ACEH UTARA
A. Faktor Internal
1. Kondisi Sosial Intelektual
Faktor internal dan kepribadian seseorang ternyata mampu merubah
mindset (pola fikir) manusia yang sebelumnya bersifat menerima apa adanya
kepada kemampuan korektif, dalam arti “tidak mudah menerima atau mempercayai sesuatu yang belum dapat dibuktikan akan kebenarannya, baik dari segi psikologi sosial keagamaan maupun secara akal sehat.
Faktor utama yang melatari tumbuhnya pemahaman-pemahaman baru untuk memajukan pendidikan Aceh melalui lembaga-lembaga pendidikan moderen dan terpadu adalah ketertarikan masyarakat untuk mengembangkan pendidikan, sesuai tuntutan zaman. Ada harapan-harapan baru yang lahir dari sikap responsibilitas terhadap realitas perkembangan zaman. Kondisi ini terlahir dari peribadi-peribadi yang telah terlebih dahulu mengecap pendidikan dari dua sisi, yaitu pendidikan agama, dari jalur pendidikan dayah dan madrasah serta pendidikan umum dari jalur sekolah dibawah departemen pendidikan.
Lahirnya peribadi-peribadi pemikir dan pembaruan untuk pengembangan pendidikan masa depan turut dimotori oleh dayah-dayah yang sudah ada sebelumnya termasuk lembaga-lembaga perguruan tinggi yang ada di Aceh, khususnya Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara; Seperti adanya perguruan tinggi Al-Muslim Peusangan, UNIMAL, STAIN Malikussaleh Lhohseumawe dan sejumlah perguruan Tinggi lain yang ada di Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe. Para lulusan tersebut pada kebiasaannya turut andil dalam memberikan motivasi-motivasi atau arahan-arahan untuk menyongsong pendidikan yang lebih relevan dengan tuntutan zaman. Masyarakat diajak untuk berfikir dalam dua dimensi, dunia dan akhirat, sehingga dibutuhkan pendidikan-pendidikan yang setara.
Seiring dengan perkembangan dan tuntutan zaman, secara serta-merta, dikotomi pemikiran yang memisahkan pendidikan agama dan pendidikan umum hampir dapat dikatakan tidak ada di Aceh, atau setidaknya sudah sangat jarang kita dapatkan di Aceh. Masyarakat Aceh saat ini sudah mampu menempatkan pemahaman-pemahaman yang bersifat membatasi urusan-urusan tertentu yang dapat menghambat harapan-harapan pencapaian yang lebih baik, sehingga sekatan-sekatan yang dianggap tidak berkenan tidak lagi menjadi alasan untuk tidak melakukan langkah-langkah tepat dalam memajukan pendidikan. Langkah tepat yang mesti dilakukan adalah, bekerja dan melakukan sesuatu sesuai dengan keahlian masing-masing.
Salah satu bukti bahwa di Aceh sudah tidak lagi ada sekatan-sekatan dalam pemikiran adalah, munculnya pemahaman yang sama dalam memandang pendidikan Aceh ke depan yang harus memenuhi unsur keimanan dan ketak waan, dengan dibarengi pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam hal ini para alumni dayah dan perguruan tinggi telah sepakat dan sepaham dalam memandang bahwa; pendidikan Aceh tidak lagi ada pembatasan antara pendidikan agama-umum. Pendidikan Aceh yang ada saat ini adalah “Semua yang bersifat kebaikan dan bermuara pada memantapkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. adalah pendidikan syari’ah Islam”.
Islam memandang bahwa segala sesuatu yang akan membawa kepada kemaslahatan hidup ummat Islam, sekaligus mendekatkan seseorang kepada
ketakwaan kepada Allah Swt. adalah bagian dari ȋbadāh, yaitu sesuatu yang mendatangkan fahalā disisi-Nya. Pemikiran seperti ini telah muafakat (sepakat) bersama baik dari kalangan pelajar jalur pendidikan dayah atau madrasah maupun pada pelajar dari sekolah dibawah jajaran dinas pendidikan. Jika ditarik kesimpulan bahwa hal ini (pemahaman ini) bisa terjadi karena semua pelajar seperti tersebut di atas, sama-sama telah mengecap pendidikan dasar agama yang diprakarsaia oleh para guru pendidikan dasar, baik jalur formal, maupun non formal.
