• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komponen-komponen Berpikir Kritis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Berpikir Kritis

2. Komponen-komponen Berpikir Kritis

Berpikir kritis terdiri atas dua komponen, yaitu: (a) skill atau kemampuan

berpikir kritis, serta (b) disposisi, kebiasaan, dan karakter kepribadian untuk

berpikir kritis (Nieto & Saiz, 2011). Kennedy et al. (1991) mengungkapkan bahwa

kemampuan berpikir kritis merupakan komponen kognitif dari berpikir kritis,

sementara disposisi berpikir kritis merupakan komponen afektif, di mana

keduanya akan membentuk perilaku berpikir kritis yang diwujudkan pada diri

seseorang. Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, selama bertahun-tahun

pendekatan dalam berpikir kritis hanya ditekankan pada komponen kemampuan

kemampuan berpikir kritis, seseorang belum tentu berkeinginan untuk berpikir

kritis, sedangkan hanya memiliki disposisi pun tidak cukup, karena walaupun

berkeinginan, individu tersebut tidak akan tahu cara berpikir kritis (Nieto & Saiz,

2011).

a. Kemampuan berpikir kritis

Dalam review yang dilakukan oleh Lai (2011) diungkapkan bahwa

terdapat banyak pendapat ahli mengenai kemampuan berpikir kritis. Para ahli

cenderung sependapat tentang kategori-kategori kemampuan apa saja yang

dimiliki orang yang berpikir kritis, yang meliputi kemampuan menganalisis,

melakukan inferensi, menilai, membuat keputusan atau menyelesaikan masalah,

kemampuan mengajukan dan menjawab pertanyaan untuk mengklarifikasi,

mendefinisikan istilah-istilah, mengidentifikasi asumsi-asumsi, menginterpretasi

dan menjelaskan, mengungkapkan penalaran secara verbal, memprediksi, dan

melihat kedua sisi dari suatu masalah (Ennis, 1985; Facione, 1990; Halpern, 1998;

Paul, 1992; Willingham, 2007; Case, 2005; Lipman, 1988; Tindal & Nolet, 1995;

Paul, 1992, dalam Lai, 2011). Penelitian dengan teknik Delphi pada tahun 1988

sampai 1989 yang melibatkan 46 ahli di bidang berpikir kritis telah

mengkategorikan kemampuan-kemampuan tersebut menjadi 6 kelompok

kemampuan, yaitu kemampuan menginterpretasi, menganalisis, mengevaluasi,

melakukan inferensi, mengeksplanasi, dan melakukan swa-regulasi (Facione,

1990). Keenam kategori inilah yang akan digunakan dalam penelitian ini, karena

pengelompokan kategori yang komprehensif dan banyak digunakan oleh

digunakan untuk membuat alat tes dalam hal kemampuan berpikir kritis (Facione,

2013). Kemampuan-kemampuan ini pada hakikatnya merupakan proses-proses

kognitif yang dijelaskan dalam taksonomi Bloom (Anderson & Krathwohl, 2000).

Namun dalam taksonomi Bloom, kategori-kategori ini diterapkan dalam berbagai

konteks yang bersifat umum, sedangkan dalam teori berpikir kritis hanya

dikhususkan pada argumen, klaim, pemikiran dan bentuk representasi lainnya.

Keenam kategori ini dijelaskan sebagai berikut:

1) Menginterpretasi. Secara umum kemampuan ini diartikan sebagai kemampuan untuk menafsirkan dan memaknai informasi yang diterima.

