BAB IV ANALISIS KONFLIK BATIN TOKOH UTAMA DALAM NOVEL
4.1 Bentuk Konflik Batin Tokoh Utama dalam Novel Langit Terbuka
4.1.4 Konflik Batin Tokoh Utama Saat Merasa Ditinggalkan
Ditinggalkan oleh orang yang disayang membuat tokoh utama merasa sedih dan kesepian. Seseorang yang ditinggalkan akan sangat merasa kehilangan dan membuatnya mengalami kesedihan yang mendalam.
Mendengar suara Sigap yang tiba-tiba menghubungi Sila dan memberi kabar melalui telepon, membuatnya terkejut sekaligus kecewa. Tokoh utama merasa kecewa atas tindakan sigap kepadanya. Kenapa selama ini Sigap tidak memberikan kabar apapun kepadanya dan pergi meninggalkannya begitu saja.
Tokoh utama merasa semuanya itu tidak ada gunanya lagi. Ia hanya membiarkan sigap bicara tanpa memberi respon sedikitpun kepadanya, walaupun dalam hatinya ia sangat merindukan sigap, tetapi hal itu tidak bisa dilakukannya. Hatinya terpukul, ia tidak tahu harus mengatakan apa kepada Sigap. Hal itu dapat dilihat dari kutipan berikut:
Sigap: “Hi, non, aku Sigap. maaf baru bisa kontak sekarang. Aku pergi terlalu lama. Ada beberapa lokasi tempatku bekerja, tidak memungkinkan ada signal yang baik. Are you oky, dear?”
(LT:100).
“Sila hanya diam. Ia terkejut. Terdengar suara yang sangat akrab dan dirindukannya, namun sekaligus tidak diinginkannya sama sekali. Panggilan telepon itu diterimanya dengan pikiran kosong dan hati yang dingin.”(LT:100).
Keinginan tokoh utama untuk terus bisa bersama Sigap ternyata jauh dari perkiraannya, semuanya itu seperti mengguncang perasaan Sila. Sila merasa sedih dan kecewa. Kejadian itu membuat Sila mengalami konflik batin. Sigap yang tiba-tiba menghilang dan tidak memberikan kabar apapun kepadanya, membuat ia bingung dan merasa cemas karena Sigap pergi begitu saja dan meninggalkannya tanpa ada alasan. Hal itu dapat dilihat dari kutipan berikut:
“Kabar dari sigap terdengar sangat asing ditelinganya. Hatinya menjadi kosong. Semacam hantaman terpaan angin kuat dan merubuhkan apa saja, serta selesai tak ada lainnya. Sigap adalah bagian hidupnya yang kini sudah hilang. Dan sila merasa ia tidak punya siapa-siapa lagi.” (LT:101).
Tokoh utama selalu merasa tidak dianggap oleh orang-orang yang disayanginya. Ia berpikir bahwa ia akan ditinggalkan oleh orang yang ia sayangi.
Sila sudah mengganggap bahwa Sigap akan menjadi bagian dri hidupnya. Tokoh utama merasa cemas karena ketulusan yang ia berikan kepada sigap terabaikan begitu saja, ia merasa diabaikan. Dia mengalami pergaulatan batin yang membuatnya letih akan semua yang terjadi di kisah hidupnya. Hatinya terasa hancur, ia hanya menginginkan sigap dan menolak orang yang jelas-jelas selalu ada untuknya dalam suka maupun duka. Hal itu dapat dilihat dari kutipan berikut:
“Sila bingung, kenapa sigap bisa bersikap aneh dan seperti
yang baik hati, yang seharusnya ada disisinya, justru ditolaknya.
Pergaulatan batin atau cara berpikir apakah yang sedang dilaluinya? Permainan apa yang sedang terjadi di dunia ini?
Kenapa begitu banyak urusan hati yang harus dilalui dengan letih?
Kenapa ketulusan hanya beredar, kala kita berada pada saat kita tidak tahu, dan tidak sadar?” (LT:101).
Pada kutipan di atas dapat dilihat bahwa perlakuan Sigap membuat hati Sila merasa hancur. Tokoh utama merasa terpukul sekaligus bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi dalam kisah hidupnya.
“Apa Sigap pantas untuk dicari, ditanyai, atau digelisahkan? Ini semacam rasa penasaran saja. Agak diluar perkiraan Sila, ia merasa kehilangan. Bukan masalah cinta. Ia merasa ada yang hilang dari separuh jiwanya. Membuat keseimbangan hidupnya pincang.
Semua yang indah bak ditelan bumi.” (LT:115).
Pada kutipan di atas dapat dilihat bahwa tokoh utama mengalami kegelisahan yang terus-menerus. Sigap yang menemaninya selama beberapa bulan belakangan tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Sila tidak tahu kemana Sigap pergi meninggalkannya. Pikirannya penuh dengan pertanyaan tentang sigap yang mengakibatkan tokoh utama mengalami konflik batin.
