melainkan potensi inflasi juga dapat dicermati dari sisi penawaran. Berkaitan dengan hal ini, maka tidak saja dari masalah jumlah penyediaan barang dan jasa, melainkan juga perilaku distribusi dari barang dan jasa tersebut. Nilai tambah yang tinggi juga terkait dengan perilaku dan jalur distribusi dari suatu komoditas atau kebijakan.
Beras, daging ayam ras, dan cabe merah merupakan komoditas yang paling sering memberikan inflasi tertinggi di Solo Raya. Hal ini sangat wajar karena komodits tersebut merupakan kebutuhan pokok masyarakat sehingga porsi nilai konsumsi komoditas tersebut terhadap total nilai konsumsi
masyarakat cukup besar. Komoditas-komoditas tersebut merupKn leader
goods yang bila harganya naik maka akan mendorong kenaikan harga
produk-produk lainnya (inflasi). Bila hal tersebut dibiarkan, perekonomian secara makro akan terganggu. Dengan demikian, segenap inflasi terkait berkepentingan untuk selalu menjaga stabilitas harga komoditas-komoditas tersebut.
commit to user
Penentuan harga sebuah barang ditentukan oleh pihak penjual (supply) dan pembeli(demand). Kondisi elastisitas di masing-masing pihak sangat menentukan pihak mana yang akan berperan penting dalam menentukan harga dan siapa yang akan menikmati keuntungan yang paling besar. Jika pihak penjual atau pembeli dalam kondisi yang elastis maka dia mempunyai kesempatan untuk memutuskan berapa harga barang tersebut dan dia akan menikmati keuntungan yang lebih besar atau dengan kata lain posisi tawar menawarnya (bargaining position) yang kuat. Sebaliknya jika dalam kondisi yang inelastis, maka pihak penjual atau pembeli cenderung akan mengikuti tingkat harga yang sudah ditentukan oleh oihak yang lebih kuat. Apabila pembeli yang memiliki posisi tawar menawar yang kuat maka disebut buyer
market, sedangkan jika penjual yang kuat maka disebut seller market.
Tiga komoditas utama tersebut yang merupakan kebutuhan pokok memiliki elastisitas permintaan yang sangat inelastis dibandingkan dibandingkan dengan elastisitas penawarannya, maka dengan dengan demikian harga ditingkat konsumen lebih ditentukan oleh pihak penjual atau lebih dikenal dengan seller market. Harga komoditas ditingkat konsumen atau harga di pasar akhir sangat menentukan tingkat inflasi. Apabila memang pihak penjual sangat menentukan harga komoditas ditingkat konsumen, maka petani atau produsen sebagai pihak penjual pertama juga sangat menentukan terrhadap oenentuan harga komoditas. Pertanyaan yang kemudian muncul dari pertanyaan teersebut adalah faktor-faktor apakah yang menentukan harga komoditas tersebut secara spesifik dari aktifitas yang dilakukan oleh pelaku
commit to user
tersebut. Beberapa penelitian sebelumnya sudah banyak mengungkapkan hal tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian Kantor Bank Indonesia Solo bekerjasama dengan PPEP Fakultas Ekonomi Universitas Sebalas Maret (2008) diketahui bahwa untuk komoditas utama penyumbang inflasi terbesar di Solo Raya, khususnya beras, masalah yang krusial di tingkat petani yang menyebabkan harga berfluktuasi adalah ketersediaan dan harga input yang mencakup benih, pupuk, air, obat-obatan, dan tenaga kerja. Input yang sulit didapatkan menyebabkan harganya tinggi. Di sisi lain, lahan usaha tani padi semakin berkurang seiring adanya alih fungsi lahan sehingga harga sewa lahan semakin tinggi. Masalah lain adalah kurangnya akses permodalan bagi petani. Berbagai masalah tersebut menjadikan pasokan beras terganggu dan pada akhirnya harga beras meningkat. Selain masalah pada tingkat petani, di tingkat pedagang perantara, biaya pemasaran sangat tinggi, yang mencakup biaya transportasi, pengepakan dan penyimpanan, sementara fasilitas pasar seperti pergudangan, bongkar muat dan fasilitas lainnya tidak cukup memadai.
