BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Relasi Guru dan Murid Perspektif Habib Abdullah bin Alawi
2. Konsep Murid Menurut Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad
57
hal apa saja yang harus dikerjakan dan ditinggalkannya, guna keselamatan dan kemaslahatan bersama.
berharap sampai kepada tujuannya yakni Allah swt, Allahlah segala-galanya, selain dari pada Allah semuanya kecil di hadapannya dan tidak terlalu bermakna bagi dirinya. Hal ini bukan berarti tidak memperhatikan hubungannya dengan sesama, justru semua yang dilakukannya, hidup dan matinya, ibadah dan pengabdiannya hanya tertuju pada Allah swt, termasuk dalam hubungan sosialnya dengan sesama.
Dengan demikian, orang yang sudah memiliki mental seperti ini, niscaya akan sangat menjaga dan berhati-hati dalam urusan dengan manusia. Tujuannya bukan untuk mendapatkan apa-apa yang ada pada manusia, seperti pujian, pengakuan, balasan, dan lain sebagainya.
Namun semata-mata karena ingin mendapatkan ridha Allah swt.
Adapun penjelasan yang lebih rinci, Habib Abdullah memaparkan murid sejati ialah mereka yang menjaga hukum-hukum Allah, memenuhi janji, ridha terhadap yang ada, dan bersabar terhadap yang tidak ada atau hilang darinya. Murid adalah mereka yang mensyukuri segala nikmat, bersabar akan ujian, ridha terhadap ketentuan yang berjalan, bersyukur dalam keadaan suka dan duka, ikhlas dalam beramal baik yang secara terang-terangan maupun rahasia.103
Untuk sampai kepada kondisi seperti itu, di mana seorang murid hendaknya menjadi seorang murid yang sejati, Habib Abdullah dalam kitabnya memberikan banyak nasihat untuk para murid, diantara nasihatnya ialah sebagai berikut:
الله لىص الله لوسر تعسم :لاق هنع الله ضير باطلخا نب رعم صفح بيأآ يننمؤلمايرمأآ نع الله لىإا هترهج تنكا نفم ىون ام ئرما كلل انمإاو تاينلا با لماعألا انمإا :لوقي لمسو هيلع ابهيصي اينلد هترهج تنكا نمو لهوسرو الله لىا هترجهف لهوسرو لىإا هترجهف اهحكني ةأآرمإا وأآ
)لمسمورابخ هاور( .هيلإا رجاهام
103 Abdullah bin Alawi al-Haddad, op. cit., h. 45.
59
Dari Amiril Mukminin Abu Hafs Umar bin Khattab radhiyallahu
‘anhu berkata: aku mendengar Rasulullah Saw bersabda,
“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya dan setiap orang tergantung pada niatnya. Barangsiapa yang berniat hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang niat hijrah untuk mencari duniawi atau untuk mengawini seorang wanita, maka hijrahnya akan sampai kepada apa yang ia niatkan.”
(HR. Bukhari Muslim).104
Seorang murid hendaknya dalam melakukan segala sesuatu mengawalinya dengan niat karena Allah, bukan karena hal lain yang berupa materi atau duniawi. Begitu pun dalam hal belajar. Dalam pendidikan sufi, seorang murid yang hendak menempuh perjalanan menuju Allah dan mendalami hakikat, hendaknya berniat hanya karena Allah dan karena ingin mendapatkan ridha-Nya. Murid hendaknya tidak berniat untuk mencari dan mengharapkan karamah atau sesuatu yang luar biasa terjadi pada dirinya. Karena hal semacam itu tidak akan muncul pada diri seseorang yang menginginkannya, justru semua itu akan tampak pada seseorang yang membenci dan tidak menginginkannya.105
Selanjutnya yang harus dilakukan seorang murid dalam perjalanannya menuju Allah, yang pertama adalah memohon ampun kepada Allah dan memohon maaf kepada manusia dari perbuatan dzalim yang pernah ia lakukan terhadapnya. Murid harus mengembalikan hak orang lain yang ada pada dirinya, kalau seandainya tidak bisa, maka ia harus memohon untuk dihalalkan atas dirinya.
