• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Relasi Guru dan Murid Perspektif Habib Abdullah bin Alawi

1. Konsep Guru Menurut Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad

Menurut Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad guru yang baik adalah guru yang shalih, dapat memberi petunjuk dan nasihat, mengetahui ilmu syariat, mengamalkannya, mendalami hakikat, memiliki akal yang sempurna, dada yang lapang, memiliki kejelian dalam bertindak, dan memiliki pengetahuan tentang tingkatan-tingkatan manusia, serta dapat membedakan tabiat, pembawaan, dan keaadaan mereka. Sebagaimana ungkapan beliau dalam kitabnya:

نكتلاو صرلحاديدش نكو .راربألا ينلحاصلا ةسلامجو رايخألا ةبخصب ةمتا ةيانع ديرلما ايها لك

لمكا ،ةقيقحلل قئاذ ،ةقيرطلل لكاس ،ةعيشرلبا فراع ،صحنا دشرم لحاص خي ش بلط لىع

.ملهاوحاو همرطفو همزئارغ ينب زيّمم سانلا تاقبطبفراع ةساي سلا نسح ،ردصلا عساو لقعلا

53

Jadilah wahai murid untuk mencari perlindungan yang sempurna dengan cara bersahabat dengan orang-orang baik dan duduk bersama orang-orang shalih dan yang banyak berbuat kebajikan.

Serta jadilah seseorang yang bersungguh-sungguh dalam mencari seorang syaikh yang shalih, yang memberi petunjuk dan nasihat, yang mengetahui syariat, berjalan di jalan Allah, menyelami hakikat, memiliki akal yang sempurna, dada yang lapang, memiliki kejelian dalam bertindak, dan memiliki pengetahuan tentang tingkatan-tingkatan manusia, serta dapat membedakan tabiat, pembawaan, dan keaadaan mereka.92

Dalam kamus bahasa arab, kata shalih merupakan isim fa’il dari kata shalaha-yashluhu-shalhan yang berarti orang yang bermanfaat dan berguna, memiliki kompetensi, berbudi luhur, tidak memihak, lurus, jujur, taat, alim, patuh, dan benar.93

Kata shalih memiliki arti yang sangat luas dan menyeluruh, bukan hanya membicarakan satu aspek dari sifat baik, melainkan seluruh aspek dari sifat baik yang melekat pada diri seseorang. Orang yang shalih adalah orang yang bukan hanya bagus dalam urusan syariat, namun juga bagus dalam urusan hakikat. Berapa banyak kita jumpai orang yang bagus ibadah dzahirnya seperti shalat, membaca dan menghafal al-Qur’an, menuntut ilmu, memiliki banyak ilmu dan lain sebagainya, namun akhlak dan budi pekertinya tidak sebagus amaliyah dzahirnya, seperti masih suka berbohong, malas, sombong, dengki, riya, dan lain sebagainya.

Dengan demikian, yang dikatakan orang shalih adalah orang yang senantiasa berusaha memperbaiki dirinya secara lahir maupun batin, khusyu’ dalam beribadah, mendalami hakikat bukan hanya menjalankan syariat, membersihkan hati, dan lain sebagainya yang berorientasi pada kebaikan dan kemaslahatan. Seseorang yang shalih tercermin dalam segala aspek kehidupannya sesuatu yang baik dan bermanfaat.

92 Nabil as-Saqqaf, op. cit., h. 112.

93 www.almaany.com diakses pada tanggal 18 April 2021, pukul 11:16 WIB.

Dalam konteks pendidikan saat ini, kompetensi ini termasuk pada bagian kompetensi kepribadian, di mana seorang guru harus memiliki akhlak yang mulia, arif dan bijaksana, mantap, berwibawa, stabil, dewasa, jujur, mampu menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat, secara objektif mengevaluasi sendiri, dan mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan.94

Selanjutnya seorang guru harus mengetahui ilmu syariat, mengamalkan ilmunya serta mendalami hakikat. Syariat adalah hukum-hukum Allah yang mengatur kehidupan manusia, mulai dari hubungannya dengan Allah, hubungannya dengan manusia lainnya dan hubungannya dengan alam sekitar. Sehingga dari aturan-aturan tersebut memunculkan istilah halal, haram, syubhat, mubah, wajib, sunnah, dan makruh.95 Sedangkan hakikat adalah kebenaran atau kenyataan yang sebenar-benarnya. Inti dari pada hakikat ialah membuka kesempatan kepada salik (seseorang yang berjalan menuju Allah) untuk dapat mencapai tujuannya, yakni mengenal Allah dengan sebenar-benarnya, dan penyingkapan spiritual.96 Adapun Habib Abdullah melarang untuk menjadikan penyingkapan spiritual sebagai tujuan utama dari melakukan perlajanan menuju Allah swt. Karena, apabila seseorang berniat demikian, maka tujuan untuk sampai kepada Allah dan penyingkapan spiritual akan sulit dicapai, penyingkapan spiritual justru akan diraih oleh orang yang tidak menginginkannya. Penyingkapan spiritual merupakan kehendak darin Allah dan merupakan keistimewaan yang diberikan Akkal kepada siapa saja yang dikehendakinya.

