• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi Eksisting Pengelolaan Persampahan

B. Pembangunan Prasarana Air Limbah Terpusat (off-site)

7.4.3 Kondisi Eksisting Pengelolaan Persampahan

Sampah masih menjadi permasalahan lingkungan yang cukup serius yang masih dihadapi Pemerintah Kota Bandar Lampung. Rata-rata tiap orang per hari menghasilkan sampah 1 – 2 kg, dan akan terus meningkat sejalan dengan meningkatnya kesejahteraan dan gaya hidup masyarakat. Di lain pihak penanganan sampah yang masih dilakukan secara

321

Sistem pengangkutan sampah dibagi menjadi 2 (dua) sistem yaitu:

1. Pengelolaan pada tiap kelurahan (SOKLI) yang dilayani dengan

gerobak dorong, kemudian mengumpulkannya pada tempat

penampungan sementara. Organisasi SOKLI mengelola sampah

domestik non jalan protokol pada masing-masing kelurahan.

2. Sistem pengelolaan pada jalan protokol di Kota Bandar Lampung yang dilayani dengan mobil pengangkut sampah dibawah manajemen Dinas Kebersihan Kota Bandar Lampung. Dinas Kebersihan mengelola sampah domestik dan non domestik pada jalan protokol dan mengangkut sampah SOKLI dari tempat pembuangan sampah sementara

Pada pelaksanaannya, pengelolaan sampah masih menghadapi kendala diantaranya masih terdapat beberapa kelurahan yang belum memiliki organisasi SOKLI dan/atau organisasi yang terbentuk belum aktif atau belum rutin dalam melakukan tugasnya., sehingga pada sebagian kelurahan akan terjadi penumpukan sampah dan bukan tidak mungkin masyarakat membuang sampah pada sistem drainase yang ada baik drainase alam maupun drainase buatan.

Lokasi TPA Kota Bandar Lampung berada di Lembah Bakung dengan luas 10 ha dan kedalaman 15 meter, tetapi sampai saat ini karena perkembangan kota yang pesat TPA tersebut sudah tidak memadai.

Hal ini dikarenakan lokasi di sekitar TPA sudah penuh. Dengan permukiman penduduk disamping itu karena sistem sanitary land fill tidak dapat diterapkan karena memerlukan timbunan tanah yang terlalu besar

Tabel 7.29Teknis Operasional Pelayanan Persampahan Saat Ini

No. Uraian Volume Keterangan

1 Cakupan Pelayanan 2.096.142m3/hari 68 % pelayanan

2 Perkiraan Timbulan Sampah 3.082.562m3/hari

3 Timbulan Sampah yang Terangkut

Permukiman 2.258.288 m3/hari 73,26 %

Non Permukiman 824.275m3/hari 26,74 %

Total 3.082.562m3/hari

4 Kapasitas Pelayanan TPA 2.258.285m3/hari 73,26 %

Sumber : Dokumen Masterplan Persampahan Kota Bandar Lampung, 2011

Sistem pengelolaan persampahan di Kota Bandar Lampung saat ini dilakukan oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Bandar Lampung, dengan tingkat pelayanan sebagai berikut:

1. Teknik operasional pengelolaan persampahan dengan cakupan

pelayanan atau tingkat pelayanan 68 % atau 614.254 jiwa

2. Daerah pelayanan pengelolaan persampahan Kota Bandar Lampung meliputi: daerah permukiman, perdagangan/komersial, perkantoran, pasar, terminal, taman dan jalan protokol

3. Prasarana dan sarana pengumpulan, pengangkutan dan

323

Tabel 7.30 Kondisi Eksisting Pengembangan Persampahan Kota Bandar Lampung

Sistem Pengelolaan/Sub

Sistem

Prasarana dan

Sarana Volume Satuan

Kapasitas Per Unit

Lokasi

Layanan Keterangan

Dikelola oleh Masyarakat

Pewadahan Kantong plastik

Tidak tercatat Kota Bandar Lampung

Disiapkan secara swadaya

Ember Tidak tercatat Disiapkan

secara swadaya

Bak Tidak tercatat Disiapkan

secara swadaya

Pengumpulan Sapu Tidak tercatat Kota Bandar

Lampung Disiapkan secara swadaya Penampungan Sementara Transfer Depo - - - - -Container - - - -

