KEUANGAN PEMERINTAH
B. Perkembangan Disagregasi Inflasi Triwulan II 2017
Terjaganya seluruh disagregasi pembentuk inflasi (inflasi inti, volatile food dan administered price) berkontribusi terhadap terkendalinya inflasi triwulan II 2017 di Ibukota. (Grafik 4.4).
Sumber: BPS, Bank Indonesia (diolah)
Grafik 4.4 Pergerakan disagregasi inflasi DKI Jakarta
Inflasi Inti
Inflasi inti sampai dengan triwulan II 2017 bergerak cukup stabil. Masuknya bulan Ramadhan dan Idul Fitri yang jatuh pada Juni 2017, tidak serta merta mendorong inflasi inti lebih keatas. Faktor terjaganya inflasi inti datang dari sisi eksternal dan internal, antara lain dari perkembangan nilai tukar yang tidak fluktuatif, harga komoditas internasional yang terjaga, serta permintaan masyarakat yang belum terlalu kuat. Nilai tukar rupiah cenderung bergerak stabil sampai dengan pertengahan tahun 2017. Hal tersebut menjadikan harga-harga barang impor juga stabil, baik bahan baku maupun barang konsumsi (imported inflation terbatas).
Sementara itu, permintaan masyarakat yang belum terlalu solid, terindikasi dari relatif rendahnya kegiatan belanja masyarakat yang menahan pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Hal tersebut disebabkan oleh masyarakat, khususnya kelas menengah, yang cenderung menahan belanja, untuk mengantisipasi pengeluaran yang lebih besar pada triwulan III 2017, antara lain tahun ajaran baru.
Sumber: BPS, Bank Indonesia (diolah) Sumber: BI, Bloomberg, BPS (diolah)
Grafik 4.5 Pergerakan inflasi inti dan nilai tukar
Grafik 4.6 Harga Minyak Dunia Jika dilihat dari subkelompok pengeluaran yang memiliki bobot cukup besar pada inflasi inti, yaitu subkelompok pengeluaran makanan jadi, cenderung bergerak stabil rendah. Subkelompok ini mengalami inflasi sebesar 4,35% (yoy) pada triwulan II 2017. Walau bertepatan dengan Ramadhan dan Idul
Fitri 2017, pencapaian ini masih lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata tiga tahun sebelumnya (10,51% yoy). Permintaan masyarakat yang belum terlalu tinggi, serta biaya produksi perusahaan yang terjaga, menyebabkan harga-harga makanan jadi tidak bergejolak.
Inflasi kelompok pengeluaran sandang turut berkontribusi terhadap terjaganya inflasi inti. Pola masyarakat yang cenderung berbelanja banyak keperluan sandang untuk keperluan Ramadhan dan Idul Fitri, tidak terjadi pada tahun 2017. Berdasarkan pengakuan pedagang-pedagang di Pasar Tanah Abang, penjualan sandang tahun ini lebih rendah dibandingkan dengan bulan Ramadhan dan Idul Fitri tahun-tahun sebelumnya. Hal ini tercermin dari inflasi kelompok pengeluaran sandang yang sebesar 3,80% (yoy), lebih rendah dari rata-rata tiga tahun sebelumnya (6,35% yoy). Lebih rendahnya inflasi sandang, juga dikontribusikan oleh tren penurunan harga emas perhiasan. Pergerakan harga emas perhiasan di Jakarta yang cenderung turun tidak terlepas dari tren penurunan harga emas internasional. Pada triwulan II 2017, harga emas perhiasan mengalami kenaikan harga sebesar 5,05% (yoy), lebih rendah dibandingkan rata-rata tiga tahun sebelumnya (12,84% yoy).
