• Tidak ada hasil yang ditemukan

SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

C. Langkah-Langkah Metodologis Islamisasi Sains

Selanjutnya al-Faruqi menjelaskan tentang langkah-langkah metodologis untuk mencapai kerja agenda Islamisasi sains adalah melalui urutan logis yang menentukan prioritas masing-masing tahapan. Pertama, penguasaan disiplin ilmu modern; pengetahuan kategoris. Kedua, survei disiplin. Ketiga, penguasaan khazanah ilmiah Islam; sebuah antologi. Keempat, penguasaan khazanah Islam: tahap analisa. Kelima, adalah penentuan relevansi Islam yang khas terhadap disiplin ilmu. Keenam, adalah penilaian kritis terhadap disiplin ilmu modern; tingkat perkembangan masa kini. Ketujuh, adalah penilaian kritis terhadap khazanah Islam; tingkat perkembangan dewasa ini. Kedelapan, adalah survei masalah yang dihadapi ummat Islam. Kesembilan adalah survei permasalahan yang dihadapi umat manusia.

Kesepuluh, analisa kreatif dan sintesa. Kesebelas, adalah penuangan kembali disiplin ilmu modern ke dalam kerangka Islam dalam bentuk buku daras (buku teks) tingkat universitas. Keduabelas, adalah berbagai langkah terakhir kerja Islamisasi sains yaitu penyebaran ilmu yang telah diislamisasi.62

Secara terperinci gagasan Islamisasi sains menurut al-Faruqi tersebut dapat dijabarkan dalam beberapa langkah metodologis. Pertama, penguasaan disiplin ilmu-ilmu Barat (modern), penguraian kategoris. Dalam langkah awal ini, disiplin-disiplin ilmu modern harus dipecah-pecah menjadi kategori-kategori, prinsip-prinsip, metodologi, problema dan tema-tema. Penguraian tersebut harus mencerminkan daftar isi sebuah buku daras (pelajaran) dalam bidang metodologi disiplin-disiplin ilmu yang bersangkutan atau berupa silabus kuliah ilmu tertentu yang harus dikuasai oleh mahasiswa. Hasil uraian tersebut tidak hanya berbentuk judul, judul bab, tapi harus berbentuk kalimat-kalimat yang memperjelas

62

Ismail Raji al-Faruqi, Islamization of Knowledge, h. 98-118. Lihat juga Mona Abu Fadl,

Where East Meets West; The West on Agenda of Islamic Revival, (Herndon, Virginia: International Institute of Islamic Thought, 1990), h. 54.

istilah teknis, menerangkan kategori, prinsip, problema dan tema pokok disiplin-disiplin ilmu Barat (modern).63

Dalam perspektif awal langkah-langkah Islamisasi sains ini, tampaknya al-Faruqi berusaha menekankan pentingnya penguasaan ilmu-ilmu modern sekuler, sebagaimana yang berkembang di Barat. Pemikiran tersebut juga mengindikasikan bahwa secara apresiatif al-Faruqi mengakui keunggulan sains modern, terutama dari segi metodologinya yang dapat digunakan untuk memperkaya khazanah intelektual Islam. Namun demikian, secara selektif sains yang berasal dari Barat harus tetap diseleksi sedemikian rupa, sehingga lebih mudah dicerna dan dijadikan sebagai rujukan (referensi) dalam konteks pendidikan.