-Pengangkutan Dump Truck - - - -

-Armroll Truck - - - -

-Pengolahan Pengomposan - - - -

-Daur Ulang - - - -

-Dikelola oleh Pemerintah

Pewadahan Bin plastik 140 Unit - 13 Kecamatan Disiapkan Pemda Pengumpulan Gerobak

dorong 2 m3

40 unit 2 m3 13 Kecamatan Disiapkan Pemda Penampungan

Sementara

Transfer Depo - - - -

-Container 15 Unit 5 m3 13 Kecamatan Disiapkan Pemda Pengangkutan Dump Truck 26 Unit 6 m3 13 Kecamatan Disiapkan

Pemda Armroll Truck 2 Unit - 13 Kecamatan Disiapkan

Pemda

Pengolahan Pengomposan 81 Unit - -

-Daur Ulang - -

-Pengelolaan Akhir TPA 3 Lokasi 752.763 m3 13 Kecamatan TPA Ketapang (2,5 ha), TPA Sukadana Ham (2 ha), TPA Bakung (14 ha) Bulldozer 1 Unit - 13 Kecamatan Beroperasi Wheel Loader 1 Unit - 13 Kecamatan Beroperasi Excavator 1 Unit - 13 Kecamatan Beroperasi Pengendalian Pencemaran di TPA Lapisan Kedap Air - - - - Teknis Operasional Open Dumping Perpipaan Pengumpul Lindi - - - -Instalasi Pengolahan Lindi - - - -Buffer Zone - - - -Pipa Gas Metan - - - -Sumur Monitoring - - - -Drainase Air - - -

-Sistem Pengelolaan/Sub

Sistem

Prasarana dan

Sarana Volume Satuan

Kapasitas Per Unit Lokasi Layanan Keterangan Hujan Sarana Penunjang TPA Jalan Masuk - - - -Kantor - - - -Pos Jaga - - - -Bengkel, Garasi, Cuci Kendaraan - - - -Jembatan Timbang - - -

-Dikelola oleh Swasta

Pewadahan - - - - - -Pengumpulan - - - - - -Penampungan Sementara - - - - - -- - - - - -Pengangkutan - - - - - -Pengolahan - - - - -

-Sumber : Dokumen Masterplan Persampahan Kota Bandar Lampung, 2015

Aspek Pendanaan

Dalam penanganan masalah persampahan di Kota Bandar Lampung, pemerintah daerah telah mengalokasikan anggaran melalui APBD Kota Bandar Lampung yang dalam pengelolaannya dilakukan oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Bandar Lampung.

Struktur biaya operasional bidang persampahan di Kota Bandar Lampung meliputi :

1. Biaya operasional pengumpulan dan pengangkutan 2. Biaya pengangkutan dari TPS ke TPA.

3. Pembuangan akhir.

Pendapatan daerah dari sektor persampahan antara lain dari penerimaan retribusi dari masyarakat. Masyarakat yang tinggal di Kota

325

tersebut masih belum mampu membiayai total biaya operasional pengelolaan persampahan Kota Bandar Lampung.

Kemampuan daerah dalam membiayai operasional pengelolaan persampahan di Kota Bandar Lampung masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari kondisi sarana dan prasarana persampahan yang ada saat ini. Banyaknya sarana persampahan seperti Dump Truck, Truck Kontainer, gerobak sampah yang rusak dan pengelolaan TPA yang ada membutuhkan pendanaan yang cukup besar dalam pengelolaan persampahan di Kota Bandar Lampung. Untuk itu perlu adanya sharing dana baik dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan pemerintah kota Bandar Lampung sendiri.

