• Tidak ada hasil yang ditemukan

SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

A. Konsep Dasar Islamisasi Sains

Sebelum melangkah pada pendefinisian Islamisasi sains menurut Ismail Raji al-Faruqi, terlebih dahulu perlu dikemukakan tentang pengertian Islamisasi itu sendiri secara analitik-kritis. Dalam buku Webster New World College Dictionary, mendefinisikan kata “Islamisasi”, sebagai to bring within Islam.1 Sedangkan makna yang lebih luas adalah menunjuk pada proses mengislamkan, dalam konteks yang umum yakni berupa manusia, bukan saja ilmu pengetahuan atau obyek lainnya.2 Istilah Islamisasi juga berarti memberi muatan Islam pada sesuatu.3 Sedangkan menurut terminologinya Islamisasi adalah memberi dasar-dasar dan tujuan Islam yang diaplikasikan dengan cara-cara dan tujuan Islam yang diturunkan oleh Islam.4 Menurut al-Attas, Islamisasi merupakan pembebasan manusia dari segenap tradisi yang bersifat magis, sekuler, yang membelenggu pikiran dan perilakunya.5

Kata “sains” dalam bahasa Indonesia berasal dari kata “science” dalam bahasa Inggris, yang berarti ilmu pengetahuan.6 Kata science tersebut adalah berasal dari bahasa Latin, dari kata scientia (pengetahuan). Sinonim yang paling dekat dengan bahasa Yunani adalah kata episteme.7

Sedangkan pengertian ilmu dan pengetahuan itu sendiri di kalangan para ahli masih terdapat berbagai pendapat yang berbeda-beda dalam mendefinisikan

1

Webster New World College Dictionary, hlm. 715. Aziz M Amin, Islamisasi Sebagai Isu, Jurnal Ulumul Qur’an, Volume II, No. 4, tahun 1992, (Jakarta: Ulumul Qur’an, 1992), h. 3.

2

Aziz M. Amin, Islamisasi Sebagai Isu, h. 3.

3

Dawam Rahardjo, Islam Menatap Masa Depan, (Jakarta: P3M, 1989), h. 10.

4

Dawam Rahardjo, Islam Menatap, h. 11.

5

Amin Rais, Cakrawala Islam: Antara Cita dan Fakta, (Bandung: Mizan, 1991), h. 86

6

John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: Gramedia, 1993), h. 504.

7

Jujun S Sumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan) h. 324.

kedua terminologi tersebut. Pengetahuan menurut Jujun S. Sumantri adalah segenap apa yang diketahui oleh manusia tentang obyek tertentu, termasuk ke dalamnya adalah ilmu. Jadi ilmu merupakan bagian dari pengetahuan, di samping pengetahuan lain seperti seni dan agama. Pengetahuan merupakan khazanah kekayaan mental yang secara langsung atau tidak langsung turut memperkaya kehidupan manusia, sebab pengetahuan merupakan sumber jawaban bagi berbagai pertanyaan yang muncul dalam kehidupan. 8

Setiap jenis pengetahuan mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai “apa” (ontologi), “bagaimana” (epistemologi) dan “untuk apa” (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Ketiga landasan ini saling berkaitan; jadi ontologi ilmu terkait dengan epistemologi ilmu, dan epistemologi ilmu terkait dengan aksiologi ilmu dan seterusnya.9 Tampaknya dari uraian tersebut Jujun S. Sumantri seakan tidak membedakan secara ketat antara “ilmu” dan “pengetahuan”, seperti dalam membahas landasan pengetahuan dan ilmu tersebut. Pengetahuan dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah “knowledge” dan, sedangkan ilmu identik dengan kata “science”, dalam bahasa Indonesia kata tersebut diartikan sebagai ilmu pengetahuan atau sains sebagaimana pendapat John M. Echols dan Hassan Sadily. Sebenarnya antara ilmu dan pengetahuan sangat sulit dipisahkan, karena adanya keterkaitan kedua-duanya baik secara semantik maupun dalam pengertian teknisnya. Sebagaimana definisi ilmu dalam Kamus Bahasa Indonesia, ilmu didefinisikan sebagai pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu.10

Walaupun demikian untuk kajian yang lebih akademik banyak ilmuwan yang membedakan definisi ilmu dan pengetahuan. Bahkan Jujun S Sumantri dalam uraian lebih lanjutnya juga berusaha membedakan, menurutnya ilmu mempelajari

8

Jujun S. Sumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1995), h. 104.