Sila mengalami konflik batin yang berat, ketika dirinya merasa khawatir akibat perasaannya terhadap sigap. Saat ia mulai jatuh cinta kepada sigap, mengapa sigap melakukan itu kepadanya. Hatinya ingin mencari tahu keberadaan sigap saat ini. Kemana ia pergi. Ia tidak ingin sebodoh saat ditinggal Bima, yang pergi begitu saja dengan pengejut. Ia tidak mau lagi menjadi bodoh untuk kesekian kalinya, karena ditinggal begitu saja oleh orang yang dipercayainya, tanpa ada penjelasan. Hal itu dapat dilihat dari kutipan berikut:
“Beberapa malam, kegelisahan sila pun semakin menumpuk.
Akhirnya, ia memutuskan untuk mencari Sigap. Ia yakin bahwa ia harus bersikap begitu. Putusan yang tidak serampangan, karena itu
menyangkut masalah dan hak pribadinya. Haknya untuk mendapatkan sebuah kepastian. Bukan untuk bermanja atau mengemis hati dan waktunya.” (LT:119).
Kegelisahannya membuat dia merasa cemas dan takut karena ia merasa ditinggalkan. Sila merasa bahwa semuanya itu tidak adil bagi dirinya, dia tidak dapat menerima semua keputusan yang dilakukan Sigap. disini tokoh utama mengalami konflik batin yang cukup berat. Ketika rasa ketakutannya yang dianggapnya sudah biasa berada di dalam dirinya malah membuat dia semakin gelisah dan cemas. Menurut tokoh utama, ia merasa hidupunya akan baik-baik saja tanpa orang lain. Sila merasa bahwa ia rela kehilangan orang-orang terdekat untuk sementara, walaupun itu membuatnya sakit hati. Hai ini ditunjukkan pada kutipan berikut ini:
“Apapun alasanku bersikap seperti ini, dari dulu sampai sekarang, itulah aku! Aku sangat menghargai kebaikanmu selama ini, sepanjang napas ini masih ada. Ketakutan, dan kegelisahan hati ini adalah milikku sendiri, dan ia akan selalu ada. Aku bukanlah perempuan jahat. Tapi aku adalah perempuan yang tidak membutuhkan siapa pun untuk mengasihani diri ini, dan tidak perlu ada lelaki yang mencintaiku. Cintaku sudah terkubur dan menghasilkan sebuah bentuk yang lain, dear. Hidupku tidak hancur bahkan belum berhenti sampai disini! Hidup ini adalah perjuangan hati, sikap yang pernah terpuruk dan sakit.” (LT:114).
Hati tokoh utama merasa sedih, karena ia seakan kembali kekehidupan yang sebelumnya. Dimana seharusnya ia ingin mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan ditempat yang baru, tetapi tidak didapatkannya. Ia berharap akan mendapatkan kebahagiaan di suatu tempat yang indah dimana semuanya akan baik-baik saja tetapi itu tidak semudah yang dibayangkannya. Justru ia kembali mendapatkan kesedihan sehingga menimbulkan konflik batin dalam diri tokoh utama. Hal itu dapat dilihat darikutipan berikut:
“Sila hanya kembali bersedih. Ia tidak paham sama sekali akan apa yang terjadi. Tapi, haruskah ia bereaksi sehebat ini? Tampak seperti tidak ada apa-apa, namun ia merasa hidupnya sangat rumit.
Pilihannya untuk sendiri disuatu tempat yang indah, itu seharusnya membuatnya senang. Tetapi sejak berinteraksi dengan beberapa orang, hatinya mulai ikutan gelisah. Pikiran juga sudah tidak bisa terlalu fokus kepada segala ketenangan sekitar.” (LT:113).
Semua yang dialami sila membuat ia merasa tersakiti dan melupakan semua kebahagian yang ingin ia mulai kembali. Semua kebahagian yang dirasakannya selama ini hanya sebentar saja dan berakhir tanpa ada alasan dan menghilang begitu saja. Rasa ketidapercayaannya yang membuat dia mengalami konflik batin. Hal itu dapat dilihat dari kutipan berikut:
“Sila merasa dikhianati oleh semua yang telah ia percayai.
Ketidakpercayaan pada dirinya membuat semua menghilang.
Angin gelombang lautan membawa itu semua tanpa alasan, dan tanpa sebab. Serta tanpa membawa kenangan pada siapa pun.
Pembalasan yang dirasakannya adalah kehilangan semua rasa cinta dan respek dunia. Sila merasa telah tersakiti oleh permainan dunia ini! Mungkin, ini saja yang akan tersisa sebagai luka pada dirinya, hingga ia kelak mati sendiri.” (LT:129).
4.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Konflik Batin Tokoh Utama dalam Novel Langit Terbuka
Faktor yang mempengaruhi terjadinya konflik batin tokoh utama dilatarbelakangi oleh kurangnya perhatian dari orang tua. Seorang anak yang kekurangan kasih sayang dari sang Ayah dan hubungannya yang kurang akrab dengan sang Ibu, pastinya mempunyai pengaruh yang kuat pada perkembangan kepribadiannya.
Selain itu perbedaan pandangan sosial tokoh utama dengan lingkungan sosial juga mempengaruhi terjadinya konflik batin pada seseorang. Lingkungan sosial tokoh utama yang kurang mendukung. Anggapan banyak orang bahwa
tokoh utama yang tidak mau bersosialisasi dengan orang menjadikan tokoh utama susah untuk beradaptasi dan mendapatkan teman yang cocok.