Aspek Kelembagaan Pelayanan Persampahan

Secara struktural, instansi yang menangani masalah pengelolaan persampahan di Kota Bandar Lampung adalah Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Bandar Lampung. Kedudukan, tugas pokok dan fungsi Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Bandar Lampung diatur dalam Peraturan Daerah yaitu Peraturan Walikota Bandar Lampung No. 14 tahun 2008. Tugas pokok dan fungsi Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Bandar Lampung yaitu :

1. Tugas pokok

Tugas pokok Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Bandar Lampung adalah melaksanakan kewenangan pemerintah daerah kota dibidang pemeliharaan kebersihan dan keindahan.

2. Fungsi

Fungsi Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Bandar Lampung dibidang pengeloaan persampahan Kota Bandar Lampung antara lain:

a. Mengkoordinasikan pelaksanaan kebersihan SOKLI (Satuan Operasi Kebersihan Lingkungan) serta menetapkan biaya swadaya kebersiahan lingkungan dan penggunaannya.

b. Penyediaan sarana angkutan sampah, TPA dengan IPLT.

c. Menyelenggarakan sistem penanggulangan sampah, meliputi

kegiatan pengumpulan, pengangkutan, pemusnahan atau

pengelohan serta pemanfaatannya.

d. Memberikan bimbingan dan penyuluhan kepada masyarakat serta menyelenggarakan usaha – usaha sehingga masyarakat dapat aktif berpartisipasi dan berswadaya dalam memelihara dan menjaga kebersihan dan keindahan kota.

e. Melakukan pengamatan terhadap pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh sampah dan air limbah.

f. Menyelenggarakan segala pungutan retribusi yang berkaitan dengan kebersihan dan keindahan kota.

g. Mengawasi ketertiban masyarakat dalam melaksanakan peraturan kebersihan dan keindahan kota.

h. Berkerjasama dengan instansi lain dalam menanggulangi bahaya pencemaran lingkungan akibat sampah, air limbah, gas atau uap. i. Penanggung jawab dan koordinasi kebersihan pasar, pertamanan,

serta lingkungan sarana umum lainnya.

Untuk melaksanakan Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Bandar Lampung diatas dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas. Dalam pengelolaan persampahan Kota Bandar lampung saat ini didukung oleh 533 personel terdiri dari 51 orang PNS dan 489 PHL / Lapangan. Jumlah personel dan sumber daya manusia yang dimiliki Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Bandar Lampung saat ini

327

Tabel 7.31Jumlah Personil dan Sumberdaya Manusia Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Bandar Lampung

No Bidang Tugas PNS PHL Jumlah

1. Petugas Operator Komputer 2 11 13

2. Petugas Jaga Malam 1 12 13

3. Petugas Staff 16 16 32

4. Operator Bulldozer 2 11 13

5. Supir 11 21 32

6. Kenek 21 35 56

7. Petugas Sapu Jalan Protokol (18 Rayon)

15 158 173

8. Pramu Pangkas/Tebang 7 2 9

9. Pramu Taman 21 14 35

10. Pramu hutan kota - 3 3

11. Pramu Pembibitan 6 14 20

12. Tekinsi Lampu 5 12 17

13. Petugas TPA 2 13 15

14. Petugas UPT/Pengawasan 12 11 23

15. Petugas Bengkel 2 1 3

16. Petugas Penagihan Retribusi sampah

7 17 24

17. Petugas Tinja 5 3 8

Jumlah 51 489 533

Sumber: Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Bandar Lampung, 2011

Selain melaksanakan tugas pokok dan fungsinya, Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Bandar Lampung juga melakukan koordinasi dengan dinas/instansi yang juga menangani masalah kebersihan di kota Bandar Lampung, yaitu:

1. Dinas Pasar Kota Bandar Lampung

Dinas Pasar Kota Bandar Lampung merupakan penanggung jawab kebersihan dan ketertiban di wilayah lokasi pasar, baik pasar Inpres maupun pasar non Inpres. Pasar – pasar yang dikelola oleh Dinas Pasar Kota Bandar Lampung antara lain pasar Way Halim, pasar Koga, pasar Tugu, pasar Bawah, pasar Pasir Gintung pasar Baru, pasar Tamin, pasar

Kangkung/Kliwon, pasar Gudang Lelang, pasar Panjang, pasar Tani, pasar Bambu Kuning dan pasar Cimeng.