9

Jujun S. Sumantri, Filsafat Ilmu, h. 105.

10

alam sebagaimana adanya dan terbatas pada lingkup pengalaman manusia. Ilmu juga mencoba mencarikan penjelasan mengenai alam menjadi kesimpulan yang bersifat umum dan impersonal. Kemudian lahir pula istilah pengetahuan ilmiah atau ilmu pengetahuan yang dapat diibaratkan sebagai alat bagi manusia dalam memecahkan berbagai persoalan yang dihadapinya.11 Dalam kacamata ilmiah, ilmu berusaha menafsirkan gejala alam dengan mencoba mencari penjelasan tentang berbagai kejadian. Dalam upaya menemukan penjelasan ini terutama penjelasan yang bersifat mendasar dan postulasional, maka ilmu tidak bisa melepaskan diri dari penafsiran yang bersifat rasional dan metafisis.12 Pada akhirnya Jujun S. Sumantri, menyimpulkan bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang didapat melalui metode ilmiah. Tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu, sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat tertentu, yang disebut metode ilmiah. Metode diartikan oleh menurut Jujun S Sumantri, dengan mengutip pendapat Senn, sebagai suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyai cara-cara sistematis. Sedangkan metodologi merupakan suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan dalam metode tersebut.13 Dari penjelasan panjang tentang ilmu dan pengetahuan tersebut, sebenarnya masih sangat susah dipisahkan antara ilmu dan pengetahuan, dan perbedaan keduanya, apakah ilmu merupakan bagian pengetahuan atau pengetahuan yang menjadi bagian ilmu. Yang jelas ketika membicarakan ilmu pasti inheren di dalamnya terdapat unsur pengetahuan, begitu juga sebaliknya. Ilmu dan pengetahuan dengan demikian merupakan dua terminologi yang tidak bisa dipisahkan, karena pengetahuan selalu terkait dengan ilmu, begitu juga ilmu juga berkaitan dengan pengetahuan seseorang.

Sementara itu Amsal Bakhtiar menjelaskan bahwa ilmu adalah sebagian pengetahuan yang bersifat koheren, empiris, sistematis, dapat diukur dan

11

Jujun S. Sumantri, Filsafat Ilmu, h. 106.

12

Jujun S, Sumantri, Filsafat Ilmu, h. 113.

13

dibuktikan.Berbeda dengan iman, yaitu pengetahuan didasarkan atas keyakinan kepada yang ghaib dan penghayatan serta pengalaman pribadi. Ciri hakiki ilmu ialah dari aspek metodologi, sebab kaitan logis yang dicari ilmu tidak dapat dicapai dengan penggabungan tidak teratur dan tidak terarah dari banyak pengamatan dan ide yang terpisah-pisah. Sebaliknya ilmu menuntut pengamatan dan berpikir metodis, tertata rapi. 14 Tampaknya definisi ilmu menjadi perhatian utama para ahli filsafat, menurut Amsal Bakhtiar, ada beberapa ahli yang mendefinisikan ilmu, antara lain Karl Pearson yang mendefinisikan ilmu sebagai lukisan atau keterangan atau keterangan yang komprehensif dan konsisten tentang fakta pengamatan dengan istilah yang sederhana. Kemudian Ashley Montagu, menyimpulkan bahwa ilmu adalah pengetahuan yang disusun dalam sistem yang berasal dari pengamatan, studi dan percobaan untuk menentukan hakikat prinsip tentang hal yang sedang dikaji. Sedangkan Mohammad Hatta, mendefinisikan ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal suatu golongan masalah yang sama tabiatnya, maupun menurut kedududkannya tampak dari luar, maupun menurut bangunannya dari dalam.15

