• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi Eksisting Kopi Arabika pada Tiga Ketinggian Tempat

Dalam dokumen PROGRAM DOKTOR ILMU PERTANIAN (Halaman 60-66)

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Kondisi Eksisting Kopi Arabika pada Tiga Ketinggian Tempat

Keragaan budidaya kopi Arabika di Kabupaten Humbang Hasundutan pada tiga zona ketinggian cukup bervariasi, terutama dalam hal teknis agronomis seperti penggunaan naungan, jarak tanam, pemangkasan, pemupukan dan pengendalian organisme pengganggu (Tabel 2 dan 3).

Dari segi varietas yang ditanam, pada semua lokasi penelitian petani menanam kopi arabika varietas kopi ateng/sigarar utang yang telah memasuki umur produksi awal, 4-7 tahun. Kopi ini merupakan jenis kopi arabika yang tumbuh subur didaerah pegunungan dengan ketinggian 700 - 1700 m dpl . Kopi jenis ini memang sangat cocok ditanami di daerah beriklim dingin seperti di Humbang Hasundutan. Tanaman kopi Sigarar utang mempunyai perawakan semi katai, ruas cabang pendek, tajuk rimbun menutup seluruh permukaan pohon sehingga batang pokok tidak tampak dari luar. Sifat percabangan sekunder sangat aktif bahkan cabang primer di atas permukaan tanah membentuk kipas berjuntai menyentuh tanah.

Daun tua berwarna hijau tua, daun muda (flush) berwarna coklat kemerahan. Apabila ditanam tanpa naungan tepi daun bergelombang dan helaian daun mengatup ke atas, jika dilihat sepintas bentuk daun panjang meruncing dan tepi daun bergelombang. Buah muda berwarna hijau sedangkan buah masak berwarna merah cerah, bentuk buah bulat memanjang berukuran besar dan 100 buah masak (merah ) rata – rata 196 gr. Potensi Produksi berkisar antara 800 –

2300 kg biji/ha. Kopi varietas Sigarar utang agak rentan terhadap penyakit karat daun, terutama jika ditanam pada ketinggian kurang dari 1000 mdpl, juga rentan terhadap nematoda parasit.

50 Tabel 2. Kondisi eksisting budidaya kopi arabika di 3 zona ketinggian

Karakteristik

1200-1300 1300-1400 1300-1400 1400-1500 1400-1500 Tanpa Naungan Naungan Tanpa

Naungan Naungan

Tabel 3. Kondisi eksisting budidaya kopi arabika di 3 zona ketinggian

Karakteristik

1200-1300 1300-1400 1300-1400 1400-1500 1400-1500 Tanpa Naungan Naungan Tanpa

Naungan Naungan

Pengendalian HPT Hypotan Hypotan

Perangkap Broka (Kelompok Binaan PT)

52 Jarak tanam yang diterapkan petani tidak sama satu sama lain, bahkan di zona ketinggian 1.300 – 1.400 m dpl yang tidak menerapkan tanaman penaung, jarak tanam cenderung tidak teratur (1x1, 2x3, 2.5 x 2.5). Jarak tanam ini mungkin merupakan salah satu cara petani menerapkan adaptasi bagi tanaman yang tidak ternaungi, karena dengan jarak tanam seperti ini kerpatan tanaman cenderung lebih rapat, sehingga antar kanopi saling berdekatan satu sama lain sehingga berpengaruh terhadap iklim mikro di sekitarnya.

Penerapan tanaman penaung tidak merata dilakukan petani. Pada ketiga zona, memang terdapat tanaman penaung, namun persentase tanaman kopi yang dinaungi jauh lebih sedikit dibandingkan tanaman yang tidak dinaungi. Jarak tanam tanaman penaung sekitar 3-4 kali jarak tanam kopi. Namun demikian, yang lebih dominan diterapkan adalah 4 x 4 m dan 5 x 5 meter. Artinya, dalam 1 blok tanaman naungan, terdapat 8 – 12 tanaman kopi.