Menginterpretasi berarti mengubah dari suatu bentuk representasi ke dalam

bentuk representasi lain (Anderson & Krathwohl, 2000). Kemampuan ini juga

mencakup kemampuan seseorang untuk memahami dan mengungkapkan arti atau

signifikansi dari suatu hal, dengan mendeskripsikan dan mendefinisikan suatu hal,

menyebutkan, mengartikan, memahami makna tersirat maupun tersurat dari suatu

pernyataan, mengelompokkan suatu hal dalam suatu kategori tertentu, serta

memparafrasekan suatu informasi dengan kata-kata sendiri atau dengan bentuk

ungkapan lain (Facione, 1990). Kemampuan menginterpretasi ini berbeda dari

sekadar mengerti dan memahami suatu hal, di mana terdapat penekanan pada

aktivitas memaknai atau menafsirkan suatu hal berdasarkan pemahaman atau

skema tertentu yang dimiliki seseorang.

2) Menganalisis. Kemampuan ini melibatkan aktivitas mengidentifikasi permasalahan-permasalahan, argumen-argumen, ide-ide, serta elemen-elemen

menguraikan serta menganalisis elemen-elemen tersebut (Facione, 1990). Hal ini

sejalan dengan pengertian menganalisis secara umum, yaitu menguraikan suatu

hal menjadi bagian-bagian dan menelaah bagian itu sendiri dan relasi-relasinya

(Anderson & Krathwohl, 2000). Misalnya, mampu mengidentifikasi

pernyataan-pernyataan yang mendukung atau menentang suatu opini penulis dalam suatu

paragraf, mencermati usulan-usulan terkait suatu masalah dan menelaah

persamaan-persamaan maupun perbedaan-perbedaannya, atau menentukan mana

yang menjadi kesimpulan utama, klaim-klaim pendukung, atau elemen-elemen

lain dalam suatu argumen (Facione, 1990).

3) Mengevaluasi. Mengevaluasi berarti membuat penilaian berdasarkan kriteria dan standar tertentu (Anderson & Krathwohl, 2000). Standar dan kriteria

yang dimaksud di sini adalah kualitas dan kredibilitas atau seberapa suatu

pernyataan atau argumen dapat dipercaya, serta kekuatan logis yang dimilikinya

(Facione, 1990). Dalam berpikir kritis, objek yang dinilai dan dievaluasi dapat

berupa klaim, argumen, pernyataan-pernyataan, atau bentuk representasi dari

persepsi, pengalaman, situasi, penilaian, keyakinan, atau opini seseorang.

4) Melakukan inferensi. Kemampuan melakukan inferensi adalah kemampuan untuk menarik kesimpulan, alternatif-alternatif, prediksi, dan

hipotesis dari informasi yang ada (Facione, 1990). Dalam melakukan inferensi,

seseorang harus dapat menemukan pola-pola dari serangkaian data atau informasi

yang tersedia (Anderson & Krathwohl, 2000). Inferensi mencakup kemampuan

memprediksi, mengungkapkan dugaan, berasumsi, memperkirakan

alternatif-alternatif terhadap suatu masalah, dan sebagainya.

5) Mengeksplanasi. Kemampuan mengeksplanasi atau menjelaskan adalah kemampuan seseorang untuk menyampaikan dan menjelaskan hasil

penalaran beserta proses penalaran yang dilakukan (Facione, 1990). Contohnya

adalah ketika seseorang menyampaikan argumen atau pendapatnya, menjelaskan

suatu hal baik secara lisan maupun tertulis, menjelaskan langkah demi langkah

penalarannya, menjelaskan dengan bukti dan data-data yang mendukung, dan

sebagainya.

6) Melakukan swa-regulasi. Kemampuan melakukan swa-regulasi adalah kemampuan untuk memantau proses penalaran yang dilakukan diri sendiri. Hasil

konsensus para ahli yang diperoleh melalui teknik Delphi mengartikan

swa-regulasi sebagai kemampuan memantau aktivitas kognitif diri sendiri beserta hasil

penalaran dan elemen-elemen yang digunakan dalam aktivitas tersebut, yang

mencakup pemeriksaan diri dan koreksi diri (Facione, 1990). Contohnya adalah

ketika seseorang mampu merefleksikan pemikirannya sendiri, memeriksa kembali

bukti-bukti dan langkah-langkah yang digunakannya, menyadari bias yang

mungkin dimiliki, dan mengoreksi penalaran diri sendiri apabila ditemukan

kesalahan dari hasil pemeriksaan diri tersebut.

