• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konflik Batin yang Berkenaan dengan Ego pada Tokoh Qamrah

BAB IV PEMBAHASAN

4.3 Konflik Batin Tokoh pada Novel The Girls Of Riyadh Karya Rajaa Al

4.3.2 Konflik Batin yang Berkenaan dengan Ego

4.3.2.1 Konflik Batin yang Berkenaan dengan Ego pada Tokoh Qamrah

novel The Girls Of Riyadh

Qamrah adalah representasi dari gadis-gadis yang baru menikah dan harus masuk ke dunia atau lingkungan yang sama sekali asing baginya karena mengikuti suami. Konflik batin yang di alaminya di lingkungan barunya adalah, dia merasa takut, tidak nyaman dan selalu timbul kekhawatiran setiap kali dia harus keluar rumah sendirian. Tetapi bila dia tidak mau keluar rumah untuk berbelanja, suaminyapun marah. Perasaan cemas inilah yang tergolong pada aspek ego. Hal ini dapat dilihat pada kutipan di bawah ini:

Qamrah memulai kehidupan barunya dengan di penuhi rasa takut dan kekhawatiran. Dia selalu ketakutan setiap kali naik lift menuju apartemennya di lantai empat puluh. Ada goncangan yang mengoyak kepalanya dan menghantam telinganya setiap kali menaikinya, seakan sedang berbenturan dengan awan yang bergulung-bergulung. Ada rasa

pusing yang menghampiri setiap kali mencoba melihat ke bawah malalui jendela apartemennya. (Al Sanea, 2008: 36)

Qamrah juga merasa tidak nyaman, ia takut terhadap para preman yang gemar mabuk dan banyak berkeliaran di jalan. Mereka kasar dan sering meminta uang dengan paksa. Dia juga ngeri mendengar berita tentang banyaknya kasus perampokan, pencurian dan pembunuhan yang terjadi di daerah tempat tinggalnya. Bahasa inggrisnya yang pas-pasan juga selalu membuatnya khawatir setiap kali keluar apartemen dan merasa menjadi incaran aksi penipuan. Kesulitan berkomunikasi dalam bahasa itu juga menghantuinya saat harus menggunakan taksi atau menyebutkan keperluannya. (Al Sanea, 2008:36-37)

Qamrah benar-benar tak mau keluar apartemen di akhir pekan untuk berbelanja keperluan rumah. Rasyid pun marah. (Al Sanea, 2008:73)

Kecemasan yang berlebihan bisa mengakibatkan depresi atau suatu ketegangan pada jiwa seseorang. Cemas merupakan gejolak pikiran, rasa cemas bisa berjalan wajar selagi kecemasan tersebut bisa di kendalikan, sebaliknya apabila rasa cemas tersebut sudah membebani hati dan pikiran seseorang maka bisa mengakibatkan suatu ketegangan dalam jiwa seseorang. Disinilah peran ego untuk menetralisir id agar bisa lari dari dunia fantasi ke dunia nyata.

Dari kutipan di atas terlihat jelas bahwa latar atau setting mempengaruhi konflik batin yang dialami Qamrah. Tempat seperti lift, tepi jendela apartemennya dan lingkungan tempat tinggalnya membuatnya takut. Apalagi suasana di negeri asing yang sedikit mencekam dan perbedaan bahasa semakin membuatnya tidak nyaman untuk keluar sendirian serta berinteraksi dengan orang lain.

Konflik batin yang di alami Qamrah kali ini adalah pertentangan dalam hatinya, benarkan sikap suaminya yang dingin terhadapnya di karenakan adanya wanita lain dalam rumah tangga mereka. Oleh karena itu, Qamrah mencari

jawaban dari pertanyaannya itu dengan mencari-cari informasi yang menjelaskan sikap dingin suaminya itu.

Ketika suatu saat Qamrah mencoba-coba berbagai menu di komputer, dia menemukan dalam koleksi foto suaminya, foto seorang perempuan dari Asia Timur, tepatnya Jepang. (Al Sanea, 2008:134)

Permasalahannya tentu bukan pada foto-foto itu, melainkan bahwa pose dan tempat foto itu mengisyaratkan adanya hubungan special antara mereka berdua sejak sebelum Rasyid menikah dengannya, dan kemungkinan hubungan itu tetap terjalin hingga kini. (Al Sanea, 2008:134) Qamrah berusaha mendapatkan nomor dan alamat Karey dari buku-buku Rasyid. (Al Sanea, 2008:137)

Qamrah menghubungi Karey di nomor Indiana dan meminta waktu pertemuan. (Al Sanea, 2008:137)

Tetapi dia tidak menunjukkan perubahan sikap dan tingkah laku agar Rasyid tidak curiga sampai waktu yang dijanjikan Karey benar-benar datang. (Al Sanea, 2008:137)

Ego yang terlihat pada watak Qamrah adalah sifat ingin tahunya. Ego bekerja berdasarkan prinsip realitas atau kenyataan mencari dan mengamati dunia nyata. Setelah mendapat informasi dari dunia nyata, maka ego dapat mengambil keputusan yang tepat terhadap informasi yang di dapat. Itulah yang dilakukan Qamrah untuk menjawab keingintahuannya terhadap sikap suaminya dan hubungan suaminya dengan perempuan itu.

