SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
E. Realitas Krisis Pendidikan Islam
Menurut al-Faruqi bahwa masalah pendidikan di dunia Islam menjadi prioritas yang harus dibenahi terlebih dahulu, karena sistem pendidikan yang ada telah menyebabkan krisis yang berimbas pada munculnya krisis lainnya. Dunia pendidikan di negara-negara Islam pada saat gagasan Islamisasi sains itu dikemukan oleh al-Faruqi masih sangat ketinggalan di bandingkan dengan sistem pendidikan di negara-negara maju. Kondisi ini diperparah oleh sistem pendidikan sangat tradisional, dan beberapa negara juga berusaha mengurangi ketertinggalan
112
Mehdi Golshani, Melacak Jejak Tuhan dalam Sains, (Bandung: Mizan, 2004), h. 44.
113
di bidang pendidikan dengan menganut sstem pendidikan yang dikhotomis yakni memisahkan antara pendidikan agama yang tradisionalis dengan pendidikan modern yang sekuler. Namun dalam batas tertentu justeru sistem ini menimbulkan permasalahan yang serius karena kemudian berkembang pandangan yang dualistis terhadap paradigma keilmuan. Dengan demikian, menurut al-Faruqi pendidikan yang berkembang tersebut telah menimbulkan konflik baru antara ilmu agama di satu sisi dengan ilmu-ilmu modern sekuler yang berasal dari pendidikan modern.114
Secara teoritis pendidikan modern adalah pendidikan yang berkembang dan difungsikan oleh peradaban Barat.115 Sedangkan peradaban Barat sendiri merupakan fusi atau kolaborasi dari kebudayaan, filsafat, nilai-nilai dan aspirasi Yunani serta Romawi Kuno. Fusi tersebut bercampur lagi dengan agama Yahudi dan Kristen. Dalam perkembangannya peradaban tersebut bercampur lagi dengan peradaban bangsa Latin, Jerman, Keltik, dan Nordik. Dari Yunani Kuno diperoleh unsur-unsur filsafat dan epistemologi, dan dasar-dasar pendidikan, etika dan estetika. Dari Romawi diperoleh unsur-unsur hukum, ketatanegaraan, dan pemerintahan. Dari Yahudi dan Kristen diperoleh unsur-unsur kepercayaan agama. Dari Latin, Jerman, Keltik, dan Nordik diperoleh jiwa mandiri dan nasional serta nilai-nilai tradisional dan perkembangan, kemajuan ilmu-ilmu alam semesta serta sains dan teknologi, bersama dengan bangsa Slavia mendorong mereka kepada kejayaan kekuasaan.116
Kemodernan peradaban Barat itu dibangun baik oleh misionaris untuk memprogandakan Kristen dan Humanisme, serta sekularisme Barat maupun oleh pemerintah muslim yang mencoba menciptakan lembaga-lembaga yang akan mendidik warganya dengan cara yang memungkinkan mereka tetap mengendalikan
114
Ismail Raji al-Faruqi, Islamization of Knowledge, h. 8-9.
115
Anwar Al-Jundi, “Pemukulan Tombak Peradaban Islam”, dalam Pembaratan di Dunia Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991), h. 55.
116
Abdullah Fadjar, “Tantangan Peradaban dan Problematika Pendidikan Islam” dalam
Peradaban dan Pendidikan Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 1991), h. 30. Lihat pula Dawam Rahardjo, “Melihat ke Belakang, Merancang Masa Depan” dalam Muntaha Azhari dan Abdul Mun’im Saleh, Islam Indonesia Menatap Masa Depan, (Jakarta: P3M, 1989), h. 10
kekuasaan dengan pola ekonomi modern. Kendatipun sepintas tujuan edukasional mereka memenuhi kebutuhan masyarakat, namun usaha-usaha mereka itu tidak lain adalah menciptakan kekosongan dan perpecahan yang serius di dunia Islam.117 Di dunia Islam, terdapat dua jenis lembaga pendidikan yang berlomba satu sama lain.