Kondisi ini lebih disebabkan sistem pertanian yang dipengaruhi oleh budaya atau kebiasaan turun temurun dari petani generasi sebelumnya. Petani yang sudah berpengalaman (generasi tua) beranggapan kondisi lingkungan terutama dari segi suhu udara masih memungkinkan tanaman kopi tumbuh dan berproduksi dengan baik. sebaliknya pada pertanaman kopi arabika yang diterapkan tanaman penaung, umumnya tanaman ini berusia panen awal (< 10 tahun). Jenis tanaman penaung yang digunakan pada zona ketinggian 1.200 – 1300 m dpl adalah Dadap, Asan,dan Suren, sedangkan pada zona ketinggian 1.300 – 1.400 m dpl pohon penaung yang digunakan lebih beragam, yaitu Dadap, Suren, Mahoni, Alpukat dan Jambu Biji. Pada zona ketinggian 1.400-1.500 m dpl, pohon penaung yang

digunakan petani adalah Suren. Penggunaan Dadap dan Asan sebagai pohon penaung cukup tepat, karena kedua jenis tanaman ini termasuk dalam golongan pohon cepat tumbuh dan termasuk dalam genus Fabaceae (leguminosae), tidak mempunyai efek negatif terhadap persaingan dalam menggunakan unsur hara dengan tanaman kopi. Sedangkan tanaman penaung berupa Mahoni dan Suren, walaupun juga memiliki kecenderungan tidak bersifat kompetitif, namun mempunyai karakteristik pertumbuhan yang lambat dan akan menganggu tanaman kopi ketika sudah memasuki masa produksi, karena merupakan jenis tanaman untuk bahan bangunan, dan tidak bias dipangkas. Sedangkan naungan jenis Alpukat dan Jambu Biji digunakan petani lebih disebabkan untuk tujuan konsumsi atau penyediaan sumber buah untuk keluarga. Namun demikian terdapat potensi persaingan hara terhadap kopi, karena merupakan tanaman budidaya.

Pengamatan yang dilakukan di pertanaman kopi masyarakat di Kabupaten Humbang Hasundutan, praktik pemangkasan sebagai teknik agronomis standard dan penting dalam budidaya kopi tidak dilakukan dengan baik oleh petani. Sistem pemangkasan yang dilakukan petani yaitu hanya pada bagian tanaman yang mati, sedangkan bagian cabang dan ranting yang masih hidup dibiarkan. Intensitas pemangkasan pun dilakukan terbatas dan tidak teratur, antara 1 – 2 tahun sekali.

Organisme pengganggu tanaman utama kopi yang menyerang adalah hama penggerek buah kopi. Upaya pengendalian yang dilakukan petani adalah dengan menerapkan sistem pengendalian mekanis dan kimiawi, yaitu menggunakan atraktan yang prinsip kerjanya adalah memikat penciuman serangga. Atraktan ini

54 ditempatkan pada alat perangkap hama broka yang terbuat dari botol plastik dan digantung di pohon kopi.

Pengelolaan nutrisi tanaman untuk menghasilkan pertumbuhan dan produksi tanaman yang optimal selalu dilakukan melalui pemupukan. Dalam budidaya kopi sumber pupuk diberikan dalam bentuk pupuk anorganik dan organic. Praktik pemupukan yang dilakukan oleh petani di Kabupaten Humbang Hasundutan tampaknya belum dilakukan secara baik. Hasil pengamatan lapangan yang dilakukan, di semua zona ketinggian tidak terdapat keseragaman jenis, dosis dan cara pemberian pupuk (Tabel 3). Praktek pemupukan yang dilakukan petani seperti kebanyakan petani lainnya, yaitu Urea, NPK, dengan total dosis 100-150 kg/ha, diberikan 1-2 kali setahun dengan memasukkan pupuk ke lubang yang disiapkan di sekitar tanaman (semacam piringan pada kelapa sawit), ataupun disebar di atas tanah. Penggunaan pupuk organik juga diberikan dalam bentuk pupuk kandang babi dan pupuk kompos ampas kopi dengan dosis yang tidak terinci. Penerapan teknik pemupukan seperti ini tentu menyebabkan produksi kopi tidak maksimal, karena masih jauh dari dosis anjuran untuk pemupukan kopi.

Secara umum, praktek budidaya kopi Arabika di Kabupaten Humbang Hasundutan masih dilakukan secara tradisional, karena terbatasnya pengetahuan petani tentang teknologi budidaya yang baik.

5.2. Hubungan Sifat Kimia Tanah dengan Ketinggian Tempat di Atas

Dalam dokumen PROGRAM DOKTOR ILMU PERTANIAN (Halaman 60-66)