• Tidak ada hasil yang ditemukan

Relasi Guru dan Murid Perspektif Habib Abdullah bin Alawi

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Relasi Guru dan Murid Perspektif Habib Abdullah bin Alawi

3. Relasi Guru dan Murid Perspektif Habib Abdullah bin Alawi

65

keadaan sulit maupun lapang.119 Sedangkan yang dapat membantunya untuk senantiasa beribadah adalah dengan menyedikitkan makan.

Menyedikitkan makan dapat membantunya dalam menjaga kesucian dari hadas dan najis. Sedangkan banyak makan dapat menyebabkan seseorang terus-menerus berhadas, sehingga malas beribadah, dan banyak tidur.120

3. Relasi Guru dan Murid Perspektif Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad

penjelasan mengenai etika guru terhadap murid dan etika murid terhadap guru, penulis jabarkan sebagai berikut:

a. Etika guru terhadap murid

Pertama, Guru harus menguji kesungguhan murid.

Hendaklah bagi seorang guru, jika datang kepadanya seorang murid yang meminta bimbingannya, tidak serta merta menerimanya sebelum menguji kesungguhan dalam pencariannya dan kesungguhan dalam mencari seseorang yang dapat memberinya petunjuk Tuhan.121 Dengan demikian, seorang guru tidak boleh asal saja atau sembarangan dalam menerima seseorang murid, sebelum ia menguji kesungguhan murid dalam menjadikan dirinya sebagai syaikh. Karena setelah ini, terdapat kewajiban yang harus dipenuhi oleh sang guru terhadap murid.

Kedua, mendidik muridnya secara totalitas. Memberikan nasihat, petunjuk, dan teladan bagi para muridnya. Guru yang sempurna ialah guru yang memberikan manfaat kepada para muridnya dengan semangat, perbuatan, dan ucapannya, serta menjaga para muridnya dalam kehadirannya atau tidak.122 Seorang guru harus totalitas dalam menjalankan tugasnya dan mampu memberikan contoh yang baik sehingga pesan yang disampaikan mudah diterima dan diikuti.

b. Etika murid terhadap guru

Pertama, bersungguh-sungguh dalam mencari guru. Guru yang baik iala guru yang shalih, yang mampu memberikan petujuk dan nasihat, mengetahui dan mengamalkan ilmu syariat, mendalami hakikat, memiliki akal yang sempurna, hati yang lapang, memiliki kejelian dalam bertindak, memiliki pengetahuan tentang tingkatan-tingkatan murid, serta mampu membedakan

121 Nabil as-Saqqaf, op. cit., h. 118.

122 Nabil as-Saqqaf, loc. cit.

67

tabi’at, pembawaan, dan keadaan mereka.123 Guru yang sempurna ialah guru yang mampu mmberikan manfaat kepada para muridnya dengan semangat, perbuatan, dan ucapannya, serta menjaga para muridnya dalam kehadirannya atau tidak.124 Seorang murid yang mencari syaikh, hendaknya tidak menetapkan dirinya pada seorang guru, sehingga ia mengetahui kemampuan syaikhnya dan hatinya terpaut dengannya.125

Kedua, murid harus menjadikan guru sebagai teladan dan menghukumi segala permasalahan. Jika seorang murid mendapati guru yang sempurna, yang sesuai dengan kualifikasi yang telah disebutkan oleh Habib Abdullah, hendaknya ia menjadikan guru tersebut menghukumi segala masalahnya, kembali pada pendapat dan usulannya pada setiap hal yang dihadapi, serta ikutilah setiap perbuatan dan ucapannya, kecuali pada yang khusus pada kedudukannya sebagai seorang syaikh.126 Disyaratkan bagi seorang murid agar bersamanya seperti layaknya jenazah di hadapan orang yang akan memandikannya, dan seperti bayi bersama ibunya.127

Ketiga, husnudzan kepada guru. Seorang murid janganlah menuduh dan berprasangka buruk terhadap gurunya. Berlindunglah kepada Allah dari perbuatan menuduh orang-orang yang dekat kepada Allah dan hamba-hamba-Nya yang istimewa dengan tuduhan atau prasangka yang buruk.128 Untuk dapat menerima, mengikuti dan mentaati seorang guru, murid harus senantiasa memiliki prasangka yang baik terhadap gurunya.