Selanjutnya Mulyadhi Kartanegara mengatakan bahwa ilmu adalah any organized knowledge. Ilmu dan sains menurutnya tidak bebeda, terutama sebelum abad ke-19, tetapi setelah itu sains lebih terbatas pada bidang-bidang fisik atau inderawi, sedangkan ilmu melampauinya pada bidang-bidang nonfisik, seperti metafisika.16 Menurut Ahmad Tafsir, pengetahuan adalah semua yang diketahui manusia. Namun pengertian ini menurutnya bukan definisi sesungguhnya, sebab menurut Ahmad Tafsir sangat susah mendefinikan pengetahuan dalam arti yang tepat. Dalam bahasa Indonesia kata “pengetahuan” terkadang identik dengan ilmu, kadang disebut juga pengetahuan sains (pengetahuan inderawi). Menurut Ahmad Tafsir penggunaan kata ilmu dengan begitu juga sangat membingungkan. Hal ini

14

Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, edisi Revisi, (Jakarta: Raja Grafindo Perkasa, 2007), h. 13-14.

15

Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, h. 15.

16

disebabkan kata “ilmu” dalam bahasa Indonesia diambil dari bahasa Arab yang berarti “pengetahuan”, begitu juga ketika memaknai kata “sain” dengan ilmu pengetahuan. Dalam kerangka teoritik pengetahuan sains itu mempunyai paradigma dan metode tertentu. Paradigmanya ialah paradigma sains (scientific paradigm); sedangkan metodenya disebut metode sains (scientific method). Paradigma dan metode sains ini diturunkan dari filsafat Positivisme. Yang dimaksud dengan metode sains adalah metode yang mengandalkan logika dan bukti empiris. Metode sains mengatakan: bila benar, buktikan bahwa itu logis serta tunjukkan bukti empirisnya. Kaidah sains ini (logis-empiris) perlu sekali diperhatikan oleh kalangan ilmuwan, sebab adakalanya sesuatu yang mempunyai bukti empiris, tetapi tidak logis, ini bukan pengetahuan sains.17

Metode sains dikembangkan orang secara luar biasa dalam bentuk metodologi riset sains (scientific research methodology). Selain pengetahuan sains, sebenarnya ada pengetahuan manusia lainnya berupa pengetahuan filsafat dan pengetahuan mistik. Ahmad Tafsir berusaha membedakan ketiga pengetahuan manusia tersebut dalam perspektif yang berbeda. Secara berurutan menurut Tafsir, pengetahuan sains mempunyai tipologi tertentu yakni obyeknya empiris, paradigma yang digunakan adalah paradigma sains, metodenya sains, dan kriterianya bersifat logis dan empiris. Sementara pengetahuan filsafat, obyeknya abstrak-logis, paradigma yang dipakai bersifat logis, metodenya bersifat logis, dan kriterianya juga logis. Sedangkan pengetahuan mistik, obyeknya berupa hal yang abstrak-supralogis, paradigmanya mistik, metodenya juga mistik dan kriterianya berupa keyakinan atau rasa.18

Selanjutnya menurut Ahmad Tafsir, pengetahuan dalam kaca mata Islam dibagi menjadi dua bagian utama, yaitu pengetahuan yang diperoleh (acquired knowledge) dan pengetahuan yang diwahyukan (perrenial knowledge). Ibnu Khaldun menyebutnya dengan istilah pengetahuan aqliyah dan pengetahuan

17

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Rosda, 1991), h. 6.

