• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komponen Penawaran (Lapangan Usaha)

EKONOMI MAKRO REGIONAL

B. Komponen Penawaran (Lapangan Usaha)

Lapangan usaha utama di DKI Jakarta juga secara umum mengalami pertumbuhan yang sejalan dengan komponen permintaannya. Struktur perekonomian Jakarta menurut Lapangan Usaha (LU) pada triwulan II 2017 didominasi oleh tiga lapangan usaha utama, yaitu perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor, industri pengolahan, dan konstruksi10.

Lapangan Usaha Konstruksi

Kinerja LU konstruksi Jakarta tumbuh lebih baik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan LU kontruksi di DKI Jakarta pada triwulan II 2017 tercatat sebesar 4,11% (yoy), terakselerasi dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 3,56% (yoy). Pertumbuhan LU konstruksi tersebut tidak terlepas dari masifnya pembangunan infrastruktur di DKI Jakarta, seperti infrastruktur transportasi serta infrastruktur jalan dan jembatan. Pada perkembangan terkini, pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) sampai dengan akhir triwulan II 2017 telah mencapai 75%, dengan rincian 87,5% untuk

konstruksi bawah tanah dan 62% untuk konstruksi layang 11 ,

10Berdasarkan Berita Resmi Statistik BPS DKI Jakarta No. 41/08/31/Th.XIX tanggal 7 Agustus 2017 perihal Pertumbuhan

Ekonomi DKI Jakarta Triwulan II 2017

pembangunan LRT Jabodebek telah mencapai progres pekerjaan 15,5%12 sampai dengan tengah tahun 2017, dengan rincian ruas Cawang-Cibubur telah terbangun 31,4%, ruas Cawang-Bekasi Timur yang telah terbangun 15,1%, serta ruas Cawang-Kuningan-Dukuh Atas yang baru terbangun 2,7%, pembangunan LRT dalam kota Jakarta yang menghubungkan rute Kelapa Gading-Velodrome dengan progres pekerjaan sampai bulan Juni 2017 mencapai 26,35%, atau lebih cepat dari target progres tengah tahun sebesar 25%13. Lebih lanjut, pada awal tahun 2017, DKI Jakarta memulai pembangunan 3 underpass dan 3 flyover secara bersamaan dengan total anggaran mencapai Rp 700 miliar yang bersumber dari belanja modal APBD DKI Jakarta. Pembangunan tersebut antara lain

flyover Cipinang Lontar, Pancoran, dan Bintaro, serta underpass Kartini,

Mampang-Kuningan, dan Matraman. Sampai dengan posisi akhir bulan Juni 2017, progres total pekerjaan untuk keenam konstruksi tersebut telah mencapai 40%.

Namun, kegiatan konstruksi di sektor swasta masih belum menunjukkan peningkatan yang signifikan. Hal tersebut disebabkan oleh belum terlalu bergairahnya kondisi pasar properti residensial di DKI Jakarta. Belum bergairahnya kegiatan konstruksi sektor swasta tersebut juga terindikasi pada pertumbuhan penyaluran kredit ke sektor konstruksi yang melambat dan konsumsi semen yang mengalami kontraksi pada triwulan II 2017 (Grafik 2.30 dan 2.31).

Sumber: Asosiasi Semen Indonesia Sumber: Bank Indonesia, diolah

Grafik 2.30 Konsumsi Semen di Jakarta Grafik 2.31 Penyaluran Kredit Sektor

Konstruksi

Kinerja lapangan usaha konstruksi pada triwulan berjalan diperkirakan melanjutkan pertumbuhan positif. Pertumbuhan tersebut masih akan ditopang oleh konstruksi infrastruktur yang dikerjakan oleh pemerintah