Keempat, menerima, mengikuti dan mentaati gurunya secara lahir dan batin. Hati-hatilah murid apabila menerima dan mentaati guru secara lahir namun menentangnya secara batin, karena apabila

123 Nabil as-Saqqaf, op. cit., h. 112.

124 Ibid., h. 118.

125 Nabil as-Saqqaf, loc. cit.

126 Nabil as-Saqqaf, op. cit., h. 112.

127 Ibid., h. 120.

128 Ibid., h. 114.

gurunya tidak mengetahui maka murid akan tergelincilr dalam kebinasaan.129 Seorang murid tidak akan sampai kepada Allah dan mendapatkan ridha Allah apabila terdapat kemunafikan dalam dirinya, bahkan hal tersebut akan membawanya pada kebinasaan.

Kelima, bersikap terbuka kepada guru. Apabila terdapat dalam hatinya lintasan-lintasan yang tidak baik mengenai gurunya, murid harus berusaha untuk segera menghilangkannya. Apabila tidak dapat menghilangkannya, maka ia harus memberitahukan kepada gurunya, agar gurunya dapat memberitahukan cara untuk menghilangkannya. Selain terbuka pada hal yang demikian, murid juga harus terbuka pada hal-hal yang berkenaan dengan proses perjalanannya menuju Allah swt. Hal ini akan membantunya dalam proses perjalanannya menuju Allah. Mendapati solusi dari setiap permasalahan, mengantarkan pada keberhasilan dan pencapaian tujuan.130

Keenam, menjaga perasaan guru agar senantiasa ridha kepadanya. Karena, apabila hati sang guru telah berubah menjadi tidak ridha terhadap muridnya, maka, walaupun berkumpul seluruh hati sang guru di seluruh penjuru dunia untuk memperbaiki dirinya, mereka semua tidak akan mampu memperbaikinya, kecuali apabila gurunya telah meridhai.131

Ketujuh, tidak meminta syaikhnya menunjukkan karamah atau menebak-nebak lintasan hati para muridnya.132 Sungguh seorang syeikh tidak akan pernah mempertontonkan karamahnya, kecuali terhadap sesuatu hal yang mendesak dan sangat diperlukan untuk kepentingan dakwahnya. Mereka merupakan waliyullah yang paling menjaga rahasia dan jauh dari sifat mempertontonkan.

129 Nabil as-Saqqaf, loc. cit.

130 Al-Haddad, loc.cit.

131 Al-Haddad, op.cit., h. 118.

132 Al-Haddad, loc.cit.

69

Karamah yang dimiliki para wali, kebanyakan terjadi tanpa kehendak mereka. Mereka mewasiatkan kepada orang yang melihatnya untuk tidak menceritakannya kepada siapapun. Kecuali apabila mereka telah meninggal dunia.133

Kedelapan, tidak berguru kepada guru yang lain tanpa seizinnya. Janganlah seorang murid berkumpul dengan seorang syaikh yang masyhur sebagai pembimbing menuju Allah, kecuali dengan seizin syaikhnya.134 Murid harus meminta izin terlebih dahulu kepada guru utama dan pertamanya apabila ingin mengambil keberkahan dari guur yang lain, karena apabila tidak melakukan izin, hal ini akan berdampak pada perasaan guru yang tidak ridha kepadanya.

Kesembilan, meminta nasihat ketika berada di tempat yang jauh dari gurunya. Jika seorang murid ketika berada di tempat yang terpisah jauh dari gurunya, hendaknya ia meminta nasihat kepada gurunya mengenai segala sesuatu yang harus dikerjakan dan ditinggalkannya.135 Hal ini akan menjadikan hubungan antara keduanya semakin kuat dan terjaga, seorang guru masih bisa memantau dan menasihati muridnya ketika berada di tempat yang terpisah.

Kesepuluh, menjaga etika ketika bertanya. Murid harus berani untuk bertanya dan mengutarakan sesuatu terhadap gurunya.

