BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2. Komponen subjective well-being
Menurut Diener, dkk. (1999), banyak peneliti yang telah memperlakukan subjective well-being sebagai wujud satu kesatuan (monolitis), namun akhirnya terlihat jelas bahwa subjective well-being adalah gabungan antara pola-pola unik yang dapat dipisahkan, atau bisa disebut memiliki beberapa komponen yang spesifik. Pada tahun 1984, Diener (dalam Eid dan Larsen, 2008) mengangkat studi mengenai subjective well-being. Studi tersebut menyebutkan ada tiga komponen yang menyertai subjective well-being individu, yaitu kepuasan hidup, afek positif, dan afek negatif. Beberapa tahun kemudian, Diener, dkk. (1999) menambahkan satu komponen lagi, yaitu kepuasan dalam ranah kehidupan/ domain. Melalui pengembangan ini, akhirnya Diener, dkk. (1999) menentukan
commit to user
empat komponen besar yang menopang studi mengenai subjective well-being, yaitu afek yang menyenangkan (afek positif), afek yang kurang menyenangkan (afek negatif), penilaian secara global mengenai kepuasan hidup (sering disebut dengan kepuasan hidup saja), dan kepuasan dalam ranah kehidupan. Penjelasannya, sebagai berikut:
a. Afek positif
Individu yang berhasil mencapai keadaan subjective well-being umumnya ditandai dengan tingginya perasaan positif/ bahagia. Subjective well-being adalah keadaan dimana evaluasi afektif individu menghasilkan bahwa afek positifnya memiliki jumlah yang lebih besar (mayoritas) daripada afek negatifnya. Keadaan ini tidak hanya menunjukkan bahwa kecil/ rendahnya faktor afek negatif, tetapi lebih menekankan pada kesehatan mental individu yang adekuat (Diener, 2009d).
Menurut Diener, dkk. (1999) afek positif individu yang mempengaruhi level subjective well-being adalah hal-hal yang mencakup keriangan (joy), rasa suka cita (elation), kepuasan (contentment), harga diri (pride), mempunyai rasa kasih sayang (affection), kebahagiaan (happiness), dan kegembiraan yang sangat (ecstasy).Penjelasannya adalah sebagai berikut: 1) Keriangan (joy)
a) Didapat dari perwujudan dorongan untuk bermain-main/ mencari kesenangan, menerjang batas yang ada (dalam arti positif), dan kreatif.
commit to user
b) Dorongan ini tidak hanya muncul ketika bersosialisasi dengan orang lain atau dalam perilaku fisiknya saja, tapi juga muncul dalam perilaku yang intelektual dan artistik.
2) Rasa suka cita (elation)
Elation adalah suatu kondisi dimana individu berada dalam keadaan yang bersuka cita dan memiliki kondisi yang penuh dengan semangat untuk melakukan apapun.
3) Kepuasan (contentment)
Kepuasan ini didapat dari perwujudan dorongan untuk mampu menikmati hal-hal yang terjadi/ apa yang dimiliki dalam kehidupannya saat ini dan mengintegrasikan hal-hal tersebut kedalam sebuah pandangan yang baru mengenai dirinya sendiri dan dunianya.
4) Harga diri(pride)
Harga diri disini merujuk pada pencapaian personal, yaitu terwujud dalam dorongan untuk berbagi cerita mengenai pencapaiannya dengan orang lain dan bahkan dalam dorongan untuk membayangkan/ mengkhayalkan mengenai perolehan yang lebih baik di masa depan kelak. 5) Mempunyai rasa kasih sayang(affection)
a) Dikonsepkan sebagai campuran dari emosi positif lainnya, seperti kenikmatan, ketertarikan, dan kepuasan.
b) Dialami dalam konteks adanya persaan yang tenteram dalam hubungan yang dekat dengan individu/makhluk lain.
commit to user 6) Kebahagiaan (happiness)
a) Kebahagiaan diprediksikan melalui kestabilan emosi yang menyenangkan dan sering merasakan bahwa dirinya adalah individu yang memiliki nilai di dunia ini (self-worth).
b) Kebahagiaan dapat ditunjukkan melalui pembawaan individu yang selalu optimis.
