• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN TEORETIS

2.2 Konflik Batin Tokoh Utama

2.2.2 Penokohan

Berbicara mengenai konflik batin dalam karya sastra tidak akan lepas dari pembicaraan tokoh dalam karya tersebut. Pembaca dapat mengamati tingkah laku tokoh dalam sebuah novel dengan memanfaatkan pertolongan pengetahuan psikologis. Menurut Minderop (2005:95) perwatakan adalah kualitas nalar dan perasaan para tokoh di dalam sebuah karya fiksi yang dapat mencakup tidak saja tingkah laku atau tabiat dan kebiasaan, tetapi juga penampilan. Untuk menampilkan perwatakan, sudut pandang dengan berbagai teknik pencerita dapat digunakan oleh pengarang dengan menampilkan pencerita atau narator.

Perwatakan merupakan tingkah laku, perbuatan atau sifat sang tokoh cerita. Dalam sebuah cerita pelaku atau tokoh dalam cerita harus bisa berperan sesuai dengan ceritanya. Seorang pelaku atau tokoh cerita bisa membawakan lakon dengan baik akan membuat cerita hidup.

Perwatakan merupakan bagian dari penokohan. Untuk mengetahui konflik batin karya sastra maka kita tidak boleh lepas dari pembicaraan tokoh-tokoh karya

sastra tersebut. Masalah penokohan adalah masalah bagaimana membangun dan mengembangkan watak tokoh tersebut dalam sebuah karya sastra. Selain itu menurut Hamidy, (1983:25) watak-watak pelaku dalam cerita fiksi dapat diamati melalui beberapa cara yaitu:

a. Melalui uraian sang pengarang yang melukiskan keadaan tokoh-tokohnya dengan menyebutkan sifat-sifat jasmani dan rohaninya. b. Perwatakan pelaku dalam suatu cerita dapat pula diketahui melalui

tindakan-tindakannya, terutama dalam hubungannya dengan tokoh lain atau dalam reaksinya terhadap sesuatu keadaan di sekitarnya.

c. Jalan pikiran sang tokoh yang dilukiskan oleh pengarang juga dapat memberitahukan kepada kita bagaimana watak sang tokoh itu.

d. Pengarang karya fiksi juga dapat melukiskan watak-watak pelaku dalam ceritanya dengan cara melukiskan keadaan tempat tinggal sang tokoh.

e. Penilaian pelaku-pelaku lain terhadap seseorang tokoh dalam suatu cerita, juga memberi petunjuk kepada kita mengenai perwatakan seorang tokoh.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam menyajikan watak tokoh, ada beberapa cara ditempuh pengarang. Ada kalanya pengarang melalui penceritaan dan mengisahkan sifat-sifat tokoh, hasrat, pikiran, dan perasaannya. Kadang-kadang memberikan komentar setuju atau tidak setuju akan sifat-sifat tokoh tersebut.

Menurut Hamidy (dalam Jalil dan Elmustian, 2004:83) pembahasan sistematik hubungan antar tokoh merupakan pendekatan yang memperhatikan secara bulat cerita itu. Menekankan aspek kaitan antar tokoh dengan latar belakang watak dan peristiwa sebagai unsur yang menyebabkan adanya jalinan hubungan antar tokoh. Untuk melihat hubungan antar tokoh tersebut dalam suatu sistematik cerita, hendaklah menggunakan sejumlah tanda penghubung dan keadaan, di antaranya ialah:

a. Garis lurus ( ) = berkenalan, bertemu atau berhadapan. b. Garis panah timbal-balik ( ) = mereka saling mencinta. c. Dua garis lurus ( ) = kawin atau berkumpul kembali. d. Garis putus-putus ( ) = hubungan itu putus atau terganggu.

e. Tanda panah ( ) = diganggu, ditarik atau ditekan oleh sesuatu.

f. Tanda panah berlawanan ( ) = bercerai atau berpisah. g. Tanda ( X ) = meninggal.

h. Dua panah ( ) = dibunuh oleh sesuatu.

