KONFLIK BATIN TOKOH
PADA NOVEL THE GIRLS OF RIYADH
KARYA RAJAA AL SANEA
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
ANDIK BAWO INTAN SITI AISYAH
NIM 0705113148
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU 2011
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah Swt., berkat rahmat dan ridho-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Konflik Batin Tokoh pada Novel The Girls of Riyadh karya Rajaa Al Sanea”. Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat guna mencapai gelar sarjana pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Riau pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Penulis menyadari pada saat penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bimbingan dan bantuan dari segala pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dr. H. M. Nur Mustafa, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau yang telah memberikan kesempatan bagi penulis untuk mengikuti perkuliahan di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau.
2. Drs. H. Nursal Hakim, M.Pd., selaku Ketua Jurusan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau yang telah memberikan izin dan rekomendasinya untuk mengikuti perkuliahan di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia serta sebagai dosen yang membimbing penulis selama mengikuti perkuliahan.
3. Drs. Syafrial, M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah memberikan arahan, bimbingan, dan menyetujui masalah yang penulis teliti untuk dijadikan skripsi.
4. Drs. Elmustian Rahman, M.A., selaku dosen pembimbing I yang telah banyak memberikan pengarahan dan bimbingan dalam proses penyelesaian skripsi ini.
5. Drs. Syafrial, M.Pd., selaku dosen pembimbing II yang telah banyak memberikan pentunjuk dan bimbingan dalam proses penyelesaian skripsi ini.
6. Dra. Charlina, M.Hum., selaku Penasehat Akademis yang telah memberikan nasehat dan masukan yang sangat berarti kepada penulis dalam perkuliahan.
7. Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Riau yang telah memberikan ilmu pengetahuan selama mengikuti perkuliahan.
8. Teristimewa untuk Ibunda tersayang Hj. Siti Kamaria Tamin, Enah tercinta Dra. Hj. Siti Zahara Tamin dan Om M. Nasir, S.Pd., yang selalu memenuhi kebutuhan Ananda dan mendukung segala aktivitas Ananda. Atas dukungan dan doa beliau-beliaulah penulis mampu melewatinya sampai sekarang.
9. Maulud Mawardi dan Putri Fatimah, kedua adikku tersayang, yang selalu membantu setiap kali dibutuhkan.
10. Rekan-rekan seperjuangan angkatan 2007, terutama MIND (Mia, Intan, Ningsih, dan Desi) Hafiz dan Arini, terima kasih sahabatku tercinta. Atas motivasi dan bantuan yang kalian berikan dari awal perkuliahan kita di FKIP sampai akhirnya penulis mampu menyelesaikan skripsi ini sesuai dengan yang diharapkan.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan. Untuk itu diharapkan kritikan dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan skripsi ini. Demikian kiranya semoga skripsi yang telah dibuat ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan dan peningkatan ilmu pengetahuan.
Pekanbaru, Juli 2011
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Waktu Penelitian ... 25
Tabel 4.1 Data Konflik Batin Tokoh yang Berkenaan dengan Id, Ego, dan Superego ... 42
Tabel 4.2 Jumlah Aspek-Aspek Psikologis Setiap Tokoh Berkenaan dengan Konflik Batin ... 50
Tabel 4.3 Data Konflik Batin Tokoh yang Berkenaan dengan Id ... 52
Tabel 4.4 Data Konflik Batin Tokoh yang Berkenaan dengan Ego ... 69
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i DAFTAR TABEL ... iv DAFTAR ISI ... v BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Permasalahan ... 6 1.3 Pembatasan Masalah ... 7 1.4 Tujuan Penelitian ... 7 1.5 Manfaat Penelitian ... 8 1.6 Definisi Operasional ... 8
BAB II TINJAUAN TEORETIS ... 10
2.1 Psikologi Sastra ... 10
2.1.1 Id (Das Es) ... 13
2.1.2 Ego (Das Ich) ... 14
2.1.3 Superego (Das Ueber Ich) ... 15
2.2 Konflik Batin Tokoh Utama ... 16
2.2.1 Konflik Batin ... 17
2.2.2 Penokohan ... 19
2.3 Penelitian yang Relevan ... 23
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 25
3.1 Waktu Penelitian ... 25
3.2 Metode Penelitian ... 26
3.3 Subjek Penelitian ... 26
3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 26
3.5 Teknik Analisis Data ... 27
3.6 Keabsahan ... 27
Al Sanea ... 29
4.2 Identifikasi Data Konflik Batin Tokoh pada Novel The Girls Of Riyadh Karya Rajaa Al Sanea ... 42
4.3 Konflik Batin Tokoh pada Novel The Girls Of Riyadh Karya Rajaa Al Sanea yang Berkenaan dengan Aspek Psikologis ... 51
4.3.1 Konflik Batin yang Berkenaan dengan Id ... 51
4.3.1.1 Konflik Batin yang Berkenaan dengan Id pada Tokoh Qamrah ... 56
4.3.1.2 Konflik Batin yang Berkenaan dengan Id pada Tokoh Rasyid ... 60
4.3.1.3 Konflik Batin yang Berkenaan dengan Id pada Tokoh Shedim ... 62
4.3.1.4 Konflik Batin yang Berkenaan dengan Id pada Tokoh Michelle ... 66
4.3.2 Konflik Batin yang Berkenaan dengan Ego ... 68
4.3.2.1 Konflik Batin yang Berkenaan dengan Ego pada Tokoh Qamrah ... 71
4.3.2.2 Konflik Batin yang Berkenaan dengan Ego pada Tokoh Faishal ... 75
4.3.2.3 Konflik Batin yang Berkenaan dengan Ego pada Tokoh Michelle ... 77
4.3.2.4 Konflik Batin yang Berkenaan dengan Ego pada Tokoh Lumeis ... 78
4.3.3 Konflik Batin yang Berkenaan dengan Superego ... 80
4.3.3.1 Konflik Batin yang Berkenaan dengan Superego pada Tokoh Qamrah ... 82
4.3.3.2 Konflik Batin yang Berkenaan dengan Superego pada Tokoh Lumeis ... 83
4.3.3.3 Konflik Batin yang Berkenaan dengan Superego pada Tokoh Faishal .... 85
4.3.3.4 Konflik Batin yang Berkenaan dengan Superego pada Tokoh Michelle ... 85
BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 87
5.1 Simpulan ... 87
5.2 Saran ... 89
BAB I
PENDAHULUAN
Bab ini menguraikan tentang : (1) latar belakang, (2) permasalahan, (3) pembatasan masalah, (4) tujuan penelitian, (5) manfaat penelitian, dan (6) definisi operasional.
1.1 Latar Belakang
Karya sastra adalah ekspresi jiwa sang pengarang. Melalui karyanya sang pengarang mampu menyuarakan isi hatinya mengenai persoalan yang dilihat, dirasakan dan dialaminya dalam sebuah bentuk karya sastra. Karya sastra mampu menjadi wadah yang menampung dan menyampaikan segala hal dari kacamata sang pengarang mengenai persoalan disekelilingnya, terutama tentang kehidupan manusia.
Manusia adalah makhluk yang penuh dengan permasalahan serta kemungkinan-kemungkinan yang dialami dalam hidupnya. Seorang pengarang akan berusaha melihat kemungkinan tersebut dengan memandang masalah-masalah manusia yang tampak dalam kehidupan dan kemudian dituliskan dalam karya sastra. Ketika menemukan kemungkinan-kemungkinan kehidupan dan masalah-masalah serta pilihan-pilihan, seorang pengarang akan berimajinasi untuk memilih alternatif celah yang mungkin akan dihadapi manusia. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Trisman, dkk. (dalam Junus, 1983:1) yang mengungkapkan bahwa setiap kali orang berhadapan dengan suatu realitas, maka realitas tersebut
akan mengundang orang untuk berimajinasi, dan orang tidak mungkin dapat berimajinasi tanpa memiliki pengetahuan tentang suatu realitas. Perceraian merupakan contoh yang sering terjadi dalam masyarakat sekarang dan banyak faktor yang menyebabkan suatu perceraian. Bila ada tetangga Anda yang bercerai, tentu Anda mulai berimajinasi apa penyebab terjadinya perceraian itu. Pilihan pertama Anda pasti jatuh pada orang ketiga yaitu adanya perselingkuhan, karena perselingkuhan memang sering menjadi penyebab utama perceraian.
Gejala dan masalah yang diungkapkan oleh pengarang melalui karyanya tidak lepas dari masalah psikologis atau kejiwaan yang mengiringi kehidupannya. Masalah kejiwaan ini sering disamakan dengan ilmu kepribadian. Pribadi setiap orang dipengaruhi oleh dua kekuatan yaitu kekuatan dari dalam dan kekuatan dari luar. Kekuatan yang mempengaruhi kepribadian seseorang dari dalam adalah sesuatu yang dibawah sejak lahir baik jasmani maupun rohani salah satu contohnya adalah karakter atau perwatakan, sedangkan yang termasuk kekuatan dari luar adalah pengaruh lingkungan dan tempat tinggalnya. Namun, belum diketahui kekuatan mana yang paling berpengaruh terhadap kepribadian seseorang.
Salah satu bentuk karya sastra yang menceritakan kehidupan secara keseluruhan adalah novel. Novel merupakan salah satu bacaan yang populer di masyarakat karena dalam novel kita akan menemukan percintaan, kehidupan rumah tangga, kekerasan, religi, dan lain-lain. Sebagian ahli sastra beranggapan novel dikatakan baik, apabila di dalamnya terdapat konflik. Konflik akan berhubungan erat dengan jalan hidup sang tokoh. Terciptanya sebuah konflik
ditimbulkan akibat adanya berbagai permasalahan yang sering hadir dalam kehidupan manusia. Konflik yang banyak menarik minat pembaca adalah konflik yang unik. Seolah-olah kejadian yang dialami sang tokoh bukan merupakan rekaan dari kenyataan, melainkan kenyataan itu sendiri.