Selanjutnya, seorang guru harus memiliki akal yang sempurna.

Menurut penulis kompetensi ini masuk pada bagian kompetensi profesional guru. Di mana seorang guru harus memiliki tiga komponen

94 Fauzan, Kurikulum dan Pembelajaran, (Tangerang Selatan: Gaung Persada: 2017), h.

31.

95 Badrudin, Pengantar Ilmu Tasawuf, (Serang: Putri Kartika Banjasari, 2015), h. 34.

96 Badrudin, Pengantar Ilmu Tasawuf, (Serang: Putri Kartika Banjasari, 2015), h. 33-39.

55

utama, yakni menguasai materi bahan ajar yang akan diajarkan kepada para muridnya, mampu mengembangkan kurikulum operasional, dan mampu mengembangkan bahan ajar dengan melakukan penelitian.97

Kemampuan guru mengetahui tingkatan-tingkatan murid serta mampu membedakan tabi’at, pembawaan, dan keadaan mereka, menurut penulis masuk ke dalam kategori kompetensi pedagogik. Di mana seorang guru harus mampu memahami hakikat pendidikan, yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, pengembangan silabus/kurikulum, perencanaan pembelajaran, pembelajaran yang mendidik dan dialogis, pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, evaluasi proses dan hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.98

Kemampuan guru dalam memberi petunjuk dan nasihat, serta memiliki kejelian dalam bertindak, menurut penulis masuk pada kompetensi sosial. Seorang guru mampu berkomunikasi dengan baik kepada para muridnya, sesama pendidik dan tenaga kependidikan lainnya, juga kepada wali murid, dan masyarakat sekitar. Sebagaimana yang terkandung dalam UU No 14 tahun 2005 mengenai kompetensi sosial guru, yakni sekurang-kurangnya meliputi: (1) kemampuan berkomunikasi yang baik secara lisan, tulisan, dan isyarat, (2) mampu menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional, (3) bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, pimpinan satuan pendidikan, dan orang tua/wali peserta didik, (4) bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar dan mengindahkan norma serta sistem nilai yang berlaku, dan (5) menerapkan prinsip-prinsip persaudaraan dan semangat kebersamaan.99

Keempat kompetensi tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, semuanya harus terdapat dalam sosok seorang

97 Dede Rosyada, Madrasah dan Profesionalisme Guru, (Depok: Kencana, 2017), h. 217.

98 Ibid., h. 30.

99 Ibid., h. 31.

guru, bersifat holistik dan integratif. Menurut penulis kompetensi guru yang dikemukakan oleh Habib Abdullah, sudah sangat relevan dengan konteks pendidikan saat ini, hanya saja ada beberapa bahkan mungkin banyak yang belum sesuai atau belum memenuhi standar kompetensi yang telah ditetapkan, seperti penguasaan teknologi, pengembangan kurikulum dan lainnya sebagainya. Namun, menurut penusis dari beberapa kompetensi yang dikemukakan oleh Habib Abdullah bin Alawi al-haddad sudah sangat berkontribusi pada konteks pendidikan saat ini.

Guru yang sempurna menurut Habib Abdullah ialah guru yang memberikan manfaat kepada para muridnya dengan semangat, perbuatan, dan ucapannya, serta menjaga mereka dalam kehadirannnya atau tidak. Sebagaimana ungkapan beliau dalam kitabnya:

هديفي يلذا وه لمكالا خي شلا زنا لمعاو هتبيغو هروضح في هظفيحو لهوقو لهعفو هتمبه

.

“Ketahuilah, sesungguhnya syaikh yang sempurna adalah adalah seorang syaikh yang memberikan manfaat kepada para muridnya dengan semangat, perbuatan, dan ucapannya, serta menjaga para muridnya dalam kehadirannya atau tidak”.100

Artinya seorang guru harus mampu memberikan suri teladan kepada para muridnya. Mampu memberikan manfaat melalui perbuatan, dan ucapannya. Kehadirannya sangat disenangi dan dirindukan. Membuat setiap murid nyaman dan aman ketika belajar.

Apa yang dikatakannya sesuai dengan apa yang dilakukannya, sehingga orang yang mendengar mudah memahami dan mengikuti jejak langkahnya, semua laku-lampahnya patut digugu dan ditiru.

Seorang guru juga harus senantiasa peduli dan perhatian kepada para muridnya, senantiasa menjaga dalam kehadirannya atau tidak, seorang guru hendaknya senantiasa berdoa untuk kebaikan para muridnya, begitu juga memberikan nasihat kepada mereka terkait

hal-100 Nabil as-Saqqaf, op. cit., h. 118-119.

57

hal apa saja yang harus dikerjakan dan ditinggalkannya, guna keselamatan dan kemaslahatan bersama.