Berdasarkan penjelasan tersebut, jelas sudah bahwa dalam sebuah cerita akan ditemui beberapa tokoh-tokoh yang menjadi tokoh utama dan tokoh sampingan. Menurut Depdiknas (2007:1203), “Tokoh utama adalah peran utama di dalam cerita rekaan atau drama. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa tokoh utama dalam karya sastra adalah sosok yang benar-benar mengambil peran dalam cerita tersebut. Tokoh utama juga disebut tokoh sentral yaitu tokoh yang banyak mengalami peristiwa dalam cerita. Tokoh sentral dibedakan menjadi dua, yaitu tokoh sentral protagonis dan tokoh sentral antagonis. Tokoh sentral protagonis adalah tokoh yang membawakan perwatakan positif atau menyampaikan nilai-nilai positif. Tokoh sentral antagonis adalah tokoh yang membawakan perwatakan yang bertentangan dengan protagonis atau menyampaikan nilai-nilai negatif. Adapun yang dimaksud dengan tokoh sampingan (tokoh bawahan) adalah tokoh yang tidak sentral kedudukannya di dalam cerita, tetapi kehadirannya sangat menunjang atau mendukung tokoh utama.

Menurut Panuti Sudjiman (dalam Jalil dan Elmustian, 2004:66) dalam melukiskan tokoh-tokoh rekaan yang dikenalnya, pengarang menggunakan metode penokohan yaitu 1) metode analisis, 2) metode dramatik, dan 3) metode kontekstual. Metode analisis memaparkan secara langsung sifat-sifat (fisik) dan

sifat batin (perasaan, hasrat, pikiran) tokoh cerita. Contohnya dapat di lihat dari petikan novel The Girls of Riyadh (Rajaa Al Sanea, 2008:98) berikut ini:

Dengan kostum baru yang dikenakan sekarang, Shedim benar-benar tampil dengan dirinya seutuhnya. Badan ramping dan leher jenjang, rambut hitam bergelombang, dan muka yang nyaris sempurna; bibir tipis yang dipoles lipstik berwarna serasi dengan bajunya, alis mata yang semakin hitam dengan polesan pensil, dan mata jernih yang putih nan bening. Fisik Shedim memang perpaduan potensi alami anugerah Tuhan dan kemampuan merawat dan mempercantik diri.

Metode dramatik adalah cara pelukisan watak dengan tidak langsung. Metode ini menyajikan watak tokoh melalui pemikiran, percakapan, dan lakuan tokoh yang disajikan pengarang. Bahkan dapat pula dari penampilan fisiknya serta dari gambaran lingkungan atau tempat tokoh. Contohnya dapat di lihat dari petikan novel The Girls of Riyadh (Rajaa Al Sanea, 2008:141-142) berikut ini:

“Shut up!” Qamrah mulai angkat bicara. “You take my husband! Kamu perempuan tidak beradab telah merampas suami orang. Setelah menghancurkan semuanya, kini kamu datang kepadaku dengan ceramah memuakkan. Demi Allah, aku tidak akan ikhlas. Aku yakin kamu tahu apa yang harus kamu lakukan!” Qamrah mengungkapkan dalam bahasa Inggris yang terputus-putus.

Metode kontekstual menggunakan bahasa mengacu kepada si tokoh untuk menggambarkan perwatakannya. Metode ini menyajikan watak tokoh melalui gaya bahasa yang dipakai pengarang. Yang dimaksud gaya bahasa pengarang adalah cara pengarang menceritakan tokoh tersebut, jadi bukan gaya bahasa atau kata-kata yang dipakai oleh tokoh tersebut dalam bercerita. Contohnya dapat di lihat dari petikan novel The Girls of Riyadh (Rajaa Al Sanea, 2008:18) berikut ini:

Sementara itu, Michelle berusaha menemukan respon kepuasan yang tertunda dari wajah kaum Adam. Dia benar-benar tidak memedulikan cibiran dan sorot mata kaum Hawa yang ingin membakarnya. Dia begitu larut dengan kelebihannya.

Sebagaimana dikemukakan di atas, penulis menyimpulkan bahwa konflik batin yang terjadi pada tokoh dapat dilihat dari berbagai metode yang menonjolkan watak tokoh tersebut dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Selain itu, penulis juga bisa menentukan aspek psikologis yang mempengaruhi terjadinya konflik batin tokoh pada novel The Girls of Riyadh karya Rajaa Al Sanea. Tidak dapat dipungkiri bahwa psikologis seseorang dipengaruhi karena adanya konflik, khususnya konflik batin yang dialaminya dan hal tersebut juga dapat merubah watak seseorang.