Sebab, seorang murid tidak akan sampai kepada Allah, kecuali apabila ia telah bersih dari segala urusan dengan manusia.106
Setelah ia bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada
104 Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Arba’in Nawawi: Matan dan Terjemahannya, Terj. Arba’in Nawawi oleh Abu Zur’ah ath-Thaybi, (Surabaya: Pustaka Syabab, 2012, h. 5.
105 Al-Haddad, op. cit., h. 38.
106 Ibid., h. 19.
manusia, murid harus berupaya dengan sungguh-sungguh untuk tidak melakukan dosa yang sama dan melakukan dosa lainnya, ia harus berupaya menjaga diri dari perbuatan maksiat dan menjaga hati dari segala penyakit hati. Maksiat yang dilakukan oleh anggota badan akan berdampak pada hati, menjadikan hati semakin gelap, kotor, dan berpenyakit. Apabila hati telah dipenuhi berbagai macam penyakit hati, maka akan sulit untuk mengeluarkannya, begitu juga akan menghambat perjalanannya menuju Allah. Sebagaimana yang dikatakan Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad:
ىصاعلما نأل ي
لمعت ماسجألاف مسلا لعم بولقلا فى
Karena sesungguhnya maksiat itu berdampak pada hati, seperti dampak racun pada jasad.107
الله تىأآ نم لإا هباوثو هناوضرب زوفيو الله طسخ نم وجني ل هنإاف يملس بلقب
Sesungguhnya seseorang tidak akan selamat dari murka dan adzab Allah dan merasakan kemenangan dengan keridhaan dan pahala-Nya, kecuali seseorang yang mendatangi Allah dengan hati yang bersih.108
Murid hendaknya senantiasa berupaya menjaga hatinya agar tidak kotor dan berpenyakit, karena hati merupakan tempat pandangan Allah. Hati memiliki potensi untuk bermaksiat kepada Allah dan maksiat hati sifatnya lebih keji dan hina dari pada maksiat anggota badan. Di antara penyakit hati yang paling keji adalah sombong, riya dan iri hati. Sedangkan, yang menjadi sumber munculnya penyakit hati dan sumber setiap kesalahan adalah rasa cinta terhadap dunia sebagaimana yang dikatakan oleh Habib Abdullah:
اتهمأآ لىع انبهن دقو ،زايجإل لىع اصرح اهركذن لم ،ةمومذم ةيرثك قلاخأآ بلقلا فىو مأآو ،
بح اهسرغمو اهلصأآو عيلجما .ةئيطخ سأآر ابهفح نيلدا
107 Nabil as-Saqqaf, op. cit., h. 30-31.
108 Ibid., h. 32-33.
61
Di dalam hati terdapat banyak akhlak tercela yang tidak aku sebutkan karena untuk menjadikan buku ini ringkas. Dan telah kuberi peringatan akan induk-induknya (penyakit hati).
Sedangkan induk, pokok, dan asalnya penyakit hati adalah cinta dunia, Cinta kepadanya adalah kepala setiap kesalahan.109
Oleh sebab itu, murid harus berperilaku zuhud. Habib Abdullah mendefinisikan zuhud sebagai sikap yang tidak menginginkan dunia, namun bukan berarti harus meninggalkannya. Seorang murid hendaknya mengambil dunia hanya sekedar apa yang menjadi kebutuhannya, selebihnya ia bagikan kepada yang berhak.