Mereka pada rata-rata memiliki kesepahaman yang sama dalam memandang kebutuhan dan dimensi pendidikan Aceh pada khususnya dan umat Islam pada umumnya. Hal ini pula yang dirasakan oleh para tokoh pendidikan yang ada di lingkaran Dayah Modern Yayasan Pendidikan Arun. Maka setidaknya ada tiga harapan yang ingin dicapai dari pendidikan Dayah Modern Arun yaitu:
1) meningkatkan ākidah dan moralitas generasi masa depan; 2) mengembangkan
pengamalan syariat Islam yang lebih baik di masa yang akan datang dan yang ketiga; 3) Untuk mendukung pemerintah dalam program penerapan syariat Islam
di Propinsi Aceh160.
Guna mewujudkan harapan-harapan dan cita-cita tersebut di atas, maka semua yang berkenaan langsung dengan pendidikan Arun telah bersepakat untuk memberikan support terkait pola dan kebutuhan pendidikan Aceh pada masa datang, terkhusus pada dayah Modern Arun. Gagasan tersebut turut didukung oleh banyak kalangan dari dalam, yaitu para wali santri dari karyawan Arun. Inilah yang mengantarkan para tokoh pendidikan Arun yang kemudian bergabung dengan para tokoh lainnya di Aceh untuk mewujudkan pendirian dayah modern Arun, dengan segala pasilitas pendukungnya. Untuk itu para pemeran pendidikan secara serta-merta melakukan usaha-usaha daan persiapan-persiapan yang memadai dalam mendukung pendidikan yang tepat guna, dan tepat sasaran.
Secara tersirat dalam alquran surat al-A’raf ayat 35, disebutkan;
160 .Profil Dayah Modern Yayasan Pendidikan Arun (DAMORA). Lhokseumawe Tahun 2013/2015.
ُ
ُ
ُ
ُ
ُ
ُ
ُ
ُ
ُ
ُ
ُ
ُ
ُ
ُ
ُ
ُ
ُ
ُ
ُ
ُُArtinya: Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul dari pada kamu
yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, Maka barang siapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Q.S: al-A’raf:
35). Ayat di atas menunjukkan bahwa: orang-orang yang mengadakan perbaikan dengan didasari oleh ketakwaan adalah mereka yang sudah mendapatkan jaminan dari Allah Swt. Secara hirarkhi akal manusia juga dapat menerima, jika pada hari ini umat Muslim mau memperhatikan dan mengusahakan pendidikan bagi generasi Muslim, terutama apa yang menjadi tanggung-jabab secara pEribadi (fardhu ‘ain) atau secara bersama-sama (fardhū
kifayāh), pada gilirannya akan melihat generasi Islam yang hidup dalam
kemandirian (memiliki bekal pengetahuan agama dan keterampilan).
Masih dalam konteks mempersiapkan generasi Islam yang kuat, beriman, bertakwa, serta memiliki keterampilan yang memadai, sehingga ketika mereka dewasa, sudah siap dengan segala bekal yang mereka butuhkan, dalam rangka
berta’abbut (ta’at) kepada Allah, berhubungan dengan sesama manusia
(bermu’amalah) dan dalam mewujudkan keperibadian seorang Muslim untuk bermunasabah dengan lingkungan dan makhluk hidup lainnya. Generasi Muslim diharapkan dapat hidup dalam rasa aman dan sejahtera. Mereka hendaknya dapat hidup sebagai generasi yang kuat. Allah menginginkan agar orang-orang Islam akan hadir sebagai muslim yang kuat.
Hal yang tersebut di atas, sesuai dengan firman Allah Swt. dalam surat al-Ahqaf ayat 19.
Artinya: “dan setiap orang memperoleh tingkatan sesuai dengan apa yang telah
mereka kerjakan” (al-Ahqaf: 19)
Maksud dari ayat di atas adalah, agar Allah Swt. menempatkan seseorang hamba pada posisi yang dimuliakan sesuai dengan fitrahnya. Dalam hal ini manusia diberikan kesempatan untuk berusaha dengan tetap bertawakkal kepada Allah Swt. seseorang yang memiliki keimanan dan takwa disisi-Nya akan mampu menempatkan dirinya dan mengakui akan keterbatasannya sehingga membutuhkan banyak harapan kepada Allah. Maka dalam segala kesempatan, manusia selalu menginginkan hidayāh-Nya dan maū’idhāh. Untuk itu semua usaha dan ikhtiār yang dilakukan manusia adalah untuh mendapatkan keridhāān-Nya.