7) Kegembiraan yang sangat (ecstasy)
a) Ecstasy adalah sensasi kegembiraan yang sangat dan terkadang membuat individu kehilangan kendali atas dirinya.
b) Efek dari perasaan ini adalah diri menjadi makin termotivasi dan bisa menjadi candu bagi diri sendiri untuk terus merasakan perasaan gembira ini.
b. Afek negatif
Diener (2009d) menyatakan bahwa meskipun afek positif dan negatif terlihat saling mempengaruhi, namun kedua tipe afek ini mempunyai hubungan yang independen antara satu dengan yang lain. Selain itu, menurut Diener, dkk; (dalam Strack, dkk., 1991) intensitas afek positif atau negatif tidak terlalu mempengaruhi level tinggi rendahnya subjective well-being, sebaliknya frekuensi afek positif atau negatif sangat mempengaruhi level tinggi rendahnya subjective well-being, yaitu tingginya level subjective well- being disebabkan oleh tingginya frekuensi afek positif dan rendahnya frekuensi afek negatif.
commit to user
Menurut Diener, dkk. (1999), beberapa afek negatif individu yang mempengaruhi level subjective well-being, yaitu rasa bersalah dan malu (guilt and shame), kesedihan (sadness), kecemasan dan kekhawatiran (anxiety and worry), kemarahan (anger), tekanan (stress), depresi (depression), dan kedengkian (envy).Penjelasannya adalah sebagai berikut:
1) Rasa bersalah dan malu (guilt and shame)
a) Rasa bersalah adalah sebuah pengalaman afeksi yang terjadi ketika seseorang menyadari/ mempercayai (entah akurat atau tidak) telah melanggar sebuah standar moral dan merasa harus bertanggung jawab untuk itu.
b) Rasa malu adalah suatu kondisi yang dialami oleh individu yang berusaha untuk menutupi suatu hal dan dapat memberikan pengaruh, seperti muka memerah, kebingungan, dan menundukkan muka.
2) Kesedihan (sadness)
a) Kesedihan adalah emosi yang dikarakteristikkan melalui perasaan keadaan yang lemah, kehilangan, dan ketidakberdayaan.
b) Kesedihan dapat dipandang sebagai sebuah kejadian menurunnya suasana hati secara sementara.
3) Kecemasan dan kekhawatiran (anxiety and worry)
a) Kecemasan dibedakan dengan ketakutan karena sering terarah pada hal-hal yang tidak berobjek, sedangkan rasa takut selalu mengarah pada sesuatu yang berobjek, individu atau peristiwa spesifik.
commit to user
b) Pemikiran dan gambaran mengenai sebuah ancaman yang menyerang, sehingga membuat individu berusaha untuk menghindarnya.
4) Kemarahan(anger)
Reaksi emosi yang sangat kuat yang menyertai beragam situasi seperti merasa terbatasi secara fisik, kepemilikannya dihilangkan, atau diancam. Hal ini juga dapat diidentifikasikan melalui sekumpulan reaksi fisik seperti raut muka tertentu dan posisi tubuh tertentu yang merupakan ekspresi tindakan sistem saraf otonom, khususnya sistem saraf simpatik. 5) Tekanan (stress)
Kondisi tegangan psikologis yang dihasilkan oleh jenis-jenis daya atau tekanan, yaitu tekanan baik fisik, psikologis, maupun sosial.
6) Depresi(depression)
Suasana hati yang dicirikan perasaan tidak nyaman, sebuah perasaan murung, sebuah penurunan dalam aktivitas maupun reaktivitas, pesimisme, dan kesedihan.
7) Kedengkian (envy)
a) Rasa iri yang didasarkan kepada kontemplasi penuh dendam terhadap keberuntungan orang lain.
b) Biasanya dibedakan dari rasa cemburu (jealousy) yang melibatkan pihak ketiga dalam sebuah hubungan.
commit to user c. Kepuasan hidup
Kepuasan hidup, menurut Eid dan Larsen (2008), merupakan hal yang dinilai secara holistik, memuat keseluruhan dari kehidupan individu atau total penilaian kehidupan pada periode hidupnya. Hal ini mencerminkan bahwa tidak hanya total kuantitas hal-hal yang membahagiakan di kehidupan individu pada waktu tertentu saja, tetapi juga mengenai kualitas penyalurannya, apakah hal itu dapat membawa kebahagiaan individu di waktu selanjutnya dan lebih permanen atau tidak (Eid dan Larsen, 2008). Menurut Diener, dkk. (1999) beberapa kepuasan hidup individu yang mempengaruhi level subjective well-being, yaitu hasrat untuk mengubah hidup (desire to change life), kepuasan pada kehidupan saat ini (satisfaction with current life), kepuasan pada kehidupan masa lalu (satisfaction with past), kepuasan pada kehidupan masa depan nanti (satisfaction with future), dan pendapat orang- orang terdekat mengenai hidupnya (significant others' views of one's life), penjelasannya adalah:
1) Hasrat untuk mengubah hidup (desire to change life)
Diener, dkk. (1999) menyatakan bahwa perbedaan individual dalam pencapaian dan motivasi yang dipunyai individu turut menentukan level subjective well-being.Hal ini menekankan perbedaan seberapa besar derajat komitmen individu dalam meraihnya. Setiap individu memiliki keinginan untuk mempunyai kehidupan yang lebih baik, sehingga ini merupakan hal yang berpotensi untuk meningkatkan kepuasan hidupnya.
commit to user
2) Kepuasan pada kehidupan saat ini (satisfaction with current life)
Hal ini menjealaskan mengenai kepuasan yang individu rasakan saat ini. Pada kehidupannya saat ini, individu merasa bersyukur dan puas atas apa yang telah didapatkan dan apa yang telah diperoleh dirasa sesuai apa yang telah diusahakan dalam mencapainya.