Pertama, sistem pendidikan berdasarkan gagasan Barat, yang sering menitikberatkan wilayah kemanusiaan (antroposentrisme) untuk menggantikan ajaran Islam dan lebih terbuka dalam ilmu-ilmu sosial dan alam. Kedua, sistem pendidikan tradisional yang masih kental mempelajari subyek-subyek Islam, seperti yurisprudensi, tafsir al-Qur’an dan Hadits.118
Menurut al-Faruqi, sistem dan model pendidikan Islam yang dianggap sebagai ujung tombak kemajuan justru mendukung dan melestarikan tradisi keilmuan yang stagnan. Selanjutnya model pendidikan masyarakat Islam bisa dipolakan menjadi tiga kategori. Pertama, sistem pendidikan tradisional yang hanya mempelajari ilmu-ilmu keislaman secara sempit, sisi hukum dan ibadah mahdhah.
Kedua, sistem pendidikan yang lebih menekankan ilmu-ilmu sekular yang diadopsi secara mentah dari Barat. Ketiga, adalah sistem pendidikan konvergensif yang memadukan pola yang ada yakni melembagakan sistem tradisional dan sekaligus menerima ilmu-ilmu sekuler Barat.119
Asumsi al-Faruqi tersebut memang dapat dikonfrontir dengan realitas dominasi peradaban Barat yang mendominasi seluruh aspek sains dan teknologi modern, yang diajarkan pada lembaga-lembaga pendidikan Islam. Paling tidak berdasarkan kategorisasi dan sifat peradaban sekuler Barat yang mempengaruhi bingkai ilmu pentehuan tersebut dapat dicirikan dalam beberapa tipologi. Pertama, secara ontologis peradaban Barat dibangun di atas konstrusksi peradaban modern yang didasarkan pada filsafat yang campur aduk dan membingungkan, sebagaimana
117
Eni Purwati, Islamisasi Kurikulum dalam Rangka Strategi Pengembangan Pendidikan Islam (Telaah Kritis atas Pemikiran Hasan Langgulung), Tesis MA, (Surabaya: IAIN Sunan Ampel, 1999), h. 32.
118
Seyyed Hosein Nasr, Menjelajah Dunia Modern, terjemahan. Hasti Tarekat, (Bandung; Mizan, 1994), h. 135-136.
119
yang telah dipaparkan, merupakan perpaduan dari beberapa pengaruh filsafat bangsa-bangsa di Eropa, yaitu Yunani, Jerman, Nordik dan sebagainya. Islampun mempunyai andil dalam peradaban Barat, yaitu dalam hal ilmu pengetahuan dan penanaman semangat ilmiah dan rasional. Semangat ilmiah dan rasional tersebut direkonstruksi agar sesuai dengan kebudayaan Barat, menyatu dengan unsur lain yang membentuk cirri dan kepribadian Barat.120
Kedua, dalam perspektif epistemologis, peradaban Barat merumuskan kebenaran dan realitas bukan atas dasar pengetahuan wahyu dan keyakinan agama. Epistemologi mereka cenderung mengarah kepada filsafat Antroposentris, artinya epistemologi mereka didasarkan pada tradisi budaya yang dikuatkan kembali melalui premis-premis filofofis ketat berdasarkan pada spekulasi-spekulasi yang hanya mencakup khazanah sekuler sebagai entitas fisik dan hewan rasional (homo rational). Dengan jalan menggantungkan diri pada kemampuan intelektual manusia untuk menyingkap misteri dan lingkungan eksistensinya, sehingga nilai moral dan etisnya menjadi penuntun dan pengatur, menyebabkan tidak ada kepastian dalam proyeksi pandangan dunia dan pengarahan kehidupan mereka, dikarenakan nilai-nilai pengetahuan mereka selalu tergantung pada tinjauan dan perubahan yang terus menerus.121
Pandangan filosofi antrophosentrisme berkembang sejak naiknya filsafat humanisme yang berpengaruh kuat pada proses pencerahan Barat, dan telah memutlakkan manusia bumi (earthy man). Kebudayaan tersebut telah meminggirkan manusia dari pusatnya dan membangun kebudayaan khas yang benar-benar tidak memiliki pusat (center less). Sebaliknya humanisme Barat telah memberi kualitas kemutlakan kepada manusia yang tanpa pusat tersebut.122 Manusia bumi tersebut didefinisikan menurut rasionalisme dan humanisme yang
120
Eni Purwati,Islamisasi Kurikulum, h. 33.