Konflik tidak harus berarti pertentangan dalam bentuk fisik, tapi juga konflik batin. Karena itu, dalam sebuah novel tidak harus selalu ada perkelahian, perang mulut, apalagi pembunuhan. Konflik dapat juga terjadi antara baik dan buruk, benar dan salah serta pantas tidak pantas. Menjalani kehidupan bukanlah sebuah perjuangan yang mudah, karena akan menghadapi berbagai banyak rintangan, ancaman, dan masalah.
Masalah-masalah itulah yang kerap kali mengubah karakter dari seseorang. Untuk mendapat sesuatu yang diinginkan banyak manusia yang salah langkah. Untuk mengetahui itu semua kita perlu mengkaji psikologisnya. Semi (1989:48) dalam bukunya Kritik Sastra menyebutkan bahwa, “Pengetahuan tentang psikologi mendorong kita untuk menyadari bahwa sebuah karya sastra yang baik sekurang-kurangnya mempunyai dua jenis makna: yang jelas dan yang terselubung”. Hal ini menggambarkan bahwa nilai psikologis yang terkandung dalam sebuah karya sastra merupakan satu cara mengungkapkan sisi kehidupan tokoh dalam cerita baik yang sifatnya tersurat maupun tersirat. Sastra seharusnyalah memiliki nilai psikologis karena tanpa adanya nilai tersebut sastra akan terasa kaku, monoton, dan tidak bernilai. Oleh karena itu, penulis sangat tertarik untuk melakukan kajian konflik batin pada novel The Girls of Riyadh karya Rajaa Al Sanea.
Novel The Girls of Riyadh karya Rajaa Al Sanea merupakan novel International Bestseller. Versi asli novel ini diluncurkan dalam bahasa Arab pada tahun 2005 dan secepatnya dilarang beredar di Saudi Arabia karena isinya yang menghebohkan. Keberanian buku ini berlanjut bak nyala api di seantero pasar gelap Saudi dan menggemparkan hingga ke belahan Timur Tengah lainnya. Hingga kini, hak terjemahan atas buku ini telah terjual ke lebih dari dua puluh lima negara. Di Indonesia sendiri novel ini telah memasuki cetakan keenam pada tahun 2008.
Kisah yang terdapat dalam novel ini umumnya kisah klasik yang ada di belahan dunia manapun. Tentang percintaan, seks bebas, pengkhianatan, orang tua yang ikut campur, pelanggaran norma, dan semua yang sudah biasa muncul di topik-topik cerita Barat. Kenapa yang ini heboh? Karena semua terjadi di Arab Saudi. Negara dengan hukum Islam yang dijalankan dengan ketat. Pada sampul belakang novel The Girls Of Riyadh, majalah Cosmopolitan menyebutkan, “Isinya yang frontal membuat buku ini langsung dilarang beredar di sana. Laris di pasar gelap membuktikan mahalnya harga sebuah kebenaran”. Pada sampul yang sama Kirkus Review menyebutkan, “Boleh jadi inilah buku pertama yang menampilkan secara utuh dunia sebenarnya gadis-gadis Saudi Arabia masa kini”. Koran Tempo juga menyebutkan, “Si penulis surat setiap pekan hadir dengan berbagai perkembangan baru dan peristiwa aktual. Masyarakat luas menjadi demam Internet dan selalu menunggu-nunggu informasi terbaru. Akhirnya, pada setiap Sabtu pagi, kantor pemerintahan, rumah sakit, kampus, dan ruang sekolah menjadi arena diskusi tulisan tersebut.”
Novel ini banyak membuka sesuatu yang dikatakan aib bagi masyarakat Arab. Bagi dunia Arab, cinta bukanlah sesuatu yang indah. Bahkan lebih layak di takuti, diawasi, dibatasi dan dibentengi. Tidak ada tempat untuk cinta.
Gejala dan masalah yang diungkapkan oleh pengarang melalui karyanya tidak lepas dari masalah psikologis atau kejiwaan yang mengiringi kehidupannya dan wanita-wanita di Riyadh. Pembaca juga dapat mengetahui konflik yang terjadi pada diri seseorang yang tidak menutup kemungkinan konflik itu akan terjadi pada dirinya nanti. Masalah kejiwaan ini sering disamakan dengan ilmu kepribadian atau psikologi.
Karakter atau perwatakan merupakan salah satu dari kepribadian seseorang yang dibawa sejak lahir. Karakter atau perwatakan hanya dapat diketahui melalui psikologi seseorang. Baik itu dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam sebuah karya sastra. Apalagi novel ini ditulis berdasarkan kisah nyata yang dialami teman-teman si pengarang. Kisah mereka tergambar secara gamblang dalam novel ini. Cara pengarang mengungkapkan segala tingkah laku atau psikologis tokoh-tokoh dalam karangannya membuat daya tarik tersendiri pada novel The Girls of Riyadh sehingga, menjadikan novel The Girls of Riyadh sebagai International Bestseller. Untuk itu penulis tertarik meneliti Konflik Batin Tokoh pada Novel The Girls of Riyadh karya Rajaa Al Sanea.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk menganalisis lebih lanjut novel yang berjudul The Girls of Riyadh karya Rajaa Al Sanea, dan hal ini penulis tuangkan dalam sebuah karya ilmiah dengan judul penelitian: “Konflik Batin Tokoh pada Novel The Girls of Riyadh karya Rajaa Al Sanea.”
1.2 Permasalahan
Memahami sebuah karya sastra, pembaca harus menguasai beberapa aspek yang terkandung di dalamnya, salah satunya adalah konflik. Novel merupakan pengungkapan dari fragmen kehidupan manusia di mana terjadi konflik-konflik yang akhirnya menyebabkan terjadinya perubahan jalan hidup antara para pelakunya. Dalam menentukan tindakan dan peran tokoh dalam cerita, seorang sastrawan harus mempertimbangkan peran tokoh itu agar dapat diterima oleh masyarakat luar. Dalam hal ini peranan konflik batin (psikologis) yang melatarbelakangi perubahan karakter tokoh sangat menentukan. Analisis konflik batin (psikologis) dapat ditinjau dari sudut pandang pengarang atau pembacanya.
Dari cabang psikologis, psikoanalisis inilah membagi teori adanya dorongan bawah sadar yang mempengaruhi tingkah laku manusia. Pelopor psikoanalisis ini adalah Sigmund Freud. Teori tersebut berhubungan dengan seluk–beluk manusia, yaitu The Id (Das Es), The Ego (Das Ich), The Superego (Das Ueber Ich).
Id merupakan watak dasar yang ada pada setiap manusia sejak lahir (alam bawah sadar) terdapat naluri-naluri bawaan (seksual dan agresif). Id merupakan dunia batin dan subjektif yang dibawah sejak lahir oleh individu tersebut. Ada aspek lain yang perlu menghubungkan pribadi tersebut dengan dunia objektif yaitu ego.
Ego adalah segi kepribadian yang harus tunduk pada id dan harus mencari dalam realitas apa yang dibutuhkan. Ego bekerja berdasarkan prinsip realitas (reality principle) artinya ia dapat menunda pemuasan diri atau mencari bentuk
pemuasan lain yang lebih sesuai dengan batasan lingkungan fisik maupun sosial. Dengan demikian ego adalah segi kepribadian yang dapat membedakan antara khayalan dan kenyataan serta mau menanggung ketegangan dalam batas tertentu.
Sedangkan superego merupakan kumpulan sistem nilai, norma, dan etika yang sejalan dengan tatanan masyarakat. Superego dapat pula dianggap sebagai aspek moral kepribadian, fungsinya menentukan apakah sesuatu itu baik atau buruk, benar atau salah, pantas atau tidak, sesuai dengan moralitas yang berlaku di masyarakat. Jadi superego itu cenderung untuk menentang baik id maupun ego dan membuat dunia menurut konsepsi yang ideal.
Adapun rumusan masalah yang akan penulis teliti dalam novel Rajaa Al Sanea ini, yaitu: Bagaimanakah konflik batin tokoh pada novel The Girls of Riyadh karya Rajaa Al Sanea?
1.3 Pembatasan Masalah
Masalah yang diangkat dalam penelitian ini perlu dibatasi agar tidak terjadi kekacauan, serta lebih memfokuskan permasalahan. Berdasarkan uraian di atas, penulis membatasi serta memfokuskan masalah dalam penelitian ini yaitu membahas tentang konflik batin empat tokoh pada novel The Girls of Riyadh karya Rajaa Al Sanea yang dominan dengan id, ego, dan superego.
1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan masalah yang bertitik tolak dari uraian di atas maka tujuan penelitian ini adalah:
a. Mendeskripsikan konflik batin yang berkenaan dengan id pada watak tokoh pada novel The Girls of Riyadh karya Rajaa Al Sanea.
b. Mendeskripsikan konflik batin yang berkenaan dengan ego pada watak tokoh pada novel The Girls of Riyadh karya Rajaa Al Sanea.
c. Mendeskripsikan konflik batin yang berkenaan dengan superego pada watak tokoh pada novel The Girls of Riyadh karya Rajaa Al Sanea.
1.5 Manfaat Penelitian
Penelitian ini mempunyai manfaat baik secara praktis, didaktis maupun teoretis. Secara praktis, penelitian ini bermanfaat untuk menambah dan memperluas ilmu pengetahuan penulis khususnya mengenai masalah psikologis dalam karya sastra. Secara didaktif, penelitian ini memberikan suatu sumbangan pemikiran yang bermanfaat bagi dunia pengetahuan, khususnya pengajaran bahasa dan sastra Indonesia. Begitu juga secara teoritis yaitu menerapkan dan memperdalam pengetahuan penulis pada metode penelitian.