Kedua, Survei disiplin ilmu. Pada tahap kedua setiap displin ilmu harus disurvei dan ditulis dalam bentuk skema (bagan) mengenai asal-usul, perkembangan dan pertumbuhan metodologinya, keluasan wawasannya, serta sumbangan pemikiran yang diberikan para tokoh utamanya. Bibliografi dengan keterangan singkat yang memadai dari karya-karya terpenting di bidang ini harus pula dicantumkan sebagai penutup dari masing-masing disiplin ilmu.64 Tulisan itu juga harus mengandung daftar berkategori dan berurutan dari buku dan artikel utama yang perlu dibaca seorang calon sarjana dalam rangka penguasaan disiplin ilmu tersebut secara tuntas. Langkah ini bertujuan untuk memantapkan pemahaman Muslim terhadap berbagai disiplin ilmu modern yang berkembang di Barat.65 Survei disiplin ilmu yang berbobot dan dilengkapi dengan daftar pustaka dan catatan kaki yang merupakan dasar pengertian bersama bagi para ahli yang akan melakukan Islamisasi disiplin ilmu tersebut, sehingga mereka benar-benar mengetahui secara mendetail dan menyeluruh tentang kekurangan-kekurangan dan

63

Ismail Raji al-Faruqi, Islamization of Knowledge, h. 99.

64

Ismail Raji al-Faruqi, Islamization of Knowledge, h. 99-100.

65

Langkah kedua Islamisasi sains tersebut memperlihatkan bahwa al-Faruqi menekankan peguasaan sains modern melalui usaha survey-analitis yang harus dilakukan oleh setiap cendekiawan Muslim dalam rangka mencari relevansi metodologis antara Islam dengan modernitas di bidang sains. Termasuk memahmi secara benar terhadap keunggulan dan kelemahan sains modern Barat, bahkan dalam rangka mengenal sejarah perkembangan sains tersebut.

kelebihan disiplin-disiplin ilmu modern tersebut, termasuk tentang sejarah, identitas dan obyek ilmu yang diislamkan.66

Ketiga, penguasaan khazanah Islam, sebuah antologi. Pada tahap ini, perlu dicari sampai sejauh mana khazanah Islam menyentuh dan membahas obyek disiplin ilmu modern tertentu. Tujuannya agar dapat ditemukan kriteria relevansi di antara khazanah Islam dan khazanah Barat. Ini penting, karena banyak ilmuwan muslim yang dididik di Barat tidak mengenal khazanah Islam sendiri, kemudian menganggap bahwa khazanah keilmuan Islam tidak membahas disiplin ilmu yang ditekuni. Padahal yang terjadi adalah bahwa ia tidak mengenal kategori-kategori khazanah ilmiah Islam yang digunakan oleh ilmuan tradisional untuk mengklasifikasi obyek disiplin ilmu yang ditekuninya. Sebelum menyelami seluk beluk relevansi Islam bagi disiplin ilmu modern, perlu ditemukan sampai sejauh mana khazanah ilmiah Islam menyentuh dan membahas obyek disiplin ilmu tersebut. Warisan ilmiah para ilmuwan Islam klasik bagaimanapun juga perlu dipakai sebagai titik awal usaha mengislamkan ilmu-ilmu modern.67 Proses mengislamkan ilmu-ilmu modern akan menjadi miskin jika tidak menghiraukan khazanah dan pandangan yang tajam para ilmuwan Islam pendahulu. Meskipun pada kenyataannya kontribusi khazanah Islam tradisional pada suatu disiplin ilmu modern tidak mudah diperoleh, dibaca dan dipahami oleh seorang ilmuwan Muslim dewasa ini. Karena memang ilmuwan Muslim pada masa kini tidak disiapkan untuk menelususri sumbangan-sumbangan khazanah Islam pada disiplin ilmu yang ditekuninya. Alasannya, disebabkan oleh kategori-kategori yang digunakan oleh disiplin-disiplin ilmu modern, bahkan juga kadang-kadang namanya, juga tidak dikenal dalam khazanah ilmiah Islam. Begitu juga sebaliknya, tradisi keilmuan Islam mungkin mengandung bahan-bahan berharga yang tidak dapat

66

Ismail Raji al-Faruqi, Islamization of Knowledge, h. 100.