Karena, berdiam diri dari permintaan dan pertanyaan kepada guru bukanlah termasuk etika yang baik. Kecuali, jika gurunya mengisyaratkan untuk berdiam dan meninggalkan pertanyaan, maka murid harus mematuhinya.136

Kesebelas, memohon maaf kepada guru atas segala kesalahan. Jika seorang murid mendapati atau merasakan perubahan

133 Nabil as-Saqqaf, op.cit., h. 116.

134 Nabil as-Saqqaf, op.cit., h.

135 Ibid., h. 118.

136 Ibid., h. 122.

hati guru terhadapnya. Maka, bersegeralah untuk memohon maaf, karena mungkin perubahan itu disebabkan oleh kesalahannya.137

137 Ibid., h. 124.

71 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Berdasarkan rumusan masalah yang telah ditentukan pada bagian awal penelitian, maka penulis mendapatkan kesimpulan sebagai berikut:

1. Konsep guru menurut Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad

Menurut Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad guru yang baik adalah guru yang shalih, dapat memberi petunjuk dan nasihat, mengetahui ilmu syariat, mengamalkannya, mendalami hakikat, memiliki akal yang sempurna, dada yang lapang, memiliki kejelian dalam bertindak, dan memiliki pengetahuan tentang tingkatan-tingkatan manusia, serta dapat membedakan tabiat, pembawaan, dan keaadaan mereka. Serta mampu memberikan manfaat kepada para muridnya dengan semangat, perbuatan, dan ucapannya, serta menjaga mereka dalam kehadirannnya atau tidak.

2. Konsep Murid Menurut Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad

Menurut Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad, murid adalah orang yang berkeinginan dan hendak menempuh jalan menuju Allah swt atau menghendaki hakikat kebenaran spritual. Seorang murid dapat dikatakan murid yang sejati apabila telah sampai pada derajat yang tinggi yakni menjadikan al-qur’an sebagai panutannya, mengetahui kekurangannya, sehingga merasa sangat butuh kepada Allah, dan tidak membedakan antara emas dan tanah.

3. Relasi Guru dan Murid Menurut Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam Kitab Risalah Adab Sulukil Murid.

Relasi guru dan murid menurut Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad ialah hubungan interaktif antara guru dan murid. Hubungan yang dibangun memiliki tujuan tertentu yakni sampainya seorang murid kepada Allah swt. Untuk menciptakan hubungan yang baik antara guru dan murid, dan sama-sama mencapai tujuan, maka Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad mengemukakan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh keduanya,

yakni kompetensi guru dan murid, serta etika guru terhadap murid dan etika murid terhadap guru.

Kompetensi guru dan murid sebagaimana yang terkandung dalam konsep guru dan murid, adapun etika guru terhadap murid dan etika murid terhadap guru, akan dipaparkan sebagai berikut:

Etika guru terhadap murid meliputi: (1) menguji kesungguhan murid dalam mencari guru yang baik, dan (2) mendidik muriidnya secara totalitas. Adapun etika murid terhadap guru meliputi: (1) bersungguh-sungguh dalam mencari guru, (2) menjadikan guru sebagai teladan dan menghukumi segala permasalahan, (3) husnudzan, (4) taat secara lahir dan batin, (5) bersikap terbuka kepada guru, (6) menjaga perasaan guru, (7) tidak meminta guru menujukkan karamahnya (kehebatannya), (8) tidak berguru kepada guru yang lain tanpa seiizinnya, (9) meminta nasihat ketika berada di tempat yang jauh dari gurunya, (10) menjaga etika ketika bertanya, dan (11) memohon maaf kepada guru atas segala kesalahan.

B. Saran-saran

1. Bagi para pendidik, kiranya dapat mengambil konsep kompetensi dan etika guru terhadap murid dalam kitab Risalah Adab Sulukil Murid karya Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad sebagai dasar pijakan dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai seorang pendidik, baik dalam kegiatan belajar-mengajar maupun dalam kegiatan sehari-hari, sehingga aktivitas pendidikan yang dilaksanakan dapat berjalan dengan lancar dan mendapatkan hasil terbaik.

2. Bagi peserta didik, hendaknya mampu mengoreksi diri dan berusaha memperbaiki prilaku sebagaimana konsep kompetensi dan etika murid terhadap guru dalam kitab Risalah Adab Sulukil Murid karya Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad.

3. Bagi para peneliti, harapanya kajian ini bisa menjadi pelengkap referensi untuk melakukan kajian-kajian berikutnya.

73

DAFTAR PUSTAKA

A.M, Sardiman. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali pers, 2016.

Ali, Yunus Mudhor. Mengenal Lebih Dekat habib Abdullah bin Alawi al-Haddad. Surabaya: Cahaya Ilmu, 2018.

