PERAN NEGARA DAN STRATEGI KEBIJAKAN
PENGUASAAN NEGARA TERHADAP PRIVATISASI BUMN
B. KONSEP DAN METODE PRIVATISASI BUMN
Privatisasi BUMN13 di Indonesia dirumuskan sebagai tindakan menjual saham Persero, baik sebagian maupun seluruhnya kepada pihak lain dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan, memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat, serta memperluas pemilikan saham oleh masyarakat.
Hal ini dilakukan pemerintah setelah RAPBN disetujui oleh DPR yang didalamnya terdapat target penerimaan negara dari hasil privatisasi. Adapun dasar hukum Privatisasi BUMN di Indonesia adalah sebagai berikut: (a) Pasal 74 – 84 Undang-Undang No.19 Tahun 2003 tentang BUMN; (b) Peraturan Pemerintah No. 33
12 Dian Puji Simatupang. Kedudukan BUMN: Dalam Perspektif Hukum Keuangan Publik.
Diskusi dengan Tim Perancangan RUU BUMN Setjen Dewan Perwakilan Rakyat RI.26 Jan 2012.
13 Pasal 1 Angka 2 Peraturan Pemerintah No.33 Tahun 2005 tentang Tata Cara Privatisasi Persero.
Rafika Sari
Tahun 2005 tentang Tata Cara Privatisasi Persero Jo Peraturan Pemerintah No. 59 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 2005 tentang Tata Cara Privatisasi Persero; (c) Keputusan Presiden No. 18 Tahun 2006 tentang Pembentukan Komite Privatisasi Persero; dan (d) Peraturan Menteri BUMN No. PER-01/MBU/2010 tentang Cara Privatisasi, Penyusunan Program Tahunan Privatisasi dan Penunjukan Lembaga dan/atau Profesi Penunjang serta Profesi Lainnya.
Hingga kini, terjadi pro-kontra atas penggunaan istilah privatisasi terhadap BUMN. Menurut Prasetiantono14, istilah privatisasi BUMN lebih diartikan sebagai suatu divestasi, karena dianggap lebih netral dan luas karena investor baru bisa saja merupakan pihak asing swasta maupun pemerintah, tidak harus swasta domestik. Oleh karena itu, impementasi privatisasi BUMN haruslah dilihat dan dibahas secara kasus per kasus karena adanya keunikan masing-masing. Sementara itu, Sri-Edi Swasono15, privatisasi merupakan alat untuk melepas kontrol dan kendali negara terhadap pasar, sehingga menyarankan untuk tidak mudah menggunakan istilah privatisasi dalam konteks BUMN, dan tujuan yang hendak dicapai bukanlah privatisasi melainkan istilah “go public” di mana kepemilikan BUMN meliputi masyarakat luas yang lebih menjamin arti “usaha bersama” berdasar atas “asas kekeluargaan”. Berbeda halnya di bidang pasar modal, privatisasi dipahami sebagai pengembalian kembali saham yang dimiliki oleh masyarakat kepada kepemilikan subjek hukum perdata tertentu atau lebih dikenal dengan istilah “go private”.
Di Indonesia, sektor usaha BUMN Persero yang bisa diprivatisasi adalah industri/sektor usaha yang kompetitif dan yang terkait dengan teknologi yang cepat berubah. Sementara itu, BUMN Persero yang tidak dapat diprivatisasi adalah (a) yang berkaitan dengan pertahanan dan keamanan; (b) yang bergerak di sektor tertentu yang oleh pemerintah diberikan tugas khusus untuk melaksanakan kegiatan tertentu yang berkaitan masyarakat; dan (c) yang bergerak di bidang usaha sumber daya alam yang secara tegas dilarang untuk diprivatisasi.16
14 A Tony Prasetiantono. “Ambiguitas Privatisasi dan Masa Depan BUMN.” 12 Oktober 2012.
(Dalam http://www.unisosdem.org/article_detail.php?aid=2050&coid=2&caid=19&gid=4, diakses 1 Agustus 2013).
15 Sri Edhi Swasono. “Pasal 33 UUD ’45 Harus Dipertahankan, Jangan Dirubah, Boleh Ditambah Ayat“. (Dalam http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=istilah%20privatisasi%20 bumn%20go%20private&source=web&cd=2&cad=rja&ved=0CDEQFjAB&url=http%3A%
2F%2Fwww.bappenas.go.id%2Fget-file-server%2Fnode%2F8578%2F&ei=B8kHUrnCF 8errAfLhIHwDg&usg=AFQjCNFevYSPPH3r2E_LBKuPxxBeuc7RhA&bvm=bv.50500085,d.
bmk, diakses 2 Agustus 2013).
16 Pasal 7 Peraturan Pemerintah No.33 Tahun 2005 tentang Tata Cara Privatisasi Persero.
Menurut Simatupang17, sektor usaha BUMN yang tetap dikuasai dan dimiliki negara (most-regulated) yang dimaksud adalah (a) bidang yang menyediakan barang publik murni (pure public goods); (b) bidang redistribusi pendapatan/keadilan sosial; (c) bidang pendidikan; (d) bidang pertahanan dan keamanan. Dengan kata lain, di luar sektor tersebut diserahkan kepada swasta, dan negara hanya bertindak sebagai pengatur, penata, penegak hukum dan penjamin rasa aman.