Karena harapan keridhaan-Nya lah, para tokoh pergerakan dan juga angkatan-angkatan pembaru yang selalu turut dalam mengembangkan pendidikan, khususnya pendidikan keagamaan. Mereka siap berkarya dan berbakti demi agama untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada di kalangan masyarakat Aceh, sehingga pendidikan tidak sempat terjadi staqnasi. Para ulama Aceh yang secara sukarela memberikan pengayoman dan pembekalan ilmu-ilmu agama kepada generasi muda dapat berlangsung secara turun-temurun. Hal ini juga masih berlangsung sampai dengan saat ini, karena disemangati oleh nilai-nilai keislaman dan keikhlasan.
Kegiatan pendidikan pada lembaga pendidikan dayah selalu dapat berlangsung dengan tidak harus mendapatkan pembiayaan oleh pemerintah. Hampir dapat dipastikan, jika dayah di Aceh dapat berlangsung dengan dukungan masyarakat, terutama untuk pembangun pisiknya. Adapun masalah honorarium bukanlah sesuatu alasan yang untuk men-justifikasi tingkat kemajuannya. Biasanya maju mundurnya sebuah dayah sangat dipengaruhi oleh kharisma seorang pimpinan dayah, tingkat ke-uletan dan keahliannya dalam membimbing masyarakat, yang dimulai dari penjabaran ilmu-ilmu agama melalui para santri
dan masyarakat, maka dayah dikenal dengan institusi tempat diorbitnya para ulama.161
Di sisi lain masyarakat Aceh selalu menerima para ulama dikarenakan adanya pandangan bahwa; jika tidak belajar ilmu agama, dikhawatirkan akan menjadi kafir, padahal tanah Aceh adalah “tanah para aulia”. Jadi konsep ini menjadi batas spiritual di Aceh. Oleh para ulama batas ini diterjemahkan dalam bentuk paradigma masyarakat Aceh. Dalam hal ini, dayah merupakan pusat penyemaian kebudayaan dan intelektual. Masyarakat Aceh memposisikan ulama sebagi tokoh intelektual yang memiliki peran sangat penting dalam berbagai kondisi, situasi dan tempat, diantaranya karena ia memegang peran sebagai pemimpin informal.162
Sejarah mencatat bahwa hubungan harmonis antara ulama dan masyarakat. Hal ini dapat dilihat melalui contoh kebersamaan ulama dan masyarakat pada saat berjuang mempertahankan negara dari agresi penjajahan Belanda. Pada saat itu, posisi ulama berada di garda depan bertindak sebagai pemimpin rakyat Aceh. Posisi ulama yang demikian, tidak hanya disebabkan oleh anggapan masyarakt sebagai orang-orang yang berilmu tinggi, tetapi juga sebagai pemimpin dan panglima perang, juga pendidik bagi rakyatnya. Mereka juga selalu dapat membuat interpretasi situasional yang hangat dan harmonis berdasarkan nilai agama.163
Kedudukan ulama yang begitu dominan dalam masyarakat Aceh, sebenarnya tidak hanya selama perang kolonial Belanda dengan Aceh, tetapi telah dimulai sejak terbentuknya masyarakat Aceh yang Islami, yaitu sejak awal terbentuknya sistem politik, yang berwujud dalam bentuk kerjaan-kerajaan Islam di kawasan pantai. Hal ini juga berkaitan erat dengan proses islamisasi sebagai pra kondisi terciptanya sistem politik.
161Bustamam Kamaruzaman Ahmad, Membangun Kembali Jati Diri Ulama Aceh, Cet. 1, (Lhokseumawe: Nadiya Foundation, 2007), h. 47.
162T. Ibrahim Alfian, “Cendekiawan dan Ulama dalam Masyarakat Aceh: Sebuah Pengamatan Permulaan”, dalam Alfian (ed), Segi-Segi Sosial Masyarakat Aceh, Cet. Pertama, (Jakarta: LP3ES, 1977), h. 204.
