• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III HASIL ANALISIS

D. STRATEGI KEBIJAKAN PRIVATISASI BUMN

Dalam berbagai kondisi, BUMN di Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar untuk berkembang secara optimal. Setidaknya ada beberapa hal yang perlu dilakukan atas BUMN di Indonesia yang merugi39. Pertama, menyusun skala produksi (economy scale) untuk menekan biaya produksi.

Jumlah BUMN di Indonesia jauh lebih sedikit dibandingkan dengan Cina. Alasan mengapa BUMN di Cina jauh lebih berkembang daripada Indonesia adalah karena faktor “scale of economics” dimana jumlah produksi yang dihasilkan banyak dengan harga murah. Hal ini didukung karena intervensi politik terhadap BUMN di Indonesia sangat tinggi apabila dibandingkan dengan negara lain. Di beberapa negara, BUMN sudah berdiri independen, sementara BUMN di Indonesia masih dibawah Kementerian BUMN. Kedua, mengatur tolerasi kerugian dan denda/sanksi dalam regulasi. Pada tahun 2012, jumlah

38 Aminuddin Ilmar. Hak Menguasai Negara Dalam Privatisasi BUMN. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2012. Hal 65.

39 Hasil Wawancara dengan Bpk. Azwardi. Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Sriwidjaja, 7 Mei 2012. Dalam FGD Penelitian Kelompok Tentang Badan Usaha Milik Negara.

Rafika Sari

BUMN yang rugi sebanyak 22 BUMN. Tahun ini, jumlah BUMN yang merugi turun menjadi 11 BUMN. Walaupun jumlah BUMN rugi berkurang dari tahun lalu, namun jumlah tersebut tidak mencapai target, dari target 4 BUMN merugi pada tahun ini. Ketiga, mengatur berapa dividen yang bisa ditahan dan berapa dividen yang bisa digunakan untuk pengembangan perusahaan.

Hal ini tentunya akan membantu BUMN dalam mendapatkan dana. Keempat, melalui kerja sama dengan swasta dan antar BUMN, aset tersebut menjadi salah satu kunci dalam upaya mewujudkan BUMN yang sehat, berkinerja baik, dan berdaya saing tinggi.

Di Indonesia, kriteria privatisasi BUMN mengadopsi prinsip restrukturisasi BUMN sebelum masuk dalam tahap privatisasi. Artinya penyehatan perusahaan (restrukturisasi) dilakukan terlebih dahulu dalam proses corporatization sehingga mampu menghasilkan keuntungan, setelah itu baru diprivatisasi untuk mendapatkan nilai yang paling optimal. Menurut A.H. Manurung40, restrukturisasi diperlukan supaya perusahaan dapat lebih baik dan efisien.

Restrukturisasi yang diperlukan adalah restrukturisasi aset perusahaan, restrukturisasi hutang dan kepemilikan perusahaan. Pertama, restrukturisasi aset dilihat dari laporan keuangan perusahaan mengenai aset fisik yang dimiliki perusahaan dan keseimbangan aset pada laporan tersebut. Perusahaan melakukan restrukturisasi aset dengan seksama dengan memilih dan aset fisik yang tidak berguna dan tidak produktif dan menjualnya, sehingga mendapat dana yang dapat memberikan manfaat bagi perusahaan. Kedua, restrukturisasi hutang dapat dilakukan dengan dua pendekatan yaitu perpanjangan periode jatuh tempo hutang dan pembayaran bunga yang ditunda dan merubah hutang menjadi saham. Restrukturisasi perusahaan bertujuan untuk memperbaiki dan memaksimalisasi kinerja perusahaan. Pada dasarnya, perusahaan dapat menerapkan salah satu jenis restrukturisasi pada satu saat, namun bisa juga melakukan restrukturisasi secara keseluruhan karena aktifitas restrukturisasi pada dasarnya saling terkait. Umumnya sebelum melakukan restrukturisasi, manajemen perusahaan perlu melakukan penilaian secara komprehensif atas semua permasalahan yang dihadapi (due diligence). Hasil penilaian ini sangat berguna untuk melakukan langkah restrukturisasi yang perlu dilakukan berdasar skala prioritasnya.

Menurut Didik Susetyo41, bahwa untuk mendukung operasional BUMN, privatisasi bisa dilakukan dengan cara penggabungan (join) dengan beberapa perusahaan swasta dan penggabungan dengan anak perusahaan BUMN.

40 Adler Haymans Manurung. Initial Public Offering (IPO): Konsep, Teori dan Proses. Jakarta:

PT. Adler Manurung Press. 2013, Hal. 117-120.

41 Hasil Wawancara dengan Bpk. Didik Susetyo. Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Sriwidjaja, 7 Mei 2012. Dalam FGD Penelitian Kelompok Tentang Badan Usaha Milik Negara.

Terkait hal tersebut, ada 2 (dua) opsi yang bisa dilakukan yaitu (a) dilakukan holding terlebih dahulu, kemudian restrukturisasi BUMN dan (b) dilakukan restrukturisasi BUMN terlebih dahulu kemudian diprivatisasi. Yang dilakukan oleh PT. Pupuk Sriwidjaja (Pusri) adalah melakukan holding terlebih dahulu kemudian perusahaan direstrukturisasi. Hal ini dipengaruhi oleh harga gas yang cukup mahal dan perusahaan tersebut sudah terikat kontrak dengan Singapura dan Korea secara jangka panjang, sehingga PT. Pusri mengutamakan ekspansi dan menekan biaya produksi dengan cara holding.

Privatisasi merupakan alat atau cara pembenahan BUMN Persero untuk meningkat efisiensi, efektivitas dan nilai perusahaan. Bagi BUMN yang juga diberikan penugasan khusus42 dari Pemerintah sebagai agent of development, tentunya privatisasi BUMN akan menjadi persoalan tersendiri bagaimana BUMN tersebut dapat menyediakan barang dan jasa sekaligus sebagai agent of development. Dari Tabel 6, strategi kebijakan privatisasi ke arah divestasi diarahkan hanya untuk BUMN yang memiliki fungsi untuk mencari keuntungan semata. Sementara untuk BUMN bermisi pelayanan umum tetap dikelola dan dimiliki oleh negara.

Tabel 6.

Mapping BUMN

Misi Laba Perintisan Pelayanan Umum

Jenis Usaha Bisnis mandiri menguntungkan

Regulasi dan subsidi dari negara.

Arah

Kebijakan Privatisasi ke

divestasi State-isasi ke

privatisasi State-isasi Pengukuran

Kinerja Produktivitas

Laba Efisiensi perintisan/

investasi Kualitas & Luasan layanan/

biaya

Sumber: Riant Nugroho. “Managing State Corporation in The Political Turbulence”. Makalah FGD Penelitian Kelompok BUMN, P3DI, Setjen DPR RI. 16 April 2012.

Saat ini, belum ada pengaturan yang jelas mengenai besaran sektor usaha BUMN yang tidak boleh diprivatisasi, khususnya sektor usaha apa saja yang termasuk sektor usaha yang menguasai hajat hidup orang banyak.

42 Pasal 66 Undang-Undang No.19 Tahun 2003 tentang BUMN.

Rafika Sari

Menurut Riant Nugroho43, sektor usaha BUMN yang dapat diprivatisasi namun dipertahankan adanya saham pemerintah mayoritas adalah yang bersifat semi subsidi semi proteksi, yaitu bidang angkutan laut, danau, sungai, pelabuhan dan bandara, industri strategis, pupuk dan pegadaian. Sementara untuk sektor usaha yang bersifat pasar murni dapat diprivatisasi ke arah divestasi tanpa saham pemerintah, seperti perkebunan, pertambangan dan energi, penerbangan, telekomunikasi, konstruksi dan properti, manufaktur, perdagangan, farmasi (umum), dan keuangan serta konsultan. Di luar itu, sektor usaha yang bersifat state-isasi dengan 100% saham pemerintah seperti yang bergerak dalam bidang militer, vaksin khusus, televisi publik dan kereta api, harus tetap diproteksi dan diberikan subsidi.

Randy Rizky44 mengemukakan bahwa suatu BUMN diwajibkan melakukan pemeriksaan keuangan (audit) terlebih dahulu sebelum privatisasi dilakukan untuk mengetahui tingkat kesehatan perusahaan. Kesehatan perusahaan dapat diukur berdasar rasio kesehatan, yang antara lain: tingkat efisiensi (efficiency ratio), tingkat efektifitas (effectiveness ratio), profitabilitas (profitability ratio), tingkat likuiditas (liquidity ratio), tingkat perputaran aset (asset turn over), leverage ratio dan market ratio.

Oleh karena itu, ada beberapa pembelajaran yang dapat dipertimbangkan dalam pembaharuan kebijakan privatisasi untuk mengembangkan BUMN.