Adapun maksud suatu BUMN Persero dilakukan privatisasi adalah untuk18: (a) memperluas kepemilikan masyarakat atas Persero; (b) meningkatkan efisiensi dan produktivitas perusahaan; (c) menciptakan struktur keuangan dan manajemen keuangan yang baik/kuat; (d) menciptakan struktur industri yang sehat dan kompetitif; (e) menciptakan Persero yang berdaya saing dan berorientasi global; dan (f) menumbuhkan iklim usaha, ekonomi makro, dan kapasitas pasar. Salah satu pandangan berpendapat bahwa makna privatisasi adalah mengurangi keterlibatan atau intervensi pemerintah ke dalam proses ekonomi.19 Setidaknya terdapat enam alasan yang dikemukakan kaum neoliberal terhadap privatisasi BUMN. Pertama, mengurangi beban keuangan pemerintah. Kedua, meningkatkan efisiensi pengelolaan perusahaan. Ketiga, meningkatkan profesionalisme dalam pengelolaan perusahaan. Keempat, mengurangi campur tangan birokrasi pemerintah terhadap pengelolaan perusahaan. Kelima, mendukung pengembangan pasar modal dalam negeri.
Keenam, sebagai flag-carrier (pembawa bendera) untuk go international.
Gambar 2 menunjukkan ada tiga metode privatisasi pada BUMN di Indonesia, yaitu20: (1) melalui pasar modal, (2) kepada manajemen/karyawan, dan (3) langsung kepada investor. Besarnya dana yang dapat dihimpun tergantung dari strategi dari privatisasi itu yang dipilih.
17 Dian Puji Simatupang. Kedudukan BUMN: Dalam Perspektif Hukum Keuangan Publik.
Diskusi dengan Tim Perancangan RUU BUMN Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat RI.26 Jan 2012.
18 Pasal 74 Undang-Undang No.19 Tahun 2003 tentang BUMN.
19 Ishak Rafick dan Baso Amir. BUMN EXPOSE Menguak Pengelolaan Aset Negara Senilai 2.000 Triliun Lebih. Ufuk Press. Jakarta. 2010.
20 Pasal 78 Undang-Undang No.19 Tahun 2003 tentang BUMN.
Rafika Sari
(Dilusi Saham Pemerintah) Saham Lama (Divestasi saham Pemerintah)
Kas Perusahaan APBN
Sumber: Kementerian BUMN, Tahun 2012.
Gambar2. Metode Privatisasi
Berdasarkan metode diatas, Riant Nugroho21 mengemukakan bahwa strategi privatisasi yang dilakukan untuk mendapatkan tambahan dana ada 3 (tiga) macam yaitu Public Offering, Right Issue, dan Strategic Sales (Tabel 3). Beberapa metode yang termasuk dalam strategic sales adalah strategic private sale, new private investment, management/ employee buy out, dan fragmentation. Khusus strategic sales, strategi ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan kinerja BUMN dengan melibatkan strategi baru perusahaan, yang berupa teknologi, proses produksi, pengelolaan sumber daya manusia, dan proses manajemen.
Tabel 3.
Strategi Privatisasi
Jenis Definisi: Wewenang Pemerintah:
Public
Offering Menjual sebagian saham yang dikuasai Pemerintah kepada umum/investor publik
Membatasi jumlah saham yang dijual agar tidak melampaui batas mayoritas
Right
Issue Menjual sebagian saham yang dimiliki Pemerintah kepada publik.
Dilakukan setelah BUMN yang bersangkutan terlebih dahulu melaksanakan IPO.
Membatasi jumlah saham yang ditawarkan agar tidak melampaui batas mayoritas kepemilikan.
Strategic
Sales Menjual saham BUMN yang dimiliki Pemerintah kepada investor tunggal atau sebuah grup investor.
Secara selektif memilih investor yang akan dilibatkan.
Sumber: Manajemen Privatisasi BUMN. Riant Nugroho dan Randy R. Wrihatnolo. 2008.
Menurut Purwoko22, privatisasi BUMN dapat ditempuh melalui beberapa metode, antara lain melalui penjualan saham di pasar modal, private placement
21 Riant Nugroho Dwijowijoto dan Randy R. Wrihatnolo. Manajemen Privatisasi BUMN.
Jakarta: PT. Elex Media Komputindo. 2008.
22 Purwoko. “Model Privatisasi BUMN Yang Mendatangkan Manfaat Bagi Pemerintah dan Masyarakat Indonesia”. Kajian Ekonomi dan Keuangan Vol. 6. No.1 . 2002. Hal 11-15.
oleh investor dalam negeri dengan penyertaan di bawah 50%, private placement oleh investor dalam negeri dengan penyertaan di atas 50%, private placement oleh investor luar negeri dengan penyertaan di bawah 50%, private placement oleh investor luar negeri dengan penyertaan di atas 50%. Setiap metode memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Di antara metode tersebut, privatisasi BUMN dengan metode private placement oleh investor luar negeri dengan penyertaan di atas 50% akan memberikan manfaat yang paling optimal, antara lain peningkatan kemampuan untuk mengakses peluang di pasar internasional, adanya transfer teknologi, terjadinya perubahan budaya kerja yang positif, serta penerapan prinsip-prinsip good corporate governance dalam pengelolaan BUMN.
Dari berbagai pengertian dan konsep privatisasi BUMN sebagaimana telah dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa privatisasi BUMN pada dasarnya adalah pemindahalihan sebagian atau seluruhnya aset milik negara ke publik/swasta yang bertujuan untuk mengurangi beban keuangan pemerintah, dan meningkatkan efektifitas dan efisiensi perusahaan dengan adanya peningkatan peran serta swasta dan masyarakat. Namun perlu pemahaman yang tepat terhadap penggunaan istilah privatisasi dalam kaitannya dengan BUMN apakah yang dimaksud adalah “go private” ataukah
“go public”, sehingga perlu pendefinisian kembali peran negara terhadap BUMN tersebut.
BAB III