BAB IV HASIL PENELITIAN
4.3 Deskripsi Data
4.3.2 Analisis Data
4.3.2.2 Sumber Daya
Indikator sumber daya memberikan pengaruh terhadap keberhasilan implementasi kebijakan. Terdapat 4 (empat) sub indikator dalam indikator sumberdaya antara lain staf, informasi, wewenang dan fasilitas.
a) Staf
Sumberdaya utama dalam implementasi kebijakan adalah staf. Kegagalan yang sering terjadi dalam implementasi kebijakan salah satunya disebabkan oleh karena staf yang tidak mencukupi, memadai, ataupun tidak kompeten dibidangnya. Dalam pelaksanaan Program JKN, jumlah pegawai, kemampuan (kompetensi) pegawai dan proses antrian dalam memberikan pelayanan pendaftaran JKN kepada masyarakat menjadi tolak ukur dari kualitas staf ini. Tanggapan responden mengenai sub indikator staf di BPJS Kesehatan Kabupaten Lebak bisa dilihat pada diagram 4.10 berikut :
Diagram 4.10 Sub Indikator Staff
Sumber: Hasil Penelitian Lapangan, 2015 (Item No. 9,10 dan 11). Rendah 2,12 Tinggi 2,62 Rendah 2,38 Rendah 2,37 2,00 2,10 2,20 2,30 2,40 2,50 2,60 2,70 Jumlah
Berdasarkan diagram di atas menunjukan bahwa skor jawaban responden untuk sub indikator staf diperoleh skor rata-rata sebesar 2,37 dan apabila dikonsultasikan dengan skala penafsiran skor rata-rata jawaban responden, angka sebesar itu berada pada rentang 1,76-2,51 atau berada pada kategori rendah.
Rendahnya nilai rata-rata skor pada sub indikator staf ini dikarenakan tanggapan responden atas item pertanyaan pendukungnya juga rendah. Terdapat tiga item pertanyaan yang berkaitan dengan sub indikator staf yaitu : (1) ketersediaan jumlah pegawai di BPJS Kesehatan; (2) kemampuan (kompetensi) pegawai di BPJS Kesehatan; dan (3) Proses antrian dalam memberikan pelayanan pendaftaran Program JKN kepada masyarakat.
Item nomor 9 dengan pertanyaan yang diberikan kepada responden yaitu “Menurut anda, bagaimana dengan jumlah pegawai di Kantor BPJS Kesehatan Kabupaten lebak dalam melayani masyarakat?”. Untuk pertanyaan item nomor 9, didapatkan nilai skornya ialah sebesar 2,12 atau berada pada kategori rendah. Nilai skor ini merupakan gambaran dari kondisi yang sesungguhnya. Hasil pengamatan yang peneliti lakukan terkait jumlah pegawai di BPJS Kesehatan Kabupaten Lebak memang masih kurang. Jumlah pegawai yang ada terdiri dari 1 orang ketua, 6 orang pegawai tetap BPJS Kesehatan, 2 orang pegawai yang magang, dan 1 orang staf keamanan (security), dan 1 orang petugas kebersihan. Sedangkan jika dilihat dari jumlah masyarakat yang mendaftar jumlahnya rata-rata 100 orang dalam sehari. Sehingga tidak seimbangnya jumlah pegawai dengan masyarakat yang
mendaftar menjadikan pelayanan kepesertaan BPJS di Kabupaten Lebak kurang optimal.
Kemudian pada Item selanjutnya yaitu item nomor 10 dengan pertanyaan yang diberikan kepada responden yaitu “Menurut anda, bagaimana dengan kemampuan pegawai BPJS Kesehatan Kabupaten Lebak dalam melayani masyarakat?”. Untuk pertanyaan pada item nomor 10, didapatkan nilai skornya ialah sebesar 2,62 atau berada pada kategori tinggi/baik. Meskipun dari sisi jumlah pegawainya terbatas, namun peneliti melihat kemampuan pegawainya sudah bagus. Hal ini diungkapkan oleh beberapa responden yang menyatakan bahwa pegawai BPJS Kesehatan dalam melayani masyarakat, cara berkomunikasinya mudah dipahami dan mampu memberitahu masyarakat mengenai tata cara kepesertaan Program JKN.