Pertama, mengatur tata cara privatisasi sehingga tidak merugikan negara, diantaranya pemilihan metode privatisasi, cara penetapan harga saham yang optimal dan waktu pelaksanaan privatisasi yang tepat. Menurut Didik Susetyo45, hal ini perlu digariskan secara tegas untuk menghindari terjadinya insider-trading dalam proses privatisasi. Kedua, mengatur jumlah saham yang diberikan kepada masyarakat. Azwardi46 mengemukakan bahwa khusus untuk unit usaha yang layak bagi masyarakat, perlu diprivatisasi dan dilepas kepada masyarakat.

Kembali lagi, bahwa privatisasi hendaknya tidak dipahami sebagai suatu solusi mencari dana tambahan semata, namun dibalik itu semua, privatisasi juga perlu diwaspadai sebagai ancaman bagi eksistensi peran negara dalam mengemban fungsi pelayanan publik.

43 Riant Nugroho. “Managing State Corporation in The Political Turbulence”. Makalah FGD Penelitian Kelompok BUMN, P3DI, Setjen DPR RI. 16 April 2012.

44 Randy Rizky. “Prinsip dan Teknik Menelaah Laporan Hasil Pemeriksaan BPK RI”. Pusat Pengembangan Akutansi dan Keuangan (PPAK), Bandung, 1 Juni 2013.

45 Hasil Wawancara dengan Bpk. Didik Susetyo. Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Sriwidjaja, 7 Mei 2012.Dalam FGD Penelitian Kelompok Tentang Badan Usaha Milik Negara.

46 Hasil Wawancara dengan Bpk. Azwardi. Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Sriwidjaja, 7 Mei 2012. Dalam FGD Penelitian Kelompok Tentang Badan Usaha Milik Negara.

BAB IV PENUTUP

Privatisasi merupakan tindakan yang dilakukan untuk menjual sebagian atau seluruhnya saham milik negara kepada pihak lain baik kepada masyarakat, swasta atau bahkan kepada investor asing. Pendukung privatisasi berpendapat bahwa privatisasi dapat memberikan manfaat yang baik bagi negara dan masyarakat sehingga BUMN tidak perlu sepenuhnya dimiliki oleh negara.

Namun sebaliknya, bagi pihak yang menentang adanya privatisasi BUMN menilai bahwa BUMN adalah aset negara yang harus tetap dipertahankan kepemilikannya oleh negara walaupun tidak mendatangkan manfaat. Untuk itu, peran negara diperlukan untuk mengontrol dan mengendalikan pasar.

Faktor yang mendorong privatisasi BUMN di Indonesia dapat berasal dari internal perusahaan, dan dari eksternal perusahaan. Yang termasuk penyebab internal BUMN adalah sebagai berikut: (a) banyak aset/aktiva tetap BUMN yang bermasalah, belum optimal pendayagunaannya, (b) sumber daya manusia BUMN yang belum optimal/belum merata, (c) sinergi BUMN masih ragu-ragu, dan (d) kegamangan melakukan proses bisnis karena persepsi keuangan negara.

Privatisasi berhubungan secara negatif terhadap besar kecilnya peran dan kendali negara atas BUMN. Semakin banyak saham negara yang dilepas ke publik/

swasta, maka semakin berkurang peran dan kendali negara atas perusahaan tersebut. Sebaliknya, semakin sedikit saham negara yang dilepas ke publik/

swasta, maka semakin dominannya peran dan kendali negara atas perusahaan tersebut guna untuk menyediakan barang dan jasa bagi pelayanan publik.

Strategi kebijakan privatisasi ke arah divestasi diarahkan hanya untuk BUMN yang memiliki fungsi untuk mencari keuntungan semata, sementara untuk BUMN bermisi pelayanan umum tetap dikelola dan dimiliki oleh negara.

Beberapa pembelajaran yang dapat dipertimbangkan dalam pembaharuan kebijakan privatisasi untuk mengembangkan BUMN, yaitu: (a) melakukan restrukturisasi atas BUMN yang direncanakan untuk diprivatisasi, supaya dapat menambah nilai tambah perusahaan, sehingga pada saat dilepas, harga saham akan lebih tinggi; (b) mengatur tata cara privatisasi (metode, harga dan waktu privatisasi); dan (c) mengatur jumlah saham yang diberikan kepada masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Adler Haymans Manurung. Initial Public Offering (IPO): Konsep, Teori dan Proses. Jakarta: PT. Adler Manurung Press. 2013.