1.6 Definisi Operasional
Untuk menghindari terjadi kesalahpahaman dalam menafsirkan istilah yang digunakan dalam penelitian ini, maka penulis perlu menjelaskan beberapa istilah yang digunakan.
Konflik batin adalah suatu permasalahan yang berkenaan dengan kejiwaan tokoh dalam karya sastra karena dianggap sebagai hasil dari proses kejiwaan sehingga perlu diteliti bagaimana jiwa tokoh berproses dalam melahirkan
tindakan-tindakan id, ego, dan superego. Tokoh adalah sosok individu atau pelaku yang hadir, bertingkah laku, bersikap dan mengalami bentuk peristiwa yang terjadi dalam sebuah cerita. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa, Konflik Batin Tokoh pada Novel The Girls of Riyadh karya Rajaa Al Sanea yang dimaksud dalam penelitian ini adalah temuan yang diperoleh atas analisis masalah yang berkaitan dengan kejiwaan tokoh melalui tindakan-tindakan id, ego, dan superego dalam novel The Girls of Riyadh karya Rajaa Al Sanea.
BAB II
TINJAUAN TEORETIS
Bab ini menguraikan tentang : (1) psikologi sastra, (2) konflik batin tokoh, (3) penelitian yang relevan.
2.1 Psikologi Sastra
Psikologi sastra merupakan suatu pendekatan yang mempertimbangkan
segi-segi kejiwaan dan menyangkut batiniah manusia. Ahmadi, (2003:1) menjelaskan, “Psikologi artinya ilmu yang mempelajari tentang jiwa, baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya, maupun latar belakangnya.” Novel merupakan cerita berbentuk prosa yang panjang dan mengandung rangkaian cerita yang menonjolkan watak dan sifat pelaku. Karya sastra yang baik sudah sewajarnya memuat unsur psikologis, karena keduanya saling mempengaruhi. Psikologis yang terkandung dalam sebuah karya sastra semakin mempertinggi nilai estetik karya sastra.
Psikologis dalam sastra merupakan cara mempelajari tingkah laku tokoh yang terdapat dalam karya satra. Dengan psikologis, pembaca dapat menelusuri keadaan jiwa tokoh yang ada dalam karya sastra itu. Jiwa adalah daya hidup rohaniah yang bersifat abstrak yang menjadi penggerak dan pengatur perbuatan-perbuatan pribadi (personal behavior) dari hewan dan manusia. Perbuatan pribadi ialah perbuatan sebagai hasil proses belajar yang dimungkinkan oleh keadaan jasmani, rohaniah, sosial, dan lingkungan.
Secara umum psikologis diartikan ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala jiwa manusia karena para ahli jiwa mempunyai penekanan yang berbeda-beda. Dalam artian singkat psikologis diartikan ilmu yang mempelajari tentang jiwa baik mengenai macam-macam gejalanya, prosesnya maupun latar belakangnya. Rumusan di atas menegaskan bahwa psikologi merupakan studi ilmiah tentang dasar-dasar atau pokok-pokok perilaku. Banyak penulis yang berusaha memahami karya sastra dengan bantuan psikologis yang merujuk pada proses jiwa atau mental. Karena didorong oleh cara seperti itu muncullah pendekatan psikologis dalam telaah atau peneliti sastra.
Beberapa tokoh psikologis terkemuka seperti Freud, Hilgard, Ruch memberikan inspirasi yang banyak tentang pemecahan misteri tingkah laku manusia melalui teori-teori psikologis. Tetapi, diantara mereka Freud yang secara langsung membicarakan tentang proses penciptaan seni sebagai akibat tekanan dan timbunan masalah di alam bawah sadar yang disublimasikan ke dalam bentuk penciptaan karya seni.
Masalah penokohan adalah masalah bagaimana membangun dan mengembangkan watak-watak tokoh dalam sebuah karya sastra. Jalil dan Elmustian (2004:63) mengungkapkan bahwa, “Perwatakan atau penokohan adalah pelukisan tokoh/pelaku cerita melalui sifat-sifat, sikap dan tingkah lakunya dalam cerita”. Manusia yang menjadi tokoh dalam cerita fiksi dapat berkembang perwatakannya baik segi fisik maupun mental.
Dalam rangka pengkajian terhadap aspek psikologis atau konflik batin tokoh pada novel The Girls of Riyadh karya Rajaa Al Sanea. Peneliti mengambil
pokok-pokok teori Freud mengenai kepribadian. Karena dalam teori ini Sigmund Freud ini banyak mengkaji tentang kepribadian yang terdiri dari tiga sistem yaitu, das es, das ich, dan ueber ich.
Ajaran-ajaran Freud di atas, dalam dunia psikologi lazim disebut sebagai psikoanalisa, yang menekankan penyelidikannya pada proses kejiwaan dalam ketidaksadaran manusia. Dalam ketidaksadaran inilah menurut Freud berkembang insting hidup yang paling berperan dalam diri manusia yaitu insting seks, dan selama tahun-tahun pertama perkembangan psikoanalisa, segala sesuatu yang dilakukan manusia dianggap berasal dari dorongan ini.
Menurut Freud (Suryabrata, 2003:124) struktur kepribadian terdiri dari tiga sistem yaitu:
a. Das Es (the id) yaitu aspek biologis b. Das Ich (the ego) yaitu aspek psychologis
c. Das Ueber Ich (the super ego) yaitu aspek sosiologis
Dari pendapat Freud di atas, perilaku manusia pada hakikatnya merupakan hasil interaksi substansi dalam kepribadian manusia id, ego, dan superego yang ketiganya selalu bekerjasama, jarang salah satu di antaranya terlepas atau bekerja sendiri walaupun fungsi serta peranannya masing-masing berbeda. Oleh sebab itu, apabila ketiga aspek ini tidak saling mengontrol satu sama lain atau tidak seimbang maka berakibat pada gangguan kejiwaan pada individu tersebut.
Jadi dari ketiga aspek id, ego, dan superego akan menentukan siapa dan bagaimana individu tersebut. Pokok-pokok teori Freud mengenai kepribadian dapat diringkas dalam bentuk struktur kepribadian yaitu terdiri atas tiga aspek diantaranya:
2.1.1 Id (Das Es)
Teori Sigmund Freud diawali dengan mengemukakan asumsi bahwa dorongan utama pada hakikatnya berada pada id, senantiasa muncul pada setiap perilaku. Id dikenal sebagai insting pribadi dan merupakan dorongan asli yang dibawa sejak lahir. Id merupakan sumber kekuatan insting pribadi yang bekerja atas dasar prinsip kenikmatan yang pada proses berikutnya akan memunculkan kebutuhan dan keinginan.
Id merupakan dunia batin atau subjektif yang dibawa sejak lahir oleh individu. Dari aspek inilah kedua aspek yang lain muncul. Id berisikan hal-hal yang dibawa sejak lahir, termasuk insting-insting. Ciri-ciri watak primitif pada watak kepribadian ini adalah kasar, beringas, tidak mau diatur, tidak taat norma, dan hukum. Bertolak dari watak primitif yang demikian, wajar kalau id tidak terikat oleh larangan serta aturan yang berlaku dalam masyarakat. Id cenderung menghendaki penyaluran atau pelampiasan untuk setiap keinginan, yang jikalau tertahan atau tersumbat akan mengalami ketegangan.
Oleh sebab itu, yang dikenal id adalah prinsip kesenangan (the pleasure principle) dan ia akan menyalurannya dengan cara impulsif, irasional serta narsistik dengan tanpa mempertimbangkan akibat atau konsekuensi. Das es atau aspek biologis dari kepribadian ini adalah aspek yang orisinal di dalam kepribadian. Dari aspek inilah kedua aspek yang lain tumbuh. Jadi yang menjadi pedoman dalam berfungsinya id ialah menghindari diri dari ketidak enakan dan
mencapai kenikmatan. Pedoman ini disebut Freud “prinsip kenikmatan” atau “prinsip keenakan” (Suryabrata, 2003:125).
Id mempunyai dua cara (alat proses) untuk menghilangkan ketidak enakan dan mencapai kenikmatan, yaitu yang pertama refleks atau reaksi-reaksi otomatis, seperti bersin, berkedip, dan sebagainya. Sedangkan yang kedua adalah proses primer, seperti orang lapar membayangkan makanan. Dan untuk mewujudkan kenikmatan itu maka ada aspek lain yang perlu menghubungkan pribadi tersebut dengan dunia nyata yaitu ego.
2.1.2 Ego (Das Ich)
Berlainan dengan id yang dikuasai oleh prinsip kesenangan, ego dikuasai oleh prinsip kenyataan (reality principle). Tujuan prinsip kenyataan adalah untuk menangguhkan peredaan energi sampai benda nyata yang akan memuaskan telah ditemukan atau dihasilkan. Penangguhan suatu tindakan berarti bahwa ego harus dapat menahan ketegangan sampai ketegangan itu dapat diredakan dengan suatu bentuk kelakuan yang wajar.
Ego adalah komponen kepribadian yang praktis dan rasional. Berdasarkan egonya manusia mencari kepuasan dan kenikmatan berdasarkan kenyataan. Bisa disebut ego adalah komponen kepribadian yang mewakili kenyataan dan berfungsi sebagai penghambat munculnya dorongan id secara bebas. Dengan demikian tugas ego adalah menyeimbangkan pertentangan yang terjadi antara id dan tuntutan sosial.
Ego merupakan perantara antara kebutuhan-kebutuhan dengan keadaan lingkungan sekaligus mengontrol kebutuhan-kebutuhan yang mana yang akan dipuaskan dan bagaimana caranya. Dengan demikian ego adalah segi kepribadian yang dapat membedakan antara khayalan dan kenyataan serta mau menanggung ketegangan dalam batas tertentu. Tepatnya, ego adalah pengontrol id. Contoh nyata dari ego adalah peraturan. Semua peraturan yang dibuat adalah untuk mencegah manusia menjadi liar dan tak terkontrol.