121
Eni Purwati, Islamisasi Kurikulum, h. 33-34.
122
Syed Husain Nasr, Islam dan Krisis Lingkungan, terjemahan oleh Abas al-Jauhari dan Ihsan Ali Fauzi, dalam Jurnal Islamika, No. 3 Januari-Maret, 1994. Lihat juga J. Herlihy, Citra Manusia Kontemporer: Terpenjara dalam Pengasingan, dalam Jurnal Ulumul Qur’an, No. 5, Vol. IV, tahun 1993, h. 88.
mengembangkan ilmu pengetahuan abad 17, yang didasarkan pada dominasi penaklukkan atas alam. Dominasi tersebut memandang alam sebagai obyek hak manusia secara mutlak. Manusia bumi inilah yang menimbukan ketidakseimbangan kehidupan (unequlibrium life). 123
Kekuatan akal manusia dalam pandangan rasionalis dan humanis Barat menjadi patokan utama dalam memandang keabsahan epistemologi ilmu. Ketergantungan pada akal semata telah menjadikan manusia menjalani kehidupan dan keyakinan berdasar keabsahan diri dan visi dualistis tentang realitas dan kebenaran. Penegasan realitas eksistensi manusia yang luntur tersebut memproyeksikan pandangan dunia sekuler, dukungan doktrin humanisme, dan kehendak emulasi (menandingi) realitas universal. Kesemuanya itu menyangkut drama dan tragedi dalam kehidupan spiritual atau transedental (sine qua non) manusia, sehingga menjadikan drama dan tragedi tersebut menjadi unsur-unsur nyata dan dominan dalam sifat dan eksistensi manusia. Semua unsur inilah yang merupakan pembentuk hakekat, jiwa, sifat dan kepribadian kebudayaan Barat.124
Ketiga, dalam perspektif aksiologis pengetahuan yang kini disebarkan secara sistematis ke seluruh dunia, tidak selalu merupakan pengetahuan yang benar, melainkan pengetahuan yang diilhami oleh sifat dan kepribadian kebudayaan dan peradaban Barat. Pengetahuan tersebut disusun, dievaluasi dan diinterpretasikan sesuai dengan tujuan yang menyatu dengan pandangan dunia peradaban Barat. Pada akhirnya bentuk konsepsional dan nilai-nilai serta interpretasi berbagai isian pengetahuan, tujuan dan sistemnya tersebar ke dalam lembaga-lembaga pendidikan dan pengajaran.125
Kenyataan sebenarnya yang terjadi di Barat, bahwa bentuk-bentuk konseptual ilmu pengetahuan dan transformasi sosial Barat telah menafikan dan
123
S.H. Nasr, Islam dan Krisis, h. 88. Lihat juga Yudi Latif dan Subandy Ibrahim,
Kekerasan Spritual dalam Mastarakat Pascamodern, dalam Jurnal Ulumul Qur’an, No. 3 tahun 1994, h. 77.
124
Yudi Latif dan Subandy Ibrahim Kekerasan Spiritual, h. 32-33.