12Sumber: Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) 13Sumber: PT Jakarta Propertindo

seperti infrastruktur moda transportasi umum kereta massal cepat, serta infrastruktur jalan dan jembatan. Pada pembangunan MRT sampai dengan perkembangan terkini14, konstruksi layang telah mencapai 64,10% dan konstruksi bawah tanah telah mencapai 88,26%. Pembangunan LRT Jakarta yang menghubungkan rute Kelapa Gading Velodrome telah mencapai 29,8% progress fisik, dan diakui oleh PT Jakarta Propertindo selaku pihak pelaksana pembangunan proyek lebih tinggi dari target yang

dicanangkan15. Sementara itu, pembangunan LRT Jabotabek yang meliputi

tiga rute, yaitu rute Cibubur Cawang sepanjang 14,5 km telah mencapai 37%, rute Bekasi Timur Cawang sepanjang 17,1 km telah mencapai 17%, dan rute Cawang Dukuh Atas sepanjang 10,5 km baru mencapai 3%. Lebih lanjut, pembangunan flyover dan underpass, antara lain flyover Cipinang Lontar, Pancoran, dan Bintaro, serta underpass Kartini, mampang-Kuningan, dan Matraman, ditargetkan untuk selesai pada akhir tahun 2017, sehingga pada semester II ini, pekerjaan konstruksi akan semakin dipercepat untuk memenuhi target. Di samping itu, pembangunan infrastruktur tata ruang di DKI Jakarta juga akan menjadi pendorong pertumbuhan lapangan usaha konstruksi, antara lain pembangunan dan pemeliharaan sarana pedestrian, di antaranya Kawasan Tanah Abang, Kawasan Istiqlal, penghubung Kota Tua-Museum Bahari, dan kawasan Stasiun Palmerah. Pertumbuhan konsumsi semen di Jakarta yang meningkat menjadi indikasi berlanjutnya pertumbuhan positif lapangan usaha konstruksi pada triwulan berjalan (Grafik 2.32).

Sumber: Asosiasi Semen Indonesia

Grafik 2.32 Perkembangan Terkini Konsumsi Semen di Jakarta Lapangan Usaha Industri Pengolahan

Pada triwulan II 2017, lapangan industri pengolahan tumbuh 5,92% (yoy), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang

14Per tanggal 31 Juli 2017, data diperoleh dari laman www.jakartamrt.co.id

15Sumber: http://megapolitan.kompas.com/read/2017/08/12/18420971/ini-progres-pembangunan-lrt-jakarta-koridor-kelapa-gading-velodrome tanggal 12 Agustus 2017

tercatat sebesar 6,27% (yoy)16. Perlambatan industri pengolahan di DKI Jakarta yang secara umum masih didominasi oleh output produksi industri skala besar dan sedang mengalami perlambatan pada triwulan II 2017. Indeks industri Besar dan Sedang di DKI Jakarta pada triwulan II 2017 tercatat tumbuh 11,29% (yoy), melambat dibandingkan pertumbuhan indeks pada triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 12,47% (yoy) (Grafik 2.33).

Melambatnya industri pengolahan di DKI Jakarta salah satunya disebabkan oleh turunnya output industri alat angkut yang memiliki pangsa dominan terhadap industri pengolahan DKI Jakarta, sejalan dengan kontraksi pertumbuhan produksi mobil pada triwulan II 2017 (Grafik 2.34). Di samping itu, cukup panjangnya masa cuti bersama dalam rangka hari raya Idul Fitri tahun pada penghujung triwulan II 2017 juga berkontribusi terhadap melambatnya LU industri pengolahan, seiring dengan berhentinya kegiatan operasi dan produksi selama kurang lebih 6 hari kerja.

Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta Sumber: Bank Indonesia, diolah

Grafik 2.33 Pertumbuhan Indeks Industri Besar dan Sedang di Jakarta

Grafik 2.34 Pertumbuhan Produksi Mobil

Lapangan usaha industri pengolahan pada triwulan berjalan diperkirakan tumbuh sedikit melambat dibandingkan dengan triwulan II 2017. Relatif terbatasnya perkiraan pertumbuhan permintaan dan konsumsi rumah tangga, belum dapat mendongkrak pertumbuhan lapangan usaha industri pengolahan untuk dapat tumbuh lebih tinggi dari triwulan sebelumnya. Aktivitas produksi yang masih di bawah kapasitas terpasang, menyebabkan pertumbuhan permintaan belum direspons oleh pelaku usaha melalui investasi untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Di samping itu, beberapa pabrikan mobil yang merilis model baru pada semester II 2017

16Berdasarkan rilis data pertumbuhan ekonomi triwulan II 2017 oleh BPS Provinsi DKI Jakarta, terdapat koreksi angka pertumbuhan lapangan usaha industri pengolahan DKI Jakarta triwulan I 2017, dari sebelumnya 5,84% (yoy) menjadi 6,27% (yoy).

diperkirakan dapat meningkatkan pertumbuhan industri kendaraan bermotor melalui produksi mobil terbaru.