Sebagaimana ungkapan beliau dalam kitabnya:
Ketahuilah, sesungguhnya tidak diharuskan bagi seseorang yang ingin masuk ke jalan Allah, agar keluar dari hartanya apabila ia memiliki harta, atau meninggalkan pekerjaan dan perdagangannya apabila ia seorang pekerja atau pedagang.110
Artinya, tidak mengapa seorang murid itu memiliki banyak harta dan berusaha dalam mendapatkannya. Mengingat di antara para murid, telah ada yang berkeluarga sehingga berkewajiban untuk memberikan nafkah. Yang terpenting bagi seorang murid adalah ketakwaannya terhadap Allah swt. Bagaimana cara ia mendapatkan dan kemana ia membelanjakannya, semuanya harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang dibenarkan oleh syariat. Karena, segala sesuatunya kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah swt.
Apabila murid termasuk hamba yang disempitkan, maka hendaknya ia bersabar dan menerima atas segala ketentuan Tuhannya.
Sedangkan, apabila murid termasuk hamba yang diluaskan rezekinya, maka hendaknya ia mengambil dan memakainya secukupnya sesuai dengan kebutuhannya. Selebihnya ia keluarkan di tempat dan jalan
109 Ibid., h. 42-43.
110 Ibid., h. 90-91.
kebaikan.111
Dalam melakukan segala hal, hendaknya seorang murid memiliki orientasi terhadap kehidupan akhirat. Seseorang yang menginginkan kehidupan akhirat, tidak cukup hanya dengan berkeinginan, melainkan harus berupaya menempuhnya dengan jalan iman dan amal shalih. Sedangkan, seseorang yang berkeingingan terhadap dunia, akan rendah derajatnya di sisi Allah dan akan mendapatkan balasan neraka jahannam kelak di akhirat. Habib Abdullah menjelaskan bahwa, seseorang yang hanya menginginkan saja mendapatkan tempat kembali neraka jahannam dalam keadaan tercela dan terhina, apalagi bagi orang yang berusaha mencarinya dengan menempuh jalan untuk mendapatkannya.112 Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam al-Qur’an Surat al-Isra ayat 18-19:
َُّث ُدْيِرُّن ْنَمِل ُءا َشَن اَم اَ ْيِْف ,ُ َله اَنْلَّ َعج َ َلَِجاَعلا دْيِرُي َن َكا ْنَمَو َل ْصَي َ َّنََّ َجَ ,ُ َله اَنْلَعَج
اًمْوُمْذَم اَ هىٰ
( ا َروُحْذَم ُم َوُهَو اَ َيْْع َس اَهَل هىَع َسَو َةَرِخَلا َداَرأآ ْنَمَو ) ۱۸
َكِئ هىَلُاًف ٌنِم ْؤ ا ًرْوُك ْشَّم ْ ُكُُيْع َس َن َكا
( ۱۹ )
Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka kami segerakan baginya di (dunia) ini apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki. Kemudian kami sediakan baginya (di akhirat) neraka jahannam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat, dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia beriman, maka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik”.113
Seorang murid hendaknya menjauhkan diri dari keinginan terhadap dunia, serta apabila ia dititipi oleh Allah berupa materi dan berbagai hal yang berkenaan dengan duniawi, maka hendaknya ia
111 Al-Haddad, op. cit., h. 34.
112 Ibid., h. 15.
113 Kementrian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan terjemahannya, (Jakarta:
Alfatih, 2013), h. 284.
63
menempatkan hanya sebatas di tangannya bukan di hatinya.
Dalam konteks pendidikan saat ini, tujuan pertama dari pada pendidikan nasional ialah menjadikan manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, kemudian dilanjutkan dengan berakhlak mulia, sehat jasmani maupun rohani, memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga yang demokratis dan bertanggung jawab.114
Rumusan tujuan pendidikan nasional tersebut, walaupun secara eksplisit tidak menyebutkan kata-kata Islam, akan tetapi substansinya memuat ajaran Islam. Nilai-nilai ajaran Islam yang terkandung dalam rumusan tujuan pendidikan nasional telah terobjektivasi, atau telah ditransformasikan ke dalam nilai-nilai yang disepakati dalam kehidupan nasional.115 Jadi, dalam sebuah proses pembelajaran dan pendidikan, semuanya diniatkan dalam rangka mencari ridha Allah dan mengabdi kepada-Nya. Karena, pada hakikatnya manusia diciptakan untuk mengabdi kepada Allah dan menjadi khalifah di muka bumi.