125
menundukkan manusia pada tujuan dan keinginan materialistik. Oleh karena itu krisis nilai semakin menjadi nampak. Dikhotomi eksistensi manusia---termasuk ilmu pengetahuan---yang terlihat pada sikap mengejar materi tanpa batas mengarah pada terciptanya kehampaan spiritual dalam diri manusia. Sains dan teknologi yang menopang peradaban Barat menjadi liar dan dampaknya malah dapat menghadirkan rasa tidak aman.126 Dengan demikian, semakin sukses suatu negara Islam menggunakan teknologi modern, pendidikan modern, sains modern, semakin besar pula warisan budaya dan nilai-nilai Barat, walaupun secara formal tampak tidak berhubungan dengan sains dan teknologi, akan tetapi secara substansial mengandung nilai-nilai tersebut. Implikasi dari penaklukan budaya yang semakin jauh adalah semakin besar ancaman terhadap identitas dan peradaban Islam.127 Pada akhirnya peradaban Barat tersebut mendominasi dan melakukan penetrasi terhadap struktur dalam Islam baik berupa lembaga ekonomi, maupun politik, yang mengakibatkan ketegangan dan perubahan struktur sosio-politik di dunia Islam. Peristiwa ini merupakan awal krisis di dunia Islam. Krisis itu tidak hanya bersifat politis, akan tetapi bersifat kultural dan religius.128 Krisis peradaban tersebut juga berimbas pada dunia pendidikan Islam yang memunculkan visi pendidikan sekuler dan pendidikan keagamaan semata. Hal yang paling nyata dari implikasi pertarungan global peradaban dan fisafat Barat dan Islam, telah memunculkan dualitas sistem pendidikan atau dikhotomi pendidikan yang hampir melanda seluruh dunia Islam.
Berdasarkan fenomena dominasi peradaban sekuler Barat tersebut, menurut al-Faruqi, tidak ada jalan lain untuk membangkitkan Islam dan menolong nestapa dunia, kecuali dengan mengkaji kembali kultur keilmuan Islam masa lalu, masa kini dan keilmuan Barat, untuk kemudian disosialisasikan menjadi keilmuan yang
126
Chandra Muzaffar, “Kebangkitan Islam: Suatu Pandangan Global dengan Ilustrasi dari Asia Tenggara”, dalam Saiful Muzani, (ed.), Pembangunan dan Kebangkitan Asia tenggara, (Jakarta: LP3ES, 1993), h. 130
127
Nasr, Islam dan Krisis Lingkungan, h. 130.
128
“rahmatan lil Alamin”, melalui apa yang disebut “Islamisasi Ilmu”, dan kemudian disosialisasikan lewat sistem pendidikan Islam yang integral.129 Bagi al-Faruqi, umat Islam tidak bisa diharapkan lagi untuk melakukan kebangkitan intelektual kembali jika sistem pendidikannya tidak dirubah dan kesalahannya tidak dikoreksi. Sesungguhnya yang perlu dilakukan adalah pembaruan sama sekali terhadap sistem pendidikan Islam dan pendidikan sekuler. Dualisme sistem pendidikan Islam berupa pemilahan antara pendidikan Islam dan pendidikan sekuler, harus dihilangkan dan dihapuskan. Kedua sistem pendidikan tersebut harus diintegrasikan dalam sebuah sistem baru yang dimasuki spirit Islam, dan sekaligus berfungsi sebagai sebuah ideologi yang kokoh.130 Menurut al-Faruqi syarat utama untuk menghilangkan dualisme sistem pendidikan yang berimbas juga pada munculnya dualisme di bidang kehidupan umat, dan agar umat terbebas dari malaise adalah dengan cara melakukan Islamisasi sains yakni berusaha mengintegrasikan berbagai ilmu yang ada sesuai dengan visi epsitemologi Islam.131
Dalam kata pengantar dalam karyanya “Islamisasi Pengetahuan”, al-Faruqi menyatakan bahwa pemilahan sistem pendidikan yang terbelah dua (dikhotomis) antara, sistem pendidikan “modern” dan sistem “Islam” (maksudnya sistem pendidikan umum dan agama), dianggap al-Faruqi sebagai simbol kemunduran kaum Muslimin. Jika kondisi itu tidak ditanggulangi dan dihilangkan, maka hal itu itu akan terus menerus mendangkalkan dan menggagalkan perjuangan untuk membangun kembali ummah dan untuk dapat melaksanakan amanah dari Allh SWT. 132 Menurut al-Faruqi salah satu penyebab kemunduran umat Islam disebabkan oleh sistem pendidikan yang terbelah menjadi dua, antara pendidikan
129
John L Esposito, “Ismael R. Al-Faruqi,” dalam The Oxford Enclycopedia of the Modern Islamic Wold, (New York: Oxford University Press, 1995), h. 3.