Untuk komoditas daging ayam ras, diketahui bahwa harga pakan, bibit dan obat-obatan seringkali tidak menentu. Hal ini terkait dengan struktur pasar yang bersifat oligopsoni pada tingkat pedagang pengumpul, serta oligopsoni dan oligopoli pada tingkat pedagang pasar atau pemotong.
Untuk komoditas daging ayam ras, masalah yang dihadapi hampir sama dengan peternak daging ayam ras, diantaranya adalah harga pakan,
commit to user
bibit, vitamin dan obat-obatan yang tidak menentu. Sementara pada tingkat pedagang perantara, biaya transporastasi dan penyimpanan cukup tinggi, kualitas produk tidak stabil, penyusutan dan tingkat kerusakan telur yang tinggi dan fasilitas pasar yang kurang memadai.
Untuk komoditas sayuran, termasuk di dalamnya cabe merah, masalah yang dihadapi pada tingkat petani meliputi lahan yang relatif terbatas, cuaca tidak teratur, keterbatasan input sarana produksi dan modal kerja rendah. Sementara masalah yang dihadapi pada tingkat pedagang perantara meliputi jarak pemasaran yang relatif jauh sehingga biaya transportasi dan risiko kerusakan selama pengangkutan relatif tinggi, biaya penyimpanan relatif besar, susutnya volume komoditas, pasokan komoditas yang tidak teratur, kualitas komoditas yang bervariasi dan minimnya fasilitas pasar.
a. Rantai Nilai Komoditi Beras
Komoditi beras yang menjadi pengamatan pada survey ini adalah jenis C4.
Tabel 3.2 Komoditi beras
PRODUKSI PASCA PANEN DISTRIBUSI
- Persiapan Lahan - Penyemalan - Penanaman - Pemupukan - Pemeliharaan - Panen - Pengeringan - Penggilingan - Pengemasan - Transportasi - Distribusi
commit to user
Gambar 3.5 Rantai Pasok Beras
(Sumber: Kantor Bank Indonesia Solo)
Para pelaku yang ditemukan pada rantai pasok beras adalah petani, pedagang pengumpul, pemilik penggilingan padi (rice miil), pedagang besar dan pengecer. Dari sisi aktivitas, petani merupakan pelaku dengan aktivitas yang paling beragam dan memakan waktu yang lama. Aktivitas produksi, mulai dari persiapan lahan, penyemaian, penanaman, pemeliharaan dan pemanenan. Lalu aktivitas pasca panen melibatkan pedagang pengumpul, pemilik rice mill dan pedagang besar dan pengecer. Di luar para pelaku tersebut tercatat peranan penting Toko Saprotan dan institusi Bulog sebagai jasa pendukung produksi dan pemasarn pada rantai pasok tersebut.
Untuk memberikan gambaran mengenai peta rantai nilai komoditas beras, diberikan ilustrasi dari salah satu responden pedagang eceran yang
BULOG
TOKO SAPROTAN PEDAGANG PENGUMPUL KUDPETANI PEMILIK RICE MILL PEDAGANG BESAR PENGECER KONSUMEN AKHIR 48,43 40 47,83 51,13 4,35 2,22 4,35 6,63
commit to user
menjadi responden dalam penelitian ini. Salah satu responden pedagang eceran tersebut menjual bermacam-macam kebutuhan pokok sehari-hari, nilai penjual beras hanya sekitar 5% dari total keseluruhan omset penjualannya. Menurutnya setiap hari rata-rata mampu menjual sekitar satu kwintal beras. Harga jual beras jenis C4 biasanya adalah Rp. 5.400,-/ kg. Sedangkan harga belinya adalah Rp. 5.200,-/ kg, yang diperoleh dari pedagang besar di pasar beras Kumiayi yang terlatak satu kawasan dengan Pasar Legi.
