BAB IV HASIL PENELITIAN
4.3 Deskripsi Data
4.3.2 Analisis Data
4.3.2.1 Komunikasi
Terdapat tiga sub indikator yang dapat dipakai (atau digunakan) dalam mengukur keberhasilan indikator komunikasi yaitu transmisi, kejelasan dan konsistensi.
a) Transmisi
Transmisi adalah penyaluran komunikasi yang baik akan dapat menghasilakan suatu implementasi yang baik pula. Seringkali yang terjadi dalam penyaluran komunikasi adanya salah pengertian (miskomunikasi), hal tersebut disebabkan karena komunikasi telah melalui beberapa tingkatan birokrasi, sehingga apa yang diharapkan terdistorsi ditengah jalan. Penyaluran komunikasi (transmisi) dalam konteks Program JKN ini dilakukan dalam dua hal yaitu pertama, sosialisasi yang dilakukan oleh BPJS Kesehatan Kabupaten Lebak dan kedua, sosialisasi yang dilakukan oleh Fasilitas Kesehatan (Rumah Sakit, Puskesmas, Klinik Pratama dan Dokter Perorangan). Tanggapan responden mengenai sub indikator transmisi secara jelas dapat dilihat pada diagram 4.7 berikut:
Diagram 4.7
Sub Indikator Transmisi (Penyaluran Komunikasi)
Sumber: Hasil Penelitian Lapangan, 2015 (Item No.1 dan 2).
Berdasarkan diagram di atas menunjukan bahwa skor jawaban responden untuk sub indikator transmisi (penyaluran komunikasi) skor rata-ratanya sebesar 2,33 dan apabila dikonsultasikan dengan skala penafsiran skor rata-rata jawaban responden, angka sebesar itu berada pada rentang kategori skor 1,76-2,51 atau berada pada kategori rendah.
Angka rata-rata pada sub indikator transmisi sebesar 2,33 atau berada pada kategori rendah ini dipengaruhi oleh jawaban responden atas item pertanyaan pendukungnya yang terdiri dari dua item yaitu: (1) Sosialisasi kepesertaan Program JKN yang dilakukan oleh BPJS Kesehatan Kabupaten Lebak; dan (2) Daya dukung Fasilitas Kesehatan (Rumah Sakit, Puskesmas, Klinik & Dokter Perorangan) dalam membantu mensosialisasikan Kepesertaan Program JKN kepada masyarakat di Kabupaten Lebak.
Rendah 2,31 Rendah 2,36 Rendah 2,33 2,30 2,31 2,32 2,33 2,34 2,35 2,36 Sosialisasi Program JKN yang dijalankan BPJS Kesehatan Sosialisasi yang
Pada item nomor 1 dengan pertanyaan yang diberikan kepada responden yaitu “Menurut pendapat anda, bagaimana dengan sosialisasi Kepesertaan Program JKN yang dilakukan BPJS Kesehatan Kabupaten Lebak untuk masyarakat di Kabupaten Lebak?”. Untuk pertanyaan pada item nomor 1, didapatkan skor sebesar 2,31 atau berada pada kategori rendah. Hal ini sejalan pula dengan hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan Kepala BPJS Kabupaten Lebak yang menyatakan bahwa BPJS selama ini masih kurang intensif dalam mensosialisasikan program JKN. Selama ini sosialisasi dilakukan sebagian besar hanya melalui media cetak, baliho, spanduk, televisi dan internet. Sementara jika dilihat secara seksama, tidak seluruh masyarakat terakses oleh media sosialisasi ini. Sehingga untuk memberikan pemahaman yang komprehensif, pro aktif BPJS Kesehatan dalam mensosialisasikan Program JKN perlu ditingkatkan intensitasnya.
Selanjutnya pada item nomor 2 dengan pertanyaan yang diberikan kepada responden yaitu “Apakah FASKES (Rumah Sakit, Puskesmas, Klinik & Dokter Perorangan) membantu mensosialisasikan mengenai Kepesertaan Program JKN kepada masyarakat di Kabupaten Lebak?”. Untuk pertanyaanpada item nomor 2, didapatkan skor sebesar 2,36 atau berada pada kategori rendah. Rendahnya capaian skor pada item nomor 2, disebabkan oleh masih kurangnya daya dukung Fasilitas Kesehatan dalam membantu mensosialisasikan Program JKN kepada masyarakat. Senada dengan wawawancara yang peneliti lakukan dengan Kepala Puskesmas Mandala dan Humas RSUD Dr. Adjidarmo bahwa Fasilitas Pelayanan Kesehatan hanya
berkewajiban memberikan pelayan kesehatan kepada peserta Program JKN, sedangkan untuk sosialisasi kepada masyarakat luas, BPJS Kesehatan yang lebih berwenang.