2. Dinas Bina Marga dan Permukiman Kota Bandar Lampung

Dinas Bina Marga dan Permukiman Kota Bandar Lampung merupakan penanggung jawab kebersihan dan ketertiban di sungai – sungai, anak sungai, siring dan parit – parit dalam wilayah kota Bandar Lampung. 3. Kecamatan/Camat.

Camat bertanggung jawab dibidang kebersihan, keindahan dan ketertiban di wilayah kecamatan disamping sebagai koordinator kebersihan, ketertiban dan keindahan di kelurahan – kelurahan dalam wilayah kerjanya.

4. Kelurahan/Lurah.

Lurah bertanggung jawab dibidang kebersihan, keindahan dan ketertiban di wilayah kelurahan masing – masing disamping sebagai pengawas sekaligus mengkoordinir wilayah dilingkungan permukiman. Struktur pengelolaan sampah padat di Kota Bandar Lampung saat ini dijelaskan dalam gambar berikut.

329

Gambar 7.6 Struktur pengelolaan sampah padat di Kota Bandar Lampung

Gambar 7.5Struktur Organisasi Pengelolaan Sampah Kota Bandar Lampung

Aspek Peraturan Perundangan

Perangkat hukum dibidang pengelolaan sampah yang ada di Kota Bandar Lampung saat ini adalah sebagai berikut:

1. Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung Nomor 8 Tahun 2000

tentang Pembinaan Umum, Ketertiban, Keamanan, Kebersihan, Kesehatan dalam wilayah Kota Bandar Lampung.

2. Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung Nomor 7 Tahun 2008

organisasi dan Tata Kerja Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Ba ndar Lampung.

3. Peraturan

Daerah Kota Bandar Lampung Nomor 5 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Umum.

4. Peraturan Walikota Bandar Lampung Nomor 18 Tahun 2011 tentang

Pembentukan organisasi dan tata kerja Unit Pelaksana Teknis (UPT) pemeliharaan sungai, drainase dan embung pada Dinas Pekerjaan Umum Kota Bandar Lampung.

Untuk mengatur pelaksanaan pengelolaan bidang persampahan di Kota Bandar Lampung, perlu adanya perangkat peraturan dan kebijakan – kebijakan antara lain Peraturan Daerah (provinsi dan kota). Peraturan dan kebijakan yang mengatur penanganan pengelolaan persampahan di Kota Bandar Lampung antara lain :

1. Keputusan Walikota No. 19 tahun 2001 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Bandar Lampung. 2. Peraturan Walikota No. 14 tahun 2008 tentang Tugas, Fungsi dan Tata

Kerja Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Bandar Lampung.

3. Keputusan Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Bandar Lampung No. 64/DK/HK/1996 yang mengatur masalah kebersihan pada tempat – tempat keramaian umum.

4. Keputusan Walikota Bandar Lampung No. 43 tahun 2001 tentang Pembentukan Satuan Operasional Kebersihan Lingkungan (SOKLI) ditiap Kelurahan di Kota Bandar Lampung.

Aspek Peran Serta Masyarakat

331

Kota Bandar Lampung. Salah satu upaya pemerintah kota Bandar Lampung dalam mendorong partisipasi aktif masyarakat adalah dengan

melakukan penyuluhan, pembinaan dan pendataan mengenai

kebersihan khususnya untuk lokasi-lokasi pada jalan-jalan protokol, daerah pertokoan, terminal-terminal, pelabuhan, stadion dan tempat-tempat keramaian umum lainnya.