18

naqliyah. Pengetahuan yang diperoleh, didapat dengan cara mencarinya; alat pencarinya adalah indera, akal dan hati. Sedangkan pengetahuan yang diwahyukan didapat dengan cara menerima wahyu, jadi ia diturunkan, diberikan begitu saja karena kasih sayang Tuhan. Termasuk dalam kategori pengetahuan yang diwahyukan adalah sunnah atau hadits Nabi. Sedangkan pengetahuan yang diperoleh mencakup banyak sekali berbagai disiplin pengetahuan.19 Selanjutnya dalam kenyataan sejarah, kedua macam pengetahuan itu selalu dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan Islam. Sementara karena perkembangan intelektual manusia modern lebih menghargai pandangan filsafat rasional, maka pengetahuan yang diwahyukan kurang mendapat perhatian. Ketika pemikiran telah begitu maju, maka hubungan antara pengetahuan yang diperoleh (acquired knowledge) dan pengetahuan yang diwahyukan (perrenial knowledge) menjadi terganggu, sehingga muncullah keterpisahan antara kedua-duanya (sekulerisme). Keterpisahan ini sebenarnya telah menimbulkan konflik baik dalam diri perseorangan maupun dalam masyarakat.20

Pengintegrasian kembali kedua pengetahuan tersebut, menurut Ahmad Tafsir harus dimulai dengan membangun kembali filsafat pengetahuan dalam Islam, dan juga mengintegrasikan sistem pendidikan. Karena dalam pandangan Islam, hakekat pengetahuan itu sebenarnya hanya satu. Namun karena kepentingan pendidikan, pengetahuan yang satu itu harus diklasifikasikan dengan klasifikasi yang benar yaitu pengetahuan yang diwahyukan dan pengetahuan yang diperoleh. Menurut Tafsir, orang Islam harus segera menyadari bahwa tradisi aslinya telah dikacau oleh tradisi Barat. Tradisi Barat memang memisahkan pengetahuan yang diwahyukan dengan pengetahuan yang diperoleh.21 Sedangkan Islam memandang kedua pengetahuan tersebut secara esensial berpadu menjadi satu, tidak terpisah secara dikotomis.

19

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan, h. 8-9.

20

Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan, h. 9

21

Dalam tataran realitas, proses Islamisasi sains atau integrasi ilmu merupakan wacana menarik untuk diagendakan, karena dalam perspektif bangunan keilmuan yang berkembang di dunia modern. Karena, dalam kenyatannya sains yang berpengaruh di dunia Islam secara metodologis dan historis banyak didominasi oleh pengaruh ilmu pengetahuan yang dikembangkan berdasarkan paradigma ilmu pengetahuan sekuler dari Barat. Oleh karena itu pemikiran untuk melakukan redefinisi ilmu dalam bentuk Islamisasi sains perlu dilakukan untuk mengembalikan paradigma ilmu pengetahuan pada dasar epistemologis ilmu islami yang telah banyak mendapatkan perhatian para ilmuwan Islam di masa klasik Islam, tetapi pada masa kontemporer menjadi sesuatu yang tidak terjamah lagi.22

Sejak dasawarsa akhir tahun 1970-an hingga tahun 1980-an, trend

perkembangan kontemporer di dunia Islam, diwarnai oleh beberapa tipologi gerakan kebangkitan kembali Islam. Hampir semua gerakan kebangkitan Islam (Islamic Resurgence), mempunyai warna dan semangat yang berbeda-beda tergantung dari tokoh-tokoh yang merepresentasikan gerakan pembaruan tersebut. Paling tidak terdapat beberapa tipologi gerakan pembaruan pemikiran Islam, antara lain gerakan konservatisme Islam, atau gerakan fundamentalisme, revivalisme Islam dan revivalisme, tradisionalisme Islam, modernisme Islam, neo-modernisme. Gagasan Islamisasi ilmu merupakan bagian dari trend pemikiran yang ditemukan diantara gerakan pembaruan pemikiran Islam tersebut.23 Bahkan ada yang menganggap bahwa selama tahun 1960-an dan 1970-an, beberapa orang sarjana berbicara tentang Sains Islami, terutama Syed Hosein Nasr, Syed Muhammad Naquib al-Attas, dan Ja’far Syaikh Idris. Selama tahun 1980-an, Ismail Raji al-Faruqi sangat aktif di lapangan ini. Pada bulan April 1977, Konferensi Pendidikan Muslim yang pertama diadakan di Makkah. Dalam konferensi tersebut

22

Amin Rais, Cakrawala Islam: Antara Cita dan Fakta, h. 89.