Responden merupakan salah satu pedagang besar dari sekitar 20 pedagang besar beras di pasar beras Kumiayi Surakarta. Pedagang besar ini memiliki toko yang sekaligus merupakan gudang beras. Harga jual beras C4 di toko pedagang besar ini adalah Rp. 5.200,/kg. Sebagian besar beras yang dijual oleh pedagang besar ini berasal dari Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali, Kecamatan Bekonang, dan Kabupaten Sukoharjo. Beras diperoleh dari beberapa pemilik penggilingan padi, yang umumnya mereka adalah pemilik penggilingan padi (rice miil). Salah satu pemilik penggilingan padi yang memasok pedagang besar di atas adalah pemilik penggilingan padi yang berasal dari Kecamatan Nogosari, Boyolali dengan harga beli Rp. 5000,- /kg .Dalam satu hari rata-rata pedagang beras tersebut mampu menjual 3 ton beras.
Responden yang merupakan pemilik penggilingan beras di kelurahan Mbuli, Kecamatan Nogosari, Boyolali memperoleh gabah kering yang berasal dari para petani di wilayah Kecamatan Nogosari. Rata-rata dalam satu hari responden mampu menjual beras C4 sebanyak 1,5 ton. Harga jual beras C4 ke
commit to user
Pasar Beras Kumiayi berkisar antara Rp. 4.900,- sampai Rp. 5.000,- /kg tergantung kualitas beras tersebut. Pembelian awal yang dilakukan responden pemilik penggilingan beras adalah saat beras masih berbentuk gabah kering, dimana harga beli gabah kering adalah Rp. 2.500,- /kg. Setiap 1 kwintal (100 kg) gabah kering rata-rata menghasilkan rata-rata 55 kg beras dan 10 kg bekatul. Sehingga setiap pembelian satu kwintal gabah kering seharga Rp. 280.000,- dihasilkan beras seharga Rp. 275.000,- (55 kg x Rp. 5.000,- ) dan bekatul seharga Rp. 24.000,- (10 kg x Rp. 2.400,-). Dengan estimasi biaya penggilingan per kwintal adalah Rp. 2.000,- (termasuk biaya tenaga kerja dan bahan bakar), makakeuntungan pemilik penggilingan padi untuk per kwintal gabah kering adalah kurang lebih sekitar Rp. 17.000,-.
Responden petani yangmenjual gabah keringnya kepada pemilik penggilingan padi memiliki lahan sawah, kurang lebih seluas 1 hektar yang terdiri dari 3 patok sawah, terletak di Kelurahan Rembun, Nogosari, Boyolali. Dalam satu kali masa tanam, sawah responden petani ini menghasilkan 50 kwintal gabah kering. Dengan harga jual gabah kering Rp. 2.800,- maka hasil penjualannya sebesar Rp. 14.000.000,-. Biaya operasional yang dikeluarkan responden petani untuk satu kali masa tanam adalah Rp. 6.000.000,- (benih, obat, pupuk, dan tenaga kerja. Dengan demikiaan keuntungan yang diperoleh responden petani ini adalah Rp. 8.000.000,- untuk satu kali masa tanam.
Benih dan pupuk (saprotan) yang digunakan oleh responden petani berasal dari toko Toko Saprotan yang terletak di Kelurahan Rembun, Nogosari, Boyolali. Toko Saprotan ini menjual berbagai macam kebutuhan
commit to user
pertanian termasuk obat-obat pertanian dan pakan ternak. Untuk pupuk urea bersubsidi ini diperoleh dari distributor tingkat kabupaten, yaitu CV.Persada yang terletak di Sawit, Boyolali. Toko ini mendistribusikan 20 ton pupuk urea bersubsidi tiap bulannya. Untuk benih padi, Toko Saprotan ini memasarkan benih merek Sari Tani dari distributor besar yang berada di wilayah palur Karanganyar. Per sak benih padi C4 dijual seharga Rp. 28.000,- dengan isi 5kg. Keuntungan yang diambil per saknya adalah Rp. 3.000,-. Selain itu juga menjual berbagai macam obat pertanian. Keuntungan yang diambil dari obat- obatan pertanian ini kurang lebih 5% hingga 10% dari harga jual untuk tiap botolnya.