67

Langkah ketiga Islamisasi sains merefleksikan pandangan al-Faruqi tentang pentingnya penguasaan khazanah intelektual Islam, di samping khazanah intelektual modern. Dalam konteks ini juga mengindikasikan bahwa al-Faruqi mulai berusaha menjembatani sekaligus mengintegrasikan kedua khazanah intelektual tersebut melalui tahapan-tahapan pemikiran Islamisasinya.

diklasifikasikan atau dihubungkan dengan kategori-kategori keilmuan Barat dewasa ini. 68 Para ilmuwan Muslim alumni Barat seharusnya mengenal kategori-kategori khazanah ilmiah Islam yang digunakan oleh ilmuwan Muslim tradisional, begitu juga sebaliknya para ilmuan Muslim yang dididik secara tradisional yang tidak mengenal dan menemukan relevansi khazanah ilmiah Islam dengan disiplin-disiplin ilmu modern, seharusnya diperkenalkan dengan ilmu pengetahuan modern dan kemudian dibebaskan untuk mencari hal-hal yang relevan bagi ilmu-ilmu tersebut dalam khazanah Islam. Langkah ketiga ini juga dilengkapi dengan persiapan penerbitan beberapa jilid antologi bacaan terpilih dari khazanah ilmiah Islam untuk setiap disiplin ilmu modern. Antologi-antologi ini akan membantu para ilmuan Muslim modern mengetahui sumbangan khazanah ilmiah Islam di bidang keilmuan yang menjadi spesialisasi mereka.69

Keprihatinan al-Faruqi terhadap keterputusan tradisi intelektual Islam yang dialami oleh beberapa cendekiawan Muslim yang berpendidikan Barat juga menjadi wacana pemikiran para intelektual Muslim kontemporer pada saat gagasan Islamisasi sains tersebut bergulir. Sebagaimana dikemukakan oleh Syed Sajjad Husein dan Syed Ali Ashraf, bahwa dunia Muslim telah dijajah oleh peradaban Barat. Perasaan tidak memiliki akar sejarah umat Islam telah merasuki umat Islam, karena para tokoh intelektual muslim telah dididik di dunia Barat, mengalami proses pencucian otak, kemudian kembali ke negerinya setelah membaca buku-buku teks yang penuh dengan ide yang bertentangan dengan asumsi tradisional mereka.70

Keempat, penguasaan khazanah ilmiah Islam, tahap analisa. Tahap ini diadakan analisis terhadap khazanah Islam dengan latar belakang historis dan kaitannya dengan berbagai bidang kehidupan manusia. Analisa historis dapat memperjelas berbagai wilayah wawasan Islam itu sendiri. Namun analisa ini tidak

68

Ismail Raji al-Faruqi, Islamization of Knowledge, h. 99-101.

69

Ismail Raji al-Faruqi, Islamization of Knowledge, h. 101-102.

70

dapat dilakukan sembarangan. Untuk dapat mendekatkan karya-karya hasil khazanah ilmiah Islam dengan para ilmuwan Muslim yang terdidik dalam cara Barat, sebenarnya juga tidak cukup hanya menyajikan bahan-bahan dalam bentuk antologi saja. Para ilmuwan tradisional Islam klasik sesungguhnya telah bekerja keras untuk menyoroti permasalahan yang dihadapi dengan khazanah Islam. Walaupun hasilnya tidak bisa dilepaskan dari pengaruh berbagai faktor kekuasaan yang menekan mereka. Untuk memahami kristalisasi wawasan mereka, karya-karya mereka perlu dianalisa dengan latar belakang sejarah dan kaitan antara masalah yang dibahas dengan berbagai bidang kehidupan manusia melalui proses identifikasi yang jelas. Analisa sejarah kontribusi khazanah ilmiah Islam tidak dapat diragukan lagi akan memperjelas berbagai wilayah wawasan Islam itu sendiri. Pengetahuan tentang bagaimana para cendekiawan muslim klasik memahami wawasan Islam dan bagaimana wawasan tersebut membantu mereka dalam penangulangi persoalan dan kesulitan mereka.71 Oleh sebab itu dalam tataran praktis, harus dibuat daftar urut prioritas, dan yang paling penting adalah bahwa prinsip-prinsip pokok, masalah-masalah pokok dan tema-tema abadi, yakni tajuk-tajuk yang mempunyai kemungkinan relevansi kepada permasalahan masa kini harus menjadi sasaran strategis penelitian dan pendidikan Islam.72