23

Di antara tokoh-tokoh yang tertarik pada isu Islamisasi sains atau sejenisnya, antara lain adalah Ismail Raji al-Faruqi, Syed Naquib al-Attas, Hassan Langgulung, dan beberapa ilmuwan yang konsens terhadap pengembangan paradigma keilmuan dalam Islam seperti Otsman Bakar, Sayed Hosein Nasr, Quraish Shihab dan sebagainya.

melibatkan banyak sarjana terkemuka dari berbagai bagian dunia, dan Islamisasi berbagai disiplin ilmu ditekankan. Dalam dua dasawarsa terakhir, International Institute of Islamic Thought (IIIT), yang bermarkas di Virgina Amerika, dan memiliki cabang-cabang di sejumlah kota besar dunia, sangat aktif di lapangan ini. Lebih jauh, banyak konferensi internasional yang berurusan dengan masalah ini telah diadakan di negeri-negeri Islam dan Barat, dan beberapa jurnal ilmiah telah diterbitkan. Di sini dapat disebutkan antara lain, The American Journal of Islamic Social Sciences (Amerika), Islamic Studies, (Pakistan) Journal of Islamic Science

(India), Muslim Education Quarterly, (Inggris).24

Sebenarnya masalah sains religius juga telah dipertimbangkan tidak saja di dunia Islam. Ia juga menjadi lahan pembahasan yang menarik di dunia Kristen. Dalam kenyataannya, dua konferensi telah diadakan di Kanada selama tahun 1990-an oleh Pascal Center, dengan tema “Sains dalam Konteks Theistic”.25 Kemudian kenapa trend Islamisasi sains muncul di dunia Islam. Ada yang menganggap bahwa zaman keemasan Islam, sains-sains kealaman merupakan bagian filsafat, dan sains tersebut diajarkan bersama dengan matematika, dan teologi, dan mereka semua berada dalam kerangka metafisika yang tunggal (padu). Para sarjana Muslim percaya pada suatu hierarkhi pengetahuan yang berawal dari pengetahuan empiris dan berakhir pada pengetahuan yang diwahyukan. Lebih jauh mereka percaya pada saling keterkaitan antara berbagai disiplin ilmu.

Islamisasi sains sendiri adalah suatu upaya pembebasan pengetahuan dari asumsi-asumsi atau penafsiran-penafsiran Barat terhadap realitas, dan kemudian menggantikannya dengan pandangan dunia Islam.26 Islamisasi sains pada dasarnya adalah suatu respon terhadap krisis masyarakat modern yang disebabkan karena pendidikan Barat yang bertumpu pada suatu pandangan dunia yang lebih bersifat materialistis dan relativistis, yang menganggap bahwa pendidikan bukan untuk

24

Mehdi Golshani, Melacak Jejak Tuhan dalam Sains, (Bandung; Mizan, 2004), h. 41.

25

Mehdi Golshani, Melacak Jejak Tuhan, h. 41.

26

Saiful Muzani, “Pandangan Dunia Islam dan Misi Ilmu” dalam Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Hikmah, Jurnal Studi-studi Islam, Dzulhijjah Awwal 1412/Juli-Oktober, 1991, h. 96.

membuat manusia bijak yakni mengenali dan mengakui posisi masing-masing dalam tertib realitas tetapi memandang realitas sebagai sesuatu yang bermakna secara material bagi manusia, dan karena itu hubungan manusia dengan tertib realitas bersifat eksploitatif bukan harmonis. Ini adalah salah satu penyebab penting munculnya krisis masyarakat modern.27 Islamisasi sains mencoba mencari akar-akar krisis tersebut. Akar-akar krisis itu antara lain dapat ditemukan di dalam basis ilmu pengetahuan, yakni konsepsi atau asumsi tentang realitas yang dualistis, sekularistis, evolusioneristis, dan karena itu pada dasarnya bersifat relativistis dan nihilistis. Tetapi sejauhmana gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan dapat dijalakan (workable), dan betul-betul memberikan solusi terhadap krisis masyarakat modern barangkali sejarah yang akan membuktikannya. Apapun hasilnya nanti, gagasan tersebut perlu mendapatkan sambutan terutama dari mereka yang mempunyai keprihatinan dengan kondisi masyarakat modern.28

