EKONOMI MAKRO REGIONAL
A. Komponen Permintaan
Perekonomian DKI Jakarta pada triwulan II 2017 melambat dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya. Kinerja pertumbuhan ekonomi pada triwulan laporan tercatat sebesar 5,96% (yoy), melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat tumbuh sebesar
6,45% (yoy)1, dan juga lebih rendah dari capaian pertumbuhan pada
triwulan II tahun sebelumnya yang sebesar 6,04% (yoy) (Grafik 2.1). Melambatnya pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta juga sejalan dengan pertumbuhan ekonomi kawasan Jawa pada triwulan II 2017 yang tercatat 5,41% (yoy), lebih rendah daripada triwulan sebelumnya (5,66%; yoy) (Grafik 2.2).
Sumber: BPS, diolah Sumber: BPS, diolah
Grafik 2.1 Pertumbuhan Ekonomi DKI Jakarta
Grafik 2.2 Pertumbuhan Ekonomi Nasional, Kawasan Jawa, dan Jakarta
Meskipun masih tercatat mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi, konsumsi rumah tangga (RT) sebagai komponen yang memiliki kontribusi terbesar dan menopang pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada triwulan II 2017, pertumbuhan konsumsi rumah tangga tercatat sebesar 5,86% (yoy),
1Berdasarkan rilis data pertumbuhan ekonomi triwulan II 2017 oleh BPS Provinsi DKI Jakarta, terdapat koreksi angka
sedangkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya tercatat sebesar 5,97% (yoy). Relatif rendahnya kegiatan belanja masyarakat merupakan faktor terbesar yang menahan pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Hal tersebut antara lain disebabkan karena masyarakat, khususnya masyarakat kelas menengah pada triwulan laporan cenderung menahan belanja, untuk mengantisipasi pengeluaran yang lebih besar pada triwulan III 2017, antara lain tahun ajaran baru. Namun demikian, laju perlambatan pada konsumsi rumah tangga dapat tertahan dengan adanya faktor bulan puasa dan Idul Fitri, yang secara umum mendorong belanja masyarakat. Di sisi lain, kondisi keyakinan konsumen yang secara umum masih berada pada level positif juga turut menopang pertumbuhan positif konsumsi rumah tangga.
Masih terjaganya kondisi keyakinan konsumen pada level positif tercermin pada hasil survei konsumen Bank Indonesia. Dari hasil survei, terlihat keseluruhan komponen, antara lain Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK), dan Indeks Kondisi Ekonomi saat ini (IKE) mengalami pertumbuhan serta berada pada level positif pada pertengahan tahun 2017 (Grafik 2.3). Hal tersebut menggambarkan persepsi masyarakat terhadap perekonomian domestik pada tahun 2017 yang stabil dan terjaga. Selain itu, hasil survei menunjukkan bahwa penghasilan masyarakat meningkat pada triwulan II 2017, yang sejalan dengan pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) dalam menyambut datangnya hari raya Idul Fitri. Meningkatnya penghasilan masyarakat tersebut tercermin dari Indeks Penghasilan Konsumen yang meningkat cukup tinggi pada triwulan II 2017 (Grafik 2.4).
Sumber: Survei Konsumen BI, diolah Sumber: Survei Konsumen BI, diolah
Grafik 2.3 Indeks Survei Konsumen Grafik 2.4 Indeks Penghasilan
Konsumen dan Ketersediaan Kerja
Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja masih berada pada level pesimis, meskipun tumbuh membaik. Hal ini tidak terlepas dari persepsi masyarakat terhadap lapangan kerja formal yang relatif masih sulit diperoleh, yang
tercermin dari pertumbuhan lapangan kerja formal yang lebih rendah dari pertumbuhan lapangan kerja informal (Grafik 2.5). Beberapa hal yang menyebabkan pertumbuhan lapangan kerja informal lebih tinggi dari lapangan kerja formal antara lain semakin maraknya masyarakat yang memilih berprofesi sebagai pengemudi transportasi umum berbasis on-line, serta pemberdayaan peran serta masyarakat dalam membangun dan merawat kota Jakarta sebagai Pekerja Penanganan Sarana dan Prasarana Umum (PPSU) yang memiliki penghasilan setara Upah Minimum Provinsi.