Kelima, penentuan relevansi Islam yang khas terhadap disiplin-disiplin ilmu. Pada tahap ini, hakekat disiplin ilmu modern beserta metode dasar, prinsip, problema, tujuan, hasil, capaian, dan segala keterbatasannya, semua dikaitkan dengan khazanah Islam. Begitu pula relevansi-relevansi khazanah Islam spesifik pada masing-masing ilmu harus diturunkan secara logis sehingga menjadi sebuah sumbangan keilmuan. Sebenarnya langkah yang keempat sebelumnya harus memberi informasi tentang otoritas dan kejelasan sebesar mungkin tentang sumbangan khazanah Islam dalam bidang-bidang yang dipelajari dan pada tujuan-tujuan umum disiplin ilmu modern. Bahan-bahan ini akan dibuat lebih spesifik

71

Ismail Raji al-Faruqi, Islamization of Knowledge, h. 103-104.

72

dengan jalan menterjemahkannya ke dalam prinsip-prinsip yang setara dengan disiplin ilmu modern dalam tingkat keumuman teori, referensi dan aplikasinya.73 Hakekat disiplin ilmu modern beserta metoda-metoda dasar, prinsip, problema, tujuan dan harapan, hasil-hasil capaian dan keterbatasannya, semuanya harus dikaitkan kepada khazanah Islam. Begitu juga relevansi khazanah Islam yang spesifik harus diturunkan secara logis dari sumbangan umum mereka.74

Keenam, penilaian kritis terhadap disiplin keilmuan modern dan tingkat perkembangannya di masa kini. Menurut al-Faruqi langkah keenam ini merupakan langkah utama, dalam proses Islamisasi sains, dan menganggap langkah-langkah sebelumnya merupakan langkah pendahuluan. Langkah Analisa kritis terhadap masing-masing disiplin itu dibuat dalam sudut pandang Islam. Setelah deskripsi dan analisis berbagai sisi dan relevansi antara khazanah Islam dan Barat, sekarang analisa kritis terhadap masing-masing ilmu dilihat dari sudut Islam. Dalam perkembangan sejarah, faktor-faktor yang menentukan disiplin ilmu dalam bentuknya yang sekarang perlu diidentifikasi dan diungkap, termasuk metodologi, serta problematika dan klasifikasi kategoris yang dianggap sebagai teori dan prinsip-prinsip pokok yang digunakan untuk memecahkan persoalan harus dianalisa dan diuji kesesuaian, kelogisannya, ketepatan asasnya dengan dengan konsep kesatuan yang diajarkan Islam. Selanjutnya permasalahan pokok dan tema-tema abadi masing-masing disiplin harus dianalisa untuk mendapatkan pengandaian-pengandaian yang diambilnya beserta hubungannya dengan wawasan inti dari pada disiplin ilmu yang bersangkutan. 75

73

Langkah keempat dan kelima tahapan Islamisasi sains menurut al-Faruqi sangat erat hubungannya. Karena tahapan tersebut mempunyai maksud memperdalam pemahaman setiap cendekiawan Muslim terhadap khazanah Islam, dengan tingkat penguasaan analisis yang mendalam dan mantap terhadap disiplin sains Islam, sekaligus pada tahap kelima diharapkan mereka telah menemukan relevansi yang tepat antara khazanah intelektual Islam dengan khazanah intelektual modern.

74

Ismail Raji al-Faruqi, Islamization of Knowledge, h. 104.