Secara umum sikap dan kesadaran masyarakat kota Bandar Lampung dalam bidang persampahan sudah cukup tinggi. Masyarakat secara swadaya dan sukarela membayar iuran retribusi kebersihan dan SOKLI. Selain itu, mulai tumbuhnya kesadaran dari masyarakat dalam mematuhi aturan yang ditetapkan oleh pemerintah daerah dalam pengelolaan persampahan. Sebagian masyarakat telah melakukan pengelolaan sampah rumah tangga secara swadaya. Pengelolaan sampah rumah tangga dilakukan dengan cara memisahkan sampah sesuai dengan jenisnya kemudian memusnahkannya dengan cara dibakar. Untuk jenis sampah anorganik dan logam dilakukan daur ulang. Sebagian masyarakat juga telah dengan tertib melakukan pengelolaan sampah rumah tangga melalui SOKLI yang diselenggarakan di tiap-tiap kelurahan.

Permasalahan dan Tantangan Pengembangan Persampahan

Sasaran Penyediaan Prasarana dan Sarana Pengelolaan Sampah

Sasaran yang dicapai dalam rangka pengembangan pengelolaan persampahan Kota Bandar Lampung adalah:

1. Meningkatkan sistem organisasi dan manajemen

 Menjajagi dan menciptakan lembaga-lembaga pengelola yang

 Menggalakkan secara terus menerus melalui lembaga-lembaga kemasyarakatan akan kesadaran dan disiplin terhadap kebersihan 2. Meningkatkan kuantitas dan kualitas pelayanan

 Pengembangan pelayanan persampahan dengan pendekatan

“Sampah Hari Ini Diangkut Hari Ini”.

 Mengoptimalkan pemanfaatan prasarana yang ada saat ini karena

terdapat idle kapasitas khususnya armada pengangkutan

 Menerapkan pola pengelolaan sampah dengan mengurangi atau

memusnahkan dari sumbernya.

 Menerapkan pengelolaan system sanitary landfill di TPA sampah

3. Meningkatkan pembiayaan dan restribusi

Restribusi perlu diefektifkan agar dapat menutup minimal 50 % dari biaya O & P. Besar restribusi yang layak ditarik dari masyarakat setiap rumah tangga adalah sebesar 1 % dari penghasilan per rumah tangga.

Agar dapat mencapai kondisi Selft Financing (mampu membiayai

sendiri), maka perhitungan besarnya restribusi dilakukan dengan cara klasifikasi dan prinsip ”subsidi silang”

4. Meningkatkan aspek peran serta masyarakat

 Memberikan penjelasan dan pendekatan persuasif kepada

masyarakat dan Lembaga Swadaya Masyarakat tentang peran, fungsi dan arti pentingnya kebersihan di Kota Bandar Lampung

 Melakukan penyuluhan dan pembinaan kepada pemulung agar

kegiatan mereka tidak menimbulkan gangguan terhadap kinerja pengelolaan sampah serta tidak menimbulkan pencemaran baru di sekitar lokasi TPA

 Memanfaatkan sampah sebagai barang yang bernilai ekonomis

333

Permasalahan persampahan Kota Bandar Lampung masih

membutuhkan penanganan serius. Semakin meningkatnya jumlah timbulan sampah per hari dan kondisi sarana dan prasarana persampahan yang ada saat ini memerlukan perhatian dari semua pihak baik pemerintah kota maupun masyarakat kota Bandar Lampung sendiri. Selain itu, kondisi TPA Bakung saat ini tidak dapat lagi beroperasi secara optimal juga membutuhkan penanganan dan perlu adanya alternatif TPA baru. Secara garis besar, permasalahan sampah Kota Bandar Lampung sebagai berikut:

1. Sulit mendapatkan lahan untuk dijadikan Tempat Pembuangan Sementara (TPS)

2. Kekurangan armada angkut

3. Pengelolaan sampah di TPA masih dilakukan dengan cara open

dumping dan pembakaran. Hal ini tidak memenuhi persyaratan

pengelolaan sampah di TPA

4. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang ada saat ini diperkirakan tidak akan mampu lagi menampung sampah kota Bandar Lampung.

Analisis Permasalahan

Pelayanan persampahan di Kota Bandar Lampung belum

menjangkau seluruh kelurahan yang ada di Kota Bandar

Lampung.Keterbatasan pelayanan ini tidak lepas dari dukungan sarana angkutan sampah dan tenaga operasionalnya. Kendaraan sampah yang operasional saat ini rata-rata sudah banyak mengalami kerusakan karena rata-rata buatan tahun 1990-an.