Al-Haddad, Abdullah bin Alawi. Perjalanan Menuju Allah. Terj dari Adab Suluk al-Murid oleh Yunus al-Mudhor. Surabaya: Cahaya Ilmu, 2011.

Al-Haddad, Abdullah bin Alawi. Langkah Praktis Mendekat Kepada Allah. Terj dari Adab Suluk al-Murid oleh Husin Nabil as-Saqqaf. Tangerang: Putera Bumi, 2017.

Anwar, Muhammad. Menjadi Guru Profesional. Jakarta: Kencana, 2018.

Aziz, Hamka Abdul. Karakter Guru Profesional. Jakarta Selatan: Al-Mawardi Prima, 2016.

Badrudin. Pengantar Ilmu Tasawuf. (Serang: A-empat, 2015).

Bidang DIKBUD KBRI Tokyo. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional.

Dewi, Annisa Anita. Guru Mata Tombak Pendidikan. Yogyakarta: Jejak Publisher, 2016.

Djaelani, Bisri M. Etika dan Profesi Guru. Jakarta: Multi Kreasi Satu Delapan, 2010.

Djaramah, Syaiful Bahri. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta:

Rineka Cipta 2014.

Fauzan. Kurikulum dan Pembelajaran. Tangerang Selatan: Gaung Persada Press, 2017.

Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Pedoman Penulisan Skripsi. (Jakarta: 2013).

Hendayani, Meti. “Problematika Pengembangan Karakter Peserta Didik di Era 4.0”.

Jurnal Penelitian Pendidikan Islam. Vol.7, No.2, 2019.

https://jagad.id/pengertian-relasi

Kementrian Agama Republik Indonesia. Al-Qur’an dan terjemahannya. Jakarta:

Alfatih, 2013.

Lalo, Kalfaris. “Menciptakan Generasi Milenial Berkarakter dengan Pendidikan Karakter guna Menyongsong Era Globalisasi”. Jurnal Ilmu Kepolisian. Vol.

12, No. 2, 2018.

Lova, Cynthia. “Nasib Guru Pukul Murid di SMAN 12 Bekasi, Dibela Anak Didik Tapi Berujung Dimutasi”. https://kompas.com

Margono, S. Metodologi PenelitianPendidikan. Jakarta: Rineka Cipta, 2009.

Masturi, Ade. “Membangun Relasi Sosial Melalui Komunikasi Empatik”. Jurnal Dakwah Dan Komunikasi. Vol.4, No.1, 2010.

Ni’mah, Dewi Hamalatin. “Relasi Guru Dengan Murid Perspektif Kh. Hasyim Asy’ari Dalam Kitab Adab Al-‘Alim Wa Al-Muta’allim”. Tesis pada Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya. Surabaya, 2019.

Nugrahani, Farida. Metode Penelitian Kualitatif dalam Penelitian Pendidikan Bahasa. Surakarta: 2014.

Nurdin, Muhamad, Muhammad Harir Muzakki, dan Sutoyo. “Relasi Guru Dan Murid (Pemikiran Ibnu ‘Athaillah Dalam Tinjauan Kapitalisme Pendidikan)”. Kodifi kasia. Vol. 9, No. 1, 2015.

Nurhalim, Suki. “Cerita Lengkap Kasus Guru Tampar 13 Murid di Kota Pasuruan yang Viral”. https://m.detik.com

Rahmat, Pupu Saeful. “Penelitian Kualitatif”. Equilibrium. Vol. 5. No. 9. 2009.

Ramayulis. Dasar-Dasar Kependidikan Suatu Pengantar Ilmu Pendidikan. Jakarta:

Kalam Mulia, 2015.

Rosyada, Dede. Madrasah dan Profesionalisme Guru dalam Arus Dinamika Pendidikan Islam di Era Otonomi Daerah. Depok: Kencana, 2017.

Rusman. Belajar dan Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.

Jakarta: Kharisma Putra Pertama, 2017.

Saat, Sulaiman. “Faktor-Faktor Determinan dalam Pendidikan”. Jurnal At-Ta’dib.

Vol. 8, No. 2, 2015.

Sari, Milya dan Asmendri. “Penelitian Kepustakaan (Library Research) dalam Penelitian Pendidikan IPA”. Jurnal Penelitian Bidang IPA dan Pendidikan IPA. Vol. 6, No. 1, 2020.

Shodiq, Akhmad. Prophetic Character Building. Jakarta: Kencana, 2018.