Lapangan Usaha Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor

Perlambatan konsumsi rumah tangga berdampak pada kinerja lapangan usaha Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor. Pada triwulan II 2017, pertumbuhan lapangan usaha perdagangan tercatat tumbuh sebesar 3,69% (yoy), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 5,07% (yoy). Faktor musiman bulan puasa dan hari raya Idul Fitri yang jatuh pada triwulan laporan tidak memiliki dampak positif yang signifikan terhadap pertumbuhan lapangan usaha perdagangan.

Relatif rendahnya kegiatan belanja masyarakat merupakan faktor terbesar yang menahan pertumbuhan lapangan usaha perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor. Hal tersebut antara lain disebabkan karena masyarakat, khususnya masyarakat kelas menengah pada triwulan laporan cenderung menahan konsumsi, untuk mengantisipasi pengeluaran yang lebih besar setelah Idul Fitri, antara lain tahun ajaran baru.

Melambatnya pertumbuhan lapangan usaha perdagangan terkomfirmasi melalui hasil Survei Pedagang Eceran (SPE) Bank Indonesia yang menunjukkan perlambatan, antara lain pada penjualan makanan minuman serta penjualan barang rumah tangga (Grafik 2.35). Perlambatan juga tercermin pada pembiayaan perbankan pada lapangan usaha perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor. Hal tersebut terlihat dari penyaluran kredit pada sektor perdagangan besar dan eceran pada triwulan laporan yang tumbuh sebesar 1,66% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya (4,77%; yoy) (Grafik 2.36).

Sumber: SPE Bank Indonesia, diolah Sumber: Bank Indonesia, diolah

Grafik 2.35 Indeks Penjualan Eceran di Jakarta

Grafik 2.36 Kredit Sektor Perdagangan Besar dan Eceran di Jakarta

Pertumbuhan lapangan usaha perdagangan pada triwulan III 2017 diperkirakan tumbuh lebih baik dibandingkan dengan triwulan laporan. Pertumbuhan positif tersebut salah satunya akan didorong melalui konsumsi masyarakat dalam menyambut tahun ajaran baru yang jatuh pada triwulan berjalan, melalui belanja pakaian seragam, buku pelajaran, serta perlengkapan sekolah lainnya. Lebih lanjut, pada triwulan berjalan juga akan diselenggarakan berbagai festival belanja, antara lain Hari Belanja Diskon Indonesia yang digelar oleh Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) dalam rangka menyambut dan memeriahkan perayaan HUT Republik Indonesia ke-72 dan festival belanja Happy Birthday

Indonesia yang akan diselenggarakan di Jakarta International Expo

Kemayoran pada tanggal 15-27 Agustus 2017 yang akan diikuti oleh lebih dari 200 perusahaan yang mengelola 500 merk lokal dan internasional. Festival-festival belanja tersebut diharapkan dapat menstimulasi belanja masyarakat dan menjadi faktor pendorong pertumbuhan lapangan usaha pada triwulan berjalan.

Lapangan Usaha Lainnya

Lapangan usaha lainnya yang memiliki pangsa cukup dominan terhadap pertumbuhan ekonomi Provinsi DKI Jakarta, seperti LU Informasi dan Komunikasi dan LU Jasa Keuangan dan Asuransi juga menjadi sektor yang berkontribusi terhadap akselerasi pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta pada triwulan laporan.

