BAB IV PEMBAHASAN
4.3 Konflik Batin Tokoh pada Novel The Girls Of Riyadh Karya Rajaa Al
4.3.1 Konflik Batin yang Berkenaan dengan Id
4.3.1.1 Konflik Batin yang Berkenaan dengan Id pada Tokoh Qamrah
novel The Girls Of Riyadh
Id berkaitan langsung dengan dorongan-dorongan biologis manusia. Watak id itu terlihat pada insting-insting hidup, baik itu makan, minum, dan seksual. Konflik batin yang dialami Qamrah kali ini adalah kebutuhan batiniahnya yang tidak dipenuhi oleh suaminya. Suaminya tidak pernah menjamahnya lagi sejak malam terakhir mereka yang berbulan madu di Roma.
Dan saat ini dia tinggal bersama seorang laki-laki yang tidak merasakan ketertarikan cinta dan kelembutan, bahkan dia tidak pernah menyentuhnya sejak malam terakhir yang menjemukan di Roma. (Al Sanea, 2008:37-38) Qamrah memberanikan diri untuk memulai cumbuan meski di dalam hati kecilnya tersimpan rasa malu. (Al Sanea, 2008:37-38)
Kedua mata Rasyid di kuasai amarah yang belum pernah di lihat wanita itu sebelumnya. Segera, Rasyid menjauhi ranjangnya dan mengenakan
pakaiannya, lalu meninggalkan kamar yang di dalamnya terdapat seorang wanita yang sedang menangis memohon maaf atas kesalahan yang tak diketahuinya. (Al Sanea, 2008:37-38)
Dari beberapa kutipan di atas tampak jelas kebutuhan seksual Qamrah mendesak dirinya untuk memulai cumbuan kepada suaminya, meskipun dia malu. Bukannya membalas cumbuan itu, suaminya malah marah. Hal inilah yang makin menyiksa batin Qamrah. Latar atau setting yang mempengaruhi timbulnya id pada
diri Qamrah di sebabkan atas suasana hatinya yang membutuhkan belaian cinta dan kasih sayang dari suaminya yang sudah lama tidak menyentuhnya.
Cinta Walid kepada Shedim membuat iri teman-temannya, terutama Qamrah yang mendengar tentang kemesraan mereka berdua, dia merasa dirinya bukanlah perempuan yang beruntung. Hal ini dapat dilihat pada kutipan di bawah:
Dia pun mulai mengarang cerita-cerita bohong tentang perhatian, kasih sayang, dan keharmonisannya bersama Rasyid. Ia ingin merasa tak memiliki kekurangan dari temannya itu. (Al Sanea, 2008:44)
Id dikenal dengan prinsip kesenangannya dan menyalurkannya dengan cara yang impulsif, irasional serta narsistik, dengan tanpa mempertimbangkan akibat atau konsekuensinya dan bertentangan dengan moral. Kutipan di atas memperjelas bahwa Qamrah berbohong kepada teman-temannya dan menonjolkan sifat narsistiknya. Dari kutipan di atas terlihat jelas bahwa suasana yang membuat Qamrah berbohong mengenai keharmonisan rumah tangganya adalah ketika Shedim mulai bercerita betapa mengagumkannya cinta Walid untuknya.
Qamrah benar-benar kecewa dan sakit hati karena pengkhianatan suaminya. Semua rasa sakit hatinya meledak saat bertemu dengan wanita yang menjadi orang ketiga dalam rumah tangganya. Hal ini dapat dilihat pada beberapa kutipan di bawah:
“Shut Up!” Qamrah mulai angkat bicara, “You take my husband! Kamu perempuan tidak beradab telah merampas suami orang. Setelah menghancurkan semuanya kini kamu datang kepadaku dengan ceramah memuakkan. Demi allah, aku tidak akan ikhlas. Aku yakin kamu tahu apa yang harus kamu lakukan! “Qamrah mengungkapakan dalam bahasa inggris yang terputus-putus. (Al Sanea, 2008:141-142)
“Apa? Apa aku tidak salah dengar! Kamu yang mestinya datang minta maaf kepadaku, malah kamu yang lebih dahulu marah? Tidak wajarkah seorang istri marah kepada madunya? Demi Allah, aku tidak ikhlas atas perlakuanmu! Tentukan aku atau dia!” kali ini Qamrah tak mampu lagi menahan diri! (Al Sanea, 2008:143)
“Keterlaluan. Kamu justru memberi pembelaan kepada si jalang itu yang telah merampas kebahagian istrimu sendiri!” suara Qamrah parau. (Al Sanea, 2008:143)
Qamrah semakin tidak habis pikir, kali ini bukan hanya siksaan batin, sebuah tamparan mendarat di pipi kanannya. (Al Sanea, 2008:143)
“Hah, aku menumpahkan kotoran? Apa yang salah dengan kehamilan seorang istri yang selalu tidur dengan suaminya?” Qamrah menimpali. (Al Sanea, 2008:145)