Latar atau setting yang memicu timbulnya ego disebabkan keinginan Qamrah untuk mengetahui kenyataan di balik sikap dingin suaminya itu. Kenapa suaminya tidak menyukainya? Benarkah ada perempuan lain? Benarkah perempuan itu yang menyebabkan suaminya tidak pernah peduli padanya? Benarkah suaminya mengkhianati pernikahan mereka? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menyebabkan timbul ego dalam dirinya.

Qamrah menjaga jarak, image, dan wibawa di depan musuhnya. (Al Sanea, 2008:142)

Berdasarkan kutipan di atas tampak Qamrah berusaha setenang mungkin dalam menghadapi wanita yang menjadi selingkuhan suaminya. Dia menangguhkan amarahnya sampai dia tahu sejauh mana kedekatan wanita itu dengan suaminya. Penangguhan suatu tindakan berarti bahwa ego harus dapat menahan ketegangan sampai ketegangan itu dapat diredakan dengan suatu bentuk kelakuan yang wajar. Itulah yang berusaha Qamrah lakukan, meskipun hatinya sudah terbakar amarah dan bersiap untuk melampiaskan kekesalannya kepada wanita itu.

Konflik batin yang di alami Qamrah kali ini adalah setelah bercerai dari suaminya, berbagai tekananpun mulai di rasakannya. Batin Qamrah benar-benar tersiksa harus menerima semua penderitaan sekaligus, derita perceraian, derita mendengar gunjingan orang dan perampasan hak kebebasannya. Meskipun begitu salah satu ego yang ada pada tokoh Qamrah adalah ia menanggapi, memahami dan mengerti maksud ibu dan keluarganya yang melarangnya keluar rumah meskipun dirinya mengalami rasa jenuh terkurung di rumah itu. Hal ini dapat dilihat pada beberapa kutipan di bawah:

Yang saat ini menjadi keluhan utama Qamrah adalah tekanan ibunya yang menghendaki agar dirinya tidak keluar rumah untuk menjaga penilaian negatif orang lain atas statusnya kini sebagai janda. (Al Sanea, 2008:207) Puluhan kali dalam sehari, Qamrah mendengar perkataan yang memojokkan dirinya sebagai janda. (Al Sanea, 2008:207)

Puluhan kali dalam sehari, Qamrah diingatkan untuk tidak lupa akan statusnya sebagai janda beserta kewajibannya untuk menjaga nama baik keluarganya. (Al Sanea, 2008:207)

Qamrah sebenarnya setuju dan menangkap maksud baik ibunya itu. (Al Sanea, 2008:207)

Dengan kondisinya yang sekarang menjadi janda yang tengah hamil, Qamrah hanya bisa diam di rumah. Hal ini dapat dilihat pada kutipan di bawah:

Selama tiga bulan sejak kedatangan surat cerai itu, Qamrah dilarang keluar rumah. (Al Sanea, 2008:208)

Tanggap merupakan salah satu bentuk reaksi yang terjadi dalam diri seseorang. Jika seseorang dapat memahami dan mengerti terhadap suatu kejadian dengan menggunakan logika, berpikir secara jernih dan bisa cepat merespon terhadap sesuatu hal tertentu, maka seseorang tersebut dapat dikatakan memiliki watak tanggap. Tidak semua orang memiliki watak tanggap, tergantung pada pengalaman serta pendidikan yang dimiliki seseorang tersebut.

Latar yang memunculkan timbulnya ego pada diri Qamrah disebabkan suasana di lingkungannya. Berbagai tekanan yang diterima Qamrah mengenai status jandanya di karena Qamrah tinggal di Riyadh dimana bagi masyarakat di sana, status janda mempunyai image yang jelek. Bagi perempuan Riyadh lebih baik memiliki banyak madu dari pada menjadi janda. Apalagi sekarang dirinya tengah hamil dan gunjingan orangpun makin menjadi-jadi. Oleh karena itu, Qamrah menanggapi perintah ibunya yang menyuruhnya berdiam diri di rumah.