130
Ismail Raji al-Faruqi, Islamisasi Ilmu Pengetahuan, h. 3. Lihat juga Ziauddin Sardar, “Islamisasi Ilmu Pengetahuan atau Westernisasi Islam”, dalam Jihad Intelektual, terj. Priyono, (Surabaya: Risalah Gusti, 1998), h. 44-45.
131
Ismail Raji al-Faruqi, Islamization of Knowledge, h. 55.
132
Islam di satu sisi dan pendidikan modern yang sekuler di sisi lainnya atau yang lebih dikenal sebagai dualisme pendidikan yang terjadi di dunia Islam.
Pendapat al-Faruqi mengenai penyebab kemunduran umat Islam di masa lalu dan ketertinggalannya di bandingkan Barat sebenarnya telah lama diperdebatkan oleh para pemikir Islam. Masing-masing ahli tampaknya mempunyai kesimpulan yang beragam sesuai dengan keahliannya. Para teolog misalnya, berpendapat bahwa kemunduran umat Islam disebabkan karena teologi yang dianutnya bukan lagi teologi yang membawa dinamika. Ahli fikih mempunyai penilaian bahwa faktor penyebab kemunduran mereka adalah Islam yang mereka anut bukan lagi Islam dalam arti sebenarnya. Bid’ah atau semacamnya telah menguasai kehidupan mereka.133 Politisi berpendapat bahwa faktor yang menjadi penyebab kemunduran umat Islam adalah faktor perebutan kekuasaan di kerajaan-kerajaan Islam. Sementara itu filosof berpendapat bahwa yang menjadi sebab kemunduran umat Islam adalah adanya pengekangan berfikir dan pengharaman filsafat. Ekonom berpendapat bahwa kemunduran umat Islam lebih banyak disebabkan oleh ketidakberdayaan umat Islam di bidang ekonomi. Sedangkan di kalangan pendidik berpendapat bahwa penyebab kemunduran umat Islam disebabkan oleh adanya pendidikan yang salah. Pendidikan yang diselenggarakan tidak lagi menghasilkan anak didik yang dinamis dan tanggap terhadap kemajuan zaman.134 Tampaknya pendapat al-Faruqi sama dengan pendapat para ahli pendidikan bahwa faktor utama penyebab kemunduran umat Islam disebabkan kualitas pendidikan yang tidak mendukung kemajuan.
Selanjutnya al-Faruqi menyatakan bahwa pada masa modern sudah saatnya para sarjana dan intelektual Islam meninggalkan metode asal tiru yang berbahaya dalam rangka reformasi pendidikan. Bagi mereka reformasi pendidikan hendaklah dengan jalan melakukan Islamisasi ilmu pengetahuan modern itu sendiri.
133
Suwito, Filsafat Pendidikan Akhlak Ibnu Miskawaih, Kajian atas Asumsi, Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan, (Yogyakarta: Belukar, 2004), h. 23.