Sumber: Bloomberg Sumber: BI, Bloomberg, BPS (diolah)
Grafik 4.6 Pergerakan Inflasi Sandang dan Makanan Jadi
Grafik 4.7 Pertumbuhan emas internasional, NT& emas perhiasan Tabel 4.1 Komoditas Penyumbang Inflasi Inti Triwulan II 2017
Komoditas Bobot Kontribusi (yoy) Inflasi (yoy) Komoditas Bobot Kontribusi (yoy) Inflasi (yoy)
TARIP PULSA PONSEL 1.81% 0.32% 17.85% IKAN KERANJANG 0.09% 0.05% 71.73%
SEWA RUMAH 4.32% 0.29% 6.67% TARIP GUNTING RAMBUT ANAK 0.03% 0.01% 37.25%
KONTRAK RUMAH 4.93% 0.17% 3.35% SARUNG KATUN 0.09% 0.03% 32.38%
NASI DENGAN LAUK 2.52% 0.13% 5.16% TARIP LABORATORIUM 0.02% 0.01% 29.67%
EMAS PERHIASAN 2.16% 0.11% 5.05% GELAS MINUM 0.07% 0.01% 19.39%
Komoditas Inflasi Inti Utama Penyumbang Tertinggi Komoditas Inflasi Inti Dengan Inflasi Tertinggi
Sumber: BPS
Volatile Food
Inflasi volatile food yang terjaga hingga pertengahan tahun, berkontribusi terhadap terkendalinya inflasi triwulan II 2017. Walau bersamaan dengan
bulan Ramadhan dan Idul Fitri 2017, tidak serta merta diikuti gejolak harga pangan yang berarti. Inflasi kelompok bahan makanan pada triwulan II 2017 tercatat sebesar 2,43% (yoy), jauh lebih terkendali dibandingkan dengan rata-rata triwulan II tiga tahun sebelumnya (8,46% yoy).
Terkendalinya inflasi volatile food, terutama disumbangkan oleh subkelompok pengeluaran padi-padian, umbi-umbian dan hasilnya yang terjaga (1,31% yoy). Secara rata-rata dalam tiga tahun sebelumnya, subkelompok tersebut mengalami inflasi sebesar 9,14% (yoy).
Melalui BUMD pangan, TPID DKI Jakarta terus menjaga kesinambungan pasokan pangan strategis yang masuk ke Ibukota, maupun harga yang tercatat di tingkat konsumen. Khusus untuk beras, selain kerjasama antardaerah yang selalu digalakkan baik melalui mekanisme perdagangan maupun pengelolaan Sistem Resi Gudang (SRG), kerjasama juga dilakukan dengan Bulog dengan mekanisme standby stock beras. Beras dari Bulog akan dikeluarkan apabila beras yang masuk ke Ibukota berada pada titik yang rendah. Distribusi beras dengan harga yang lebih murah ke masyarakat, baik dengan bekerjasama dengan pasar tradisional, pasar modern, e-commerce, maupun outlet BUMD, juga turut menjaga harga beras di tingkat ritel. Dengan berbagai upaya tersebut inflasi beras mencapai 0,65% (yoy), jauh lebih rendah dari rata-rata tiga tahun sebelumnya (9,08% yoy).
Terkendalinya inflasi volatile food juga didukung oleh subkelompok pengeluaran bumbu-bumbuan. Subkelompok ini tercatat mengalami inflasi sebesar 6,15% (yoy), yang juga lebih rendah dari rata-ratanya (8,07% yoy). Langkah TPID DKI Jakarta melalui pembelian mesin Controlled Atmosphere
Storage (CAS) yang berfungsi sebagai media penyimpanan buffer stock
komoditas hortikultura, berhasil menahan gejolak harga yang lebih tinggi. Pemanfaatan mesin ini juga didukung oleh kerjasama pasokan bawang merah dari kelompok tani di Brebes. Program ini turut berkontribusi terhadap terkendalinya gejolak harga yang lebih tinggi di Ibukota, di tengah masuknya musim tanam di beberapa daerah sentra produksi utama. TPID DKI Jakarta merupakan TPID pertama yang memiliki teknologi CAS.
Kinerja inflasi kelompok volatile food pada pertengahan tahun 2017 juga didukung oleh terjaganya inflasi subkelompok pengeluaran daging dan hasil-hasilnya (5,32% yoy). Pemenuhan pasokan sapi dan daging sapi di
Ibukota selalu dilakukan baik melalui perdangan dengan peternak di Nusa Tenggara Timur (NTT), maupun impor dari New Zealand dan Australia. Pasokan ayam ras yang masuk ke Ibukota pun tetap terjaga, di tengah kenaikan permintaan pangan masyarakat. Selain itu, penerapan HET (harga eceran tertinggi) oleh pemerintah pada beberapa komoditas, seperti daging beku, gula dan minyak goreng, turut memiliki peran dalam terkendalinya harga pangan di DKI Jakarta.