163T. Ibrahim Alfian, Perang di Jalan Allah, Cet. Pertama, (Jakarta: Sinar Harapan, 1987), h. 17.
Peran ulama di Aceh sebagai sosok intelektual, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan telah terlihat sejak awal terbentuk masyarakat Islam secara politik, yaitu pada masa kesultanan Islam. Contoh kongkrit tentang hal ini adalah pada masa pemerintahan Malik Al-Zahir. Ibnu Batutah yang mengunjungi kerajaan Samudera Pasai tahun 1345 menulis dalam catatannya bahwa raja yang memerintah sangat taat beragama dan baginda senantiasa dikelilingi oleh para ahli agama. Di antara mereka adalah Qadi Syarif Amir Sayyid dari Shiraz dan Tajuddin dari Isfahan.164
M. Hasbi Amiruddin mengutip dalam Teuku Iskandar menyebutkan, ulama yang ikut memegang peran penting dalam membentuk wajah pendidikaan Aceh yang lebih baik terutama dalam bidang pendidikan juga terus berlanjut pada masa pemerintahan kerajaan Islam Aceh Darussalam, yang dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Pada masa pemerintahan Iskandar Muda, kondisi intelektual Aceh cukup diperhitungkan dan memegang peran paling strategis dalam kancah politik, pendidikan dan ekonomi. Seperti, Syekh Syamsuddin Al-Sumaterani, sebagai penasehat Sultan sekaligus menjabat sebagai mufti yang bertanggung jawab dalam urusan keagamaan dan pendidikan165 pada masa Nuruddin Ar-Raniry menjadi Qadhi, ulama ini tidak hanya bertugas dalam bidang agama saja, tetapi juga dalam bidang ekonomi dan politik.
Jika dilihat kembali, sejarah masa lampau, di sana akan kita dapatkan banyak ulama hebat seperti Syekh Abdul Rauf al-Singkili, yang diangkat sebagai Mufti dan Qadhi Malik al-Adil di kerajaan Aceh selama periode empat orang ratu Aceh berkuasa.166
Demikian pula halnya pada masa perang Aceh melawan penjajah kolonial Belanda, begitu banyak ilmu yang diajarkan ulama kepada rakyat Aceh, seperti ilmu agama dan umum, termasuk juga astronomi, kesehatan dan pertanian. Hasbi
164Muhammad Gade, Pasai dalam Perjalanan Sejarah: Abad ke-13 Sampai dengan Abad
ke-16, Cet. Pertama, (Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. Proyek Inventarisasi dan
Dokumen Sejarah Nasional, 1993), h. 33.
165
Hasbi Amiruddin, Menatap Masa Depan Dayah di Aceh, Cet. 1, (Yogyakarta: Polydoor, 2009), h. 162.
166Ali Hasjmy, 59 Tahun Aceh Merdeka di Bawah Pemerintahan Ratu, Cet. Pertama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1977), h. 40.
Amiruddin mengutip dalam Baihaqi menyebutkan, bahwa pada masa itu Teungku Chik Kuta Karang menulis kitab yang berjudul Taj al-Mulk yang berhubungan dengan astronomi dan pertanian. Buku tersebut di cetak di Kairo dan Makkah pada tahun 1893. Isi dari kitab tersebut terdiri atas cara-cara menghitung waktu yang cocok dalam musim, ramalan-ramalan cuaca, pengobatan, dan metode menandai waktu.167
Setelah berakhirnya perang antara Aceh dan Belanda, banyak ulama yang kembali ke dayah dan membangun kembali dayah yang telah hancur tersebut, namun belum mampu mengambalikan kejayaan dayah yang pernah ada pada masa lalu, hal ini disebabkan sumber daya manusia untuk pengembangan dayah di masa yag akan datang sudah tidak ada karena banyak yang gugur pada masa terjadi perang. Menyebabkan kondisi dayah semakin terjepit. Namun, memasuki tahun 1930-an, wajah pendidikan dayah kembali menemukan warnanya, ketika beberapa ulama di dayah-dayah dipengaruhi oleh gagasan pembaruan khususnya ide-ide tetang sistem pendidikan. Ini dapat dilihat keputusan mereka untuk mengambil dari nama dayah ke madrasah.