Kebutuhan angkutan sampah sangat mendesak sehingga perlu

dukungan penambahan armada sampah, truck sampah jenis arm roll

dipandang lebih efisien dan efektif karena bak kontainer dapat ditinggal di kawasan tertentu, seperti permukiman padat penduduk, pasar dll dan

warga masyarakat/ pengguna dapat langsung membuang sampah ke dalam bak kontainer. Satu truck arm roll dapat melayani 2 – 4 kali angkut tergantung jarak tempuh dan ketersediaan BBM ke TPA.

Lingkungan perumahan dan permukiman yang tidak dapat dilayani armada truk sampah dapat mempergunakan kendaraan yang lebih kecil

seperti: mobilpick up, sepeda motor dan gerobak sampah.

Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan persampahan perlu ditingkatkan dengan sosialisasi secara berkala untuk mengembangkan pola penanganan sampah, pengelolaan sampah rumah tangga dengan

produksi sampah sekecil mungkin bahkan kalau mungkinzero wasteseperti

yang telah diterapkan di kota-kota maju dengan negara tetangga

dengan polareduce dengan menggunakan barang-barang yang mudah

terurai (ramah lingkungan) dan sekecil mungkin berasal dari plastik. Pola penanganan sampah dengan 3R, yaitu:

1. Daur Ulang (Recycle)

Daur ulang adalahupaya pemanfaatan limbah melalui pengolahan fisik atau kimia, untuk menghasilkan produk yang sama atau produk yang lain, contoh:

- Sampah organik diolah menjadi kompos, pembuatan kompos

dapat dilakukan dengan skala kelompok dan skala rumah tangga;

- Besi bekas diolah kembali menjadi barang-barang dari besi, dapat untuk barang sama maupun barang yang lain.

2. PenggunaanKembali (Reuse)

Penggunaan kembali adalah pemanfaatan limbah dengan jalan menggunakannya kembali untuk keperluan yang sama atau fungsinya sama, tanpa mengalami pengolahan ataupun perubahan bentuk,

335

3. Perolehan kembali (Reduce)

Perolehan kembali adalah upaya pemanfaatan limbah/sampah dengan jalan memprosesnya, untuk memperoleh kembali salah satu atau lebh materi/komponen yang terkandung didalamnya, contoh: sampah karton, plastik, botol minuman kemasan dapat diproses kembali.

Untuk meningkatkan pelayanan persampahan agar timbulan sampah dapat terangkut perlu dilakukan penambahan armada sampah. Armada

angkut sampah yang mendesak, antara lain: truckarm roll, motor sampah

yang mampu melayani sampai ke gang-gang perumahan dan gerobak sampah.

Kondisi TPA Bakung yang hampir penuh dan dekat dengan permukiman padat penduduk perlu didukung lokasi baru TPA skala regional sehingga nantinya tidak menjadi masalah dalam penanganan persampahan di Kota Bandar Lampung dan sekitarnya kedepan.

Alternatif Pemecahan Masalah

Alternatif pemecahan masalah pengelolaan persampahan Kota Bandar Lampung antara lain sebagai berikut:

1. Pewadahan sampah

 Disiapkan secara swadaya, kecuali untuk bangunan dan ruang

publik

 Mudah dioperasikan dan tidak permanen, kecuali untuk bangunan publik dan ruang terbuka

2. Pengumpulan sampah

 Menggunakan peralatan yang memiliki daya jelajah yang cukup tinggi yang disebut motor sampah berupa kendaraan bermotor roda 3 menarik bak sampah beroda 2 dengan kapasitas 1 m3. ritasi 6 rit/hari

3. Pemindahan sampah

 Ditempatkan di pusat timbulan sampah tetapi tidak dekat dengan rumah tinggal atau bangunan dan didesain artistik dan mampu meminimalkan sebaran bau

 Berupa container

4. Pengangkutan sampah

 Sampah harus tertutup selama pengangkutan, minimal ditutup

dengan jarring bila menggunkan truk terbuka

 Menggunakan lebih banyak truk berupa armroll dengan container

dan penggunaan dump truck untuk pelayanandoor to door

5. Pengelolaan sampah

Pengelolaan sampah ditujukan untuk mengurangi sampah dari sumber serta memberikan hasil yang bernilai ekonomis. Untuk itu akan

digunakan pengolahanincinerator, daur ulang dan pengomposan

6. Pembuangan akhir

Metode pembuangan akhir diupayakan adalahsanitary landfill.

