Studi Teoritis di Indonesia
A. Konsep Kebijakan dan Kebijaksanaan
1. Makna Kebijakan
Dalam pemahaman yang lebih definitive menurut Hough, kebijakan (policy) merupakan istilah yang sulit dipahami (elusive) dan menuntut penjelasan yang lebih jauh, karena istilah tersebut sering digunakan dalam cara yang berbeda dan untuk menunjukkan fenomena yang beragam. Proses kebijakan didasarkan pada asumsi bahwa kebikajan publik lebih terkait dengan transformasi konflik kelompok dan nilai-nilai yang mendasarinya. Kebijakan tidak lahir begitu saja melainkan dilahirkan dalam konteks seperangkat nilai yang khusus, tekanan, dan dalam susunan struktural yang khusus, termasuk didalamnya kebutuhan dan aspirasi masyarakat sebagai sasaran kebijakan.
Sementara (Imron,1996:17) dalam Syaiful Sagala (2006:97) memberi penjelasan mengenai kebijakan adalah terjemahan dari kata “wisdom’’ yaitu
NEGARA PERINGKAT 2011 Singapura 2 Malaysia 21 Tahiland 39 Indonesia 46 Vietnam 65 Filipina 75
suatu ketentuan dari pimpinan yang berbeda dengan aturan yang ada, yang dikenakan pada seseorang atau kelompok orang tersebut tidak dapat dan tidak mungkin memenuhi aturan yang umum tadi, dengan kata lain ia dapat perkecualian. Artinya wisdom atau kebijakan adalah suatu kearifan pimpinan kepada bawahan atau masyarakatnya. Pimpinan yang arif sebagai pihak yang menentukan kebijakan, dapat saja mengecualikan aturan yang baku kepada seseorang atau sekelompok orang, jika mereka tidak dapat dan tidak mungkin memenuhi aturan yang umum tadi, dengan kata lain dapat dikecualikan tetapi tidak melanggar aturan.
Kamus Besar bahasa Indonesia (1998) mengemukakan bahwa kebijakan adalah kepandaian, kemahiran, kebijaksanaan, rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis dasar dan dasar rencana dalam pelaksanaan pekerjaan. Veithzal Rivai dan Sylviana Murni (2010:46).
Campbell dalam Veithzal Rivai dan Sylviana Murni (2010:97). Mengemukakan kebijakan adalah batasan keputusan memandu masa depan (Mann, 1975). Sedangkan implikasi kebijakan menurut Mann (1975) dalam Ary H. Gunawan (1986:111-114) mempersyaratkan dua hal. Pertama, sekelompok persoalan dengan karakteristik tertentu. Kedua, implikasi dari karakteristik pembuatan kebijakan sebagai suatu proses. Jika dilihat dari sudut pembangunan pendidikan, maka implikasi kebijakan pendidikan nasional adalah upaya peningkatan taraf dan mutu kehidupan bangsa dalam mengembangkan kebudayaan nasional, karenanya dalam pengambilan kebijakan selalu ditemuka problem. Adapun karakteristik problem tersebut pada dasarnya adalah bersifat publik, sangat konsekuensial, sangat kompleks, didominasi, ketidakpastian, dan mencerminkan ketidaksepakatan tentang tujuan yang dicapainya.
Rich (1974) dalam A.R Tilar (2009:7) mengemukakan bahwa kebijakan tidak hanya mengatur sistem operasi secara internal, tetapi juga menyajikan pengaturan yang berhubungan dengan fungsi secara definitif diantara sistem. Dengan demikian dari berbagai pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa kebijakan (wisdom) adalah kepandaian, kemahiran, kebijaksanaan, kearifan, dan asas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan didasarkan atas suatu ketentuan dari pimpinan yang dikenakan pada seseorang karena adanya alasan yang dapat diterima.
Pemerintah dalam hal ini Menteri Pendidikan, Gubernur, dan Bupati/ Walikota sebagai pimpinan dalam pemerintahan mengatur sistem pelayanan pada satuan pendidikan. Pemerintah tersebut mengambil kebijakan mengenai penentuan anggaran pendidikan, kalender akademik, dan sebagainya. Kepala sekolah sebagai pimpinan pada tingkat satuan pendidikan mengatur sistem
operasi sekolah secara internal mengambil kebijakan mengenai pendidikan dan pengajaran, manajemen sekolah, kesiswaan, dan sebagainya. Yusuf Hadijaya
(2012:106-108).