Rantai nilai komoditas yang ditemukan relatif pendek, artinya tata niaga komoditas beras di Solo Raya relatif efisisen. Letaknya yang amat strategis, dimana dikelilingi oleh daerah-daerah penghasil komoditas pertanian, secara khusus dalam hal ini komoditas beras. Penguasaan margin harga untuk setiap pelaku dalam rantai nilai cukup bervariasi.
Tabel 3.3 Distribusi rata-rata harga dan margin harga beras
Pelaku Harga Jual (Rp) Selisih (Rp) Margin (%)
Petani 2.800 2.000 43,48 Rice mill/ pedagang pengumpul 5.000 2.200 47,83 Pedagang besar 5.200 200 4,35 Pedagang pengecer 5.400 200 4,35
commit to user
Catatan :Lahan milik sendiri
Untuk kasus petani dengan kepemilikan lahan sawah sendiri, distribusi penguasaan margin harga semakin tampak padak tabel diatas. Petani ralatif memiliki penguasaan margin harga terbesar kedua yaitu sebesar 43,48%,; pengumpul atau pemilik rice mill sebesar 47,83%; pedagang besar relative kecil sebesar 4,35% dan pedagang pengecer juga 4,35%. Menarik mengamati struktur penguasaan margin harga antar pelaku di dalam rantai nilai komoditas beras di atas, bahwa semakin ke hilir penguasaan margin semakin mengecil. Berbeda dengan penelitian sebelumnya dimana ssemakin ke hilir penguasaan margin harga semakin besar. Hal yang mengindikasikan besarnya peranan para pedagang, khususnya pedagang besar dalam penentuan harga.
Relatif penguasaan margin harga yang dimiliki petani (43,48%) sepadan dengan relatif besarnya risiko usaha yang dihadapinya, karena petani mengalami risiko gagal panen, baik karena serangan hama, perubahan iklim, maupun bencana alam. Pedagang pengumpul dalam kasus ini juga merangkap sebagai pengusaha pemilik penggillingan padi sehingga mampu menguasai margin harga sebesar 47,83%. Pedagang besar dan pengecer masing-masing memperoleh margin harga sebesar 4,35%. Struktur distribusi penguasaan margin harga diatas dapat disimpulkan telah akomodatif dalam merespon tingkat risiko yang dihadapi oleh masing-masing pelaku dalam rantai nilai
commit to user
komoditas beras di Solo Raya. Dengan kata lain struktur distribusi penguasaan margin harga tersebut adil bagi para pelaku dalam ranntai nilai tersebut.
b. Rantai Nilai Komoditi Daging Ayam Ras
Peta rantai nilai komoditas daging ayam ras hasil survey dapat digambarkan sebagai berikut.
Tabel 3.4 Peta rantai nilai komoditas daging ayam ras
PRODUKSI PASCA PANEN DISTRIBUSI
- Persiapan Sapronak - Pembibitan - Pemeliharaan - Panen - Sioving - Pemolongan - Pencabulan bulu - Pengeluaran Jeroan - Pemolongan karkas - Transportasi - Distribusi
(Sumber: Kantor Bank Indonesia Solo)
Gambar 3.6 Rantai Pasok Daging Ayam Ras
(Sumber: Kantor Bank Indonesia Solo)
Perusahaan Penyediaan Sapronak
Perusahaan Inti Besar/BrokerPedagang Pedagang Perantara Pedagang Eceran Konsumen Akhir
5,22% 7,83% 13,04% 34,78% Toko Sapronak Peternak Mitra Penuh Peternak Mitra Penuh Peternak Mandiri 39,13%
commit to user
Survey nilai komoditas dagiing ayam ras ini juga dimulai dari pasar Legi yang terletak di Kelurahan Stabelan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta.