Sedangkan pada item nomor 11 dengan pertanyaan yang diberikan kepada responden yaitu “Apakah anda menunggu lama (antri) ketika mengurus pendaftaran Kepesertaan Program JKN di Kantor BPJS Kabupaten Lebak?”. Untuk pertanyaan pada item nomor 11, didapatkan nilai skor yang tergolong rendah yaitu hanya sebesar 2,38. Kondisi ini sangat masuk akal karena masyarakat seringkali harus antri dalam waktu yang lama dalam proses pendaftaran. Hal ini dikarenakan jumlah pegawai di staf pelayanan tidak sebanding dengan jumlah pendaftar Program JKN. Sehingga antrian yang panjang sering terjadi.
b)Informasi
Dalam implementasi kebijakan, informasi mempunyai dua bentuk, yaitu pertama, informasi yang berhubungan dengan cara melaksanakan kebijakan. Implementor harus mengetahui apa yang harus mereka lakukan disaat mereka diberi perintah untuk melakukan tindakan. Kedua, informasi mengenai data kepatuhan dari para pelaksana terhadap peraturan dan regulasi pemerintah yang telah ditetapkan. Implementor harus mengetahui apakah orang yang terlibat di dalam pelaksanaan kebijakan tersebut patuh terhadap hukum. Untuk mengukur sub indikator informasi diajukan dua item pertanyaan yang diberikan kepada responden yaitu (1) Kemampuan pegawai BPJS Kesehatan dalam menginformasikan kembali Program JKN; (2) Pemahaman pegawai BPJS Kesehatan terhadap tugas pokok dan fungsi (tupoksi) pegawai. Tanggapan responden mengenai sub indikator informasi bisa dilihat pada diagram 4.11 berikut:
Diagram 4.11 Sub Indikator Informasi
Sumber: Hasil Penelitian Lapangan, 2015 (Item No. 12 dan 13). Tinggi 2,58 Tinggi 2,60 Tinggi 2,59 2,58 2,58 2,58 2,59 2,59 2,59 2,59 2,59 2,60 2,60 2,60 Kemampuan Petugas BPJS Kesehatan dalam memberikan informasi Pegawai BPJS K
Berdasarkan diagram di atas menunjukan bahwa skor jawaban responden untuk sub indikator informasi diperoleh skor rata-rata sebesar 2,59 dan apabila dikonsultasikan dengan skala penafsiran skor rata-rata jawaban responden, angka sebesar itu berada pada rentang 2,52-3,27 atau berada pada kategori tinggi. Capaian nilai rata-rata skor pada sub indikator informasi dipengaruhi oleh tanggapan responden atas 2 item pertanyaan yang diajukan yang nilai skornya kedua-duanya juga tinggi.
Pada item nomor 12 dengan pertanyaan yang diberikan kepada responden yaitu “Apakah Petugas BPJS Kesehatan Kabupaten Lebak mampu menyampaikan informasi kembali mengenai tata cara kepesertaan Program JKN?”. Untuk pertanyaan nomor 12, didapatkan nilai skor sebesar 2,58 atau berada pada kategori tinggi. Hal ini sejalan dengan informasi yang peneliti dapatkan melalui wawancara dengan beberapa responden yang mengatakan bahwa pegawai BPJS Kesehatan Kabupaten Lebak mampu menyampaikan informasi dengan jelas dan detail mulai dari sistem pendaftaran hingga pembayaran.
Selanjutnya pada item nomor 13 dengan pertanyaan yang diberikan kepada responden yaitu “Sejauh yang anda ketahui, Apakah seluruh pegawai BPJS Kesehatan Kabupaten Lebak paham terhadap tugas pokok dan fungsinya (tupoksi) sebagai pegawai dalam memberikan pelayanan kepesertaan program JKN?”. Untuk pertanyaan pada item nomor 13, didapatkan nilai skor sebesar 2,60 atau berada pada kategori tinggi. Dari hasil skor pada item nomor 13 dapat diketahui bahwa rata-rata seluruh pegawai di
BPJS Kesehatan dalam menjalankan tugas pada umumnya sudah memahami tugas pokok dan fungsinya masing-masing, seperti pegawai staf pelayanan yang mengurus tata cara pendaftaran Program JKN atau Petugas verificator yang mengurusi klaim peserta Program JKN.