2.1.3 Super Ego (Das Ueber Ich)
Superego dapat pula dianggap sebagai aspek moral kepribadian, fungsinya menentukan apakah sesuatu itu baik atau buruk, benar atau salah, pantas atau tidak, sesuai dengan moralitas yang berlaku di masyarakat. Jadi das ueber ich itu berisi dua hal, yaitu “conscientia” dan “ich ideal.” Conscientia prinsipnya menghukum orang dengan memberikan rasa dosa. Sedangkan ich ideal prinsipnya menghadiahi orang dengan rasa bangga akan dirinya.
Adapun fungsi pokok daripada das ueber ich dapat kita lihat dalam hubungan dengan ketiga aspek dari kepribadian itu:
a. Merintangi dorongan-dorongan id, terutama dorongan-dorongan seksual dan agresif yang sangat ditentang oleh masyarakat.
b. Mendorong ego untuk lebih mengejar hal-hal yang irealistis daripada realistis.
Superego merintangi id terutama dalam masalah seksual agresif, perbuatan-perbuatan asusila lainnya yang melanggar norma-norma dalam masyarakat atau yang tidak sesuai dalam kehidupan masyarakat. Mendorong ego untuk lebih mengejar hal-hal yang moralistis dari pada realistis, dan megejar kesempurnaan (Suryabrata, 2003:148-149). Berdasarkan pendapat Suryabrata dapat disimpulkan bahwa superego cenderung untuk menentang id maupun ego dan membuat konsepsi yang ideal.
Kesimpulan uraian diatas adalah id, ego, dan superego merupakan aspek yang mutlak ada dalam setiap diri individu. Ketiga aspek ini saling berhubungan satu sama lain walaupun fungsi serta peranannya masing-masing berbeda, maka apabila ketiga aspek ini tidak saling mengontrol satu sama lain atau tidak seimbang maka berakibat pada gangguan kejiwaan pada individu tersebut. Jadi dari ketiga aspek ini id, ego, dan superego akan menentukan siapa dan bagaimana individu tersebut serta mencerminkan watak atau karakter individu tersebut.
2.2 Konflik Batin Tokoh
Sebuah cerita, baik cerita pendek (cerpen) maupun panjang (novel) terdiri atas beberapa peristiwa. Peristiwa berhubungan dengan tempat kejadian dan tokoh-tokoh yang terlibat dalam cerita tersebut yang seringkali akan menciptakan sebuah konflik. Menurut Depdiknas (2007:587), “Konflik adalah percekcokan, perselisihan, pertentangan”. Konflik akan timbul apabila ada perbedaan antara keadaan satu dengan yang lain demi mencapai tujuan tertentu.
Keraf (2004:168) membagi konflik atas tiga macam, yaitu:
1. Konflik melawan alam, yaitu suatu pertarungan yang dilakukan oleh seorang tokoh atau manusia secara sendiri-sendiri atau bersama-sama melawan kekuatan alam yang mengancam hidup manusia itu sendiri, 2. Konflik antarmanusia (fisik), yaitu pertarungan seorang melawan
manusia yang lain, seorang melawan kelompok lain yang berkuasa, suatu kelompok melawan kelompok lain,
3. Konflik batin, yaitu suatu pertarungan individual melawan diri sendiri, dalam konflik ini timbul kekuatan yang saling bertentangan dengan batin seseorang, keberanian melawan kedermawanan, dan sebagainya.
Konflik batin juga dikenal dengan konflik internal. Konflik internal adalah konflik yang terjadi di dalam hati, konflik batiniah atau konflik psikologis. Penelitian penulis kali ini lebih menjurus kepada konflik batin yang dialami tokoh pada novel The Girls of Riyadh. Maka dari itu, penulis akan lebih fokus menjelaskan mengenai konflik batin tokoh.
2.2.1 Konflik Batin
Sudah menjadi suratan takdir kalau kehidupan manusia selalu dikelilingi oleh masalah. Masalah yang timbul silih berganti inilah yang menyebabkan adanya konflik. Konflik (masalah) merupakan suatu daya tarik dalam cerita karena adanya masalah-masalah yang muncul dalam cerita itu akan membangkitkan emosi pembaca serta menimbulkan rasa keingintahuan lebih jauh mengenai akhir cerita itu. Pada dasarnya suatu cerita dimulai dengan adanya perkenalan terhadap tokoh-tokoh yang lain melalui dialog-dialog, pertikaian, kemudian mencapai klimaks dan diakhiri dengan adanya penyelesaian dari peristiwa itu.
Daya tarik terhadap sebuah cerita berkaitan dengan konflik-konflik yang yang terdapat dalam cerita tersebut, terutama konflik sang tokoh utama dengan dirinya sendiri. Depdiknas (2007:587), “Konflik batin adalah konflik yang di sebabkan oleh adanya dua gagasan atau lebih atau keinginan yang saling bertentangan untuk menguasai diri sehingga mempengaruhi tingkah laku”. Nurgiyantoro (2007:124) menyatakan konflik internal atau konflik kejiwaan adalah konflik yang terjadi dalam hati atau jiwa seorang tokoh cerita. Jadi ia merupakan konflik yang dialami manusia dengan dirinya sendiri, ia lebih merupakan permasalahan intern seorang manusia. Misalnya, hal itu terjadi akibat adanya pertentangan antara dua keinginan, keyakinan, pilihan yang berbeda, harapan-harapan atau masalah-masalah lainnya.
Setiap konflik yang terjadi merupakan kekuatan dari sebuah cerita. Dalam upaya menarik pembaca, konflik yang disajikan harus realitas dan logis, artinya konflik itu pernah terjadi di dalam masyarakat atau kemungkinan akan terjadi dan dapat diselesaikan dengan cara yang masuk akal. Konflik yang dialami tokoh pada novel The Girls of Riyadh ditulis berdasarkan fakta atau kenyataan yang mereka alami.
Konflik batin erat kaitannya dengan unsur psikologis tokoh yang terdapat dalam setiap cerita. Karya sastra yang baik sudah sewajarnya memuat unsur psikologis karena unsur tersebut akan mempertinggi nilai estetik sebuah karya sastra. Sastra akan terlihat seperti padang tandus bagi pembaca bila di dalamnya tidak dimuat unsur psikologis, karena pada sastra terdapat kehidupan manusia yang penuh dengan proses kejiwaan.
Konflik batin dalam sastra merupakan cara mempelajari tingkah laku tokoh yang terdapat dalam karya sastra. Dengan psikologis, pembaca akan menelusuri keadaan jiwa tokoh yang ada dalam karya sastra itu. Tinjauan dari sudut konflik batin dalam sastra, kita dapat melihat keadaan pengarang di waktu menulis karya sastra dan keadaan jiwa tokoh-tokoh yang ditampilkan pengarang memahami kejiwaan, sikap, hidup dan cara berfikir sastrawan, akan memudahkan kita menemui makna yang tersembunyi dibalik tulisan-tulisan mereka.
2.2.2 Penokohan
Berbicara mengenai konflik batin dalam karya sastra tidak akan lepas dari pembicaraan tokoh dalam karya tersebut. Pembaca dapat mengamati tingkah laku tokoh dalam sebuah novel dengan memanfaatkan pertolongan pengetahuan psikologis. Menurut Minderop (2005:95) perwatakan adalah kualitas nalar dan perasaan para tokoh di dalam sebuah karya fiksi yang dapat mencakup tidak saja tingkah laku atau tabiat dan kebiasaan, tetapi juga penampilan. Untuk menampilkan perwatakan, sudut pandang dengan berbagai teknik pencerita dapat digunakan oleh pengarang dengan menampilkan pencerita atau narator.
Perwatakan merupakan tingkah laku, perbuatan atau sifat sang tokoh cerita. Dalam sebuah cerita pelaku atau tokoh dalam cerita harus bisa berperan sesuai dengan ceritanya. Seorang pelaku atau tokoh cerita bisa membawakan lakon dengan baik akan membuat cerita hidup.
Perwatakan merupakan bagian dari penokohan. Untuk mengetahui konflik batin karya sastra maka kita tidak boleh lepas dari pembicaraan tokoh-tokoh karya
sastra tersebut. Masalah penokohan adalah masalah bagaimana membangun dan mengembangkan watak tokoh tersebut dalam sebuah karya sastra. Selain itu menurut Hamidy, (1983:25) watak-watak pelaku dalam cerita fiksi dapat diamati melalui beberapa cara yaitu:
a. Melalui uraian sang pengarang yang melukiskan keadaan tokoh-tokohnya dengan menyebutkan sifat-sifat jasmani dan rohaninya. b. Perwatakan pelaku dalam suatu cerita dapat pula diketahui melalui
tindakan-tindakannya, terutama dalam hubungannya dengan tokoh lain atau dalam reaksinya terhadap sesuatu keadaan di sekitarnya.
c. Jalan pikiran sang tokoh yang dilukiskan oleh pengarang juga dapat memberitahukan kepada kita bagaimana watak sang tokoh itu.
d. Pengarang karya fiksi juga dapat melukiskan watak-watak pelaku dalam ceritanya dengan cara melukiskan keadaan tempat tinggal sang tokoh.
e. Penilaian pelaku-pelaku lain terhadap seseorang tokoh dalam suatu cerita, juga memberi petunjuk kepada kita mengenai perwatakan seorang tokoh.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam menyajikan watak tokoh, ada beberapa cara ditempuh pengarang. Ada kalanya pengarang melalui penceritaan dan mengisahkan sifat-sifat tokoh, hasrat, pikiran, dan perasaannya. Kadang-kadang memberikan komentar setuju atau tidak setuju akan sifat-sifat tokoh tersebut.