3) Kepuasan pada kehidupan masa lalu(satisfaction with past)
Menurut Rocke dan Lachman (2008), dalam beberapa situasi, masa lalu yang negatif dapat mengembangkan tujuan individu menjadi lebih mantap untuk masa depannya. Mengingat masa lalu dapat mempengaruhi individu dalam menempatkan tujuannya yang sekarang dan mengejarnya. Jadi, walaupun pengalaman yang pernah dialami merupakan pengalaman yang dirasa tidak begitu menyenangkan, individu tak akan merasa menyesal karena itu merupakan pembelajaran untuk masa yang selanjutnya.
4) Kepuasan pada kehidupan masa depan nanti(satisfaction with future) Ketika melihat kedepan, individu akan berharap mendapatkan apa yang diinginkan dan diwujudkan melalui usahanya saat ini. Sama seperti ketika melihat masa lalu, harapan pada masa depan juga memiliki keterkaitan dengan perilaku individu dalam usaha untuk mencapainya, walaupun itu sangat bergantung pada usahanya pada masa sekarang.
commit to user
5) Pendapat orang-orang terdekat mengenai hidupnya (Significant others' views of one's life)
Selain evaluasi untuk dirinya sendiri, lingkungan sekitar juga mempunyai anggapan yang sama mengenai kepuasan hidup individu, yaitu juga berpendapat bahwa individu telah hidup selayaknya dan patut mendapatkan itu semua karena usaha yang telah dilakukan.
d. Kepuasan dalam ranah kehidupan
Pavot (dalam Eid dan Larsen, 2008), menyatakan bahwa apabila kepuasan hidup secara kognitif menilai berdasarkan evaluasi kehidupan secara menyeluruh, kepuasan dalam ranah kehidupan berfokus pada penilaian mengenai beberapa aspek spesifik di kehidupan individu saja. Menurut Diener, dkk. (1999) beberapa ranah kehidupan yang mempengaruhi level subjective well-being, yaitu pekerjaan (work), keluarga (family), waktu luang (leisure), kesehatan (health), keuangan (finances), self, one's group.
1) Pekerjaan
Menurut Diener (2009d), individu yang tidak memiliki pekerjaan termasuk dalam kelompok yang kurang bahagia. Furnham (dalam Strack, dkk., 1991) menyatakan bahwa selain hanya memiliki memiliki pekerjaan, individu juga perlu memiliki pekerjaan yang bagus untuk meraih subjective well-being. Kemantapan/ bagusnya pekerjaan yang dimiliki individu biasanya dapat dilihat dari baiknya gaji, tujuan, pengembangan dan penggunaan keterampilan, dan ketenangan batin yang dirasakan.
commit to user 2) Keluarga
Komponen ini merujuk pada kehidupan individu dalam pernikahan dan berkeluarga. Menurut Diener (2009c), komponen berkeluarga adalah prediktor kuat yang mempengaruhi subjective well-being. Glenn (dalam Diener, 2009c) menyebutkan bahwa wanita yang menikah memang memiliki simtom stres yang lebih besar daripada yang tidak/ belum menikah, akan tetapi hasil ini juga diiringi dengan besarnya kepuasan hidup yang didapat.
3) Waktu luang (leisure)
Furnham (dalam Strack, dkk., 1991) menyatakan bahwa pekerjaan memang adalah sumber penting bagi individu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, akan tetapi hal ini menjadi sumber masalah ketika individu hanya terpaku dalam pekerjaan yang tak berakhir tanpa ada waktu untuk menikmati hasil usahanya. Menurut Kahneman, dkk. (2003), kepuasan hidup juga didapatkan melalui waktu santai yang tidak dihadiri oleh kemunculan pekerjaan (nonwork satisfaction).
4) Kesehatan
Diener, dkk. (1999) menyatakan bahwa pandangan subjektif yang positif bahwa dirinya sehat dapat memprediksi kepuasan hidup, walaupun kenyataanya individu tersebut tidak begitu sehat secara objektif. Individu yang menderita penyakit dapat saja memiliki subjective well-being yang tinggi, namun tidak lebih tinggi daripada individu yang sehat secara
commit to user
objektif. Hal ini berkaitan dengan pencapain tujuan, maksudnya adalah ada beberapa hal yang membuat individu yang tidak sehat tidak dapat meraih beberapa tujuan hidupnya dan inilah yang mempegaruhi mengapa levelsubjective well-beingnya tidak setinggi individu yang normal/ sehat. 5) Keuangan (finance)
Keuangan merupakan komponen subjective well-being yang berkaitan dengan pendapatan dan kekayaan, dan hal ini masih diperdebatkan apakah kekayaan merupakan hal yang penting dalam kebahagiaan. Menurut Diener, dkk. (1999), dalam beberapa hal individu dengan keuangan yang baik dapat meraih kebahagiaan, namun hal ini tidak dapat menjadi pegangan prediktor utama dalam subjective well- being.
