6.1. Tujuan institusi pengelolaan DAS
Daerah aliran sungai Citanduy mempunyai peranan dan fungsi yang sangat vital bagi negara maupun bagi masyarakat yang berada di sekitar kawasan DAS tersebut. Mulai dari hulu air sungai Citanduy telah banyak digunakan untuk mengairi sawah, kolam, kebutuhan rumah tangga kebutuhan ternak, air industri, sumber air PDAM Pemerintah kabupaten/kota. Di zona Tengah dibangun beberapa Bendungan, seperti Bendungan Manganti maupun Rawa Ono untuk mengairi ratusan hektar lahan pertanian. Di zona hilir sungai tersebut dimanfaatkan sebagai prasarana transportasi air dari Kalipucang di Ciamis menuju ke berbagai wilayah di Cilacap. Untuk itu pola pengelolaannya perlu ditata dalam rangka pelestarian DAS Citanduy yang berkelanjutan. Berdasarkan pengalaman selama ini dan bukti empirik di lapangan, maka pengelolaan DAS dimaksud tampaknya perlu dilakukan di dalam satu koordinasi dalam kawasan DAS dalam rangka mewujudkan one river, one plan and one management.'koordinasi tersebut hendaknya dilakukan dalam satu wadah bersama yang disebut dewan atau forum, dimana Lembaga ini diharapkan menjadi acuan utama atau master plan terhadap segala aktivitas yang akan lakukan dalam kawasan Citanduy.
Sementara tujuan utama dari institusi ini adalah mewujudkan kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan untuk besar-besar mural rakyat khususnya dalam DAS Citanduy walaupun lintas batas wilayah administrasi.
Bila dalam aras regional dibentuk suatu institusi bersama , maka di tingkat wilayah kabupaten/kota serta yang lebih kecil juga diharapkan terbentuk lembaga-lembaga berazaskan partisipasi sosial kemasyarakatan lokal. Lembaga lembaga ini merupakan lembaga yang sudah tumbuh dan diakui keberadaannya oleh masyarakat. Lembaga yang mengelola lahan dan hutan setingkat kabupaten misalnya telah tumbuh di Kabupaten Ciamis dengan nama forum masyarakat peduli Gunung Sawal. Forum ini dibentuk atas inisiatif kepala daerah Ciamis yang prihatin atas kondisi Gunung Sawal yang mulai rusak sementara fungsinya sangat vital sebagai sumber air sehingga menjadi hutan konservasi. Saat ini pengurus forum tersebut telah terbentuk dimana semua pengurus inti diisi oleh perwakilan LSM di Ciamis, sementara birokrat menjadi anggota dan fasilitator.
Misalnya, ketika diadakan rapat, maka Dinas Kehutanan menjadi fasilitator tempat dan konsumsi. Bulan berikutnya rapat difasilitasi Perhutani atau Balai konservasi sumber daya alam (BKSDA), demikian seterusnya secara bergilir.
32 | P a g e Kemudian kegiatan di lapangan akan melaksanakan program dari semua dinas.
Setelah diinventarisasi sebenarnya bagai dinas memiliki kegiatan yang relatif berkaitan sehingga dengan adanya forum bersama ini pelaksanaan akan menjadi lebih efektif. Dalam melakukan kegiatan perencanaan pelaksanaan pengawasan dan evaluasi pengurus forum selalu bersama-sama dengan pihak pemerintah.
Sementara di tingkat yang lebih bawah (kecamatan dan desa) sebenarnya telah ada lembaga-lembaga yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan keberadaan kegiatan konservasi tanah, diantaranya adalah petani dan kelompok tani, lembaga konservasi Desa, kemitraan industri kayu dengan petani. Seperti analisis sebelumnya, bahwa lembaga-lembaga tersebut kurang berperan terutama karena kurang aspiratif dan kecenderungan bentukan dari atas (top-down).