Menurut Hamidy (dalam Jalil dan Elmustian, 2004:83) pembahasan sistematik hubungan antar tokoh merupakan pendekatan yang memperhatikan secara bulat cerita itu. Menekankan aspek kaitan antar tokoh dengan latar belakang watak dan peristiwa sebagai unsur yang menyebabkan adanya jalinan hubungan antar tokoh. Untuk melihat hubungan antar tokoh tersebut dalam suatu sistematik cerita, hendaklah menggunakan sejumlah tanda penghubung dan keadaan, di antaranya ialah:
a. Garis lurus ( ) = berkenalan, bertemu atau berhadapan. b. Garis panah timbal-balik ( ) = mereka saling mencinta. c. Dua garis lurus ( ) = kawin atau berkumpul kembali. d. Garis putus-putus ( ) = hubungan itu putus atau terganggu.
e. Tanda panah ( ) = diganggu, ditarik atau ditekan oleh sesuatu.
f. Tanda panah berlawanan ( ) = bercerai atau berpisah. g. Tanda ( X ) = meninggal.
h. Dua panah ( ) = dibunuh oleh sesuatu.
Berdasarkan penjelasan tersebut, jelas sudah bahwa dalam sebuah cerita akan ditemui beberapa tokoh-tokoh yang menjadi tokoh utama dan tokoh sampingan. Menurut Depdiknas (2007:1203), “Tokoh utama adalah peran utama di dalam cerita rekaan atau drama. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa tokoh utama dalam karya sastra adalah sosok yang benar-benar mengambil peran dalam cerita tersebut. Tokoh utama juga disebut tokoh sentral yaitu tokoh yang banyak mengalami peristiwa dalam cerita. Tokoh sentral dibedakan menjadi dua, yaitu tokoh sentral protagonis dan tokoh sentral antagonis. Tokoh sentral protagonis adalah tokoh yang membawakan perwatakan positif atau menyampaikan nilai-nilai positif. Tokoh sentral antagonis adalah tokoh yang membawakan perwatakan yang bertentangan dengan protagonis atau menyampaikan nilai-nilai negatif. Adapun yang dimaksud dengan tokoh sampingan (tokoh bawahan) adalah tokoh yang tidak sentral kedudukannya di dalam cerita, tetapi kehadirannya sangat menunjang atau mendukung tokoh utama.
Menurut Panuti Sudjiman (dalam Jalil dan Elmustian, 2004:66) dalam melukiskan tokoh-tokoh rekaan yang dikenalnya, pengarang menggunakan metode penokohan yaitu 1) metode analisis, 2) metode dramatik, dan 3) metode kontekstual. Metode analisis memaparkan secara langsung sifat-sifat (fisik) dan
sifat batin (perasaan, hasrat, pikiran) tokoh cerita. Contohnya dapat di lihat dari petikan novel The Girls of Riyadh (Rajaa Al Sanea, 2008:98) berikut ini:
Dengan kostum baru yang dikenakan sekarang, Shedim benar-benar tampil dengan dirinya seutuhnya. Badan ramping dan leher jenjang, rambut hitam bergelombang, dan muka yang nyaris sempurna; bibir tipis yang dipoles lipstik berwarna serasi dengan bajunya, alis mata yang semakin hitam dengan polesan pensil, dan mata jernih yang putih nan bening. Fisik Shedim memang perpaduan potensi alami anugerah Tuhan dan kemampuan merawat dan mempercantik diri.
Metode dramatik adalah cara pelukisan watak dengan tidak langsung. Metode ini menyajikan watak tokoh melalui pemikiran, percakapan, dan lakuan tokoh yang disajikan pengarang. Bahkan dapat pula dari penampilan fisiknya serta dari gambaran lingkungan atau tempat tokoh. Contohnya dapat di lihat dari petikan novel The Girls of Riyadh (Rajaa Al Sanea, 2008:141-142) berikut ini:
“Shut up!” Qamrah mulai angkat bicara. “You take my husband! Kamu perempuan tidak beradab telah merampas suami orang. Setelah menghancurkan semuanya, kini kamu datang kepadaku dengan ceramah memuakkan. Demi Allah, aku tidak akan ikhlas. Aku yakin kamu tahu apa yang harus kamu lakukan!” Qamrah mengungkapkan dalam bahasa Inggris yang terputus-putus.
Metode kontekstual menggunakan bahasa mengacu kepada si tokoh untuk menggambarkan perwatakannya. Metode ini menyajikan watak tokoh melalui gaya bahasa yang dipakai pengarang. Yang dimaksud gaya bahasa pengarang adalah cara pengarang menceritakan tokoh tersebut, jadi bukan gaya bahasa atau kata-kata yang dipakai oleh tokoh tersebut dalam bercerita. Contohnya dapat di lihat dari petikan novel The Girls of Riyadh (Rajaa Al Sanea, 2008:18) berikut ini:
Sementara itu, Michelle berusaha menemukan respon kepuasan yang tertunda dari wajah kaum Adam. Dia benar-benar tidak memedulikan cibiran dan sorot mata kaum Hawa yang ingin membakarnya. Dia begitu larut dengan kelebihannya.
Sebagaimana dikemukakan di atas, penulis menyimpulkan bahwa konflik batin yang terjadi pada tokoh dapat dilihat dari berbagai metode yang menonjolkan watak tokoh tersebut dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Selain itu, penulis juga bisa menentukan aspek psikologis yang mempengaruhi terjadinya konflik batin tokoh pada novel The Girls of Riyadh karya Rajaa Al Sanea. Tidak dapat dipungkiri bahwa psikologis seseorang dipengaruhi karena adanya konflik, khususnya konflik batin yang dialaminya dan hal tersebut juga dapat merubah watak seseorang.
2.3 Penelitian yang Relevan
Kajian novel The Girls of Riyadh karya Rajaa Al Sanea ini, peneliti menitik beratkan pada konflik batin tokoh yang berkenaan dengan aspek psikologis dalam teks novel tersebut. Penelitian pada novel ini sepengetahuan penulis belum pernah diteliti, namun kalau konflik batin tokoh utama dalam novel “Ayat-Ayat Cinta” sudah pernah di teliti Tresnawati (2007). Peneliti ini menitik beratkan pada konflik bebas dan konflik terikat yang dialami tokoh utama pada novel yang dibahas. Sedangkan, Siti Aisah (2009) meneliti teknik pemunculan konflik dalam kumpulan cerpen “Dari Seberang Perbatasan Dan Cerita-Cerita Lainnya”. Peneliti ini menitik beratkan pada teknik pemunculan konflik yang disebabkan oleh faktor eksternal dan internal. Persamaan dalam dua penelitian sebelumnya adalah sama-sama meneliti konflik pada sebuah karya sastra berbentuk prosa. Adapun perbedaannya adalah peneliti lebih menjurus kepada konflik batin tokoh yang berkenaan dengan aspek psikologis pada sebuah novel.
Sepengetahuan penulis nilai-nilai psikologi pada kumpulan cerpen “Mereka Bilang Saya Monyet” sudah pernah diteliti Helena Desnawita Prabawati (2009). Peneliti ini menitik beratkan penelitiannya pada semua tokoh yang ada pada novel yang dibahas. Hasil penelitian Helena Desnawita Prabawati menyatakan bahwa masing-masing tokoh berbeda hasil analisis psikologisnya, ada yang berat dan ada yang ringan, ada yang mampu menyelesaikan masalah sendiri dan ada yang tidak. Perasamaan dalam penelitian sebelumnya adalah sama-sama meneliti tentang psikologis para tokoh pada sebuah karya sastra berbentuk prosa. Adapun perbedaan dalam penelitian ini ialah penelitian sebelumnya membahas pada kumpulan cerpen “Mereka Bilang Saya Monyet” yang merupakan prosa asli Indonesia sebagai objek penelitiannya, sedangkan peneliti saat ini objek penelitiannya menggunakan sebuah novel The Girls of Riyadh karya Rajaa Al Sanea yang merupakan novel International Bestseller yang berasal dari Arab Saudi.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini menguraikan hal-hal yang berkaitan dengan : (1) waktu penelitian, (2) metode penelitian, (3) subjek penelitian, (4) teknik pengumpulan data, (5) teknik analisis data (6) keabsahan.
3.1 Waktu Penelitian
Waktu penelitian ini dimulai dengan mengajukan judul. Selanjutnya, setelah judul diterima, penulis melaksanakan penyusunan proposal. Untuk lebih jelasnya mengenai waktu penelitian ini, dapat dilihat pada tabel di bawah:
TABEL 3.1
WAKTU PENELITIAN
No. Jenis Kegiatan
Waktu Maret 2011 April 2011 Mei 2011 Juni 2011 Juli 2011 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Pengajuan judul Penyusunan proposal Revisi proposal Seminar proposal Pengumpulan data Pengolahan data Seminar hasil Revisi skripsi Ujian skripsi x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x
3.2 Metode Penelitian
Setiap melakukan penelitian, penulis perlu menetapkan suatu metode penelitian. Metode adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan tertentu. Metode yang dipakai harus sesuai dengan judul penelitian dan masalah yang dibahas.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif melalui studi pustaka. Metode deskriptif adalah suatu metode yang mendeskripsikan data atau menggambarkan isi novel. Yaitu dengan menggunakan pendekatan yang difokuskan pada pemahaman isi, pesan atau gagasan yang ditulis pengarang. Hasil penelitian ini ditulis dalam bentuk identifikasi data serta hasil penelitian diperoleh dari penelitian yang dijelaskan secara rinci, dan disampaikan sesuai kenyataan yang sebenarnya dengan cara pendeskripsian.