b. Disposisi berpikir kritis

Disposisi berpikir kritis adalah motivasi internal yang konsisten untuk

menggunakan kemampuan berpikir kritis dalam rangka menentukan apa yang

para ahli di bidang berpikir kritis, disposisi berpikir kritis atau komponen afektif

dibutuhkan untuk membuat kemampuan berpikir kritis semakin mengakar dan

bertumbuh dalam individu (Facione, 1990). Terdapat beberapa disposisi berpikir

kritis yang telah diungkapkan para ahli (Facione, 1990; Lai, 2011; Kennedy,

Fisher, & Ennis, 1991; Bailin et al., 1999) yang dapat dikelompokkan dalam 4

kelompok besar yaitu kecenderungan berpikir yang tidak berat sebelah, sikap

ingin tahu, kecenderungan untuk menggunakan penalaran, serta kecenderungan

berpikir yang sistematis. Masing-masing kategori tersebut dijelaskan sebagai

berikut:

1) Fair-mindedness atau kecenderungan berpikir yang tidak berat sebelah. Disposisi ini menunjukkan kecenderungan untuk bersikap objektif dan terbuka terhadap pandangan-pandangan yang berbeda. Kategori ini mencakup

berpikiran terbuka, berpikiran luas dan divergen, toleran, menghargai, dan mau

mempertimbangkan pandangan serta sudut pandang yang berbeda. Individu yang

memiliki disposisi ini juga cenderung fleksibel, peka terhadap bias, mau

mengubah pandangan dan pendirian bila bukti atau hasil penalaran berlawanan

dengan apa yang diyakini sebelumnya (bahkan jika tidak mendukung kepentingan

pribadinya), serta jujur secara intelektual. Dengan kata lain, ia dapat dikatakan

bersikap objektif dan tidak berat sebelah dalam melakukan penyelidikan atau

dalam menanggapi suatu informasi.

2) Inquiring Attitude atau sikap ingin tahu. Disposisi ini mencakup keinginan untuk berpengetahuan luas, sikap selalu bertanya, dan ingin tahu

penasaran terhadap hal-hal baru, mencari alasan atau penyebab dari suatu hal,

ingin mempelajari sesuatu bahkan jika penerapannya dan manfaatnya tidak

terlihat langsung. Individu tersebut juga tidak cepat puas dengan informasi atau

pengetahuan yang terbatas.

3) Inclination to use reason atau kecenderungan untuk menggunakan penalaran. Kategori ini mencakup disposisi untuk tidak mudah percaya tanpa bukti, senang menalar, cenderung menggunakan logika ketimbang pengambilan

keputusan tanpa dasar, serta tanggap terhadap situasi yang membutuhkan

penalaran. Individu dengan disposisi ini juga memiliki keyakinan terhadap

penalarannya, menghargai penalaran dan hasil penalaran yang baik, menggunakan

dan menyebutkan sumber-sumber yang kredibel. Ia akan mencari informasi

seakurat mungkin, serta tetap bersandar pada alasan dan penalaran ketika

melakukan penilaian dalam konteks yang tidak pasti.

4) Systematicityataukecenderungan berpikir yang sistematis. Disposisi ini merupakan kecenderungan untuk memiliki alur berpikir yang terorganisir dan

teratur. Hal ini terlihat dari kecenderungan untuk fokus dan tetap menaruh

perhatian pada isu dan topik yang sedang diselidiki atau masalah yang sedang

dipecahkan, tekun, persisten dan tidak mudah menyerah, dan memiliki cara-cara

tertentu yang tersistematis dan teratur dalam hal penyelidikan ataupun pemecahan

masalah. Individu tersebut juga akan tetap memperhatikan situasi keseluruhan

Dokumen terkait