6.2. Pembentukan Institusi Pengelolaan DAS
Untuk ke depan, maka diusulkan pembentukan forum atau dewan sumber daya air satu konsep model pengelolaan DAS Citanduy secara bersama antara semua stakeholder di kawasan DAS Citanduy. Hal ini juga telah diamanatkan dalam undang-undang nomor 7 Tahun 2004 tentang sumber daya air. Dalam UU No.7/2004 tersebut disebutkan perlu dibentuk institusi berbagai wadah Masih pada tingkat nasional maupun provinsi dengan nama dewan atau forum nama lain.
Partisipasi atau kerjasama para pihak dalam pengelolaan DAS menjadi syarat utama dalam mencapai tujuan karena saling terkait dan saling membutuhkan. Di samping prinsip partisipasi di atas, maka kelembagaan diusulkan untuk dibentuk adalah kelembagaan yang berlandaskan tiga prinsip lain yaitu kemitraan, desentralisasi dan keberlanjutan.
Untuk mendorong partisipasi dari semua pihak aktif bekerja sama dalam wadah forum sumber daya air dimaksud , maka semua stakeholder tersebut seharusnya mengetahui apakah keberadaan forum tersebut telah menampung aspirasi mereka dan memberi manfaat bagi mereka. Hal ini makin penting untuk diperhatikan, terutama untuk menarik minat dan menggerakkan kabupaten/kota yang telah "menikmati" era otonomi daerah.
Pembentukan institusi pengelolaan sumber daya air telah dilakukan dengan serangkaian proses dan pendekatan baik melalui lembaga formal (pemerintah pusat sampai ke kabupaten/kota) maupun lembaga non formal berupa LSM tingkat propinsi sampai LSM lokal. Kegiatan tersebut mulai dari identifikasi, penyatuan pandangan sampai kepada rumusan bersama. Sebagai salah satu titik krusial yang akan dihadapi adalah berkelanjutan institusi dan dana yang
33 | P a g e mendukung. Menurut kartodihardjo (2004), harga organisasi Partnership credible, berkelanjutan dan mendapatkan dana dalam jangka panjang maka diperlukan cirri: a) tujuan akhir yang jelas, b) rencana manajemen yang kuat dan hasil yang teridentifikasi, c) kepemimpinan yang mewakili berbagai kepentingan dalam DAS, serta d) mendapatkan dukungan pihak-pihak yang berkepentingan.
Dari berbagai hasil diskusi yang dilakukan, maka banyak yang menyarankan bahwa pada awalnya institusi yang ditawarkan hendaknya tidak perlu memaksakan harus berupa dewan , tetapi dapat dengan nama lain semacam forum. Apabila efektif berjalan dan dirasakan perlu untuk diubah, maka dapat ditingkatkan menjadi dewan pengelola sumber daya air.
Masih menurut Kartodihardjo (2004), hal lain yang penting dalam membentuk dan mempertahankan hubungan kerjasama/ Partnership yang telah berjalan dalam satu forum bersama tersebut adalah: a) mulai dengan kegiatan yang paling berpeluang sukses, b) agar semua anggota senantiasa terfokus pada tujuan-tujuan publik yang telah disepakati bersama, c) memperhatikan dan menghargai waktu yang telah digunakan peserta, d) membangun rasa memiliki oleh semua peserta akan kerjasama yang telah dibangun, f) memelihara struktur kerjasama melalui akuntabilitas pelaksanaan kegiatan bagi semua anggota, g) identifikasi manfaat khusus bagi peserta dan semua pihak, h) Jangan mudah menyalahkan.
Pembentukan forum/ dewan air yang digagas ini sejalan dengan visi Provinsi Jawa Barat yang menargetkan sebanyak 45 persen wilayah Jawa Barat menjadi wilayah hutan. Hal ini berarti setiap wilayah kabupaten- kota di kawasan DAS Citanduy pun menyiapkan lahan sebanyak 45 persen menjadi wilayah hutan.
Kelembagaan pengelolaan DAS dimaksud adalah dalam lingkup kawasan DAS Citanduy, yang memiliki kaitan secara bersinergi dengan kelembagaan- kelembagaan lokal yang tumbuh di kabupaten, bahkan sampai ke tingkat desa.
34 | P a g e