b)Kejelasan
Komunikasi yang diterima oleh pelaksana kebijakan (street-level-bureuacrats) haruslah jelas dan tidak membingungkan (tidak ambigu dan mendua). Ketidakjelasan pesan kebijakan tidak selalu menghalangi implementasi, pada tataran tertentu, pelaksana membutuhkan fleksibilitas dalam melaksanakan kebijakan. Tetapi pada tataran yang lain hal tersebut akan menyelewengkan tujuan yang hendak dicapai oleh kebijakan yang telah ditetapkan. Menurut peneliti, agar Program JKN dapat terlaksana dengan baik, maka terdapat empat hal yang harus disampaikan secara jelas dari pelaksana kebijakan kepada masyarakat. Peneliti paparkan mengenai sub indikator kejelasan dalam diagram 4.8 berikut ini:
Diagram 4.8 Sub Indikator Kejelasan
Sumber: Hasil Penelitian Lapangan, 2015 (Item No. 3, 4, 5 dan 6).
Rendah 2,48 Rendah 1,82 Rendah 2,35 Sangat Rendah 1,71 Rendah 2,09 1,50 1,70 1,90 2,10 2,30 2,50 2,70 Kejelasan informasi yang diperoleh dari BPJS Kesehatan Kejelasan informasi yang diperoleh dari Faskes Tata Cara Pendaftaraan Manual Peserta Mandiri Tata Cara Pendaftaraan Online Peserta Mandiri Rata-rata
Berdasarkan diagram di atas menunjukan bahwa skor jawaban responden untuk sub indikator kejelasan skor rata-ratanya sebesar 2,09 dan apabila dikonsultasikan dengan skala penafsiran skor rata-rata jawaban responden, angka sebesar itu berada pada rentang 1,76-2,51 atau berada pada kategori rendah. Rendahnya capaian rata-rata skor pada sub indikator kejelasan dipengaruhi oleh empat item pertanyaan dalam sub indikator kejelasan yaitu: (1) Kejelasan informasi yang diperoleh masyarakat dari BPJS Kesehatan; (2) Kejelasan Informasi yang diperoleh masyarakat dari Faskes; (3) Tata cara pendaftaran manual Peserta Mandiri; (4) Tata cara pendaftaran online Peserta Mandiri.
Pada item nomor 3 dengan pertanyaan yang diberikan kepada responden yaitu “Dari sosilalisasi dilakukan oleh BPJS Kesehatan mengenai Kepesertaan Program JKN di Kabupaten Lebak, Menurut anda bagaimana informasi yang diperoleh?”. Untuk pertanyaan pada item nomor 3, didapatkan nilai skor sebesar 2,48 atau berada pada kategori rendah. Hal ini sejalan pula dengan hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan beberapa responden yang mengungkapkan bahwa BPJS belum mampu menyampaikan informasi secara jelas kepada masyarakat. Sehingga sebagian besar mereka tahu tentang Program JKN hanya dari mulut ke mulut.
Kemudian pada item nomor 4 dengan pertanyaan yang diberikan kepada responden yaitu “Bagaimana Informasi yang diberikan mengenai Kepesertaan Program JKN yang disampaikan FASKES (Rumah Sakit, Puskesmas, Klinik & Dokter Perorangan) di Kabupaten Lebak?”. Untuk
pertanyaan pada item nomor 4, didapatkan nilai skor sebesar 1,82 atau berada pada kategori rendah. Nilai skor sebesar itu tentu relevan dengan kondisi objektif yang terjadi di lapangan. Selama ini Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Puskesmas, Rumah Sakit) kurang pro aktif dalam mensosialisasikan Program JKN, karena tidak ada ketegasan aturan yang mewajibkan fasilitas pelayanan kesehatan untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat terkait program JKN. Sehingga ketika masyarakat butuh kejelasan informasi, Fasilitas Kesehatan mengarahkan sepenuhnya kepada BPJS Kesehatan.
Pada item nomor 5 dengan pertanyaan yang diberikan kepada responden yaitu “Bagaimana tata cara pendaftaraan (manual) Kepesertaan Program JKN Peserta Mandiri di BPJS Kesehatan Kabupaten Lebak?”. Untuk pertanyaan pada item nomor 5, didapatkan nilai skor lebih tinggi dibanding item lainnya yaitu sebesar 2,35, namun meskipun demikian angka ini masih berada pada kategori rendah. Hal ini dipengaruhi oleh kurang baiknya sistem pelayanan yang diberikan oleh BPJS Kesehatan Kabupaten Lebak terutama dalam sistem pendaftaran. Beberapa kendala dalam pendaftaran misalnya pembayaran harus dilakukan lewat rekening Bank dan dibayar setiap bulan. Dan untuk peserta kategori Kelas I (satu) dan Kelas II (dua) pada aturan sebelumnya tidak diwajibkan mempunyai rekening bank, namun sekarang Peserta JKN kelas I (satu) dan Kelas II (dua) harus di wajibkan punya rekening.