Para pelaku yang ditemukan pada rantai pasok daging ayam ras adalah perusahaan inti, peternak, pedagang besar, pedagang perantara dan pedagang eceran. Dari sisi aktivitas, peternak dan pengecer merupakan pelaku dengan aktivitas yang paling beragam. Peternak bisa dibedakan menjadi tiga (3) jenis, yaitu peternak mitra penuh, peternak mitra tidak penuh dan peternak mandiri.
Peternak mitra penuh adalah peternak dimana modal usahanya sepenuhnya didukung dari perusahaan inti. Peternak mitra tidak penuh adalah peternak dimana modal usahanya sebagian dari perusahaan inti dan sebagian dipenuhinya sendiri. Sedangkan peternak mandiri adalah peternak dimana modal usahanya sepenuhnya diusahakan sendiri. Pada waktu survey dilaksanakan seluruh responden peternak merupakan peternak mitra penuh. Pedagang eceran melakukan aktivitas pasca panen meliputi pemotongan, pencabutan bulu, pengeluaran jeroan dan pemotongan karkas dan penjualan. Jadi berdasarkan rantai pasok tersebut, aktivitas produksi dilakukan oleh perusahaan inti dan peternak. Perusahaan inti menyediakan DOC, makanan, minuman dan obat-obatan. Peternak kurang lebih selama tiga (3) bulan memelihara ayam tersebut hingga panen. Aktivitas pasca panendilakukan oleh pedagang besar, pedagang perantara dan pedagang eceran. Diluar para pelaku tersebut tercatat peranan penting perusahaan penyedia Sapronak
commit to user
(Sarana Produksi Ternak)ndan Toko Sapronak sebagai jasa pendukung produksi pada rantai pasok tersebut.
Untuk memberikan gambaran terhadap rantai nilai komoditas daging ayam ras ini diberikan ilustrasi sebagai berikut. Salah satu reeponden pedagang eceran memiliki kios terletak di lantai dua (2) Pasar Legi. Dalam satu hari responden ini membeli 15 ekor ayam hidup, dengan berat rata-rata 1,5kg per ekornya. Ayam tersebut dibeli dari pedagang perantara di Jagalan kota Surakrta dengan harga Rp. 12.000,- /kg ayam hidup. Dari satu (1) ekor ayam hidup seberat 1,5 kg tersebut kemudian dipotong sehingga menghasilkan ayam potong (mati) dengan hasil daging seberat 1 kg dengan harga jual dan harga jual Rp. 20.000,- /kg, kemudian kepala kepala satu (1) potong harga jual Rp. 1.500,- lalu hati ayam satu (1) potong dengan harga jual Rp. 1.750,- dan juga menghasilkan dua (2) potong cakar (kaki), seharga Rp. 1.000,- ( dua potong). Sehingga dari satu (1) ekor ayam hidup seharga Rp. 18.000,- ( 1,5 kg x Rp. 12.000,- ), dihasilkan nilai jual potong ayam mati sejumlah Rp. 24.200,-. Jadi keuntungan kotor rata-rata yang diperoleh responden eceran ini unruk tiap ekor ayam adalah Rp. 6.250,-. Jika dikurangi biaya potong dan lain-lain sejumlah Rp. 1.250,-, maka keuntungan bersih yang diperolehnya sebagai pedagang pengecer adalah Rp. 5.500,- per ekornya.
Responden pedagang perantara ayam potong pemasok pedagang eceran diatas berjualan di Jagalan Surakarta. Omset responden pedagang perantara ini adalah 300 ekor ayam hidup per harinya atau seberat 450 kg. Ayam
commit to user
sejumlah tersebut dibagikan kepada 15 orang pedagang pengecer dibawahnya dengan harga jual Rp. 12.000,- /kg. Responden pedagang perantara ini memperoleh ayam hidup tersebut dari sebuah perusahaan yang merupakan pedagang besar seharga Rp. 11.500,- /kg. Dengan demikian keuntungan kotor yang diperoleh adalah Rp. 500,- /kg.
