3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis
3.1.6. Konsep Kelembagaan
Kelembagaan pada dasarnya mempunyai dua pengertian, yaitu: kelembagaan sebagai suatu aturan main (rule of the game) dalam interaksi personal dan kelembagaan sebagai suatu organisasi yang memiliki hierarki (Hayami et al. 1981 dalam Baga dkk 2009). Kelembagaan sebagai suatu aturan main adalah sekumpulan aturan baik formal maupun informal, tertulis maupun
tidak tertulis mengenai tata hubungan manusia dan lingkungannya yang menyangkut hak-hak dan perlindungan hak-hak serta tanggung jawabnya. Kelembagaan sebagai suatu organisasi adalah sebuah kumpulan orang-orang dengan sadar berusaha untuk memberikan sumbangsih mereka kearah pencapaian suatu tujuan umum (Winardi 2003 dalam Baga 2009).
Proses terbentuknya kelembagaan terbagi menjadi dua, yaitu kelembagaan yang tumbuh secara alamiah yang terbentuk karena adanya kebutuhan masyarakat, berlangsung dalam kurun waktu yang lama, bersifat informal, dan umumnya tidak tertulis. Kelembagaan juga dapat sengaja dibentuk untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu memiliki ciri yaitu adanya inisisasi dalam proses pembentukannya, sifatnya lebih formal, dan umumnya bersifat tertulis (rumusa tujuan, tata tertib yang berlaku dan rumusan kerja sama antara pelaku). Secara umum terdapat tiga jenis kelembagaan yang bergerak dalam agribisnis di Indonesia yaitu:
1. Kelembagaan Sosial
Adalah seperangkat aturan atau tata cara untuk melaksanakan sekumpulan kepentingan yaitu kepentingan para petani berdasarkan aturan-aturan sosial yang terdapat di dalam masyarakat. Bentuk-bentuk kelembagaan sosial dalam pertanian diantaranya kelompok tani, kelompencapir, Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), dan lain-lain.
2. Kelembagaan Ekonomi
Kelembagaan ekonomi dalam bidang agribisnis dapat berupa : Usaha Dagang (UD), Firma, Perusahaan Terbatas (PT), kemitraan, dan lain-lain. Kemitraan usaha agribisnis adalah hubungan bisnis usaha pertanian yang melibatkan satu atau sekelompok orang atau badan hukum dengan satu atau sekelompok orang atau badan hukum dimana masing-masing pihak memperoleh penghasilan dari suatu bisnis yang sama atau saling berkaitan dengan tujuan terciptanya keseimbangan, keselarasan, dan keterpaduan yang dilandasi rasa saling menguntungkan, memerlukan, dan saling melaksanakan etika bisnis (Suwandi 1995 dalam Baga, dkk 2009).
3. Kelembagaan Sosial-Ekonomi
Adalah kelembagaan yang tidak hanya mementingkan aspek sosial saja tetapi juga memperhatikan aspek-aspek ekonomi dalam pengembangan pertaniannnya. Contoh kelembagaan sosial-ekonomi adalah koperasi.
Berikut ini adalah contoh kelembagaan penunjang dalan kegiatan agribisnis yang ada di lokasi penelitian terdiri dari:
1. Kelompok Tani
Kelompok tani merupakan lembaga yang menyatukan para petani secara horizontal dan dapat dibentuk beberapa unit dalam satu desa dengan kepentingan yang sama yaitu memanfaatkan sumberdaya pertanian guna meningkatkan produktivitas usahatani dan kesejahteraan anggotanya. Kelembagaan ini dapat dibentuk berdasarkan komoditas, areal pertanian, dan gender. Kelompok tani ini digunakan sebagai media belajar organisasi dan kerjasama antar petani. Selain itu juga berperan untuk membantu para petani memecahkan permasalahan seperti pemenuhan sarana produksi, teknis produksi dan pemasaran hasil serta untuk meningktakna produktivitas usahatani melalui pengelolaan usahatani secara bersamaan. Beberapa keuntungan kelompok tani sebagai berikut8:
a. Semakin eratnya interaksi dalam kelompok dan terbinanya kepemimpinan kelompok.
b. Semakin terarahnya peningkatan secara cepat tentang jiwa kerjasama antar petani.
c. Semakin cepatnya proses difusi penerapan inovasi atau teknologi baru.
d. Semakin naiknya kemampuan rata-rata pengembalian hutang petani. e. Semakin meningkatnya orientasi pasar, baik yang berkaitan dengan
input atau produk yang dihasilkan.
f. Membantu efisiensi pembagian air irigasi serta pengawasannya.