134
sains yang berkembang seperti sains sastra, sains sosial, sains pasti-alam harus disusun dan dibangun ulang dan diberikan dasar Islam serta tujuan yang konsisten dengan Islam. Sehingga dengan demikian, setiap disiplin ilmu meski bersumber pada prinsip-prinsip Islam di dalam metodologinya, strateginya, data-datanya, problem-problemnya, serta tujuan-tujuannya, berikut pelaksanaannya. Setiap disiplin ilmu harus dikaji ulang sehingga mengungkapkan relevansi Islam yang berbasiskan pada tauhid.135 Dalam konteks yang lebih praktis, menurut al-Faruqi guru-guru muslim yang paling berperan dalam garda depan proses pendidikan, harus mendapatkan latihan di dalam penggunaan buku-buku baru yang sudah direvisi, dan universitas-universitas, sekolah-sekolah tinggi harus dirubah sehingga dapat kembali memegang pimpinan pionir di dalam sejarah dunia.136
Dalam mengagas ide Islamisasi ilmu pengetahuan, tampaknya al-Faruqi berusaha menghidupkan kembali sejarah klasik Islam yang telah melahirkan sejumlah lembaga pendidikan unggulan semacam madrasah dan didukung pendanaan yang kuat lembaga waqf. Menurut al-Faruqi, madrasah yang dirangsang oleh pandangan bahwa Islamlah yang menciptakan bagi dirinya status waqf, yang memberinya personalitas dan otonominya yang layak, yang membuatnya sebagai model bagi universitas-universitas di Paris, Oxford dan Cologne di abad ke-12. Pandangan Islam ini menganggap bahwa madrasah berperan sebagai pelopor di dalam setiap bidang pengamatan manusia, sebagai pencipta karakter dan kepribadian manusia, sebagai proyektor bagi prestasi mengagumkan dari ummah di dalam kultur Islam. Dalam madrasah juga terdapat jalinan kuat antara guru dan murid secara terus-menerus bekerja sama dalam rangka mengartikulasikan terhadap pola-pola Allah di dalam penciptaannya. Dalam konteks paedagogis, peranan seorang Syaikh yang tidak tercela harus dijadikan teladan bagi muridnya. Pada awalnya proses rekruitmen seorang murid adalah atas otoritas Syaikh, dan merupakan lambang keyakinan total bahwa si murid dapat berbicara dengan otoritas
135
Ismail Raji al-Faruqi, Islamization of Knowledge, h. xi
136
gurunya. Standar-standar pendidikan berada pada puncak karena persyaratan untuk menjaga nama dan kemuliaan guru yang berada di tangan murid sangat kuat dan berat. Hal ini bisa dilakukan karena adanya kesetiaan ikatan keilmuan antara guru dengan muridnya berdasarkan pandangan Islam, serta kemauan dan dedikasi untuk mencari kebenaran demi Allah SWT semata.137
Pandangan literal al-Faruqi tentang pentingnya konsep kesatuan ummah
dalam dan konsep tauhid, mengindikasikan semangat untuk kembali meraih kejayaan masa lalu Islam. Dalam keyakinan al-Faruqi bahwa kejayaan Islam dapat dicapai dengan semangat persatuan dan kesatuan serta prinsip keimanan yang terpancar dalam tauhid Islam. Namun pandangan tersebut kadang dipersepsi sebagai representasi faham gerakan pembaruan yang revivalisme-fundamentalis. Karena mirip dengan gerakan yang dilakukan kelompok puritan Islam, semacam M. Abdul Wahhab di Saudi Arabiya pada abad ke-18. Begitu mirip dengan gerakan Pan-Islamisme Jamaluddin al-Afghani (1838-1897), dan semangat rasionalisme Muhammad Abduh (1849-1905), dalam bidang teologi atau konsep-konsep tauhidnya, dan dalam taraf tertentu semangat puritannya hampir sama dengan gagasan tokoh-tokoh fundamentalis-revolusioner lainnya seperti Hasan al-Banna, Abul ‘Ala al-Maududi (w.1979).