Sumber: BPS, diolah
Grafik 2.5 Pertumbuhan Lapangan Kerja Formal dan Informal
Melambatnya konsumsi juga terkonfirmasi melalui penjualan kendaraan bermotor yang mengalami kontraksi. Pada triwulan II 2017, penjualan kendaraan bermotor khususnya mobil di DKI Jakarta berkurang 5,69% (yoy) dari jumlah penjualan pada triwulan yang sama tahun 2016, sedangkan penjualan pada triwulan sebelumnya masih mengalami pertumbuhan positif 6,18% (yoy) (Grafik 2.6). Jika ditelusuri lebih dalam, penjualan mobil low
cost green car (LCGC) yang terjangkau oleh kelas menengah di Jakarta serta
selalu mencatat pertumbuhan yang tinggi, pada triwulan II 2017 mencatat perlambatan yang cukup dalam, yaitu dengan realisasi pertumbuhan 15,93% (yoy), dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang mencapai 55,5% (yoy) (Grafik 2.7).
Sumber: Gaikindo Sumber: Gaikindo
Grafik 2.6 Penjualan Mobil di Jakarta Grafik 2.7 Penjualan Mobil LCGC di
Namun, laju perlambatan pada konsumsi rumah tangga dapat tertahan dengan adanya faktor bulan puasa dan hari raya Idul Fitri, sejalan dengan tren peningkatan belanja masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pada kedua momen tersebut, seperti kebutuhan makanan dan pakaian muslim. Hal tersebut tercermin pada impor barang konsumsi yang membaik pada triwulan II 2017, meskipun masih tumbuh negatif (Grafik 2.8). Dari sisi pembiayaan, datangnya momen bulan puasa dan hari raya Idul Fitri dalam mendorong belanja tercermin dari kredit konsumsi pada triwulan II 2017 yang meningkat (Grafik 2.9). Pada triwulan laporan, penyaluran kredit konsumsi di DKI Jakarta tumbuh 6,53% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya dengan realisasi sebesar 5,20% (yoy), dimana pada periode tersebut tidak terdapat momen bulan puasa dan Idul Fitri. Jika dilihat secara nominal, penyaluran kredit konsumsi pada triwulan II 2017 sebesar Rp202,6 triliun, sedangkan penyaluran pada triwulan sebelumnya tercatat sebesar Rp198,7 triliun.
Sumber: Bank Indonesia, diolah Sumber: Bank Indonesia, diolah
Grafik 2.8 Impor Barang Konsumsi Grafik 2.9 Penyaluran Kredit Konsumsi di
Jakarta
Peningkatan belanja masyarakat pada momen bulan puasa dan hari raya Idul Fitri juga terkonfirmasi melalui hasil liaison2 terhadap beberapa perusahaan di DKI Jakarta pada periode triwulan II 2017. Hasil liaison menunjukkan bahwa dorongan momen bulan puasa dan Idul Fitri terhadap tingkat belanja tercermin pada meningkatnya penjualan domestik perusahaan, seperti terlihat pada skala likert penjualan domestik beberapa perusahaan yang lebih tinggi pada triwulan II 2017 dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (Grafik 2.10). Namun, melambatnya konsumsi tercermin pada tingkat persediaan beberapa perusahaan tersebut yang sedikit meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (Grafik 2.11).
2Kegiatan Liaison adalah kegiatan pengumpulan data/statistik dan informasi yang dilakukan secara periodik melalui
wawancara langsung/tidak langsung kepada pelaku usaha/institusi lainnya mengenai perkembangan dan arah kegiatan usaha dengan cara yang sistematis dan didokumentasikan dalam bentuk laporan dan likert scale.
Hal tersebut mengindikasikan bahwa tingkat persediaan atau inventory barang perusahaan yang terjual kepada masyarakat pada triwulan laporan yang tidak lebih banyak dari triwulan sebelumnya.
Sumber: Liaison Bank Indonesia, diolah Sumber: Liaison Bank Indonesia, diolah
Grafik 2.10 Skala Likert Penjualan Domestik
Grafik 2.11 Skala Likert Persediaan
Sementara itu, pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta putaran kedua yang dilaksanakan pada tanggal 19 April 2017 dan kegiatan lembaga sosial masyarakat terkait bulan Ramadhan dan persiapan Lebaran memberikan dorongan yang cukup kuat terhadap pertumbuhan konsumsi di DKI Jakarta, khususnya konsumsi lembaga non-publik yang melayani rumah tangga (LNPRT). Pada triwulan II 2017, konsumsi LNPRT tumbuh sebesar 18,09% (yoy), cukup tinggi meskipun sudah mulai melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat tumbuh 21,29% (yoy). Dengan memasuki Pilkada DKI Jakarta putaran kedua, partai-partai politik lebih mengintensifkan kegiatan rapat konsolidasi untuk meraih hasil maksimal pada Pilkada. Begitu juga dengan pelaksanaan Pilkada di daerah dan provinsi lain yang berkontribusi terhadap pertumbuhan konsumsi LNPRT DKI Jakarta, yang disebabkan oleh sebagian besar partai politik memiliki kantor pusat di Jakarta dan memusatkan kegiatan konsolidasi di Ibukota. Namun, jumlah daerah yang melaksanakan Pilkada putaran kedua hanya satu dibandingkan dengan Pilkada putaran pertama, maka berdampak pada melambatnya pertumbuhan konsumsi LNPRT pada triwulan laporan. Lebih lanjut, konsumsi LNPRT juga ditopang oleh kegiatan yayasan dan lembaga keagamaan sepanjang bulan Ramadhan dan Idul Fitri.
Memasuki triwulan III 2017, konsumsi rumah tangga diperkirakan meningkat dibandingkan triwulan II 2017, sejalan dengan ekspektasi positif masyarakat yang terindikasi dari indeks Survei Konsumen Bank Indonesia yang terus tumbuh positif dan berada pada level optimis (Grafik 2.12). Di sisi lain, konfirmasi yang diperoleh dari kalangan usaha melalui kegiatan liaison
menyebutkan, kondisi penjualan pada satu triwulan ke depan diperkirakan akan tetap membaik, yang didorong oleh beberapa penyelenggaraan festival belanja pada triwulan berjalan (Grafik 2.13). Festival belanja tersebut antara lain Hari Belanja Diskon Indonesia yang digelar oleh Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) dalam rangka menyambut dan memeriahkan perayaan HUT Republik Indonesia ke-72. Pesta belanja diskon tersebut akan diikuti oleh mal-mal modern dan berbagai pusat perbelanjaan pada tanggal 17-20 Agustus 2017 dengan menawarkan berbagai barang dengan harga yang lebih terjangkau, seperti produk busana, elektronik, makanan dan minuman, hingga hiburan. Kemudian festival belanja berikutnya adalah Happy Birthday Indonesia yang akan diselenggarakan di Jakarta International Expo Kemayoran pada tanggal 15-27 Agustus 2017 yang akan diikuti oleh lebih dari 200 perusahaan yang mengelola 500 merk lokal dan internasional. Festival-festival belanja tersebut diharapkan dapat menstimulasi belanja masyarakat dan menjadi pendorong pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan berjalan.
Sumber: Survei Konsumen Bank Indonesia Sumber: Liaison Bank Indonesia, diolah
Grafik 2.12 Perkembangan Terkini Survei Konsumen Bank Indonesia
Grafik 2.13 Perkiraan Penjualan
Konsumsi pemerintah pada triwulan II 2017 kembali terkontraksi lebih dalam dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pada triwulan laporan, konsumsi pemerintah tumbuh -5,15% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang juga mengalami kontraksi dengan pertumbuhan sebesar -3,83% (yoy). Melemahnya kinerja belanja pemerintah tersebut terutama disumbang oleh pelemahan belanja Kementerian dan Lembaga (K/L) yang berkantor di ibukota. Turunnya kinerja belanja K/L tersebut disebabkan oleh bergesernya pembayaran gaji dan tunjangan ke-13 Pegawai Negeri Sipil (PNS) dari triwulan II ke triwulan III 2017. Pada tahun lalu, gaji dan tunjangan ke-13 serta gaji ke-14 (Tunjangan Hari Raya) dibayarkan pada bulan Juni, atau masih berada pada triwulan II,
sedangkan pada tahun 2017 gaji dan tunjangan tersebut baru dibayarkan pada bulan Juli 2017 (triwulan III). Porsi belanja K/L tersebut cukup dominan terhadap pembentukan komponen konsumsi pemerintah di DKI Jakarta, karena mayoritas K/L berkantor di Ibukota, sehingga penundaan belanja berdampak pada kontraksi konsumsi pemerintah DKI Jakarta.