Aminuddin Ilmar. Hak Menguasai Negara Dalam Privatisasi BUMN. Jakarta:

Kencana Prenada Media Group. 2012.

Andriani Nurdin. Kepailitan BUMN Persero: Berdasarkan Asas Kepastian Hukum. Bandung: PT. Alumni. 2012.

Budi Winarno. Pertarungan Negara vs Pasar. Yogyakarta: Media Pressindo.

Yogyakarta: PT Media Pressindo.

Eugene and Joel Houston. Fundamentals of Financial Management. concise 7 th edition. Mason, OH.: South – Western. 2012.

Ishak Rafick. BUMN Expose: Menguak Pengelolaan Aset Negara Senilai 2.000 Triliun Lebih. Jakarta: UFUK PRESS. 2010.

Israr Iskandar. Elit Lokal Pemerintah dan Modal Asing: Kasus Gerakan Menuntut Spin-Off PT. Semen Padang dari PT. Semen Gresik Tbk. Jakarta: Penerbit Yayasan SAD Satria Bhakti. 2007.

Riant Nugroho Dwijowijoto dan Randy R. Wrihatnolo. Manajemen Privatisasi BUMN. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo. 2008.

Jurnal/Website/Wawancara

Purwoko. “Model Privatisasi BUMN Yang Mendatangkan Manfaat Bagi Pemerintah Dan Masyarakat Indonesia”. Kajian Ekonomi dan Keuangan. Vol. 6. No.1 . 2002.

John Consler, Greg M. Lepak and Susan F. Havranek. “Dividend Stability and Firm Characteristics”. Journal of Finance Issues: Summer 2013. pp.1-8, (Dalam http://jofi.aof-mbaa.org/38om74/9, diakses tgl 25 Juli 2013).

Mungkasa, Oswar. 2003. “Dampak Privatisasi di Indonesia: Studi Kasus Dampak Privatisasi PT. Telkom Indonesia”. (Dalam http://www.academia.

edu/2759005/Dampak_Privatisasi_di_Indonesia._Studi_Kasus_Dampak_

Privatisasi_PT._Telekomunikasi_Indonesia, diakses 5 Agustus 2013).

A Tony Prasetiantono. “Ambiguitas Privatisasi dan Masa Depan BUMN.”

12 Oktober 2012. (Dalam http://www.unisosdem.org/article_detail.

php?aid=2050&coid=&caid=19&g id=4, diakses 1 Agustus 2013).

Sri Edhi Swasono. “Pasal 33 UUD’45 Harus Dipertahankan, Jangan Dirubah, Boleh Ditambah Ayat“. (Dalam http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=

j&q=istilah%20privatisasi%20bumn%20go%20private&source=web&c d=2&cad=rja&ved=0CDEQFjAB&url=http%3A%2F%2Fwww.bappenas.

go.id%2Fget-file-server%2Fnode%2F8578%2F&ei=B8kHUrnCF8errAfL hIHwDg&usg=AFQjCNFevYSPPH3r2E_LBKuPxxBeuc7RhA&bvm=bv.505 00085,d.bmk, diakses 2 Agustus 2013).

Dian Puji N. Simatupang. ”Kedudukan Badan Usaha Milik Negara: Dalam Perspektif Hukum Keuangan Publik”. Makalah FGD Perancangan RUU BUMN Sekretariat Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat RI. 26 Jan 2012.

Riant Nugroho. “Managing State Corporation in The Political Turbulence”.

Makalah FGD Penelitian Kelompok tentang BUMN, P3DI, Setjen DPR RI.

16 April 2012.

Kementerian BUMN. BUMN: Kedudukan, Peran, dan Tantangan. 14 Feb 2012.

Hasil Wawancara dengan Bpk. Didik Susetyo. Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Sriwidjaja, 7 Mei 2012. Dalam FGD Penelitian Kelompok Tentang Badan Usaha Milik Negara.

Hasil Wawancara dengan Bpk. Azwardi. Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Sriwidjaja, 7 Mei 2012. Dalam FGD Penelitian Kelompok Tentang Badan Usaha Milik Negara.

Peraturan Perundang-Undangan

Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

Undang-Undang No. 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara.

Undang-Undang No. 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan.

Peraturan Pemerintah No. 33 Tahun 2005 tentang Tata Cara Privatisasi Persero.

* Peneliti Muda pada Pusat Pengkajian Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Sekretariat Jenderal DPR RI, e-mail: [email protected]

TULISAN KELIMA