Qamrah menerima tamparan kedua. Qamrah terduduk di lantai. Rasyid meninggalkan apartemen menuju pelukan Karey setelah menghina, merendahkan, dan menampar kedua pipi istrinya. Sebelum keluar pintu, Rasyid meludah di muka Qamrah. (Al Sanea, 2008:145)
Qamrah tengah berada seorang diri dalam histeria yang mendekati ketidakwarasan. (Al Sanea, 2008:145)
Dari beberapa kutipan di atas, terlihat jelas bahwa konflik batin yang di alami Qamrah sudah mencapai klimaks. Id cenderung menghendaki penyaluran atau pelampiasan, yang jikalau tertahan atau tersumbat akan mengalami ketegangan. Maka dari itu, Qamrah yang sudah berusaha mempertahankan rumah tangganya pergi menemui selingkuhan suaminya dan melampiaskan emosinya dengan berteriak dan menghina perempuan jalang yang mencoba merebut suaminya, tetapi suaminya malah membela perempuan yang membuat rumah tangga mereka hancur. Tidak hanya itu, suaminya malah memberi tamparan akan berita yang seharusnya menjadi berita bahagia karena mereka akan memiliki anak. Suaminya benar-benar tidak menginginkannya dan anaknya, ia justru lari ke
pangkuan wanita lain yang merupakan mantan pacarnya. Qamrah benar-benar merasa kecewa dan sakit hati karena pengkhianatan suaminya. Latar pemicu timbulnya id pada konflik di atas adalah faktor suasana di mana munculnya orang ketiga di antara mereka yang membuat Qamrah semakin emosional.
Id cenderung menghendaki penyaluran atau pelampiasan, yang jikalau tertahan atau tersumbat akan mengalami ketegangan. Oleh karena itu, selama proses kelahiran, Qamrah melampiaskan kekesalannya kepada Rasyid dengan sumpah serapah yang terus dilontarkannya. Hal ini dapat dilihat pada kutipan di bawah:
Bercampur tangisan menahan rasa sakit sumpah serapah terus di lontarkan kepada Rasyid. Berulang kali Qamrah meneriakkan : Lebih baik mati! Aku tidak mau lagi punya anak! (Al Sanea, 2008:244)
Latar atau setting yang memicu timbulnya id pada Qamrah di sebabkan Rasyid masih di Amerika saat persalinan berlangsung. Dan yang makin menyakitkan hatinya adalah Qamrah yakin bahwa materi yang diberikan orangtua Rasyid adalah hal tertinggi yang bisa mereka berikan kepada cucu mereka. Mereka tidak bisa memberikan kasih sayang atau bahkan menyadarkan kembali anaknya atas tanggung jawab yang dilalaikannya.
Konflik batin yang terjadi pada Qamrah kali ini adalah pertentangan hatinya antara harus menerima keputusan orang-orang yang mengatur hidupnya atau melawan mereka. Id dikenal dengan prinsip kesenangannya dan menyalurkannya dengan cara yang impulsif, irasional serta narsistik, dengan tanpa mempertimbangkan akibat atau konsekuensinya dan bertentangan dengan moral.
Berikut adalah kutipan kekecewaan Qamrah kepada orang-orang yang mencoba mengatur hidupnya:
Tak seorangpun yang berinisiatif memberikan hak suara kepada Qamrah dalam musyawarah ini. Pada sebuah kesempatan, akibat musyawarah yang berlangsung tidak nyaman, Qamrah berdiri dan meninggalkan ruangan. Di kamarnya, Qamrah berkeluh kesah kepada ibunya yang setia mendengarkan. Ia menyampaikan kekecewaan atas sikap ayah yang kasar, pamannya yang karas, dan sikap Musaid yang menyebalkan. (Al Sanea, 2008:291)
Dari kutipan di atas, tampak jelas bahwa Qamrah memberontak dengan cara meninggalkan ruangan yang tengah membicarakan perjodohannya dengan seorang duda yang egois. Duda tersebut mengajukan syarat bahwa Qamrah tidak boleh membawa bayinya untuk tinggal bersama mereka jika mereka jadi menikah. Orangtua dan pamannya tidak memberikah hak kepada Qamrah untuk menentukan pilihannya sendiri. Tidak memberinya kesempatan untuk berbicara. Oleh karena itu, dia meninggalkan ruangan dan tentu saja itu merupakan hal yang tidak sopan. Latar atau setting yang memicu timbulnya id ini adalah sikap orang-orang disekeliling Qamrah yang menganggapnya sebagai boneka. Tidak memberinya hak suara untuk menyampaikan pendapatnya.