Tabel 4.2 Komoditas Volatile Food Penyumbang Inflasi Triwulan II 2017 Komoditas Bobot Kontribusi (yoy) Inflasi (yoy) Komoditas Bobot Kontribusi (yoy) Inflasi (yoy)
DAGING AYAM RAS 1.21% 0.10% 8.50% CABAI RAWIT 0.11% 0.08% 68.46%
CABAI RAWIT 0.11% 0.08% 68.46% AYAM HIDUP 0.07% 0.02% 29.25%
TELUR AYAM RAS 0.57% 0.03% 4.56% CUMI-CUMI 0.05% 0.01% 17.79%
TAHU MENTAH 0.29% 0.02% 8.83% DAUN SINGKONG 0.05% 0.01% 14.79%
AYAM HIDUP 0.07% 0.02% 29.25% KACANG PANJANG 0.10% 0.01% 14.72%
Komoditas Volatile Food Utama Penyumbang Tertinggi Komoditas Volatile Food Dengan Inflasi Tertinggi
Sumber: BPS
Administered Prices
Idul Fitri yang jatuh pada Juni 2017, juga tidak serta merta mendorong inflasi kelompok administered prices terlalu tinggi. Relatif terkendalinya inflasi administered price pada pertengahan tahun 2017 terutama disumbangkan oleh kenaikan tarif transportasi yang tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya.
Kenaikan tarif transportasi yang banyak digunakan untuk melakukan aktivitas mudik dari Ibukota, terutama antarkota dan udara, tercatat cukup terkendali. Pada triwulan II 2017, subkelompok pengeluaran transpor tercatat mengalami inflasi sebesar 2,80% (yoy), lebih rendah dari rata-rata tiga tahun sebelumnya (9,35% yoy). Di dalamnya, inflasi angkutan antarkota dan angkutan udara juga tercatat relatif terkendali, masing-masing sebesar sebesar 4,58% (yoy) dan 5,92% (yoy). Padahal pada tiga tahun terakhir, angkutan udara bisa mengalami inflasi dengan rata-rata 27,66% (yoy), sedangkan angkutan antarkota mencapai sebesar 8,91% (yoy). Lebih terkendalinya inflasi transpor tahun ini disebabkan oleh masifnya pembangunan infrastruktur jalan tol oleh pemerintah, sehingga masyarakat cenderung melakukan kegiatan mudik dengan kendaraan pribadi.
Adapun kebijakan penyesuaian subsidi listrik 900VA yang dilakukan secara bertahap (Januari-Maret-Mei 2017) menjadi pendorong inflasi utama dari
kenaikan sebesar 17,81% (yoy) dan mendorong inflasi subkelompok bahan bakar, penerangan dan air sebesar 12,04% (yoy). Namun, jumlah pengguna listrik 900VA yang relatif sedikit di Ibukota, menyebabkan dampak yang lebih terbatas dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya pada kelompok
administered price.
Sumber: BPS, diolah
Grafik 4.8 Pergerakan Inflasi Transportasi
Tabel 4.3 Komoditas-komoditas Penyumbang Inflasi Administered Price Triwulan II 2017
Komoditas Bobot Kontribusi (yoy) Inflasi (yoy) Komoditas Bobot Sumbangan (yoy) Inflasi (yoy)
TARIP LISTRIK 4.12% 0.73% 17.81% BIAYA PERPANJANGAN STNK 0.52% 0.56% 107.38%
BIAYA PERPANJANGAN STNK 0.52% 0.56% 107.38% TARIP LISTRIK 4.12% 0.73% 17.81%
BENSIN 3.11% 0.19% 6.06% TARIP KERETA API 0.22% 0.02% 7.75%
ROKOK KRETEK FILTER 1.41% 0.10% 7.11% ROKOK KRETEK FILTER 1.41% 0.10% 7.11%
ROKOK KRETEK 0.78% 0.08% 10.01% BENSIN 3.11% 0.19% 6.06%
Komoditas Administered Price Utama Penyumbang Tertinggi Komoditas Administered Price Dengan Inflasi Tertinggi
Sumber: BPS