3.3 Subjek Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian, maka penulis menetapkan subjek penelitian yaitu konflik batin pada novel The Girls of Riyadh karya Rajaa Al Sanea.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang dipakai dalam mengumpulkan data ini adalah dokumentasi atau kepustakaan. Arikunto (2006:231) menyatakan, teknik dokumentasi adalah suatu teknik pengumpulan data dengan membaca buku-buku yang ada kaitannya dengan permasalahan yang diteliti. Teknik ini dioperasionalkan dengan mengumpulkan data yang relevan dengan masalah penelitian. Semua yang
berkaitan dengan masalah pokok penelitian ini ditelaah secara cermat sehingga diperoleh data penelitian. Setiap data yang diperlukan disajikan dalam tulisan ini, sebagai bahan analisis untuk menjawab permasalahan penelitian.
3.5 Teknik Analisis Data
Untuk menganalisis data penulis menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Mengidentifikasi dan mengklasifikasikan data berdasarkan aspek psikologis yang berkenaan dengan id, ego, dan superego yang terdapat pada novel The Girls of Riyadh karya Rajaa Al Sanea.
b. Mendeskripsikan konflik batin yang berkenaan dengan id pada watak tokoh pada novel The Girls of Riyadh karya Rajaa Al Sanea.
c. Mendeskripsikan konflik batin yang berkenaan dengan ego pada watak tokoh pada novel The Girls of Riyadh karya Rajaa Al Sanea.
d. Mendeskripsikan konflik batin yang berkenaan dengan superego pada watak tokoh pada novel The Girls of Riyadh karya Rajaa Al Sanea. e. Membuat simpulan dari data yang diperoleh.
3.6 Keabsahan
Agar data yang diperoleh dalam penelitian tidak bersifat subjektif, maka teknik pemeriksaan keabsahan data sangat perlu dilakukan dalam sebuah penelitian kualitatif. Untuk menguji keabsahan data penulis menggunakan teknik triangulasi. Menurut Moleong (1998:178), “Triangulasi adalah suatu teknik
pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang di luar data itu untuk keperluan pengecekkan atau berbagai perbandingan terhadap data”. Berdasarkan pendapat Maleong, penulis menggunakan triangulasi yang memanfaatkan beberapa teori yang bersumber dari buku-buku dan internet yang memiliki hubungan dengan penelitian ini. Selain itu, untuk menjaga keobjekvitasian penelitian, penulis juga menggunakan triangulasi kepada teman sejawat yang mengerti tentang konflik batin pada tokoh utama, khususnya dalam novel The Girls of Riyadh karya Rajaa Al Sanea.
BAB IV
PEMBAHASAN
Bab ini menguraikan tentang : (1) konflik batin tokoh pada novel The Girls Of Riyadh karya Rajaa Al Sanea, (2) identifikasi data konflik batin tokoh pada novel The Girls Of Riyadh karya Rajaa Al Sanea, (3) konflik batin tokoh pada novel The Girls Of Riyadh karya Rajaa Al Sanea yang berkenaan dengan aspek psikologis.
4.1 Konflik Batin Tokoh pada Novel The Girls Of Riyadh karya Rajaa Al
Sanea
Tokoh-tokoh dalam novel The Girls Of Riyadh ini memiliki masalah yang harus mereka hadapi akibat dari kultur yang ada dalam masyarakat mereka. Saudi bukanlah satu-satunya negara Islam di dunia. Mesir adalah negara Islam, tetapi Mesir memberikan kebebasan dalam berkehidupan beragama dan sosial kemasyarakatannya. Perbedaan itu dikarenakan Saudi adalah satu-satunya negara yang menerapkan hukum syariat ke dalam semua sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Novel ini membuka hal-hal yang tabu bagi wanita untuk dibicarakan, dipikirkan bahkan dilaksanakan. Gejala dan masalah yang diungkapkan oleh pengarang melalui karyanya tidak lepas dari masalah psikologis atau kejiwaan yang mengiringi kehidupannya dan wanita-wanita di Riyadh.
Sebuah karya sastra tentunya memiliki alur atau jalinan peristiwa yang mengubah kehidupan para tokoh yang terdapat pada karya tersebut. Dari sekian
banyaknya alur yang terjadi, tentunya ada beberapa alur yang menjadi pedoman atau alur utama yang terdapat pada sebuah prosa. Berikut adalah empat sistematik alur yang berpengaruh dalam mengubah kehidupan para tokohnya:
SISTEMATIK ALUR I
Pola Konflik Batin Tokoh Qamrah pada Novel The Girls Of Riyadh
Tokoh
Tahapan Konflik Batin Pelukisan Latar dan Tokoh Pemunculan Konflik Peningkatan
Konflik Klimaks Penyelesaian
Qamrah
Rasyid
Karey
Ket: ( ) = berkenalan atau bertemu ( ) = mereka saling mencintai
( ) = menikah atau berkumpul ( ) = hubungan terganggu ( ) = ditekan oleh sesuatu
( ) = berpisah atau bercerai
( X ) = meninggal
Pada novel The Girls Of Riyadh terlihat Rajaa Al Sanea mempertemukan tokoh utama bernama Qamrah dengan tokoh pendamping bernama Rasyid pada tahap pelukisan latar dan tokoh. Pada tahap tersebut mereka bertemu untuk ditunangkan tanpa pernah bertemu dan berkenalan sebelumnya. Inilah tradisi yang
ada di Riyadh, dimana calon suami tidak boleh menemui calon istrinya sebelum peresmian pertunangan. Dua minggu setelah itu pesta pernikahan merekapun digelar. Peristiwa pertemuan dan pernikahan ini berlanjut kepada peristiwa-peristiwa lain yang mendukung semakin dekatnya hubungan antartokoh tersebut.
Pada tahap pemunculan konflik, Rajaa Al Sanea memunculkan peristiwa yang mengganggu hubungan suami istri tersebut. Qamrah dan suaminya tinggal di Chicago, di lingkungan baru tersebut Qamrah merasa sangat tidak nyaman dalam berkomunikasi menggunakan bahasa asing dan di penuhi rasa kekhawatiran. Selain itu, Rasyid yang selalu sibuk dengan penelitian disertasinya selalu tidak punya waktu untuk istrinya. Ketidakpedulian Rasyid kepada Qamrah membuat istrinya itu hanya bisa bersabar dalam menghadapi semua. Hal yang semakin membuat Qamrah sedih dan tertekan adalah suaminya tidak pernah menyentuhnya lagi sejak malam terakhir yang menjemukan di Roma saat mereka berbulan madu. Saat Qamrah mencoba untuk lebih agresif memanjakan suaminya, suaminya justru marah dan meninggalkan istrinya yang menangis memohon maaf atas kesalahan yang tidak diketahuinya.
Pada tahap peningkatan konflik, Rajaa Al Sanea memperjelas penyebab sikap Rasyid yang tidak mempedulikan Qamrah dan memaksanya meminum pil anti hamil. Saat Qamrah sedang berusaha belajar komputer, secara tidak sengaja dia membuka folder dan menemukan foto suaminya dengan seorang wanita. Di dalam foto tersebut suaminya dan wanita itu terlihat sangat mesra. Berbagai prasangka buruk singgah di hati dan pikiran Qamrah. Lalu dia mencari-cari
informasi tentang wanita itu. Setelah menelepon wanita itu merekapun bertemu di suatu tempat.
Pada bagian klimaks, semua emosi Qamrah yang tertahan semakin mencapai puncaknya saat wanita yang menjadi selingkuhan suaminya itu menekan Qamrah secara halus dengan menceramahi Qamrah untuk mempercantik diri luar dan dalam dan mempersembahkan yang terbaik untuk Rasyid. Mendengar perkataan wanita itu, Qamrah yang sedari tadi menahan emosi mulai angkat bicara dengan mencaci dan menghina wanita itu dalam bahasa Inggris yang terputus-putus. Wanita itu bukannya merasa malu, dia malah semakin menunjukkan keangkuhannya dengan menelepon Rasyid agar datang. Pertemuan mereka bertiga di tempat itu semakin membuat suasana menjadi panas. Rasyid marah kepada istrinya itu dan lebih membela Karey. Semakin suaminya membela wanita itu semakin tidak terbendung lagi emosi Qamrah. Qamrah mencaci perempuan jalang yang telah merebut suaminya itu dan sebuah tamparan mendarat di pipi Qamrah. Setelah menampar Qamrah, Rasyid menjelaskan siapa wanita itu dan bagaimana hubungan mereka selama ini. Qamrah yang mencoba mempertahankan pernikahan mereka dengan mengatakan bahwa sekarang dia tengah hamil malah mendapat tamparan kedua. Bukannya senang dengan berita itu, Rasyid malah marah dan meninggalkan Qamrah dan beralih kepelukan Karey.
Pada tahap penyelesaian Rasyid memutuskan untuk menceraikan Qamrah, dia tidak peduli dengan anak yang tengah dikandung istrinya itu. Qamrah hanya bisa menangis dengan semua keputusan itu. Hatinya sangat sakit dengan
pengkhianatan suaminya itu dan statusnya sekarang sebagai janda yang tengah hamil semakin membuatnya tertekan.
SISTEMATIK ALUR II
Pola Konflik Batin Tokoh Shedim pada Novel The Girls Of Riyadh
Tokoh
Tahapan Konflik Batin Pelukisan Latar dan Tokoh Pemunculan Konflik Peningkatan
Konflik Klimaks Penyelesaian
Shedim Walid Shedim Faraz Keluarga Faraz
Ket: ( ) = berkenalan atau bertemu ( ) = mereka saling mencintai
( ) = menikah atau berkumpul ( ) = hubungan terganggu ( ) = ditekan oleh sesuatu
( ) = berpisah atau bercerai
( X ) = meninggal
Pada novel The Girls Of Riyadh konflik batin yang dialami Shedim terbagi menjadi dua bagian utama. Pada bagian pertama terlihat Rajaa Al Sanea pada
tahap pertama ini, hanya melukiskan keadaaan latar dan tokoh utama dalam cerita. Kemudian, pada tahap pemunculan masalah, Rajaa Al Sanea mempertemukan Shedim dengan seorang pelamar. Di antara para pelamar itu terdapat seorang pemuda bernama Walid. Walid merupakan sarjana komunikasi, pegawai eselon dua dan berasal dari keluarga saudagar yang sukses di Saudi. Setelah pertemuan pertama mereka, Walid meminta izin kepada ayah Shedim untuk diperkenankan mengenal gadis itu lebih lanjut sebelum mengajukan lamaran yang sesungguhnya. Komunikasi mereka lewat telepon sangat lancar, bahkan hampir puluhan kali ponsel Shedim berdering dalam sehari. Tak berapa lama akhirnya Shedim bertunangan dengan Walid. Pada minggu-minggu berikutnya Walid semakin sering mengunjungi gadis itu, hal yang tidak pernah dilakukannya sebelum mereka bertunangan.