Belum optimalnya belanja Kementerian/Lembaga tersebut tercermin dari serapan anggaran sampai dengan pertengahan tahun 2017 yang belum mencapai separuh dari pagu anggaran, meskipun serapan tersebut lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya (Grafik 2.14). Pada bulan Juni 2017, serapan belanja kumulatif APBN untuk Kementerian/Lembaga baru mencapai 32% dari pagu anggaran. Lebih lanjut, penyerapan belanja kumulatif pada APBD DKI Jakarta juga turut berkontribusi pada kontraksi konsumsi pemerintah. Sampai dengan pertengahan tahun 2017, serapan belanja kumulatif APBD DKI Jakarta tercatat sebesar 25,3%, lebih rendah dibandingkan dengan serapan belanja kumulatif pada pertengahan tahun 2016, yang mencapai 27,4% (Grafik 2.15). Realisasi belanja APBD sampai dengan pertengahan tahun 2017 yang lebih rendah dibandingkan penyerapan tahun sebelumnya, disebabkan oleh persentase realisasi belanja pegawai yang lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu, yang disebabkan oleh pergeseran waktu pencairan gaji serta tunjangan kepada PNS.
Konsumsi pemerintah pada triwulan III 2017 diperkirakan kembali tumbuh positif. Pertumbuhan tersebut salah satunya akan didorong oleh belanja pegawai melalui pencairan tunjangan dan gaji ke-13 untuk Pegawai Negeri Sipil pada bulan Juli. Di samping itu, memasuki semester II tahun 2017, penyerapan belanja akan lebih dioptimalkan untuk memenuhi target realisasi anggaran pada akhir tahun.
Sumber: Ditjen Perbendaharaan Negara Jkt Sumber: BPKD DKI Jakarta
Grafik 2.14 Realisasi Belanja Kementerian/Lembaga di Jakarta
Grafik 2.15 Perkembangan Realisasi Belanja APBD DKI Jakarta
Di tengah kontraksi pertumbuhan konsumsi pemerintah, kinerja investasi DKI Jakarta tetap tumbuh positif, meskipun relatif terbatas dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pada triwulan II 2017, komponen investasi DKI Jakarta tercatat mengalami pertumbuhan 4,12% (yoy), lebih baik dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang tumbuh
4,00% (yoy)3. Pertumbuhan pada triwulan laporan tersebut masih ditopang
oleh investasi yang dilakukan oleh pemerintah, khususnya investasi bangunan dalam bentuk pembangunan infrastruktur di ibukota. Investasi bangunan tersebut masih mendominasi pangsa komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi secara keseluruhan di Jakarta pada triwulan laporan, dengan realisasi pertumbuhan pada triwulan II 2017 sebesar 5,75% (yoy) (Grafik 2.16 dan 2.17).
Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta
Grafik 2.16 Nominal Komponen PMTB Grafik 2.17 Pertumbuhan Investasi
Bangunan
Akselerasi investasi bangunan di DKI Jakarta didorong oleh pembangunan infrastruktur yang menyebar di berbagai wilayah di Jakarta. Proyek-proyek tersebut antara lain kelanjutan pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) dengan keseluruhan progres pekerjaan sampai dengan akhir triwulan II 2017 telah mencapai 75%, dengan rincian 87,5% untuk konstruksi bawah
tanah dan 56,86% untuk konstruksi layang4; pembangunan LRT Jabodebek
dengan progres pekerjaan sampai dengan triwulan I 2017 sebesar 15,5%5,
dengan rincian ruas Cawang-Cibubur telah terbangun 31,4%, ruas Kuningan-Dukuh Atas baru terbangun 2,7%, serta ruas Cawang-Bekasi Timur yang telah terbangun 15,1%; pembangunan LRT dalam kota Jakarta yang menghubungkan rute Kelapa Gading-Velodrome dengan progres pekerjaan sampai bulan Juni 2017 mencapai 26,35%, atau lebih
3Berdasarkan rilis data pertumbuhan ekonomi triwulan II 2017 oleh BPS Provinsi DKI Jakarta, terdapat koreksi angka pertumbuhan investasi DKI Jakarta triwulan I 2017, dari sebelumnya 6,30% (yoy) menjadi 4,00% (yoy).
4Sumber: laman PT MRT Jakarta (jakartamrt.co.id)
cepat dari target progres tengah tahun sebesar 25%6. Lebih lanjut, pada awal tahun 2017, DKI Jakarta memulai pembangunan tiga underpass dan tiga flyover secara bersamaan dengan total anggaran mencapai Rp 700 miliar yang bersumber dari belanja modal APBD DKI Jakarta. Pembangunan tersebut antara lain flyover Cipinang Lontar, Pancoran, dan Bintaro, serta
underpass Kartini, mampang-Kuningan, dan Matraman, dimana sampai
dengan posisi akhir bulan Juni 2017, progres total pekerjaan untuk keenam konstruksi tersebut telah mencapai 40%.