c) Wewenang
Pada umumnya kewenangan harus bersifat formal agar perintah dapat dilaksanakan. Kewenangan merupakan otoritas atau legitimasi bagi para pelaksana dalam melasanankan kebijakan yang telah ditetapkan secara politik. Pada pelaksanaan program JKN di Kabupaten Lebak, untuk mengukur sub indikator wewenang peneliti mengajukan tiga item pertanyaan mengenai Program JKN yaitu : (1) Besaran iuran yang ditetapkan oleh pemerintah kepada Peserta Mandiri Program JKN; (2) Aturan masa aktif kartu JKN yang bisa digunakan setelah 7 hari setelah pendaftaran, dan (3) Aturan bagi bayi yang baru lahir tidak dijamin oleh BPJS Kesehatan sebelum dilakukan pendaftaran terlebih dahulu. Tanggapan responden mengenai sub indikator wewenang dapat dilihat pada diagram 4.12 berikut:
Diagram 4.12 Sub Indikator Wewenang
Sumber: Hasil Penelitian Lapangan, 2015 (Item No. 14,15 dan 16).
Berdasarkan diagram di atas menunjukan bahwa skor jawaban responden untuk sub indikator wewenang diperoleh skor rata-rata sebesar 2,11 dan apabila dikonsultasikan dengan skala penafsiran skor rata-rata jawaban responden, angka sebesar itu berada pada rentang 1,76-2,51 atau berada pada kategori rendah.
Temuan penelitian ini menunjukan bahwa wewenang pemerintah dalam penentuan kebijakan dan aturan mengenai program JKN belum mendapat respon yang baik dari masyarakat. Hal ini ditunjukan dengan skor rata-rata responden dari ketiga item tersebut berada pada kategori rendah.
Pada item nomor 14 dengan pertanyaan yang diberikan kepada responden yaitu “Dalam penilaian anda, Apakah aturan besaran iuran yang di tetapkan per orang tiap bulan Peserta Mandiri Program JKN di Kabupaten Lebak sebesar (Kelas I Rp.59.500,-, Kelas II Rp. 42.500,-, Kelas III
Rendah 2,31 Rendah 1,96 Rendah 2,06 Rendah 2,11 1,90 1,95 2,00 2,05 2,10 2,15 2,20 2,25 2,30 2,35 Aturan Besaran
Iuran aktif Kartu JKNAturan Masa Aturan Bayi yangbaru lahir tidak dapat di jamin
sebelum di lakukan Pendaftaraan
Rp.25.500,-) sudah terjangkau?”. Untuk pertanyaan nomor 14, didapatkan skor rata-rata sebesar 2,31 atau berada pada kategori rendah. Tarif yang ditetapkan untuk pembayaran iuran masih belum terjangkau dan dianggap tidak sesuai kondisi ekonomi masyarakat. Besaran iuran tersebut antara lain untuk kelas I sebesar Rp. 25.500,00; kelas II sebesar Rp. 42.500,00; dan kelas III sebesar Rp 59.500,00.
Kemudian pada item nomor 15 dengan pertanyaan yang diberikan kepada responden yaitu “Apakah anda setuju dengan aturan mengenai pendaftar baru Kartu JKN (Peserta Mandiri) hanya bisa digunakan setelah 7 hari dari hari pendaftaraan?”. Untuk pertanyaan pada item nomor 15, didapatkan skor sebesar 1,96 atau berada pada kategori rendah. Aturan ini banyak disayangkan oleh masyarakat, karena jika ada anggota keluarga mereka yang sakit sebelum 7 hari setelah pendaftaran, maka mereka tidak bisa menggunakan kartu JKN ini untuk pelayanan kesehatan. Idealnya setelah kartu dicetak maka kartu tersebut bisa digunakan untuk memperoleh pelayanan kesehatan di semua Fasilitas Kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan.
Hal yang sama juga terjadi pada item nomor 16 dengan pertanyaan yang diberikan kepada responden yaitu “Apakah anda setuju dengan aturan mengenai bayi yang lahir dari peserta mandiri tidak dapat dijamin oleh BPJS Kesehatan sebelum dilakukan pendaftaraan terlebih dahulu?”. Pertanyaan pada item nomor 16, didapatkan skor sebesar 2,06 atau berada pada kategori rendah. Tanggapan responden atas aturan mengenai bayi yang baru lahir tidak
dapat dijamin kesehatannya sebelum didaftarkan terlebih dahulu ke BPJS Kesehatan sebagian besar tidak setuju, karena ketika ada keluarga yang melahirkan tidak semua orang langsung mendaftarkan bayinya ke BPJS Kesehatan. Apalagi jika masyarakat yang tinggal di daerah pinggiran yang jaraknya jauh dari Kantor BPJS Kesehatan.