Pada item nomor 6 dengan pertanyaan yang diberikan kepada responden yaitu “Bagaimana tata cara pendaftaraan Kepesertaan Program
JKN Peserta Mandiri secara online melalui internet?”. Untuk pertanyaan mengenai tata cara pendaftaran online Peserta Mandiri didapatkan nilai skor sebesar 1,71 atau berada pada kategori rendah. Kebijakan dalam program JKN yang mewajibkan masyarakat Peserta JKN melakukan pendaftaran secara online memang sangat efektif dan efisien, dengan catatan jika masyarakat sudah paham dan mampu mengoperasikan internet. Sedangkan di Kabupaten Lebak sendiri, hanya sebagian kecil masyarakat yang mampu menjadi Peserta Mandiri dengan mendaftarkan dirinya secara online. Sisanya masih banyak masyarakat yang perlu mendapatkan bimbingan dalam tata cara pendaftaran online tersebut. Dan hal ini masih belum dilakukan secara optimal terutama ke beberapa kecamatan yang tergolong pelosok dan tidak terakses oleh internet.
c) Konsistensi
Perintah yang diberkian dalam pelaksanaan suatu komunikasi haruslah konsisten dan jelas (untuk diterapkan atau dijalankan). Karena jika perintah yang diberikan sering berubah-ubah, maka dapat menimbulkan kebingungan bagi pelaksana dilapangan. Konsistensi dalam Program JKN di Kabupaten Lebak dilihat dalam dua hal yaitu : (1) Peraturan tata cara kepesertaan JKN; dan (2) Informasi yang diperoleh masyarakat dari BPJS Kesehatan dan Faskes. Tanggapan responden terkait sub indikator konsistensi, peneliti deskripsikan pada diagram 4.9 berikut ini:
Diagram 4.9
Sub Indikator Konsistensi
Sumber: Hasil Penelitian Lapangan, 2015 (Item No. 7 dan 8).
Berdasarkan diagram di atas menunjukan bahwa skor jawaban responden untuk sub indikator konsistensi diperoleh skor rata-rata sebesar 2,27 dan apabila dikonsultasikan dengan skala penafsiran skor rata-rata jawaban responden, angka sebesar itu berada pada rentang 1,76-2,51 atau berada pada kategori rendah.
Skor rata-rata pada sub indikator konsistensi sebesar 2,27 atau berada pada kategori rendah ini dipengaruhi oleh nilai skor pada item pertanyaan pendukungnya. Pada sub indikator konsistensi item pertanyaan pendukungnya yaitu: (1) Konsistensi peraturan tata cara kepesertaan Program JKN dan (2) Informasi yang diperoleh masyarakat terkait pelaksanaan Program JKN.
Pada item nomor 7 dengan pertanyaan yang diberikan kepada responden yaitu “Bagaimana dengan Peraturan yang dikeluarkan BPJS Kesehatan mengenai tata cara Kepesertaan Program JKN untuk Peserta
Rendah 2,29 Rendah 2,25 Rendah 2,27 2,24 2,25 2,26 2,27 2,28 2,29 2,30 Konsistensi peraturan Tata Cara
Kepesertaan berubah-ubah Perbedaan informasi yang diperoleh masyarakat Rata-rata
Mandiri, Apakah selalu berubah-ubah?”. Untuk pertanyaan pada item nomor 7, didapatkan nilai skor sebesar 2,29 atau berada pada kategori rendah. Dari wawancara yang peneliti lakukan dengan responden, banyak dari mereka yang mengatakan bahwa peraturan tata cara kepesertaan Program JKN seringkali berubah-ubah. Awalnya Peserta JKN Kelas I (satu) dan Kelas 2 (dua) tidak dipersyaratkan memiliki rekening, namun sekarang wajib punya rekening. Kemudian dalam hal pendaftaran, sebelumnya bisa diwakilkan oleh orang lain sedangkan sekarang tidak bisa diwakilkan. Ketidak konsistenan peraturan ini tidak jarang membingungkan masyarakat ketika hendak mendaftar.
Tidak berbeda jauh dengan item sebelumnya, item nomor 8 dengan pertanyaan yang diberikan kepada responden yaitu “Dari sosialisasi Program JKN yang dilakukan oleh BPJS & FASKES (Rumah Sakit, Puskesmas, Klinik & Dokter Perorangan), apakah anda menemukan perbedaan informasi dari sosialisasi JKN oleh Instansi tersebut?”. Pada item nomor 8 nilai skor yang diperoleh masih dalam kategori rendah yaitu sebesar 2,25. Rendahnya capaian nilai skor pada item ini dikarenakan seringkali adanya penyampaian informasi yang berbeda antara yang disampaiakan oleh BPJS Kesehatan Kabupaten Lebak dengan informasi yang disampaikan oleh Fasilitas kesehatan.