Pada tahap peningkatan konflik, Rajaa Al Sanea membuat situasi dimana Shedim akan melakukan kesalahan terbesarnya. Shedim merupakan mahasiswa yang memiliki daya saing tinggi. Ia selalu ingin menjadi yang terbaik di antara teman-teman sekampusnya, apalagi sebentar lagi ujian di kampusnya akan segera di mulai. Demi tujuan itu ia harus mengalahkan kehendak Walid untuk menikah secepatnya. Untuk itu Shedim berencana membuat Walid menyetujui kehendaknya saat ayahnya tidak berada dirumah. Malam itu Shedim mengenakan baju tidur berwarna hitam yang dibelikan Walid untuknya. Gadis itu menciptakan suasana yang romantis dengan taburan mawar merah di setiap sudut ruangan, lilin-lilin berwarna-warni yang bertebaran dan alunan musik. Shedim berkeyakinan bahwa dia tidak akan mendapatkan kepuasan dan persetujuan
pasangannya bila tidak mempersembahkan dirinya seutuhnya. Setelah Walid pulang, Shedim menunggu telepon dari kekasihnya itu untuk mengetahui responnya setelah kejadian malam itu. Tetapi lamanya penungguan itu hanya sia-sia karena Walid tidak pernah menghubunginya lagi dan bahkan ketika Shedim meneleponnya ponsel lelaki itu selalu tidak aktif. Berbagai kekecewaan, kegundahan, dan pertanyaan semakin mengkristal di hati Shedim.
Pada tahap klimaks, Shedim berusaha menghubungi ibu Walid tetapi hasilnya nihil. Shedim benar-benar binggung. Di tengah kebinggungannya datang selembar surat pembatalan perkawinan dari Walid. Shedim hanya bisa menangis dipangkuan ayahnya tanpa bisa menceritakan kejadian yang sebenarnya. Ayahnya datang kerumah orangtua Walid dengan amarah di dada. Orangtua Walid hanya menyampaikan bahwa anaknya merasa tidak nyaman dan cocok dengan calon istrinya. Pada tahap penyelesaian, Shedim hanya bisa menangis mendengar perpisahan mereka. Shedim menikmati rasa sakit ini dalam kebisuan dan kesunyian, hingga datang musibah kedua. Lebih dari setengah mata kuliah di tahun pertama kemahasiswaannya mengalami kegagalan.
Pada bagian kedua terlihat Rajaa Al Sanea pada tahap pertama ini, hanya melukiskan keadaaan latar dan tokoh utama dalam cerita. Kemudian, pada tahap pemunculan masalah, Rajaa Al Sanea mempertemukan Shedim dengan Faraz saat Shedim berlibur di London. Doktor Faraz al-Syarqawy merupakan penasehat beberapa tokoh terkamuka, seorang diplomat handal, aktif dalam berbagai organisasi dan jaringan sosial, berkepribadian kuat, berpendirian tegas dan tak mudah terpengaruh, memiliki penalaran yang logis dan banyak mencetuskan
berbagai keputusan strategis. Nama besar dan berita tentang prestasi lelaki itu sangat cepat menyebar sekembalinya ia dari London. Fotonya dalam berbagai aktifitas menghiasi banyak halaman surat kabar dan majalah dalam kapasitasnya sebagai staf penasehat di kantor karajaan. Kondisi keluarga Faraz yang sedemikian sederhana semakin membuat kekaguman Shedim bertambah kepadanya. From zero to hero mungkin tepat untuk menggambarkan sosok Faraz. Didalam komplek Masjid Al-Haram, mereka berdua bertemu. Faraz menanyakan apa yang diminta Shedim kepada Allah terkait pada dirinya. Setelah mendengar pengakuan Shedim lelaki itu mulai menunjukkan perubahan sikap dari semata teman menjadi lebih dari teman.
Pada tahap peningkatan konflik, Rajaa Al Sanea memasukkan orang ketiga dalam hubungan mereka. Setelah rentetan kisah kasih dan tahun-tahun panjang yang mereka lalui, Faraz menyampaikan bahwa dirinya telah melamar seorang gadis atas kehendak keluarga besarnya. Faraz menyembunyikan berita lamarannya selama dua minggu terakhir ini. Dua minggu itu adalah masa-masa ujian akhir bagi Shedim. Faraz menyampaikan dalam suratnya bahwa dia menyembunyikan berita lamaran itu sampai memastikan Shedim telah lulus kuliah dengan prestasi terbaik.
Pada tahap klimaks, tiga hari berturut-turut Shedim tidak bisa makan. Setelah seminggu menyendiri di dalam kamar baru Shedim mau keluar. Faraz menyatakan kesediaannya untuk menjadi kekasih Shedim selama hidupnya. Tetapi Faraz akan menyembunyikan hal itu dari istri dan keluarganya. Faraz menegaskan bahwa keputusan pernikahan dirinya bukan ditentukan olehnya.
Faktor dan tekanan eksternal lebih kuat memaksa dirinya dan calon istrinya. Dua minggu air mata Shedim tidak berhenti mengalir. Shedim berpikir bahwa salah satu yang mempercepat penyembuhan luka adalah menghilangkan ketergantungan kepada Faraz.
Pada tahap penyelesaian, Shedim sangat kecewa dengan cerita Faraz. Lelaki itu menyampaikan bahwa pada dasarnya dia sangat menyukai istrinya yang dipilihkan keluarga untuknya. Dia juga menemukan sang istri memiliki segala yang dia impikan dari seorang wanita. Tidak ada kekurangan dalam dirinya, kecuali bahwa dia tidak beruntung mendapatkan cinta Faraz sebagaimana cinta yang telah diberikannya kepada Shedim. Sebenarnya Faraz juga telah mulai merasakan tumbuhnya pohon cinta kepada istrinya seperti selama ini didengar dari anggota keluarga bahwa cinta itu akan tumbuh setelah pernikahan berlangsung. Semua anggota keluarganya menasehatinya untuk mengikuti pertimbangan logika dan mengesampingkan perasaan cintanya. Mendengar itu Shedim memutuskan pembicaraan, saat itulah pertama dan terakhir kalinya ia mengumpat di depan Faraz. Tidak ada air mata saat itu, juga tidak ada lirik-lirik cengeng. Shedim akhirnya menyimpulkan bahwa cinta dan ketergantungannya kepada Faraz lebih tinggi dibanding cinta Faraz kepada dirinya. Shedim memahami realita bahwa kisah cinta mereka berdua bukan yang terbaik di dunia sebagaimana yang dia banggakan selama ini.
SISTEMATIK ALUR III
Pola Konflik Batin Tokoh Michelle pada Novel The Girls Of Riyadh
Tokoh
Tahapan Konflik Batin Pelukisan Latar dan Tokoh Pemunculan Konflik Peningkatan
Konflik Klimaks Penyelesaian
Michelle
Faishal
Ibu Faishal
Ket: ( ) = berkenalan atau bertemu ( ) = mereka saling mencintai
( ) = menikah atau berkumpul ( ) = hubungan terganggu ( ) = ditekan oleh sesuatu
( ) = berpisah atau bercerai
( X ) = meninggal
Pada novel The Girls Of Riyadh terlihat Rajaa Al Sanea mempertemukan tokoh utama bernama Michelle dengan tokoh pendamping bernama Faishal pada tahap pelukisan latar dan tokoh. Setelah lama berkenalan dan saling mengamati, tenyata Michelle semakin kagum dengan sosok Faishal yang mampu memberikan penjelasan-penjelasan kepada dirinya dengan baik mengenai tradisi Saudi yang selama ini selalu dikritisinya. Faishal yang sedari awal memang tertarik kepada Michelle yang terlihat menonjol dibanding gadis-gadis lain di Saudi berusaha untuk mendengarkan segala cerita gadis itu baik. Pada pemunculan konflik, hubungan mereka telah berkembang kearah yang lebih dekat. Saling memahami dan saling mengisi membuat mereka merasa nyaman antara satu dengan yang
lainnya. Sampai akhirnya peristiwa ini mengantarkan Faishal dan Michelle kerasa saling mencintai.
Pada tahap peningkatan konflik, Rajaa Al Sanea mendatangkan orang ketiga, yakni ibu Faishal yang tidak setuju anaknya berhubungan dengan gadis modern keturunan Saudi-Amerika. Faishal berusaha menjelaskan bahwa Michelle adalah gadis yang baik, gadis modern dengan segala kelebihannya, gadis yang cocok pemikirannya dengan Faishal, dan gadis yang pantas bersanding dengannya. Tetapi ibunya tetap tidak bergeming dengan semua penjelasan Faishal, meskipun anaknya itu telah menangis dan memohon agar ibunya menyetujui hubungan mereka kearah yang lebih jauh. Faishal sangat mencintai ibunya lebih dari siapapun di dunia ini, sehingga dia tidak bisa menolak permintaan ibunya untuk menjauhi Michelle.