Selain itu Islamisasi sains juga muncul akibat reaksi terhadap adanya konsep dikhotomi antara agama dan ilmu pengetahuan yang dimasukkan masyarakat Barat dan budaya masyarakat modern. Masyarakat yang disebut terakhir ini misalnya memandang sifat, metode, struktur sains dan agama jauh berbeda, kalau tidak mau dikatakan kontradiktif. Agama mengasumsikan atau melihat suatu persoalan dari segi normatif (bagaimana seharusnya), sedangkan sains melalui eksperimen dan rasio manusia. Karena ajaran agama diyakini sebagai petunjuk Tuhan, kebenarannya dinilai mutlak, sedangkan kebenaran sains relatif. Agama banyak berbicara yang gaib sedangkan sains hanya berbicara mengenai hal empiris. Dalam perspektif sejarah, sains dan teknologi modern yang telah menujukkan keberhasilannya dewasa ini, mulai dikembangkan di Eropa pada masa reinasance, pada tiga atau empat abad silam. Gerakan ini berhasil menyingkirkan peran agama

27

Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2003), h. 96.

28

Kristen Katholik dan dominasi gereja Roma dalam kehidupan sosial dan intelektual masyarakat Eropa, sebagai akibat sikap gereja yang memusuhi sains.29

Dengan kata lain, sains di Eropa dan Barat pada umumnya, mengalami perkembangan setelah memisahkan diri dari pengaruh agama. Setelah itu berkembanglah pendapat-pendapat yang merendahkan agama dan meninggikan sains. Dalam perkembangannya, sains dan teknologi modern dipisahkan dari agama, karena kemajuannya yang begitu pesat di Eropa dan Amerika sebagaimana yang dapat disaksikan hingga sekarang. Sains dan teknologi yang demikian itu selanjutnya digunakan untuk mengabdi kepada kepentingan manusia semata-mata, yaitu untuk tujuan memuaskan hawa nafsu, menguras isi alam untuk tujuan memenuhi nafsu konsumtif dan materialistik, menjajah dan menindas bangsa-bangsa lemah, melanggengkan kekuasaan dan tujuan-tujuan destruktif lainnya. Penyimpangan dari tujuan penggunaan ilmu pengetahuan yang demikian itulah yang direspon melalui konsep Islamisasi sains, yaitu upaya menempatkan sains dan teknologi dalam bingkai Islam, dengan tujuan agar perumusan dan pemanfatatan sains dan teknologi ditujukan untuk mempertinggi harkat dan martabat manusia, melaksanakan fungsi kekhalifahannya di muka bumi serta tujuan-tujuan luhur lainnya. Inilah yang menjadi salah satu misi dari Islamisasi sains.30

Adalah fakta bahwa apa yang telah dicapai oleh sains modern (Barat), dalam berbagai aspeknya, merupakan sesuatu yang sangat menakjubkan. Namun, kemajuan tersebut ternyata juga memberikan dampak yang mengerikan. Menurut al-Faruqi akibat dari paradigma yang sekuler, pengetahuan modern menjadi “kering”, bahkan terpisah sama sekali dari nilai-nilai tauhid, yakni suatu prinsip global yang mencakup “lima kesatuan” yaitu kesatuan Tuhan, Kesatuan Alam, kesatuan kebenaran, kesatuan hidup dan kesatuan umat manusia. Atau lebih

29

Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan, h. 97-98. Lihat juga I.R. Poedjawajatna, Tahu dan Pengetahuan: Pengantar ke Ilmu dan Falsafat Ilmu, (Jakarta: Bina Aksara, 1983), h. 62-73. Lihat pula Dawam Rahardjo, “Fundamentalisme”, dalam Muhammad Wahyuni Nafis, (ed.), Rekosntruksi dan Renungan Religius Islam, (Jakarta : Paramadina, 1996), h. 88.