Air nilai rantai berikutnya adalah pedagang besar. Perusahaan ini terletak di Ruko Mulyo Mandiri 4, Banyuanyar Solo, dan perusahaan ini merupakan pedagang ayam terbesar di kota Solo dengan penjualan per hari sebanyak 7.000 ekor ayam potong hidup , atau kurang lebih 10 ton ( 10.000 kg). Pedagang besar ini memperoleh pasokan ayam potong hidup dari beberapa perusahaan peternakan (perusahaan inti) yang beroperasi di wilayah Surakarta. Harga beli dari tiap perusahaan inti sangat bervariasi antara Rp. 11.000,- sampai Rp. 11.200,- /kg, kemudian dijual kembali dengan harga Rp. 11.500,- /kg.
Rantai Nilai berikutnya adalah responden perusahaan inti yang beralamat di kel. Sriwedari, kec. Laweyan, Solo. Omset penjualanayam potong hidup perusahaan inti untuk area Surakarta adalah sebesar delapan 8 ton (8.000 kg) per hari. Dengan harga jual Rp. 11.000,- /kg. Perusahaan inti ini mengelola beberapa peternak plasma ( sub kontraktor) di beberapa daerah, antara lain di wilayah Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali. Perusahaan inti ini memberikan sapronak berupa bibit ayam Day Old Chick
(DOC), pakan, obat, serta bantuan pemasaran kepada sub kontraktornya (peternak plasma). Sedangkan perusahaan inti membeli sapronak dari
commit to user
beberapa perusahaan antara lain PT. Japfa Comfeed dan PT. Charoen Phokphan. Bentuk kerjasama antara perusahaan inti dengan peternak plasma dilegalkan dalam surat kontrak, dimana disurat tersebut disebutkan jumlah DOC, jumlah pakan, jumlah obat beserta nilai rupiahnya.
Salah satu peternak plasma dari responden perusahaan inti yang beralamat di Kel. Glonggong, Kec. Nogosari Boyolali. Peternak plasma ini memiliki kandang dengan kapaswitas 5.000 ekor. Masa pembesaran ayam dari DOC hingga panen adalah 32 hari, sehingga dalam satu (1) tahun terdapat delapan (8) kali perputaran ayam di kandang. Nilai harga penjualan ayam potong hidup saat panen dalam kontrak surat terakhir yang didapat responden peternak adalah Rp. 11.500,- /kg. Dari 5.000 ekor ayam tersebut saat panen didapat berat keseluruhan sebesar 8.000 kg, sehingga berdasar nilai kontrak ,maka harga jual akhir adalah Rp. 82.750.0000,- dimana nilai DOC adalah Rp. 20.000.000,- (Rp.4.000,- x 5.000 ekor, nilai pakan 250 sak yaitu Rp. 61.250.000,- dan nilai obat-obatan Rp. 1.5000.000,-. Total biaya operasional yang dikeluarkan oleh peternak adalah Rp. 3.000.000,- dalam satu (1) kali masa ternak. Sehingga keuntungan bersih yang diperoleh peternak adalah Rp. 6.250.000,- untuk satu (1) kali masa ternak, yang diperoleh dari total harga jual saat panen (Rp. 92.000.000,-) dikurangi biaya sapronak ( Rp. 82.750.000,-) dan biaya operasional peternak plasma (Rp. 3.000.000,-).