Tabel 7.32 Permasalahan Pengelolaan Persampahan Kota Bandar Lampung No Aspek Pengelolaan Persampahan Permasalahan Tindakan Yang Sudah Dilakukan Yang Akan Dilakukan

A Kelembagaan Kurang optimalnya manajemen pengelolaan persampahan Meningkatkan organisasi dan manajemen Menggalakkan secara terus menerus melalui

337 No Aspek Pengelolaan Persampahan Permasalahan Tindakan Yang Sudah Dilakukan Yang Akan Dilakukan akan kesadaran dan disiplin terhadap kebersihan B Pembiayaan Pembiayaan pengelolaan

persampahan sebesar 7,24 % penganggaran APBD masih di bawah standar MDGs 2015 sebesar 20 % Meningkatkan pembiayaan dan retribusi sampah Restribusi perlu diefektifkan agar dapat menutup minimal 50 % dari biaya O & P. C Perundangan Belum berfungsinya secara

efektif perundangan yang sudah ditetapkan dalam pengelolaan

persampahan

Menerapkan pola pengelolaan sampah dengan mengurangi atau memusnahkan dari sumbernya

D Peran Serta Masyarakat Kurangnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan persampahan Sosialisasi dan Kampanye PHBS Memberikan penjelasan dan pendekatan persuasif kepada masyarakat dan LSM tentang peran, fungsi dan arti pentingnya kebersihan Memanfaatkan sampah sebagai barang yang bernilai ekonomis bagi masyarakat E Teknis Operasional

Pewadahan Lingkungan perumahan dan permukiman yang tidak dapat dilayani secara keseluruhan Disiapkan secara swadaya, kecuali untuk bangunan dan ruang publik Mudah dioperasikan dan tidak permanenkecuali untuk bangunan publik dan ruang terbuka

Pengumpulan Tidak terlayani oleh jumlahnya ritasi pengumpulan sampah Menambah armada pengumpulan sampah di tingkat kelurahan Menggunakan peralatan yang memiliki daya jelajah yang cukup tinggi yang disebut motor sampah berupa kendaraan bermotor roda 3

No Aspek Pengelolaan Persampahan Permasalahan Tindakan Yang Sudah Dilakukan Yang Akan Dilakukan menarik bak sampah beroda 2 dengan kapasitas 1 m3. ritasi 6 rit/hari Pemindahan sampah

Polusi atau sebaran bau di lingkungan masyarakat Ditempatkan di pusat timbulan sampah tetapi tidak dekat dengan rumah tinggal atau bangunan Desain artistik dan mampu meminimalkan sebaran bau Pengangkutan sampah

Sampah tidak tertutup selama pengangkutan - Minimal ditutup dengan jaring bila menggunkan truk terbuka Menggunakan lebih banyak truk berupaarmroll dengan container dan penggunaan dump truck untuk pelayanandoor to door Pengelolaan sampah Pengelolaan sampah ditujukan untuk

mengurangi sampah dari sumber serta memberikan hasil yang bernilai

ekonomis Pembangunan TPS Pengolahan incinerator, daur ulang dan pengomposan Pembuangan akhir Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang ada saat ini diperkirakan tidak akan mampu lagi menampung sampah kota Bandar Lampung - Metode pembuangan akhir diupayakan adalahsanitary landfill

339

Tabel 7.34 Standar Pelayanan Minimal Bidang Cipta Karya berdasarkan Permen PU No. 14/PRT/M/2010

Dokumen terkait