Beberapa dayah dibangun kembali dengan mendirikan madrasah di dalamnya. Dibangunnya madrasah pada waktu itu diharapkan dapat mengatur kurikulum dan metode mengajar untuk disesuaikan dengan perubahan kebutuhan masyarakat khususnya dalam merespon ilmu pengetahuan modern. Pada tahun pertama setelah kemerdekaan Indonesia para pemimpin dan ulama Aceh juga terlibat dalam masalah politik untuk mempertahankan tanah air dari penjajahan Belanda. Di awal kemerdekaan, para pemimpin Aceh sepakat untuk menyerahkan madrasah di bawah kontrol negara, sementara dayah tetap dikelola dan dikontrol oleh ulama. Sejak saat itu, walaupun dayah dan madrasah tetap eksis di Aceh, namun dalam pelaksanaannya berjalan terpisah.
Kegiatan proses pembelajaran di dayah tetap berjalan seperti masa awal sebelumnya, sedangkan madrasah juga mengalami pasang surut dalam perjalanannya karena terjadi konflik pertikaian antara pemerintah pusat dengan Aceh. Perselisihan ini berimbas pada terjadinya pemberontakan pada tahun 1953,
167
situasi yang tidak menguntungkan bagi ulama dalam mengembangkan madrasah dan dayah yang sedang mereka jalankan.
Memasuki tahun 1980-an, ada upaya yang dilakukan oleh para intelektual baik yang berasal dari dayah dan madrasah, untuk merubah sistem pembelajarannya termasuk juga sistem kurikulum dayah, sekaligus menjadikan lembaga ini sesuai dengan kebutuhan dunia modern. Dayah-dayah yang ada tersebut dijadikan dayah modern dan terpadu. Dari segi kurikulum dan sistem mengajar, mereka mengikuti sistem madrasah. Kurikulum madrasah diajarkan pada pagi hari, sedangkan sore hari ditetapkan kurikulum dan sistem dayah. Dalam dayah tersebut para santri diharuskan untuk tinggal di lembaga.
Memperhatikan perkembangan sejarah dan juga situasi masa perang melawan penjajahan kolonial terlihat memang peran ulama dalam masyarakat Aceh masih dominan. Ulama sebagai sosok intelektual telah melakukan proses pendidikan terhadap rakyat sehingga memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi. Tokoh intelektual Aceh masa lalu selalu mengembangkan sikap kritis. Sikap kritis yang membangun pondasi pendidikan dayah menjadi lebih bermartabat dan dicintai masyarakat. Penerapan budaya kritis ini sebenarnya bertujuan untuk membentuk peribadi sanri yang peka terhadap perkembangan zaman. Budaya berpikir kritis pada umumnya diterapkan pada dayah-dayah yang telah membuka diri untuk dunia luar, atau yang lebih dikenal dengan dayah modern. Sedangkan sebagian dayah salafi masih belum menerapkan budaya kritis ini.
Setelah sekian tahun menimba ilmu di dayah-dayah, dan melanjutkan pendidikannya di Perguruan Tinggi, mereka menemukan pola baru dalam memformulasikan pendidikan Aceh masa depan. Para tokoh pendidikan Aceh pun mulai berfikir (memiliki konsep) modernis, sehingga melakukan perubahan-perubahan pada sistem pendidikan dayah, baik dalam bidang kurikulum, manajemen dan struktur dayah. Kendatipun demikian, tidak semua model pembelajaran yang dipergunakan dayah salafi menggunakan sistem modern. Ada jadwal khusus yang diberikan bagi masyarakat umum.
Para tokoh intelektual yang ada pada masa lalu di Aceh adalah alumni dayah yang memiliki tingkat keilmuan cukup tinggi terutama ilmu agama. Ulama
sangat di hormati, apa yang keluar dari mulut ulama saat itu adalah benar. Keberhasilan Aceh membangun tatanan pendidikannya tidak lain karena kerja keras ulama. Ulama masa lalu sekaliber Teungku Daud Bereueh sebagai contohnya, mampu mengobarkan semangat masyarakat Aceh untuk selalu berada dalam bingkai nilai-nilai Islam. Sebagian besar ulama Aceh juga banyak yang belajar di luar Aceh, guna memperdalam dan mempelajari sistem pendidikan yang berasal dari daerah lain.