Namun demikian, tampaknya pengaruh pemikiran revivalisme al-Afghani dan gagasan teologi Abduh lebih dekat dengan paradigma pemikiran al-Faruqi. Pengaruh Jamaluddin Afghani misalnya tampak dalam konstruksi pemikiran al-Faruqi tentang pentingnya penegasan bahwa agama Islam merupakan agama yang sesuai dengan nalar dan sains, serta kekuatan dan daya hidup ummat Islam tergantung kepada penegasan identitas dan solidaritas keislaman (Pan-Islamisme). Sebagaimana al-Faruqi, tampaknya al-Afghani juga menekankan pentingnya umat Islam menyadari keterkaitan agama Islam dengan perkembangan sains. Menurut al-Afghani bahwa dalam kenyataannya keterpurukan ummat Islam yang dikalahkan
137
oleh agresi bangsa-bangsa Eropa ( dalam hal Inggris dan Perancis), disebabkan kekalahan di bidang pengembangan sains. Ilmu pengetahuan, menurut al-Afghani secara terus menerus telah mengubah modal, seluruh kekayaan dan kemakmuran adalah hasil dari ilmu pengetahuan. Ringkasnya, seluruh esensi dunia manusia adalah dunia ilmu pengetahuan. Kadangkala pusat ilmu pengetahuan berpindah dari Timur ke Barat, dan pada saat yang lain, dari Barat ke Timur. Orang yang melarang dan mengharamkan ilmu dan pengetahuan dengan dalih kepercayaan mereka, sesungguhnya adalah musuh agama. Agama Islam adalah agama yang paling dekat dengan ilmu pengetahuan, dan tidak ada pertentangan antara ilmu pengetahuan dan dasar-dasar akidah Islam.138 Pandangan tentang pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan oleh ummat Islam menurut al-Afghani, bisa dianggap turut mempengaruhi pemikiran al-Faruqi, karena terdapat kesamaan pandangan di antara dua tokoh tersebut tentang pentingnya pengembangan ilmu pengetahuan bagi masa depan umat Islam. Begitu juga tentang pentingnya solidaritas dunia Islam, termasuk pandangan Afghani berupa interpretasi yang holistik tentang Islam, reformasi Islam secara tak terpisahkan terkait dengan pembebasan dari cengkeraman kolonial. Meskipun ia menyebarkan pesan pan-Islamisme, ia juga menerima realitas nasionalisme Muslim.139 Jamaludin Afghani mengartikulasikan ide dan sikap yang mempengaruhi pemikiran reformis Islam dan sentimen anti-kolonial selama lebih dari separuh pertama abad kedua puluh. Semangat anti-kolonialisme itu juga dikembangkan oleh al-Faruqi dalam setiap pemikirannya tentang politik Islam dan membangun peradaban Islam yang bebas dan maju.
Sementara pengaruh Muhammad Abduh terlihat pada pemikiran al-Faruqi tentang konsep-konsep tauhid dalam Islam, dan semangat neo-salafiyahnya. Sebagaimana dijelaskan bahwa al-Faruqi secara serius menekankan arti penting
138
Jamal al-Din al-Aghani, “Islamic Solidarity” dan “An Islamic Response to Imperialism”, dalam John J. Donohue dan John L. Esposito, Islam in Transisition Muslim Perspectives, (New York: Oxford University Press, tt), h. 17-19.
139
John L. Esposito, Islam Warna-Warni, terj. Arif Maftuhin, Islam: The Straigth Path, (Jakarta: Paramadina, 2004), h. 161.
konsep tauhid dalam setiap aktifitas pemikiran dan kehidupan umat Islam. Jika al-Afghani adalah katalisator, maka muridnya Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha (1865-1935) sebagai pemadu (synthesizer) Islam modern yang besar. Gerakan salafiyahnya mereka mempengaruhi gerakan-gerakan reformasi dari Afrika Utara sampai Asia Tenggara.140 Persamaan pandangan Muhammad Abduh dengan al-Faruqi terletak pada pemikirannya tentang konsep tauhid. Teologi Abduh dimulai dengan Tauhid, begitu juga ketika al-Faruqi mendasarkan pemikiran Islamisasi ilmu pengetahuannya juga sangat menekankan prinsip-prinsip tauhid (the unity). Menurut Abduh, tauhid merupakan dasar aqidah Islam dan sumber kekuatan dan kehidupan umat Islam. Salah satu karya reformismenya Abduh yang penting adalah The Theology of Tauhid. Pijakan pemikiran reformisme Abduh adalah kepercayaannya bahwa agama dan nalar saling melengkapi, dan bahwa tidak ada kontradiksi yang inheren antara agama dan ilmu pengetahuan, yang dianggap sebagai sumber kembar Islam. Oleh karena itu Abduh menganggap kemunduran ummat Islam banyak diakibatkan oleh kepasifan dan fatalisme sufisme, maupun skolastistisime kaku kaum ulama tradisional yang melarang ijtihad.141 Sebagaimana Abduh, tampaknya al-Faruqi juga sangat menekankan pentingnya menjaga fondasi