Sudah seharusnya segala potensi yang dimiliki dan telah dikembangkan secara otimal, semuanya didedikasikan hanya untuk Allah, bukan untuk yang lain, bukan untuk urusan dunia yang sifatnya sementara dan menipu, bukan untuk menjadi penguasa yang hebat dan berbuat kerusakan di muka bumi.
Setelah bertaubat kepada Allah dan meminta maaf kepada manusia, seorang murid dilanjutkan dengan mujahadah dan riyadhoh yakni bersungguh-sungguh dalam menundukkan hawa nafsu serta menghiasinya dengan memperbanyak amal shalih dan melakukannya dengan istiqamah.
Awal mula dari pada perjalanan menuju Allah adalah sabar dan akhirnya adalah kebahagiaan, Seorang murid harus senantiasa bersabar
114 Bidang DIKBUD KBRI Tokyo, Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, h. 3.
115 Abuddin Nata, op. cit., h. 55.
dalam menahan diri dan menundukkan hawa nafsu, awal mulanya nafsu seseorang itu berada pada nafsu ammarah yang mengajak kepada kejelekan, apabila ia berusaha melawannya dan bersabar dalam menentangnya, maka nafsu itu akan berubah menjadi nafsu lawwamah yang sifatnya berubah-ubah, terkadang cenderung kepada nafsu muthmainnah, terkadang juga cenderung kepada nafsu ammarah. Akan tetapi apabila seseorang dapat menaklukannya dengan cara membiasakan dan melatihnya dengan hal-hal yang baik, maka nafsu lawwamah itu akan berubah menjadi nafsu muthmainnah yang selalu mengajak dan memerintah pada kebaikan, merasakan kelezatannya, merasa tentram dengannya, dan mencegah dari segala kejahatan serta menghindar dan lari menjauh darinya.116
Selanjutnya Habib Abdullah mensyaratkan seorang murid untuk senantiasa berdzikir dan bertafakkur (berfikir tentang kebesaran Allah).
Sebab, murid tidak akan sampai kepada Allah dan mukasyafat (penyingkapan spiritual) tanpa dzikir dan tafakkur. Sebagaimana ungkapan beliau dalam kitabnya:
Barangsiapa menginginkan sesuatu dari rahasia perjalanan kepada Allah dan menyingkap sesuatu dari macan-macam hakikat, maka hendaklah ia berdiam di atas zikir kepada Allah swt, dengan hati yang khusyuk, adab yang sempurna, penghadapan diri yang sungguh-sungguh, dan pengetahuan yang luar biasa. Tidaklah terkumpul hal di atas pada diri seseorang, kecuali disingkapkan baginya alam ghaib yang tinggi, ruhnya naik menuju hakikat alam yang jernih, dan mata batinnya menyaksikan keindahan, kesucian yang tinggi.117
Adapun tafakkur dapat mengantarkannya pada makrifatullah, cinta terhadap Allah, dan berpalingnya terhadap dunia menuju akhirat.118 Kemudian murid harus mempunyai wirid (ibadah yang langgeng) yang tidak boleh meninggalkannya walau sedikit dalam
116 Al- Haddad, op. cit., h, 31.
117 Nabil as-Saqqaf, op. cit., h. 68.
118 Al-Haddad, op. cit., h. 28.
65
keadaan sulit maupun lapang.119 Sedangkan yang dapat membantunya untuk senantiasa beribadah adalah dengan menyedikitkan makan.
Menyedikitkan makan dapat membantunya dalam menjaga kesucian dari hadas dan najis. Sedangkan banyak makan dapat menyebabkan seseorang terus-menerus berhadas, sehingga malas beribadah, dan banyak tidur.120
3. Relasi Guru dan Murid Perspektif Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad