Kondisi penutupan lahan Provinsi Jambi berdasarkan Peta Penutupan Lahan skala 1: 250.000 hasil penafsiran citra landsat 7 ETM+ liputan tahun 2000, diketahui luas penutupan lahan sebagai hutan di Provinsi Jambi sebesar 1.230.900 ha (55.9%), non hutan sebesar 509.300 ha (23.1%), dan tidak ada data sebesar 461.100 ha (21.0%) dari total luas kawasan hutan Provinsi Jambi sebesar 2.201.300 ha (Badan Planologi Kehutanan 2003). Perincian luas penutupan lahan tersebut disajikan pada Tabel 19.
Tabel 19 Luas penutupan lahan dalam kawasan dan luar kawasan hutan di Provinsi Jambi tahun 2003
Kawasan Hutan (x 1.000 ha) APL Total
Kawasan Hutan tetap Jumlah Persentase
HL KSA/ KPA HP HPT Jumlah HPK Jumlah ( % ) (1.000 ha) (1.000 ha) ( % ) Hutan 96.0 349.1 574.8 211.1 1.230.9 - 1.230.9 56.9 231.9 1.462.8 30.4 Non Hutan 22.6 187.4 241.1 58.2 509.3 - 509.3 23.1 1.862.3 2.371.6 49.4
Tidak Ada Data 55.8 177.2 194.5 33.7 461.1 - 461.1 21.0 508.8 969.9 20.2
Jumlah 174.3 713.7 1.010.4 302.9 2.201.3 - 2.201.3 100.0 2 .603.0 4.804.3 100.0
Sumber : Badan Planologi Kehutanan, Departemen Kehutanan (2003). Keterangan : - HL : Hutan Lindung
- KSA/KPA : Kawasan Suaka Alam/Kawasan Pelestarian Alam - HP : Hutan Produksi
- HPT : Hutan Produksi Terbatas
- HPK : Hutan Produksi yang dapat dikonversi - APL : Areal Penggunaan Lain
Hutan produksi di Provinsi Jambi, terdiri dari : Hutan Primer seluas 59.100 ha, Hutan Sekunder seluas 436.100 ha, dan Hutan Tanaman seluas 79.600 ha; non hutan seluas 241.100 ha; dan tidak ada data seluas 194.500 (Dephut, Badan Planologi Kehutanan 2003). Data tersebut menjelaskan bahwa Hutan Produksi di Provinsi Jambi yang masih berhutan hanya sebesar 56.9%, hal ini cukup ironis jika tidak diikuti dengan keseriusan Pemerintah Daerah dan Pusat dalam melakukan pembangunan kehutanan (rehabilitasi hutan).
Secara nasional kapasitas industri dan konsumsi lainnya diperkirakan membutuhkan kayu bulat sebesar 60 juta m3/tahun , sementara kemampuan supply
lestari hanya sekitar 22 juta m3/tahun, sehingga terdapat kesenjangan sebesar 30- 40 juta m3/tahun. Di samping itu, pertumbuhan industri pengolahan kayu di luar negeri, seperti : Malaysia, Taiwan, Korea, dan RRC yang juga membutuhkan bahan baku kayu gergajian dari Indonesia menambah kesenjangan yang memacu kegiatan penebangan liar (Saparjadi 2003). Berdasarkan kajian pada sub bab sebelumnya tentang pemenuhan kayu bulat riil untuk industri di Provinsi Jambi tahun 2004, maka terjadi kekurangan pemenuhan kayu bulat dari dalam Provinsi Jambi sebesar 2.245.908 m3 (48.9%) dari total kebutuhan kayu bulat sebesar 4.597.271 m3, sedangkan kemampuan Provinsi Jambi dalam supply kayu bulat ke Provinsi Jambi sendiri sebesar 2.361.271 m3 (51.1%).
Proyeksi kebutuhan kayu bulat di Provinsi untuk tahun 2005 dengan asumsi jumlah industri yang aktif adalah sama dengan data tahun 2004 sebesar 100 buah dengan total kapasitas sebesar 3.114.032 m3, maka diperkirakan kebutuhan kayu bulat pada tahun 2005 di Provinsi Jambi sebesar 6.120.588 m3. Penetapan jatah produksi hasil hutan kayu tahun 2005 untuk Provinsi Jambi yang berasal dari pemanfaatan hutan alam produksi berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan Nomor SK.252/VI-BPHA/2004 adalah sebesar 120.650 m3. Kondisi ini menggambarkan bahwa hanya 120.650 m3 kayu bulat dari hutan alam yang diizinkan oleh Departemen Kehutanan untuk dihasilkan Provinsi Jambi dalam memenuhi kebutuhan kayu bulat sebesar 6.120.588 m3, sehingga ada kekurangan sebesar 5.999.938 m3 yang harus dipenuhi dari hutan tanaman dan peredaran dari luar Provinsi Jambi. Hal ini tentunya tidak mudah untuk menutup kekurangan kayu bulat tersebut, sehingga pemberian izin industri oleh Pemerintah
Daerah Provinsi Jambi dan Departemen Kehutanan perlu mendapatkan perhatian yang serius, karena kemampuan Provinsi Jambi dalam memenuhi kebutuhan kayu bulat yang sangat kecil. Jika kondisi ini akan berlangsung terus pada tahun-tahun ke depan, maka tidak menutup kemungkinan akan tetap terjadi penebangan liar dan peredaran kayu bulat illegal di Provinsi Jambi.