7
Azisturindra. 2010. Pedoman Pemberdayaan Masyarakat tani. Jakarta: Pusat Penyuluhan Pertanian. Badan Penyuluhan Pertanian dan Pengembangan SDM Pertanian. Kementrian Pertanian.
Pengembangan kelompok tani diarahkan pada peningkatan kemampuan setiap kelompok tani dalam melaksanakan fungsinya, peningkatan kemampuan para anggota dalam mengembangkan agribisnis, penguatan kelompok tani menjadi organisasi petani yang kuat dan mandiri. Kelopoktani yang berkembang bergabung ke dalam gabungan kelompok tani (gapoktan). Ciri gapoktan atau kelompok tani yang kuat dan mandiri antara lain9:
a. Adanya pertemuan anggota pengurus yang diselenggarakan secara berkala dan berkesinambungan;
b. Disusunnya rencana kerja gapoktan dan dievaluasi pada setiap akhir pelaksanaan;
c. Memiliki aturan/norma tertulis yang disepakati dan ditaati bersama; d. Memiliki pencatatan/pengadministrasian setiap anggota organisasi
yang rapih;
e. Memfasilitasi kegiatan-kegiatan usaha bersama di sektor hulu dan hilir;
f. Memfasilitasi usahatani secara komersial dan berorientasi pasar;
g. Sebagai sumber serta pelayanan informasi dan teknologi untuk usaha para petani umumnya dan anggota kelompok tani khususnya;
h. Adanya kerjasama antara kelompok tani dan gapoktan dengan pihak lain;
i. Adanya pemupukan modal usaha baik iuran dari anggota atau penyisihan hasil usaha/kegiatan gapoktan.
2. Koperasi
Koperasi dilatarbelakangi oleh adanya kelemahan aksesibilitas petani terhadap berbagai kelembagaan layanan usaha, seperti lembaga keuangan, lembaga pemasaran, lembaga penyedia sarana produksi pertanian, serta sumber informasi. Koperasi didefinisikan sebagai perkumpulan yang otonom dari orang-orang yang bergabung secara sukarela untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi ekonomi, sosial dan
8
______. 2010. Pedoman Pemberdayaan Masyarakat tani dalam Pengembangan Agribisnis. Jakarta: Pusat Penyuluhan Pertanian. Badan Penyuluhan Pertanian dan Pengembangan SDM Pertanian. Kementrian Pertanian.
budaya mereka yang sama melalui perusahaan yang dimiliki dan diawasi secara demokratis. Gerakan koperasi berperan penting dalam meningkatkan kekuatan tawar (bargaining power) para petani. Selain itu juga menjadi kekuatan penyeimbang (countervailing power) terhadap berbagai bentuk keserakahan dan ketidakadilan.
Koperasi sendiri memiliki ciri-ciri yaitu : anggota sebagai pemilik dan pelanggan, pelanggan sebagai anggota dan pemilik koperasi; bekerja berdasarkan partisipasi anggota, oleh anggota, dari anggota, dan untuk anggota; dikelola dan dikontrol oleh anggota secara demokratis; dan peduli pada masyarakat dan pendidikan bagi anggota. Sedangkan prinsip- prinsip koperasi antara lain: 1. Keanggotaan yang sukarela dan terbuka; 2. Pengawasan demokrasi oleh anggota; 3. Partisipasi anggota dalam kegiatan ekonomi; 4. Otonomi dan kemandirian (independen); 5. Pendidikan, Pelatihan, dan Penerangan; 6. Kerjasama antar Koperasi; 7. Kepedulian terhadap masyarakat.