commit to user
Tabel 3.5 Distribusi rata-rata harga dan harga margin harga daging ayam ras
Daging Ayam Harga
Jual (Rp) Selisih (Rp) Margin (%) Peternak 11.000 1.500 39,13 Pedagang Inti 11.200 200 5,22 Pedagang Besar 11.500 300 7,83 Pedagang Perantara 12.000 500 13,04 Pedagang Pengecer 13.333 13.333 34,78
(Sumber: Kantor Bank Indonesia Solo)
Tabel diatas memuat struktur distribusi penguasaan margin harga para pelaku dalam rantai nilai komoditas daging ayam ras. Peternak memiliki penguasaan margin harga terbesar, yaitu sebesar 39,13% diikuti oleh pedagang pengecer sebesar 34,78%, pedagang perantara sebesar 5,22%. Besarnya penguasaan margin harga oleh peternak mencerminkan besarnyya risiko yang dihadapi oleh petenak dibandingkan pelaku yang lain dalam rantai
commit to user
nilai daging ayam ras. Meskipun perusahaan inti telah memasok DOC beserta makanan, obat-obatan maupaun perawatan kesehatannya, namun risiko kematian ayam dan fluktuasi harga daging ayam ras tetap melekat pada peternak. Demikian pula dengan pedagang pengecer, menguasai margin harga yang besar karena risiko yang dihadapinya juga cukup besar, yaitu risik daging ayam tidak laku sehingga harus menerima harga jual yang rendah. Dengan demikian dapat disimpulkan pul;a bahwa struktur penguasaan margin harga oleh masing-masing pelaku dalam rantai nilai komoditas daging ayam ras ini telah sesuai dengan bobot risiko yang dimiliki oleh msing- masing pelaku. Sehingga penguasaan struktur margin harga cukup adil bagi masing-masing pelaku dalam rantai nilai tersebut.
c. Rantai Nilai Komoditas Cabe Merah
Peta rantai nilai komoditas cabe merah hasil survey dapat digambarkan sebagai berikut.
Tabel 3.6 Peta rantai nilai komoditas cabe merah
PRODUKSI PASCA PANEN DISTRIBUSI
- Persiapan Lahan - Penyemaian - Penanaman - Pemupukan - Pemeliharaan - Pemanenan - Penyimpanan - Pengeringan - Pengemasan - Transportasi - Distribusi
commit to user
Gambar 3.7 Proses Rantai Nilai Cabe Merah
(Sumber: Kantor Bank Indonesia Solo)
Sama halnya dengann dua komoditas diatas, survey rantai nilai cabe merah di kota Surakarta ini dimulai dari Pasar Legi yang terletak di Kelurahan Stabelan, Kecamatan Banjarsari, Surakarta. Para pelaku yang ditemukan dalam rantai pasok komoditas cabe merah adalah petani, pedagang pengumpul, pedagang besar dan pedagang pengecer. Aktivitas produkasi dalam rantai pasok dilakukan oleh petani melalui kegiatan persiapan lahan, penyemaian, penanaman, pemupukan, pemeliharaan dan pemanenan. Kegiatan pasca panen yang meliputi pengumpulan, penyimpanan, pengeringan (jika akan dijual kering) dan pengemasan dilakukan oleh pedagang pengumpul,pedagang besar dan pedagang pengecer. Diluar para pelaku tersebut tercatat peranan penting perusahaan toko Saprotan sebagai jasa pendukung produksi pada rantai pasok tersebut.
Untuk komoditas cabe merah ini yang menjadi responden pedagang eceran memiliki kios terletak di lantai dua (2) Pasar Legi. Dalam satu (1) hari responden pedagang eceran rata-rata menjual cabe merah sebanyak satu 1 kwintal dengan harga jual waktu wawancara sebesar Rp. 17.000,- /kg. Responden pedagang eceran ini membeli cabe merah dari grosir atau pedagang besar dengan system cara pembayaran adalah menerima barang
KONSUMEN AKHIR TOKO
SAPROTAN PETANI PEDAGANG PENGUMPUL
PEDAGANG BESAR PEDAGANG PENGECER 63,2 3,06 24,5 9,19
commit to user
dulu, setelah barang laku terjual baru uang dibayarkan. Untuk harga jual cabe merah ini adalah Rp. 17.000,- /kg, dan harga beli dari grosir adalah Rp. 15.500,- sampai dengan Rp. 16.000,- /kg. Jadi keuntungan yang diperoleh antara Rp. 1.000,- sampai Rp. 1.500,- /kg
Responden berikutnya adalah pedagang besar atau grosir cabe merah berjualan di Pasar Legi blok 180 Surakarta. Omset responden ini dalam satu hari bisa mencapai 15 kwintal cabe merah. Penjualan terbanyak cabe merah ini biasanya teerjadi pada bulan Jawa dan apabila banyak banyak hajatan