BAB IV PEMBAHASAN
4.3 Konflik Batin Tokoh pada Novel The Girls Of Riyadh Karya Rajaa Al
4.3.1 Konflik Batin yang Berkenaan dengan Id
4.3.1.3 Konflik Batin yang Berkenaan dengan Id pada Tokoh Shedim
novel The Girls Of Riyadh
Id berkaitan langsung dengan dorongan-dorongan biologis manusia. Watak id itu terlihat pada insting-insting hidup, baik itu makan, minum, dan seksual. Konflik batin yang dialami Shedim kali ini adalah dia menghalalkan segala cara demi mengikuti ujian di kampusnya, termasuk dengan menunda pernikahannya.
Ia ingin menyerahkan segala yang dimiliki sebagai hadiah atas kerelaan menunda pernikahan hingga selesai masa ujian akhir semester. Shedim sama sekali tidak menunjukkan penolakan dan rasa malu untuk memulai kehidupan mereka berdua langsung pada malam itu juga. (Al Sanea, 2008:47)
Dari kutipan di atas, tampak jelas bahwa Shedim rela menyerahkan kehormatannya kepada tunangannya demi menunda pernikahan mereka, sehingga Shedim bisa mengikuti ujian di kampusnya. Shedim telah lama mempunyai keyakinan bahwa dia tidak akan mendapatkan kepuasan dan persetujuan pasangannya bila tidak mempersembahkan dirinya seutuhnya. Latar atau setting yang memicu timbulnya id ini adalah suasana pada malam itu, dimana ayah Shedim tidak berada di rumah selama beberapa hari, sehingga Shedim berani bertindak nekat seperti itu.
Konflik batin yang dialami Shedim kali ini adalah keresahan hatinya menunggu Walid datang atau menghubunginya setelah malam itu. Tetapi hal itu tidak kunjung terjadi. Hal ini dapat dilihat pada kutipan di bawah ini:
Dia tidak bisa menentukan antara menunggu Walid datang mengunjunginya dan berusaha menghubunginya lagi. Shedim bermimpi dan membayangkan kedatangan Walid bersimpuh kepadanya seraya meminta maaf. Tetapi dia benar-benar tidak datang dan tidak menghubungi. (Al Sanea, 2008:52)
Id cenderung menghendaki penyaluran atau pelampiasan untuk setiap keinginan, yang jikalau tertahan atau tersumbat akan mengalami ketegangan. Dari kutipan di atas tampak Shedim melampiaskan keresahannya dengan membayangkan kedatangan Walid yang meminta maaf kepadanya. Membayangkan dan bermimpi untuk menghilangkan perasaan yang menyesakkan dada guna menghibur diri sendiri mungkin itulah satu-satunya hal yang bisa di lakukan Shedim untuk menutupi kegundahan hatinya.
Konflik batin yang di alami Shedim karena keresahan hatinya terhadap sikap Walid yang tidak menghubunginya setelah malam itu, dijawab dengan selembar surat yang datang kepada Shedim. Berikut kutipannya:
Jawabannya adalah selembar surat yang diterimanya: sebuah surat pembatalan perkawinan dari Walid. Shedim hanya bisa menangis sejadinya di pangkuan ayah tanpa sepatah cerita pun keluar menjawab tanda tanya sang ayah. (Al Sanea, 2008:52-53)
Satu-satunya cara Shedim melampiaskan kesedihannya adalah dengan menangis. Dia tidak mungkin menceritakan aibnya kepada ayah dan keluarga tunangannya atas perbuatan mereka malam itu. Dia tidak ingin masyarakat tahu tentang aibnya itu. Latar atau setting yang menyebabkan munculnya id adalah selembar surat pembatalan pertunangan. Isi surat itulah yang menghancurkan mimpinya bersama tunangannya dan menghancurkan nilai-nilai perkuliahannya.
Konflik batin yang di alami Shedim setelah pembatalan pertunangan itu, hanya bisa di lampiaskannya dengan menyendiri dan menangis. Berikut beberapa kutipannya:
Hari itu Shedim banyak menangis. Penyebabnya dapat dipastikan, namun yang masih menjadi misteri adalah kapankah berakhirnya tangisan itu. Tangisan akibat perasaannya yang teraniaya. Tangisan akibat cinta pertamanya yang layu sebelum berkembang. (Al Sanea, 2008:99)
Setelah dua minggu menyendiri dalam apartemen, berdiam dan membangun pondasi internal yang sempat porak-poranda akibat ulah Walid, dia memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran yang tidak banyak di kunjungi Jazirah Arab. (Al Sanea, 2008:102)
Dari beberapa kutipan tersebut, tampak jelas bahwa Shedim membutuhkan tempat dan waktu untuk menyendiri dan untuk melampiaskan segala kesedihan, kekecewaan dan kekesalannya. Untuk itu dia berlibur sendirian di London. Dia ingin menangis sepuas-puasnya untuk menghilangkan perasaan yang menyesak di
dada. Latar atau setting yang menyebabkan timbulnya id di sebabkan dari pembatalan pertunangan Shedim yang membuat dirinya tak kuasa menahan diri dan membutuhkan tempat untuk menyendiri.
Konflik batin yang harus di hadapi Shedim selanjutnya adalah dia tidak sanggup bersama para pelayat yang datang tanpa empati dan tidak mengerti akan kesedihnya yang kehilangan satu-satunya orangtua yang dimilikinya.
Shedim pergi meninggalkan ruangan yang dipenuhi oleh orang-orang yang datang tanpa empati.(Al Sanea, 2008:299)
Pergi dan meninggalkan ruangan itulah cara Shedim untuk melampiaskan kekecewaannya terhadap masyarakat di sekelilingnya. Latar atau setting yang memicu timbulnya id adalah ketika Shedim berusaha mengamati keadaan para wanita yang datang memenuhi ruangan. Tidak ada ekspresi kesedihan pada raut muka mereka. Sebagian mereka datang dengan perhiasan lengkap. Sebagian yang lain larut dalam percakapan yang sama sekali tidak berhubungan dengan takziyah. Sebagian lainnya tertawa-tawa lirih satu sama lain. Mereka benar-benar tidak merasakan apa yang sedang dirasakan Shedim.
Konflik batin yang di alami Shedim adalah ia harus merasakan pahitnya di khianati orang yang di cintai sekaligus dipujanya. Semua itu terjadi saat Faraz meninggalkannya karena akan menikah dengan wanita pilihan keluarganya. Shedim kecewa karena Faraz tidak bisa menyakinkan keluarganya atas wanita pilihannya sendiri. Hubungan yang dibina selama bertahun-tahun menjadi sia-sia. Kekesalan dan kekecewaan Shedim dapat di lihat dari kutipan berikut:
Dia memaki dan meludah di atas foto Faraz, tetapi kemudian di rengkuhnya kembali foto itu dengan lembut dan kasih sayang, dan minta maaf atas tingkahnya. (Al Sanea, 2008:332)
Dari kutipan di atas, tampak jelas Shedim melampiaskan rasa sakit hatinya dengan memaki dan meludah di atas foto Faraz, tetapi sedetik kemudian dia merasa tidak sanggup melupakan atau membenci Faraz. Cintanya yang begitu dalam membuatnya semakin tersiksa dengan perpisahan mereka. Latar atau setting yang memicu timbulnya id ini adalah kekecewaanya kepada Faraz yang tidak mampu menyakinkan orangtuanya mengenai wanita pilihannya.