30

jelasnya sains, modern telah lepas atau melepaskan diri dari nilai-nilai teologis.31 Dengan demikian, Islamisasi ilmu pengetahuan merupakan usaha reflektif untuk mengislamkan kembali ladasan epistemologi sesuai dengan semangat ajaran dan nilai-nilai Islam, dan pengaruh Islam terhadap pengembangan sains yang sebenarnya menjadi akar terhadap perkembangan sains modern agar tercerabut dari nilai teologis Islam.

Secara realitas perceraian sains modern dari nilai-nilai teologis ini memberikan implikasi negatif. Pertama, dalam aplikasinya, sains modern melihat alam beserta hukum dan polanya, termasuk manusia sendiri, hanya secara material dan insidental yang eksis tanpa eksistensi Tuhan. Karena itu manusia bisa mengeksploitasi kekayaan lama dengan tanpa perhitungan. Kedua, secara metodologis, sains modern, dan ilmu-ilmu sosial modern, tidak bisa diterapkan untuk memahami realitas sosial masyarakat muslim yang mempunyai pandangan hidup berbeda dari Barat.32 Benar bahwa sains humanitas Barat juga berbicara tentang manusia dan kemanusiaan, tetapi istilah-istilah ini, dalam pengertiannya yang romantis, hanya diorientasikan kepada manusia dan kemanusiaan Barat. Jika istilah tersebut tidak mengecualikan berjuta-juta manusia berkulit hitam Afrika, coklat, kuning di Asia, dan Amerika, maka mereka hanya dihitung sebagai prediksi-prediksi manusia yang boleh didominasi, dieksploitasi, dimanfaatkan demi keuntungan dan kesejahteraan manusia-manusia Barat.33 Sementara itu, dimensi keilmuan masyarakat muslim sendiri yang dianggap bersentuhan dengan nilai-nilai teologis, terlalu berorientasi pada religiusitas dan spiritualitas tanpa memperdulikan

31

Sebelumnya, kritik pedas dilontarkan oleh filosof atheis, Nietzsche (1844-1900), dengan kata-kata yang sangat terkenal bahwa Tuhan telah mati (God is Death), Karena dalam tindakan dan perilakunya, para saintis Barat telah tidak lagi memperdulikan etika-etika religius. Lihat Pardoyo, “Seklularisasi” dalam Polemik Sekapur Sirih Nurcholish Madjid, (Jakarta: Temprint, 1993), h. 63.

32

Ahmad Khudhori Saleh, Mencermati Gagasan Islamisasi Al-Faruqi, dalam Jurnal al-Harakah, No. 57, tahun XXII, Desember 2001-2001, (Malang: STAIN Malang, 2002), h. 7-8. Lihat juga Harun Nasution, Ensiklopedi Islam Indonesia, Vol. I (Jakarta: Jambatan, 1992), h. 242-243.

33

Ismail Raji al-Faruqi, Ismail Raji Al-Faruqi, Islamization of Knowledge General Principles and Work Plann, edisi bahasa Indonesia Islamisasi Pengetahuan, terjemahan Anas Mahyuddin, Selanjutnya di singkat menjadi Islamization of Knowledge,(Bandung: Pustaka, 1984),, h 92.

betapa pentingnya ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu kealaman yang dianggap “sekuler”. Demi menjaga identitas keislaman dalam persaingan budaya global, para ilmuwan muslim bersikap defensif dengan mengambil poisisi konservatif-statis, yakni dengan melarang segala bentuk inovasi dan mengedepankan ketaatan fanatik terhadap syariah (fiqh produk abad pertengahan). Mereka menganggap bahwa

syariah (fiqh) adalah hasil karya yang fixed dan paripurna, sehingga segala perubahan dan pembaruan adalah penyimpangan dan terkutuk, sesat serta bid’ah. Mereka melupakan sumber utama kreatifitas yakni ijtihad, bahkan mencanangkan ketertutupannya.34

Padahal fiqh dalam konteks sejarah pemikiran Islam merupakan disiplin