Peredaran kayu bulat illegal mempunyai dampak negatif terhadap kondisi ekonomi, politik, sosial, dan budaya, seperti disampaikan Saparjadi (2003), bahwa kegiatan peredaran kayu bulat illegal mempunyai dampak kerugian yang sangat luas, yaitu menyebabkan : (1) degradasi sumberdaya hutan; (2) economic loss; (3) degradasi moral aparat, pengusaha dan rakyat; (4) degradasi sosial kemasyarakatan; (5) degradasi budaya masyarakat; (6) hubungan bilateral dan multilateral terganggu; (7) struktur pembangunan di sektor lain akan terganggu.
Adanya dampak sangat besar yang ditimbulkan oleh kegiatan peredaran kayu bulat illegal, maka pemantauan peredaran kayu bulat khususnya di Provinsi Jambi harus terus diupayakan dengan serius dan salah satu upaya tersebut dengan memanfaatkan data hasil hutan yang ada. Upaya tersebut merupakan salah satu bentuk kontrol manajemen dalam mengantisipasi permasalahan kesenjangan bahan baku kayu bulat antara supply dan demand yang ada, karena ketimpangan bahan baku tersebut sebagai salah satu pemicu adanya penebangan liar maupun peredaran kayu bulat illegal.
VII KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
7.1 Kesimpulan
Peredaran kayu bulat di Provinsi Jambi tahun 2004 berasal dari 8 kabupaten, kecuali Kota Jambi dan Kabupaten Kerinci. Kota Jambi tidak mempunyai kawasan hutan (hutan produksi), sedangkan Kabupaten Kerinci kawasan hutannya sebagian besar merupakan Taman Nasional. Tujuan peredaran kayu bulat ke Provinsi Jambi adalah ke 9 kabupaten/kota, kecuali Kabupaten Kerinci, karena tidak terdapat izin usaha Industri Primer Hasil Hutan Kayu (IPHHK).
Volume peredaran kayu bulat Provinsi Jambi sebesar 2.407.237 m3 dengan asal peredaran kayu bulat yang terbesar dari Kabupaten Tanjung Jabung Barat sebesar 1.224.996 m3 (50.9%), sedangkan yang terkecil adalah Kabupaten Merangin sebesar 11.194 m3 (0.5%). Volume tujuan peredaran kayu bulat terbesar ke Kabupaten Tanjung Jabung Barat sebesar 2.006.494 m3 (85.3%), sedangkan yang terkecil adalah Kabupaten Tanjung Jabung Timur sebesar 1.570 m3 (0.1%). Peredaran yang bertujuan ke luar Provinsi Jambi, yaitu : Provinsi Banten, Sumatera Selatan, Riau, DKI Jakarta, dan Sumatera Barat dengan total volume sebesar 55.874 m3. Peredaran kayu didominasi Kelompok Jenis Kayu Rimba Campuran sebesar 2.271.481 m3 (94.36%) dari total peredaran sebesar 2.407.237 m3.
Volume asal peredaran kayu bulat di Provinsi Jambi pada tahun 2004 dengan truk (via darat) sebesar 2.126.793 m3 (88.3%), sedangkan dengan rakit dan ponton (via sungai) sebesar 280.444 m3 (11.7%). Volume tujuan peredaran kayu bulat ke Provinsi Jambi via darat sebesar 2.085.523 m3 (88.7%) dan via sungai sebesar 265.840 m3 (11.3%), sedangkan yang keluar Provinsi Jambi via darat sebesar 41.270 m3 dan via sungai/laut sebesar 14.604 m3.
Supply kayu bulat dari Provinsi Jambi pada tahun 2004 sebesar 2.351.363 m3 (38.4%), dengan berdasarkan kapasitas izin industri aktif sebesar 3.114.032 m3, sebenarnya kebutuhan kayu bulat sebesar 6.120.588 m3, sehingga kekurangan kayu bulat sebesar 3.769.225 m3 (61.6%) kemungkinan dipenuhi dari luar Provinsi Jambi. Dengan lain perkataan, kemampuan Provinsi Jambi dalam supply
berdasarkan peredaran kayu olahan sebesar 2.068.772 m3, maka kebutuhan riil kayu bulat sebesar 4.597.271 m3, dengan demikian kemampuan Provinsi Jambi dalam supply riil bahan baku kayu bulat hanya sebesar 51.1%.