2. Arti dan Makna Kebijaksanaan
Untuk mengetahui apa itu kebijaksanaan lebih dahulu penting dipahami kata dasarnya yaitu bijak yang berarti selalu menggunakan akal budi atau mahir menggunakan akal untuk bertindak mengatasi kesulitan. Kamus Besar Bahasa Indonesia (1998) mengemukakan bahwa kebijaksanaan adalah selalu menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya) arif, tajam pikiran, cermat, dan teliti. Sedangkan kebijakan adalah kepandaian menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuaannya) kecakapan bertindak bila menghadapi kesulitan. Jadi kebijaksanaan dan kebijakan adalah kecakapan betindak menggunakan akal budi secara arif, cermat, dan teliti menggunakan landasan objektif dan subjektif.
Sedangkan secara etimologis oleh Dunn (1981:7) dalam Nanang Fatah (2012:131-137) memberi istilah kebijaksanaan (policy) berasal dari bahasa Yunani, Sangsekerta, dan latin. Akar kata dalam bahasa Yunani dan Sangsekerta adalah “polis” (Negara-kota) dan “pur” (kota) dikembangkan dalam bahasa latin menjadi “politia” ( negara) dan akhirnya dalam bahasa Inggris menjadi “policie” dan “politics” yang berarti menangani masalah publik atau administrasi pemerintahan. Dengan demikian kebijaksanaan sebagai terjemahan dari kata “policy” adalah suatu aturan yang seharusnya diikuti tanpa pandang bulu. Para ahli mengemukakan Laswell (1970) kebijaksanaan adalah sebagai program pencapaian tujuan, nilai-nilai, dan praktik-praktik yang terarah.
Menurut Anderson dalam Syaiful Sagala (2012:131-137) memberi penjelasan tentang kebijaksanaan adalah serangkaian tindakan mempunyai tujuan tertentu yang mesti diikuti dan dilakukan oleh para pelakunya untuk memecahkan suatu masalah. Sedangkan Budiarjo menyatakan bahwa kebijaksanaan adalah kumpulan keputusan yang diambil oleh seorang pelaku atau kelompok dan cara-cara untuk mencapai tujuan tertentu (Supandi, 1988).
Jones (1977) menganalisis komponen-komponen pengertian kebijaksanaan terdiri dari tujuan (goal) yang diinginkan, plan atau proposal yaitu pengertian yang spesifik untuk mencapai tujuan, program yaitu upaya yang berwenang untuk mencapai tujuan, decision yaitu keputusan utnuk mengambil tindakan (menentukan tujuan, membuat, rencana, melkasanakan, dan menilai rencana) dan efek yaitu akibat – akibat dari rencana.
Secara metodologis kebijaksanaan menurut Suryadi dan Tilaar (1993:9) dalam Ahmad Bustamy (2000:15-19) memiliki tiga fungsi integral yaitu : 1) fungsi alokasi yang menunjukkan kemampuan kegiatan analisis kebijaksanaan untuk melahirkan agenda-agenda penelitian dan pengembangan yang tepat guna dan tepat waktu serta tetap mengacu pada permasalahan makro ; 2) fungsi inquiry yaitu kemampuan melakukan analisis lanjutan terhadap berbagai penemuan penelitian dan pengembangan sehingga melahirkan usulan-usulan kebijaksanaan yang realistis dan sesuai kebutuhan; dan 3) fungsi komunikasi sebagai suatu kemampuan menyampaikan gagasan yang dihasilkan proses inquiry.
Berdasarkan uraian di atas menunjukkan bahwa kebijaksanaan adalah kepandaian para pengambil keputusan dengan akal budinya (pengalaman dan pengetahuan) kecakapan bertindak, melaksanakan program untuk mencapai tujuan pada praktiknya terikat akan nilai-nilai suatu aturan yang semestinya dan harus diikuti tanpa pandang bulu, mengikat dan juga bersifat memaksa pada siapapun yang dimaksud untuk diikat oleh kebijaksanaan tersebut.