• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V. KERAGAAN PENGELOLAAN DAD CITANDUY PERMASALAHAN

5.4. Lembaga yang terlibat dalam Pengelolaan DAS Citanduy

Karena demikian besarnya kerusakan ekologi yang disebabkan oleh cara-cara pengelolaan sumber daya alam yang kurang memperhatikan kaidah konservasi, maka berbagai lembaga memberikan perhatian yang besar. Di kawasan DAS Citanduy beberapa lembaga yang turut terlibat mulai dari skala nasional, regional maupun daerah, pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat. Di tingkat propinsi dikenal Balai pengelolaan daerah aliran sungai (BP DAS) Cimanuk-Citanduy sebagai ganti dari Balai rehabilitas lahan konservasi tanah (BRLKT).

Lembaga ini merupakan unit pelaksana teknis dari Departemen Kehutanan dan berlokasi di tingkat propinsi (Bandung). Tupoksi dari BP-DAS Cimanuk-Citanduy adalah melakukan perencanaan serta monitoring dan evaluasi kegiatan rehabilitasi dan juga konservasi. Sementara pelaksanaan kegiatan teknis di lapangan dilakukan oleh masing-masing Dinas Kehutanan kabupaten/kota sebagai hasil perencanaan dari BP-DAS. Kegiatan sipil teknis yang dilakukan oleh BP DAS antara lain membuat cek-dam atau dam penahan sampai kepada membuat Bendungan dengan ketinggian dibawah sembilan meter.

Disamping itu terdapat proyek induk Wilayah Sungai (PWS) Ciwulan-Citanduy sebagai unit pelaksanaan teknis dari Departemen kimpraswil yang berlokasi di Kota Banjar. Kegiatan Lembaga ini lebih difokuskan kepada sipil teknis di sepanjang DAS Citanduy. Lembaga ini berskala regional antara lain Balai pendayagunaan sumberdaya air (BPSDA) Wilayah Sungai Citanduy-Ciwulan yang berlokasi di Tasikmalaya. BPSDA merupakan pelaksanaan teknis dari dinas pengelolaan sumber daya air Provinsi Jawa Barat. Lembaga ini dibentuk dengan tupoksi yang lebih khusus pada masalah pengaturan perairan antara kabupaten/

kota di kawasan Citanduy.

Secara umum lembaga-lembaga tersebut berjalan dengan baik sesuai dengan tupoksi masing-masing. Demikian juga kondisi di lapangan telah menunjukkan

29 | P a g e keberhasilan. Namun demikian, kerusakan lingkungan yang ditunjukkan oleh tingginya erosi, pendangkalan di hilir, banjir yang merusak panen serta kekurangan air di musim kemarau juga makin nyata. Tentunya ada yang masih kurang dalam pengelolaan daerah aliran sungai tersebut. Padahal bila data Citra land sat tahun 1990-an dibandingkan dengan 2003, tampak bahwa kondisi pertanaman kayu-kayuan belakangan ini tampak lebih baik. Hal ini ditunjukkan oleh tingkat ke tertutup an lahan yang makin tinggi. Di samping itu kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa penanaman singkong makin berkurang. Menurut teori dan kenyataan selama ini bahwa tanaman singkong merupakan salah satu tanaman yang banyak menyerap unsur hara tanah, menjadikan tanah lebih gersang, lalu tanaman lain kurang bagus tumbuhnya kecuali dengan input produksi yang lebih banyak. Sistem pemanenannya yang dicabut juga sedikit banyaknya memberi pengaruh terhadap peningkatan erosi. Tanaman Singkong ini diminati petani karena perawatan dan input produksinya sangat minimal, sebagai sumber karbohidrat, juga sebagai bahan baku industri tapioka maupun industri rumah tangga, sehingga banyak ditanami sampai ke lahan miring sekalipun.

Di beberapa desa yang diteliti di Kabupaten Tasikmalaya menunjukkan bahwa kegiatan penanaman singkong belakangan ini sudah jauh berkurang karena banyaknya serangan hama babi. Akhirnya mereka beralih ke tanaman kayu-kayuan terutama karena adanya bantuan program ini pemerintah (Dinas Kehutanan dan proyek Citanduy II). Sementara desa-desa di Ciamis dan Cilacap mengatakan bahwa harga singkong yang rendah menjadi penyebab utama mereka beralih ke tanaman kayu-kayuan. Namun demikian bukan berarti bahwa usaha tani singkong otomatis hilang tetapi sebagian petani tetap menanam singkong dalam jumlah yang lebih kecil dan menjadi tanaman Sela. Sebagian lagi tetap menanam pada lahan yang lebih luas tetapi yang termasuk lahan marginal.

Disamping itu juga tampak bahwa industri industri tapioka tetap hidup terutama di Tasikmalaya dan Ciamis. Hal ini menunjukkan bahwa bahan baku singkong tetap diproduksi masyarakat terutama di wilayah Cilacap.

5.4.2. Skala lokal

Kelembagaan yang berkembang di tingkat lokal dalam kaitannya dengan pengelolaan DAS Citanduy menunjukkan kerajaan yang berbeda. Salah satunya adalah munculnya industri penggergajian kayu. Sedikit banyaknya keberadaan industri kayu di desa menjadi salah satu penyebab kerusakan lahan. Dengan munculnya industri kayu di tingkat desa membuat masyarakat sangat mudah untuk menebang dan menjual kayunya. Bahkan di beberapa desa tersedia penyewaan mesin gergaji untuk menebang kayu disamping yang dimiliki oleh

30 | P a g e industri kayu. Hal ini mendorong masyarakat untuk menebang kayunya bila ada keperluan mendadak, walaupun sebenarnya umur kayu masih relatif muda dan diameternya masih kurang. Makin banyaknya kayu-kayu yang ditebang otomatis salah satu penahan air menjadi berkurang. Apabila keadaan seperti itu terjadi di bagian hulu DAS, maka zona hulu diharapkan berfungsi sebagai penyangga air yang akan berkurang fungsinya.

Untuk lebih menerbitkan kegiatan ini di beberapa desa misalnya muncul inisiatif membuat aturan penebangan kayu yang dikeluarkan oleh desa yang dinamakan peraturan desa (Perdes). Dalam Perdes tersebut diatur diameter kayu yang boleh ditebang, waktu penerbangan sejak tanam dan lokasi yang tidak boleh ditebang.

Namun dalam kenyataannya perdes tersebut tidak pernah dapat dijalankan karena mendapat tantangan dari masyarakat pemilik kayu maupun pemilik industri.

Di samping perdes yang tidak berjalan, di beberapa desa juga menerapkan pungutan retribusi kepada industri pabrik kayu yang berlokasi yang lokasinya ada di desa, tetapi penerapannya juga kurang efektif. Misalnya Desa Citamba membuat Peraturan Desa tentang pungutan retribusi sebesar Rp50.000/tahun/industri kayu untuk kas desa. Kenyataannya pabrikan selalu membayar dibawah patokan desa dan pihak Desa akhirnya mengalah karena pabrikan merasa sudah memiliki ijin. Sementara peraturan yang lebih tinggi telah dikeluarkan oleh Kabupaten tentang pungutan retribusi penebangan kayu.

Aturan tersebut sedianya akan dilaksanakan oleh desa, tetapi kenyataannya harus dikesampingkan karena tidak ada masyarakat yang mau membayar.

31 | P a g e

BAB VI. KONSEP MODEL PENGELOLAAN DAS SECARA

Dokumen terkait