Lapangan usaha informasi dan komunikasi kembali tumbuh positif, sejalan dengan meningkatnya kebutuhan informasi masyarakat dan perubahan pola komunikasi seluler masyarakat, yaitu dari pemakai telepon (voice) dan short

penggunaan sosial media yang semakin tinggi turut berdampak pada pertumbuhan pembelian dan pemakaian data selular. Lebih lanjut, momen hari raya idul Fitri juga berdampak pada peningkatan aktivitas seluler, khususnya dalam rangka pengiriman ucapan hari raya, sehingga hal tersebut mendorong masyarakat dalam melakukan belanja data seluler lebih banyak daripada biasanya. Hal tersebut tercermin pada meningkatnya indeks penjualan peralatan komunikasi pada triwulan II 2017 yang dihasilkan melalui Survei Pedagang Eceran (SPE) Bank Indonesia (Grafik 2.37). Dengan perkembangan demikian, lapangan usaha informasi dan komunikasi pada triwulan II 2017 mencatat pertumbuhan 11,81% (yoy), lebih baik dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yang tercatat 10,47% (yoy).

Sumber: SPE Bank Indonesia, diolah

Grafik 2.37 Indeks Penjualan Peralatan Komunikasi

Namun, lapangan usaha jasa keuangan dan asuransi menunjukkan perlambatan. Pada triwulan II 2017, lapangan usaha tersebut tercatat tumbuh 7,08% (yoy), lebih rendah daripada pertumbuhan pada triwulan

sebelumnya yang tercatat sebesar 9,15% (yoy) 18 . Melambatnya

pertumbuhan lapangan jasa keuangan tersebut sejalan dengan penyaluran kredit pada triwulan laporan yang melambat dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya. Di satu sisi, penyaluran kredit pada triwulan II 2017 tumbuh sebesar 8,41% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan penyaluran kredit pada triwulan sebelumnya yang tercatat tumbuh 10,37% (yoy) (Grafik 2.38). Di sisi lain, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) masyarakat Jakarta relatif stabil, dengan penghimpunan yang tumbuh 10,99% (yoy) pada triwulan II 2017 dan tumbuh 10,82% pada triwulan sebelumnya (Grafik 2.39). Melambatnya penyaluran kredit serta stabilnya pertumbuhan penghimpunan DPK pada tingkat yang cukup baik tersebut

18Berdasarkan rilis data pertumbuhan ekonomi triwulan II 2017 oleh BPS Provinsi DKI Jakarta, terdapat koreksi angka pertumbuhan lapangan usaha jasa keuangan dan asuransi DKI Jakarta triwulan I 2017, dari sebelumnya 9,53% (yoy) menjadi 9,15% (yoy).

sejalan dengan kondisi konsumsi masyarakat saat ini, yang lebih menahan belanja dan lebih memilih untuk menyimpan dan menabung pendapatannya.

Sumber: Bank Indonesia, diolah Sumber: Bank Indonesia, diolah

BOKS 1

Melambatnya Konsumsi dan Perdagangan Ritel di Jakarta

Pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta triwulan II 2017 yang melambat, salah satunya disebabkan oleh melemahnya konsumsi rumah tangga (RT). Konsumsi RT yang melemah tersebut menjadi sorotan berbagai kalangan, karena terjadi di tengah momen bulan puasa dan Lebaran yang jatuh pada triwulan laporan. Kondisi demikian yang juga didukung oleh pemberitaan mengenai penurunan pada transaksi ritel, juga menjadi anomali, karena terjadi di tengah kondisi makroekonomi yang relatif stabil. Apakah daya beli masyarakat DKI Jakarta mengalami penurunan? Atau apakah terdapat penyebab yang lain sehingga konsumsi rumah tangga melambat?

Profil Konsumsi DKI Jakarta

Sebagai ibukota negara, perekonomian DKI Jakarta memiliki pangsa terbesar terhadap PDB Nasional, begitu juga dengan pangsa konsumsi rumah tangganya. Konsumsi RT DKI Jakarta memiliki pangsa 18% terhadap nasional, kemudian diikuti Jawa Timur (17%), Jawa Barat (16%), dan Jawa Tengah (10%). Pada PDRB DKI Jakarta, konsumsi RT juga memiliki porsi yang terbesar, dengan kisaran 60%, dan menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta (Grafik B.1.1). Jika dilihat lebih dalam, subkelompok yang mendominasi konsumsi rumah tangga di DKI Jakarta secara umum adalah kebutuhan-kebutuhan primer yang dibutuhkan untuk aktivitas dan kegiatan rumah tangga sehari-hari (Grafik B.1.2).