75

Ketujuh, penilaian kritis terhadap khazanah Islam dan tingkat perkembangannya dewasa ini. Yang dimaksud khazanah Islam pertama, adalah al-Qur’an dan Sunnah. Kedua sumber khazanah Islam itu bukan menjadi sasaran kritik atau penilaian. Transedensi al-Qur’an dan normativisme Sunnah adalah ajang yang tidak boleh diperdebatkan. Namun demikian, interpretasi orang-orang Islam terhadap keduanya, secara historis-kontekstual boleh dipertanyakan, bahkan harus selalu dinilai dan dikritik berdasarkan prinsip-prinsip dari kedua sumber tersebut.76 Begitu pula segala sesuatu yang berupa karya manusia, walaupun berdasarkan prinsip-prinsip yang bersumber dari kedua sumber pokok tersebut, tetapi melalui usaha intelektual manusia, tetap terbuka untuk dikritisi. Unsur manusiawi ini perlu mendapat sorotan apabila unsur tersebut tidak memainkan peranan yang dinamis dalam kehidupan Muslim masa kini.77

Menurut al-Faruqi, relevansi pemahaman manusiawi tentang wahyu Ilahi di berbagai bidang permasalahan umat manusia dewasa ini harus dikritik dari tiga sudut pandang, yaitu; (1) wawasan Islam sejauh yang ditarik langsung dari sumber-sumber wahyu beserta kongkretisasinya dalam sejarah kehidupan Rasulullah saw, para sahabat dan keturunannya. (2) kebutuhan ummat manusia dewasa ini, (3) semua pengetahuan modern yang mewakili. Apabila ternyata khazanah Islam tidak sesuai dan mengalami kesalahan, maka harus dikoreksi, dan apabila sebaliknya, perlu dikembangkan lebih lanjut dengan kristalisasi secara kreatif. Karena dalam situasi bagaimanapun juga tidak ada sikap Islam dewasa ini yang tidak dapat terkaitkan dengan khazanah Islam, baik berupa kelebihan maupun kekurangannya, harus bersinerji dengan khazanah tersebut.78

76

Langkah keenam dan ketujuh dalam tahapan Islamisasi sains al-Faruqi mengindikasikan bahwa proses tersebut harus dilakukan secara kritis. Dengan maksud untuk mencari berbagai keunggulan sekaligus kelemahan sains Barat dari sudut pandang Islam, begitu juga berupa langkah objektif untuk menilai kelemahan berbagai disiplin keilmuan Islam yang pasti tidak luput dari berbagai kelemahan. Dalam hal ini terlihat bahwa al-Faruqi sangat jujur dalam melihat kondisi objektif keilmuan Islam yang juga mempunyai berbagai kelemahan, terutama dalam konteks hasil interpretasi para cendekiawan Muslim terhadap sumber-sumber ajaran Islam.

77

Ismail Raji al-Faruqi, Islamization of Knowledge, h. 107-108.

78

Kedelapan, Survei permasalahan yang dihadapi umat Islam. Setelah diadakan analisa-kritis terhadap keilmuan modern maupun khazanah Islam, berikutnya adalah survei terhadap berbagai problem internal umat Islam di segala bidang. Problem ekonomi, sosial dan politik yang sedang diahadapi umat Islam ini sebenarnya tidak berbeda dengan “ puncak gunung es”, dan kelesuan moral dan intelektual yang terpendam. Untuk bisa mengidentifikasi semuanya dibutuhkan survei empiris dan analisa kritis secara komprehensif. Kearifan yang terkandung dalam setiap displin ilmu harus dimanfaatkan untuk memecahkan problem umat Islam. Tidak boleh seorang Muslim pun membatasi ilmunya dalam satu titik yang hanya memuaskan keinginan intelektualitasnya, lepas dari realitas harapan dan aspirasi umat Islam. Seorang ilmuwan Muslim dengan demikian tidak bisa membatasi ilmunya dalam “menara gading”, kemurnian yang hanya memuaskan keingintahuan intelektualnya lepas dari kenyataan dan harapan serta aspirasi umat Islam secara keseluruhan. Di atas segalanya, masalah disiplin ilmu dan masalah lembaga-lembaga pendidikan Islam, berupa kemapanan proses de-islamisasi mereka dan kemajuan upaya re-islamisasi, secara bersamaan harus diperhatikan dan diarahkan pada masalah-masalah utama yang meliputi masalah politik, ekonomi, sosial, intelektual, budaya, moral dan spiritual yang dihadapi ummat.79