Klimaksnya, saat Faishal memberitahu Michelle bahwa ibunya tidak mendukung keinginannya untuk menikahi gadis itu. Faishal menceritakan setengah isi percakapan dengan sang ibu, setengahnya lagi ia sisakan karena dianggap terlalu sensitif. Kenyataan ini memang terlalu menyakitkan bagi Michelle. Semudah inikah pria yang dibanggakannya meninggalkan dirinya hanya karena sang ibu ingin menikahkannya dengan seorang perempuan pilihan keluarga. Pada tahap penyelesaian, Michelle menangis ketika mendengar hasil akhir dari kisah cintanya bersama Faishal. Sedalam apaun luka, gadis itu yakin bahwa selama ini Faishal mencintainya dengan tulus. Hanya saja Faishal adalah anak manis yang lemah, dimana dia harus menuruti dan tunduk kepada masyarakat yang berkuasa untuk mengendalikan keinginan para anggotanya.
SISTEMATIK ALUR IV
Pola Konflik Batin Tokoh Lumeis pada Novel The Girls Of Riyadh
Tokoh
Tahapan Konflik Batin Pelukisan Latar dan Tokoh Pemunculan Konflik Peningkatan
Konflik Klimaks Penyelesaian
Lumeis
Fatimah
Ali
Ket: ( ) = berkenalan atau bertemu ( ) = mereka saling mencintai
( ) = menikah atau berkumpul ( ) = hubungan terganggu ( ) = ditekan oleh sesuatu
( ) = berpisah atau bercerai
( X ) = meninggal
Pada novel The Girls Of Riyadh terlihat Rajaa Al Sanea pada tahap pertama ini, hanya melukiskan keadaaan latar dan tokoh utama dalam cerita. Kemudian, pada tahap pemunculan masalah, Rajaa Al Sanea mempertemukan Lumeis dengan Fatimah yang seorang gadis Syiah. Lumeis kagum dengan kekuatan dan pikiran positif Fatimah demikian juga dengan Fatimah yang mengagumi keberanian dan kecerdasan Lumeis. Tamara yang merupakan kembaran Lumeis menyampaikan berbagai tuduhan miring dan buruk sangka teman-teman mereka di kampus terhadap Lumeis. Lumeis berusaha memberi
pemahaman yang benar terhadap adiknya tentang Fatimah dan Syiah. Tidak ada yang salah dengan Fatimah. Bahkan dia menunjukan sikap yang tidak mereka miliki. Lumeis juga menjelaskan berbagai tuduhan keliru tentang Syiah dan juga menasehati orang-orang di sekitarnya jangan memusuhi mereka karena kita tidak tahu siapa mereka sebenarnya. Fatimah juga memperkenalkan Lumeis kepada abangnya yang bernama Ali. Ali yang juga berkuliah di Fakultas Kedokteran menjadi tempat yang cocok bagi Lumeis untuk bertanya. Hubungan keduanya telah berjalan beberapa bulan dan mereka pun sering bertemu di kedai kopi yang bertebaran di setiap sudut kota.
Pada tahap peningkatan konflik, hubungan Lumeis dan Ali mendapat gangguan. Ketika sedang menikmati kopi di sebuah kedai, mereka berdua di datangi oleh para petugas Amar Bil ma’rufwa Nahyu Anil Munkar bersama sejumlah polisi. Di kantor itu mereka berdua mulai di interogasi di ruangan yang terpisah dengan berbagai pertanyaan tentang pelanggaran berpacaran yang mereka lakukan berdua. Lumeis menangis sejadi-jadinya selama beberapa jam sambil menjelaskan bahwa mereka berdua hanya minum kopi sambil memperbincangkan masalah perkuliahan. Akhirnya, mereka menghubungi ayah Lumeis. Ayahnya datang dengan muka merah tanda marah dan kekuningan tanda pucat malu. Ayahnya bisa membebaskan Lumeis dari penjara setelah ditandatanganinya sejumlah kesepakatan dan janji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ayahnya melarangnya untuk berhubungan dengan pemuda itu lagi. Lumeis merasa bersalah dan kasihan kepada Ali, karena di Riyadh hukuman bagi orang Syiah jauh lebih berat. Sejak saat itu hubungan mereka berdua terputus.
Pada tahapan klimaks, hubungan antara Lumeis dan Fatimah terganggu karena peristiwa yang menimpa abang Fatimah tersebut. Fatimah menyalahkan Lumeis atas kejadian yang menimpah Ali dan hubungan mereka semakin memburuk karena setiap bertemu mereka kembali kepada perbedaan mereka semula. Pada tahap penyelesaian tampak Rajaa Al Sanea mengakhiri hubungan pertemanan mereka.
4.2 Identifikasi Data Konflik Batin Tokoh pada Novel The Girls Of Riyadh
karya Rajaa Al Sanea
Data yang akan dianalisis dalam penelitian ini bersumber dari naskah novel The Girls Of Riyadh karya Rajaa Al Sanea. Berdasarkan tujuan penelitian yaitu mendeskripsikan konflik batin yang berkenaan dengan id, ego, dan superego pada watak tokoh pada novel The Girls Of Riyadh karya Rajaa Al Sanea, maka perlu didaftarkan pengelompokan masalah-masalah yang dialami para tokoh dalam cerita tersebut. Pengelompokkan masalah-masalah tersebut berdasarkan teori Freud mengenai struktur kepribadian, yaitu yang terbagi atas tiga aspek diantaranya: 1) Id (Das Es), 2) Ego (Das Ich), dan 3) Superego (Das Ueber Ich).
TABEL 4.1
Data Konflik Batin Tokoh yang Berkenaan dengan Id, Ego, dan Superego
No. Peristiwa Tokoh Aspek Psikologis
Hal
Id Ego Super
ego
1. Dia benar-benar tidak memedulikan cibiran dan sorot mata kaum Hawa yang ingin membakarnya. Dia begitu larut dengan kelebihannya.
2. Para pemuda itu akhirnya pergi kecuali seorang yang memberanikan diri menemui Michelle dan teman-temannya. Pemuda itu meminta Michelle untuk mengizinkannya masuk bersama mereka sebagai bagian dari rombongan.
Faishal 9 25
3. Qamrah memulai kehidupan barunya dengan di penuhi rasa takut dan kekhawatiran. Dia selalu ketakutan setiap kali naik lift menuju apartemennya di lantai empat puluh. Ada goncangan yang mengoyak kepalanya dan menghantam telinganya setiap kali menaikinya, seakan sedang berbenturan dengan awan yang bergulung-bergulung. Ada rasa pusing yang menghampiri setiap kali mencoba melihat ke bawah malalui jendela apartemennya.
Qamrah 9 36
4. Qamrah juga merasa tidak nyaman, ia takut terhadap para preman yang gemar mabuk dan banyak berkeliaran di jalan. Mereka kasar dan sering meminta uang dengan paksa. Dia juga ngeri mendengar berita tentang banyaknya kasus perampokan, pencurian dan pembunuhan yang terjadi di daerah tempat tinggalnya. Bahasa inggrisnya yang pas-pasan juga selalu membuatnya khawatir setiap kali keluar apartemen dan merasa menjadi incaran aksi penipuan. Kesulitan berkomunikasi dalam bahasa itu juga menghantuinya saat harus menggunakan taksi atau menyebutkan keperluannya.
Qamrah 9 37
5. Qamrah memberanikan diri untuk memulai cumbuan meski di dalam hati kecilnya tersimpan rasa malu.
Qamrah 9 38
6. Dia marah dan menghempaskan tubuh telanjang Qamrah.
Rasyid 9 38
7. Segera, Rasyid menjauhi ranjangnya dan mengenakan pakaiannya, lalu meninggalkan kamar yang di dalamnya terdapat seorang wanita yang sedang menangis memohon maaf atas kesalahan yang tak diketahuinya.
Rasyid
Qamrah
9
9
39
8. Dia pun mulai mengarang cerita-cerita bohong tentang perhatian, kasih sayang, dan keharmonisannya bersama Rasyid.
dari temannya itu.
9. Walid menjadi terbiasa untuk mencium pipi kanan dan kiri di setiap pertemuan dan menjelang mereka berpisah. Mungkin mereka terbawa gairah film yang mereka tonton bersama. Malam pun berlalu dengan hangatnya ciuman di bibir gadis itu.
Walid 9
45-46
10. Ia ingin menyerahkan segala yang dimiliki sebagai hadiah atas kerelaan menunda pernikahan hingga selesai masa ujian akhir semester. Shedim sama sekali tidak menunjukkan penolakan dan rasa malu untuk memulai kehidupan mereka berdua langsung pada malam itu juga.
Shedim 9 47
11. Dia tidak bisa menentukan antara menunggu Walid datang mengunjunginya dan berusaha menghubunginya lagi. Shedim bermimpi dan membayangkan kedatangan Walid bersimpuh kepadanya seraya meminta maaf. Tetapi dia benar-benar tidak datang dan tidak menghubungi.
Shedim 9 52
12. Jawabannya adalah selembar surat yang diterimanya: sebuah surat pembatalan perkawinan dari Walid. Shedim hanya bisa menangis sejadinya di pangkuan ayah tanpa sepatah cerita pun keluar menjawab tanda tanya sang ayah.
Shedim 9
52-53
13. “Tidak. Saya tidak akan menyebutkan nama mereka untuk ibu. Saya sudah berjanji untuk menyelesaikan masalah ini sendiri,” kilah Lumeis.
“Hanya ada dua pilihan. Ibu akan mengembalikan kaset-kaset ini sekarang dengan syarat kamu menyebutkan siapa saja temanmu itu, atau ibu akan membuang kaset-kaset ini?” ibu Direktur merasa menemukan titik kemenangan.
Akhirnya Lumeis menyebutkan nama-nama mereka dan mendapatkan kantung kaset itu. Lumeis membagi kaset-kaset itu untuknya dan teman-teman sebelum mereka pulang ke rumah masing-masing. Lumeis Ibu Lumeis 9 9 62
14. Apapun keputusan pemerintah, yang penting hadiah Faishal untuk Michelle tidak berhenti sampai di sini.