Sumber: BPS, diolah Sumber: BPS, diolah

Grafik B.1.1 Porsi Konsumsi RT pada PDRB DKI Jakarta

Grafik B.1.2 Subkelompok pada Konsumsi RT DKI Jakarta

Indikasi Perlambatan Konsumsi Rumah Tangga

Momen bulan puasa dan hari raya Idul Fitri secara umum disambut gembira oleh kalangan ritel dan perdagangan, karena kedua momen

tersebut menstimulasi perilaku belanja masyarakat yang lebih banyak dan lebih tinggi dibandingkan dengan biasanya. Namun, momen bulan puasa dan Idul Fitri pada tahun 2017 tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Sampai dengan pertengahan tahun 2017, kondisi penjualan secara umum menurun, bahkan pada saat momen bulan puasa dan Idul Fitri. Berbagai kalangan mengeluhkan hal tersebut, seperti Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) yang mengatakan bahwa hampir semua perusahaan ritel mengeluhkan penjualan berbagai produk yang jauh menurun

dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya1. Sementara itu, lesunya

belanja masyarakat juga tercermin pada kondisi pusat perdagangan, seperti di kawasan Glodok yang dikenal sebagai pusat belanja barang kebutuhan elektronik. Kios-kios di kawasan Glodok kini dilaporkan mulai banyak ditinggalkan pemiliknya, karena lebih banyak mendatangkan kerugian2.

Jika dilihat dari kelas masyarakat, pelemahan belanja cenderung lebih banyak terjadi pada segmen menengah ke bawah. Hal ini terindikasi pada pertumbuhan penjualan pada retailer dengan pangsa pasar menengah ke bawah pada triwulan II 2017 yang lebih rendah dibandingkan triwulan II pada tahun lalu (Grafik B.1.3 dan B.1.4). Di sisi lain, konsumsi masyarakat kelas menengah relatif masih kuat di DKI Jakarta, yang tercermin dari pertumbuhan penjualan beberapa retailer dengan pangsa pasar masyarakat kelas menengah yang meningkat (Grafik B.1.5 dan B.1.6).

Sumber: FGD dengan Retailer Sumber: FGD dengan Retailer

Grafik B.1.3 Growth Penjualan Retail A dengan Segmen Menengah Ke Bawah

Grafik B.1.4 Growth Penjualan Retail B dengan Segmen Menengah Ke Bawah

1

tanggal 26 Juni 2017

2 Bisnis Retail Lesu, Omzet Pedagang di Glodok Tergerus 18 Juli

Sumber: FGD dengan Retailer Sumber: FGD dengan Retailer

Grafik B.1.5 Pertumbuhan Penjualan Retail C dengan Segmen Menengah

Grafik B.1.6 Pertumbuhan Penjualan Retail D dengan Segmen Menengah

Perlambatan konsumsi rumah tangga yang dituding sebagai penyebab turunnya penjualan ritel semakin terkonfirmasi dari angka pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta terkini yang dirilis pada bulan Agustus 2017. Data tersebut menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga pada triwulan II 2017 tumbuh 5,86% (yoy), melambat dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya (5,97%; yoy). Sejalan dengan konsumsi rumah tangga, lapangan usaha (LU) perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor juga melambat, dengan pertumbuhan pada triwulan II 2017 sebesar 3,69% (yoy) yang lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya (5,07%; yoy). Pertumbuhan pada triwulan II 2017 yang terdapat momen bulan puasa dan Idul Fitri ini berbeda dengan pola historis pada tahun-tahun sebelumnya. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan LU perdagangan pada momen puasa dan Idul Fitri yang secara umum lebih tinggi dibandingkan dengan waktu normal (Grafik B.1.7 dan B.1.8)