Kesembilan, survei permasalahan yang dihadapi manusia. Sebagian dari wawasan dan visi Islam adalah tanggung jawabnya yang tidak terbatas pada kesejahteraan umat Islam, tetapi juga menyangkut kesejahteraan umat manusia dengan segala heteregonitasnya, bahkan mencakup seluruh alam semesta. Dalam beberapa hal umat Islam memang terbelakang di banding bangsa lain, tetapi dari sisi ideologis, mereka adalah ummat yang paling potensial dalam upaya proses integrasi antara kesejahteraan, religius, etika dan material. Islam mempunyai wawasan yang diperlukan bagi kemajuan peradaban manusia untuk menciptakan sejarah baru di masa depan. Karena itu, ilmuwan muslim harus berpartisipasi

79

menghadapi problema kemanusiaan dan membuat solusi terbaik sesuai misi dan visi Islam. Sebagai pewaris khazanah Islam, umat Islam adalah satu-satunya pembicara yang pantas ditengah umat manusia yang kehilangan tujuan hidupnya akibat proses kolonialisme, imperialisame dan etnosentrisme yang telah memecah-belah hubungan manusia di seluruh pelosok dunia.80 Umat Islam harus mampu memberikan pemikiran dan perencanaan bagi kesejahteraan umat Islam dan ummat manusia, berupa kemakmuran dan keadilan serta keluhuran martabat kemanusiaan, yang tidak bisa dipisahkan dari nilai-nilai Islam.81

Kesepuluh, Analisa sintesa-kreatif. Setelah memahami dan menguasai semua disiplin ilmu modern dan disiplin keilmuan tradisional, menimbang, kelebihan dan kelemahan masing-masing, determinan relevansi Islam dengan dimensi pemikiran ilmiah tertentu pada disiplin ilmu modern, identifikasi problem umat Islam sebagai hamba sekaligus khalifah, dan setelah memahami permasalahan yang sedang dihadapi ummat Islan dalam lintasan sejarahnya, sebagai khalifah Allah di muka bumi, dan setelah memahami permasalahan yang lebih luas yang dihadapi oleh umaat manusia dilihat dari sudut pandang Islam, yang memerintahkan kaum Muslim menjadi Syuhada’ ’ala al-Nas dalam sejarah ummat manusia, maka saatnya mencari lompatan kreatif di bidang pemikiran Islam. Sebuah jalan baru bagi ummat Islam untuk bangkit dan tampil sebagai pelindung dan pengembang, serta pelopor di dunia untuk melanjutkan peranannya sebagai penyelamat paradaban manusia.82

Sintesa kreatif yang akurat harus dibuat antara ilmu-ilmu Islam tradisional dan displin-disiplin ilmu-ilmu modern supaya dapat mendobrak stagnasi intelektual

80

Langkah metodologis Islamisasi sains menurut al-Faruqi, terutama langkah ke delapan dan ke sembilan memperlihatkan aspek sosial politik dan ekonomi yang dihadapi oleh umat Islam dan umat manusia pada umumnya. Dalam perspektif ini juga terlihat bahwa al-Faruqi mencoba melihat secara arif bahwa proses Islamisasi sains tidak bias dipisahkan dengan kondisi realitas umat manusia. Artinya bahwa harus ada kesadaran kemanusiaan yang bersifat universal yang seharusnya dimiliki oleh setiap cendekiawan Muslim. Dari perspektif ini pula al-Faruqi berupaya mencari hubungan aksiologis bagi sains dalam kaca mata Islam.