Sementara itu, peran swasta dalam kegiatan investasi masih terbatas. Masih rendahnya kegiatan investasi swasta terindikasi dari penyaluran kredit investasi yang melanjutkan tren perlambatan. Pada triwulan II 2017 penyaluran kredit investasi tumbuh 6,64% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 9,33% (yoy). (Grafik 2.18). Masih rendahnya investasi swasta tersebut tidak terlepas dari perilaku investor swasta yang masih melanjutkan perilaku wait-and-see terhadap kondisi ekonomi saat ini yang telah dimulai sejak awal tahun 2016, yang juga tercermin dari penyaluran kredit korporasi yang melambat pada triwulan laporan (Grafik 2.19).
Sumber: Bank Indonesia, diolah Sumber: Bank Indonesia, diolah
Grafik 2.19 Penyaluran Kredit Investasi Grafik 2.20 Penyaluran Kredit Rumah
Tangga untuk Perumahan
Investasi bangunan yang dilakukan oleh pemerintah melalui pembangunan konstruksi dan infrastruktur masih akan menjadi penopang utama pertumbuhan investasi pada triwulan berjalan, antara lain pembangunan MRT, pembangunan LRT di dalam kota Jakarta dan lintas Jabodebek, serta pembangunan flyover dan underpass. Pada pembangunan MRT sampai dengan perkembangan terkini7, konstruksi layang telah mencapai 64,10% dan konstruksi bawah tanah telah mencapai 88,26%. Pembangunan LRT
6Sumber: PT Jakarta Propertindo
Jakarta yang menghubungkan rute Kelapa Gading Velodrome telah mencapai 29,8% progres fisik, dan diakui oleh PT Jakarta Propertindo selaku pihak pelaksana pembangunan proyek lebih tinggi dari target yang
dicanangkan8. Sementara itu, pembangunan LRT Jabotabek yang meliputi
tiga rute, yaitu rute Cibubur Cawang sepanjang 14,5 km telah mencapai 37%, rute Bekasi Timur Cawang sepanjang 17,1 km telah mencapai 17%, dan rute Cawang Dukuh Atas sepanjang 10,5 km baru mencapai 3%. Lebih lanjut, pembangunan flyover dan underpass, antara lain flyover Cipinang Lontar, Pancoran, dan Bintaro, serta underpass Kartini, mampang-Kuningan, dan Matraman, ditargetkan untuk selesai pada akhir tahun 2017, sehingga pada semester II ini, pekerjaan konstruksi akan semakin dipercepat untuk memenuhi target. Di sisi lain, investasi swasta diperkirakan masih belum meningkat signifikan, yang terindikasi dari penyaluran kredit investasi dan kredit korporasi terkini yang masih tumbuh melambat (Grafik 2.20 dan 2.21). Namun, berlalunya Pilkada diperkirakan dapat mengurangi efek psikologis negatif dan perilaku wait-and-see investor swasta, sehingga dalam waktu ke depan kontribusi investasi dari sektor swasta diharapkan membaik.
Sumber: Bank Indonesia, diolah Sumber: Bank Indonesia, diolah
Grafik 2.20 Perkembangan Terkini Penyaluran Kredit Investasi
Grafik 2.21 Perkembangan Terkini Penyaluran Kredit Korporasi
Dari sisi eksternal, kinerja ekspor luar negeri kembali mengalami kontraksi yang lebih dalam dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Ekspor DKI Jakarta pada triwulan II 2017 tumbuh -13,69% (yoy), terkontraksi cukup dalam dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang juga mengalami kontraksi dengan realisasi pertumbuhan -5,84% (yoy). Kontraksi terutama disebabkan oleh ekspor barang yang mengalami kontraksi cukup dalam, serta ekspor jasa yang juga tumbuh negatif. Ekspor barang pada triwulan
8Sumber: http://megapolitan.kompas.com/read/2017/08/12/18420971/ini-progres-pembangunan-lrt-jakarta-koridor-kelapa-gading-velodrome tanggal 12 Agustus 2017
laporan mengalami kontraksi 25,27% (yoy), sedangkan ekspor jasa mengalami kontraksi 1,99% (yoy) (Grafik 2.22 dan 2.23).
Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta
Grafik 2.22 Pertumbuhan Ekspor DKI Jakarta per Komponen
Grafik 2.23 Pertumbuhan Ekspor Barang DKI Jakarta
Kontraksi yang cukup dalam pada ekspor barang salah satunya disebabkan oleh kebijakan pemerintah melalui Peraturan Dirjen Perhubungan Darat No.SK2717/Aj.201/DRJD tentang Pengaturan Lalu Lintas dan Pengaturan Kendaraan Angkutan Barang pada Masa Angkutan Lebaran Tahun 2017, yang turut berkontribusi dalam rendahnya aktivitas ekspor Jakarta. Berdasarkan peraturan tersebut, angkutan barang ekspor dan impor pada masa libur lebaran tahun 2017, pada tanggal 21 Juni 29 Juni 2017 tidak boleh beroperasi melalui jalan nasional dan jalan tol. Kebijakan tersebut menyebabkan menurunnya aktivitas arus barang dari dan menuju pelabuhan, termasuk yang terkait dengan kegiatan tersebut. Sejalan dengan hal tersebut, nilai ekspor DKI Jakarta pada triwulan II 2017 berkurang 29,77% (yoy) dibandingkan nilai ekspor pada triwulan II tahun lalu (Grafik 2.24). Lebih lanjut, perkembangan pasar luar negeri untuk produk ekspor utama Jakarta seperti kendaraan bermotor, perhiasan, dan peralatan mekanik9 belum sejalan dengan perbaikan kondisi ekonomi global secara umum, sehingga berdampak pada angka pertumbuhan yang terus bergerak negatif, dan turut berkontribusi terhadap kontraksi pertumbuhan ekspor DKI Jakarta (Grafik 2.25).
9Berdasarkan Berita Resmi Statistik BPS Provinsi DKI Jakarta No. 38/08/31/Th. XIX tanggal 1 Agustus 2017 perihal Ekspor dan Impor DKI Jakarta. Tiga besar nilai ekspor produk DKI Jakarta menurut golongan barang HS 2 digit adalah kendaraan dan bagiannya, perhiasan/permata, dan mesin-mesin/pesawat mekanik.
Sumber: Bank Indonesia, diolah Sumber: Bank Indonesia, diolah
Grafik 2.24 Pertumbuhan Nilai Ekspor DKI Jakarta
Grafik 2.25 Ekspor Produk Unggulan DKI Jakarta
Ekspor jasa pada triwulan laporan masih memiliki pangsa dominan terhadap keseluruhan ekspor luar negeri DKI Jakarta, melalui kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke ibukota (Grafik 2.26). Sejalan dengan ekspor barang yang menurun, jumlah wisman yang berkunjung ke Ibukota pada triwulan laporan terus menurun dengan tingkat pertumbuhan yang terus melambat (Grafik 2.27), sehingga hal tersebut turut berkontribusi terhadap kontraksi ekspor DKI Jakarta secara keseluruhan.
Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta Sumber: BPS Provinsi DKI Jakarta
Grafik 2.26 Pangsa Ekspor DKI Jakarta Grafik 2.27 Kunjungan Wisatawan
Mancanegara ke DKI Jakarta
Setelah mengalami pertumbuhan positif pada triwulan sebelumnya, kinerja impor DKI Jakarta kembali mengalami kontraksi pada triwulan II 2017. Pada triwulan laporan, kinerja impor terkontraksi 2,58% (yoy), sedangkan pada triwulan sebelumnya tumbuh positif 2,95% (yoy). Kontraksi pada impor DKI Jakarta tersebut dikontribusi oleh perlambatan pada pertumbuhan impor barang modal dan bahan baku (Grafik 2.28), sejalan dengan melambatnya pertumbuhan intermediate demand dari kegiatan industri pengolahan yang pada periode laporan menunjukkan perlambatan, yang juga sebagai dampak dari terbatasnya pertumbuhan konsumsi. Di sisi lain, impor barang konsumsi mengalami perbaikan, meski masih mengalami pertumbuhan
negatif, yang terbantu oleh faktor musiman bulan puasa dan hari raya Idul Fitri, melalui impor makanan kemasan dan barang tekstil atau pakaian muslim. Kontraksi kinerja impor DKI Jakarta tersebut juga sejalan dengan perlambatan pertumbuhan nilai barang-barang impor yang masuk ke DKI Jakarta (Grafik 2.29).
Sumber: Bank Indonesia, diolah Sumber: Bea Cukai, diolah
Grafik 2.28 Impor Barang Konsumsi, Bahan Baku, dan Barang Modal
Grafik 2.29 Pertumbuhan Nilai Impor DKI Jakarta