Sumber: BPS Prov. DKI Jakarta Sumber: BPS Prov. DKI Jakarta

Grafik B.1.7 Pertumbuhan Konsumsi RT DKI Jakarta

Grafik B.1.8 Pertumbuhan LU Perdagangan DKI Jakarta

Namun, perlambatan konsumsi rumah tangga dan lapangan usaha perdagangan pada triwulan II 2017 cukup mengundang berbagai pertanyaan dari sejumlah kalangan, karena terjadi di tengah stabilitas ekonomi nasional yang kondusif. Sejalan dengan hal tersebut, kondisi perekonomian DKI Jakarta juga relatif stabil dan kondusif, yang tercermin pada indikator makroekonomi yang relatif baik, khususnya tingkat

keyakinan masyarakat yang masih terjaga di level positif (Grafik B.1.9). Indikator pada sisi intermediasi perbankan juga menunjukkan peningkatan, yaitu pada penyaluran kredit konsumsi (Grafik B.1.10). Hal tersebut menunjukkan bahwa daya beli masih ada, namun terdapat beberapa hal yang membuat masyarakat Jakarta memutuskan untuk tidak melakukan belanja.

Penyebab Perlambatan Konsumsi Rumah Tangga dan Perdagangan Retail

Melambatnya konsumsi dan perdagangan retail di tengah momen bulan puasa dan Idul Fitri serta stabilitas ekonomi menjadi sebuah kondisi yang perlu dicari penyebabnya. Secara umum, hal-hal yang menyebabkan terjadinya perlambatan adalah sebagai berikut:

1. Perubahan Perilaku (Behavior Changing)

Masyarakat dewasa ini cenderung lebih selektif untuk melakukan belanja, antara lain dengan memprioritaskan pembelian kebutuhan-kebutuhan primer, sedangkan untuk kebutuhan-kebutuhan sekunder atau komplementer masih dapat ditunda kebutuhannya, atau cukup dengan menggunakan barang yang telah dimiliki sebelumnya karena sifatnya yang tidak mendesak. Hal tersebut tercermin pada hasil Survei Pedagan Eceran (SPE) Bank Indonesia, yang menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan perubahan pola belanja, yaitu peningkatan belanja pada kebutuhan makanan dan minuman (kebutuhan primer dan bersifat mendesak), serta penurunan pada belanja pakaian (kebutuhan primer namun sifatnya tidak mendesak) dan belanja barang rumah tangga (barang sekunder dan sifatnya tidak mendesak) (Grafik B.1.9, B.1.10, dan B.1.11).

Sumber: Survei Pedagang Eceran (SPE) BI Sumber: Survei Pedagang Eceran (SPE) BI

Grafik B.1.9 Belanja Makanan dan Minuman

Sumber: Survei Pedagang Eceran (SPE) BI

Grafik B.1.11 Belanja Barang Pribadi dan Rumah Tangga 2. Penggunaan E-Commerce

Penggunaan e-commerce ini lebih kepada penyebab turunnya pembelanjaan di toko-toko ritel dan toko fisik. Kemudahan akses internet yang dinikmati oleh warga ibukota serta kemudahan transaksi berpengaruh terhadap pergeseran pola belanja, dari sebelumnya mendatangi pusat perbelanjaan, kini cukup mengunakan gawai. Berdasarkan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet

Indonesia (APJII), sebanyak51,8% penduduk Indonesia telah memiliki

akses dan menggunakan internet, dengan pengguna terbesar ada di Pulau Jawa. Pengguna internet tersebut paling banyak mengakses toko online, sehingga hal ini ditengarai menjadi pemicu berkurangnya transaksi di lokasi belanja ritel. Namun, data pasti mengenai jumlah transkasi belanja melalui media e-commerce belum terdokumentasi secara lengkap, sehingga belum bisa diperoleh gambaran menyeluruh mengenai kegiatan jual-beli melalui internet.

3. Kondisi Lapangan Kerja.

Pada kondisi lapangan kerja, pertumbuhan lapangan kerja informal di DKI Jakarta lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan lapangan kerja formal. Hal tersebut menyebabkan terbatasnya perbaikan daya beli masyarakat, karena lapangan kerja informal tidak dapat menyediakan job security sebaik lapangan kerja formal, sehingga

masyarakat yang bekerja di sektor informal cenderung