81

Ismail Raji al-Faruqi, Islamization of Knowledge, h. 111.

82

selama beberapa abad. Khazanah ilmu-ilmu Islam harus terkait dengan ilmu-ilmu modern dan harus terkait dengan hasil-hasil ilmu modern dan harus mulai menggerakkan barisan depan pengetahuan sampai cakrawala yang lebih jauh dari apa yang bisa diprediksikan oleh ilmu modern.83 Sintesa kreatif harus mampu menjaga relevansinya dengan realitas ummat Islam, dan mampu memberikan solusi bagi permasalahan yang muncul dari harapan Islam.84

Kesebelas, penuangan kembali disiplin ilmu modern ke dalam kerangka Islam, pada buku-buku daras tingkat Universitas. Secara operasional, para intelektual muslim, tidak akan sepakat tentang solusi suatu persoalan, karena perbedaan background, masing-masing. Ini tidak dilarang bahkan dibutuhkan sehingga kesadaran mereka menjadi lebih kaya dengan berbagai macam pertimbangan. Secara faktual, umat Islam abad pertengahan mampu menciptakan dinamika, karena Islam bisa menjadi wadah untuk menampung segala macam ide dan gagasan baru yang merepresentasikan nilai-nilai Ilahiyah. Berdasarkan wawasan-wawasan baru tentang makna Islam serta pilihan-pilihan kreatif bagi realisasi makna tersebut, sejumlah buku daras pada perguruan tinggi akan ditulis di semua bidang keilmuan modern. Esei-esei yang mencerminkan pandangan kritis setiap topik, atau cabang ilmu modern, harus diberi wawasan Islam. Islamisasi disiplin ilmu melalui buku-buku daras di perguruan tinggi dimaksudkan untuk membina daya tahan intelektual para pemikir Muslim, juga untuk memenuhi

kebutuhan yang besar ummat Islam dalam memproyeksikan dan

mengkristalisasikan wawasan Islam yang sangat luas. Buku-buku daras itu juga diharapkan dapat dipergunakan sebagai pedoman umum bagi para ilmuan di kemudian hari. Dengan demikian buku daras di universitas adalah hasil akhir dari

83

Langkah kesepuluh tahapan Islamisasi sains menurut al-Faruqi sangat populer, karena dia menawarkan sebuah langkah penting dalam perspektif pemaduan disiplin sains modern dengan Islam, yang disebutnya sebagai langkah sintesa-kreatif yang dijadikan sebagai upaya lompatan kreatif dalam bidang pemikiran Islam, dan dijadikan sebagai langkah penting untuk membuka stagnasi pemikiran Islam selama ini. Sintesa-Kreatif tersebut merupakan wujud akumulatif dari proses Islamisasi sains, yang dijadikan sebagai dasar kemajuan peradaban Islam.

84

proses panjang Islamisasi disiplin-disiplin ilmu modern. Ia adalah karya yang memahkotai usaha besar yang diuraikan dalam langkah-langkah terdahulu.85

Keduabelas, penyebaran ilmu-ilmu yang telah diislamisasikan. Setelah disiplin ilmu modern bisa dituangkan secara baik dalam kerangka Islam, selanjutnya adalah pendistribusian karya-karya yang berharga ke seluruh masyarakat Islam. Sebab karya-karya yang berharga tersebut tidak akan pernah berarti jika hanya dinikmati oleh orang-orang tertentu atau dalam kalangan terbatas.86 Karya-karya intelektual dimaksudkan untuk membangkitkan, mencerahkan dan memperkaya khazanah intelektual ummat Islam, bahkan ummat