d)Fasilitas
Fasilitas fisik juga merupakan faktor penting dalam implementasi kebijakan. Implementor mungkin memiliki staf yang mencukupi, mengerti apa yang harus dilakukannya, dan memiliki wewenang untuk melaksanakan tugasnya, tetapi tanpa ada fasilitas pendukung (sarana dan prasarana) maka implementasi kebijakan tersebut tidak akan berhasil. Untuk mengukur sub indikator fasilitas peneliti mengajukan tiga item pertanyaan kepada responden yaitu : (1) Keadaan fasilitas di Kantor BPJS Kesehatan; (2) Keadaan Fasilitas pendukung di Kantor BPJS Kesehatan; (3) Penambahan lokasi pelayanan pendaftaraan Program JKN. Tanggapan responden mengenai sub indikator fasilitas secara jelas dapat dilihat pada diagram 4.13 berikut:
Diagram 4.13 Sub Indikator Fasilitas
Sumber: Hasil Penelitian Lapangan, 2015 (Item No. 17, 18 dan 19).
Berdasarkan diagram di atas menunjukan bahwa skor jawaban responden untuk sub indikator fasilitas skor rata-ratanya sebesar 1,86, dan apabila dikonsultasikan dengan skala penafsiran skor rata-rata jawaban responden, angka sebesar itu berada pada rentang 1,76-2,51 atau berada pada kategori rendah.
Pada item nomor 17 dengan pertanyaan yang diberikan kepada responden yaitu “Dalam penilaian anda, bagaimana dengan fasilitas yang diberikan oleh BPJS Kesehatan Kabupaten Lebak dalam melayani masyarakat?” Untuk pertanyaan pada item pertanyaan nomor 17, didapatkan skor rata-rata sebesar 1,90 atau berada pada kategori rendah. Hal ini ditunjukan dengan kondisi ruang tunggu yang sempit, minimnya petunjuk bagan/alur pelayanan, lahan parkir yang sempit serta tidak ada fasilitas kamar mandi bagi calon Peserta Program JKN.
Rendah 1,90 Rendah 2,04 Sangat Rendah 1,64 Rendah 1,86 1,60 1,65 1,70 1,75 1,80 1,85 1,90 1,95 2,00 2,05 2,10 Fasilitas Kantor BPJS KetersediaanFasilitas pendukung Lokasi (unit) Pelayanan Pendaftaran tambahan Rata-rata
Kemudian pada item nomor 18 dengan pertanyaan yang diberikan kepada responden yaitu “Menurut anda, perlukah diadakan fasilitas pendukung lain di Kantor BPJS Kesehatan Kabupaten Lebak dalam melayani masyarakat?” Untuk pertanyaan pada item nomor 18, didapatkan skor rata-rata sebesar 2,04 atau berada pada kategori rendah. Fasilitas pendukung yang masih kurang di Kantor BPJS Kesehatan Kabupaten Lebak antara lain belum tersedianya televisi, ruangan pelayanan tanpa AC dan lain sebagainya.
Sedangkan pada item nomor 19 dengan pertanyaan yang diberikan kepada responden yaitu “Menurut anda, perlukah BPJS Kesehatan Kabupaten Lebak Lebak menambah lokasi pelayanan pendaftaraan kepesertaan Program JKN di Kab.Lebak?”. Untuk pertanyaan pada item nomor 19, didapatkan skor rata-rata sebesar 1,64 atau berada pada kategori rendah. Antrian masyarakat yang sering terjadi dalam pelayanan pendaftaran Peserta JKN di Kantor BPJS Kesehatan Kabupaten Lebak merupakan gambaran bahwa satu kantor saja tidak cukup untuk melayani masyarakat. Oleh karena itu ketersediaan unit pelayanan pendaftaran tambahan sangat dibutuhkan guna mengoptimalkan program JKN ini. Selain itu dengan kondisi wilayah Kabupaten Lebak yang luas sangat diperlukan penambahan lokasi pelayanan pendaftaraan Program JKN agar masyarakat yang ada dipelosok dipermudah untuk mendaftar diri sehingga masyarakat tidak terhambat oleh jauhnya lokasi pendaftaraan. Satu-satunya lokasi pelayanan pendaftaraan yang ada di Kota Rangkasbitung menghambat keikutseraan masyarakat yang jauh dari lokasi pendaftaraan.