6) Self
Self merupakan komponen yang berfokus pada studi mengenai pemahaman karakter individu yang seperti apa yang dapat membuat individu tersebut bahagia dan puas akan hidupnya (Diener, 2009b). Mengenai hal ini, menurut Diener (2009b), ada dua karakter yang ditekankan dalam komponen self itu sendiri, yaitu:
a) Harga diri (self-esteem)
Menurut Greenberg (Diener 2009b), individu yang memiliki level harga diri yang tinggi mampu untuk menemukan makna yang lebih positif mengenai kehidupannya, lebih mampu untuk menangkal
commit to user
kecemasan yang akan muncul, dan lebih sulit untuk terpengaruh oleh suasana hati yang negatif daripada individu yang memiliki pandangan negatif mengenai dirinya.
b) Identitas diri (self identity)
Memiliki identitas internal yang koheren dipandang sebagai salah satu komposisi integral dalam teori kesehatan mental. Lecky (dalam Diener, 2009b) menyatakan bahwa individu mencari pemahaman mengenai siapa individu itu sebenarnya melalui integrasi berbagai persepsi akan dirinya ke dalam sebuah struktur pengetahuan yang terorganisasi. Hal ini ditekankan dalam pernyataan bahwa individu termotivasi secara kuat untuk berperilaku dalam cara yang konsisten dengan pandangan diri (self view) yang dimiliki, sehingga di posisi ini self menurunkan arti, tujuan, dan petunjuk dalam berperilaku, yang terutama didapat dari sumber internal dalam dirinya. 7) One’s group
Dalam suatu budaya yang mengedepankan tujuan bersama, kepentingan masyarakat ditempatkan sebanding dengan kepentingan individu, sehingga tujuan dari sutau kelompok juga merupakan tujuan pribadinya (Diener, 2009c). Komponen ini menekankan pada konsep colectivsm yang berfokus pada saling ketergantungan dan saling membutuhkan tiap manusia dan memprioritaskan kepentingan bersama pada komunitas masyarakat atau bangsa.
commit to user
Pavot dan Diener (1993) menyatakan bahwa dalam mengevaluasi kepuasan hidup, penelitian tidak diharuskan untuk mengungkap seluruh ranah kehidupan, karena tiap individu memiliki standar pemaknaan kepuasan yang berbeda-beda mengenai pencapaian yang telah diraihnya, sehingga yang lebih penting adalah mengevaluasi kepuasan hidup individu secara global, yaitu penilaian kepuasan akan kehidupannya pada masa lalu, saat ini, pemaknaan positif terhadap kepuasan yang akan didapatkan di masa depan kelak, dan hasrat untuk selalu ingin mengembangkan diri menjadi lebih baik lagi.
Melalui empat komponen yang diutarakan oleh Diener, dkk. (1999) tersebut, dapat disimpulkan bahwa komponen-komponen subjective well-being meliputi afek yang menyenangkan (afek positif), afek yang kurang menyenangkan (afek negatif), penilaian secara global mengenai kepuasan hidup (sering disebut dengan kepuasan hidup saja), dan kepuasan dalam ranah kehidupan.
Afek negatif merupakan komponen yang kontra dengan komponen- komponen subjective well-being yang lain. Diener, dkk. (1999) menyatakan bahwa keadaan subjective well-being merupakan keadaan bahagia yang dialami individu sepanjang masa kehidupannya, sehingga tidak mungkin bila tidak memperhatikan afek negatif yang pernah muncul di kehidupannya. Oleh karena keunikan ini peneliti dalam studi subjective well-being harus memperhatikan dalam penskorannya. Penskoran kedua komponen afek dijelaskan Pavot (dalam Eid dan Larsen, 2008) dengan menyatakan bahwa skor mengenai kondisi afek
commit to user
yang dirasakan individu didapat dari jumlah total skor afek positif dikurangi afek negatif. Libran (2006) lalu mengembangkan teori yang dikemukakan oleh Pavot tersebut dan menghasilkan rumusan, yaitu nilai subjective well-being didapatkan melalui besar kepuasan hidup dan kepuasan dalam ranah kehidupan individu yang dijumlahkan dengan selisih skor antara afek positif dan afek negatifnya.